Tags

, , , ,

Kisah Kekerasan dalam Rumah Tangga

Saya yang menulis pengalaman hidup ini, adalah, seorang perempuan asal Yogyakarta. Saat ini berumur 44 tahun. Alamat sementara, bersama ibu saya di Komplek Kehutanan Baciro, Yogyakarta. Sudah kawin, dengan seorang laki-laki yang asalnya berstatus duda, namanya Sd. (umur 58 tahun), karyawan PNS, yang belum lama pensiun.
Saya kawin pada than 30 Januari 1998. Saat perkawinan, disaksikan oleh hampir semua saudara kandung saya. Sementara calon suami hanya datang seorang diri dengan ditemani oleh seorang anaknya yang berusia sekitar 9 tahun. Ia beranak 5 orang dari ketiga isteri sebelumnya. Selama perkawinan kami dikarunia seorang anak laki-laki, yang kini nerusia 8 tahun (lahir 22 September 1999) .
Kami tinggal dalam satu rumah, bersama suami dan keempat anak tiri (karena salah seorang anaknya sudah bekerja di luar kota), menempati rumah berukuran 50 m2 di kampung Bangun Tapan, yang terletak di perbatasan Kab. Bantul dan Yogyakarta. Beberapa perlakuan keras menimpa saya:

1. Sejak awal kehidupan berumahtangga, anak-anak tiri terutama dua orang yang kebetulan usianya menginjak remaja, sudah menunjukkan rasa permusuhan kepada saya. Kesalahan-kesalahan kecil, misalnya diingatkan supaya segera mandi, membuatnya tersingung, dan kemudian dijadikan alasan untuk marah-marah. Kalau kekerasan anak tiriku itu kami sampaikan kepada suami, justru saya tambah dimarahi dan dimaki-maki. Apalagi sejak kami punya anak. Kalau kami pergi, belanja, atau keluar rumah untuk keperluan lain, anak-anak sering menutup pintu rapat-rapat sehingga kami tidak bisa masuk rumah. Pernah mereka membuang pakaian saya yang sedang saya jemur.

2. Pernah kami dipukuli suami, tanpa saya ketahui sebab yang sebenarnya. Awalnya, anak saya sakit panas, kemudian saya beri obat Contrexin seperempat tablet, karena umurnya belum satu tahun. Kemudian saya pergi untuk satu keperluan, dan saya menitipkan kepada kakak-kakaknya agar dijaga baik-baik. Entah disuapi apa oleh anak (tiri) saya itu, ternyata anak saya malah muntah-muntah. Ketika suami pulang kantor, mendapat laporan dari anak tiri saya tersebut, mengenai keadaan si kecil yang muntah-muntah. Ketika suami pulang kanor, kontan saya dituduh “salah” memberi obat. Tanpa mencari tahu lebih jauh, laporan si anak tiriku dianggap benar. Dengan sertamerta suami memukul saya. Sampai kemudian kami lari dari rumah, dan melapor kepada Polisi Bangun Tapan. Sebelumnya saya juga sudah minta perlindungan kepada tetangga, karena saya termasuk orang baru di kampung tersebut. Namun pihak RT juga tidak ada bantuan pemecahan apa-apa. Sementara laporan saya kepada polisi, hanya ditanggapi biasa-biasa saja, seolah hanya masalah konflik keluarga biasa, tanpa ada upaya melakukan pemanggilan terhadap suami saya yang telah berbuat kekerasan. Akhirnya saya lari ke rumah orang tua, yang tinggal di Baciro, Yogyakarta, yang jaraknya kira-kira 7 km dari Bangun Tapan.

3. Selang beberapa waktu, suami menjemput kami agar kembali ke Bangun Tapan. Namun kehidupan tetap sama; keempat anak yang usianya, antara 9 s.d. 20 tahun itu kembali memperlakukan saya sebagai “orang lain” dan kasar. Meski kami sudah dengan sekuat tenaga manyayangi mereka, seperti anak sendiri. Dan suami justru seperti berkomplot dengan anak-anak untuk bertindak kasar. Untuk kedua kalinya, kami dipukuli, dan lagi-lagi penyebabnya tidak jelas. Dugaan kuat, adalah laporan anak-anak (tiri) saya yang tidak-tidak, sementara suami saya hanya meng-iyakan saja apa yang disampaikan anak-anak tersebut. Sang suami ternyata tidak lagi bertindak sebagai suami pendamping saya. Tidak juga sebagai kepala rumah tangga yang harus menjaga keutuhan keluarga. Sebaliknya justru sepertinya berkomplot dengan sebagian anak-anaknya untuk memusuhi saya. Saat kami dipukuli, ada seorang teman suami saya melihatnya (namanya Ir. Indarto), karena rumahnya bersebelahan dengan rumah saya. Namun tidak bereaksi apa-apa, malah seakan menutup-nutupi tindak kekerasan itu. Karena saya sudah tidak tahan, kemudian saya lari lagi menuju rumah tinggal Ibu saya, untuk mendapat perlindungan.

