Oleh

Prof. Marzani Anwar, MA

Cuplikan Hasil Penelitian Tayangan Dakwah di Televisi

dan Respon Masyarakat Lokal

Balai Ltbang Agama Jakarta, 18-19 Agustus 2009

Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai bangsa religius, yang mengindikasikan sebagian besar warganya adalah menjadi penganut agama khususunya Islam, dalam hal ini menjadi segmen pasar yang sangat diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan media televisi.  Kompleksitas masalah sosial keagamaan yang berkembang selama ini telah direspon oleh para arsitek siaran, dalam rangka menarik sebanyak mungkin pemirsa atau pasar. Pengolahan atas isu-isu yang diangkat di media elektronik juga akan menemukan peta kedakwahan yang diselenggarakan, baik menyangkut model tayangan, waktu tayang, dan model artistic yang ditampilkan.  Namun demikian, dakwah televisi di tengah masyarakat yang awam dan tidak kritis, sering menghasilkan efek mainstreaming. Pesan-pesan yang disampaikan acapkali mencerminkan paham keagamaan yang dimiliki oleh sang narasumber, dan mengharuskannya untuk diterima secara mutlak. Sementara paham atau pemikiran keagamaan yang berbeda dari si penceramah cenderung dilemahkan.

Hasil penelitian Sunandar menginformasikan bahwa, secara umum dakwah di tv dengan berbagai bentuk dan formatnya, masih belum meningkatkan rating acara yang bersangkutan (Sunandar, 2008). Sementara itu, dengan rendahnya rating, menunjukkan kemungkinan kecilnya dukungan atau kepedulian mayarakat terhadap siaran-siaran dakwah di TV. Bentuk-bentuk dakwah yang digunakan berjalan tampak tidak sanggup berpacu melawan produk siaran pop dan komedian, serta beragam produk lainnya yang lebih mengundang minat kalangan pemirsa. Kompleksitas permasalahan keagamaan yang dihadapi bangsa Indonesia tentu juga telah ikut mempengaruhi pilihan-pilihan atas substansi yang harus dikedepankan  dalam dakwah.

Provinsi Jambi yang masyarakatnya mayoritas menganut Islam, adalah bagian dari masyarakat yang bisa menangkap siaran televise nasional, yang dipancarkan dari Jakarta. Tidak terkecuali TranTV dengan siaran bermuatan dakwahnya. Secara langsung maupun tidak langsung, masyarakat memperoleh spirit dari pesan-pesan keagamaan yang ditayangkan hamper setiap pagi. Para pirsawan dari kalangan mereka, memiliki perhatian, penyerapan dan penilaian terhadap substansi acara tersebut.

Latar belakang di atas menjadi pijakan tema penelitian ini, yakni bagaimana respon masyarakat Jambi terhadap program acara bermuatan dakwah Islam di Trans TV.   Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini adalah: Apakah tayangan bermuatan dakwah di TransTv selama ini bisa diterima dengan baik di wilayah Jambi; Apakah masyarakat Jambi, menaruh perhatian terhadap acara-acara tersebut; Bagaimana respon masyarakat Jambi seputar dakwah Islam di TransTV?, dan bagaimana respon masyarakat Jambi terhadap substansi, sistem pengemasan, dan jam tayang, tiga program bermuatan dakwah, terutama Khazanah, Perjalanan 3 Wanita dan halal?.

Penelitian ini sendiri bertujuan, mendalami dan mengkritisi substansi dakwah di TransTV, dengan segala aspek yang melekat di dalamnya. Sebagai substansi yang ditawarkan ke publik, diasumsikan mendapatkan banyak tanggaan dan respon dari kalangan pemirsa, sehingga terjadi suatu pensikapan, penghayatan dan sekaligus daya kritis yang diperlihatkan sehubungan dengan substansi dakwah dalam tayangan tersebut.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan menggunakan teknik analisis kualitatif dan analisis wacana kritis. Kasus yang diteliti melingkupi kajian terutama terhadap tiga program acara bermuatan dakwah Islam di Trans TV (Perjalanan Tiga

Dalam tahapan ini, peneliti mendalami substansi setiap paket bermuatan dakwah, yang meliputi (a) Tema-tema di setiap episode; (b) Metode penyampaian pesan keagamaan; (c) Setting ; (d) Nara sumber; dan (e) Pemanduan acara.

Dalam penelitian ini, media ditempatkan sebagai subyek yang netral. Meskipun harus diakui, bahwa pada setiap acara tayangan, hampir pasti ada muatan kepentingan. Di dalam menyelenggarakan program tayang dan muatan yang disampaikannya, dilihat sebagai fakta sosial,

Pengertian masyarakat lokal, dalam penelitian ini adalah sejumlah figure yang relative mewakili opini public pada masyarakat di provinsi Jambi. Ada beberapa pengertian mengenai public, diantaranya: Publik adalah sejumlah orang yang bersatu dalam satu ikatan dan mempunyai pendirian sama terhadap suatu permasalahan social (Emery Bogardus); Publik adalah: sekelompok orang yang (1) dihadapkan pada suatu permasalahan, (2) berbagi pendapat mengenai cara pemecahan persoalan tersebut, (3) terlibat dalam diskusi mengenai persoalan itu. (Herbert Blumer). Mengenaai Opini Publik, ada beberapa pengertian mengenai hal ini, satu di antaranya adalah yang mengartikan sebagai: pendapat umum yang menunjukkan sikap sekelompok orang terhadap suatu permasalahan. (Prof. W. Doop). Pendapat lain menyatakan, opini public adalah ekspresi segenap anggota suatu kelompok yang berkepentingan atas suatu masalah (William Abig). [1] Dalam penelitian ini, peneliti membatasi pada sekelompok akademisi ( mahasiswa dan dosen) di lingkungan perguruan tinggi IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, dan beberapa mahasiswa STIA Swasta lainnya.

Para akademisi ini selain mempunyai kecenderungan terhadap hal-hal yang bersifat keagamaan juga memiliki wawasan yang cukup untuk membawakan opini masyarakat Jambi pada aumumnya, dalam memberi penilaian terhadap suatu acara dakwah dan komponen yang mendukungnya sehingga memungkinkan peneliti untuk mendapat jawaban yang jujur

Respon tersebut muncul ketika kepada mereka diajukan sejumlah pertanyaan atau yang muncul dalam suatu diskusi (focus group discussion) yang sengaja diadakan oleh peneliti. Sekelompok orang yang dijadikan sasaran wawancara dan atau diajak berdiskusi adalah mereka yang selama ini memberikan perhatian cukup terhadap siaran-siaran bermuatan dakwah di TransTV tersebut. Terutama tentang tiga program dakwah di Trans TV yang notabene adalah acara yang kurang digemari oleh anak muda. Karena mereka biasanya cenderung untuk memilih acara yang menghibur.

Analisis wacana yang digunakan lebih menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Subyek tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Substansi muatan dakwah dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema tertentu, dan strategi-strategi yang melekat di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar substansi yang ada dalam setiap tayangan bermuatan dakwah; batasan-batasan yang digunakan; perspektif yang dipakai, topik yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa media dilihat dalam hubungan kekuasaan.

Analisis wacana yang dimaksudkan dalam penelitian ini, adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subyek (pemanduan) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pemandu dengan mengikuti struktur makna dari keseluruhan ide yang ditampilkan sehingga bentuk distribusi dan produksi ide yang disamarkan dalam wacana dapat di ketahui.

Dalam studi analisis wacana (discourse analysis), pengungkapan seperti itu dimaksudkan dalam kategori analisis wacana kritis (critical discourse analysis-CDA). Pemahaman dasar CDA adalah wacana tidak dipahami semata-mata sebagai obyek bahasa. Bahasa media digunakan untuk menganalisis teks dan konteks.

Dakwah yang ditawarkan TransTV baik Perjalanan Tiga Wanita (PTW), Khazanah, dan Halal ?, dikemas secara modern, kreatif, inovatif dan aktual. Substansi materi yang disajikan biasanya berkisar pada aqidah, akhlak, fiqih dan siyasah, bersifat qadlo’i (menyangkut aspek hukum positif dan bersifat umum) dan diyani (berhubungan dengan moralitas) seperti hukum mengekspresikan cinta-kasih sayang dengan ciuman atau pacaran di tempat sepi), shalat di tempat umum, seseorang yang sudah lanjut usia namun tetap bekerja untuk mencari nafkah, padahal semestinya sudah pension dan sebagainya.

