KEBENARAN YANG SEMAKIN HILANG
oleh Marzani Anwar
Siapa Ali dan siapa Ibn Abbas, dan siapa yang tak kenala keduanya. Yang satu adalah Khualafaur Rasyidin, dan yang satunya adalah shahabat nabi, dan perawi sekian banyak hadits. Tapi ketika Ali menjadi Khalifah, keduanya berseteru. Ali Menuduh Ibn Abbas korupsi, sementara Ibn Abbas menuduh Ali menumpahkan banyak darah umat Islam. Belakangan Ibn Abbas diketahui membawa harta negara ke Makah. Ia terlibat skandal penggelapan keuangan negara, dan ia pun mengakuinya. Konon ”penggelapan itu” sebagai satu cara mengundurkan diri dari jabatan sebagai pendamping Ali. Ketika tuduhan semakin gencar, tahu-tahu Ali terbunuh. Berikutnya Ibn Abbas menjadi tamu kehormatan di Damaskus, pusat pemerintahan baru paska Khulafaur Rasyidin.
Itu adalah di antara kisah yang diungkapkan oleh Farag Fouda, penulis Buku ”Kebenaran Yang hilang”, terbitan Balai Litbang Agama Jakarta, yang merupakan karya terjemahan dari buku asli yang berjudul ”Al Haqiqah al Ghaybah”.
Kebenaran yang telah lama hilang, kini semakin hilang saja, ketika buku yang amat berharga itu dilarang beredar. Belum lagi didistribusikan, Kepala Badan Litbng Agama, Prof Dr. Atho Mudzar, atas pesan Menteri Agama, melarangnya. Pelarangan itu diduga atas desakan kelompok “garis keras” Islam, yang selama ini lagi berjuang menegakkan sistem khilafah di dunia Islam.
Buku yang penerbitannya bekerjasama dengan ys. Paramadina itu, mengungkap lembaran kelam sistem kekhalifahan dalam sejarah Islam, yang sejak zaman Khulafaur Rasyidin hingga pemerintahan Abbasyiah yang dibangga-banggakan itu. Tanpa mengurangi kebesaran para khalifah yang telah menyumbang banyak kemajuan peradaban umat manusia, Fouda merasa perlu mengungkap borok-borok sejarah yang selama ini banyak ditutup-tutupi. Maksud sang penulis buku , dengan mengungkap fakta sejarah adalah, untuk bahan introspeksi umat kini. Terutama bagi mereka yang selam ini memperjuangkan pemberlakuan sistem khilafah.
Penerapan khilafah itu syah-syah saja sepanjang diletakkan sebagai sebuah alternatif yang bisa dikritisi dengan akal sehat, dan diputuslan atas dasar demokrasi. Tapi asal tahu saja, bahwa belum ada pengalaman dalam sejarah Islam, ada sistem kekhalifahan yang mampu secara utuh menerapkan nilai-nilai Islami. Norma keagamaan terlalu suci untuk dijaminkan dalam sistem politik kenegaraan yang baldatun wa rabbun ghafur sekalipun.
Sejarah menunjukkan, dari sejak kekuasaan masa pemerintahan Umar Ibn al Khattab, dilanjutkan dengan Usman Ibn Affan, Ali,dan seterusnya, hingga sekarang. Bagi Fouda, khilafah dalam sejarahnya tidak lebih dari sistem kekuasaan totaliter yang berselubung agama. Ia mempertanyakan label “Islam” dalam khilafah, karena yang sering tampak dari sejarah politik Islam justru hal-hal yang berlawanan dengan Islam. Karena ia memisahkan Islam dari praktik kekuasaan atas nama Islam, maka praktik khilafah dalam sejarah sudah selayaknya dapat dikritik, dicela, dan dibahas dengan menggunakan tolok ukur ilmu politik, demokrasi dan hak asasi manusia. Demikian komentar Samsu Rizal Panggabean, dalam pengantar buku ini (xxi).
Sejarah juga yang telah memnunjukkan berkibarnya Islam di seantero daratan Timur Tengah. Afrika Barat daya, sebagian Eropa, dan Asia terutama Cina, India, Pakistan, dan Asia Tenggara. Artinya, ada fakta keemasan di panggung kekhalifahan Islam. Termasuk pada zaman Abbasyiah khalifa Al Makmun, khalifa Andalusía, dst. Yang Amat berjasa membangun peradaban Islam. Lembaran hitam yang menyertai perjalanan kekuasaan bukan untuk dtutupi, tapi untuk dijadikan bahan pertimbangan, sehingga prinsip keadilan bisa ditegakkan, terutama adalah dalam menilai “bekerjanya” sistem khilafah tersebut.
Analisa Fouda mengedepankan lembaran hitam, karena lembaran putih sudah banyak diungkapkan para ahli sejarah yang lain. Maka sudah sepantasnya kalau telaah kritisnya terhadap sistem kekhalifahan itu kita hargai sebagai karya besar untuk menití jalan kearifan kehidupan politk umat Islam.
Dalam sejarah Islam pun sudah ditunjukkan, bagaimana seorang Umar Ibn al Khatab tidak serta-merta memberlakukan teks, dalam mengambil keputusan. Seperti ditujukkan Fouda. “Demikianlah kita telah melihat Umar berijtihad dan membatalkan jatah bagi para muallaf yang nyata-nyata bertentangan dengan teks al Qur’an. Ia juga tidak menerapkan sangsi potong tangan atas pencurian karena berkesusahan. Dan bahkan membatalkankannya sama sekali pada masa paceklik. Ia juga tidak menerapkan hukum lecut terhadap peminum minuman keras dalam kondisi peperangan. Ia juga ”menyalahi sunnah Nabi” dalam soal pembagian jatah pampasan perang. Tanah-tanah pampasan perang yang subur di Irak itu tidak ia bagi-bagikan kepada prajurit yang ikut berperang . Ia juga menerapkan sanksi qisas atas kelompok yang membunuh satu orang, dan ini bertentangan dengan prinsip kesetaraan dalam qisas. (hal. 60).
