“Saudara ini yang saya cari”, kata Pak Djohan, mengawali pertemuan saya dengannya di tahun 1981an. Saat itu Pak Djohan Effendi adalah kepala Balai Penelitian dan Kemasyarakatan Jakarta yang berkantor di Jl. Kramat Raya 85 jakarta Pusat. Saya adalah seorang pencari kerja yang sedang mengajukan lamaran untuk menjadi peneliti di kantornya.

Tidak tahu kenapa pak Djohan bersimpati dengan saya, ketika membuka-buka berkas lampiran surat permohonan saya. Rupanya ia terkesan dengan pengalaman jurnalistik saya. Karena saya memang memperkenalkan diri saya sebagai mantan wartawan kampus, tepatnya redaktur majalah ARENA yang diterbitkan Dewan mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga. Sementara saya kala itu juga masih mengasuh majalah remaja masjid Menara yang terbit di Yogyakarta.

Omong-omong berlanjut ke soal HB Yassin. Waktu itu memang masih hangat perbincangan mengenai terbitnya buku Terjemahan al Qur’an oleh HB Jassin. Heboh pro-kontro atas penerbitan buku tersebut terjadi di media massa. Djohan Effendi sendiri dikenal sebagai sekretarisnya HB Yassin untuk penulis karya terjemahan kitab suci itu. Kebetulan saya adalah salah seorang yang ikut berpolemik melalui harian Pelita, dalam dalam posisi pendukung berat langkah HB Jassin. Ketika situasi perdebatan agak reda, muncul lagi isu hangat menyangkut Ahmad Wahib, dengan terbitnya buku Pergolakan Pemikiran Islam yang dieditori oleh Djohan sendiri dan Ismet Natsir.

Read the rest of this entry »

Glorianet – Konflik dan kekerasan bearoma agama hampir selalu menjadi bagian dari dialektika sejarah umat manusia. Karena di mana ada konflik maka akan ada respon para pemimpin agama, dan menjadi keprihatinan semua pihak sehingga mereka selalu mencari solusinya, meski mungkin bersifat sementara. Tapi, tetap mempunyai nilai kontrol yang baik.
Demikian dikatakan Profesor Marzani Anwar dalam orasi pengukuhan Ahli Peneliti Utama Departemen Agama, Rabu (5/1/05). Pengukuhan dilakukan oleh Menteri Agama, Muhammad M Basyuni dan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Umar Anggoro Jennie. Selain Marzani Anwar dikukuhkan juga Abdul Azi Al Bone.

“Dari kontrol, evaluasi dan dialog antaragama itu lalu menemukan cara-cara hidup beragama yang baru, baik dalam hubungan internal maupun eksternal. Bahwa mereka yang terlibat konflik sesungguhnya tidak menyukai kekerasan dan konflik itu sendiri (Paradoksi Dalam Keberagamaan). Inilah yang menjamin bahwa agama masih bisa menjadi solusi bagi keutuhan bangsa dan Negara,” ujar Marzani Anwar yang alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1979 itu.

Maftuh Basyuni dalam sambutannya berharap agar penelitian dan pengkajian sosial keagamaan terus dilakukan. Karena masih sering terjadi konflik komunal bernuansa agama, dan itu selalu pula terkait dengan persoalan sosial politik, ekonomi, budaya dan sebagainya.

Dituturkan Maftuh Basyuni, pengukuhan Ahli Peneliti Tama pada Litbang Agama ini diharapkan dapat meningkatkan SDM di lembaga ini. “Sebagai lembaga yang bertugas melakukan penelitian, badan litbang agama diharapkan dapat menyediakan data dan informasi untuk penelitian dan kajian yang dapat dijadikan bahan untuk pengambilan keputusan. (GCM/SP-E5)- (Lintas Berita: glorianet.org/arsip/b5692.html)