Siaran Bermuatan Dakwah Islam TransTV

Juni-Juli 2009

Paket Acara

Waktu Tayang

Hari Pukul
Perjalanan 3 Wanita Senin 6.00 – 6.30
Teropong Selasa 6.00 – 6.30
Khazanah Rabo 6.00 – 6.30
Perjalanan 3 Wanita Kamis 6.00 – 6.30
Cakrawala Iman/

Pencerahan Qalbu

Jumat 6.00 – 6.30
Halal ? Ahad 6.00 – 6.30

Beberapa diskripsi singkat paket-paket siaran bermuatan dakwah, adalah sebagaimana penjelasan berikut.

Paket Acara: Perjalanan Tiga Wanita
            Perjalanan Tiga Wanita (PTW), adalah nama program siaran yang ditayang setiap Senin dan Kamis pagi jam 06.00-06.30. Acara berdurasi 30 menit minus iklan ini diawali dengan sebuah telop bertuliskan Perjalanan 3 Wanita dengan ilustrasi beragam petualangan ketiga gadis berjilbab menerjang kerasnya alam sekaligus keindahan alam di berbagai pelosok nusantara. Tayangan ini mengandung muatan dakwah. Salah satu indikatornya adalah, adanya penyampaian pesan agama Islam, berupa ayat-ayat al Qur’an yang relevan dengan topic yang sedang diangkat atau pesan langsung oleh pemandu (host) atau oleh seorang narasumber (ustadz). Pesan itu kadang disampaikan pada awal tayang, kadang hanya diselipkan di tengah, kadang di akhir, dan kadang hanya secara tersirat.
            Program ini tampaknya merupakan kelanjutan program sebelumnya bertajuk Perjalanan Islam di Indonesia (PII). Materi program berisi sejarah dan features, yang ditayangkan sejak tahun 2004. Program ini pada dasarnya adalah sebuah mosaik yang mencerminkan sebuah perjalanan Islam, sejak masuk ke Indonesia (abad ke 7 Masehi) hingga wajah kontemporer Islam sekarang. Demikian juga PTW pada dasarnya adalah kisah sejarah, kekayaan dan keragaman budaya bangsa. Dalam PTW juga ditampilkan keragaman, keunikan, dan kekayaan wajah Islam dan bangsa Indonesia. Para reporter PTW melakukan napak tilas ke tempat-tempat yang pernah berperan besar dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara, dengan megangkat kehidupan Islam masa kini, serta profil kelompok muslim baik tradisional maupun modern serta khasanah wisata alam.
            Gaya tampilan PTW adalah peliputan dengan pendekatan sejarah, budaya dan sosio-antropologi, dan bukan pendekatan religi ansich. Dengan pertimbangan itu pula, jika ada praktek-praktek agama yang kontroversial, PTW hanya memotretnya, sejauh praktek itu dianggap cukup signifikan dalam sejarah Islam di Indonesia.
            PTW selama ini menampilkan sebuah potret, yang relatif detail, akurat dan objektif, dalam menggambarkan perjalanan sejarah Islam di Indonesia dan khazanah budaya bangsa, dengan segala nuansa dan aspeknya, yang edukatif, informatif, sekaligus menghibur.
            Dari episode ke episode, PTW sering menceritakan perjalanan penyebaran Islam di berbagai daerah di Nusatara (Indonesia), tradisi Islam serta kesenian yang terkait dengan metode dakwah mereka serta kehidupan komunitas Islam di berbagai daerah yang unik. Di antaranya adalah tentang komunitas Islam Watu Telu di Lombok, komunitas Islam di Papua, di Bali, komunitas Muslim Tionghoa, dan lain-lain. Dalam pembahasan itu, juga diungkap proses penyebaran Islam dan kerajaan-kerajaan Islam yang pernah ada di Sumatra, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Tiga orang wanita petualng di PTW, yang selalu berjilbab dan berpenampilan atraktif dan enerjik, terbiasa dengan naik-turun pegunungan, menyusuri alam terbuka dan hutan belantara, pantai dan sungai-sungai. Wisata alam (tadabur alam) dilakukan dengan kunjungan ke tempat bersejarah, lokasi yang menarik, indah, unik dan menghibur. Seperti ketika perjalanan ke tempat yang banyak bangkai pesawat peninggalan pasukan sekutu pada PD II, masyarakat sekitarnya banyak yang mengambil besi-besi tuanya untuk diolah menjadi kerajinan berupa asesoari yang bernilai jual tinggi; rekreasi ke tempat yang indah dan menakjubkan seperti air terjun, gowa, selat, teluk, kawah gunung, tempat-tempat yang bernuansa mistis, mengunjungi wisata kebun yang memperlihatkan hasil pertanian berupa buah, ikan. Sambil menikmati wisata alam ditunjukkan presenter kekuasaan Tuhan dengan menimbulkan kesadaran bahwa tanpa kerja keras bumi Tuhan tidak akan memberikan hasil yang melimpah.

Salah satu segmen PTW yang bisa diskripsikan penulis adalah  episode 28 Mei 2009, pukul 06.00-06.30 WIB (prime time),  topik: Renungan Catatan Perjalanan Tiga Wanita; Setting: ruang terbuka; Metode : monolog; host: anonym.

Keterangan singkat:

Gambaran umum selama setahun, tiga orang pembawa acara PTW secara bersama-sama mencari, menjalankan  dan mengemas acara PTW bersama produser Trans TV. Kesan-kesan unik, menarik, persahabatan dan kekecewaan diungkapkan tiga presenter PTW secara bergantian. Selama setahun keakraban, kekeluargaan dijalin oleh tiga Host PTW. Kesan-kesan menarik dan baik telah terbangun dalam diri personalitas Host PTW. Sebagaimana ungkapan-ungkapan yang dilontarkan para Host tentang ketiga teman sejawatnya. Menurut Dila,  Dinna sangat cantik, Silvi berpendapat Dina sedikit egois tapi baik benget. Fadila petualang sejati, cuek, perjalanan ke tempat berbahaya, asyik, toboy enak banget menurut Silvi, serta baik dan sensitive menurut Dina. Silvita Wulandari  cantik, keibuan, seperti artis kata Dila, dan baik, sabar, serta pengertian menurut Dina.

Sebagai host PTW adalah tiga serangkai  Fadila (Dila), Silvita Wulandari (Silvi), Dina Febriani (Dinna). Ke tiganya adalah gadis cantik berjilbab yang dengan cerdas, berani, dan berkarakter secara bergantian membawakan acara PTW sesuai dengan segmen yang sedang dihadapi.

Latar:

Backgroud yang menjadi ilustrasi saat penyampaian pesan oleh tiga host PTW ada di ruang terbuka, sambil duduk di suatu tempat bersejarah atau berdiri di antara tangga yang sedang dinaiki atau gunung yang sedang di daki atau sambil jongkok ketika masuk di gua dan sebagainya. Dengan santai dan atraktif host PTW menjelaskan kesejarahan, keunikan dan keindahan alam yang ia kunjungi sambil menunjukkan betapa Agung, Suci, dan Kuasa Allah Yang Maha Esa. Terkadang disertai dengan landasan normatif al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW.

Setting

Liputan utama adalah di ruang terbuka di alam bebas sesuai tema yang diusung.menjadi lebih menarik karena dilengkapi dengan indahnya nuansa alam yang dikunjungi host PTW. Kesan yang ditimbulkan dari desain demikian adalah unik, menarik, mampu menimbulkan keta’juban akan Kuasa Illahi dan Kemaha Besaran-Nya.

Skema dan Teknik Penyampaian Pesan

Diawali dengan cerita sangat berkesan bagi Dina dan Silvie ketika shooting pertama di Semarang. Diikuti dengan tayangan ulang perjalanan ke Semarang para Host PTW.  Dilanjutkan dengan Waktu Dinna bertugas meliput segmen “Segara Anakan di Jatim”. Menurut Silvie, perpaduan telaga, air terjun sangat asik dan indah, karena air terjun langsung turun kelaut. Kemudian segmen ketika Dila berkunjung ke “Pulau Bungin ada di Sumbawa” di mana penduduknya sangat padat, Kambing pun makan kertas, perayaan sunatan masal semua orang keluar semua.

