Pendahuluan

Masyarakat kota Batam Provinsi Kepulauan Riau, mengabstraksikan sebagai masyarakat yang sangat beragam. Kehadiran kaum fabrikan dengan perusahaan-perusahaan multi nasional, yang menjadi sirkel pertumbuhan kota. Bersamaan dengan berdirinya perusahaan-perusahaan tersebut, adalah hadirnya warga-warga baru, yang berasal dari berbagai provinsi untuk memasuki lapangan kerja. Kehadiran mereka membawa serta etnisitas dan tradisi yang tidak selalu sama. Paham keagamaan yang mereka bawa kadang berbeda-beda, dan penguasaan pengetahuan agama pun bertingkat-tingkat. Oleh karena itu, penelitian ini menfokuskan perhatiannya pada kegiatan dakwah di salah satau kawasan Industri di Batam, Piliahannya jatuh pada kawasan Industri Batamindo, karana di lingkungan ini terdapat aktivitas yang cakupannya relatif besar untuk ukuran sebuah kawan industri.

Penelitian ini secara umum ingin menggali permasalahan dakwah yang berkaitan dengan kemajemukan masyarakat kota Batam. Bagaimana isi, teknik, maupun media dakwah itu diformulasi dalam perspektif masyarakat yang majemuk. Secara lebih khusus peneltian ini ingin mendalami kegiatan kedakwahan yang melekat dengan perkembangan kondisi sosial di mana masyarakatnya terdiri dari beragam etnik, dalam wilayah kota Batam. Bagaimana lembaga-lembaga sosial keagamaan memainkan peran kedakwahan berperspektif multikultural.

Kawasan Batamindo dirintis oleh manajemen otorita Batam. Sejak tahun 1978 sewaktu Otorita memasuki pembangunan infrastruktur, di bawah pimpinan Prof. Dr. B.J. Habibie. Ruas-ruas jalan yang menghubungkan antar gedung perusahaan, asrama, dan kompleks perumahan, dengan lebar 20 m dan hotmik, relative memadai untuk mendukung kelancaran produksi. Demikian juga bangunan pergedungan, kantor maupun pabrik-pabrik, sudah tertata seperti layaknya kota yang terencana dengan desain kota modern.

Di kawasan ini, terdapat perusahaan-prusahaan multinaional, yang bergerak di bidang produk elektronik, pecah belah, dan brang-barang ekspor lainnya, seperti: UNISEM; PT. Sanyo Energy; PT. Japan Cerco; PT. Panasonic; PT. Sony Precission; PT. Invenion; PT. Ex Batam; Philips; PT. Flectronic Batam; PT. Plexus Batam; PT. Epson Batam; PT. Power House Batamindo;PT. Batam Bintan Telekomunikasi; PT. Ciba Batam, dan PT. Fujitec.

Tempat pemukiman para buruh dan karyawan pabrik  menjadi bagian dari keberadaan kawasan ini. Karena Sebagian besar di asramakan di kawasan ini juga. Dari sinilah munculnya isilah ”dormitory”, yang berarti asrama. Masyarakat Batam sudah akrab dengan nama dormitori, dengan pengertian sebagai wilayah pemukiman yang dihuni para buruh pabrik.  Keseluruhan asrama terdiri beberapa 16 Blok, yang terdiri dar  Blok A s.d. Blok P. Kapasitas Blok tidak sama antara satu dengan lainnya. Sebagian merupakan bangunan berlantai satu, sebagian lain berlantai tiga, dan yang blok lain lagi berupa perumahan seperti layaknya sebuah kompleks rumah dinas. Rumah-rumah itu berukuran mulai dari 90 m2 sampai 300an2.

Para karyawan yang kebanyakan perempuan tersebut, datang dari berbagai daerah provinsi. Hampir dari setiap provinsi di Indonesia ada warganya di sini. Demikian juga etnisitasnya, cukup beragam. Boleh dikatakan bahwa, masyarakat di kawasan Dormitori ini adalah pure multi etnik. Karena hampir semuanya adalah warga pendatang. Mereka berasal dari berbagai provinsi seperti: Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung dan sebagian dari Sumutara Utara, umumnya berasal dari etnis Jawa. Mereka yang berasal dari Jawa Barat adalah etnis Sunda. Mereka yang berasal Sumut adalah beretnis Batak. Mereka dari Madura, berasal dari etnik Madura. Mereka yang dari Makassar adalah dari etnik Bugis atau etnik Makassar. Begitu juga yang berasal dari provinsi Irian Jaya, Ambon, adalah ber-etnik Papua, Minahasa, dan Flores. Terbanyak dari mereka, adalah yang dari etnik Jawa. Di Sebagian lagi adalah etnik campuran, yakni mereka yang orang tuanya, yakni ibu dan ayahnya berasal dari etnik yang berbeda, seperti Jawa dan Sunda, Minang dan Flores, dan sebagainya. Sementara itu ada lagi sejumlah pekerja asal luar negeri, seperti India, Jepang, Belanda.