Oleh Mohammad Rosyad

Telah menjadi berita yang cukup menghebohkan tentang pernikahan Syekh Pudji dengan si kecil Lutfiana Ulfa (12 tahun) di Semarang baru-baru ini. Bahkan dalam waktu dekat, konon pria kaya itu akan menikahi lagi gadis belia usia 7 dan 9 tahun secara bersamaan. Ketika mendapat protes dari berbagai kalangan lelaki tersebut menantang bahwa tindakannya tidak ada yang salah. Menurut dia, Nabi Muhammad menikahi ‘Aisyah .r.a. ketika ‘Aisyah r.a. berusia 9 tahun. Untuk memperoleh informasi yang proporsional mengenai usia ‘Aisyah r.a. ketika menikah dengan Rasulullah, kami mencoba menyampaikan beberapa informasi sbb: 1.Hadits-hadits yang menyatakan bahwa ‘Aisyah r.a. menikah pada usia 9 tahun kemudian berkumpul dengan Rasulullah pada usia 12 tahun (sebagian riwayat ada yang menyebut dipinang usia 7 tahun dan dinikahi usia 9 tahun)  sebagian besar bersumber dari Hisyam bin Urwah. Hisyam bin Urwah adalah guru Imam Malik yang tinggal di Madinah sampai usia 71 tahun, kemudian pindah ke Iraq. Menurut Imam Malik, setelah pindah ke Iraq ingatan Hisyam mengalami kemunduran. Asal Riwayat mengenai usia ‘Aisyah r.a. ketika menikah dengan Rasulullah adalah ketika Hisyam sudah pindah ke Iraq (Tahzibul-Tahzib, Ibnu Hajr Al Asqalani). Apabila benar ‘Aisyah dinikahi Rasulullah pada usia 9 tahun di tahun ke 10 kenabian (dua tahun sebelum hijrah) pada saat hijrah usia ‘Aisyah berarti 12 tahun, berarti beliau dilahirkan satu tahun setelah Nabi Muhammad diangkat sebagai rasul. Padahal  At Tabari mengatakan :”semua anak Abu Bakar (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari dua isterinya” (Tarikhul umam wal mamluk, At Tabari jilid 4 hal. 50). Sebagaimana diketahui, bahwa Aisyah adalah salah seorang puteri Abu Bakar r.a. 2.Menurut Ibnu Katsir beda usia antara Asma binti Abu Bakar r.a. (kakak tertua) dengan ‘Aisyah r.a. adalah 10 tahun. Asma binti Abu Bakar r.a. wafat pada tahun 73 H. Pada usia 100 tahun, dengan demikian usia Asma ada saat hijrah adalah 27 tahun (Al Bidayah Wannihayah, Ibnu Katsir jilid 8 hal 372). Dengan demikian umur ‘Aisyah pada saat hijrah diperkirakan 17 tahun. 3.Terdapat riwayat di dalam Shahih Bukhari yang berasal dari Yusuf bin Mahik yang menceritakan bahwa ketika turun surat Al Qomar ayat 46, ‘Aisyah r.a. adalah seorang gadis belia (jariyah) (Shahih Bukhari “Kitabut Tafsir”). Di dalam terjemahan Hadith Viewer Islamsof U.K. “jariyah” diterjemahkan sebagai “playful little girl” (060:399). Surat Al Qomar adalah surat Makkiyah yang diturunkan pada tahun ke 8 sebelum Hijrah (The Bounteous Koran, oleh MM Khatib) Menurut Lane’s Arabic English Lexicon, “jariyah” diterjemahkan sebagai gadis muda yang suka bermain dan diperkirakan berusia 6-13 tahun. Dengan demikian usia ‘Aisyah ketika hijrah diperkirakan berusia 14 s.d 21 tahun. 4.Di dalam Shahih Muslim dikabarkan bahwa ‘Aisyah turut serta dalam perang Badar (Shahih Muslim, “Kitab Jihad Wal Siyar”). Di dalam Shahih Bukhari dikabarkan bahwa ‘Aisyah dan Ummu Sulaim ikut dalam perang Badar (Shahih Bukhari, “Kitab Jihad Wal Siyar”). Dikabarkan bahwa Ibnu Umar dilarang untuk ikut dalam perang Uhud karena usianya baru 14 tahun, dan Rasulullah melarang anak usia dibawah 15 tahun untuk ikut peperangan. (Shahih Bukhari, “Kitabul Maghazi”). Di dalam catatan sejarah, perang Badar terjadi pada tahun ke 2 H dan perang Uhud terjadi pada tahun ke 3 H. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa usia ‘Aisyah r.a. pada saat perang Badar dan Uhud adalah minimal 15 tahun atau waktu hijrah minimal 13 tahun. Para ulama umumnya sepakat bahwa Rasulullah baru berumah tangga (dalam arti berkumpul satu rumah) dengan  ‘Aisyah r.a. satu tahun setelah hijrah. Dari keterangan-keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa pendapat yang mengatakan usia ‘Aisyah r.a. dinikahi oleh Rasulullah pada usia 9 tahun (apalagi 7 tahun) adalah sangat kontroversial dan kontradiktif dengan sumber-sumber lain yang shahih. Sangat disayangkan, catatan sejarah yang kontoversial tersebut dijadikan acuan perbuatan oleh mereka yang hanya untuk menghalalkan perkawinan dini. Hal demikian dapat menurunkan citra agama Islam yang agung. Dirangkum dari berbagai sumber: oleh Al Faqir H. Mohammad Rosyad

