Tag

, , ,

Foklor dan Kearifan Lokal Masyarakat Propinsi Jambi

Oleh : Marzani Anwar

Masyarakat Indonesia yang majemuk dan memiliki latar belakang kebudayaan yang beragam jelas memerlukan kerangka acuan untuk dijadikan pegangan dalam pergaulan nasional masa kini. Oleh karena itu nilai-nilai tradisional yang mengandung persamaan dan bisa dijadikan pegangan bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia di mana pun tempat tinggalnya, perlu digali dan diteliti kemudian ditawarkan sebagai alternatif yang baik untuk perkembangan kehidupan sosial yang baru dan serasi. Penawaran alternatif itu penting karena tidaklah mudah untuk memaksakan nilai-nilai yang dianggap baik ke dalam pergaulan nasional bila tidak dengan mengenal latar belakang kultural masyarakat yang beragam.
Propinsi Jambi, adalah salah satu propinsi di Indonesia, yang juga berpotensi terjadinya disharmoni, baik dalam skala kecil maupun skala besar. Meski sejauh ini, hampir tidak pernah terjadi konflik terbuka seperti itu. Namun yang pasti, dalam tradisi masyarakat Jambi tersimpan nilai-nilai yang mampu memelihara keharmonisan dari generasi ke generasi.
Usaha pelestarian kebudayaan daerah dalam konteks pencitraan kearifan lokal diharapkan dapat menunjang dan memberikan sumbangan dalam memperkokoh, memperkaya, serta mewarnai model kearifan bangsa Indonesia. Dalam hubungan ini ungkapan atau seloka daerah Jambi, selagi masih dapat diselamatkan, akan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan tersebut.
Cukup menarik dengan adanya seloka dan folklor yang hidup di tengah masyarakat Jambi. Warisan budaya yang masih perlu dipelihara, yang berupa ungkapan-ungkapan bijak sering mengalami redukusi dengan berkembangnya lingkungan yang modernize.
Penelitian yang kami lakukan bertujuan menggali dan mendalami nilai-nilai dan adat istiadat Jambi yang sering dijadikan acuan tindakan dan atau kebijakan dalam memelihara kehidupan yang harmoni dalam masyasrakat.


Metodologi
Setiap kebudayaan (culture) memiliki cara cara hidup sendiri, terutama dalam melakukan tindakan-tindakan sosial warganya, oleh karena perbedaan kebutuhan, sistem kepercayaan, warisan sosial, dan lingkungan fisik. Sehingga antar kultur itu menjadi berbeda satu sama lain ( Abu Hamid, 2002). Kebudayaan sendiri memiliki banyak pengertian. Di antara pengertian itu adalah mengangkat unsur-unsur: cara berpikir; merasa; mempercayai, dan menguasai ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Kebudayaan menimbulkan kepentingan-kepentingan, menyediakan cara-cara mengembangkan diri, dst. Dan kebudayaan mempunyai wujud dan struktur. ( Geertz, 1973).
Seorang individu yang lahir di tengah komunitas tidak membangun dan menciptakan kulturnya sendiri, tetapi ia dibentuk oleh kultur lingkungannya. Kekuatan yang mempengaruhi manusia bukan oleh kemampuan menciptakan pikiran-pikiran baru, tetapi lebih dipengaruhi oleh kemampuan mengadopsi, mentransfer dan menjalankan tradisi-tradisi (Calchoon, 1976:12). Kebudayaan berfungsi sebagai “mekanisme kontrol” bagi kelakuan dan tindakan manusia. Hampir semua unsur kebudayaan kini mengalami tranformasi. Sebagian unsur kebudayaan gugur, karena tidak diperlukan lagi dan yang lainnya berlanjut terus.Unsur yang gugur kadangkala muncul kembali dengan konsep yang baru dan diinterpretasi secara baru.(Geertz, 1983).