Latarbelakang etnik yang berbeda, dipersatukan dengan beragam interaksi. Di antaranya adalah penggunaan bahasa komunikasi, yang dalam pergaulan sehari-hari mereka menggunakan bahasa Indonesia. Meski masih juga ada yang menggunakan bahasa daerah, ketika berkomunikasi dengan sesama etniknya, terutama dengan sesama orang dari Jawa. Kehidupan keseharian sebagai kaum pekerja, berinteraksi di wilayah pekerjaannya. Sebagai sesama pendatang berasimilasi secara terus-menerus dengan sesama pendatang. Prosses sosial itu bergerak menuju ke pembentukan komunitas baru sebagai kaum urban. Sekaligus mereka merupakan cikal bakal masyarakat industri, yakni masyarakat yang: (1) lebih akrab dengan peralatan teknologi dalam menyeleaikan tugas-tugas sehari-hari; (2) lebih berpikar rasional; (3) menghargai profesioanlitas; (4) menghargai ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, dan (5) hubungan-hubungan antar manusia lebih interpersonal, Di dalamnya tumbuh ikatan-ikatan solidaritas baru, untuk pengamanan hubungan pertemanan. Dilatarbelakangi oleh adanya persamaan-persamaan dalam pembagian waktu kerja, status kerja, persamaan pola kerja, persamaan tuntutan menganai upah kerja, dan sebagainya, telah memberikan pengaruh cukup besar dalam pembentukan nilai-nilai baru, yang menandai masyarakat industri tersebut.

Nilai-nilai lama semakin mereka tinggalkan, dan berganti dengan tata nilai baru, meski tidak serta merta. Karena masih terjadi proses tarik-menarik dengan kekuatan untuk memegang tradisi yang selama ini, yang dibawa dari  kampung halaman. Ada kebiasaan yang menipis, karena harus menyesuaikan dengan lingkungan yang baru, seperti kebiasaan menjalankan upacara-upacara adat yang menyertai siklus hidup. Hal seperti itu nyaris hilang, seiring dengan ketatnya waktu kerja.

Nilai-nilai baru itu, muncul berkenaan dengan tertib kehidupan baru yang dipengaruhi oleh kebiasaan di lingkungan perusahaan dan lingkungan Dormitori. Tata nilai itu menguat karena: (1) adanya kesamaan tempat kerja; (2) kesamaan tempat tinggal, yakni bersama-sama tinggal di dormitori, dan (3) kesamaan profesi, karena adanya persamaan keahlian, mereka bekerjasama di bawah satuan manjemen perusahaan tempat mereka bekerja, dan (4) kesamaan pola pembagian waktu.

 

Kesamaan Agama dan Kesamaan Pandang dalam Dakwah

Kesamaan agama, terutama mereka yang beragama (Islam), dan sama-sama menaati ajaran agamanya, memiliki intensitas dalam berinteraksi. Ada momentum tertentu yang secara rutin mempertemukan di antara mereka. Setidaknya dalam menjalankan shalat berjamaah di mushala perusahaan dan di asrama; Pertmuan sama-sama menjalankan ibadah shalat Jumat. Bersama dalam mendengarkan ceramah keagamaan, bersama dalam mengikuti kegiatan peringatan hari besar Islam, dan sebagainya, adalah di antara momentum yang mengintensifkan interaksi yang dilandasi oleh kesamaan kepentingan bersifat keagamaan.

Kebersamaan yang dibangun oleh kesamaan kesadaran keagamaan (religiousness) terbangun dari waktu ke waktu. Dilandasai rasa persaudaraan seagama, telah menumbuhsuburkan satuan komunitas, yakni komunitas Muslim. Sementara jalinan persaudaraan meski menipis, relatif terpelihara. Mereka yang berasal dari Jawa, bukan sama sekali meninggalkan adat istiadat dan bahasa Jawa. Mereka yang berasal dari etnis melayu, juga tidak sama sekali kehilangan ”kemelayuannya”. Tidak juga  mengecilkan hubungan persaudaraan dengan kelompok yang berbeda agama atau berbeda etnis. Hanyasaja mereka tidak cukup lekat lagi dengan tradisi itu, karena waktu-waktunya sudah berjalan mekanik, yakni bekerja dalam pabrik dan bergaul dengan orang yang tberbeda etnik.

Persamaan agama tampaknya telah mengantarkan pada semangat dan kesadaran baru untuk memenuhi panggilan keagamaan, yakni uatu perbuatan yang didasarkan pada suatu ajaran agama yang  diyakini kebenarannya, dan kalau dilaksanakan akan memberikan kemaslahatan bagi umat manusia, dan mulia di mata Tuhannya. Di antara pesan agama yang kemudian mengusung pada keterpanggilan sementara kalangan penganut Islam, adalah ayat-ayat al Qur’an mengenai kewajiban berdakwah.

Dari adanya keterpanggilan itu, maka berdiri mushalla di sejumlah Blok Asrama karyawan, yang tidak saja berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat bertemunya para karyawan untuk membina menambah pengetahuan agama dan layanan sosial. Kegiatan keagamaan menjadi semarak dengan berdirinya dua masjid di lingkungan KIB ini, yakni masjid Nurul Islam dan Masjid Nurul Iman.