NAMA lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD. Setahun lalu, ketika baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (profesor) di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.
Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai profesor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri Paman Sam, itu.
Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral.
Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional.
Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC .
Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia.
Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan. Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks (buku wajib pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.
Karena itu, Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri rantau tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu sampai sekarang masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum satu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Kemana pun dirinya pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri sebagai orang Indonesia. Sikap Nelson itu sangat membanggakan di tengah banyak tokoh kita yang malu mengakui Indonesia sebagai tanah kelahirannya. “Saya sangat cinta tanah kelahiran saya.
Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia,” katanya, serius. Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang dicap sebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan memperlihatkan ketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh dari basa-basi.
“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras,” kata Nelson menjawab koran ini.
Adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU). Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan. Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant professor di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi. “Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya sebenarnya l ebih condong ke arah fisika terapan dan quantum electronics,” jelasnya.
Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya tersebut, jika meminjam istilah di Amerika, bertumpu pada tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching. Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Di sana , 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.
Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-kobar dan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok Nelson sangat bersahaja dan bahkan suka merendah. Busana kesehariannya juga tak aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah dan pantalon. Sekilas, dia terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya serin g tersembunyi di balik penampilannya yang seperti tak suka bicara. Tapi, ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi para intelektual, jati diri akademisi Nelson tampak. Lingkungan akademisi, riset, dan kampus memang menjadi dunianya. Dia selalu peduli pada kepentingan serta dahaga pengetahuan para mahasiswanya di kampus.
Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak sedikit insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.
“Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master tentang semiconductor device physics. Begitulah,” ungkap Nelson menjawab soal kegiatan mengajarnya.
September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for semiconductor nanotechnology. “Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh University ini,” jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus.
Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika (American dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib di negeri itu dengan segala persaingannya yang superketat. Di Negeri Paman Sam tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang kini menjadi Gubernur California Arnold Schwarzenegger yang sebenarnya adalah imigran asal Austria. Kemudian, dalam Kabinet George Walker Bush sekarang juga ada imigrannya, yakni Mente ri Tenaga Kerja Elaine L. Chao. Imigran asal Taipei tersebut merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi menteri selama sejarah AS.
Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1 hingga S-3 di University of Wisconsin di Madison. Nelson menyelesaikan pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil bidang electrical engineering. Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengaku bahwa semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya. Saat ditanya mengenai siapa yang paling berpengaruh, dia cepat menyebut kedua orang tuanya dan kakeknya. “Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali,” ujarnya.
Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orang tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya. Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. “Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu,” ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. “Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras.
Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu,” jelasnya.
Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati Nelson Tansu menjadi fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya sedikit ya ng tahu bahwa guru besar belia itu berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson ada hubungan famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. Benarkah? Nama Nelson Tansu memang cukup unik. Sekilas, sama sekali nama itu tidak mengindikasikan identitas etnis, ras, atau asal negeri tertentu. Karena itu, di Negeri Paman Sam, banyak yang keliru membaca, mengetahui, atau berkenalan dengan profesor belia tersebut. Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website Turki. Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negerinya Kemal Ataturk.
Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok . Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia “kembali” mengajar di Jepang. Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang. Lebih-lebih di Amerika banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan jarang-jarang memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala kekeliruan terhadap dirinya. “Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia. Mereka memang agak terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia,”jelas Nelson. Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang “Tansu”, sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu. “Saya suka dengan nama Tansu, kok,” kata Nelson dengan nada bangga.
Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner, dan selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1. Selebihnya? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung lewat beasiswa universitas. “Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di universitas,” katanya.
Orang seperti Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak sulit memenangi berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan penghargaan dan anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini di AS. Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-cita dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor (profesor muda, Red) tak pernah terbayangkannya bisa diraih pada usia 25 tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau masyarakat di Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun? Bahkan, di AS yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan fenomena umum. Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang status guru besar.
Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan post doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset Nelson yang dipatenkan di AS.
Kemudian, dua buku teksnya untuk mahasiswa S-1 dalam proses penerbitan. Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan merendah.
Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset yang hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai profesor di AS, dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme tersebut. Ketika mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti akan terperanjat. Cukup fenomenal. “Sejak SD kelas 3 atau kelas 4 di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil,” ujarnya dengan mimik serius. Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika usia SD, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann ternyata sudah diakrabi Nelson cilik. “Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika itu,” jelas Nelson penuh kagum.
Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003. Untuk bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan dan papan atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk menjadi profesor di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300 doktor yang resume (CV)-nya juga hebat-hebat. “Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya satu,” ujarnya. Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya? “Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he…he…he…,” katanya, menyelipkan senyum.
Riwayat hidup dan reputasinya memang wow.

Nelson sempat menjadi incaran dan malah “rebutan” kalangan universitas AS dan mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi daripada yang dia sandan g sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University. Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top. Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain.
“Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure optoelectronic devices.
Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset. ( sumber: milis icrp, 12-2007)

Oleh
Marzani Anwar

Masyarakat Gang Pasir merupakan sebuah kampung yang berada di tengah kota Medan. Masuk dalam wilayah kecamatan Medan Baru, kalurahan Petisah Hulu.  Penduduk dalam jumlah besarnya terdiri dari penganut agama, terutama Islam dan Hindu Tamil, masing-masing 40 % , menyusul Budha, Katolik dan Protestan