Banyak pengetahuan tradisional yang menjadi sumber kearifan sosial masa sekarang. Dalam sejarah bangsa-bangsa ketika menghadapi kerumitan sosial, ekonomi, politik, konflik agama, dsb., yang menemukan solusi dengan memetik dari tradisi. (Abu Hamid, 2002). Membangun tradisi berarti membangun seperangkat institusi adat-istiadat yang pernah berfungsi dengan baik dalam memenuhi kebutuhan sosial-politik tertentu pada masa tertentu yang terus-emenrus direvisi dan direkacipta sesuai dengan perubahan kebutuhan sosial-politik. ( Amri Marzali, 2005).
Kearifan lokal pada masyarakat Jambi, dilihat dalam perspektif budaya lokal. Karena nilai-nilai budayanya yang bersifat khas. Jambi sebagai sebuah provinsi, pada dasarnya mengidentifikasi adanya budaya yang spesifik. Landasan budaya lokal, adalah nilai-norma yang telah lama diterima dan bertahan dari tahun ketahun. Bagi orang Jambi, nilai-nilai yang melekat tersebut adalah yang dikenal sebagai budaya Melayu Jambi. Karena batas.batas propinsi dalam hal ini tidak bisa dengan sendirinya menjadi batas budaya. Karena batas propinsi lebih bersifat administratif. Maka batas-batas itu adalah semu.
Untuk mengenal budaya masyarakat Jambi, adalah mengenal secara historis, masyarkat dalam pripinsi terersebut, sejak zaman kerajaan. Sebagaimana diketahui, kerjaan yang ada pada wilayah. Artinya, bahwa geografis propinsi Jambi, terdiri: Kerajaan Melayu dan Kerajaan Kerinci. Terbentuknya suatu kebudayaan, adalah bersumber dari tradisi yang diwariskan dari kerajaan. Karena di sana ada kebijakan atau tata aturan dalam mengelola pemerintahannya, dan kebijakan raja memiliki pengaruh paling kuat dalam pembentukan budaya suatu kolektif. Adat istiadat yang tertanam sejak zaman kerajaan, biasanya terkonfigurasi dari generasi ke generasi. Di samping adat, nilai nilai terinternalisasi melalui cerita-cerita rakyat, yang disebut folklor.
Foklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar, di antara kolektif apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan, maupun contoh yang disertai dengan gerak, isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). (Dananjaja, 2002: 2).
Terdapat beragam foklor di masyarakat Indonesia, termasuk yang ada di Jambi. Foklor kini masih bisa dikenali dari hafalan orang-orang tua, para pemuka dan cendekiawan setempat. Sementara kearifan lokal, adalah suatu tatanan penjaga kelestarian nilai dan sikap hidup, termasuk menjaga kelestarian lingikungan alam. Sumber -sum ber tertulis adalah salah satu rujukan masyarfakat yang berfungsi menciptakan suasana kearifan tersebut.
Di antara ciri folklor;

  1. Folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relataif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan di antara kolektif tertentu dan dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit 2 generasi).
  2. Bersifat anonim, yakni nama penciptanya sendiri sudah tidak dikenali
  3. Berpola, seperti menggunakan kata klise .
  4. Folklor mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif. (menurut Jan Harold Branvand, 1986: 4).
  5. Menjadi milik bersama dari kolektif tertentu.
  6. Bersifat polos, lugu, dan spontan. (lihat Dananjaja, 2003: 4).

Jadi folklor adalah bagian yang menjadi identitas budaya yang ada di tengah masyarakat, Ungkapan tradisional merupakan bagian daripada folklore. Istilah folklore itu sendiri terdiri dari kata folk dan lore. Folk artinya: sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal kebudyaan yang membedakannya dari kelompok lain. Sedangkan, lore adalah tradisi dari folk yang diwariskan secara turun-temurun melalui contoh yang disertai dengan perbuatan (Danandjaja,1979: 2). Jadi folklore adalah sebahagian dari kebudayaan yang tersebar dan diwariskan turun-temurun secara tradisional di antara anggota-anggota dari kelompok masyarakat apa saja dalam versi yang berbeda-beda, baik dalam bentuk tutur kata maupun contoh yang disertai perbuatan.
