Tags

, , , , ,

Marzani Anwar

Penganut Islam merupakan penduduk yang terbesar jumlahnya, dan sekaligus terbesar di seluruh dunia. Sehingga bukan hal aneh, meski Indonesia bukan negara agama dan bukan pula negara Islam, kalau berdirinya negara Indonesia juga banyak diwarnai oleh nilai-nilai keberagamaan yang bersumber dari ajaran atau pengaruh Islam. Religiusitas bangsa juga lebih mencerminkan religiusity-nya menurut Islam. Dan agama Islam menjadi variabel yang sangat diperhitungkan dalam percaturan politik di Indonesia.

Namun sejarah menunjukkan, bahwa kesatuan agama tidak menjamin kesatuan opini dalam politik, tidak juga menjadi kesatuan pandangan dalam memilih cara beragama. Perbedaan itu menjadi benih-benih timbulnya konflik, baik secara samar maupun terpendam, atau terbuka.

Konflik atau kekerasan pada kalangan umat beragama, terjadi pada hampir semua tingkat penjenjangan, yaitu: ketegangan (tension); ketidaksetujuan (disagreement); persaingan (rivarly); pertengkaran (dispute); permusuhan (hostility); penyerangan (aggression; kekerasan (violence); peperangan (warfare). Penyebab terjadinya  cukup kompleks dan tidak selalu alasan agama, tetapi sudah berkaitan dengan kepentingan politik dan perebutan sumber ekonomi, dan sebagainya.[1]

Peranan Aktor Sejarah

Nabi Muhammad sebagai tokoh sentral dalam perkembangan agama ini, sebagaimana diketahui, sepeninggalnya tak mewarisi pesan-pesan soal kepemimpinan politik. Mungkin karena hal itu semata-mata urusan penduduk pada negeri yang bersangkutan. Ketika terjadi ketegangan tentang masalah kepemimpinan, maka saat itu pula  manusia punya keharusan  menciptakan sistem untuk kemaslahatan mereka sendiri. Kehidupannya bermasyarakat bernegara, bersuku-suku dan berkelompok-kelompok adalah ciri utama manusia, dan mereka juga yang berhak mengatur bagaimana suatu masyarakat mesti diatur. Kalau itu adalah sebuah negara, adalah bagaimana negara menemuka sistem pemerintahan yang efektif untuk memakmurkan rakyatnya, dst

Pesan nabi bahwa, “perbedaan umatku menjadi rahmat” (alkhalifatu ummati rahmatun), nampaknya ditujukan kepada para pengambil keputusan pada setiap kemunitas Muslim atau kepada bangsa-bangsa yang berpenduduk Muslim. Perbedaan visi dan kepentingan, adalah hal yang alami, dan hal itu akan menjadi bumbu bagi dinamika dan dunia inovasi. Perbedaan pandangan dan pemikiran, mendorong terjadinya sharing dan partisipasi aktif, di antara anggota suatu kelompok, mematangkan proses pembentukan bangunan kelompok atau komunitas yang kuat, yakni komunitas yang berakar pada nilai-nilai yang dijunjung dan dipelihara secara bersama-sama. Kenyataan itu memang benar-benar dibuktikan pada negara Madinah sewaktu dipimpinan langsung oleh nabi Muhammad. Namun menjadi lain ketika nabi tiada.

Sebagaimana diketahui bahwa di dalam Islam terdapat sejumlah aliran yang berlatarbelakang perbedaan paham, perbedaan etnis, perbedaan afiliasi politik dan perbedaan kebangsaan. Dalam skala makro, kondisi yang sangat pluralis sejauh ini tidak sampai menimbulkan perpecahan, terutama dalam aspek ilahiat (ibadah dan ritualitas). Namun pada dataran yang bersifat non ilahiat, diakui keberadaan aliran itu ada yang kemudian berkembang menjadi konflik antar kelompok