Masyarakat di perkampunagn itu seperti juga masyarakat komunitas lapis bawah di bagian lain di wilayah Indonesia lainnya, adalah masyarakat yang sudah terlalu lama hidup dalam hegemoni kekuasaan.  Dalam teori civil society, akan tampak kontradictif untuk diletakkan sebagai masyarakat kota, karena  umumnya konsep tersebut mengarah pada adanya suatu gerakan demokratisasi yang signifikan untuk melawan hegemoni (Hikam, 1999: 33). Proses ideologisasi pada masyarakat tersebut dilakukan dengan cara indoktrinasi (pemaksaan) yang terus-menerus. Sampai akhirnya realitas subyektif (dunia seolah-olah) itu telah berubah menjadi kebenaran obyektif. Bagi orang yang terhegemoni, kesadaran palsu itu merusak dari tingkat kognitif, sehingga telah kehilangan daya kritisnya karena tidak mampu lagi mengetahui mana realitas yang benar dan yang palsu (Antonio Gramsci, sebagaimana dikutip Warsilah, 2002: 58).

Masyarakat Gang Pasir, tidak lebih dari sebuah komunitas yang kekuatannya tidak masuk hitungan bagi para pengambil keputusan pemerintahan. Boleh jadi, masyarakat Gang Pasir cenderung diabaikan karena kemiskinannya dan dipandang tidak layak hidup di tengah kota. Karena sudah lama dipandang sebagai masyarakat loyalis kepada pemerintah yang sudah mapan.
Proses loyalitas terhadap apa saja yang dikehendaki oleh pemerintah, telah dibangun secara sistematis melalui birokrasi-patrimonial, yang seluruh mekanisme nya sangat sentralistik. Mulai dari mencari pekerjaan, mengurus pekerjaan, mengurus sekolah anak, pindah rumah, menjadi pimpinan warga, dan sebagainya seluruhnya tidak ada yang terlepas dari kontrol negara. Wilayah-wilayah publik yang seharusnya bebas dari jangkauan negara, seluruhnya dikontrol oleh kekuasaan. (lihat Warsilah, 2002: 58).
Satu-satunya gejala yang mendekati wacana civil society adalah, kondisi masyarakat yang dalam beberapa hal, ada peluang untuk mendukung bagi lahirnya gerakan masyarakat ideal: berkeadilan, mentaati hukum, demokratis, kemandirian, dan berswadaya, merupakan ciri-ciri yang biasa diobsesikan oleh para penggagas masyarakat sipil atau masyarakat madani.

Di sinilah menariknya masyarakat Gang Pasir. Sungguhpun perbedaan jumlah penganut agamanya cukup signifikan, tetapi mereka hidup rukun. Masjid yang mereka dirikan bersebelahan langsung dengan kuil Hindu Tamil. Mereka memiliki halaman yang sama. Apabila datang waktu merayakan hari-hari besar keagamaan, misalnya peringatan Maulid untuk Muslim dan Dipawali (semacam Lebaran bagi orang Islam) untuk Hindu Tamil, mereka saling membantu, dan sama-sama memanfaatkan fasilitas terutama halaman di depannya.

Kondisi saling menghidupkan dan saling mengisi kekurangan,  sekan telah menjadi bagian dari budaya mereka. Ini bisa dicoba paham, dengan mengingati keadaan masyarakat pada zaman awal Islam, di mana Nabi Muhammad saw. membuka babak baru peradaban dunia, sebagaimana diabstraksikan oleh Robert N. Bellah. Sekedar untuk mencoba memahami, bagaimana masyarakat Gang Pasir dengan tingkat religiusitasnya dan egalitarianitasnya, seakan menyerupai masyarakat yang pernah dihadapi Nabi Muhammad waktu awal yang disebut negara Madinah, sehingga agama Islam dipandangnya sebagai agama masyarakat (religious society). Secara umum masyarakat Gang Pasir mungkin sulit untuk dianalogkan masyarakat Madinah. Namun dalam masalah-masalah substantif, ada yang layak dilihat untuk memahami keadaan masa kini. Di antaranya bisa disebut di sini, bahwa (1) Konsep yang khas tentang dunia, dimulai dari fakta kesejarahan sebagaimana ditunjukkan oleh Yang Supernatural; (2) Ikatan keluarga dikeluarkan dari lingkaran kosmik, ritual dan pengorbanan, serta dibebaskan dari segala kesakaralan, kecuali seperti yang digariskan oleh Tuhan; (3) Struktur sosial kehilangan kesakralannya. Dan individu berhadapan langsung dengan Tuhan, bukan sebagai aktor yang pasrah, tapi sebagai individu yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan; (4) Keterbukaan pimpinannya untuk dapat dinilai kemampuannya berdasarkan landasan- landasan  yang universalistik, serta (5) Menggerakkan partisipasi segenap komponen masyarakat ( (lihat: R. N. Bellah, 2000: 208-219).

