Dakwah dalam artinya yang paling elmenter adalah menyampaikan pesan-pesan suci dan luhur yang bersumber dari ajaran agama. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dakwah telah menjadi bagian dari gerak hidup dan dinamika di Indonesia. Substansi dakwah yang disampaikan setidaknya mencakup dua hal, yakni ajakan berbuat kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah berbuat jahat atau penyimpangan ( nahyu munkar).

Secara substansial dakwah merupakan pendidikan masyarakat, yang dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional. Sebagaimana diketahui, dalam Undang Undang Sikdiknas Bab II Pasal 3 disebutkan  bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar mennjadi manusia yang beriman dan bertakwa  kjepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab”. Tujuan seperti diamanahkan dalam undang-undang tersebut menempatkan dimenasi moral keagamaan sebagai bagian yang penting.

Masyarakat yang menjadi sasaran dakwah, adalah masyarakat yang haus hiburan. Mereka menerima pesan-pesan tersebut selagi tuntunan itu mengandung unsur hiburan. Sehingga dakwah menjadi pesan yang menghibur. Dai seakan menjadi pemain panggung, yang harus pandai berimprovisasi, demi kepuasan audien. Ini hanya salah satu contoh di mana kegiatan dakwah berhadapan dengan komunitas yang beraneka ragam budayanya, hobinya, tingkat pendidikannya, tingkat ekonominya, tetapi di”persatukan” oleh persamaan kebutuhan, dan kebutuhan itu dicoba penuhi melalui kegiatan dakwah.

Sementara itu, dakwah yang berpola multikultur adalah bernuansa kebangsaan, dan oleh karena itu berlaku juga aturan sebagaimana diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam negeri Nomor 1 Tahun 1979, khususnya pada  Bab III Pasal 3, yang menyebutkan: “Pelaksanaan penyiaran agama dilakukan dengan semangat kerukunan, tenggang rasa, saling menghargai dan saling menghormati antara sesama umat beragama serta dilandaskan pada penghormatan terhadap hak dan kemerdekaan seseorang untuk memeluk/menganut dan melakukan ibadat menurut agamanya”. Fungsi saling menghormati bisa dimaknai senantiasa memposisikan dakwah sebagai juru bicara kebudayaan.  Dalam menyampaikan ajaran agama, sang juru dakwah tidak mengambil jarak dengan budaya setempat. Budaya yang beraneka di amsyarakat perlu diperlakukan secara adil, daan dijadikan pintu masuk untuk mana ajaran agama bias disosialisasikan.

Metode berdakwah dengan memadukan tuntunan dan tontonan, telah sejak lama dipakai sejak masuknya agama Islam di Indonesia. Pada masyarakat Jawa, sudah tidak asing lagi, dengan peran Sunan Kalijaga misalnya, yang memanfaatkan media kesenian wayang sebagai media dakwahnya. Jenis kesenian ini menjadi instrument penting, untuk pendekatan secara kulturaal.

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas social yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antarbudaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini.

Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu  yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional seperti jelang Pemilu, memperingati proklamasi kemerdekaan, menghadapi musibah bencana alam, dll.

Berdakwah juga dihadapkan pada pilihan waktu, yang dianggap tepat bagi audien. Karena hal menjadi bagian dari metode dakwah itu sendiri. Teruama bagi yang biasa menangani dakwah melalui media televisi, sangat memperhitungkan pilihan waktu tayang, antara prim time dan non prime time. Artinya, bahwa kegiatan dakwah dewasa ini perlu fleksibilitas, dengan mempertimbankan situasi dan minat masyarakat.

Bentuk-bentuk siaran bermuatan dakwah melalui TV, selama ini cukup vareatif. Di antaranya adalah dengan metode wawancara (interview); diskusi interaktif (interactive dialogue); dialog open space; fragmen; kontak pemirsa; dengan ilustrasi musik (TV play in music); sandiwara tari (TV play in dance). Walau diakui, bahwa secara umum dengan berbagai bentuk tayangan masih belum meningkatkan rating acara yang bersangkutan.

Lain lagi dengan kegiatan dakwah oleh para penyuluh agama. Karena mereka adalah aparat pemerintah, maka bekerjanyapun lebih terikat pada jam-jam kerja. Ceramah agama disampaikan pada jam-jam kerja. Kecuali ada kebijakan lain, atas dasar perminataan audien, di mana pilihan waktunya berada di luar jam kerja kantor.