Kemiskinan, adalah problem sosial  yang harus disikapi secara bijak. Tidak sekedar menyantuni, tetapi bagimana cara ditempuh supaya mereka bangkit dari keterpurukan.

Dalam pandangan DSNI Amanah, orang miskin, sesungguhnya memilki hal yang sama seperti orang lain, mereka memiliki anggota badan sempurna untuk bekerja keras, jiwa penuh semangat serta harapan untuk hidup lebih baik seperti yang lain. Potensi-potensi tersebut perlu dikenali, dimanfaatkan, dikelola dan dimaksimalkan agar berdaya menghadapi keadaan diri dan lingkungannya dan bangkit menuju kemandirian. Dari sinilah, pendekatan kewirausahaan kepada mereka diarahkan. Mereka terlepas dari ketergantungan, dan bangkit untuk lebih mandiri, lebih maju dan berkembang.

Social Enterpreneur atau kewirausahaan sosial, sengaja dibangun oleh DSNI Amanah,  sebagai soslusi atas keprihatinan sosial, dengan menggunakan segala potensi dan sumber daya yang ada, termasuk ‘diri orang miskin’ melalui pendekatan kewirausahaan (enterpreneurally). Seorang sosial enterpreneur memiliki keberpihakan yang kuat akan kondisi sosial yang ada dan tampil menjadi problem solver, senantiasa mengasah daya kreasi dan inovasi terhadap program atau aktifitas yang dilakukan sehingga menjadi ‘masterpiece’, memberikan multiplier efek atas program yang digagas dan membangkitkan produk-produk turunan serta bernilai multi manfaat, memberdayakan masyarakat sebagai subjek pelaksana dan penerima manfaat, menghilangkan ketergantungan, serta berperan sebagai agen perubahan sosial.

Pandangan mengenai kemiskinan, secara entrepreneur demikian telah menjadikan ketukan hati bersama, kalangan anak-anak muda kawasan Batamindo. Para karyawan kantor, remaja Masjid Nurul Islam, Masjid Nurul Iman, dan para aktivis Mushalla di sejumlah blok Dormitori kawasan Batamindo, memikiki kesamaan pandang, tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi kemiskinan. Meskipun latar belakang pekerjaan mereka berbeda-beda, pengalaman pendidikan berbeda-beda, jenis kelamin berbeda, asal etnis berbeda, namun mereka dalam pola pandang yang sama mengenai kemiskinan tersebut. Setidaknya, mereka terbuka menerima ajakan untuk berpartisipasi dalam satu gerakan tertentu untuk mengatasi kemiskinan dengan pola pemberdayaan.

Dakwah Barbasis Pemberdayaan

Untuk membangun kinerja manajemen, maka kedua masjid, yakni Nurul Islam dan Nurul Iman, dikelola oleh satu manajemen. Tepatnya, pada bulan Juli tahun 2007 merupakan tonggak sejarah bagi arah dan pengembangan dakwah di lingkungan Kawasan Industri Batamindo, Muka Kuning -Batam, yakni dengan dibentuknya institusi gabungan atau holding institusion dengan nama Nurul Islam Group atau di singkat dengan NIG. Institusi ini lahir dari perjalanan panjang dakwah yang ada di Muka Kuning sekitar 16 tahun yang lalu bersamaan dengan saat awal – awal berdirinya Kawasan Industri Batamindo. Struktur kepengurusan Nurul Islam Group (NIG), mirip sebuah Badan Usaha.

NIG merupakan organisasi induk, yang mesinergikan sejumlah kegiatan, yang terbagi ke dalam tiga Direktorat. Pertama: Direktorat Eksekutif. Merupakan direktorat puncak yang bertindak secara eksekutif dan mengelola unit-unit strategis di bidang kehumasan, penyediaan sistem, ketenagaan, keuangan, dan umum, guna mendukung operasional setiap direktorat di bawahnya. Kedua: Direktorat Masjid. Adalah direktorat yang mengelola seluruh kegiatan di bawah kemasjidan dan Mashalla-mushalla di kawasan Industri Batamindo;   Ketiga: Direktorat Pemberdayaan. Adalah direktorat yang mengelola Dana Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf untuk pemberdayaan masyarakat.

Agenda besar yang selalu menghadang perjalanan DSNI Amanah, adalah masalah: mengapa para Muzakki di Batam pada umumnya dan di kawasan Industri Batamindo selama ini eggan membayar zakat?. Padahal kedudukaan wajibnya berzakat itu sama dengan menjalankan shalat. Kenyataan, masih banyak umat Islam yang tidak mau bayar zakat. Padahal zakat dan rukun Islam lainnya – syahadat, shalat, puasa dan haji – merupakan suatu paket yang tak terpisahkan satu sama lain. Bahkan didalam al-Qur’an, zakat selalu dikaitkan dengan shalat. Dengan begitu, semu arukun Islam harus dilaksanakan secara serentak sesuai kemampuan masing-masing.