Dari klasifikasi itu, terlihat bahwa ungkapan tradisional atau seloka termasuk ke dalam kelompok folklore lisan (verbal folklore). Ungkapan tradisional yang berwujud kalimat, yang digali melalui penelitian ini, diprioritaskan yang mengandung pesan, amanat, petuah, atau nasehat yang bernilai etik dan moral.
Sesuai dengan tujuan penelitian yakni menggali kebudayaan daerah Jambi yang memberikan sumbangan berarti bagi kearifan lokal, maka ungkapan tradisional yang dikumpulkan berasal dari penuturan, bahasa daerah yang terdapat di wilayah Propinsi Jambi meliputi suku Melayu Jambi yang masing-masing berada di Kabupaten Bungo-Tebo, Sarolangun Bangko, Batang Hari, Tanjung Jabung, dan Kotamadya Jambi. Ungkapan mana sebagian diambil dari hasil penggalian yang dilakukan oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Depdikbud tahun 1984. Sebagian lagi adalah hasil wawancara penulis dengana sejumlah cendekiawan dan pemuka adat di provinsi tersebut. Sekaligus kepada yang bersangkutan dimintakan uraian sekedarnya dengan maksud memperjelas makna-makna di balik ungkapan setiap ungkapan tersebut.

Ungkapan bijak bernuansa budaya
Siapa orang Jambi itu ?. Pertanyaan itu bisa dijawab secara administratif, dan bisa secara budaya. Pada jawaban pertama akan mendasarkan pada formalitas status kependudukan seseoranag. Mereka yang berKTP propinsi Jambi pastilah disebut sebagai orang Jambi. Ia memiliki hak-hak dan kewajiban sebagai warga negara dan harus menttati aturan yang dibuat oleh pemerintah provinsi. Namun tidak demikian pad ajawaban kedua. Orang Jambi adalah seseorang sudah berada di wilkayah Jambi selama “setahun jagung” atau sekitar enam bulan dengan syarat tidak mengacau, mau bergaul, menjunjung toinggi adat. Ditunjukkan dalam sebuah seloka: di situ bumi dipijak di situ langit dijunjung”.atau “di mana tembilang dicacak di situ tanaman tumbuh”.
Orang Jambi adalah yang seharusnya taat aturan adat, Adat nan dak lokang dek panas dak lapus dek ujan titian toras betanggo batu jalan berambah nan diturut; baju bejait nan dipakai; sumur tegenang nan disauk.Arti padanannya: adat istiadat serta kebiasaan yang sudah turun-temurun itu elok diturut supaya tidak tercela dalam pandangan orang banyak. Adat tidak lekang oleh panas tidak lapuk oleh hujan
Ungkapan di atas membayangkan betapa kuatnya kedudukan adat serta hukum yang digariskannya di tengah-tengah kehidupan masyarakat daerah Jambi dari dahulu hingga sekarang. Titian teras bertangga batu bermakna sesuatu ketentuan yang keras dan bersanksi yang harus diikuti oleh setiap orang. Jalan berteras yang diturut maksudnya ialah agar seseorang tidak boleh menyimpang dari ketentuan hukum yang telah ada. Baju berjahit yang dipakai menandakan semua liku kehidupan tidak boleh keluar dari ketentuan yang berlaku. Begitu pula sumur tergenang yang disauk menandakan bahwa apa-apa yang telah tersedia saja yang boleh diambil supaya terjamin dari kemungkinan yang tidak baik. Jadi ungkapan ini semacam nasihat kepada orang agar ia dapat berperilaku sesuai dengan kebiasaan yang terdapat di negerinya yang sudah ada secara turun temurun. Ungkapan itu berisi semacam himbauan kekeluargaan yang mengutamakan sopan santun.