Alangkah eloknya kalau mereka meneladani Nabi yang mengajak umatnya untuk menebar rahmat, mengutuk pembunuhan sesama umat Islam, menganjurkan untuk menuntut ilmu, walau ke negeri Cina, menolak menjauhkan dunia demi ibadah, adil di dalam pembagian kerja agama dan dunia, dan mengikrarkan kebijakasanannya yang sangat penting kepada generasi sesudahnya, ”anda lebih tahu perkara duniamu !”, kata Nabi saw.. (hal. 36). Karena masalah ”dunia” memang semakin rumit, dan tak gampang dicarikan rujukannya dari teks-teks suci. Salah-salah menarik benang hijau dari teks, justru memaksakan kehendak kepada orang lain, yang berakibat pembunuhan sesama Muslim. Kemudian meneriakkan ”Allahuakbar !, karena merasa ”memperoleh kemenangan” karenanya.
Buku ini sebenarnya menjadi penuntun berpolitik secara arif, terutama untuk kalangan yang ingin mengusung label Islam ke kancah pemerintahan atau tampuk kekuasaan. Karena dengan membaca buku ini, ia akan harus berpikir tujuh kali, karena akan mempertimbangkan banayak hal. Bukan saja masalah normatif, tapi di ranah praksis, di mana simbol Islam kebanyakan justru dipakai untuk memenuhi ambisi kuasa, dan bukan untuk memenuhi panggilan Yang Maha Kuasa.
Maka sungguh disayangkan sikap apriori Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat, dengan tidak mau tahu kandungan bukunya, tapi justru diperdaya oleh mereka yang memiliki kepentngan yang tidak jelas. Sehingga lenyap sudah missi Litbang Agama untuk mencerdaskan umat. Dan buku-buku yang menghujat lembaga-lembaga pendidikan tinggi seperti ” Ada permurtadan di IAIN”, karya Hartono Ahmad Djaiz atau ” Kesesatan Pesantren Az Zaytun” karya Amin Djamaluddin itu, yang justru dibebaskan beredar.

3 comments
Comments feed for this article
September 12, 2008 pada 2:03 am
Muhammad Ibnu Shobir
Sangat menarik untuk mencermati fenomena yang terjadi sekarang ini, bahwasanya ada sekelompok orang yang mengatasnamakan penganut kebenaran yang hakiki, umat Muhammad yang sejati, pejuang syari’at dan segala sebutan yang lainnya, mencoba menawarkan sebuah konsep pemerintahan yang konon lebih Islami. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Coba kita simak salah satu kasus yang pernah terjadi, mereka dengan keras menghujat sebuah penerbitan surat kabar di Denmark yang memuat kartun nabi, yang tergambarkan ada sebuah sosok yang membawa Al Qur’an dengan tangan kiri, dan pedang di tangan kanan. Mereka menghujat di mana-mana, mereka merasa bahwa nabi telah dilecehkan, namun sengaja atau tidak justru mereka sendiri pelakunya. Kasus Monas yang dilakukan oleh sebuah organisasi Islam, justru menciptakan sebenarnya gambaran yang ada di karikatur yaitu adalah refleksi dari mereka sendiri, mereka yang konon mengklaim yang paling besyariat, tapi tindakan mereka sangat bertentangan dengan syariat Islam itu sendiri Mungkin mbah Gondo benar bahwa mereka itu GAK AREP TAPI DOYAN. Yang mereka lakukan di Monas sebenarnya justu ‘MENGAMINKAN’ apa yang disindirkan dalam kartun nabi tersebut. Pak marzani, apa saya bisa mendapatkan referensi tentang sisi putih dan gelap mengenai kekhilafahan dalam Islam yang sudah pernah diberlakukan dalam sejarah peradaban Islam selama ini??? Matur Nuwun
November 18, 2008 pada 3:51 am
Wakijan
Silakan baca resensi yang merupakan kritik keras akan kebohongan FF ini, di Hidayatullah.com juga di Insistnet.com oleh Bapak Adian Husaini “Antara Usman Bin Affan dan Faraq Fouda” dan Ustadz Asep Sobari, keduanya adalah peneliti di INSIST, secara khusus dalam kuliah Kang Asep, referensi dalam bahasa Aslinya, Arab, ditampilkan a.l. dari literatur yang dirujuk sendiri oleh FF, seperti karya Ath-Thabari, Ibnu Sa’ad dll. Kang Asep adalah Alumni Unifersitas Madinah jurusan Sejarah (Tarikh) Islam, jadi sangat otoritatif jika beliau bicara sendiri. Saya pribadi sangat mengharapkan adanya bedah buku FF ini, dihadiri tokoh Paramadina, Gunawan Mohammad, Prof. Syafi’i Ma’arif, Prof Azyuardi Azra dan tokoh2 mumpuni lainnya, supaya kita2 yang awam ini Mubtadi’ (menjadi pengikut yang argumentatif), bukan yang sekedar taqlid, walaupun dengan Nama besar sekalipun. Apakah mereka sehebat sahabat Rasululullah sekalipun ? Silakan disimak kutipan berikut ini:
“Antara Usman Bin Affan dan Faraq Fouda”
Monday, 20 October 2008 02:45
Kebiasaan kaum liberal adalah senang tampil beda. Jika ulama malarang,
mereka justru membolehkan. Jika ulama mengecam penghina Nabi dan sahabat,
mereka justru membelanya. Baca Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian ke-246
Oleh: Adian Husaini
Tampaknya, ada sifat yang khas dari kaum liberal di Indonesia. Mereka
senang dengan hal-hal yang nyeleneh dan asal beda dengan umat Islam pada
umumnya. Orang Jawa bilang: yang penting Waton suloyo alias WTS atau asal
beda. Jika umat Islam menolak Ahmadiyah, mereka malah mendukung Ahmadiyah.
Umat Islam mendukung RUU Anti-pornografi, mereka justru menolaknya. Jika
umat Islam mengecam perkawinan sesama jenis, mereka justru mendukungnya.
Umat Islam menolak perkawinaan antar-agama, tapi mereka malah
mempromosikannya.
Umumnya umat Islam membanggakan sejarahnya yang gemilang. Tapi, kaum
liberal senang tampil beda. Mereka senang jika umat Islam malu dengan
sejarahnya sendiri. Yang penting beda! Jika ada hal yang dianggap baru,
dan datang dari kaum liberal di luar, lalu ditelan begitu saja. Yang
penting liberal, dan sok kritis terhadap Islam. Ketika muncul seorang
lesbian seperti Irshad Manji, maka mereka sambut dengan gegap gempita.
Nong Darol Mahmada, aktivis liberal alumnus Fakultas Ushuluddin UIN
Jakarta menulis artikel di Jurnal Perempuan (nomor 58) berjudul: “Irshad
Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad.”