Substansi dakwah yang dikembangkan merupakan  respon atas kondisi yang dilatarbelakangi oleh keragaman budaya atau masyarakat multikultural. Terutama masyarakat kota, yang didominasi oleh kaum urban. Pengertian multikultur sendiri, secara konsepsional  ada dua perbedaan dengan makna yang saling berkatian (Liliweri, 2005:69). Pertama, multikultural sebagai kondisi kemajemukan kebudayaan  atau pluralisme budaya dari suatu masyarakat. Kondisi ini diasumsikan dapat membentuk  sikap toleransi. Kedua, multikulturalisme merupakan seperangkat kebijakan pemerintah pusat yang dirancang sedemikian rupa agar seluruh masyarakat dapat memberikan perhatian  kepada kebudayaan dari semua kelompok etnik atau suku bangsa. Hal ini beralasan, karena bagaimanapun juga, semua kelompok etnik  atau suku bangsa telah memberi  kontribusi bagi pembentukan dan pembangunan suatu bangsa.

Paham masyarakat multikultur adalah merayakan, mencari serta melindungi keragaman budaya termasuk mempertahankan agama dan bahasa kaum minoritas. Setelah perjalanan yang agak panjang, hak-hak kaum minoritas dewasa ini memperoleh apresiasi serta dukungan moral dan pendapat internasional, termasuk PBB. Yang tidak kalah penting adalah, paham multikultur ini memperoleh dukungan ajaran dasar Islam, seperti tersurat pada S. Hujarat 13, misalnya: Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dalam kaitan dengan polecy kedakwahan, multikulturalisme merupakan konsep sosial yang diitrodusir ke dalam kegiatan dakwah. Jadi dakwah berwawasan multikultural, merupakan kebijakan dakwah yang mampu mengayomi setiap kelompok dan mengapresiasi perbedaan kultur di masyarakat. Setiap kebijakan dakwah diharapkan mampu mendorong lahirnya sikap apresiatif, toleransi, prinsip kesetaraan antar budaya, kesetaraan gender, kesetaraan antar pelbagai kelompok etnik, kesetaraan bahasa, agama, dan sebagainya.

Memilih tema dakwah yang multikulturalis adalah pilihan-pilihan yang secara tidak langsung,  menangkap komintemn sosial untuk secara bersama-sama mengusung persoalan kemajemukan dan untuk kemaslahatan bangsa itu sendiri. Karena bagaimanapun kegiatan dakwah yang berhasil adalah yang selalu mempertimbangkan sisi kultural sekaligus multikultural dalam masyarakat,

Kebutuhan manusia akan dakwah merupakan kebutuhan yang oleh sementara kalangan merupakan kebutuhan skunder, yang hanya dianggap penting setelah terpenuhinya kebutuhan pokok yang lain. Sementara dakwah,  yang ada sekarang menjadi bagian dari instrument kehidupan di tengah maraknya hiburan dan kebudayaan bazar, sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi, serta media hiburan.

Dakwah juga berfungsi sebagai penyebar informasi keagamaan, karena melalui kegiatan ini, dakwah menanamkan pengetahuan keagamaan untuk bisa diserap oleh audien. Informasi keagamaan tesebut dikemas melalui retorika yang diciptakan oleh para pegiat dakwah. Oleh karenanya, keterbukan dan penguasaan teknologi dan informasi mutlak diperlukan oleh para da’i, jika mereka ingin tetap mempunyai penggemar dan bisa survive ditengah-tengah masyarakat yang dikenal dengan masyarakat modern.

Kemajemukan bangsa Indonesia secara kultural, sebagai sasaran dakwah, bukan sebuah cita-cita, tetapi adalah fakta sosial. Di dalamnya juga terdiri komunitas-kmunitas baru, yang berafiliasi pada kesamaan ideologi politik, keamaan paham keagamaan tertentu, kesamaan hobi, kesamaan profesi dan kesemanaan minat lainnya.

Kegiatan dakwah di masyarakat, dan di media massa selama ini, relatif telah responsif, terhadap kondisi masyarakat yang modern. Setidaknya telah berupaya agar pesan-pesan keagamaan yang disampaikan bisa diterima secara baik. Mereka biasa menggunakan berbagai metode dalam berdakwah. Namun masih menjadi pertanyaan besar: apakah substansi dakwah telah menyesuaikan dengan kemajemukan dan atau keperbedaan kultur di masyarakat; Apakah kebijakan dakwah multikultur telah terformulasi dengan baik. Demikian juga para da’i sebagai nara sumber atau aktor, apakah sudah berkemampuan meramu kemajemukan tersebut.