Karena sifat manusia, tidak mudah dikendalikan oleh tata aturan yang meskipun sudah dibakukan atau sudah dijadikan pedoman bersana, tidak selalu manusia terus menerus mentaatinya. Ado sirih nak makan sepah; Ado sirih nak makan sepah. Arti padanannya: kendatipun tersedia yang baik, masih juga berkehendak yang buruk. Sebenarnya yang baik, yang wajar digunakan, ada pada setiap orang. Utamakan saja seorang suami mempunyai isteri yang secara hukum dan moral wajar menggaulinya. Secara etik dan moral si isteri tadi berada dalam suatu ketentuan yang baik dan tidak tercela bagi suami untuk menggauli. Namun demikian tidak jarang ditemukan dalam sejarah kehidupan manusia ada suami yang suka berhubungan dengan wanita yang bukan isterinya. Perbuatannya ini disebut menyeleweng dan dipandang dari segi etik dan moral tergolong tidak wajar. Oleh masyarakat wanita yang menjual kehormatannya itu disebut sepah, semacam sisa penyirihan. Ada sangat aib bila seorang suami masih berkeinginan memakan sepah yang seharusnya telah siap-siap untuk dibuang ke dalam tempat sampah. Menghadapi semua kemungkinan tersebut orang tua-tua tidak jemu-jemunya mengingatkan pada suami dengan mengemukakan ungkapan di atas. Ungkapan itu pendek tetapi isinya mengandung nasehat yang paling intens dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Berikut adalah sejumlah seloka yang bernuansa budaya, seperti itu, yakni yang berbunyi: Api-api terebang malam inggap di ujung jagung mudo, biar tujuh kali dunio karam, balik ke dusun jugo. Arti padanannya: suatu masa seseorang akan kembali juga ke kampung halamannya. Ungkapan yang diwujudkan dalam bentuk pantun ini berisi petuah tentang arti cinta tanah air bagi setiap orang. Seseorang tidak mudah begitu saja melupakan tanah airnya, katakanlah tanah itu baru berupa sebuah kampung; namun tanah air yang bermula kampung ini nanti akan berkembang menjadi sebuah negara. Seandainya dunia yang dihuni manusia ini mengalami tujuh kali kiamat orang tidak dapay melupakan tanah airnya. Dengan cinta tanah air seseorang terdorong untuk berbuat sesuatu, misalnya mengadakan pembangunan, mempertahankannya dari serangan musuh, dan sebagainya. Kebiasaan seperti ini amat baik ditanamkan dalam diri setiap anak didik sebagai generasi yang akan tumbuh yang akan menggantikan generasi yang meninggalkannya.

Seloka bernuansa Pendidikan
Masalah pendidikan merupakan bagian sangat penting dalam pandangan adat masyarakat Jambi. Karena pendidikan akan sangat menentukan kualitas manusia generasi mendatang, baik dari segi intelektual maupun budi pekerti. Di antara seloka yang mengangkat ajaran budi pekerti itu adalah yang berbunyi: Ambil benih campaklah sarap. Arti padanannya: Ambil benih buangkanlah sampah, yakni ambillah sesuatu yang baik dan bermanfaat kemudian buanglah sesuatu yang tidak baik.
Ungkapan tersebut berisi suatu nasehat yang mengacu kepada pendidikan agar setiap orang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Melihat ada kata benih dan sampah di dalamnya maka dapat diperkirakan asal ungkapan ini dari golongan masyarakat petani sebagaimana kebanyakan orang Melayu Jambi. Di sini benih dipakai untuk melambangkan sesuatu sehingga wajib diambil; sebaliknya sampah, seperti daun-daun kering, melambangkan suatu yang tidak berguna dan harus dibuang.