Dalam konteks egalitarianisme Islam ditunjukkan dari sisi teksnya yang menuntut kesetaraan manusia di hadapan Tuhan, dan secara konstektual diperlihatkan oleh pengalaman Nabi selama awal pemerintahan Islam. Ekspresi egalitarianisme atau respons terhadapnya, sesuai dengan penafsiran bahwa egalitarianisme Islam pada periode terdahulu mungkin dipahami sebagai sesuatu yang memiliki sigifikansi secara agama maupun sosial. Meski kemudian prinsip tersebut tereduksi, terutama pada periode awal perluasan kekuasaan Islam (lihat: Lousise Marlow, 1999:27). Semangat egalitarian itu, setidaknya, mengendap pada pengikut Islam lapisan bawah, yang terekspresi pada sistem organisasi maupun sikap dan pandangan hidup mereka.

Dari penelitian ini, ditarik beberapa tafsiran. Bahwa pada masyarakat tradisional, masyarakat madani atau civil society dimaknai sebagai upaya mempertahankan diri, dan memperkuat kemandirian, dalam arti tidak tergantung pada negara serta berupaya mencukupkan kemampuan diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penguatan civil society, pada masyarakat Gang Pasir, sebagai sebuah komunitas, ditempuh dengan memperkuat ikatan-ikatan sosial, dan membangun kebersamaan.

Kelompok penganut agama yang berbeda-beda di lingkungan Gang Pasir, masing-masing tidak melakukan propaganda agama. Sebaliknya mereka cenderung mencari persaman-persamaan, sehingga tidak ada peluang untuk terbukanya konflik antar agama. Hubungan-hubungan sangat personal antar warga terbina secara terus-menerus dan telah memperkuat sendi-sendi kebersamaan dan dalam menangung beban hidup mereka. Masyarakat tradisional tidak tertarik untuk melakukan persaingan, dalam bidang usaha dan kepemilikan barang.

Solidaritas yang dibangun melalui tradisi keagamaan, dari waktu ke waktu, telah memperkuat kesatuan komunitas sosial, dan tidak lagi memberi peluang terjadinya konflik bernuansa agama atau etnis. Sebaliknya telah terjadi kerjasama dalam aktivitas sosial keagamaan.
Ketataan pada hukum, tidak ditentukan oleh tingkat pengetahuan warga pada perundang-undangan yang berlaku di negaranya. Tidak juga kepada pengawasan oleh aparat atau pemberlakuan aturan secara ketat. Tetapi ketataan pada nilai-nilai yang dibangun bersama, yang didasarkan pada ajaran agamanya, pada tradisi dan hasil dari proses adaptasi dan integrasi sosial selama ini. Keharmonisan hubungan antar individu dan antar kelompok berbeda agama, serta keamanan lingkungan, terpelihara dengan baik, tanpa merasa terpaksa atau dipaksa oleh pihak lain. Di sanalah ketaatan hukum dalam arti yang sebenarnya, dalam masyarakat madani.
Sebagian besar warga masyarakat menciptakan sendiri aktivitas untuk memperoleh pendapatan dalam rangka memelihara ketahanan, serta mendorong untuk percaya diri dan dalam pross pemandirian.

DAFTAR PUSTAKA

- Baso, Ahmad, Civil Society versus Masyarakat Madani, Pustaka hidayah, 1999.
- Bellah, Robert, N., Beyond Belief, Paramadina, Jakarta, 2000.
- Hikam, Mohammad A.S, Wacana Intelektuil tentang Civil Society di Indonesia, Jurnal Pemikiran Islam, Paramadina Volume I, Nomor 2, Tahun 1999.  -
- Prasetyo, Hendro, Ali Munhanif dkk, Islam dan Civil Sociey, PT Gramedia bekerjasama dengan PPIM-IAIN Jakarta, Jakarta, 2002.
- Louise Marlow, Masyarakat Egaliter – Visi Islam, Mizan, 1999.
- Warsilah, Henny, Peta Sosiologis Daerah Rawan Konflik: Propinsi Riau dan Sumatera Utara, Jurnal Masyarakat dan Budaya, Vol. IV No. 2/2002, PMB-LIPI.