Setelah jeda iklan Silvie cerita tentang segmen yang paling berkesan darinya adalah ketika meliput “Gowa Londa di Baturaja” yang paling nyeremin karena ada peti banyak sekali ada salah satu peti yang dimasukkan baru dua minggu, dan dalam upacara adat banyak sekali babi sebagai hewan korban.

Dilanjutkan dengan segmen ketika Silvie bermain kapal selam, arung jeram, menyelam, yang paling unik arung gelombang di laut. Disertai kejadian berkesan bagi Dina yang sampai dua kali jatuh dari perahu karet. Kemudian diakhiri dengan keta’juban Dina ketika melihat keindahan alam bawah laut, Subhanallah.

Kilas balik tayangan PTW dilengkapi dengan perjalanan Silvie di Tanah Merah Kalimantan; tangga  yang paling berkesan di Sumut harus menaiki sejumlah 700 anak tangga (kapan nyampeknya) untuk sampai ke Masjid dan Makam Di Puncak Gunung Spara.Dila Di Gunung Gede, Dinna  di Gunung Gamalama Di Jember kepleset.

Diakhiri dengan ucapan syukur Alhamdulillah dalam dunia yang fana Allah mengikat tiga Sahabat menuju jalan yang diridlainya, mendapat ilmu, semoga tetap jaya, menemami anda menikmati alam ciptaan-Nya, dan menatap kebesaran-Nya.

Paket Acara: Khazanah

Khazanah, adalah nama program yang juga bermuatan dakwah. Disiarkan setiap Selasa jam 06.15-06.30. Mengangkat tema-tema tertentu dari beragam persoalan keagamaan. Topik untuk setiap episode dieksplorasi dari realitas di masyarakat, kemudian digali melalui proses telaah dari segi hukum, etika, kemaslahatan dan filosofinya. Contoh tayangan dengan topic “Bersuci” atau wudlu. Diawali dengan bagaimana komentar dan pendapat masyarakat dan artis tentang  cara berwudlu yang benar dari proses awal sampai dengan hal-hal yang membatalkan wudlu. Kemudian baru dibahas cara wudlu yang benar menurut al-Qur’an dan Hadis oleh seorang ustadz menyajikan materi, diperlihatkan nilai-nilai manfaat dari setiap tahapan wudlu dan do’a yang dilakukan bagi kesehatan sebagai epilog tema yang diangkat. Sebagai contoh program tayangan Khazanah:

Contoh acara Khazanah, episode  4 Mei 2009, pukul  06.00-06.30 (prime time); topik: Perceraian Pada Kalangan Artis; setting: ruang terbuka dan tertutup; metode: interaktif; host        : anonym.

Keterangan singkat.

Gambaran umum dengan mengaitkan antara variabel keagamaan dalam hal ini perceraian di kalangan artis dihubungkan dengan penyebab keretakan rumah tangga mereka yang diakhiri dengan perceraian. Perceraian dadakan sering terjadi pada kalangan artis, misalnya pasangan artis Feri Maryadi yang mempunyai selang umur yang berbeda. Adanya pihak ketiga -wanita idaman lain (WIL) ditengarai sebagai sebab perceraiannya. Menurut sang istri: Fery selama ini dikenal sebagai suami yang baik dan rumah tangganya rukun-rukun saja, dan tidak pernah bertengkar, tapi mengapa tiba-tiba suaminya menceraikannya?. Di sini diekspose keadaan sang istri yang sempat shok. Menurut Fery sendiri penyebab keretakan keluarganya sudah lama, di antaranya karena ruang geraknya sebagai artis dibatasi istrinya dan sudah tidak ada kecocokan lagi.

Demikian juga Julia Perez dan suaminya, penyebab retaknya rumah tangga disebabkan komunikasi yang kurang lancar karena tinggal di negara yang berbeda dan adanya pihak ketiga. Kesetiaan menjadi tidak abadi, ”aku hanya manusia biasa saat jauh dari suami butuh kasih sayang dan perhatian serta ketulusan”, katanya. Jika hal itu tidak ada, katanya, maka perkawinan menjadi figure cacat ketika itu dirasakan kurang seperti Juve dan Danian.

Diekspose pula perceraian antara artis Dewi Persik-Saiful Jamil. Menurut yang bersangkutan, isteri maupun suami, perceraian adalah jalan terbaik karena sudah dipikir dan dimusyawarahkan dengan matang. Masalahnya, karena perbedaan pendapat yang tidak bisa dikompromikan, sebagai upaya terbaik maka harus berpisah.

Sebagai nara sumber tunggal dalam membahas perceraian ini adalah Ustad Wahfiudin.

Latar:

Backgroud yang menjadi ilustrasi saat penyampaian pesan oleh ustadz Wahfiudin ada di taman terbuka, sambil berdiri dan mengekspresikan angota tubuhnya sang Ustadz menjelaskan maksud dan tujuan diselenggarakan pernikahan, dan jika terpaksa harus bercerai disertai landasan normatif al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW.

Desain Ruangan:

Taman sebagai bentuk ruang terbuka, menimbulkan kesan fresh dan fleksibel ketika ustad Wahfiudin memaparkan tema yang diangkat.

Skema dan Teknik Penyampaian Pesan:

Pertama, penayangan beberapa kasus perceraian di kalangan artis, dan paparan penyebab perceraian; kedua: ustadz Wahfiudin memaparkan bahwa pernikahan adalah ikatan yang kuat atau ibadah yang agung. Keputusan untuk perceraian seharusnya dipikirkan dalam-dalam; ketiga: komentar dari pembawa acara, Kenapa mesti bercerai…Sudah tidak ada kecocokan lagi perbedaan prinsip yang tidak bisa disatukan lagi, padahal dua orang memang beda. Karena pengkhianatan, luntur komitmennya, atau apa… Apakah masih mungkin perceraian diperbaiki? Masih mungkin pernikahan diperbaiki dengan jalan: tobat, minta maaf dengan pasangan, memperbaiki dan menjaga komitmen bersama pasangan. Keempat: ustadz Wahfiudin menyampaikan pesan: Pernikahan adalah  ikatan yang sangat kuat, cinta melibatkan keluarga dua belah pihak, janji kepada Tuhan, perceraian mengakibatkan luka yang dalam bagi pelaku, anak, keluarga kedua pihak dan semua relasi yang berhubungan dengan mereka. Diakhiri dengan pembacaan QS. An-Nisa’ 4:130, “Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan Allah adalah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana”. Dilengkapi dengan sebuah hadis Nabi yang mengatakan: ”yang aku khawatirkan adalah dosa dan perbuatan maksiyat kecil. Orang yang biasa kawin-cerai adalah merendahkan agama”; perceraian merupakan bukti bahwa komitmen dalam agama dan ikatan perkawinan tidak lagi ada kesakralan.

Kelima: pendapat beberapa warga masyarakat, antara lain, jangan bercerai karena proses untuk berlangsungnya perkawinan itu panjang; waktu menikah disaksikan banyak orang dan dido’akan dan direstui banyak orang. Namun mengapa ujian dan cobaan dalam berumah tangga membuat orang begitu mudah memutuskan untuk bercerai. Terakhir, pembawa acara menegaskan bahwa: cerai bukan satu-satunya jalan keluar, ada hakam, orang tua dan pihak penengah yang bisa dimintai nasehat dan pertimbangan atau pisah ranjang dulu, jika merasa kangen bisa kembali lagi kepada pasangannya. Percayalah, cinta kalian masih ada, coba anda temukan kembali cinta itu. Sadarlah kita punya kelebihan dan kekurang masing-masing, bangunlah jalinan komunikasi dengan baik disertai niat bai, beribadah dan do’a bersama, jangan melupakan Allah dalam membina keluarga.

 
Paket Acara: Halal ?
            Program tayang Halal ?, dari namanya sudah menunjuk adanya muatan dakwah di sana. Kata ”halal” diikuti tanda tanya, memang dimaksudkan untuk membahas suatu topik tertentu berkenaan dengan suatu jenis makanan, yang masih perlu diklarifikasi hukum halal-haramnya. Tayangan ini mengeksplorasi kemampuan dan pemahaman keagamaan  serta penguasaan materi keagamaan yang dipandang sangat mendasar dari masyarakat muslim pada umumnya. Hal ini ditunjukkan pengemasan program yang biasanya diawali dengan ulasan tema yang diangkat kemudian acting. Sang ustadz kemudian menyajikan tema yang diangkat.