Seloka kedua: Anak berajo ke bapak, kemenakan berajo ke pemamak; gedang anak sekato bapak, gedang kemenakan sekato mamak. Arti padanannya: tanggung jawab membesarkan serta mendidik anak terletak di tangan seorang ayah, sedangkan tanggung jawab membesarkan serta mendidik keponakan terletak di tangan pamannya sendiri. Seloka ini menunjukkan bahwa, ternyata ada pembagian tugas dan tanggung jawab antara seorang ayah dan seorang paman. Pembagian tugas dan tanggung jawab ini dapat menjamin kelangsungan pendidikan anak-anak pada masanya yang memerlukan bantuan orang dewasa. Terkadang seseorang dapat saja berfungsi ganda di samping mengasuh anak-anaknya juga mengasuh dan membesarkan serta mendidik keponakannya pula. Terhadap keadaan yang demikian seorang lelaki dewasa tadi diharapkan dapat menunaikan tugas dengan adil. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa keselamatan kelompok kerabatan perlu diwujudkan sedemikian rupa. Tentu saja baik si anak atau si keponakan harus menurut perintah ayah dan pamannya. Dapat saja kita duga arah ungkapan di atas menginformasikan betapa enaknya seorang anak yang diawasi oleh dua orang dewasa yakni ayah dan pamannya. Dengan demikian ia tidak akan terlantar dalam hal kebutuhan dan pendidikan. Ungkapan seperti ini amat popular di dalam masyarakat daerah Jambi terutama bagi golongan etnis Melayu. Suatu imbas sikap gotong royong jelas terdapat dalam ungkapan tersebut yang selalu dapat dipertahankan sampai sekarang.
Untuk menciptakan suasana pendidikan, di samping menumbuhkan sikap kegotongroyongan menghendaki setiap orang agar berperilaku jujur dan baik. Sebab bila tidak sigap dalam kejujuran dan kebaikan bakal kena hukum seperti diungkapkan dalam seloka ketiga seperti berikut: yang bengkok pasti kena raut, yaitu ibarat meraut rotan atau bambu, maka bagian yang menonjol dan bengkok pasti kena pisau raut. Begitu juga manusia, kalau ia bertindak tidak jujur dan tidak baik akan terkena raut oleh masyarakat.
Dalam aktivitas menimba ilmu, seseorang harus berguru kepada orang yang lebih tahu, sebab kalau bertanya sesuatu kepada yang tidak tahu, bakal tersesat. Dalam seloka keempat dikatakan: bak menanyo bunyi ken an pokak, menanyo rupo ke nan buto, Arti padanannya: meminta bantuan kepada orang yang tidak berdaya. Menanyakan sesuatu bunyi kepada orang tuli atau menanyakan bagaimana rupa sesuatu kepada orang buta adalah suatu pekerjaan yang tergolong sia-sia. Orang tuli dan orang buta yakni orang tidak dapat mendengar dan melihat, dalam ungkapan di atas mengiaskan orang-orang yang terbatas sekali kemampuannya karena rendahnya pendidikan, sempitnya pandangan, dan sebagainya. Untuk itulah diingatkan bila memang seseorang ingin memerlukan bantuan orang lain maka yakini benar bahwa yang dapat membantu itu tergolong orang yang cukup berpengalaman, luas pengetahuannya, dan sebagainya.
Sebaliknya bagi orang yang kebih tahu, dianjurkan untuk memberikan pengajaran kepada orang lain yang kurang berpengetahuan. Jangan sampai penguasaan suatu ilmu hanya untuk dirinya sendiri bahwkan digunakan untuk mempecundangi orang lain yang awam. Cerdik membao lebur pandai membao ancur, yang artinya: orang yang memanfaatkan kecerdikannya untuk kepentingan dirinya sendiri, demikian bunyi seloka kelima yang bernuansa pendidikan.
Ada orang atau beberapa orang yang di dalam kehidupan sehari-hari nampak sangat cerdik dan pandai. Sayang kecerdikan dan kepandaiannya selalu mendatangkan kesusahan kepada anggota masyarakat lainnya. Orang yang demikian sangat tercela dalam pandangan masyarakat. Kecerdikan dan kepandaiannya dipergunakannya hanya untuk merusak kesatuan dan persatuan. Ia sangat mementingkan diri sendiri. Jika diajak makan jalannya di depan dan jika diajak bekerja jalannya di belakang, terkurung hendak di luar terhimpit hendak di atas. Inilah yang biasa juga disebut cerdik buruk. Jadi cerdik dan pandai itu bukan cerdik dan pandai karena ilmunya tinggi, melainkan cerdik dan pandai dalam berbuat yang tidak baik seperti menipu, merayu, menghindari pekerjaan, menghasut, dan sebagainya. Rupanya ungkapan di atas suatu petuah bagi setiap orang agar berhati-hati bila berhadapan dengan warga masyarakat yang demikian, di samping pula harus membuang semua sifat yang tercela tersebut dari dalam diri masing-masing.