Mungkin benar kata Geertz, bahwa: fakta yang paradoksal dalam agama, bukanlah yang ilahi, bukan pula semacam manifestasi daripada yang ilahi itu di dunia. Bagaimana pun rupa yang sesungguhnya dari yang benar-benar riil itu, manusia harus merasa puas dengan hanya membuat citra tentang-nya yang apabila ia orang yang taat, ia anggap sebagai gambaran dari yang sejati itu dan ia pakai sebagai pedoman untuk menghubungkan diri dengan-Nya. Sebab, apa artinya, kalau bukan sesuatu kepercayaan yang tak tergoyahkan kepada yang abadi.[2]

Ketegangan antar sahabat nabi, tentang siapa pengganti Rasulullah sebagai kepala pemerintahan, nampaknya memberi isyarat bahwa para pengikutnya tak cukup siap menghadapi perbedaan pendapat. Buat sementara berhasil diredam ketika, mereka berhasil membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah. Selama tiga tahun kepemimpinannya, Abu bakar masih bisa memelihara keutuhan umat. Tak nampak adanya pertikaian antar kelompok, meski daerah Islam semakin luas.

Konflik muncul ketika Umar menggantikannya sebagai khalifah. Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Umar ibn al-Khatab (tahun 644 M) oleh seseorang budak bangsa Persia bernama Abu Lu’luah, yang tidak lain adalah dari kalangan rakyatnya sendiri.[3] Pembunuhan tragis atas diri Khalifah itu seakan mengawali budaya kekerasan atas sesama muslim. Sementara pesan-pesan agama terus bergulir, melalui pendidikan dakwah. Umar bahkan sempat memperluas kekuasannya tanpa memaksa orang lain masuk Islam. Namun dalam saat yang bersamaan, tumbuh subur intrik-intrik dan fitnah yang berakhir pada penggulingan kekuasaan melalui tragedi berdarah. Seorang Khalifah yang dikenal sangat demokratis, sederhana dan merakyat, justru dijadikan sasaran orang lain, dan dengan sebab-sebab yang tidak jelas. Tapi jelas, membunuh seorang kepala negara, tentulah dilatarbelakangi oleh ketidaksukaan atau kepentingan politik tertentu. Perjalanan kekhalifahan Utsman  mengalami hal yang nyaris sama dengan Umar r.a.. Menurut Engeneer, telah terjadi erosi nilai-nilai pada masyarakat Islam waktu itu, yang kemudian ada sekelompok Islam bergerak melawan Khalifah. Sang Khalifah pun terbunuh secara mengenaskan. Inilah peristiwa tragis pertama dalam sejarah awal Islam yang sangat disayangkan. Kemudian Utsman digantikan oleh Sayidina Ali (1661 M ), seorang khalifah yang berusaha sekuat tenaga untuk menerapkan norma-norma Islam secara keras, namun tidak berhasil, karena kelompok-kelompok vested-interest dalam ekonomi dan politik telah mengkosnolidasikan diri. Sayidina Ali harus menghadapi sebuah peranag sipil di mana ribuan orang tewas. [i]

Sebagaimana juga yang terjadi pada peristiwa Karbala, dituturkan oleh Jalaluddin Rahmat: Pada suatu pagi, tanggal 10 Muharam 680 H, dua pasukan yang tidak seimbang bertemu di padang Karbala. Imam Husein dengan 72 pengikutnya berhadapan dengan 30.000 tentara Yazid. Cucu Rasulullah saw, berdiri tegak di hadapan cucu Abu Sofyan. Seakan-akan kisah Badar diulang kembali. Beberapa saat kemudian padang Karbala memerah karena darah. Tubuh-tubuh keluarga suci terkapar bergelimpangan. Kuda-kuda dengan garangnya menginjak-injak tubuh para korban. Menjelang sore, peperangan dramatis itu berakhir. Dengan penuh kepuasan Yazid dan pasukannya meninggalkan potongan–potongan tubuh manusia di padang itu. Dan kepala Husen yang terpotong itu, beserta para tawanan wanita yang terbelenggu dibawa oleh pasukan Yazid”.[4] Kisah ini yang kemudian bisa diperingati setiap tanggal 10 Muaharam, oleh terutama kaum Muslim Syiah. Tanggal tersebut kemudian menjadi benang sejarah yang menghubungkan mereka dengan warisan ruhani masa lalu, tetapi juga dengan harapan di masa yang akan datang. Pertarungan antara kebatilan dan kebenaran, kezaliman dan keadilan, penindasan dan perlawanan, perlahan-lahan merasuki jiwa mereka yang memperingati. Dengan perspektif itulah mereka memandang sejarah umat manusia. Dengan perspektif itu pula, mereka membentuk kehidupannya.