Dimaksud dengan substansi dakwah di sini adalah segala aspek yang berfungsi dalam kegiatan tersebut, meliputi:

(1)  Isi atau pesan-pesan yang disampaikan;

(2)  Metode penyampaian

(3)  Narasumber atau da’i yang berperan;

(4)  Media yang digunakan

Sementara itu masyarakat kini juga telah mengarah pada pembentukan kekuatan civil society, yang juga memerlukan perhatian. Seakan menjadi keharusan sejarah, bahwa:

  1. Setiap individu berdiri secara independen dari tiap ikatan keluarga dan pemerintah;
  2. Dilemahkannya ikatan-ikatan primordial.
  3. Konsep yang khas tentang dunia, dimulai dari fakta kesejarahan;
  4. Ikatan keluarga dikeluarkan dari lingkaran kosmik, ritual dan pengorbanan, serta dibebaskan dari segala kesakaralan;
  5. Struktur sosial kehilangan kesakralannya;
  6. Keterbukaan pimpinannya untuk dapat dinilai kemampuannya berdasarkan landasan- landasan  yang universalistik;
  7. Menggerakkan partisipasi segenap komponen masyarakat.

(lihat: Robert N. Bellah (2000: 208-219):

Sekilas kondisi Kedakwahan di  TV

Salah satu temuan hasil penelitian Balai Litbang Agama Jakarta tahun 2009, antara lain menyatakan bahwa masyarakat secara umum merespon secara positif terhadap tayangan dakwah Islam di TV Nasional. Sementara tayangan bermuatan dakwah Islam di TV lokal dipandang masih sangat terbatas. Terutama karena kemasannya yang kurang variatif serta nara sumber yang kurang professional. Di samping itu, pada umumnya responden tertarik pada program dakwah TV dengan pendekatan dialog interaktif, karena bisa memberikan wawasan yang lebih luas dari sisi kompleksitas masalah yang timbul di masyarakat, dan keluasan pembahasan oleh pembicara (nara asumber). Paket-paket acara bermuatan dakwah yang mengangkat kasus-kasus riil di masyarakat melalui paket Bedah persoalan atau Curhat, Pencerahan qalbu, memiliki daya tarik tersendiri.

Secara umum responden mengakui kemasan dakwah di sejumlah TV swasta nasional, telah dikemas secara menarik, orisinal, trendy. Dengan durasi yang relatif tidak lama yakni 30 menit, sehingga tidak membosankan. Pilihan topik juga dikemas secara dinamis, dan disampaikan secara tidak monoton, dan tidak terkesan menggurui. Misalnya Teropong Iman oleh Aa’ Jimmy di Trans TV dengan gaya komedian. dan Curhat dong di Indosiar. Perjalanan Tiga Wanita (PTW) juga Trans TV, dengan ilustrasi open sapce dan bertualang menusuri alam Kebesaran Tuhan di alam terbuka. Dakwah seperti itu tidak membosankan, lebih interaktif, variatif.

Pada sebagian tayangan dakwah di TV nasional, relatif telah mempengaruhi dinamika dakwah Islam, yakni: (a) tema dan materi yang disajikan mampu memberikan jawaban Islam terhadap berbagai permasalahan umat; (b) TV ternyata tidak hanya dengan melakukan program dakwah yang konvensional, sporadis, dan reaktif, tetapi lebih profesional, strategis, dan pro-aktif; (c) kemampuan mengemas acara dakwah dengan pola pengintregasian antara wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam berbagai dakwah yang ingin disajikan, melalui pendekatan dakwah yang progresif dan inklusif; (d) dukungan para juru dakwah yang relatif memiliki persyaratan akademik dan empirik. Panampilan narasumber seperti ustadz Mahfiudin,  KH. Mustofa Ya’kub, ustadz Ahmad al-Habsy, ustadz Yusuf Mansyur dan ustadz Hidayat, secara umum bisa diterima oleh masyarakat. Antara lain, karena mereka mampu menetralisir masalaah-masalah yang kontroversial dan memberikan solusi seperlunya;

Dua pendekatan dakwah yang telah ditempuh selama ini, terutama melalui media TV, merupakan pendekatan struktural dan sekaligus pendekatan kultural.  Pendekatan pertama, menekankan aspek normatif dan lebih bersifat top-down. Sementara dakwah secara kultural menekankan aspek historis, bersifat buttom-up, akomodatif terhadap nilai budaya tertentu secara inovatif dan kreatif tanpa menghilangkan aspek substansial keagamaan

Kemasan dakwah selama ini sudah seharusnya selalu membuka inovasi, pro-aktif dengan audien, metode yang variatif dan mampu memberikan solusi atas problem yang dihadapi masyarakat.