Seloka keenam mengatakan: Dak tolap menempuh mencubit atau tidak mampu menyayat banyak mencubit. Arti padanannya: Bila tidak dapat berbuat banyak bebuatlah sedikit sesuai dengan kemampuan yang ada. Setiap orang dapat berbuat sesuatu, namun apabila kemampuan yang memang terbatas dianjurkan seberapa dapat dilakukan. Yang penting telah ikut didalamnya, ikut bertanggung jawab. Seseorang yang luas ilmunya tentu dapat menyumbangkan tenaga agar lebih di dalam pembangunan, tetapi bila sebagai orang biasa saja ia akan terbatas di dalam memberikan andilnya. Orang berilmu banyak sumbangan pikirannya, orang biasa mungkin hanya mampu menyumbangkan tenaganya saja. Ditilik secara mendalam ungkapan di atas ingin mengutamakan sifat kegotongroyongan. Setiap orang dapat saja terlibat dalam masalah-masalah pembangunan, apakah ia pemimpin, penguasa, pengusaha, petani, nelayan, pedagang, buruh, dan bahkan pelajar sekalipun. Kecil, kecil pula sumbangannya. Besar, besar pula sumbangannya.
Seloka ketujuh: Jangan berpikir sekali sudah berhemat sekali abis, atau jangan berpikir sekali sudah berhemat sekali habis. Artinya: tidak baik mengambil kesimpulan dalam sekali pikir. Pikir itu adalah pelita hati. Bila memandang jauh dilayangkan, pandangan dekat ditukikkan. Hewan mewujudkan keinginan dan kehendaknya berbeda dengan manusia. Hewan dalam kehidupannya sehari-hari bertindak dan berbuat hanya berdasarkan pada nalurinya saja. Sedangkan manusia sadar benar pada hakekatnya dirinya sebagai makhluk mulia di sisi Tuhan, yang dibekali akal dan pikiran; akan mewujudkan keinginan dan perbuatannya melalui prinsip berpikir dengan kontrol yang ketat. Seseorang yang menyertakan kontrol dalam bertingkah laku nampa sangat berhati-hati; ia berpikir dan menimbang-nimbang sebelum mewujudkan perbuatannya. Sikap seperti ini dapat menghindarkan manusia atau sekurang-kurangnya memperkecil kesalahan; terhindar dari perbuatan yang tidak terpuji.
Seloka kedelapan: Jatuh di tompat nan rato, anyut di arus nan tonang, atau: jatuh ditempat yang rata, hanya di arus yang tenang. Artinya: Sesuatu yang di luar perhitungan penyebab datangnya malapetaka. Karena merasa sudah biasa seseorang merasa sudah aman, namun tanpa disadari pada ketika itulah ia menemui kesulitan. Memang ketika berjalan di tempat yang rata atau berenang di arus yang tenang orang tidak menyangka sama sekali akan terjatuh atau tenggelam. Ungkapan ini jelas ditujukan bagi seseorang yang mendapat cobaan di tempat dan waktu yang tidak disangka-sangka, bertepatan saat ia tidak menduga sama sekali akan berhasil hal yang demikian. Sepantasnyalah orang tua-tua zaman dahulu memberi ingat agar setiap orang selalu berhati-hati di mana dan kapan pun, sebagai bagaimanapun keselamatan diri adalah menjadi tumpuan harapan di dalam hidup ini.
Seloka kesembilan: Jiko penggamang jangan menja; jiko pelemas jangan berenang; jiko pelupo jangan bejanji; enggan memberi jangan memintak; takut rugi jangan bedagang. Arti mudahnya: jika takut menghadapi resiko janganlah melakukan sesuatu. Memanjat kemungkinan yang akan ditemui jatuh, bersenang kemungkinan lemas, berjanji terkadang lupa, biasa meminta tentu sesekali akan memberi, dan berdagang terkadang mengalami rugi. Untaian yang terdapat dalam ungkapan di atas mengisaratkan bahwa setiap yang diperbuat ada akibat-akibat tertentu yang akan dilalui manakala tidak berhati-hati. Larangan yang dikemukakan nampak serupa ejekan bagi seseorang yang takut menghadapi resiko. Hidup di dunia tidak akan terlepas dari berbagai cobaan. Jadi dalam menempuh kehidupan haruslah dengan keberanian, bila tidak demikian tentulah tidak sesuatupun yang dapat dikerjakan. Sebaiknya segala yang akan kita kerjakan harus dengan menyertakan akal yang sehat.