DSNI Amanah dengan kiprahnya selama ini, tampak adanya geliat anak muda terpelajar, yang tidak menyerah dengan kondisi yang ada selama ini. Gerakan yang dikayuh DNI Amanah berupaya menanam modal dakwah dengan nilai-nilai pemberdayaan dan kemaslahatan, dengan perangkat manajemen modern.

Pengelolaan zakat melalui lembaga keamilan modern, sebagaimana ditempuh DSNI Amanah, didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, untuk menjamin kepastian dan disiplin pembayaran zakat; Kedua, menjaga perasaan rendah diri para mustahiq apabila berhadapan langsung untuk menerima haknya dari para muzakki; Ketiga untuk mencapai efisiensi, efektivitas dan sasaran yang tepat dalam penggunaan harta zakat menurut skala prioritas yang ada di suatu tempat, dan keempat, untuk memperlihatkan syiar Islam dan semangat penyelenggaraan negara dan pemerintah yang Islami. Sebaliknya, jika pelaksanaan zakat itu begitu saja diserahkan kepada para muzakki, maka nasib dan hak-hak orang miskin dan para mustahiq lainya terhadap orang-orang kaya tidak memperoleh jaminan yang pasti.

Menyadari hal itu, DSNI Amanah menyusun strategi sosialisasi atas program kerja yang telah dicanangkan. Program itu sendiri sifatnya adalah merangkak dari titik ”nol”, sebelum tumbuh seperti sekarang. Upaya untuk sosialisasi ditempuh dengan cara-cara sbb.:ceramah melalui khutbah dan pengajian di masjid Nurul Iman sendiri dan masjid Nurul Islam; menyebarluaskan brosur dan leaflet, dan ditempatkan di pusat-pusat kesibukan, seperti hotel, mal, dan masjid-masjid di Batam; diskusi pegembangan usaha melalui zakat; dialog interaktif melalui TV lokal; mengisi rubrik khusus di koran lokal ”Batam Pos”; ceramah melalui Radio Dakwah RG 107, 8 FM, ceramah dan presentasi melalui forum-forum Majelis Taklim; Website: dsniamanah.org.id. Melalui media ini disebarluaskan laporan-laporan mengenai kegiatan dan manfaat setiap kegiatan  pemberdayaan masyarakat melalui dana-dana umat, penerbitan Newsletter, yang diterbitkan berkala, yang mempublikasikan kegiatan-kegiatan DSNI Amanah, di bidang kesekretariatan maupun kegiatan di lapangan.

Muzakki yang menjadi donatur tetap DSNI Amanah adalah para profesional dan  sejumlah Badan Usaha. Kompetensi DSNI Amanah dalam pengelolaan dana-dana hibah untuk program berbasis pengembangan masyarakat (Community Development) dan dana CSR (Corporate Social Responsibility) sudah sering dilakukan dengan berbagai perusahaan. Beberapa perusahaan besar sudah pernah mempercayakan pengelolaan dana CSR mereka kepada DSNI Amanah. Perusahaan tersebut antara lain adalah: Indosat, Bank Indonesia, PLN Batam, Batamindo, Sucofindo dan lain-lain.

Satuan Pengelola Zakat (SPZ) yang adalah lembaga jaringan kemitraan DSNI Amanah dalam mengelola Zakat Infaq Shadaqah Wakaf (ZISWaf) yang tersebar di berbagai tempat di kota Batam. Mereka kerjasama dengan organisasi Islam, seperti Takmir Masjid, Majelis Taklim, Paguyuban dan sejenisnya.

Para karyawan Muslim yang bertempat tinggal di dormitori, banyak yang mencatatkan diri menjadi donatur tetap dan tidak tetap. Mereka menjadi muzakki atas kesadarannya sendiri. Dalam pembukuan bagian keuangan, tercatat, para karyawan yang menjadi donator  sekitar 7000 an orang. Dari jumlah tersebut, yang menjadi donatur tetap sebanyak 1500an orang. Para donatur itu datang sendiri ke kantor DSNI, untuk membayar zakat pengahasilannya. Besarnya zakat mereka tentukan sendiri, setelah memperhitungkan jumlah gaji bulanannya. Pihak DSNI memberikan petunjuk cara penghitungan zakat tersebut, untuk mempermudah bagi muzakki menetapkan jumlah yang harus dibayarkan.

 

Ragam Kegiatan

Tenaga yang bekerja di bawah NIG sampai dengan awal tahun 2010 seluruhnya sebanyak 90 orang. Tersebar di berbagai unit kerja yang ada di bawah direktorat dan sub direktorat yang ada. Mereka menerima gaji perbulan antara 1,5 juta s.d. 4,5 juta rupiah. Kegiatan dikelola oleh sub-sub direktorat di bawah naungan NIG meliputi berbagai bidang, seperti: Pendidikan, Dakwah, Perkoperasian, BMT (Baitul Mal wat Tanwil),  Pengelolaan ZISWaf, Travel, Minimarket, Pesantren, Pengembangan SDI (Sumber Daya Insani) dan Remaja Masjid. Masing-masing unit kerja itu bersifat otonom.