Langkah Langkah Strategis

Langkah yang sebaiknya dilakukan, dalam dakwah di manapun dan lewat madeia apapun, agar mampu menjadi penyeimbang bagi perkembangan sosial budaya sekuler yang semata-mata hanya bersifat komersial. Meski masih harus lebih diperdalam lagi, seberapa besar penyeimbang tersebut, karena dampak kgiatan dakwah tidak bisa diketahui secara langsung. Tapi setidaknya kalau disanding dengan sesama kegiatan lain, seperti di bidang bisnis, dan inovasi-inovasi dalam dunia pendidikan, mampu berpacu, dalam waktu yang bersamaan.

Perlu kerjasama bersinergi antar lembaga dakwah, di bawah ormas Islam, dan lembaga dakwah di bawah pemerintah.

  1. Bahwa masyarakat multikultural sebagai sasaran dakwah, perlu dimaknai sebagai upaya berlapang hati untuk mau menerima perbedaan dengan kelompok lain. Penguatan diri diartikan bahwa dakwah harus bersinergi dengan kepentingan Bangsa. Dakwah juga harus menghargai hak asasi manusia.
  2. Penguatan masyarakat multikultural, ditempuh dengan memperkuat ikatan-ikatan sosial berbasis kebebasan beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan setiap orang/kelompok. Di bawah payung kesatuan bangsa dan Negara.
  3. Kelompok penganut agama yang berbeda-beda di lingkungan masyarakat, masing-masing bisa memelihara diri untuk tidak melakukan kegiatan yang bersifat propaganda agama. Sebaliknya mereka diharapkan mencari persaman-persamaan, sehingga tidak ada peluang untuk terbukanya konflik antar agama.
  4. Kearifan- kearifan yang ditemui pada masyarakat latar belakang etnis dan kultur, sebaiknya dijadikan acuan untuk yang membangun kearifan pada tataran yang lebih luas, yakni kepentingan nasional.
  5. Hubungan-hubungan sangat personal antar warga harus dibina secara terus-menerus untuk memperkuat sendi-sendi kebersamaan dan dalam menangung beban hidup mereka. Masyarakat tidak perlu dibawa kearah persaingan khususnya dalam bidang usaha dan kepemilikan barang. Sebaliknya justru dibawa kearah persaingan kebajikan dan kualitas hidup.
  6. Lembaga-lembaga dakwah memiliki arti penting dalam penguatan masyarakat multikutur. Sebagai institusi sosial, lembaga dakwah perlu meningkatkan kemampuannya melakukan gerakan untuk pengembangan potensi secara signifikan dalam rangka memperbaiki taraf hidup masyarakat, dan membangun kreativitas dan perekayasaan sosial.
  7. Solidaritas (ukhuwah Islamiyah) perlu dibangun melalui tradisi keagamaan, dari waktu ke waktu, guna memperkuat kesatuan komunitas sosial, dan tidak lagi memberi peluang terjadinya konflik bernuansa agama atau etnis. Sebaliknya menuju ke arah adanya kerjasama dalam aktivitas sosial keagamaan.
  8. Ketataan pada hukum, dimaknai juga ketataan pada nilai-nilai yang dibangun bersama, yang didasarkan pada ajaran agamanya, pada tradisi dan hasil dari proses adaptasi dan integrasi antarbudaya. Keharmonisan hubungan antar individu dan antar kelompok berbeda agama, serta berbeda latar belakang budaya, etnisitas, harus dipelihara dengan baik, tanpa merasa terpaksa atau dipaksa oleh pihak lain. Di sanalah ketaatan hukum dalam arti yang sebenarnya, dalam masyarakat multikultural.
  9. Perlu dirumuskan materi dakwah yang mengurai setiap aspek kedakwahan dengan sasaran masyarakat multicultural. Diharapkan dengan rumusan materi itu, bisa dijadikan acuan bagi para pegiat dakwah, secara kelembagaan maupun secara personal.