Kita pernah membahas, bagaimana naifnya pujian yang berlebihan terhadap
Irshad Manji. Tapi, mereka tidak peduli. Setelah mempromosikan Irshad
Manji, kini kaum liberal di Indonesia sedang gandrung dengan idola baru
bernama Farag Fouda. Yayasan Wakaf Paramadina menerbitkan edisi kedua
karya Farag Fouda berjudul Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik
Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin. Judul aslinya adalah
al-Haqidah al-Ghaibah.
Tampaknya, buku Fouda sedang digandrungi oleh kaum liberal. Di berbagai
forum mereka mempromosikan buku ini. Katanya, ini buku yang hebat, yang
menunjukkan “kebenaran” yang selama ini disembunyikan oleh para sejarawan
Muslim. Di negara asalnya, Fouda memang sempat membuat berita besar, saat
ia mati terbunuh pada 8 Juni 1992. Lima hari sebelumnya, 3 Juni 1992,
sejumlah ulama al-Azhar menyatakan Fouda telah murtad karena banyak
menghujat Islam.
Menyambut kampanye penyebaran buku Fouda tersebut, Jumat (17 Oktober 2008)
lalu, bertempat di Masjid al-Furqan, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
menggelar Tabligh Akbar. Tampil sebagai pembicara utama adalah Asep Sobari
Lc, peneliti bidang sejarah di INSISTS. Sebelumnya, Asep Sobari sudah
meluncurkan analisis kritisnya terhadap karya Fouda ini di situs
http://www.hidayatullah.com. Tapi, dalam acara Tabligh Akbar, alumnus Universitas
Madinah itu mengupas lebih tajam lagi berbagai kecurangan dan kesalahan
Fouda dalam mengutip kitab-kitab rujukan dari Thabari dan Ibn Saád.
Sejumlah bagian dari naskah edisi Indonesia, dibandingkan langsung dengan
naskah asli karya Fouda serta kitab-kitab rujukan Fouda. Dengan cara
seperti itu, tampak jelas dimana letak kecurangan dan kelemahan buku Fouda
tersebut.
Karena itu, kita kemudian memang cukup keheranan dengan berbagai pujian
terhadap buku ini. Khususnya yang dilakukan oleh orang yang bergelar guru
besar bidang sejarah. Prof. Dr. Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah dan
Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini, memuji-muji
buku Fouda:
“Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani mengungkapkan realitas
sejarah pahit pada masa Islam klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering
tak terkatakan di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan dipersepsikan secara
sangat idealistik dan romantik. Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk
melihat sejarah lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi hari ini dan
masa depan”.
Lebih “hebat” lagi pujian dari Prof. Dr. Syafi`i Maarif, Guru Besar
Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta (UNY):
”Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini.
Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat
sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang
sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain
kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara
lebih autentik, obyektif dan komprehensif”.
Dengan gamblang, Asep menunjukkan bagaimana Fouda telah sengaja mengambil
sejumlah riwayat yang lemah dan tidak jelas sumbernya untuk mendukung
opininya. Lalu, dia katakan itu sebagai fakta sejarah. Padahal, faktanya
tidak begitu. Kecurangan yang sangat jelas, misalnya, dalam kasus sahabat
Utsman bin Affan r.a. Dengan mengutip riwayat-riwayat yang lemah, Fouda
telah membangun citra yang sangat buruk terhadap menantu Rasulullah saw
tersebut.
Karena isinya semacam itu, tidak heran jika tokoh liberal, Goenawan
Mohamad pun bersorak gembira dengan terbitnya buku ini. Catatan Goenawan
di Majalah TEMPO dijadikan epilog buku ini. Ketajaman pena wartawan
kawakan ini digunakan untuk mempertajam lagi gambaran hitam fitnah Fouda
terhadap sahabat Rasulullah saw yang mulia ini. Simaklah uraian Goenawan
tentang Sayyidina Usman bin Affan r.a. dalam kolomnya:
“Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari,
jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan.”
Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang menyalatinya. Jasad
orangtua berumur 83 tahun itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya
dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3
itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi. Tak diketahui
dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seorang yang oleh
Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab
al-Tabaqat al-Kubra karya sejarah Ibnu Saád yang menyebutkan satu data
menarik: khalifah itu agaknya bukan seorang bebas dari keserakahan.
Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan
100.000 dinar.”
Tampaknya Goenawan tidak mengecek sendiri pada kitab al-Thabari dan Ibn
Saád. Dia taklid buta pada Fouda. Dengan penggambaran Goenawan Mohamad
seperti itu terhadap Usman r.a., kita dapat menangkap pesan, bahwa
Khalifah ketiga dari Khulafaurrasyidin itu adalah seorang yang hina, sial,
dan serakah. Goenawan seperti sedang mengejek umat Islam yang senantiasa
berdoa untuk Rasulullah saw dan para sahabatnya: “Wahai umat Islam, orang
yang kalian puja dan doakan itu adalah manusia brengsek. Kalian selama ini
telah tertipu. Ada kebenaran yang hilang; ada fakta sejarah yang selama
ini disembunyikan!” Maka, judul yang ditulis untuk buku Fouda ini adalah
“Kebenaran yang hilang”.
Kita paham, kaum liberal seperti Goenawan Mohamad ini sedang menertawai
umat Islam melalui buku Fouda. Seolah-olah, selama ribuan tahun, umat
Islam tolol semua. Para ulama Islam telah melakukan kecurangan,
menyembunyikan fakta sejarah tentang sahabat nabi. Seolah-olah, para orang
tua Muslim telah salah mengajar anak-anaknya untuk mencintai Rasulullah
saw dan para sahabatnya. Padahal, kata mereka, sahabat Nabi yang
diagung-agungkan dan senantiasa didoakan umat Islam itu ternyata juga
manusia serakah, manusia busuk!
Pesan penting lain yang disampaikan Goenawan melalui kolomnya adalah
pembelaan terhadap Fouda. Ia memuji Fouda. Ia menyesali kematian Fouda.
Sebab, Fouda termasuk jajaran kaum sekular-liberal. “Ia mempersoalkan
keabsahan posisi khilafah. Ia pengganggu kemutlakan,” tulis Goenawan
tentang Fouda. Tapi, penyesalan itu bukan untuk Usman r.a.. Goenawan
termakan cerita Fouda, bahwa Usman r.a. adalah manusia brengsek, serakah,
dan haus kekuasaan. Karena menolak turun dari jabatannya, maka Usman
terbunuh. “Maka perkara jadi runcing dan mereka mengepung Usman – lalu
membunuhnya, lalu menistanya,” tulis Goenawan.
