Tags

, , ,

Sebuah penelitian dengan tema pemberdayaan masyarakat madani telah dilakukan oleh Balai Litbang Agama Jakarta. Sasarannya masyarakat Gang Pasir, sebuah komunitas padat berlokasi di tengah kota Medan. Merupakan masyarakat kampung yang berada di tengah kota Medan. Masuk dalam wilayah kecamatan Medan Baru, kalurahan Petisah Hulu. Penduduk dalam jumlah besarnya terdiri dari penganut agama, terutama Islam dan Hindu Tamil, masing-masing 40 % , menyusul Budha, Katolik dan Protestan

Istilah masyarakat madani secara konseptual berangkat dari konsep civil society. Pada dasarnya konsep civil society berasal dari Barat, yang keadaan masyarakatnya jauh lebih maju atau modern. Secara teoritis, pengertian sivil society mengarah pada adanya suatu gerakan demokratisasi yang signifikan untuk melawan hegemoni (Hikam, 1999: 33). Masyarakat lapisan bawah Gang Pasir, seperti juga masyarakat komunitas lapis bawah di bagian lain di wilayah Indonesia, adalah masyarakat yang sudah terlalu lama hidup dalam hegemoni kekuasaan. Proses ideologisasi yang dilakukan dengan cara indoktrinasi (pemaksaan) yang terus-menerus. Sampai akhirnya realitas subyektif (dunia seolah-olah) itu telah berubah menjadi kebenaran obyektif. Bagi orang yang terhegemoni, kesadaran palsu itu merusak dari tingkat kognitif, sehingga telah kehilangan daya kritisnya karena tidak mampu lagi mengetahui mana realitas yang benar dan yang palsu (Antonio Gramsci, sebagaimana dikutip Warsilah, 2002: 58). Selain itu, masyarakat Gang Pasir, tidak lebih dari sebuah komunitas di tengah perkotaan, yang kekuatannya tidak masuk hitungan bagi para pengambil keputusan pemerintahan. Boleh jadi, masyarakat Gang Pasir cenderung diabaikan karena kemiskinannya dan dipandang tidak layak hidup di tengah kota. Karena sudah lama dipandang sebagai masyarakat loyalis kepada pemerintah yang sudah mapan.

Proses loyalitas terhadap apa saja yang dikehendaki oleh pemerintah, telah dibangun secara sistematis melalui birokrasi-patrimonial, yang seluruh mekanisme nya sangat sentralistik. Mulai dari mencari pekerjaan, mengurus pekerjaan, mengurus sekolah anak, pindah rumah, menjadi pimpinan warga, dan sebagainya seluruhnya tidak ada yang terlepas dari kontrol negara. Wilayah-wilayah publik yang seharusnya bebas dari jangkauan negara, seluruhnya dikontrol oleh kekuasaan. (lihat Warsilah, 2002: 58).

Satu-satunya gejala yang mendekati wacana civil society adalah, kondisi masyarakat yang dalam beberapa hal, ada peluang untuk mendukung bagi lahirnya gerakan masyarakat ideal: berkeadilan, mentaati hukum, demokratis, kemandirian, dan berswadaya, merupakan ciri-ciri yang biasa diobsesikan oleh para penggagas masyarakat sipil atau masyarakat madani.

Di sinilah menariknya masyarakat Gang Pasir. Sungguhpun perbedaan jumlah penganut agamanya cukup signifikan, tetapi mereka hidup rukun. Masjid yang mereka dirikan bersebelahan langsung dengan kuil Hindu Tamil. Mereka memiliki halaman yang sama. Apabila datang waktu merayakan hari-hari besar keagamaan, misalnya peringatan Maulid untuk Muslim dan Dipawali (semacam Lebaran bagi orang Islam) untuk Hindu Tamil, mereka saling membantu, dan sama-sama memanfaatkan fasilitas terutama halaman di depannya.

Kondisi saling menghidupkan dan saling mengisi kekurangan, sekan telah menjadi bagian dari budaya mereka. Ini bisa dicoba paham, dengan mengingati keadaan masyarakat pada zaman awal Islam, di mana Nabi Muhammad saw. membuka babak baru peradaban dunia, sebagaimana diabstraksikan oleh Robert N. Bellah. Sekedar untuk mencoba memahami, bagaimana masyarakat Gang Pasir dengan tingkat religiusitasnya dan egalitarianitasnya, seakan menyerupai masyarakat yang pernah dihadapi Nabi Muhammad waktu awal yang disebut negara Madinah, sehingga agama Islam dipandangnya sebagai agama masyarakat (religious Society). Secara umum masyarakat Gang Pasir mungkin sulit untuk dianalogkan masyarakat Madinah. Namun dalam masalah-masalah substantif, ada yang layak dilihat untuk memahami keadaan masa kini. Di antaranya menyangkut hal-hal sbb.:

