You are currently browsing the category archive for the 'KOMUNITAS' category.
“Saudara ini yang saya cari”, kata Pak Djohan, mengawali pertemuan saya dengannya di tahun 1981an. Saat itu Pak Djohan Effendi adalah kepala Balai Penelitian dan Kemasyarakatan Jakarta yang berkantor di Jl. Kramat Raya 85 jakarta Pusat. Saya adalah seorang pencari kerja yang sedang mengajukan lamaran untuk menjadi peneliti di kantornya.
Tidak tahu kenapa pak Djohan bersimpati dengan saya, ketika membuka-buka berkas lampiran surat permohonan saya. Rupanya ia terkesan dengan pengalaman jurnalistik saya. Karena saya memang memperkenalkan diri saya sebagai mantan wartawan kampus, tepatnya redaktur majalah ARENA yang diterbitkan Dewan mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga. Sementara saya kala itu juga masih mengasuh majalah remaja masjid Menara yang terbit di Yogyakarta.
Omong-omong berlanjut ke soal HB Yassin. Waktu itu memang masih hangat perbincangan mengenai terbitnya buku Terjemahan al Qur’an oleh HB Jassin. Heboh pro-kontro atas penerbitan buku tersebut terjadi di media massa. Djohan Effendi sendiri dikenal sebagai sekretarisnya HB Yassin untuk penulis karya terjemahan kitab suci itu. Kebetulan saya adalah salah seorang yang ikut berpolemik melalui harian Pelita, dalam dalam posisi pendukung berat langkah HB Jassin. Ketika situasi perdebatan agak reda, muncul lagi isu hangat menyangkut Ahmad Wahib, dengan terbitnya buku Pergolakan Pemikiran Islam yang dieditori oleh Djohan sendiri dan Ismet Natsir.
Glorianet – Konflik dan kekerasan bearoma agama hampir selalu menjadi bagian dari dialektika sejarah umat manusia. Karena di mana ada konflik maka akan ada respon para pemimpin agama, dan menjadi keprihatinan semua pihak sehingga mereka selalu mencari solusinya, meski mungkin bersifat sementara. Tapi, tetap mempunyai nilai kontrol yang baik.
Demikian dikatakan Profesor Marzani Anwar dalam orasi pengukuhan Ahli Peneliti Utama Departemen Agama, Rabu (5/1/05). Pengukuhan dilakukan oleh Menteri Agama, Muhammad M Basyuni dan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Umar Anggoro Jennie. Selain Marzani Anwar dikukuhkan juga Abdul Azi Al Bone.
“Dari kontrol, evaluasi dan dialog antaragama itu lalu menemukan cara-cara hidup beragama yang baru, baik dalam hubungan internal maupun eksternal. Bahwa mereka yang terlibat konflik sesungguhnya tidak menyukai kekerasan dan konflik itu sendiri (Paradoksi Dalam Keberagamaan). Inilah yang menjamin bahwa agama masih bisa menjadi solusi bagi keutuhan bangsa dan Negara,” ujar Marzani Anwar yang alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1979 itu.
Maftuh Basyuni dalam sambutannya berharap agar penelitian dan pengkajian sosial keagamaan terus dilakukan. Karena masih sering terjadi konflik komunal bernuansa agama, dan itu selalu pula terkait dengan persoalan sosial politik, ekonomi, budaya dan sebagainya.
Dituturkan Maftuh Basyuni, pengukuhan Ahli Peneliti Tama pada Litbang Agama ini diharapkan dapat meningkatkan SDM di lembaga ini. “Sebagai lembaga yang bertugas melakukan penelitian, badan litbang agama diharapkan dapat menyediakan data dan informasi untuk penelitian dan kajian yang dapat dijadikan bahan untuk pengambilan keputusan. (GCM/SP-E5)- (Lintas Berita: glorianet.org/arsip/b5692.html)
NAMA lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD. Setahun lalu, ketika baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (profesor) di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.
Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai profesor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri Paman Sam, itu.
Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral.
Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional.
Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC .
Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia.
Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan. Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks (buku wajib pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.
Karena itu, Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri rantau tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu sampai sekarang masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum satu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Kemana pun dirinya pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri sebagai orang Indonesia. Sikap Nelson itu sangat membanggakan di tengah banyak tokoh kita yang malu mengakui Indonesia sebagai tanah kelahirannya. “Saya sangat cinta tanah kelahiran saya.
Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia,” katanya, serius. Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang dicap sebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan memperlihatkan ketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh dari basa-basi.
“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras,” kata Nelson menjawab koran ini.
Adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU). Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan. Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant professor di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi. “Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya sebenarnya l ebih condong ke arah fisika terapan dan quantum electronics,” jelasnya.
Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya tersebut, jika meminjam istilah di Amerika, bertumpu pada tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching. Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Di sana , 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.
Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-kobar dan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok Nelson sangat bersahaja dan bahkan suka merendah. Busana kesehariannya juga tak aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah dan pantalon. Sekilas, dia terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya serin g tersembunyi di balik penampilannya yang seperti tak suka bicara. Tapi, ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi para intelektual, jati diri akademisi Nelson tampak. Lingkungan akademisi, riset, dan kampus memang menjadi dunianya. Dia selalu peduli pada kepentingan serta dahaga pengetahuan para mahasiswanya di kampus.
Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak sedikit insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.
“Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master tentang semiconductor device physics. Begitulah,” ungkap Nelson menjawab soal kegiatan mengajarnya.
September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for semiconductor nanotechnology. “Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh University ini,” jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus.
Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika (American dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib di negeri itu dengan segala persaingannya yang superketat. Di Negeri Paman Sam tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang kini menjadi Gubernur California Arnold Schwarzenegger yang sebenarnya adalah imigran asal Austria. Kemudian, dalam Kabinet George Walker Bush sekarang juga ada imigrannya, yakni Mente ri Tenaga Kerja Elaine L. Chao. Imigran asal Taipei tersebut merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi menteri selama sejarah AS.
Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1 hingga S-3 di University of Wisconsin di Madison. Nelson menyelesaikan pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil bidang electrical engineering. Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengaku bahwa semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya. Saat ditanya mengenai siapa yang paling berpengaruh, dia cepat menyebut kedua orang tuanya dan kakeknya. “Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali,” ujarnya.
Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orang tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya. Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. “Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu,” ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. “Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras.
Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu,” jelasnya.
Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati Nelson Tansu menjadi fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya sedikit ya ng tahu bahwa guru besar belia itu berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson ada hubungan famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. Benarkah? Nama Nelson Tansu memang cukup unik. Sekilas, sama sekali nama itu tidak mengindikasikan identitas etnis, ras, atau asal negeri tertentu. Karena itu, di Negeri Paman Sam, banyak yang keliru membaca, mengetahui, atau berkenalan dengan profesor belia tersebut. Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website Turki. Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negerinya Kemal Ataturk.
Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok . Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia “kembali” mengajar di Jepang. Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang. Lebih-lebih di Amerika banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan jarang-jarang memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala kekeliruan terhadap dirinya. “Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia. Mereka memang agak terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia,”jelas Nelson. Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang “Tansu”, sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu. “Saya suka dengan nama Tansu, kok,” kata Nelson dengan nada bangga.
Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner, dan selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1. Selebihnya? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung lewat beasiswa universitas. “Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di universitas,” katanya.
Orang seperti Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak sulit memenangi berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan penghargaan dan anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini di AS. Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-cita dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor (profesor muda, Red) tak pernah terbayangkannya bisa diraih pada usia 25 tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau masyarakat di Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun? Bahkan, di AS yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan fenomena umum. Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang status guru besar.
Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan post doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset Nelson yang dipatenkan di AS.
Kemudian, dua buku teksnya untuk mahasiswa S-1 dalam proses penerbitan. Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan merendah.
Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset yang hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai profesor di AS, dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme tersebut. Ketika mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti akan terperanjat. Cukup fenomenal. “Sejak SD kelas 3 atau kelas 4 di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil,” ujarnya dengan mimik serius. Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika usia SD, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann ternyata sudah diakrabi Nelson cilik. “Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika itu,” jelas Nelson penuh kagum.
Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003. Untuk bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan dan papan atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk menjadi profesor di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300 doktor yang resume (CV)-nya juga hebat-hebat. “Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya satu,” ujarnya. Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya? “Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he…he…he…,” katanya, menyelipkan senyum.
Riwayat hidup dan reputasinya memang wow.
Nelson sempat menjadi incaran dan malah “rebutan” kalangan universitas AS dan mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi daripada yang dia sandan g sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University. Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top. Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain.
“Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure optoelectronic devices.
Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset. ( sumber: milis icrp, 12-2007)
Oleh: Ade Armando
”Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH! PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! Ahmadiyah halal darahnya! Persetan HAM! Tai kucing HAM! Allahu Akbar”
Kalimat-kalimat penuh kebencian itu dilontarkan Sobri Lubis. Dia adalah seorang tokoh Front Pembela Islam (FPI) yang berpidato dalam tabligh akbar di Banjar, Jawa Barat, 14 Februari 2008.
Saya memiliki rekaman pidatonya saat Sobri tampil dengan didampingi beberapa tokoh lainnya di hadapan ribuan umat Islam. Selain Sobri, ada pula Ir. M. Khattath, pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia, yang dengan lebih tenang — dan dengan senyum dinginnya — menyatakan bila pengikut Ahmadiyah tidak mau bertobat, hukumannya mati. Juga ada Abu Bakar Baasyir yang juga dengan tenang menyatakan hukuman bagi nabi palsu sederhana: kalau ditemukan, tangkap, potong leher.
Kutipan-kutipan di atas sengaja diangkat untuk menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai masih adanya gerakan-gerakan radikal yang menghalalkan kekerasan dalam umat Islam di Indonesia bukanlah omong kosong. Inilah kalangan yang atas nama agama merasa berhak menghabisi mereka yang berada di luar kelompoknya. Dalam kasus terakhir ini, mereka secara bergelombang berusaha memaksa pemerintah untuk tunduk pada keyakinan mereka: bubarkan Ahmadiyah, nyatakan Ahmadiyah sebagai ajaran terlarang, paksa mereka tobat!
Kalau pemerintah tidak mau membubarkan, bagaimana? Di sini, pantas lagi dikutip pernyataan seorang aktivis yang menyebut dirinya Panglima Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII). Bernama asli Abdul Haris Umarela, orang yang sekarang mengubah namanya menjadi Abdurrahman Assegaf itu berfatwa: ”Darah Ahmadiyah halal,” Lalu, Umarela ini berkata pula: ”Insya Allah, dalam waktu dekat, bila pemerintah tidak menutup Ahmadiyah, jangan kami disalahkan bila kami akan memberantas mereka …”
Saya bukan penganut Ahmadiyah. Saya duga sebagian besar dari pembaca artikel ini bukanlah penganut Ahmadiyah. Tapi saya ingin mengingatkan Anda semua untuk melihat ancaman yang sangat nyata dari kelompok-kelompok preman berjubah – dengan menggunakan istilah Ahmad Syafii Maarif – tersebut terhadap pertama-tama, Ahmadiyah, dan juga pada gilirannya nanti, pada keragaman dalam Islam dan juga kebhinekaan di negara ini.