Usman bin Affan adalah manusia hina. Itu fakta, kata mereka Sumber berita
untuk mencaci maki sahabat Nabi itu hanya satu: Farag Fouda. “Kaum
“Islamis” tak pernah menyebut peristiwa penting itu, tentu,” ejek
Goenawan. Syafii Maarif juga cukup rajin mempromosikan buku Fouda ini.
Seperti yang ditulisnya di sampul belakang buku ini: Fouda telah memahami
sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif. Azyumardi
Azra juga menyebut apa yang disajikan oleh Fouda sebagai “realitas
sejarah”.
Sebagai Muslim yang beriman akan kejujuran Nabi Muhammad saw, tentu iman
kita tertantang dengan pemaparan tentang Sayyidina Usman versi kaum
liberal ini. Benarkah Usman r.a. memang manusia hina dan bejat seperti
digambarkan Fouda dan Goenawan Mohamad? Padahal, begitu banyak hadits
Nabi yang menyebutkan tentang keutamaan Usman bin Affan. Maka, kita
ditantang: percaya pada Nabi Muhammad saw atau percaya pada Farag Fouda?
Untuk itu, cara terbaik adalah mengecek langsung sumber-sumber asli yang
dikutip Fouda. Hasil penelitian Asep Sobari menunjukkan, ada kelemahan
metodologis dan kecurangan yang sangat serius dari Fouda dalam mengutip
sumber-sumber aslinya. Misalnya, tentang riwayat keterlambatan penguburan
jenazah Usman bin Affan, Fouda hanya mengambil satu riwayat yang lemah
dalam karya al-Thabari. Padahal, ada delapan versi lain yang juga
disebutkan dalam kitab itu. Tapi, Fouda sama sekali tidak menyinggungnya.
Bahkan, dalam al-Thabaqat al-Kubra, karya Ibn Sa’ad, disebutkan beberapa
riwayat dari `Amr bin Abdullah dan al-Waqidi yang jelas-jelas menyatakan
Usman dimakamkan langsung pada malam harinya di Baqi` (al-Thabaqat,
3/77-78). Jadi, dengan hanya menyebut satu riwayat yang lemah, Fouda
jelas-jelas melakukan upaya menipulasi data sejarah dengan membuat kesan
seolah-olah hanya ada riwayat itu saja.
Cara penulisan sejarah seperti ini tentu tidak komprehensif. Maka, ajaib,
jika Profesor sejarah justru memuji-muji buku ini. Sama ajaibnya dengan
wartawan senior yang malas melakukan cek dan ricek terhadap sumber-sumber
referensi yang dipakai Fouda. Mungkin hanya karena cerita picisan Fouda
itu sesuai dengan seleranya, maka dia langsung menelan begitu saja cerita
tentang kebejatan Usman r.a..
Dalam paparan slide-nya saat Tabligh Akbar di Masjid Dewan Da’wah, Asep
Sobari menampilkan naskah asli dari al-Thabari yang sama sekali tidak
menyebutkan areal pemakaman Hasy Kaukab sebagai areal pemakaman Yahudi.
Tapi, dalam naskah asli buku Fouda, ada tambahan bahwa Hasy Kaukab (bukan
Hisy Kaukab) adalah areal pemakaman Yahudi. Ini juga merupakan tindakan
yang tidak etis dalam penulisan ilmiah. Apalagi ini menyangkut martabat
seorang sahabat Nabi yang sangat dihormati oleh Nabi Muhammad saw dan juga
umat Islam secara keseluruhan.
Apakah Usman bin Affan seorang yang serakah karena meninggalkan banyak
uang seperti dikatakan Goenawan Mohamad? Asep Sobari menunjukkan data
yang menarik tentang kesuksesan bisnis Usman r.a. dan kedermawanannya.
Sejumlah riwayat yang dituturkan Ibn Hajar memberi gambaran kekayaan
Usman. Di antaranya, pada permulaan masa hijrah, kaum muslim di Madinah
kesulitan mendapat air bersih. Saat itu, hanya ada mata air Rumah yang
tersedia dan itupun harus dibeli. Usman r.a. akhirnya membeli sumur itu
dan mewakafkannya untuk umat Islam. Ketika ada rencana perluasan masjid
Nabawi di masa Nabi saw dan dana kas negara tidak mencukupi, Rasulullah
saw mengumumkan pengumpulan dana. Maka Usman r.a. segera membeli tanah
untuk perluasan tersebut seharga 25.000 dirham. Ketika Nabi saw menghimpun
dana guna membiayai perang Tabuk yang terjadi di masa paceklik, Usman r.a.
mendermakan 1000 dinar, 940 ekor unta dan 40 ekor kuda (al-Khilafah
al-Rasyidah min Fath al-Bari, hlm. 453-458).
Seiring dengan geliat kemajuan ekonomi di masa Umar, bisnis Usman bin
Affan pun semakin berkembang dan asetnya bertambah besar, jauh di atas
rata-rata kaum muslimin lainnya. Imam Bukhari (hadits no. 3059)
menggambarkan, ketika kekayaan negara berupa hewan ternak semakin banyak,
Umar terpaksa membuat lahan konservasi eksklusif (al-Hima), dan berkata
kepada pegawainya, “Izinkan para pemilik ternak untuk menggembala di
al-Hima, tapi jangan sekali-kali mengizinkan [Abdurrahman] bin Auf dan
[Usman] bin Affan. Karena jika seluruh ternak mereka berdua binasa, mereka
masih punya kebun dan ladang”.
Jadi, Usman r.a. memang seorang pengusaha sukses, kaya raya dan sangat
dermawan. Jangankan hartanya, nyawanya pun telah dipertaruhkan untuk
Islam. Ia terjun langsung dalam berbagai peperangan. Tidak masuk akal,
manusia mulia seperti ini lalu menjadi orang yang serakah terhadap dunia.
Tidaklah sepatutnya pribadi mulia seperti Usman bin Affan itu disejajarkan
dengan seorang Farag Fouda. Jika ada sebagian sisi lemah Usman r.a. dalam
kebijakan politiknya, maka Usman memang seorang manusia. Tapi, tidaklah
komprehensif melihat kepemimpinan Usman hanya dari sebagian sisi lemahnya
saja. Berbagai prestasi besar – dalam politik, ekonomi, dan pendidikan –
telah dicapai dalam masa 12 tahun kepemimpinan Usman bin Affan r.a.