Kegiatan yang bersifat pemberdayaan, di antaranya:

1. ABADI 20 K. (Akad Bergulir atas Dana Infaq) Rp 20.000,-

Program Pemberdaayaan ekonomi mustahik melalui dana infaq, diberi nama ”ABADI 20K”. Suatu program sirkulasi dana umat, dengan memberi kesempatan kepada perorangan yang ingin membantu saudaranya yang kurang mampu. Cukup dengan Rp. 20.000,- atau kelipatannya.

2. PHT- Permodalan Hibah Terencana

Program ini merupakan upaya pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat miskin atau tak mampu dengan memberikan tiga hal secara bersama: modal usaha – pendampingan dan Pengawasan- pengembangan usaha. Tujuannya adalah untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat miskin agar mampu hidup mandiri. Sampai akhir tahun 2009 DSNI telah membantu puluhan masyarakat miskin mulai dari yang sedang membuka usaha hingga yang membutuhkan modal tambahan. Usaha-usaha yang dibantu adalah seeprti warung sembako, bengkel motor, kerajinan tangan dan pengolahan kue.

3. APG- Angkutan Pelajar Gratis

Salah satu kendala anak-anak yang kurang mampu dalam mengikuti pendidikan di sekolah, adalah beban beaya transport pp dari rumah ke sekolah, terutama bagi kalangan miskin. DSNI membantu dengan pengadaan angkutan pelajar di wilayah tertentu, yang selama ini dikenal mengalami kesulitan transportasi umum. Para penumpang tidak dipungut biaya, alias gratis.

Sampai akhir tahun 2009 DSNI sudah menyediakan dua armada colt-station yang melayani pelajar tingkat LTP dan SLTA untuk rute kawasan Tanjung Playu Laut (Bagan) dan batu Aji. Dalam program ini, DSNI bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Kota Batam untuk pengadaan tiga unit Minibus (s.d. 2010), dengan rute Barelang. Diperuntukkan bagi anak-anak pelajar di kawasan pulau luar Batam (hinterland) yang masih belum terjangkau sarana transportasi.

4. SMART 5000- Santunan Mandiri Tetap 5000

Kegiatan penggalangan dana infaq untuk santunan pendidikan bagi anak-anak yatim dan dhuafa dari keluarga kurang mampu. Dana disalurkan dalam bentuk bantuan biaya pendidikan, peralatan pendidikan dan penunjang pendidikan lainnya.

Kegiatan ini dilatarbelakangi adanya kesadaran masyarakat yang cukup tinggi mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Namun banyak dari meraka yang mengalami keterbatasan dalam masalah biaya pendidikannya.

Dana yang sudah trsalur hingga tahun 2009 sebanyak 300 anak. Besarnya dana bantuan perpaket, terdapat beberapa pilihan: Rp. 5000,- ; Rp 10.000,- dan seterusnya, sampai Rp. 100.000,- hingga paket Rp. 250.000,-

5. Bea Madani- Bea Studi Masa Depan Anak Indonesia

Kegiatan santunan bea siswa  ini ditujukan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu, yatim piatu, baik yang berasal dari Batam maupun dari hinterland (masyarakat pantai di pulau-pulau kecil). Santunan diberikan untuk periode satu tahun masa belajar, dan direview tahun berikutnya. Beasiswa diprioritaskan kepada anak-anak yatim dan dhuafa yang kesulitan biaya pendidikan.

Sampai dengan akhir 2009, setiap bulannya ada sekitar 50 anak yang mendapat dana bea siswa dari DSNI dengan setiap anak memperoleh Rp. 15.000,- per-bulan. Kegiatan akan terus berlanju, hingga dievaluasi setiap tahun.

6. SHAFA- Sehat Dhuafa

Kegiatan untuk pelayanan pemeliharaan dan layanan kesehatan yang juga diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu. Bantuan yang diberikan berupa bantuan menyeluruh untuk biaya pengobatan dari masyarakat terjerat, setelah melakukan pengobatan di rumah sakit atau tempat pengobatan lainnya. Bantuan lainnya, adalah sekedar bantuan beaya pengobatan bagi para pasien tidak mampu. Pada tahun 2010 kegiatan ini telah bekembang menjadi unit cabang LKC (Layanan kesehatan Cuma-cuma) dari jakarta.

7. BSC- Bantuan Sosial Cepat

Kegiatan santunan yang diberikan kepada individu atau kelompok, yang btertimpa bencana alam atau tertimpa musibah lainnya. Sasaran bantuan adalah para korban musibah yang terjadi di Batam, di pulau-pulau sekitar, dan bahkan di provinsi lain. Dana bantuan berasal dari ZIS yang dikumpulkan oleh DSNI Amanah. Dalam kegiatan ini, DSNI bekerjasama dengan DMU (Disaster Management Unit) dari LAZNAS Dompet Dhuafa. Untuk mengawal bantuan, pihak DSNI menerjunkan juga para relawan kemanusiaan. Bantuan yang pernah disalurkan, adalah yang diberikan kepada para korban kebakaran di sebuah pemukiman penduduk dan korban banjir di beberapa wilayahh di Batam.  Di luar Batam, adalah bantuan korban tsunami di Aceh dan di Pangandaran Jawa Barat, dan Sumatera Barat.