Contoh acara: Halal ?, episode  27 Mei 2009, pukul 06.00-06.30 WIB; topik:  Ekspresikan Cintamu; setting: ruang terbuka dan tertutup; metode: interaktif; host: anonim.

Keterangan singkat

Gambaran umum realitas di masyarakat, ditampilkan pasangan muda-mudi yang saling bermesraan di tempat umum, ada juga yang melakukannya ditempat yang sepi. Kemesraan yang dilakukan pasangan muda-mudi pada waktu pacaran ini terkadang berlebihan dan melanggar aturan norma sosial serta agama. Begitu juga suami-istri yang halal untuk bermesra-mesraan, realitasnya semakin mengendur seiring bertambahnya usia pernikahan mereka. Sebagai nara sumber tunggal dalam membahas ekspresi cinta ini adalah Ustad Ahmad Al- Habsyi

Latar

Backgroud yang menjadi ilustrasi saat penyampaian pesan oleh ustadz Ahmad Al-Habsyi ada di ruang tertutup, sambil duduk di kursi sofa berwarna kuning sang Ustadz menjelaskan bagaimana ekspresi cinta itu halal untuk dilakukan  suami-istri dan menjadi haram dilakukan jika tidak pada tempatnya. Disertai dengan landasan normatif al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Mengenai larangan laki-perempuan berkhalwat.

Desain Ruangan

Dalam ruang yang tertutup, yang dilengkapi kursi sofa, sebuah meja, dihiasi bunga, dengan backgroud hiasan dinding. Sang Ustadz memakai baju gamis dan berkopiah. Desain ruangan yang  demikian menimbulkan kesan formal dan profesional.

Teknik Penyampaian Pesan

Diawali dengan sebuah prolog dari host: Pernikahan menyebabkan hal yang haram menjadi halal. Manusia mempunyai banyak kecenderungan mengekspresikan perasaannya (pada orang lain). seperti ekspresi cinta pada pasangannya: ingin dicintai, mencintai. Ekspresi itu boleh dengan berbagai cara: berupa perhatian, kata lemah lembut, bermesra-mesraan. Bentuk bermesra-mesraan bisa dilakukan dengan selalu berdua, nyaman, romantis, manja dan dimanja, dan sebagainya. Berikutnya, ustadz Ahmad Al Habsyi membacakan QS. Ar Rum 21, artinya: “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan di antaramu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. Ustadz selanjutnya menyampaikan pesa, bahwa tumbuhnya rasa kasih-sayang pada satu pasangan adalah wajar pada masa pacaran, tapi sayang setelah menikah menjadi semakin kendur. Menjaga kemesraan bisa dilakukan dengan komunikasi, atau makan berdua meski sudah punya anak. Kemesraan adalah bumbu keharmonisan keluarga, Mesra adalah tergantung pandangan yang ada, misalnya dengan kata-kata dan pengorbanan yang dilakukan. Bermesraan di depan orang banyak, bagaimana menurut Islam?, jelas tidak diperkenankan. Namun pernikaham mampu merubah yang tadinya haram menjadi halal, berpegang tangan, berpelukan, berciuman menjadi halal, tetapi tetap tidak boleh dilakukan di depan umum. Bermesraan identik dengan bersentuhan fisik. Islam menyarankan bermesraan sebagai bentuk kepedulian satu dengan yang lain, menjaga kemesraan, saling perhatian, rindu, kangen dan sebagainya

Pandangan anak-anak mereka (artis): “saya melihat kedua orang tua saya tidur berpelukan, menurut saya hal itu jarang dilakukan pada orang tua yang lain”. Sementara yang lain mengungkapkan “lucu aja saya ngeliat orang tua saya mesra menonton berdua, saya senang tapi lucu karena sudah lama mereka menikah sekitar 20 tahun. Tapi hubungan mereka masih mesra. Nabi mengatakan: Sesungguhnya lelaki yang memandang istrinya dan sebaliknya maka Allah akan memberikan Rahmat-Nya, jika saling memegang tangan maka akan dihapus dosanya. Mesra ditempat umum, jangan terlalu berlebihan. Asal ditempat aman dan tidak menimbulkan ekses negatif. Misalnya Nenek saling menyuapi tidak apa-apa.

Terakhir, setelah jeda iklan Ustadz Ahmad Al Habsyi berpesan: jangan menunjukkan aurat di depan umum atau anak-anak, jika hal itu dilakukan berarti telah terjadi krisis. Hubungan suami-istri yang halal, ditampilkan kepada umum bisa menjadikan dosa, karena membuat orang menjadi terbakar syahwatnya, menjadi dosa bagi kita yang melakukannya. Cinta yang langgeng butuh menjaganya secara ekstra. Cinta sejati pasti tidak luntur, tindakan spontan dan tidak dibuat-buat, ekspresi pegangan tangan, ciuman biasa dan sebagainya. Aisyah menceritakan “Nabi biasa meletakkan kepalanya dipangkuanku meskipun aku sedang haid, kemudin beliau membaca al-Qur’an”. Sebagai penutup ustadz al-Habsy menegaskan, bahwa  kemesraan merupakan rahmad-Nya dalam bentuk komunikasi,  saling percaya. Masalah besar dikecilin, melalui komunikasi yang baik. Kemesraan juga bisa menjadi hina dan dosa bila dilakukan tidak pada tempatnya, misalnya di tempat umum, tidak malu dihadapan umum.

Responsi

Dari hasil wawancara dan diskusi terfokus dengan para responden, yang mengusung opini publik masyarakat Jambi, bisa dikemukakan beberapa hal: pertama, masyarakat Jambi secara umum merespon secara positif terhadap tayangan dakwah Islam di TV nasional. Karena karena tayangan dakwah Islam di TV lokal, dinilai masih sangat terbatas, dan kurang variatif. Pada TV nasional, materi-materi yang disajikan, tema, jam tayang dan kemasannya lebih variatif. Sementara narasumbernya dinilai cukup professional. Pada umumnya responden juga tertarik pada program dakwah TV nasional  dengan pendekatan dialog interaktif, karena bisa memberikan wawasan yang lebih luas dari sisi kompleksitas masalah yang timbul di masyarakat, dan keluasan pembahasan oleh pembicara (nara asumber), seperti “Mama dan Aa’ Curhat Dong” (Indosiar). Dan program dakwah yang mengangkat kasus-kasus riil di masyarakat melalui penelusuran yang panjang tentang asal-muasal problem oleh pengusul (masyarakat) dibantu produser TV sehingga kasus tersebut tuntas dan menumbuhkan kesadaran keagamaan bagi orang yang berkasus, misalnya acara Realigi (Trans TV).

Kedua, respon masyarakat Jambi tentang tema, materi/substansi, sistem pengemasan, dan jam tayang, tiga program dakwah Islam di Trans TV adalah (a) Tentang tema dan substansi materi PTW responden berpendapat PTW identik dengan dakwah jalan-jalan (safar) ke berbagai tempat wisata yang bernilai sejarah, tempat rekreasi, tempat refreshing dan liburan. Dakwah yang dikemas demikian menarik, bagus, tapi secara formal pesan dakwahnya kurang. Sebagian reponden kurang setuju terhadap petualangan tiga wanita dalam PTW karena kesannya kurang bagus, secara implisit berarti mengajak wanita untuk bebas atau membiasakan jalan-jalan atau melegitimasi wanita suka berpetualang, padahal wanita bertanggung jawab lebih besar dalam mengelola rumah tangganya. Sebaliknya sebagian responden justru merespon positif acara PTW yang ingin menunjukan bahwa wanita itu juga kuat, dengan demikian PTW mendongkrak citra wanita yang terpuruk, lemah, manja, tidak tegas, tidak mampu berdikari dan menggantungkan kepada laki-laki dan sebagainya.

Reponden pada umumnya mengatakan substansi materi Khazanah cukup jelas dilihat dari sisi masalah, hukum, respon masyarakat di TV disertai dengan penjelasan yang cukup dan tegas oleh ustadz-ustadz yang membahas persoalan dimaksud, dengan dalil ayat Al-Qur’an dan Hadits yang pas sesuai tema dan materi yang diangkat. Misalnya tema Jilbabku Mahkotaku; Repotnya menjadi Cantik; Menyambung Rambut; Mencat Kuku; Face Book.