4. Kekerasan berikutnya, ketika saya masih di rumah Baciro (tepatnya, Jl. Argolubang GK IV/208 Baciro Yogyakarta). Saya diseret dan ditarik rambut saya, kemudian dipukul. Kejadian itu di depan mata ibu saya sendiri, yang usinya 78 tahun. Ibu sudah berusaha melerai, tapi suami tidak peduli. Kemudian saya lapor ke Polresta Danurejan Yogya. Tapi juga tidak ada respon, apalagi penyelesaian. Padahal ibu saya (namanya Ibu Supilah Hadiprawito) dan keponakan saya ( namanya Rahmad Yusuf) siap menjadi saksi.

5. Setelah lama tinggal di Baciro, saya merindukan anak saya. Kemudian saya kembali ke Bangun Tapan. Untuk menengok anak saya. Namun tidak dibukakan pintu. Padahal hari sudah maghrib, dan saya tidak mungkin lagi kembali ke rumah ibu di Baciro. Akhirnya terpaksa saya tidur di kamar mandi, yang letaknya di luar rumah. Kemudian saya teruskan tidur di Mushala terdekat. Sikap anak-anak tiri saya, sering disertai dengan makian, yang tidak pantas saya tulis di sini. Meski begitu, lagi-lagi suami tidak merasa iba atau kasihan, bahkan membiarkan diri saya tidur di luar rumahnya, seperti gelandangan. Bagaimana pun kami tidak bisa lari dari kenyataan, sehingga dengan kondisi yang serba mencekam, saya berusaha untuk kembali menapaki kehidupan keluarga, bersama suami, dan anak-anak.

6. Karena adanya mutasi pegawai, suami saya kemudian pindah tempat bekerjanya, dari Yogya ke Majenang. Kota kecil yang berjarak kira2 40 km dari Cilacap. Kami sekelurga pun ikut pindah. Kali ini suami, nampaknya menerima saran dari teman-teman pegawainya, untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Sehingga berusaha untuk menjaga keutuhan keluarga, bersama saya dan anak-anak. Sebagai ibu rumah tangga, saya berusaha menyayangi semua anak-anak, tanpa membedakan anak kandung atau anak tiri. Saya ikut aktif di pengajian RT dan pertemuan arisan ibu-ibu RT. Namun dalam perjalanan waktu, kekerasan iu muncul lagi. Mereka yang memusuhi saya, terutama adalah anak kedua yang berusia 18 tahun. Kalau ada orang tuanya di rumah, anak-anak ini bersikap manis kepada saya. Dan bila ayahnya tidak di rumah,mereka suka mengumpat dan memaki-maki saya. Bahkan pernah menyiram air kotor ke lantai dapur yang baru saja saya pel. Pada Suatu hari anak-anak itu mengusir saya, setelah sebelumnya memaki-maki, sampai saya ketakutan. Karena tidak tahan di rumah, terpaksa saya lari ke Yogya, ke rumah orang tua. Saat terjadi pertengkaran antara aku dengan anak, suami juga melihat. Tetapi bukannya melerai, tetapi ikut mengusir saya..Untuk pergi dari rumah pun saya butuh uang, setidaknya uang transport. Karena tidak ada uang sama sekali, maka kujual cincin pemberian ibu saya, agar bisa untuk transport ke Yogya. Kemudian kakak saya yang tinggal di Malang menjemput saya agar tinggal bersamanya untuk beberapa lama. Sewaktu di Malang, saya menderita sakit, sampai harus opname di Rumah Sakit. Kemudian suami saya surati, agar membesuknya. Namun tidak juga datang, dan surat pun tidak dibalas sama sekali. Hampir satu tahun kami tinggal di sana, tetapi suami tidak pernah berupaya mencari tahu apalagi menanyakan keberadaan saya. Setelah itu, saya kembali ke Majenang, karena sangat rindu kepada anak saya. Sementara suami saya juga sudah bersikap agak dingin. Tidak nampak lagi sikap kasarnya.