8. PDP- Pemberdayaan Desa Pantai

Kegiatan dalam bentuk pendampingan masyarakat di kawasan hinterland agar mereka mampu memberdayakan dirinya. Tujuannnya adalah memperbaiki taraf hidup ekonomi dan sosial mereka. Sebagaimana diketahui, masyarakat pada kawasan tersebut umumnya memiliki keterbatasan akses ekonomi. Sementara sarana dan prasarana pendidikan sangat terbatas. Relawan-relawan dari DSNI melakukan dampingan di bidang pendidikan dan pengetahuan keagamana masyarakat pulau. Sampai akhir 2009 lebih dari 33 desa pantai telah mendapat dampingan.  .

9. BTS- Budidaya Ternak Sehat dan Loka Budidaya Terpadu

Program yang disebut Budidaya Ternak Sehat (BTS) dimulai dari kegiatan Tebar Hewan Korban (THQ) pada suatu kesempatan Idul Qurban. Berkembang menjadi pemberdayaan ekonomi komunitas malalui budidaya ternak. Dengan pendekatan Peternak Binaan sebagai plasma. Lokasi pengembangan berada di seluas 1-5 ha yang secara khusus untuk pembudidayana ternak. Sampai akhir tahun 2009 telah membina sejumlah peternak di Tanjung Playu Laut dan Pulau Karas. Dalam pelaksanaannya, DSNI menjalin kerjasama dengan pengusaha hewan ternak, dengan sistem bagi hasil.

Kegiatan yang dekat dengan BTS adalah Loka Budidaya Terpadu. Lokasinya di Tanjung Banon Rempang. Merupakan program sentra agro-ekonomi dan budidaya ternak yang hasilnya diberikan kepada keluarga-keluarga miskin,  dengan sistem paron. Pada program ini juga berfungsi menangkap peluang investasi di bidang peternakan. Dari keluarga kurang mampu, memperoleh kesempatan menjadi pemasok melalui dana investasi pihak ketiga. Sementara DSNI memegang manajemen usahanya. Luas lahan yang kini digarap adalah 10 ha. Di antaranya (3 ha) difungsikan sebagai lahan tanaman produksi dengan masa panen pendek, sekitar dua bulanan, sperti buah semangka dan melon.

10. I-PRO

Kegiatan ini adalah upaya pemanfaatan barang tidak terpakai (bekas) yang masih dalam kondisi layak pakai dan bisa digunakan. Nilai jualnya masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain, terutama membantu kaum dhuafa. DSNI membuka kesempatan kepada masyarakat untuk menyerahkan barang-barang seperti itu, sebagai infaq atau wakaf. Kemudian disalurkan, kepada yang memerlukan, atau dijual kemudian hasilnya untuk membantu fakir miskin. Awal Maret 2010, 6 minggu setelah I-Pro digulirkan, DSNI menerima sejumlah dana untuk membeli alat pembuka ban dari velg-nya,  melengkapi dongkrak, kepada seseorang  yang dikenal sebagai tukang tambal ban, setelah sebelumnya ia bisa membeli kompresor dari tabungan hasil berjualan gorengan. Bantuan tersebut berasal dari peralatan rumah tangga pantas pakai, barang tidak terpakai yang dikumpulkan satu demi satu dari donatur. Ini hanya sepenggal, betapa barang-barang yang sudah tidak bermanfaat bagi seseorang tapi bermanfaat bagi yang lainnya.

I-Pro (dibaca ai-pro) yang tengah digalakkan saat ini berangkat dari keyakinan berupa: bahwa umat Islam adalah barisan. Sebagai barisan, umat dapat saling bersinergi, memberikan nilai/manfaat lebih dari setiap titik kelebihan yang dimiliki. Dongkrak yang tak lagi dipakai, dalam barisan, dapat dirubah menjadi sebuah kesempatan bagi saudaranya untuk memenuhi kewajiban azasinya: menafkahi keluarga. Tape, kipas angin, mesin cuci, TV, VCD Player, AC, kardus, tempat tidur, rak piring yang teronggok dipojok rumah, dalam barisan, telah dirubah menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi Zul dan tentu saja bagi saudara kita lainnya.

11. PuTraMas

Pusat Transaksi Masyarakat atau disingkat Putramas, adalah program pemberdayaan[1] masyarakat yang dilakukan dengan menyediakan dan/atau membangun fasilitas fisik yang dipergunakan untuk jual-beli. Pengguna fasilitas adalah masyarakat umum dan masyarakat tak mampu disekitar lokasi. Masalah yang melatarbelakangi kegiatan ini, antara lain adalah bahwa: masyarakat merasakan beban masalah ekonomi yang lebih besar saat ini, khususnya mereka dari kalangan tak mampu, dan masyarakat dapat dibantu dengan menyediakan sarana yang dapat membuat mereka lebih berdaya secara ekonomi.