1. Setiap individu berdiri secara independen dari tiap ikatan keluarga dan pemerintah.

2. Dilemahkannya ikatan-ikatan primordial, karena kewajiban tertinggi adalah pengabdiannya hanya kepada Tuhan.

3. Konsep yang khas tentang dunia, dimulai dari fakta kesejarahan sebagaimana ditunjukkan oleh Tuhan.

4. Ikatan keluarga dikeluarkan dari lingkaran kosmik, ritual dan pengorbanan, serta dibebaskan dari segala kesakaralan, kecuali seperti yang digariskan oleh Tuhan.

5. Struktur sosial kehilangan kesakralannya. Dan individu berhadapan langsung dengan Tuhan, bukan sebagai aktor yang pasrah, tapi sebagai individu yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan.

6. Keterbukaan pimpinannya untuk dapat dinilai kemampuannya berdasarkan landasan- landasan yang universalistik.

7. Menggerakkan partisipasi segenap komponen masyarakat.

(lihat: R. N. Bellah, 2000: 208-219).

Agama Islam sendiri, adalah agama egaliter. Ditunjukkan dari sisi teksnya yang menuntut kesetaraan manusia di hadapan Tuhan, serta pengalaman Nabi selama awal pemerintahan Islam. Ekspresi egalitarianisme atau respons terhadapnya, sesuai dengan penafsiran bahwa egalitarianisme Islam pada periode terdahulu mungkin dipahami sebagai sesuatu yang memiliki sigifikansi secara agama maupun sosial. Meski kemudian prinsip tersebut tereduksi, terutama pada periode awal perluasan kekuasaan Islam (lihat: Lousise Marlow, 1999:27). Semangat egalitarian itu, setidaknya, mengendap pada pengikut Islam lapisan bawah, yang terekspresi pada sistem organisasi maupun sikap dan pandangan hidup mereka.

Wajah “Madani” dalam masyarakat

Dari penelitian ini, ditarik beberapa tafsiran. Bahwa pada masyarakat tradisional, masyarakat madani atau civil society dimaknai sebagai upaya mempertahankan diri, dan memperkuat kemandirian, dalam arti tidak tergantung pada negara serta berupaya mencukupkan kemampuan diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penguatan civil society, pada masyarakat Gang Pasir, sebagai sebuah komunitas, ditempuh dengan memperkuat ikatan-ikatan sosial, dan membangun kebersamaan.

Kelompok penganut agama yang berbeda-beda di lingkungan Gang Pasir, masing-masing tidak melakukan propaganda agama. Sebaliknya mereka cenderung mencari persaman-persamaan, sehingga tidak ada peluang untuk terbukanya konflik antar agama. Hubungan-hubungan sangat personal antar warga terbina secara terus-menerus dan telah memperkuat sendi-sendi kebersamaan dan dalam menangung beban hidup mereka. Masyarakat tradisional tidak tertarik untuk melakukan persaingan, dalam bidang usaha dan kepemilikan barang.

Solidaritas yang dibangun melalui tradisi keagamaan, dari waktu ke waktu, telah memperkuat kesatuan komunitas sosial, dan tidak lagi memberi peluang terjadinya konflik bernuansa agama atau etnis. Sebaliknya telah terjadi kerjasama dalam aktivitas sosial keagamaan.

Ketataan pada hukum, tidak ditentukan oleh tingkat pengetahuan warga pada perundang-undangan yang berlaku di negaranya. Tidak juga kepada pengawasan oleh aparat atau pemberlakuan aturan secara ketat. Tetapi ketataan pada nilai-nilai yang dibangun bersama, yang didasarkan pada ajaran agamanya, pada tradisi dan hasil dari proses adaptasi dan integrasi sosial selama ini. Keharmonisan hubungan antar individu dan antar kelompok berbeda agama, serta keamanan lingkungan, terpelihara dengan baik, tanpa merasa terpaksa atau dipaksa oleh pihak lain. Di sanalah ketaatan hukum dalam arti yang sebenarnya, dalam masyarakat madani.

Sebagian besar warga masyarakat menciptakan sendiri aktivitas untuk memperoleh pendapatan dalam rangka memelihara ketahanan, serta mendorong untuk percaya diri dan dalam pross pemandirian.

About these ads