Seloka kesepuluh: Keruh aek dilir prikso di ulanyo, senak aek di ulu prikso di muaronyo, atau keruh air di hilir periksa di hulunya dalam air di hulu periksa di muaranya. Artinya: telitilah semua kejadian dengan mengusut tempat dan sebab terjadinya, Air pada galibnya memang mengalir ke hilir. Lalu bila keruh di hilir wajarlah untuk diturut ke hulu apa yang terjadi di sana. Apakah ada rombongan gajah berkubang, atau karena tebing yang runtuh. Seandainya air dalam di hulu tuturlah ke hilir, mungkin sebabnya ada air sedang pasang atau ada gunung berapi meletus di lautan sehingga ombak besar menghantam muaranya. Begitu jugalah dengan sesuatu kejadian tentu ada sebab-sebabnya. Kita harus memeriksa kejadian sampai ke tempat kejadian itu. Di sana kita dapat menemukan sesuatu untuk menentukan sebab-sebab terjadinya semua persoalan tadi. Kalau semua persoalannya sudah ditemukan mudah-mudahan kita dapat menyelesaikannya. Itulah hakekat ungkapan di atas mengajak kita suka meneliti sesuatu kejadian di tempatnya sebelum kita mengambil kesimpulan.
Seloka kesebelasan: Laksano kayu di dalam utan patah tumbuh ilang beganti atau laksana kayu di dalam hutan patah tumbuh hilang berganti. Artinya: pergantian generasi pasti berlaku dalam kehidupan manusia. Sudah tidak dapat dinafikan suatu generasi akan digantikan oleh suatu generasi baru. Pergantian ini memenuhi hukum alam yang berlaku, suatu kehendak dari Yang Maha Kuasa yang tidak dapat dihalangi. Persis pergantian ini seperti kayu di dalam hutan, ada yang patah, mati atau hilang – pasti disusul oleh yang tumbuh menggantikan yang hilang atau rusak tadi. Pergantian ini merupakan pertanggungjawaban daripada tuntutan pelestarian isi alam semata-mata. Kemudian dari ungkapan di atas terlihat suatu petuah orang tua-tua zaman dahulu betapa pentingnya mempersiapkan suatu generasi yang akan pergi. Mempersiapkannya melalui pendidikan secara formal, informal, dan nonformal. Membimbingnya melalui teladan keagamaan, sopan santu, budipekerti, tingkah laku, cinta tanah air, dan sebagainya.
Seloka keduabelas: Lain biduk nan dikayuh asing sampan dan ditambat atau lain biduk yang dikayuh asing sampan yang ditambat. Artinya, lain yang bersalah lain pula yang mempertanggungjawabkan. Biduk dan sampan tidak berbeda dalam kenyataannya, tetapi untuk menimbulkan kejenakaan si pembuat ungkapan ini sengaja mempertentangkannya. Tujuan kejenakaan tersebut ialah agar pihak-pihak yang dimaksud atau dikenai tidak merasa terlalu dipojokkan. Nampak sekali betapa telitinya orang masa dahulu menjaga hubungan perasaan antara sesama manusia. Pihak yang dituju oleh ungkapan tersebut secara diam-diam akan menyadari kesalahannya dan akan berusaha memperbaikinya secara diam-diam pula. Ungkapan di atas ingin memberikan petuah betapa berhaya suatu tindakan yang diluar dugaan yang bisa terjadi. Adakah kemungkinan orang tertentu yang bersalah tetapi orang lain yang harus bertanggungjawab? Lain yang berutang lain yang membayar? Kalau keadaan ini dibiarkan saja terjadi dalam masyarakat tentu akan mendatangkan kekacauan. Oleh sebab itu hukum hendaklah ditegakkan sebagaimana mestinya, sehingga tidak akan ada orang yang teraniaya.