Oleh: Ruzbihan Hamazani
Dikutip dari: ruzbihanhamazani.wordpress.com/2008. 7 Juni 2008
Keberatan sejumlah kelompok Islam terhadap Ahmadiyah, antara lain, adalah bahwa sekte ini menganut ajaran yang berlawanan dengan akidah Islam, terutama kepercayaan tentang adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Ini berlawanan dengan doktrin standar Islam tentang finalitas kenabian Muhammad. Mereka mengatakan: jika Ahmadiyah mau tetap diakaui sebagai bagian dari umat Islam, maka sekte itu harus kembali ke ajaran Islam yang benar. Dengan kata lain, harus meninggalkan doktrin kenabian mereka. Jika tidak, mereka harus mendirikan agama baru di luar Islam.
Banyak tokoh Islam yang berpandangan bahwa masalah Ahmadiyah akan selesai jika kelompok ini mau memisahkan diri dengan baik-baik dari Islam, dan mendirikan agama baru. Pandangan ini tampaknya mendapat banyak pengikut di kalangan tokoh-tokoh Islam. Mulai dari Ketua MPR, anggota DPR, menteri agama, sejumlah tokoh dalam MUI, dan tokoh-tokoh Islam lain pernah mengemukakan hal ini secara publik lewat media massa.
Pertanyaannya: apakah betul jika Ahmadiyah menjadi agama baru, masalahnya akan selesai? Apakah benar, jika kelompok ini menyatakan diri sebagai agama baru di luar Islam, dia tidak dimusuhi lagi oleh sejumlah kelompok dalam Islam sebagaimana kita lihat saat ini?
Saya, terus terang, ragu sama sekali. Argumen ini dikemukakan oleh banyak kalangan Islam (terutama yang konservatif dan fundamentalis) sebagai “taktik sementara” untuk melumpuhkan Ahmadiyah sebagai sebuah jamaah. Saya tidak yakin, kalangan Islam yang memakai argumen ini benar-benar memiliki komitmen untuk tidak mengganggu Ahmadiyah setelah sekte itu benar-benar memisahkan diri sebagai agama baru. Sejak awal, kelompok ini memusuhi ide toleransi dan anti pluralisme. Bagaimana mungkin kita bisa berharap mereka akan bersikap “pluralis” dan toleran terhadap Ahmadiyah setelah sekte ini benar-benar menjadi agama baru? Bagaimana mungkin kita berharap orang-orang seperti Khalil Ridlwan, Sobri Lubis, Al-Khattat, FPI, FUI, MMI, HTI bisa bersikap pluralis? Mengharap mereka bersikap demikian sama saja berharap “dua ditambah dua sama dengan lima”, alias mustahil.
Taruhlah Ahmadiyah benar-benar menjadi agama baru, meskipun pengandaian ini sangat sulit terjadi, maka sejumlah masalah baru akan tetap muncul kembali. Sebagaimana kita tahu, Ahmadiyah masih memakai Qur’an dan hadis sebagai dua sumber utama dalam kepercayaan mereka. Mereka juga masih beribadah persis dengan umat Islam yang lain. Mereka masih menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan utama. Seluruh akidah mereka di luar masalah kenabian sama persis dengan akidah umat Islam yang lain. Kalau pun ada perbedaan, paling jauh hanya menyangkut interpretasi mengenai beberapa hal yang kurang terlalu penting (misalnya soal kematian Nabi Isa di mana mereka memiliki interpretasi sendiri yang berbeda dari umumnya kalangan Islam dan Kristen).
Jika Ahmadiyah menjadi agama baru, umat Islam “ortodoks” bisa jadi akan mengangkat masalah baru yang tak kalah rumitnya. Mereka bisa saja mempersoalkan penggunaan doktrin, ajaran, simbol dan atribut Islam oleh Ahmadiyah yang sudah menjadi “agama” baru itu. Ingat protes sejumlah kalangan Islam beberapa waktu lalu atas komunitas Kristen di Jakarta yang memakai simbol Islam dalam ibadah natal, seperti baju koko dan peci, dua jenis pakaian yang dianggap sebagai milik khas umat Islam. Jika umat Kristen memakai baju koko saja diprotes karena dianggap “mencuri” simbol Islam, apa yang terjadi nanti jika Ahmadiyah menjadi agama baru, sementtara jamaahnya masih beribadah dan berkeyakinan sama persis dengan umat Islam yang lain?
