Tag

, ,

Eyang Surodimejo kakung dilahirkan di Nglebeng, Tempel, adalah putera kedua Ki Towidjojo. Bersaudara tiga orang, yakni (1) Eyang Kertodimedjo (mbah Sidoarjo), (2) Eyang Surodimedjo sendiri dan (3) Nyi Sorjo Tekik. Adapun saudara seibu tetapi lain Bapak adalah (1) Ki Pawirodimedjo Selobonggo dan Nyi Tjokropawiro Gondang Angin Ngablak.

Generasi pertama keturunan Eyang Surodimedjo lahir pada awal abad 20. Sekarang kita sudah berada di abad 21, dan Trah Suradimeja telah melahirkan generasi keenam. Anak, cucu, cicit dan seterusnya yang masih hidup sudah berjumlah sekitar 1300 an jiwa atau 450-an Kepala Keluarga.

Buku ini berisikan nama-nama anggota Trah Surodimejan berikut alamat setiap kepala keluarga. Dimulai dari krandah H. Somodimedjo sebagai putera pertama dan diakhiri oleh krandah H. Masyhuri sebagai putera terakhir. Tidak lupa juga, mengikutsertakan daftar nama-nama anggota krandah Partodimedjo Tukangan, yang nama beliau adalah keturunan Eyang Surodimedjo putri, dan selama ini aktif bergabung dengan warga keturunan Eyang kakung.

Dalam daftar ini, masing-maing anggota keluarga diberikan Nomor Induk Keluarga (NIK), untuk memudahkan mencari hubungan silsilah masing-masing sekaligus mempermudah penghitungan jumlah anggota. Untuk lebih jelasnya, penentuan NIK diatur dengan cara sebagai berikut:

  1. Penentuan Nomor Induk anggota keluarga Trah Surodimedjan, ditentukan menurut urutan kelahiranya. Dimulai dari generasi pertama, yang terdiri dari para putera-puteri Eyang Surodimedjo yang biasa dipanggil Empu, yakni:
    1. H Somodimedjo  (Ngemplak)
    2. H Mertodirjo   (Tekik)
    3. Ki Ali Hardjo  (Blunyah)
    4. H Kromodihardjo   (Ngentak)
    5. Ki Kromodihardjo  (Kadisono)
    6. H Prawirohardjono   (Domban)
    7. KH Rifa’i     (Tekik)
    8. H Marto Prasetyo    (Ngablak)
    9. H Mawardi   (Tekik).
    10. H Masyhuri  (Ngablak)

Nomor urut kelahiran tersebut sekaligus merupakan Nomor Induk Keluarga yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Khusus untuk Nomor Induk Keluarga Partodimedjo adalah 0.

  1. Penetapan Nomor Induk untuk generasi berikutnya mengikuti Nomor Induk orang tua masing-masing anggota. Caranya adalah dengan menambahkan angka urutan kelahirannya di belakang angka NIK yang dimiliki orang tuanya.

Contoh:

Nama H. Harun Imant Atmodjo sebagai anggota Trah Surodimedjan, adalah putera ke-1 dari H Rifa’i. Kita ketahui bahwa, H Rifa’i memiliki Nomor Induk 7. Maka penentuan Nomor Induk untuk H Harun Iman Atmadja ditetapkan dengan menambahkan angka 1 dibelakang angka 7 sehingga menjadi 71.

  1. Penentuan Nomor Induk sebagaimana tersebut di atas dilanjutkan untuk anggota keluarga generasi berikutnya.

Contoh:

Sudara Agus Sulistyono sebagai anggota keluarga Trah Surodimedjan adalah putera ke-6 dari H Harun Iman Armodjo. Seperti diketahui, Nomor Induk H Harun adalah 71. Dengan mengikuti pola penentuan sebagaiamana tersebut di atas, maka angka 6 ditambahkan di belakang angka 71, sehingga ditemukan Nomor Induk saudara Agung Sulistyono, yakni 716.

  1. Bagi anggota yang sudah berstatus suami-isteri, cukup memiliki satu Nomor Induk.
  2. Anggota yang telah meninggal dunia dalam keadan belum kawin, dibebaskan dari penomoran induk. Kecuali memang sudah tercantum pada daftar keluarga edisi pertama (th. 1987/1988).
  3. Status Kepala Keluarga, bagi suami yang telah meninggal dunia, digantikan oleh pihak isteri dalam Daftar keanggotaan ini.
  4. Nama-nama anggota keluarga yang belum bisa diketahui pencatatan Daftar Anggota Keluarga ini, tetap disediakan kolom Nomor Induk untuk yang bersangkutan, dan mereka tetap diperhitungkan dalam penjumlahan keseluruhan anggota keluarga.
  5. Nama anggota dalam kondisi tertentu ditulis dengan pembahasan kode sebagai berikut:

-): telah meninggal dunia

+) kawin dengan

Marzani Anwar

About these ads