Tema dan substansi acara Halal ? pada umumnya cukup menetralisir hal-hal yang selama ini dianggap kontroversi, lebih mendiskripsikan secara apik keragaman fenomena pemahaman keagamaan yang ada di masyarakat, namun demikian masih menyisakan pertanyaan bagi pemirsa karena belum bisa menemukan solusi atas beberapa persoalan penting, di samping ada juga beberapa hal tidak cukup jelas dari aspek hukumnya terhadap sesuatu produk. Misalnya bahasan tentang bayi tabung, penggunaan susuk pelaris.

Respon Masyarakat Jambi tentang kemasan tiga paket acara  bermuatan dakwah di TransTV: Perjalanan 3 Wanita, yang memilih wanita sebagai pembawa acara, menurut sebagian besar responden mengatakan bahwa pembawa acara wanita menjadi daya tarik tersendiri bagi segmen pemirsa. Dengan memakai wanita muda sebagai figur da’inya, tidak lain sebagai daya tarik dengan image yang dibangun atau kesan yang dibangun adalah sejumlah anak muda menjadi penerus dakwah. Karena jika dipilih yang lebih tua, secara fisik tidak akan kuat, untuk naik gunung turun ke laut, dan sebagainya. Mengapa dipilih perempuan, karena nama acaranya memang Perjalanan “tiga wanita”. Selain itu wanita identik dengan menyukai aktifitas jalan-jalan, shoping, menyukai wisata yang bagus di daerah-daerah tertentu bisa menjadi wahana refreshing, menambah pengalaman dan menawarkan tempat-tempat yang patut untuk dikunjungi, bukan sekedar shoping.

Image dan kesan yang ingin ditimbulkan PTW tampaknya diperuntukkaan kalangan anak muda, untuk menjadi penerus dakwah, dan mempunyai idealisme. Sementara untuk menjalankan tugas naik gunung, berjalan-jalan ke laut membutuhkan, membuka mata akan kebesaran ciptaan Ilahi. Di sana membutuhkan fisik yang kuat dan hal itu bisa dilakukan oleh kalangan anak muda. Pemberian perean perempuan juga sebagai bentuk emansipasi dan upaya menghilangkan bias gender. Sistem pengemasan yang dibuat pada setiap segmen PTW tiga orang pembawa acara dibuat terpisah-pisah tugasnya. Menurut sebagian besar responden: jika tiga orang dijadikan satu dalam membawakan acara PTW menjadi tidak menarik, dengan diversifikasi objek meminimalisir bias, dan berusaha untuk memunculkan kelebihan masing-masing pembawa acara.

Terlepas dari sisi negative di mata sebagian masyarakat Jambi, secara umum responden mengakui, bahwa kemasan paket bermuatan dakwah pada  PTW, Khazanah, dan Halal ? adalah kemasan yang menarik, orisinal dan trendy. Durasi yang relatif tidak lama, yakni 30 menit adalah cukup, sehingga tidak membosankan. Materi juga dikemas secara dinamis, tidak monoton, dan tidak terkesan menggurui. Misalnya juga pada paket acara Teropong Iman oleh Aa’ Jimmy, yang disetting  dengan gaya konyol. Format dakwah Khazanah seperti itu tidak membosankan, lebih interaktif, variatif. Seperti pada liputan aktifitas makan atau minum sambil berdiri, bencong/ waria/cowok berinisial wanita, memakai tattoo, dan sebagainya.

Respon Masyarakat Jambi tentang jam tayang tiga program dakwah Islam di Trans TV, perjalanan tiga wanita, khazanah, halal? yang ditayang pada jam 06.00 sampai dengan 06.30. Sebagian besar responden (perempuan) berpendapat bahwa waktu tayang tiga program dakwah Trans TV tersebut adalah kurang tepat dan merupakan jam-jam sibuk. Bagi seorang ibu harus beraktifitas memasak dan  mempersiapkan anak ke sekolah sambil menonton TV. Responden  mengusulkan lebih baik PTW disiarkan siang hari, di mana aktifitas menonton bisa dilakukan sambil bersantai. Sementara Khazanah dan Halal ? diusulkan tayang pada menjelang maghrib, setelah kerja sambil santai menunggu maghrib, itu lebih menarik, katanya. Jika ditayangkan pada jam lima pagi, penonton sangat menyayangkan karena tidak bisa menonton acara dakwah Islam favoritnya di stasiun TV Nasional lainnya.

Adapun aspek-aspek yang mempengaruhi dinamika dakwah Islam di TransTV, dalam pandangan sebagian warga Jambi adalah: (a) tema dan materi yang diusung mampu memberikan jawaban Islam terhadap berbagai permasalahan umat. KHususnya [ada paket acara Halal, Khazanah dan Pencerahan Qalbu; (b) Paket-paket acara bermuatan dakwah TransTV dipandang tidak hanya bersifat konvensional, sporadis, dan reaktif, tetapi lebih bersifat profesional, strategis, dan pro-aktif; (c) kemampuan mengemas acara dakwah dengan pola mengintregasikan antara wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam berbagai perencanaan dakwah yang ingin disajikan, melalui pendekatan dakwah yang progresif dan inklusif bisa dilihat pada tayangan Perjalanan Tiga Wanita (PTW); (d) dukungan para juru dakwah yang dinilai memiliki kualifikasi dan persyaratan akademik dan empirik. Narasumber dakwah di Trans TV, dipandang memenuhi harapan pemirsa, dan berdiri di atas emua golongan atau paham dalam Islam,  bisa dilihat dari tampilan ustadz Mahfiudin,  KH. Mustafa Ya’qub, ustadz Ahmad al-Habsy dan ustadz Hidayat, Yusuf Mansur; (e) telah menggunakan pendekatan dua pola, yakni dakwah struktutural, menekankan aspek normatif dan lebih bersifat top-down, dan sekaligus dakwah kultural yang menekankan aspek historis bersifat buttom-up. Ciri lain dakwah cultural adalah bersifat akomodatif terhadap nilai budaya tertentu secara inovatif dan kreatif tanpa menghilangkan aspek substansial keagamaan.

Analisis

Sebuah tradisi secara esensial terdiri dari wacana-wacana yang berusaha menginstruksi para praktisinya mengenai bentuk yang benar dan tujuan dari suatu praktik  tertentu  yang persis karena ia diciptakan, memiliki suatu sejarah. Wacana-wacana ini berhubungan secara konseptual dengan masa lalu (ketika praktek yang bersangkutan dilembagakan, dan darinya pengetahuan tentang isi dan pelaksanaannya yang tepat ditransmisikan) dan masa depan (bagaimana isi dan praktek itu dipelihara sebaik-baiknya dalam jangka pendek atau jangka panjang , atau mengapa ia harus dimodifikasi atau ditinggalkan) melalui masa sekarang (bagaimana ia dihubungkan dengan praktik-praktik lainnya, lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi sosial).  Suatu tradisi discursive Islam sebenarnya adalah suatu tradisi wacana Muslim yang mengarahkan dirinya kepada gambaran-gambaran tentang masa lalu dan masa depan Islam dengan merujuk kepada suatu parktik tertentu yang ada di masa sekarang. (Mujiburahman, 2008: 39).

Karena tradisi agama, bagi Asad, adalah “wacana” yang harus dipelajari seorang peneliti (antropolog), ketika hendak mengkaji fenomena keagamaan dalam suatu masyarakat, maka dia harus memiliki pengetahuan tentang ajaran-ajaran agama tersebut, termausk argumen-argumen yang mendasarinya. Maka kajian agama harus dilihat sebagai kumpulan doktrin dan sebagai realitas social tertentu.

Dengan melihat pertimbangan-pertimbangan seperti itu, maka apa yang tersaji melalui tayangan P3W, Khazanah, Pencerahan Qalbu, dan Halal ? sebagaimana dimainkan TransTV, dan dengan mendasarkan komentar dan opini yang berkembang dalam diskusi terfokus para akdemisi, maka bisa diuraikan beberapa wacana seperti di bawah ini.