Turki Utsmani, yang berkuasa antara tahun 948 M s.d. lk. 1918 M. Diakui bahwa, penguasa telah telah banyak menciptakan tata pemerintahan baru demi kemajuan dan kemakmuran rakyatnya. Kota suci kedua Madinah, misalnya, pada masa itu, ada 4 lembaga diciptakan 4 lembaga kekuasaan administrasi dan agama yaitu: (1) Lembaga Pengadilan Agama, (2) Lembaga kepolisian, (3) Lembaga Pimpinan Militer, dan (4) Lembaga pimpinan masjid Nabawi, yang merupakan lembaga tertinggi. “ Orang-orang Turki Utsmani pada awalnya telah mengucurkan dana dan berbagai pemberian kepada penduduk Madinah, maka bursa sastra setempat dan bursa ilmu pengetahuan kembali hidup segar. Termasuk di dalamnya adalah pemugaran masjid  Nabawi  dan pembangunan jalur kereta api Hijaz yang perpangkal di Damaskus- Madinah.[5]

Bersamaan dengan penciptaan tata pemerintahan dan pemakmuran masyarakat pada masa kekuasaan Turki Utsmani pula, tersebut serentetan peristiwa kekerasan dan kekejaman yang menimpa penduduk Madinah, terutama ketika Gubernur Madinah dipegang oleh Ali Pasha Marmahin (tahun 1904 M). Jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan harus dipegang oleh orang Turki; sebanyak 42 pemuka masyarakat dan 40 perwira Madinah dipenjarakan. Menyusul kemudian pengepungan terhadap penduduk Madinah selama 2 tahun (pada tahun 1917).  Di bawah panglima Militer ‘Umar Fakhri Pasha, menjadikan Madinah sebagai pangkalan militer untuk melindungi kekayaan dan kekuasaan . Mereka menguasai bahan-bahan pangan. Penduduk yang dilanda kelaparan, bukannya diberi makan, tetapi justru diungsikan, antara lain ke Suriah, Libanon dan Turki. Sebagian lainnya mengungsi ke Makkah. Mereka semua dijadikan pengunsgi dalam arti yang sebenar-benarnya, diangkut dengan gerbong-gerbong kereta api seperti layaknya barang. Sehingga penduduk Madinah habis keluar kecuali beberapa gelintir orang”.[6]

Betapa kesamaan agama, tidak juga menjamin untuk terhindarnya kekerasan dan perang. Islam, agama suci ini, bukannya tidak mentolerir terjadinya kekerasan. Namun kekerasan macam apa. Menurut Engineer, bahwa hak untuk melakukan tindak kekerasan diperbolehkan dalam tradisi Islam, ketika dalam keadaan tertindas. Jika penduduk sebuah kota menjadi penindas dan menganiaya orang yang lemah, maka orang yang lemah ini berhak melawannya.[7] Jadi apabila tidak dalam kondisi yang demikian, maka Islam melarang kekerasan. Mereka yang membunuh, bukan karena alasan-alasan tersebut sangat dimurkai Tuhan. Tersebut firman Tuhan: “ Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (Q.S. 5: 32). Dalam kenyataannya, dalam lintasan sejarah Islam, terjadi berbagai pergolakan, dibarengi pemusnahan nyawa manusia dan kerusakan harta benda, yang dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat atau perbedaan kepentingan antar kelompok.

Banyak masalah yang mengundang perbedaan pendapat atau paham dalam kehidupan keagamaan. Dalam masalah ilmu kalam, banyak aliran, seperti Asya’ariyah, Syiah, Maturidiyah, Jabariyah, dan Mu’tazilah. Munculnya aliran tersebut berawal dari perbedan dalam memahami firman Allah. Sejauh pemikiran yang berkebang hanya berdebat pada soal teologia atau cara penafsiran suatu firman, sejauh ini tidak sampai mengundang konflik yang bermuara pada pertumpahan darah. Namun ketika perbedaan itu bergesekan dengan kepentingan politik, maka perbedaan itu berkembang menjadi perbenturan kepentingan, perebutan pengaruh atau kekuasaan.