Selama ratusan tahun, para sejarawan Muslim telah mencurahkan segenap
tenaga untuk menulis sejarah tentang para sahabat Nabi Muhammad saw. Tidak
ada kebenaran yang disembunyikan, seperti tuduhan Fouda yang diamini
begitu saja oleh sejumlah tokoh liberal di Indonesia. Sebab,
sumber-sumber sejarah itu tetap terbuka untuk diteliti, oleh siapa saja.
Silakan Goenawan Mohammad, Azyumardi Azra, dan Syafii Maarif menelitinya
sendiri. Jangan bertaklid begitu saja kepada Fouda. Jangan mengerdilkan
keilmuan Anda sendiri! Aneh, jika kematian Fouda disesali, tetapi
kematian Usman bin Affan justru dianggap wajar. Sebab, Fouda adalah
pejuang HAM, sedangkan Usman r.a. adalah manusia hina dan serakah!
Semestinya, para ilmuwan dan cendekiawan ini membaca juga banyak buku
lainnya tentang cerita seputar konflik diantara sahabat Nabi. Thaha Jabir
Ulwani, misalnya, dalam bukunya Adabul Ikhtilaf fil Islam, memaparkan
data-data perbedaan bahkan konflik diantara sahabat Nabi. Mereka adalah
manusia. Tapi, yang sangat indah adalah bagaimana cara mereka menghadapi
dan menyelesaikan konflik. Umat Islam justru bisa belajar dari sejarah
semacam itu. Sebab, dalam kehidupan manusia, ada saja orang-orang yang
berbuat jahat dan mengeruhkan suasana. Terjadinya kekacauan dan pembunuhan
terhadap Usman bin Affan r.a. tidak bisa begitu saja ditimpakan
kesalahannya kepada Usman r.a. Begitu juga, martabat Ali bin Abi Thalib
r.a. tidak kemudian menjadi rendah karena di masanya terjadi pergolakan.
Sebagai Muslim, kita tentu tidak sudi mengikuti jejak orang-orang yang
mudah menghina sahabat Nabi saw. Mereka adalah manusia-manusia pilihan
yang sangat disayangi oleh Nabi kita, Muhammad saw. Kita pun tak suka
sahabat kita dicaci maki. Kaum liberal juga tidak suka jika idolanya
diungkapkan keburukannya setelah kematiannya. Mereka katakan, itu tidak
etis. Tapi, jika penghinaan dan pelecehan itu dilakukan terhadap sahabat
Nabi, seperti Usman bin Affan r.a., mereka justru bertepuk tangan.
Maka, kita tak akan bosan-bosan mengimbau kepada semua pihak yang telah
semena-mena mencaci maki sahabat Nabi yang mulia: beristighfarlah dan
bertobatlah sebelum terlambat! [Yogyakarta, 18 Oktober
2008/www.hidayatullah.com].
Agus Sutoto
10 Nov 08 at 12:40 pm
Your comment is awaiting moderation.
Silakan baca resensi yang merupakan kritik keras akan kebohongan FF ini, di Hidayatullah.com juga di Insistnet.com oleh Bapak Adian Husaini “Antara Usman Bin Affan dan Faraq Fouda” dan Ustadz Asep Sobari, keduanya adalah peneliti di INSIST, secara khusus dalam kuliah Kang Asep, referensi dalam bahasa Aslinya, Arab, ditampilkan a.l. dari literatur yang dirujuk sendiri oleh FF, seperti karya Ath-Thabari, Ibnu Sa’ad dll. Kang Asep adalah Alumni Unifersitas Madinah jurusan Sejarah (Tarikh) Islam, jadi sangat otoritatif jika beliau bicara sendiri. Saya pribadi sangat mengharapkan adanya bedah buku FF ini, dihadiri tokoh Paramadina, Gunawan Mohammad, Prof. Syafi’i Ma’arif, Prof Azyuardi Azra dan tokoh2 mumpuni lainnya, supaya kita2 yang awam ini Mubtadi’ (menjadi pengikut yang argumentatif), bukan yang sekedar taqlid, walaupun dengan Nama besar sekalipun. Apakah mereka sehebat sahabat Rasululullah sekalipun ? Silakan disimak kutipan berikut ini:
“Antara Usman Bin Affan dan Faraq Fouda”
Monday, 20 October 2008 02:45
Kebiasaan kaum liberal adalah senang tampil beda. Jika ulama malarang,
mereka justru membolehkan. Jika ulama mengecam penghina Nabi dan sahabat,
mereka justru membelanya. Baca Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian ke-246
Oleh: Adian Husaini
Tampaknya, ada sifat yang khas dari kaum liberal di Indonesia. Mereka
senang dengan hal-hal yang nyeleneh dan asal beda dengan umat Islam pada
umumnya. Orang Jawa bilang: yang penting Waton suloyo alias WTS atau asal
beda. Jika umat Islam menolak Ahmadiyah, mereka malah mendukung Ahmadiyah.
Umat Islam mendukung RUU Anti-pornografi, mereka justru menolaknya. Jika
umat Islam mengecam perkawinan sesama jenis, mereka justru mendukungnya.
Umat Islam menolak perkawinaan antar-agama, tapi mereka malah
mempromosikannya.
Umumnya umat Islam membanggakan sejarahnya yang gemilang. Tapi, kaum
liberal senang tampil beda. Mereka senang jika umat Islam malu dengan
sejarahnya sendiri. Yang penting beda! Jika ada hal yang dianggap baru,
dan datang dari kaum liberal di luar, lalu ditelan begitu saja. Yang
penting liberal, dan sok kritis terhadap Islam. Ketika muncul seorang
lesbian seperti Irshad Manji, maka mereka sambut dengan gegap gempita.
Nong Darol Mahmada, aktivis liberal alumnus Fakultas Ushuluddin UIN
Jakarta menulis artikel di Jurnal Perempuan (nomor 58) berjudul: “Irshad
Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad.”
Kita pernah membahas, bagaimana naifnya pujian yang berlebihan terhadap
Irshad Manji. Tapi, mereka tidak peduli. Setelah mempromosikan Irshad
Manji, kini kaum liberal di Indonesia sedang gandrung dengan idola baru
bernama Farag Fouda. Yayasan Wakaf Paramadina menerbitkan edisi kedua
karya Farag Fouda berjudul Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik
Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin. Judul aslinya adalah
al-Haqidah al-Ghaibah.