  1. Pengembaraan model Islam kultural.

Terutama pada tayangan-tayangan PTW, Khazanah, Pencerahan Qalbu, memasuki ranah Islamisasi yang bergerak pelan tanpa henti. Bergerak, dalam penyampaiannya berlangsung terus-menerus tanpa ada yang bisa menghentikan. Karena berorientasi pada penanaman moral, sehingga tidak mungkin ada orang berani melarang. Dakwah itu berjalan smooth, dengan materi-matreri yang yang tidak mengundang kontroversi. Muatan dakwah TransTV menjauhi pemihakan politik dan golongan. Topik-topik yang diangkat juga bukan masalah-masalah khilafiah, secara teologis, sehingga terhindarkan dari reaksi publik untuk ”pro-kontra”. Kondisi ini, yang oleh Emersoon, adalah merupakan sumbangan sangat besar bagi sebuah gerakan Islam kultural. Suatu gerakan, yang kalau boleh disebut demikian, untuk memperkokoh kesalehan religius, dalam arti seluas-luasnya.Dengan mempertimbangkan peran Islam di dunia modern,  maka sebuah Islam yang lebih simpatik dan lebih substantif bisa dihadirkan. Pada saatnya juga Islam yang demikian itu dapat membantu mengakhiri tahun-tahun getir kesalingcurigaan antara Islam dan negara. (Donlad K. Emmersson, dalam: Bachtiar Effendi, 2009: 47). Diskursus ini, yang dalam pengamatan Emmersoon sudah terlihat sejak 1980-an, bahwa Islam di Indonesia sedang menegaskan dimensi kulturalnya. Dengan dimensi ”Islam kultural” ini, Islam di Indonesia benar-benar hidup dan berkembang baik. Penguasa, menurutnya, sama sekali tidak punya kepentingan untuk menentang kesalehan religius seperti ini. (Bachtiar Effendi, ibid: 48). Dalam dimensi kultural, dakwah tidak bisa secara langsung bisa dilihat efeknya. Tidak seperti guru yang mengajar di depan kelas, kemudian menguji kemampuaan siswanya di akhir smester, misalnya. Dakwah hanya bisa diukur efeknya, setelah dalam kurun waktu tertentu, di mana terjadi perubahan dalam pola beragamaan dalam masyarakat, dan telah lebih baik dari kurun waktu sebelumnya.

  1. Penguatan Islam mainstreem.

Segmentasi pasar, adalah umat Islam, yang mayoritas berpaham sunni atau ahlusunnah waljamaah. Materi bahasan dalam kebanyakan episode adalah domain Islam paham tersebut. Ini dikuatkan dengan penampilan para nara sumber, yang hampir semuanya adalah kalangan yang keahliannya tidak jauh dari sekitar paham sunni dan atau ahlisunnah waljamaah tersebut. Para nara sumber di media ini, adalah: ustad Wahfiudin, Ustadz Yusuf  Mansyur, ustadz Mustafa Ya’qub, Ustdz Hidayat, mereka adalah yang relatif bisa diterima oleh ”pasar”. Karena sebagai program apapun, yang ditayangkan oleh perusahaan ini, adalah menjadi ladang bisnis, atau setidak-tidaknya tidak merdampak merugikan secara finansial bagi perusahaan tv..

  1. Kelanjutan Tradisi Islam.

Dasarnya adalah tradisi keagamaan, terlepas dari motivasi lain di luar konteks dakwah keagamaan, si pemrakarsa atau produser melemparkaan wacana mengenai pentingnya menyebarluaskan pesan-pesan keagamaan. Berdakwah dalam hal ini, adalah bagian dari tradisi Islam. Sebagai poduser ia berhitung mengenai segmentasi pemirsa, di mana bagian terbesar adalah masyarakat beragama Islam, yang menjadi bagian penting pemelihara tradisi berdakwah tersebut. Perangkat siaran menjadikan media transmisi tradisi berdakwah tersebut, kepada khalayak. Karena kekuatan TV adalah pada jangkauan pemirsa yang melampui batas-batas wilayah provinsi, wilayah kultural lokal. Tv memiliki kekuatan melintas batas budaya dan administrasi (borderless).

  1. Inovasi dakwah, antara Seni dan Teknologi Tinggi.

Dakwah adalah bagian dari cara mempertahankan tradisi. Karena sejak awal lahirnya Islam, agama ini disebarluaskan melalui dakwah. Dari adanya dakwah inilah, maka agama Islam dikenal sebagai agama missioner. Di maanpun dan kapanpun selalu ingin survive. Tayangan sebagaimana diprogram oleh TransTV, adalah pelanjutan dari tradisi tersebut, yang terus ingin survive. Dakwah dalam ini digarap dengan menggabungkan antara pesan agama, seni (art) dan pekerja seni dan teknologi sistem elektronik. Semsta-mata dalam rangka menarik perhatian pemirsa. Paketi ini dikemas sedemikian rupa, hingga selalu memperlihatkan sebagai sesuatu yang baru. Sebagaimana diketahui, bahwa dalam karya seni, tidak mengenal pengulangan, karena hal itu akan membosankan, dan ditinggalkan pemirsa. Seperti disebutkan di setiap akhir episode, bahwa paket muatan dakwah yang baru saja disajikan, melibatkan sekian komponen kru, seperti pengilustrasi musik, pelibatan artis (sebagai tamu atau presentar), tim riset, penata gambar, penyedia peralatan siaran, ahli artistik, penata busana, penata grafis, penyunting gambar, quality control, tim library. Kru itu diwadahi oleh Pusat Pengembangan Kreativitas Produksi. Keberadaan unit-unit produksi itu ada di setiap paket bermuatan dakwah, baik P3W, Khazanah, Teropong, dan Halal ?.

Dakwah dengan mempekerjakan sekian banyak orang yang berkeahlian berbeda satu sama lain tersebut, ditemukan dalam paket PTW, Khazanah, Teropong dan Halal?. Presenter dengan dandanan muslimah, tetapi aktif simpatik dan pertualng ala pecinta alam. Tentu gaya seperti ini, memikat pemirsa anak-anak muda. Topik dan lokasi untuk setiap episode selalu berbeda. Kadang di pegunungan, pantai, atau mall, untuk mencitrakan sebuah keindahan alam, dan realitas kehidupan masyatrakat, dan kadang penonton diajak memasuki sebuah museum, dan dengan mewawancarai seorang penjaganya.

  1. Penyampaian pesan secara non verbal.

Bahwa pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dengan tidak secara verbal, adalah nilai tersendiri dalam P3W.  Topiknya sendiri, yakni ”Perjalanan 3 Wanita”, hanya sebutan untuk menunjukkan sebuah aktivitas tiga orang perempuan, yang tidak langsung memperlihatkan ”perjalanan dalam rangka apa” atau perjalanan ke mana, dan siapa yang disebut tiga wanita itu. Pemirsa yang hanya melihat selintas, akan penasaran, untuk berkeinginan tahu lebih jauh. Kemudian ketika yang ditayangkan adalah suatu panorama alam, seperti pada episode 2 Juli 2009 tentang Perjalanan ke pulau-pulau kecil di Sulsel. Fenomena ini, seperti tidak ada hubungannya dengan dakwah. Simbol Islam yang pertama memberi kesan hanyalah, tiga perempuan itu mengenakan jilbab. Kemudian mereka mengajak berjalan-jalan ke tempat bersejarah, dengan kamera yang mengarahkan ke berbagai sudut, sehingga gambaran keindahan yang diperoleh sang pemirsa itu menjadi utuh. Barulah sebuah ayat al Qur’an dimunculkan, dengan kandungan yang mengajak ”agar manusia mengingat akan kebesaran Allah”, dengan ciptaannya yang terhampar di muka bumi. Dengan demikian pemirsa terhindar dari kejenuhan, dan sekaligus tidak merasa digurui.