Tahap Pertama kegiatan dilakukan dengan: bekerja sama dengan masyarakat atau pemerintah untuk menyediakan lahan yang diperlukan, termasuk aspek legal kerjasama tersebut. Di antara strategi yang ditempuh adalah menjalin kemitraan dengan para pihak yang memiliki lahan yang kurang diberdayakan.

Salah satu sasaran Putramas yang sudah berjalan, adalah Putramas Masjid Al Ma’ruf. berlokasi di halaman Masjid Al-Ma’ruf, Perumahan Bidadari, Kelurahan Mangsang, Kecamatan Sungai Beduk, Kota Batam. Berjuumlah   5 Tenda ukuran 3×3 m dan 1 tenda ukuran 2×3 m (tahap pertama), 4 Tenda ukuran 3x3m (tahap kedua). Fasilitas berupa tenda, listrik dan penerangan 20 watt. Termasuk dalam skala mikro, dengan jumlah pengguna : 6 pedagang dari komplek Bidadari.

Pengelolaan dilakukan oleh Takmir Masjid Al-Ma’ruf selaku pelaksana teknis program dibawah kerjasama dengan DSNI Amanah selaku penyedia fasilitas (tenda). Pengelola memungut sewa yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Seluruh biaya sewa yang dipungut untuk tahun pertama akan diserahkan sepenuhnya kepada Pengelola.

Waktu kegiatan jual beli dimulai pukul 16:00 dan selesai pada pukul 22:00. Setelah pukul 22:00, fasilitas (tenda) akan tetap berada dilokasi, perlengkapan pedagang akan disimpan untuk menjaga kebersihan dan ketertiban.

11. Usaha Mini Market

DSNI Amanah sejauh ini telah memiliki mini market dengan NI’Ma. Tersebar di beberapa tempat di Batam. Keseluruhan berjumlah 6 mini market. Dari jumlah tersebut 3 diantaranya berada di kawasan Batamindo. Masing-masing di lingkungan Masjid Nurul Islam dan dan di Masjid Nurul Iman.

 

12. Perusahaan Travel.

Usaha produktif yang juga dikelola oleh DSNI Amanah adalah perusahaan travel. Berkantor di lingkungan masjid Nurul islam. Perusahaan ini melayani tiket penerbanyan, dari Batam ke kota-kota besar lainnya di Indonesia. Termasuk yang dilayani adalah tiket perjalanan dengan pesawat dan atau kapal Ferry Batam-Singapura, dan Batam-Kualalumpur/ Johor.

 

13. BMT (Baitul Mal wat Tamwil)

Berkantor di lingkungan Masjid Nurul Islam. Bergerak di bidang jasa pengelolaan modal usaha kecil dan menengah.

 

15. Rumah Makan dan Cafe

Lokasinhya di lingkungan masjid Nurul Islam dan masjid Nurul Iman. DSNI membuka cafe dan rumah makan. Ada yang dikelola melalui kerjasama dengan RM Masakan Padang. Khusus yang berlokasi di halaman masjid Nurul Islam, dibuka beberapa warung makan dan minuman. Para pembeli adalah jamaah masjid yang mengikuti kegiatan rutin, seperti jamaah shalat , dan para peserta kegiatan pendidikan di masjid tersebut. Pada tiba waktu shalat, semua transaksi dihentikan, dan para karyawan menjalankan ibadah shalat berjamaah.

12. IMS: Ibu Mandiri Sejahtera

LAZ DSNI Amanah meluncurkan juga program Ekonomi yang disebut IMS atau Ibu Mandiri Sejahtera (04/01/10). Program ini diperuntukkan bagi ibu-ibu dari kalangan ekonomi pra-sejahtera untuk membantu perekonomia suami. Tujuannya untuk menopang kehidupan rumah tangga. Ditujukan khusus untuk para ibu (yang masih bersuami) dengan diberikan dana bantuan usaha kecil sebesar Rp. 1,5 juta hingga Rp. 2 juta. Penyaluran dana bantuan diberikan secara bertahap, dimulai dari Rp. 500.000,-. Maksudnya untuk melatih para ibu melakukan pembukuan dan agar bisa menata manajemen keuangannya sendiri sebelum diberikan lagi bantuan dalam jumlah lebih besar. Selain itu, juga untuk kontrol atau monitor dari kinerja masing-masing penerima bantuan bagaimana mereka menjalankan usahanya.

Dalam konteks dakwah bilhal, terlalu banyak yang bisa ditelusur mengenai kegiatan yang telah dan sedang dilakukan oleh DSNI Amanah khususnya dan oleh manajemen Nurul Islam Group pada umumnya.

DSNI Amanah juga telah bersertifikasi ISO 9001:2000 sejak 2007 dan audit oleh akuntan publik sejak 2005. Hal ini, juga tampaknya memacu semangat para pengelola DSNI dalam berkarya mensejahterakan dhuafa dan memuliakan aghniya.  Demikian harapan Arief.

Sampai dengan akhir tahun 2009, DSNI Amanah merupakan Lembaga Zakat yang telah berkiprah dan mengabdi di Batam selama 8 tahun. Dalam kurun waktu 8 tahun tersebut, DSNI Amanah menjadi terdepan dari penerimaan dana zakat,infaq dan shadaqah yang dihimpun sehingga mencapai 4 Milyar pada yahun 2008 lalu. Tahun 2009 DSNI Amanah berhasil menghimpun dana lebih dari 6 milyar.