Tampaknya, buku Fouda sedang digandrungi oleh kaum liberal. Di berbagai
forum mereka mempromosikan buku ini. Katanya, ini buku yang hebat, yang
menunjukkan “kebenaran” yang selama ini disembunyikan oleh para sejarawan
Muslim. Di negara asalnya, Fouda memang sempat membuat berita besar, saat
ia mati terbunuh pada 8 Juni 1992. Lima hari sebelumnya, 3 Juni 1992,
sejumlah ulama al-Azhar menyatakan Fouda telah murtad karena banyak
menghujat Islam.
Menyambut kampanye penyebaran buku Fouda tersebut, Jumat (17 Oktober 2008)
lalu, bertempat di Masjid al-Furqan, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
menggelar Tabligh Akbar. Tampil sebagai pembicara utama adalah Asep Sobari
Lc, peneliti bidang sejarah di INSISTS. Sebelumnya, Asep Sobari sudah
meluncurkan analisis kritisnya terhadap karya Fouda ini di situs
http://www.hidayatullah.com. Tapi, dalam acara Tabligh Akbar, alumnus Universitas
Madinah itu mengupas lebih tajam lagi berbagai kecurangan dan kesalahan
Fouda dalam mengutip kitab-kitab rujukan dari Thabari dan Ibn Saád.
Sejumlah bagian dari naskah edisi Indonesia, dibandingkan langsung dengan
naskah asli karya Fouda serta kitab-kitab rujukan Fouda. Dengan cara
seperti itu, tampak jelas dimana letak kecurangan dan kelemahan buku Fouda
tersebut.
Karena itu, kita kemudian memang cukup keheranan dengan berbagai pujian
terhadap buku ini. Khususnya yang dilakukan oleh orang yang bergelar guru
besar bidang sejarah. Prof. Dr. Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah dan
Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini, memuji-muji
buku Fouda:
“Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani mengungkapkan realitas
sejarah pahit pada masa Islam klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering
tak terkatakan di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan dipersepsikan secara
sangat idealistik dan romantik. Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk
melihat sejarah lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi hari ini dan
masa depan”.
Lebih “hebat” lagi pujian dari Prof. Dr. Syafi`i Maarif, Guru Besar
Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta (UNY):
”Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini.
Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat
sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang
sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain
kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara
lebih autentik, obyektif dan komprehensif”.
Dengan gamblang, Asep menunjukkan bagaimana Fouda telah sengaja mengambil
sejumlah riwayat yang lemah dan tidak jelas sumbernya untuk mendukung
opininya. Lalu, dia katakan itu sebagai fakta sejarah. Padahal, faktanya
tidak begitu. Kecurangan yang sangat jelas, misalnya, dalam kasus sahabat
Utsman bin Affan r.a. Dengan mengutip riwayat-riwayat yang lemah, Fouda
telah membangun citra yang sangat buruk terhadap menantu Rasulullah saw
tersebut.
Karena isinya semacam itu, tidak heran jika tokoh liberal, Goenawan
Mohamad pun bersorak gembira dengan terbitnya buku ini. Catatan Goenawan
di Majalah TEMPO dijadikan epilog buku ini. Ketajaman pena wartawan
kawakan ini digunakan untuk mempertajam lagi gambaran hitam fitnah Fouda
terhadap sahabat Rasulullah saw yang mulia ini. Simaklah uraian Goenawan
tentang Sayyidina Usman bin Affan r.a. dalam kolomnya:
“Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari,
jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan.”
Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang menyalatinya. Jasad
orangtua berumur 83 tahun itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya
dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3
itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi. Tak diketahui
dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seorang yang oleh
Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab
al-Tabaqat al-Kubra karya sejarah Ibnu Saád yang menyebutkan satu data
menarik: khalifah itu agaknya bukan seorang bebas dari keserakahan.
Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan
100.000 dinar.”
Tampaknya Goenawan tidak mengecek sendiri pada kitab al-Thabari dan Ibn
Saád. Dia taklid buta pada Fouda. Dengan penggambaran Goenawan Mohamad
seperti itu terhadap Usman r.a., kita dapat menangkap pesan, bahwa
Khalifah ketiga dari Khulafaurrasyidin itu adalah seorang yang hina, sial,
dan serakah. Goenawan seperti sedang mengejek umat Islam yang senantiasa
berdoa untuk Rasulullah saw dan para sahabatnya: “Wahai umat Islam, orang
yang kalian puja dan doakan itu adalah manusia brengsek. Kalian selama ini
telah tertipu. Ada kebenaran yang hilang; ada fakta sejarah yang selama
ini disembunyikan!” Maka, judul yang ditulis untuk buku Fouda ini adalah
“Kebenaran yang hilang”.
Kita paham, kaum liberal seperti Goenawan Mohamad ini sedang menertawai
umat Islam melalui buku Fouda. Seolah-olah, selama ribuan tahun, umat
Islam tolol semua. Para ulama Islam telah melakukan kecurangan,
menyembunyikan fakta sejarah tentang sahabat nabi. Seolah-olah, para orang
tua Muslim telah salah mengajar anak-anaknya untuk mencintai Rasulullah
saw dan para sahabatnya. Padahal, kata mereka, sahabat Nabi yang
diagung-agungkan dan senantiasa didoakan umat Islam itu ternyata juga
manusia serakah, manusia busuk!
Pesan penting lain yang disampaikan Goenawan melalui kolomnya adalah
pembelaan terhadap Fouda. Ia memuji Fouda. Ia menyesali kematian Fouda.
Sebab, Fouda termasuk jajaran kaum sekular-liberal. “Ia mempersoalkan
keabsahan posisi khilafah. Ia pengganggu kemutlakan,” tulis Goenawan
tentang Fouda. Tapi, penyesalan itu bukan untuk Usman r.a.. Goenawan
termakan cerita Fouda, bahwa Usman r.a. adalah manusia brengsek, serakah,
dan haus kekuasaan. Karena menolak turun dari jabatannya, maka Usman
terbunuh. “Maka perkara jadi runcing dan mereka mengepung Usman – lalu
membunuhnya, lalu menistanya,” tulis Goenawan.
Usman bin Affan adalah manusia hina. Itu fakta, kata mereka Sumber berita
untuk mencaci maki sahabat Nabi itu hanya satu: Farag Fouda. “Kaum
“Islamis” tak pernah menyebut peristiwa penting itu, tentu,” ejek
Goenawan. Syafii Maarif juga cukup rajin mempromosikan buku Fouda ini.