7. Selama tinggal bersama anak-anak di Majenang, kami berupaya sekuat tenaga untuk menyayangi anak-anak. Kami tidak pernah memandang ia anak tiri atau bukan, semua saya sayangi. Bahkan untuk mencarikan sekolah dan beaya sekolah mereka, segala cara kami lakukan demi mensukseskan mereka. Kami tidak malu-malu memimta bantuan kakak-kakak saya, di Jakarta atau Malang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Karena kami memaklumi, pendapatan suami sebagai PNS Gol. III b tentu tidak mencukupi beaya hidup keluarga. Sebagai warga masyarakat kami pun aktif dalam kegiatan, terutama arisan ibu-ibu RT dan pengajian setiap malam Jum’at, bersama warga lain. Para tetangga kami, menjadi saksi, betapa kami adalah bagian dari mereka sebagai warga yang saling menjaga diri dan bantu membantu dalam masalah-masalah sosial. Kami merasa sudah maksimal untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Tidak lupa, sebagai hamba Allah, aku berupaya mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap malam kami bangun untuk shalat tahajud, dilanjutkan dengan doa, memohon perlindungan dan memelihara ketentraman seluruh keluarga. Kebiasaan itu membuat kami semakin tabah dalam menerima beban-beban hidup. Namun setabah-tabahnya saya, apabila diteror setiap hari dan diperlakukan kasar oleh pasangan hidup, kami merasa tidak sanggup menahannya. Masalah lama yang kami hadapai muncul lagi, yakni sikap keras suami, dan tentangan anak tiri kami. Perkara-perkara kecil di dalam rumah, semisal, ditegor karena masakan tidak cocok, kemudian dijadikan bahan pertengkaran. Kadang kami dimaki-maki, dan dibilang “ tolol…, tidak becus ngurusi rumah tangga, dsb..”, hanya karena saya menanyakan soal uang belanjanya. Sering juga, perlakuan kasar atau tanpa sebab yang jelas, suami selalu membela apapun sikap dan tindakan anaknya, terutama yang bernama Rini (usia 28 tahun). Ia sering melaporkan hal-hal jelek mengenai diri saya. Suami saya bukannya mencari kebenaran atau menengahi, tapi justru lebih percaya pada apa saja yang disampaikan anaknya. Sementara penjelasan saya tidak pernah diperhatikan. Kemarahan secara tiba-tiba, sudah menjadi langganan kami, tanpa saya ketahui ujung pangkalnya. Suatu hari, saya dilempar sebuah golok, yakni alat tajam yang biasa digunakan buat menebang pohon. Lemparan itu nyaris mengenai punggung saya. Lagi-lagi itu pun tidak kami ketahui sebabanya. Saat itu saya sedang masak di dapur. Namun alhamdulillah Tuhan masih melindungi saya. Karena golok tajam tersebut tidak sampai menancap dipunggung saya, tetapi terlempar di sisi kanan saya.

8. Suatu sore, tanggal 14 Juli 2003, ketika kami akan berangkat untuk pertemuan arisan ibu-ibu RT, saya sedang merapikan baju yang saya pakai. Kemudian suami menegor, katanya baju yang kami pakai kurang pantes. Lalu saya bilang: “ bagi saya berpakaian begini sudah cukup, (kami pakai baju panjang dan mengenakan jilbab). Jawaban itu bukannya membuat suami berhenti mempermasalahkan, tetapi justru membuat ia tersinggung, kemudian marah-marah, dan sambil memaki saya. Ia mengamuk dan melempari kursi kayu hingga kursi itu rusak, untungnya saya bisa menghindar. Saya diusir dengan ucapan kasar: “minggat sana dari rumah ini untuk selama-lamanya dan jangan kembali lagi ke Majenang”. Saya sangat ketakutan dan gemetaran melihat kebringasan suami. Biasanya kalau sudah begitu, diteruskan dengan memukuli saya. Maka saya terus lari ke rumah tetangga, minta perlindungan. Tetangga tersebut sangat baik kepada saya, dan sudah lama menaruh kasihan pada keadaan saya. Dengan bekal sekenanya, baju pun hanya yang menempel di tubuh saya. Bekal uang juga tidak ada. Akhirnya kami dipinjami uang untuk bisa meninggalkan rumah. Dengan uang sebesar 150 ribu rupiah kami menyelamatkan diri ke Jakarta, tempat tinggal kakak saya. Termasuk yang saya tinggalkan adalah anak saya, yang berusia 5 tahun tersebut.

9. Hingga saya menulis ini, saya masih merasa di pengasingan. Kami merasa terlalu lemah untuk kembali meneruskan kehidupan rumah tangga kami. Sudah terlalu sering saya dikhianati oleh suami dan anak tiri. Sudah terlalu banyak perlakukan kasar menimpa saya. Tetapi saya juga tidak tahu harus ke mana kami menyampaikan pengaduan. Sementara saya merindukan anak saya, darah daging saya, dan tidak menginginkan ia dididik di lingkungan yang kasar seperti itu.
10. Saya merasa terjebak, kawin dengan seorang laki-laki kasar yang doyan kawin.. Dan saya pun hampir tidak mungkin lagi hidup bersama. Saya sudah tidak tahan menghadapi anak-anak tiri yang sejak awal nampaknya sudah tidak suka kalau bapaknya kawin lagi. Saya juga merasa tidak sanggup kalau harus hidup bersama mereka, terutama menyangkut kemampuan ekonomi. Sampai saat ini saya tidak memiliki penghasilan sendiri.

Sampai di sini saya akhiri penuturan pengalaman ini. Semoga tidak terjadi pada orang lain.

Jogyakarta, Maret 2008, 2008

Hastutik.