Oleh: Ade Armando

”Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH! PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! Ahmadiyah halal darahnya! Persetan HAM! Tai kucing HAM! Allahu Akbar”
Kalimat-kalimat penuh kebencian itu dilontarkan Sobri Lubis. Dia adalah seorang tokoh Front Pembela Islam (FPI) yang berpidato dalam tabligh akbar di Banjar, Jawa Barat, 14 Februari 2008.
Saya memiliki rekaman pidatonya saat Sobri tampil dengan didampingi beberapa tokoh lainnya di hadapan ribuan umat Islam. Selain Sobri, ada pula Ir. M. Khattath, pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia, yang dengan lebih tenang — dan dengan senyum dinginnya — menyatakan bila pengikut Ahmadiyah tidak mau bertobat, hukumannya mati. Juga ada Abu Bakar Baasyir yang juga dengan tenang menyatakan hukuman bagi nabi palsu sederhana: kalau ditemukan, tangkap, potong leher.
Kutipan-kutipan di atas sengaja diangkat untuk menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai masih adanya gerakan-gerakan radikal yang menghalalkan kekerasan dalam umat Islam di Indonesia bukanlah omong kosong. Inilah kalangan yang atas nama agama merasa berhak menghabisi mereka yang berada di luar kelompoknya. Dalam kasus terakhir ini, mereka secara bergelombang berusaha memaksa pemerintah untuk tunduk pada keyakinan mereka: bubarkan Ahmadiyah, nyatakan Ahmadiyah sebagai ajaran terlarang, paksa mereka tobat!
Kalau pemerintah tidak mau membubarkan, bagaimana? Di sini, pantas lagi dikutip pernyataan seorang aktivis yang menyebut dirinya Panglima Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII). Bernama asli Abdul Haris Umarela, orang yang sekarang mengubah namanya menjadi Abdurrahman Assegaf itu berfatwa: ”Darah Ahmadiyah halal,” Lalu, Umarela ini berkata pula: ”Insya Allah, dalam waktu dekat, bila pemerintah tidak menutup Ahmadiyah, jangan kami disalahkan bila kami akan memberantas mereka …”
Saya bukan penganut Ahmadiyah. Saya duga sebagian besar dari pembaca artikel ini bukanlah penganut Ahmadiyah. Tapi saya ingin mengingatkan Anda semua untuk melihat ancaman yang sangat nyata dari kelompok-kelompok preman berjubah – dengan menggunakan istilah Ahmad Syafii Maarif – tersebut terhadap pertama-tama, Ahmadiyah, dan juga pada gilirannya nanti, pada keragaman dalam Islam dan juga kebhinekaan di negara ini.

Read the rest of this entry »

Oleh: Ruzbihan Hamazani
Dikutip dari: ruzbihanhamazani.wordpress.com/2008. 7 Juni 2008

Keberatan sejumlah kelompok Islam terhadap Ahmadiyah, antara lain, adalah bahwa sekte ini menganut ajaran yang berlawanan dengan akidah Islam, terutama kepercayaan tentang adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Ini berlawanan dengan doktrin standar Islam tentang finalitas kenabian Muhammad. Mereka mengatakan: jika Ahmadiyah mau tetap diakaui sebagai bagian dari umat Islam, maka sekte itu harus kembali ke ajaran Islam yang benar. Dengan kata lain, harus meninggalkan doktrin kenabian mereka. Jika tidak, mereka harus mendirikan agama baru di luar Islam.
Banyak tokoh Islam yang berpandangan bahwa masalah Ahmadiyah akan selesai jika kelompok ini mau memisahkan diri dengan baik-baik dari Islam, dan mendirikan agama baru. Pandangan ini tampaknya mendapat banyak pengikut di kalangan tokoh-tokoh Islam. Mulai dari Ketua MPR, anggota DPR, menteri agama, sejumlah tokoh dalam MUI, dan tokoh-tokoh Islam lain pernah mengemukakan hal ini secara publik lewat media massa.
Pertanyaannya: apakah betul jika Ahmadiyah menjadi agama baru, masalahnya akan selesai? Apakah benar, jika kelompok ini menyatakan diri sebagai agama baru di luar Islam, dia tidak dimusuhi lagi oleh sejumlah kelompok dalam Islam sebagaimana kita lihat saat ini?
Saya, terus terang, ragu sama sekali. Argumen ini dikemukakan oleh banyak kalangan Islam (terutama yang konservatif dan fundamentalis) sebagai “taktik sementara” untuk melumpuhkan Ahmadiyah sebagai sebuah jamaah. Saya tidak yakin, kalangan Islam yang memakai argumen ini benar-benar memiliki komitmen untuk tidak mengganggu Ahmadiyah setelah sekte itu benar-benar memisahkan diri sebagai agama baru. Sejak awal, kelompok ini memusuhi ide toleransi dan anti pluralisme. Bagaimana mungkin kita bisa berharap mereka akan bersikap “pluralis” dan toleran terhadap Ahmadiyah setelah sekte ini benar-benar menjadi agama baru? Bagaimana mungkin kita berharap orang-orang seperti Khalil Ridlwan, Sobri Lubis, Al-Khattat, FPI, FUI, MMI, HTI bisa bersikap pluralis? Mengharap mereka bersikap demikian sama saja berharap “dua ditambah dua sama dengan lima”, alias mustahil.
Taruhlah Ahmadiyah benar-benar menjadi agama baru, meskipun pengandaian ini sangat sulit terjadi, maka sejumlah masalah baru akan tetap muncul kembali. Sebagaimana kita tahu, Ahmadiyah masih memakai Qur’an dan hadis sebagai dua sumber utama dalam kepercayaan mereka. Mereka juga masih beribadah persis dengan umat Islam yang lain. Mereka masih menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan utama. Seluruh akidah mereka di luar masalah kenabian sama persis dengan akidah umat Islam yang lain. Kalau pun ada perbedaan, paling jauh hanya menyangkut interpretasi mengenai beberapa hal yang kurang terlalu penting (misalnya soal kematian Nabi Isa di mana mereka memiliki interpretasi sendiri yang berbeda dari umumnya kalangan Islam dan Kristen).
Jika Ahmadiyah menjadi agama baru, umat Islam “ortodoks” bisa jadi akan mengangkat masalah baru yang tak kalah rumitnya. Mereka bisa saja mempersoalkan penggunaan doktrin, ajaran, simbol dan atribut Islam oleh Ahmadiyah yang sudah menjadi “agama” baru itu. Ingat protes sejumlah kalangan Islam beberapa waktu lalu atas komunitas Kristen di Jakarta yang memakai simbol Islam dalam ibadah natal, seperti baju koko dan peci, dua jenis pakaian yang dianggap sebagai milik khas umat Islam. Jika umat Kristen memakai baju koko saja diprotes karena dianggap “mencuri” simbol Islam, apa yang terjadi nanti jika Ahmadiyah menjadi agama baru, sementtara jamaahnya masih beribadah dan berkeyakinan sama persis dengan umat Islam yang lain?