Seperti yang ditulisnya di sampul belakang buku ini: Fouda telah memahami
sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif. Azyumardi
Azra juga menyebut apa yang disajikan oleh Fouda sebagai “realitas
sejarah”.
Sebagai Muslim yang beriman akan kejujuran Nabi Muhammad saw, tentu iman
kita tertantang dengan pemaparan tentang Sayyidina Usman versi kaum
liberal ini. Benarkah Usman r.a. memang manusia hina dan bejat seperti
digambarkan Fouda dan Goenawan Mohamad? Padahal, begitu banyak hadits
Nabi yang menyebutkan tentang keutamaan Usman bin Affan. Maka, kita
ditantang: percaya pada Nabi Muhammad saw atau percaya pada Farag Fouda?
Untuk itu, cara terbaik adalah mengecek langsung sumber-sumber asli yang
dikutip Fouda. Hasil penelitian Asep Sobari menunjukkan, ada kelemahan
metodologis dan kecurangan yang sangat serius dari Fouda dalam mengutip
sumber-sumber aslinya. Misalnya, tentang riwayat keterlambatan penguburan
jenazah Usman bin Affan, Fouda hanya mengambil satu riwayat yang lemah
dalam karya al-Thabari. Padahal, ada delapan versi lain yang juga
disebutkan dalam kitab itu. Tapi, Fouda sama sekali tidak menyinggungnya.
Bahkan, dalam al-Thabaqat al-Kubra, karya Ibn Sa’ad, disebutkan beberapa
riwayat dari `Amr bin Abdullah dan al-Waqidi yang jelas-jelas menyatakan
Usman dimakamkan langsung pada malam harinya di Baqi` (al-Thabaqat,
3/77-78). Jadi, dengan hanya menyebut satu riwayat yang lemah, Fouda
jelas-jelas melakukan upaya menipulasi data sejarah dengan membuat kesan
seolah-olah hanya ada riwayat itu saja.
Cara penulisan sejarah seperti ini tentu tidak komprehensif. Maka, ajaib,
jika Profesor sejarah justru memuji-muji buku ini. Sama ajaibnya dengan
wartawan senior yang malas melakukan cek dan ricek terhadap sumber-sumber
referensi yang dipakai Fouda. Mungkin hanya karena cerita picisan Fouda
itu sesuai dengan seleranya, maka dia langsung menelan begitu saja cerita
tentang kebejatan Usman r.a..
Dalam paparan slide-nya saat Tabligh Akbar di Masjid Dewan Da’wah, Asep
Sobari menampilkan naskah asli dari al-Thabari yang sama sekali tidak
menyebutkan areal pemakaman Hasy Kaukab sebagai areal pemakaman Yahudi.
Tapi, dalam naskah asli buku Fouda, ada tambahan bahwa Hasy Kaukab (bukan
Hisy Kaukab) adalah areal pemakaman Yahudi. Ini juga merupakan tindakan
yang tidak etis dalam penulisan ilmiah. Apalagi ini menyangkut martabat
seorang sahabat Nabi yang sangat dihormati oleh Nabi Muhammad saw dan juga
umat Islam secara keseluruhan.
Apakah Usman bin Affan seorang yang serakah karena meninggalkan banyak
uang seperti dikatakan Goenawan Mohamad? Asep Sobari menunjukkan data
yang menarik tentang kesuksesan bisnis Usman r.a. dan kedermawanannya.
Sejumlah riwayat yang dituturkan Ibn Hajar memberi gambaran kekayaan
Usman. Di antaranya, pada permulaan masa hijrah, kaum muslim di Madinah
kesulitan mendapat air bersih. Saat itu, hanya ada mata air Rumah yang
tersedia dan itupun harus dibeli. Usman r.a. akhirnya membeli sumur itu
dan mewakafkannya untuk umat Islam. Ketika ada rencana perluasan masjid
Nabawi di masa Nabi saw dan dana kas negara tidak mencukupi, Rasulullah
saw mengumumkan pengumpulan dana. Maka Usman r.a. segera membeli tanah
untuk perluasan tersebut seharga 25.000 dirham. Ketika Nabi saw menghimpun
dana guna membiayai perang Tabuk yang terjadi di masa paceklik, Usman r.a.
mendermakan 1000 dinar, 940 ekor unta dan 40 ekor kuda (al-Khilafah
al-Rasyidah min Fath al-Bari, hlm. 453-458).
Seiring dengan geliat kemajuan ekonomi di masa Umar, bisnis Usman bin
Affan pun semakin berkembang dan asetnya bertambah besar, jauh di atas
rata-rata kaum muslimin lainnya. Imam Bukhari (hadits no. 3059)
menggambarkan, ketika kekayaan negara berupa hewan ternak semakin banyak,
Umar terpaksa membuat lahan konservasi eksklusif (al-Hima), dan berkata
kepada pegawainya, “Izinkan para pemilik ternak untuk menggembala di
al-Hima, tapi jangan sekali-kali mengizinkan [Abdurrahman] bin Auf dan
[Usman] bin Affan. Karena jika seluruh ternak mereka berdua binasa, mereka
masih punya kebun dan ladang”.
Jadi, Usman r.a. memang seorang pengusaha sukses, kaya raya dan sangat
dermawan. Jangankan hartanya, nyawanya pun telah dipertaruhkan untuk
Islam. Ia terjun langsung dalam berbagai peperangan. Tidak masuk akal,
manusia mulia seperti ini lalu menjadi orang yang serakah terhadap dunia.
Tidaklah sepatutnya pribadi mulia seperti Usman bin Affan itu disejajarkan
dengan seorang Farag Fouda. Jika ada sebagian sisi lemah Usman r.a. dalam
kebijakan politiknya, maka Usman memang seorang manusia. Tapi, tidaklah
komprehensif melihat kepemimpinan Usman hanya dari sebagian sisi lemahnya
saja. Berbagai prestasi besar – dalam politik, ekonomi, dan pendidikan –
telah dicapai dalam masa 12 tahun kepemimpinan Usman bin Affan r.a.
Selama ratusan tahun, para sejarawan Muslim telah mencurahkan segenap
tenaga untuk menulis sejarah tentang para sahabat Nabi Muhammad saw. Tidak
ada kebenaran yang disembunyikan, seperti tuduhan Fouda yang diamini
begitu saja oleh sejumlah tokoh liberal di Indonesia. Sebab,
sumber-sumber sejarah itu tetap terbuka untuk diteliti, oleh siapa saja.