Peperangan antar Faksi di Afganistan, yang berlangsung terutama sejak keluarnya hegemoni Rusia di negara tersebut, selama bertahun-tahun, serta perang Irak – Iran (1980-1989) menjadi contoh paling menonjol; betapa besar korban berjatuhan, bahkan hingga kini masih puluhan ribu nyawa melayang sebagai korban perang, antara kelompok Taliban dengan kelompok pemerintah, yang didukung oleh AS. Itu terjadi bersamaan dengan upaya menciptakan kemerdekaan bagi bangsanya. Mereka berperang atas nama kebenaran menegakkan yang hak atas nama Tuhan. Dalam waktu yang sama, mereka berebut keuasaan. Kesamaan cita-cita ternyata tak menjamin terhindarnya tindakan saling berbuat kekerasan dan pembunuhan.

Kasus-kasus di Indonesia muncul  merupakan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat dalam satu agama. Berikut ini kita ungkap beberapa kasus kekerasan yang  dilakukan oleh sesama umat Islam.

Pertama, kekerasan di Propinsi Aceh. Kekerasan di propinsi yang dijuluki Serambi Mekkah itu, sekan bukan berita aneh dan mengejutkan, karena kasus-kasusnya sudah berangsung sejak lebh dari 30 tahun yang lalu, dan telah banyak warga Aceh menjadi korban kekerasan itu. Sewaktu muncul pemberontakan DI/TII, yang berlangsung antara 1953-1964, sekitar 4000 warga Aceh terbunuh. Menyusul kemudian berdirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tahun 1976, yang diproklamirkan oleh Dr. Teuku Hasan Tiro, aktivitas kekerasan seakan menginjak babak baru. Gerilyawan GAM semakin banyak jumlahnya, termasuk masyarakat simpatisan atas gerakan tersebut semakin besar jumlahnya. Mereka secara terus-menerus berhadapan dengan pasukan keamanan (TNI). Teror demi teror dilakukan, dan korban-korban berjatuhan dari kalangan masyarakat, diantaranya adalah pemuka masyarakat seperti Rektor IAIN Ar Raniry, Rektor UNSIAH, anggota DPR, dan lain-lain, serta kalangan masyarakat sipil. Korban lainnya adalah pada insfrastruktur, berupa pembakaran sekolah, gedung perkantoran dan sebagainya yang tak terhitung jumlahnya. Diberlakukannya DOM (Daerah Operasi Militer) tahun 1990 yang semula dimaksudkan untuk memulihkan keamanan tidak berhasil, dan justru memakan korban penduduk spil, termasuk anak-anak dan wanita. Sebagian mereka terbunuh dan sebagaian lain terusir. Sampai dengan tahun 1995 an saja diperkirakan sebanyak 2000 dieksekusi tanpa pengadilan.  Antara tahun 1991 – 1995 sekitar 5000 warga menjadi pengungsi, dan mulai januari1 1999, sudah puluhan ribu jiwa yang meninggalkan Aceh untuk mencari tempat aman.[8] Mereka terusir, bukan oleh bangsa lain dan bukan oleh kelompk lain yang berbeda agama. Tetapi oleh bangsa sendiri dan saudara seagama.