Read the rest of this entry »

KEBENARAN YANG SEMAKIN HILANG

oleh Marzani Anwar

Siapa Ali dan siapa Ibn Abbas, dan siapa yang tak kenala keduanya. Yang satu adalah Khualafaur Rasyidin, dan yang satunya adalah shahabat nabi, dan perawi sekian banyak hadits. Tapi ketika Ali menjadi Khalifah, keduanya berseteru. Ali Menuduh Ibn Abbas korupsi, sementara Ibn Abbas menuduh Ali menumpahkan banyak darah umat Islam.  Belakangan Ibn Abbas diketahui membawa harta negara ke Makah. Ia terlibat skandal penggelapan keuangan negara, dan ia pun mengakuinya. Konon ”penggelapan itu” sebagai satu cara mengundurkan diri dari jabatan sebagai pendamping Ali. Ketika tuduhan semakin gencar, tahu-tahu Ali terbunuh. Berikutnya Ibn Abbas menjadi tamu kehormatan di Damaskus, pusat pemerintahan baru paska Khulafaur Rasyidin.
Itu adalah di antara kisah yang diungkapkan oleh Farag Fouda, penulis Buku ”Kebenaran Yang hilang”, terbitan Balai Litbang Agama Jakarta, yang merupakan karya terjemahan dari buku asli yang berjudul ”Al Haqiqah al Ghaybah”.

Kebenaran yang telah lama hilang, kini semakin hilang saja, ketika buku yang amat berharga itu dilarang beredar. Belum lagi didistribusikan, Kepala Badan Litbng Agama, Prof Dr. Atho Mudzar, atas pesan Menteri Agama, melarangnya. Pelarangan itu diduga atas desakan kelompok “garis keras” Islam, yang selama ini lagi berjuang menegakkan sistem khilafah di dunia Islam.

Buku yang penerbitannya bekerjasama dengan ys. Paramadina itu, mengungkap lembaran kelam sistem kekhalifahan dalam sejarah Islam, yang sejak zaman Khulafaur Rasyidin hingga pemerintahan Abbasyiah yang dibangga-banggakan itu. Tanpa mengurangi kebesaran para khalifah yang telah menyumbang banyak kemajuan peradaban umat manusia, Fouda merasa perlu mengungkap borok-borok sejarah yang selama ini banyak ditutup-tutupi. Maksud sang penulis buku , dengan mengungkap fakta sejarah adalah, untuk bahan introspeksi umat kini. Terutama bagi mereka yang selam ini memperjuangkan pemberlakuan sistem khilafah.
Penerapan khilafah itu syah-syah saja sepanjang diletakkan sebagai sebuah alternatif yang bisa dikritisi dengan akal sehat, dan diputuslan atas dasar demokrasi. Tapi asal tahu saja, bahwa belum ada pengalaman dalam sejarah Islam, ada sistem kekhalifahan yang mampu secara utuh menerapkan nilai-nilai Islami. Norma keagamaan terlalu suci untuk dijaminkan dalam sistem politik kenegaraan yang baldatun wa rabbun ghafur  sekalipun.

Sejarah menunjukkan, dari sejak kekuasaan masa pemerintahan Umar Ibn al Khattab, dilanjutkan dengan Usman Ibn Affan, Ali,dan seterusnya, hingga sekarang. Bagi Fouda, khilafah dalam sejarahnya tidak lebih dari sistem kekuasaan totaliter yang berselubung agama. Ia mempertanyakan label “Islam” dalam khilafah, karena yang sering tampak dari sejarah politik Islam justru hal-hal yang berlawanan dengan Islam. Karena ia memisahkan Islam dari praktik kekuasaan atas nama Islam, maka praktik  khilafah dalam sejarah sudah selayaknya dapat dikritik, dicela, dan dibahas  dengan menggunakan tolok ukur ilmu politik, demokrasi dan hak asasi manusia. Demikian komentar Samsu Rizal Panggabean, dalam pengantar buku ini (xxi).
Read the rest of this entry »