Kisah Kekerasan dalam Rumah Tangga
Saya yang menulis pengalaman hidup ini, adalah, seorang perempuan asal Yogyakarta. Saat ini berumur 44 tahun. Alamat sementara, bersama ibu saya di Komplek Kehutanan Baciro, Yogyakarta. Sudah kawin, dengan seorang laki-laki yang asalnya berstatus duda, namanya Sd. (umur 58 tahun), karyawan PNS, yang belum lama pensiun.
Saya kawin pada than 30 Januari 1998. Saat perkawinan, disaksikan oleh hampir semua saudara kandung saya. Sementara calon suami hanya datang seorang diri dengan ditemani oleh seorang anaknya yang berusia sekitar 9 tahun. Ia beranak 5 orang dari ketiga isteri sebelumnya. Selama perkawinan kami dikarunia seorang anak laki-laki, yang kini nerusia 8 tahun (lahir 22 September 1999) .
Kami tinggal dalam satu rumah, bersama suami dan keempat anak tiri (karena salah seorang anaknya sudah bekerja di luar kota), menempati rumah berukuran 50 m2 di kampung Bangun Tapan, yang terletak di perbatasan Kab. Bantul dan Yogyakarta. Beberapa perlakuan keras menimpa saya:
1. Sejak awal kehidupan berumahtangga, anak-anak tiri terutama dua orang yang kebetulan usianya menginjak remaja, sudah menunjukkan rasa permusuhan kepada saya. Kesalahan-kesalahan kecil, misalnya diingatkan supaya segera mandi, membuatnya tersingung, dan kemudian dijadikan alasan untuk marah-marah. Kalau kekerasan anak tiriku itu kami sampaikan kepada suami, justru saya tambah dimarahi dan dimaki-maki. Apalagi sejak kami punya anak. Kalau kami pergi, belanja, atau keluar rumah untuk keperluan lain, anak-anak sering menutup pintu rapat-rapat sehingga kami tidak bisa masuk rumah. Pernah mereka membuang pakaian saya yang sedang saya jemur.
Oleh: Marzani Anwar
Komunitas Eden awalnya bernama Salamullah. Muncul di tengah kota Jakarta, sejak tahun 1966. Arti “Salamullah” secara harfiahnya adalah ‘Salam dan keselamatan dari Allah’. Jejak kelompok ini tidak bisa dilepaskan dari pergulatan dan perjalanan spiritual pendirinya, yakni Lia Aminuddin yang merasa terbuka kekasyafannya sejak tanggal 28 Oktober 1995.
Pada awalnya, Salamullah merupakan nama kelompok diskusi atau mudzakarah informal, yang dirintis mulai bulan Nopember 1996. Anggota mudzakarah kebanyakan adalah kalangan anak-anak muda, termasuk sejumlah mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Walaupun belakangan, para anggota mudzakarah tersebut ternyata tidak terpanggil untuk meneruskan Salamullah, bahkan beberapa di antara mereka menjadi bagian dari komisi Fatwa MUI yang mengeluarkan fatwa sesat untuk Salamullah.
Keadaan umat manusia yang tidak pernah damai, dan semakin maraknya kekerasan dan ketegangan antar agama, menjadi agenda tersendiri, yang mendorong Salamullah memilih jalan perenial. Demikian yang sementara terbaca terhadap keterangan dari apa yang tertuang dalam lembaran-lembaran publikasi mereka. Kelompok Salamullah, yang belakangan lebih suka menyebut dirinya komunitas eden, tentu punya argumentasi dan penjelasan atas masalah-masalah tersebut.