Silakan Goenawan Mohammad, Azyumardi Azra, dan Syafii Maarif menelitinya
sendiri. Jangan bertaklid begitu saja kepada Fouda. Jangan mengerdilkan
keilmuan Anda sendiri! Aneh, jika kematian Fouda disesali, tetapi
kematian Usman bin Affan justru dianggap wajar. Sebab, Fouda adalah
pejuang HAM, sedangkan Usman r.a. adalah manusia hina dan serakah!
Semestinya, para ilmuwan dan cendekiawan ini membaca juga banyak buku
lainnya tentang cerita seputar konflik diantara sahabat Nabi. Thaha Jabir
Ulwani, misalnya, dalam bukunya Adabul Ikhtilaf fil Islam, memaparkan
data-data perbedaan bahkan konflik diantara sahabat Nabi. Mereka adalah
manusia. Tapi, yang sangat indah adalah bagaimana cara mereka menghadapi
dan menyelesaikan konflik. Umat Islam justru bisa belajar dari sejarah
semacam itu. Sebab, dalam kehidupan manusia, ada saja orang-orang yang
berbuat jahat dan mengeruhkan suasana. Terjadinya kekacauan dan pembunuhan
terhadap Usman bin Affan r.a. tidak bisa begitu saja ditimpakan
kesalahannya kepada Usman r.a. Begitu juga, martabat Ali bin Abi Thalib
r.a. tidak kemudian menjadi rendah karena di masanya terjadi pergolakan.
Sebagai Muslim, kita tentu tidak sudi mengikuti jejak orang-orang yang
mudah menghina sahabat Nabi saw. Mereka adalah manusia-manusia pilihan
yang sangat disayangi oleh Nabi kita, Muhammad saw. Kita pun tak suka
sahabat kita dicaci maki. Kaum liberal juga tidak suka jika idolanya
diungkapkan keburukannya setelah kematiannya. Mereka katakan, itu tidak
etis. Tapi, jika penghinaan dan pelecehan itu dilakukan terhadap sahabat
Nabi, seperti Usman bin Affan r.a., mereka justru bertepuk tangan.
Maka, kita tak akan bosan-bosan mengimbau kepada semua pihak yang telah
semena-mena mencaci maki sahabat Nabi yang mulia: beristighfarlah dan
bertobatlah sebelum terlambat! [Yogyakarta, 18 Oktober
2008/www.hidayatullah.com].====Kutipan selesai
Jadi Siapa yang bohong? Siapa yang memelintir sejarah?Saya berharap ada yang berani (termasuk pengelola blog ini) memprakarsai bedah buku FF ini, dengan mengundang para pembedah dari pengkritik dan pendukung buku ini, supaya terungkap siapa yang bohong siapa yang ilmiah, beberkan saja secara transparan kepada masyarakat secara cerdas, telanjanggi saja semua pihak yang berbohong supaya msyarakat tahu siapa cendekiawan yang cerdas dan siapa yang bebal. Hadirkan Prof. Syafii Maarif, Prof A Azra, Gunawan Mohammad, semuanya. Saya pesimis ini akan terjadi, paling2 hanya berlangsung di masing2 kubu, karena akan terjadi skandal terrbongkarnya aib bagi cendekiawan yang punya nama tenar di negeri ini. Pokoknya geger besar besaran!!!!!!!
Desember 4, 2008 pada 1:48 pm
FLCL
Untuk Wakijan dan kaum muslimin yang sependapat dengannya.
Saya bukan orang liberal tapi saya juga bukan orang konservatif.
Terus terang, saya juga tidak setuju sepenuhnya dengan apa yang ditulis Fouda tapi saya juga tidak setuju dengan artikel yang ditulis Adian. Tapi, melihat banyak sekali orang taklid pada Adian dan mengesampingkan pandangan Fouda, saya memberikan sedikit pembelaan.
Satu pertanyaan yag didengungkan di awal buku Fouda adalah kenapa hanya satu khalifah Islam yang meninggal dengan wajar? Kenapa tiga lainnya dibunuh? Kenapa Usman dan Ali terbunuh di ujung pedang sesama muslim?
Pernah baca buku itu? Sebenarnya, yang dijadikan masalah dalam buku itu bukanlah Islam tapi kebudayaan orang-orang yang memeluk Islam sepeninggal nabi. Well, inilah yang sering disalahartikan oleh orang-orang.
Fouda itu sangat mencintai Islam, seperti cinta Adonis pada Islam. Mereka mencintai Islam dengan sepenuh hati, buku yang ia terbitkan benar-benar menunjukkan cintanya. Apakah teman-teman tidak menyadari cintanya? Apakah teman-teman tidak merasakan kepedihannya ketika ia mengulas sejarah yang telah berlalu?
Memang, ada yang salah dalam buku ini tapi tidak bisakah kita menghormatinya? Kenapa kita tidak berdebat tapi malah membunuhnya?
Siapa yang sebenarnya sanggup menentukan apakah Fouda murtad atau tidak? Jika itu nabi, saya patuh. Siapa yang punya hak? Selain nabi dan Tuhan?
Apakah kalian begitu benci pada liberalisme? Apakah kalian tahu, mimpi agung para pencetus liberalisme? Bisakah kalian meluangkan waktu sejenak untuk memahami apa yang mereka cita-citakan?Apakah kalian begitu membenci pada kritik? Bersyukurlah kalian jika ada orang yang mengkritik kalian, mengkritik dengan akal pikiran lebih rumit dari sekedar memvonis kafir!
Hei, kaum muslimin yang berbahagia! Apa kalian senang hidup di bawah seorang raja yang menyebut dirinya “Tukang Jagal yang Bengis”? Apa kalian senang hidup di bawah seorang gubernur yang bergelar “Ular Anak Si Ular”? Fouda mempertanyakan bagaimana cara membatasi sang penguasa, apakah syariah adalah inti dari Islam, apakah penggabungan agama dan negara tidak merontokkan keduanya.
Saya menghormati Fouda, saya angkat topi pada Syafi’i Ma’arif, saya juga kagum pada Goenawan Mohamad.Pernahkah Anda membaca tulisan-tulisan beliau? Pernahkah Anda membaca tulisan Irshad Manji?
Bolehkah?
Bolehkah saya tahu kenapa Anda membenci mereka?
Kenapa Anda menolak pandangan baru yang mereka ajukan?
Apakah mereka begitu jahat pada Islam?