Kedua, Tragedi Sampit. Disebut ‘tragedi’, karena kasusnya benar-benar tragis. Tersulut mulai tanggal 18 Februari 2001, yakni ketika orang Dayak memusuhi orang-orang Madura di Sampit. Orang-orang dari etnis Madura yang merupakan warga pendatang dikejar-kejar dan dibunuh oleh orang-orang dari kalangan suku Dayak, yang merupakan suku asli. Tidak kurang dari lima ratusan warga Madura mati terbunuh secara mengerikan. Lebih dari 5000 jiwa yang mereka lari tungganglanggang menjadi lari ke hutan dan terkepung di sana. Sebagian lagi lari ke tanah asalnya, Madura, padahal mereka sudah tak lagi punya saudara dan tanah warisan orang tau, karena sejak kecil lahir di Sampit.  Sementara jiwa-jiwa banyak melayang, rumah-rumah pun terbakar, termasuk gedung-gedung lain yang diidentifikasi milik orang Madura. Orang-orang Madura nyaris tak menyisakan apapun ketika harus terusir dari negerinya sendiri. Mereka yang menjadi korban adalah orang-orang awam, termasuk wanita dan anak-anak, yang tidak tahu politik, tidak tahu apa dosa kenapa orang tuanya dibunuh, dan tidak mengerti kemana harus pergi. Mereka yang membunuh adalah orang-orang yang sesama warga bangsa dan sema saudara seagama.

Banyak pengamat mengajukan analisi tentang tragedi Sampit. Ada yang melihat dari segi kecemburuan sosial-ekonomi, karena warga Madura secara ekonomi lebih maju dan nyaris menguasai perekonomian Sampit. Ada yang mengemukakan soal gerakan Borneo Merdeka dan sebagainya.[9] Semua perkiraan dan asumsi itu boleh jadi benar semua, atau sebagian saja yang benar. Namun di sini hanya ingin dilihat dalam konteks persamaan agama. Mereka yang diusir atau dibunuh dengan mereka yang menngusir atau membunuh, adalah sesama warga satu agama, yakni Islam. Persamaan agama, ternyata tidak menjamin adanya persamaan sikap menahan diri ketika menghadapi perbedaan kepentingan atau perbedaan pendapat. Persaudaraan dalam satu iman nampaknya sulit terwujud. Kalau toh benar ada alasan lain yang mendorong terjadinya kekerasan itu, entah masalah politik, ekonomi, masalah budaya atau sosial, beraarti, persamaan agama dikalahkan oleh kepentingan lain, dalam hal persaduaraan.

Kedua kasus itu cukuplah sebagai representatif pengungkapan kasus-kasus konflik lain yang merupakan kasus perpecahan di kalangan umat Islam di berbagai daerah di Indonesia. Berbagai upaya rekonsiliasi telah dilakukan, dan sementara mampu meredam terjadinya tindak kekerasan yang lebih luas. Namun hingga kini tak ada yang bisa meramalkan,  akankah tindak kekerasan itu berhenti, pasca perdamian Akankah kesatuan dalam agama, bisa dijamin berkehidupan yang damai dan harmonis di masa mendatang.


[1] Lihat: Teori tentang kontinum konflik yang dikemukakan Amstutz (1982), untuk selanjutnya lihat pula: I Gede Suyatna, “ Suara Kriminal: Potensi Konflik di Kelurahan Kuta Kab. Badung Bali”, Jurnal Sosiologi Indonesia, No. 4 /2000).

 

[2] Cliford Geertz, Islam yang Saya Amati, YIIS, 1982, hal. 67.

[3] Dr. Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Logos Wacana Ilmu, 1999, hal. 67

[4] Drs. Jalaluddin Rahmat, Ali Syariat: Panggilan untuk Ulil  Albab, dalam Ali Syariati, Ideologi Kaum Intelektual, Mizan, 1984, hal. 9.

[5] ‘Ali Hafidh, Sejarah Mdinah, hal. 26

[6] ‘Ali Hafidh, Sejarah Madinah, ibid. hal. 26

[7] Asghar Ali Engeneer, Islam dan Teologi Pembebasan (Islam and Liberation Theology), Pustaka Pelajar, 1999, hal. 319.

[8] Informasi sebagaimana diungkap dalam buku:,Isma Sawitri dkk., Simak dan Selamatkan Aceh, Panitia Peduli Aceh, 1999 hal. 42-46. Data akurat mengenai kurban kekerasan di Aceh nampaknya sulit diperoleh, karena peristiwanya sendiri tidak selalu dapat diketahui oleh publik.

[9] Lihat Drs. Hamdan M Si  Ibnu Hasan Muchtar, Lc, Tragedi Sampit, Badan Litabng dan Diklat Keagamaan, 2001, hal. 6