  1. Penyederhanaan isi pesan.

Sumber ajaran dengan mengangkat satu atau dua ayat al Qur’an atau Hadits Nabi. Suatu pesan yang ingin dibumikan, dicarikan relevansinya dengan budaya dan kejadian yang sedang menjadi pembicaraan di masyarakat. Seperti bisa dilihat pada episode Prita Mulyasari, yang ditayangkan pada episode akhir Juni 2009.  Topiknya adalah penegakan etika dan keadilan menurut Islam. Kasus Prita sengaja diangkat, karena di balik kasus itu, ada makna tersirat yang bisa ditarik, yang dalam perspektif agama disebut hikmah. Artinya, ada pelajaran keagamaan untuk membumikan pesan tersebut, karena isu ini sedang hangat-hangatnya di masyarakat. Seperti diketahui, saat itu, yakni pada awal bulan Juni 2009 kasus Prita cukup menghebohkan, gara-gara surat elektronik yang ia layangkan ke media internet mengenai pengalaman memperoleh perlakuan buruk di sebuah rumah sakit. Isi surat itu mengeluhkan pengalammnya ketika ia berobat di RS tersebut, dengan gejala sakit tertentu. Namun Prita tidak memperoleh informasi yang benar dari dokter yang memeriksanya, bahkan ia harus diopname tanpa mengetahui penyakit yang sebenarnya. Sampai akhirnya ia menuangkan uneg-unegnya melalui surat elektronik. Karena surat itu bersifat terbuka, di belantara situs internet, telah membuat pihak RS merasa dirugikan, kemudian mengadukan Prita ke pihak berwajib, dengan tuduhan mencemarkan nama baik. Terlepas dari persoalan hukumnya, masalah itu diangkat dalam episode Khazanah, dan dimintakan komentar dari warga masyarakat berbagai kalangan, seperti mahasiswa, pedagang, dosen, pelajar, dan sebagainya. Terhadap kejadian yang menimpa Prita, rata-rata mereka menyayangkan sikap RS Omni yang menuntut soal ”pencemaran nama baik” tersebut. Sementara di sela-sela wawancara itu, dimunculkan seorang narasumber, ustadz Wahfiudin. Sang ustadz antara lain mengatakan bahwa: mengadu adalah hak warga yang menerima pelayanan, dan dalam mengadu sebaiknya harus dengan etika, apakah akan menyakiti orang lain. Demikian juga pihak pelayan sudah seharusnya, bersikap jujur dan adil. Jujur dalam memberi keterangan, dan adil dalam mensikapi setiap orang/pelanggan. Jangan karena dirugikan kemudian main tuduh kepada orang lain, dan jangan pula melayani kepentingan hanya kepada pihak yang lebih besar uangnya, dsb. Kemudian dikeluakan ayat surah an Nisa/4: 58:

Sungguh Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara  manusia hendaknya kamu menetapkan dengan adil. Sungguh Allah, sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh Allah maha Mandengar, Maha Melihat.

  1. Memposisikan ”nara sumber” secara tidak dominan.

Dari sekian banyak episode bermuatan dakwah di TransTV, selalu ditampilkan seorang atau lebih dari satu nara sumber. Kadang suatu tayangan sangat dominan pada visualisasi dan kata, tanpa nara sumber. Seperti pada episode PTW  episode 16 Juli 2009 bertema Perjalanan berhikmah di Jatim. Tayangan ini  muncul tanpa nara sumber. Tetapi muatan dakwahnya terlihat pada endingnya. Setelah pemirsa diajak berkelana di sana sini, akhirnya hostnya yang menyampaikan pesan agamanya. ”Betapa kita harus bersyukur atas karunia Tuhan berupa keindahana alam, dan kita diberi kesempatan menikmatinya”. Main set dakwah tanpa menempatkan narasumber sebagai faktor dominan, bukan berarti mengecilkan peranan mereka, sebagai ulama, pemegang otoritas pengetahuan agama. Namun ini suatu upaya untuk tidak membentuk opini pada pengkultusan pada seseorang. Sebab, pengalaman seperti itu sudah sering terjadi, di mana seorang da’i yang sudah sangat kondang, bahkan dijuluki ”da’i sejuta pemirsa”, tetapi tiba-tiba kehilangan kharisma, hanya karena ia berpoligami, suatu perbuatan yang sifatnya ”melawan arus” opini publik. Terlepas dari masalah pro-kontra tentang poligami, profil da’i yang sudah terlanjur ditempatkan sebagai orang terhormat dan tausyiahnya ditunggu-tunggu setiap hari, namun seakan jatuh nama karenanya, dan tausyiahnya tidak lagi dinanti-nanti pemirsa. Pihak manajemen televisi yang sudah biasa menampilkan sang da’i tersebut, tentu ikut menanggung beban moral dan resiko ditinggal pemirsa.

8. Dakwah sebagai Simbol Gaya Hidup

Terlepas dari seberapa besar kekuatannya dalam mempengaruhi secara positif perilaku masyarakat, sebagai individu maupun sebagai kelompok. Di dalam konteks perkembangan image diri, telah menemukan simbol baru gerakan dakwah yang akomodatif dengan gaya hidup elitis dan akademis. Kegiatan dakwah TransTV itu sendiri, dengan gaya tayangan yang melibatkan para selebriti dan sisem animasi grafis, ilustrasi musik, dan liputan di ruang terbuka, menjadi bagian dari simbol gaya hidup Muslim modern.

Mengenai apa itu simbol maka bisa kita rujuk pendapat dari William A. Folley (1997: 26); “A simbol is a sign in which the relationship between its form and meaning is stricly conventional, neither due to physical similarity or contextual constraints”. Jadi sebuah simbol adalah sesuatu yang akan memiliki makna apabila sesuatu itu dihubungkan dengan hal yang lain. Pemberian makna ini tentu saja mengacu kepada konteks sosial-budaya masyarakat si pemilik simbol. Mungkin saja sesuatu itu oleh sekelompok masyarakat dianggap sebagai simbol yang penuh makna, akan tetapi bisa saja, objek yang sama itu tidak memiliki makna apa-apa atau hampa makna, dalam pandangan masyarakat yang lain. Tayangan bermuatan dakwah TransTV bisa jadi dianggap sebagai salah satu simbol gaya hidup bagi masyarakat Indonesia, karena dia mampu menampilkan “agama” sebagai bagian dari status social dan harga diri.

Seperti diuraikan dalam sebuah buku yang dipublikasi KODI DKI, bahwa di tengah arus modernitas, agama kini tidak sekedar menjadi acuan normatif kelompok masyarakat marginal, tapi sudah menjadi dignity bagi masyarakat profesi. Kalangan eksekutif muda, kalangan akademisi, bahkan kalangan profesi dunia hiburan yang berpenghasilan spektakuler, merasa terbangun image dirinya jika telah menjalankan tuntunan-tuntunan normatif keagamaan. Mereka merasa terbangun image dirinya jika telah menjakankan ibadah haji, jika memakai baju koko, menghadiri momen-moment peringatan hari besar keagamaan, buka puasa bersama, menyelenggarakan pengajian di kantor atau di kompleks perumahannya, dsb. (KODI DKI, 2007: 12).

9. Antara Bisnis dan Dakwah.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa untuk setiap program acara yang ditayangkan melalui TV, termasuk acara bermuatan dakwah oleh TransTV, memerlukan pembiayaan yang amat besar. Di samping untuk proses produsksi, adalah untuk menjaga kelangsungan, menjaga kualitas, menemukan ide baru untuk setiap episode, melengkapi atibut, pemeliharaan peralatan elektronik yang harus dalam kondisi fit dan ready, pengerahan sejumlah orang profesional atau berkeahlian, dan banyak lagi pekerjaan yang harus perfect. Tidak satu unit kerja produksi yang boleh dilewatkan, karena satu kelemahan, misalnya sang presenter tiba-tiba jatuh sakit, maka satu paket program bisa tertunda pengerjaannya dan mungkin menunda jam tayangnya.

Dalam perekonomian yang sehat, stasiun televisi dapat menjadi tambang emas, namun sebaliknya dalam perekonomian yang lemah, stasiun televisi hanya akan menghabiskan dana yang besar. Menjalankan suatu program, memerlukan imajinasi dan gairah yang tidak boleh kendor. Para anggota kru suatu program haruslah terdiri dari orang-orang yang kaya gagasan, dan penuh energi. Selain itu, TV (nasoional) menggunakan gelombang udara publik, sehingga TV mempunya tanggungjawab kepada pemirsanya melebihi bisnis lainnya dalam amsyarakat.( Morisson, 2008: 1).

