DUKAKU UNTUK BANJARNEGARA

Terdengar Jerit tangis anak anak negeri membahana
Di dusun Jemblung , Karangkobar, Banjarnegara
Tatkala longsor itu datang tiba tiba
Menggasak rumah rumah dan sembarang jenis harta
Marusak fasilitas dan prasarana umum di hitungan tak terkira
Para ibu kehilangan suami dan anak anak tercinta
Para Bapak terlepas dari isteri dan sanak saudara
Bergelimpang dalam lumpur entah ke mana

Dukamu adalah dukaku
Tangismu adalah tangisku
Kiranyah Tuhan punya Rencana
Yang mengiringi setiap bencana

Kita hanya bisa pasrah kepadaNya
Semoga hikmah besar menunggu di sana
Di keharibaan Ilahi Yang Maha Kuasa
Yang Maha Pengasih kepada siapa saja

Selamat Natal

Itulah ucapan yang banyak diributin orang. Yang meributkan adalah kalangan teman2 Muslim. Menurut saya, ucapan Selamat Natal itu seperti Say Hello saja, sebagai simbol adanya hubungan pertemanan dengan sesama. Sama juga dengan Selamat Pagi, Selamat Siang, Salam sejahtera untuk kita semua. Sebagaimana kalau seorang penganut Non Muslim mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada temannya yang Muslim. Biasa di dalam tata pergaulan, ucapan demikian tidak sampai masuk ke wilayah aqidah. Memasuki wilayah aqidah butuh proses kesadaran tersendiri, butuh pertimbangan akal sehat. Masalah itu merupakan entitas tersendiri, yang berbeda dengan pemaknaan simbol. Simbol pertemanan dengan mengucapkan Selamat Natal, tidak lebih dari keikutsertaan bergembira, atau pererat persaudaraan. Kenapa mesti diributkan

AGAMA DALAM BIROKRASI MODERN DI INDONESIA, Marzani Anwar

Tak terelakkan bahwa dalam kehidupan masyarakat modern telah menjadikan materi menjadi solusi kebahagiaan, sehingga penghayatan agama terabaikan. Ketika intelektualisme dan materialisme kian mengakar dalam segala segi kehidupan kota, masyarakat mulai gamang, terutama sejak pukulan krisis ekonomi berdampak pada merosotnya nilai materi sebagai solusi kebahagiaan. Intelektualisme pun, pada tingkat tertentu, berbenturan dengan dinding kokoh yang menghalangi jalan manusia menuju Tuhan. Hakikatnya, manusia adalah makhluk spiritual yang hidup di alam materi, bukan sebaliknya!.

Baca lebih lanjut

PEREMPUAN MENJADI KEPALA KELUARGA

Seorang perempuan bertanya pada Mamah Dedeh: “ Apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi masalah keluarga saya”. Sang penanya ini adalah seorang perempuan, sudah lama ditinggal suami, dengan tanggungan 4 orang anak yang berusia 12 an tahun ke bawah. Tidak punya  pekerjaan, kecuali kerja serabutan bantu-bantu menjadi tukang cuci, dan mengais kardus bekas. Kemanapun perginya ia mengajak keempat anak tersebut. Suaminya telah meninggalkannya tanpa jejak yang jelas. Suaminya pergi sudah lebih dari dua tahun tanpa ada kejelasan tujuannya. Perempuan ini tidak punya family tempat mengadu, tidak biasa curhat dengan teman dekat. Pertanyaan kepada Mamah Dedeh itu ditujukan pada pada kesempatan acara di sebuah stasiun TV tepatnya tanggal 27 Oktober pukul 6.30 pagi hari, Acara “Hati ke Hati”.

Baca lebih lanjut

Executive Summay SEMINAR NASIONAL IMPLEMENTASI HASIL PENELITIAN BAGI PEMBANGUNAN AGAMA MASA DEPAN

Seminar nasional bertajuk Implementasi Hasil Penelitian Bagi Pembangunan Agama masa Depan pernah dilangsungkan pada tanggal 19-20 Januari 2010, bertempat di Hotel Horison Bekasi. Diselenggarakan oleh Balai Litbang Agama Jakarta. Sebagai nara sumber adala: Prof. Dr. H. Atho’ Mudzhar, Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat waktu iti. Drs. H. Tulus, Staf Ahli Kementerian Agama; Prof. Dr. Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang, dan Lukmanul Hakim, Ph D, konultan Balai Litbang Agama Jakarta

Baca lebih lanjut

STRATEGI DAKWAH DALAM PERSPEKTIF MULTIKULTURAL Marzani Anwar

Dakwah dalam artinya yang paling elmenter adalah menyampaikan pesan-pesan suci dan luhur yang bersumber dari ajaran agama. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dakwah telah menjadi bagian dari gerak hidup dan dinamika di Indonesia. Substansi dakwah yang disampaikan setidaknya mencakup dua hal, yakni ajakan berbuat kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah berbuat jahat atau penyimpangan ( nahyu munkar).

Baca lebih lanjut

MENYOAL BIAYA PENCATATAN NIKAH Cuplikan hasil penelitian di Kodya Bogor Oleh Marzani Anwar

Apa yang disebut biaya, dalam proses pencatatan pernikahan yang legal, sebenarnya tidak terbatas  pada pencatatan. Bahkan masalah ”catat-mencatat” itu sendiri sebenarnya adalah menjadi tugas yang melekat pada jabatan sang petugas KUA.  Proses perikahan, secara prosedural didahului dengan menyerahkan persyaratan administrasi, adalah memang kewajiban yang berkepentingan, yakni si calon pengantin. Sementara pencatatan secara administrasi adalah tugas yang ada di pundak sang petugas. Baca lebih lanjut

KERUKUNAN ANTARUMAT BERAGAMA DI KOTA TANGERANG: Di antara Missionari dan Prasangka Marzani Anwar

Pendahuluan

Umat beragama kini semakin tidak terbebaskan dari proses perubahan yang demikian cepat dan cair ini. Beragam literatur mencatat, segera setelah Indonesia mengalami masa transisi menuju demokrasi tiba, ekspresi keagamaan muncul demikian beragam, misalnya pada orientasi spiritual (Howell; 2005) atau politik (baca: Islam) (Azra; 2006, Abuza; 2007). Barangkali tidak langsung berkaitan, namun fakta sosial terbaca seolah kelompok agama dengan keyakinan mainstream kemudian secara terbuka berhadap-hadapan dengan kaum beragama yang berkeyakinan non mainstream. Pada preferensi politik dapat terbaca dari bermunculannya kelompok pro syariah yang oleh sebagian sarjana Barat disebut sebagai kalangan Islamis (Mehden, 2008), yang selain mendesakkan negara Islam, juga memiliki sentimen anti Kristen dan anti pemikiran sekuler. Sebagian kalangan menduga, kartel pelaku teror tumbuh dari lapisan umat yang berada dalam bingkai ini. Kelompok ini lantas berhadapan dengan kalangan Islam moderat yang mempertahankan ideologi Pancasila (Ramage, 1995).

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 212 pengikut lainnya.