Foklor dan Kearifan Lokal Masyarakat Propinsi Jambi

Oleh : Marzani Anwar

Masyarakat Indonesia yang majemuk dan memiliki latar belakang kebudayaan yang beragam jelas memerlukan kerangka acuan untuk dijadikan pegangan dalam pergaulan nasional masa kini. Oleh karena itu nilai-nilai tradisional yang mengandung persamaan dan bisa dijadikan pegangan bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia di mana pun tempat tinggalnya, perlu digali dan diteliti kemudian ditawarkan sebagai alternatif yang baik untuk perkembangan kehidupan sosial yang baru dan serasi. Penawaran alternatif itu penting karena tidaklah mudah untuk memaksakan nilai-nilai yang dianggap baik ke dalam pergaulan nasional bila tidak dengan mengenal latar belakang kultural masyarakat yang beragam.
Propinsi Jambi, adalah salah satu propinsi di Indonesia, yang juga berpotensi terjadinya disharmoni, baik dalam skala kecil maupun skala besar. Meski sejauh ini, hampir tidak pernah terjadi konflik terbuka seperti itu. Namun yang pasti, dalam tradisi masyarakat Jambi tersimpan nilai-nilai yang mampu memelihara keharmonisan dari generasi ke generasi.
Usaha pelestarian kebudayaan daerah dalam konteks pencitraan kearifan lokal diharapkan dapat menunjang dan memberikan sumbangan dalam memperkokoh, memperkaya, serta mewarnai model kearifan bangsa Indonesia. Dalam hubungan ini ungkapan atau seloka daerah Jambi, selagi masih dapat diselamatkan, akan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan tersebut.
Cukup menarik dengan adanya seloka dan folklor yang hidup di tengah masyarakat Jambi. Warisan budaya yang masih perlu dipelihara, yang berupa ungkapan-ungkapan bijak sering mengalami redukusi dengan berkembangnya lingkungan yang modernize.
Penelitian yang kami lakukan bertujuan menggali dan mendalami nilai-nilai dan adat istiadat Jambi yang sering dijadikan acuan tindakan dan atau kebijakan dalam memelihara kehidupan yang harmoni dalam masyasrakat.

Read the rest of this entry »

Menuju Masyarakat Madani
oleh: Nurcholish Madjid

Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk ikut serta ambil peran dalam usaha bersama bangsa kita untuk mewujudkan masyrakat berperadaban, masyarakat madani, civil society, dinegara kita tercinta, Republik Indonesia. Karena terbentuknya masyarakat madani adalah bagian mutlak dari wujud cita-cita kenegaraan, yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Adalah Nabi Muhammad Rasulullah sendiri yang memberi teladan kepada umat manusia ke arah pembentukan masyarakat peradaban. Setelah belasan tahun berjuang di kota Mekkah tanpa hasil yang terlalu menggembirakan, Allah memberikan petunjuk untuk hijrak ke Yastrib, kota wahah atau oase yang subur sekitar 400 km sebelah utara Mekkah. Sesampai di Yastrib, setelah perjalanan berhari-hari yang amat melelahkan dan penuh kerahasiaan, Nabi disambut oleh penduduk kota itu, dan para gadisnya menyanyikan lagu Thala’a al-badru ‘alaina (Bulan Purnama telah menyingsing di atas kita), untaian syair dan lagu yang kelak menjadi amat terkenal di seluruh dunia. Kemudian setelah mapan dalam kota hijrah itu, Nabi mengubah nama Yastrib menjadi al-Madinat al-nabiy (kota nabi).
Secara konvensional, perkataan “madinah” memang diartikan sebagai “kota”. Tetapi secara ilmu kebahasaan, perkataan itu mengandung makna “peradaban”. Dalam bahasa Arab, “peradaban” memang dinyatakan dalam kata-kata “madaniyah” atau “tamaddun”, selain dalam kata-kata “hadharah”. Karena itu tindakan Nabi mengubah nama Yastrib menjadi Madinah, pada hakikatnya adalah sebuah pernyataan niat, atau proklamasi, bahwa beliau bersama para pendukungnya yang terdiri dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar hendak mendirikan dan membangun mansyarakat beradab.
Tak lama setelah menetap di Madinah itulah, Nabi bersama semua penduduk Madinah secara konkret meletakkan dasar-dasar masyarakat madani, dengan menggariskan ketentuan hidup bersama dalam suatu dokumen yang dikenal sebagai piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah). Dalam dokumen itulah umat manusia untuk pertama kalinya diperkenalkan, antara lain, kepada wawasan kebebasan, terutama di bidang agama dan politik, khususnya pertahanan, secara bersama-sama. Dan di Madinah itu pula, sebagai pembelaan terhadap masyarakat madani, Nabi dan kaum beriman diizinkan mengangkat senjata, perang membela diri dan menghadapi musuh-musuh peradaban.
Jika kita telaah secara mendalam firman Allah yang merupakan deklarasi izin perang kepada Nabi dan kaum beriman itu, kita akan dapat menangkap apa sebenarnya inti tatanan sosial yang ditegakkan Nabi atas petunjuk Tuhan.

Read the rest of this entry »