Program acara televisi adalah juga berada dalam persaingan ketat, bukan saja persaingan antar stasiun televisi sendiri, tetapi persaingan dengan acara-acara lain dalam rangka merebut pasar. Karena semakin banyak pemirsa, akan semakin mengundang masuknya banyak iklan, dan masuknya iklan berarti pemasukan dana. Semakin besar dana masuk, berarti semakin terjaga kelangsungan acaranya dan pengembangannya, bahkan sumber benefit bagi perusahaan. Sementara kegiatan dakwah, adalah suatu penyampaian ide atau pesan moral, yang pada dasarnya terjauh dari motif keuntungan secara finansial. Di sinilah tantangannya, yakni bagaimana kemasan dakwah TV, seperti TransTV, mampu menempatkan diri sebagai pengawal moral sekaligus sebagai ”ladang bisnis”. Masalah ini tentu tidak bisa begitu saja mengalir, tanpa suatu keberanian menghadapi resiko, yaitu resiko tergelencir dari nilai-nilai moral, dan menemukan solusi-solusi baru untuk suatu problem yang akan muncul kemujdian.

10. Pasang Waktu: Prime time

Pilihan waktu tayang bagi pengelola stasiun televise adalah sesuatu yang sangat berarti. Pertimbangan utamanya adalah pada nilai ekonomi. Bagaimana agar perusahaan bisa tetap survive, dan yang lebih dari itu adalah, agar acara yang ditayangkan menjadi sumber keuntungan. Walau harus diakaui, adakalanya pihak pemilik TV harus menyediakan waktu, kalau tidak boleh disebut mengorbankan waktu, dengan meliput moment tertentu karena alasan kepentingan kemanusiaan, misalnya.

Adalah suatu keberanian bagi pihak TransTV, menempatkan hampir semua paket acara bermuatan dakwah, pada prime time, yaitu pukul 06.00-6.30. WIB. Setidaknya untuk masyarakat pada wilayah Indonesia bagian barat, terutama Jawa dan Sumatera, Kalimantan. Bagi masyarakat ujung Jawa Timur, waktu tersebut belum terlalu siang, dan bagi masyarakat di ujung barat Sumatera, seperti Aceh, juga tidak terlalu pagi. Di tiga pulau inilah, penduduk Indonesia, relative terkonsentrasi.

Waktu pagi hari, adalah saat di mana rata-rata orang belum memasuki aktivitas keseharian pekerjaannya, mereka masih berkesempatan memanfaatkann waktunya untuk nonton siaran televise. Lebih banyak dibandingkan kalau tayangan disiarkan antara jam 00.00 – 04.00 misalnya.

Keberanian itu punya arti tersendiri, dalam konteks dakwah keagamaan. Melawan fakta, tentang rendahnya “rating” siaran dakwah di televise (lihat, hasil penelitian Sunandar, 2008). Data yang dikemukakan Sunandar memang lebih banyak ditujukan pada siaran keagamaan yang disiarkan menjelang jam 05.00 an. Walau harus pula diakui, bahwa sampai dengan penelitian ini, belum ditemukan angka “rating” terbaru dari siaran bermuatan dakwah ala TransTv tersebut. Namun dilihat dari bertahannya acara, sudah berjalan hampir dua tahunan, terutama acara Khazanah dan P3W, patut diduga bahwa, penentuan waktu prime time pada tayangan dakwah tersebut, tidak berefek merugikan pada pihak pengelola. Begitu saja.

Rekomendasi

Kepentingan bisnis terutama pihak Production House (PH) dan stasiun TV yang lebih mengedepankan keuntungan material ketimbang visi seni apalagi visi dakwah, diharapkan tidak menjadikan setiap program yang ditayangkan menyingkirkan unsur idealisme terutama pendidikan.

Berhubungan dengan dakwah di TV, kearifan pihak produser TransTv yang memilih waktu tayang prime time, patut dijadikan bahan pertimbangan bagi pengelola siaran TV Nasional lainnya, bahwa “dengan berdakwah, bisnis tetap jalan”. Namun tetap pula dituntut, agar ada saatnya pula dalam menyampaikan pesan moral untuk tidak melihat keuntungan semata. Dalam pengembangan dakwah di televisi, diperlukan produktivitas pemrograman dakwah (melalui sinetron, film, dsb.) yang berkualitas dan memberikan pendidikan agama yang baik  dan dapat memberdayakan para professional dan pakar yang kompeten di bidangnya.

Tayangan dakwah bukan hanya melulu bersumber dari sejarah Islam klasik, tapi ide cerita bisa diambil dari potret kehidupan nyata masyarakat sehari-hari yang dituturkan dengan menarik, segar, kreatif dan artistik. Untuk itu dibutuhkan da’i yang handal dan professional serta para penulis naskah (film, sineron religi) yang tentunya mempunyai kematangan dalam memahami ajaran Islam. Sehingga meski bertutur tentang kehidupan keseharian, namun tetap lekat dan kental dengan dakwah dan visi Islam. Umat Islam perlu semacam lembaga pendidikan khusus untuk para penulis cerita Islami dan mereka harus diperkenalkan dengan visi dan misi dari sebuah cerita yang bernuansa Islami, bahkan perlu belajar syari’at Islam agar benar-benar paham dengan apa yang mereka tulis.

DAFTAR PUSTAKA

  • Arifin, Zaenal, 2007, Syi’ar Deddy Mizwar. STAIN Purwokerto Press.
  • Azra, Azyumardi, 1999, Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam. Jakarta: Paramadina.
  • Budiyanto, Irmayanti Meliono. 2004. Ideologi Budaya. Kota Kita.
  • Effendi, Bachtiar, 2009, Islam dan Negara, Ys. Wakaf Paramadina.
  • Eldin, Achyar. 2003. Dakwah Stratejik. Jakarta: Pustaka Tarbiyatuna.
  • Eriyanto, 2001,  Analisis Wacana, Yogyakarta: LkiS.
  • Eriyanto.  2006. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media., Yogyakarta: LKiS.
  • Foley, William A.,(1997), “Anthropological Linguistics An Introduction”, Malden USA: Balckwell Publishers Inc.
  • Hamad, Ibnu, 2008, ”Manajemen Dakwah di TV”,  Makalah Seminar ”Pembinaan Dakwah Media Elektronik”. KODI DKI Jakarta.
  • Hidayat, Helmi, 2008, ”Membumikan Ajaran Islam melalui Dakwah Interaktif di Televisi”,  Makalah Seminar “Pembinaan Dakwah Media Elektronik”. KODI DKI Jakarta.
  • Jensen, William I. Rivers-Jay W.- – Theodore Paterson, 2008, Media Massa & Masyarakat Modern, Kencana Prenada Media Group.
  • Kontowijoyo, 1985, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia. Yogyakarta: Salahudin Press.
  • Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI, 2007, Dakwah  Satu Dasawarsa: Daro seruan ke Pelayanan.
  • Michel Faucoult, dalam: Mujiburrahman, 2008, Mengislamkan Indonesia, Pustaka Pelajar Offset.
  • Kohar, Wakidul, M.Ag, dalam: Amir Mahmud (ed.), 2005, Islam dan Realitas Sosial Di mata Intelektual Muslim Indonesia, Edu Indonesia Sinergi.
  • Mulyana, 2005, Kajian Wacana Teori, Metode dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana, Yogyakarta: Tiara Wacana.
  • Mulyana, Deddy,  2005, Ilmu Komunikasi. PT. Remaja Rosda Karya.
  • Mulyana, Deddy, 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan lainnya, PT, Remaja Rosda Karya.
  • Suparta, Munzier dan Harjani (Ed.), 2003, Metode Dakwah, Jakarta: Rahmat Semesta.
  • Sunandar. 2008, “Tantangan dan Problematika Dakwah di Televisi”, Makalah Seminar “Pembinaan Dakwah Media Elektronik”. KODI DKI Jakarta.
  • Sutrisno, Mudji, Tt., Cultural Studies, Koekoesan.
  • Sutrisno, Mudji, dan Hendar Putranto. (ed.),2005, Teori-Teori Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius.
  • Thomson, Peter, 1999, Rahasia Komunikasi. Yayasan Obor Indonesia.
  • Winarto, Yunita T. dkk. (Peny.), 2004, Karya Tulis Ilmiah Sosial. Ys. Obor Indonesia.

[1] Diangkat dari “Publik dan Opini Publik”, dalam http://markbiz.wordpress.com.

About these ads