*
Sebenarnya masih banyak lagi seloka yang bias digali dari masyarakat Jambi. Sebagai kesimpulan dari studi ini adalah, bahwa pada masyarakat Jambi ternyata masih menyimpan banyak peninggalan teks lama yang masih bisa ditelusuri. Teks-teks itu dilestarikan dalam bentuk cerita rakyat, syair, dongeng, kesenian tradisional, pepatah atau seloka. Di antara teks yang masih bisa ditelusuri adalah bentuk seloka atau ungkapan tradisional, yang kebanyakan berbahasa Melayu Jambi dan bahasa Melayu Kerinci. Ungkapan tradisional yang bisa dikumpulkan dalam bentuk seloka, pada umumnya berisi pesan-pesan moral, menyangkut masalah budaya, hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan antar kelom;ok, pendidikan dan masalah sosial-ekonomi. Pesan-pesan moral yang mengacu pada pendidikan akhlaq cukup menonjol di antara seloka-seloka yang sementara terinventarisir.

DAFTAR PUSTAKA

  • Branvand, Jan Harold, 1986, The Study of American Folklor: An Introduction, New York. WW. Norton & Co-Inc.
  • Calchoon, Craig J., Francis A.J. Ianni (ed.), 1976, The Anthriopological Study of Education, Movton Publiehr. The Hague, Paris.
  • Dananjaja, Dr, James, 1984, Foklor Indonesia, PT. Grafiti Pers.
  • __________________, 1979, “Penuntun Cara pengumpulan Foklor bagi Pengarsyifan”, Makalah Penataran, IDKD, Bogor.
  • _________________, 2002, Foklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain, Pustaka Utama Grafiti.
  • Dundes, Alan, 1961, “Brown Country Superstitions”, Midwest Folklor XI.
  • Depdikbud – Proyek Inventarisasi Kebudayaan Daerah, 1984, Ungkapan Tradisional Sebagai Sumber Informasi Kebudayaan Daerah Jambi.
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992, Kajian dan Analisa Undang-undang Piagam Dan Kisah Negeri Jambi.
  • Depdikbud- Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1984, Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Jambi.
  • Depdikbud- Proyek Perningkatan dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1993, Kearifan Tyradisional Masyarakat Pedesaan dalam pemeliharaan Lingkungan Hidup di Daerah Propinsi Jambi.
  • Geertz, Clifford, 1983, Local Knowledge, Further Essays in Interpretive Anthropology, New York, Basic Books. Inc. Publisher.
  • _______________, 1973, The Interpretation of Culture, New Yorl, Basic Books. Inc. Publisher
  • Hamid, 2002, Prof. Dr. H. Abu, Kearifan Lokal Pengembangan Kebudayaan: Suatu perspektif Antropologi, Makalah “Seminar Budaya”, Juni 2002, IAIN Alauddin Makassar.
  • Marzali, Prof. Dr., Amri, 2005, “Kearifan Budaya Lokal dan Kerukunan Beragama”, Makalah Seminar “ Pengembangan Kerukunan Beragama melalui Revitalisasi Kultural dan Kearifan Lokal guna Membangun Budaya Nasional”, Balitbang dan diklat Keagamaan, 25 Agustus 2005.
  • Mulyana, Deddy, Dr., MA, 2004, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya Bandung.
  • Pemerintah Daerah Tk I Jambi: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, 1980/1081, Laporan hasil Survey Inventarisasi Peninggalan Sejarah Purbakala dan kebudayaan Propvinsi Daerah Tingkat I Jambi.
  • Saifuddin, Achmad Fedyani, Ph D., 2005, Antropologi Kontemporer, Kencana
  • Suparlan, Parsudi, Dr. (ed.), 1984, Manusia-Kebudaan-Lingkungan, Rajawali Pers.
  • Wojowasito, S, 1952, Sedjarah Kebudajaan Indonesia II, Djakarta, Siliwangi.