Oleh: Marzani Anwar

Komunitas Eden awalnya bernama Salamullah. Muncul di tengah kota Jakarta, sejak tahun 1966. Arti “Salamullah” secara harfiahnya adalah ‘Salam dan keselamatan dari Allah’. Jejak kelompok ini tidak bisa dilepaskan dari pergulatan dan perjalanan spiritual pendirinya, yakni Lia Aminuddin yang merasa terbuka kekasyafannya sejak tanggal 28 Oktober 1995.

Pada awalnya, Salamullah merupakan nama kelompok diskusi atau mudzakarah informal, yang dirintis mulai bulan Nopember 1996. Anggota mudzakarah kebanyakan adalah kalangan anak-anak muda, termasuk sejumlah mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Walaupun belakangan, para anggota mudzakarah tersebut ternyata tidak terpanggil untuk meneruskan Salamullah, bahkan beberapa di antara mereka menjadi bagian dari komisi Fatwa MUI yang mengeluarkan fatwa sesat untuk Salamullah.

Keadaan umat manusia yang tidak pernah damai, dan semakin maraknya kekerasan dan ketegangan antar agama, menjadi agenda tersendiri, yang mendorong Salamullah memilih jalan perenial. Demikian yang sementara terbaca terhadap keterangan dari apa yang tertuang dalam lembaran-lembaran publikasi mereka. Kelompok Salamullah, yang belakangan lebih suka menyebut dirinya komunitas eden, tentu punya argumentasi dan penjelasan atas masalah-masalah tersebut.

Istilah perenial dalam penelitian ini digunakan untuk: (1) mengidentifikasi adanya persamaan antar agama-agama; (2) menjelaskan adanya nilai yang abadi atau berlaku umum yang melekat pada suatu paham keagamaan dan yang bisa diterima atau bersifat universal. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari ajaran agamanya dan mungkin juga melekat pada tradisinya; (3) identifikasi pemikiran dan tindakan yang menjembatani perbedaan antar agama atau antar kelompok keagamaan.

Dalam sebuah penelitian yang penulis lakukan, komunitas dilihat sebagai sebuah gerakan keagamaan yang bersifat messianis. Secara global, gerakan seperti ini, bisa merupakan kepanjangan dari gerakan yang sudah ada sebelumnya, dan bisa juga terbebas dari kelompok sebelumnya. Bisa merupakan bagian dari sebuah organisasi besar, dan bisa juga berdiri sendiri tanpa keterikatan dengan kelompok lain dengan latar belakang apapun.
Berbagai pandangan keagamana dibangun sebagai sistem religi kaum Eden Salamullah. Antara lain dinyatakan, bahwa keberimanannya adalah ketundukannya dan kepasrahannya kepada Tuhan Yang Maha Esa; Eden mengimani keberadaan malaikat-malaikat-Nya, iblis, dan makhluk-makhluk gaib lainnya; Mereka mengimani bahwa Allah menurunkan bimbingan-Nya (kitab suci) kepada berbagai kalangan di sepanjang zaman, baik yang berada di Timur Tengah maupun di belahan bumi lainnya semisal: RgVeda, Tripitaka, Taurat, Zabur, Injil, dan al Qur’an.

Komunitas Eden juga meyakini: (1) Bahwa keberadaan para Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada umat manusia, baik yang disebutkan di dalam kitab-kitab suci maupun yang tak disebutkan; baik yang hidup pada zaman dahulu maupun yang sedang dibangkitkan Tuhan pada saat ini; (2) Bahwa saat ini adalah masa kerasulan, karena Allah sedang mengutus Malaikat Jibril-Ruhul Kudus sebagai rasul-Nya untuk membawa takdir-Nya di akhir zaman; (3) Bahwa Tuhan sedang menjelaskan ayat-ayat tersamar (mutasyabihat), ayat-ayat termaterai, dan menggenapkan nubuah-nubuah-Nya di segala kitab suci; Salamullah meyakini bahwa Malaikat Jibril-Ruhul Kudus sedang membangun surga Allah di bumi, kerajaan-Nya untuk orang-orang beriman dari agama apapun.

Melalui gerakannya, Salamullah hendak menyampaikan pesan-pesan kerasulan, yang intinya adalah: Mengajak umat manusia khususnya yang sudah terlalu jauh meninggalkan Tuhan, untuk kembali menyembah Allah Yang Maha Esa dan menghindarkan segala bentuk pemberhalaan dan pengkultusan kepada siapa pun; Mengajak umat manusia untuk bersaudara dalam kebenaran dan cinta kepada Allah tanpa memandang sekat agama, suku, ras. Siapapun yang membela kebenaran dan keadilan, mereka adalah saudaranya. Siapapun yang berlaku aniaya dan menyalahi kebenaran, tidaklah akan dibelanya walaupun dia berasal dari kelompoknya; Sementara itu, missi Salamullah tidak membuat agar orang tunduk kepada Salamullah, melainkan agar manusia tunduk hanya kepada Tuhan Yang Esa.

Cita-cita menciptakan zaman sempurna sebagaimana layaknya gerakan messianis religius cukup mengemuka. Mereka memandang zaman ini sebagai zaman yang penuh kerusakan dan ada semangat pantang menyerah untuk memegang prinsip untuk menuju apa yang dicita-citakan;. Dalam menafsirkan ayat-ayat Tuhan, lebih mementingkan substansi daripada tekstual..

Paham Perenialisme tercerrmin pada bangunan teologis, yang menempatkan pensucian jiwa sebagai sesuatu yang amat mendasar dalam upaya menciptakan zaman sempurna. Mereka yang telah mengalami pertobatan dan bersumpah bersedia dilaknat Allah apabila berbuat dosa, merupakan rasul-rasul Tuhan yang siap mengorbankan dirinya untuk kepentingan bersama. Pembenaran semua agama sebagai konsekuensi atas pengakuan duturunkannya para nabi, diikuti dengan perlakuan yang sama atas kitab-kitab suci serta komitmen pada perjuangan menciptakan perdamaian.

Ajaran Eden sangat kental dengan masalah kegaiban, yang bertolak dari keyakinannya bahwa Lia sebagai pengejawantahan Ruhul Kudus dan mengemban missi pengajaran khususunya kepada jamaah Eden-Salamullah, di samping menyampaikan pesan-pesan suci kepada umat manusia.