 

Perspektif

Di provinsi Kepri, DSNI Amanah merupakan Lembaga Zakat yang paling banyak menebarkan da’i, terutama di pulau hinterland melalui program PDP (Pemberdayaan Desa Pantai). Dalam program tersebut telah mampu memajukan dan mengangkat kehidupan masyarakat desa pantai di pulau-pulau terpencil di pelosok Kepulauan Riau. Program unggulan lainnya adalah BTS yaitu Budidaya Ternak Sehat. Program ini merupakan satu-satunya di Batam dan merupakan program percontohan. Dengan program ini, DSNI Amanah berupaya untuk mendidik pada mustahik atau kaum dhuafa menjadi peternak sukses, dan terutama juga untuk menyeimbangkan pasokan daging kambing dan domba di Batam dan pulau-pulau terpencil yang selama ini sangat kesulitan untuk mendapatkan daging terutama saat Hari Raya Idul Qurban.

Bagi Muzakki, DSNI Amanah, saat ini akan semakin nyaman dengan kemajuan teknologi dan system pengelolaan keuangan zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Begitupun dalam penyaluran dan pemberdayaan zakat kepada mustahik atau orang yang menerima zakat, saat ini telah diterapkan manajemen pengelolaan dana di samping program pemberdayaan yang efektif. Dan sebagai bentuk transparansi lembaga, tahun 2006 dan tahun 2007, DSNI Amanah telah diaudit oleh Akuntan publik.

Dalam pengelolaan sebuah Organisasi Pengelola Zakat juga sangat tergantung dalam pengelolaan keuangannya yang memiliki ketentuan standart dan sistem pelaporan yang khas. Manajemen Keuangan yang biasa digunakan oleh Organisasi Pengelola Zakat biasa disebut dengan ZAFAM (Zakat Accounting & Finance Management). Jenis akuntansi yang digunakan dalam ZAFAM yaitu Akuntansi Dana, memiliki sistem akuntansi dan penganggaran terpisah dan sistem akuntansi berpasangan; memiliki seperangkat catatan dan laporan yang terpisah melalui sistem akuntansi; serta memisahkan jenis & nama dana untuk tujuan tertentu.

 

Simpulan dan Rekomendasi

  1. Dakwah berpola multikultural terutama di kawasan Industri Batamindo, cukup survive. Dengan pengembangan model dakwah bilhal, melibatkan sumber daya manusia dari beragam latar belakang etnik, dan beragam alumni perguruan tinggi. Secara bersama-sama mereka membangun sistem managemen terpadu. Kegiatannya telah menyentuh hampir semua persoalan yang dibutuhkan masyarakat Oleh karena itu, perlu diperhatikan kontinuitasnya, dengan memperkuat semangat entrepreneurship di kalangan para pegiat dakwah itu sendiri, di samping juga pada kalangan mustahiq.
  2. Sinergitas dan kebersamaan menjadi modal kesuksesan dakwah, dengan mengedepankan semangat anak muda sebagai pegiat dakwah. Mereka berusia antara 20-30 tahun, dan berpendidikan minimal S-1. Hampir semua pegiat merupakan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Latar belakang keragaman etnik, telah dilenturkan, dan dipersatukan oleh kesamaan semangat keagamaan. Telah pula mampu membentuk karakter progresif, dan mampu mengartikulasikan panggilan agama  untuk  keadilan dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu perlu didukung dengan program-program stimulasi dari pemerintah.
  3. Di bawah manajemen modern-Islami, dalam mengelola dakwah bilhal, telah menjadikan lembaga lembaga di bawah Nurul Islam Group sebagai model manajemen social enterpreneur untuk pemberdayaan sumber dana umat yang berupa zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf (ZISWaf). Dengan wadah ini seakan telah menjadi Icon dakwah bilhal kota Batam. Besarnya potensi pada DSNI Amanah Batam tersebut, patut diapresiasi oleh para pengambil kebijakan pengembangan kelembagaan ZIS di tingkat nasional dan Pemda setempat. Partisipasi yang lebih besar dari pihak manajemen pengelola kawasan Industri, juga sangat dibutuhkan. Karena keterlibatan perusahaan selama ini masih terbatas. Sedangkan peran  Manajemen Nurul Islam Group, dalam mengelola lingkungan, sangat berarti bagi penciptaan lingkungan yang aman di tengah masyarakat multietnis

[1] Pengertian “pemberdayaan”, menurut DSNI, adalah segala usaha untuk membebaskan masyarakat miskin dari belenggu kemiskinan yang menghasilkan suatu situasi di mana kesempatan-kesempatan ekonomis tertutup bagi mereka. Karena kemiskinan yang terjadi tidak bersifat alamiah semata, melainkan hasil berbagai macam faktor yang menyangkut kekuasaan dan kebijakan. Maka upaya pemberdayaan juga melibatkan kedua faktor tersebut.