Istilah perenial dalam penelitian ini digunakan untuk: (1) mengidentifikasi adanya persamaan antar agama-agama; (2) menjelaskan adanya nilai yang abadi atau berlaku umum yang melekat pada suatu paham keagamaan dan yang bisa diterima atau bersifat universal. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari ajaran agamanya dan mungkin juga melekat pada tradisinya; (3) identifikasi pemikiran dan tindakan yang menjembatani perbedaan antar agama atau antar kelompok keagamaan.
Dalam sebuah penelitian yang penulis lakukan, komunitas dilihat sebagai sebuah gerakan keagamaan yang bersifat messianis. Secara global, gerakan seperti ini, bisa merupakan kepanjangan dari gerakan yang sudah ada sebelumnya, dan bisa juga terbebas dari kelompok sebelumnya. Bisa merupakan bagian dari sebuah organisasi besar, dan bisa juga berdiri sendiri tanpa keterikatan dengan kelompok lain dengan latar belakang apapun.
Berbagai pandangan keagamana dibangun sebagai sistem religi kaum Eden Salamullah. Antara lain dinyatakan, bahwa keberimanannya adalah ketundukannya dan kepasrahannya kepada Tuhan Yang Maha Esa; Eden mengimani keberadaan malaikat-malaikat-Nya, iblis, dan makhluk-makhluk gaib lainnya; Mereka mengimani bahwa Allah menurunkan bimbingan-Nya (kitab suci) kepada berbagai kalangan di sepanjang zaman, baik yang berada di Timur Tengah maupun di belahan bumi lainnya semisal: RgVeda, Tripitaka, Taurat, Zabur, Injil, dan al Qur’an.
Komunitas Eden juga meyakini: (1) Bahwa keberadaan para Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada umat manusia, baik yang disebutkan di dalam kitab-kitab suci maupun yang tak disebutkan; baik yang hidup pada zaman dahulu maupun yang sedang dibangkitkan Tuhan pada saat ini; (2) Bahwa saat ini adalah masa kerasulan, karena Allah sedang mengutus Malaikat Jibril-Ruhul Kudus sebagai rasul-Nya untuk membawa takdir-Nya di akhir zaman; (3) Bahwa Tuhan sedang menjelaskan ayat-ayat tersamar (mutasyabihat), ayat-ayat termaterai, dan menggenapkan nubuah-nubuah-Nya di segala kitab suci; Salamullah meyakini bahwa Malaikat Jibril-Ruhul Kudus sedang membangun surga Allah di bumi, kerajaan-Nya untuk orang-orang beriman dari agama apapun.
Melalui gerakannya, Salamullah hendak menyampaikan pesan-pesan kerasulan, yang intinya adalah: Mengajak umat manusia khususnya yang sudah terlalu jauh meninggalkan Tuhan, untuk kembali menyembah Allah Yang Maha Esa dan menghindarkan segala bentuk pemberhalaan dan pengkultusan kepada siapa pun; Mengajak umat manusia untuk bersaudara dalam kebenaran dan cinta kepada Allah tanpa memandang sekat agama, suku, ras. Siapapun yang membela kebenaran dan keadilan, mereka adalah saudaranya. Siapapun yang berlaku aniaya dan menyalahi kebenaran, tidaklah akan dibelanya walaupun dia berasal dari kelompoknya; Sementara itu, missi Salamullah tidak membuat agar orang tunduk kepada Salamullah, melainkan agar manusia tunduk hanya kepada Tuhan Yang Esa.
Lima Buku Hasil Penelitian Diluncurkan
Sosok Gaib yang Mengaku Ruhul Kudus
Pada Lia Aminuddin itu Jibril atau Bukan?
Pekan lalu, Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta meluncurkan lima buku hasil penelitian sekaligus. Lima buku yang ditulis oleh para peneliti itu setidaknya dapat memberikan informasi dan sebagai rujukan lainnya.
Lima buku hasil penelitian tersebut berjudul: (1) Agama dan HAM: Dalam Kasus di Indonesia oleh H Moh Zahid SH, MH; (2) Jejak-Jejak Komunitas Perenial Eden Salamullah oleh Prof Marzani Anwar, MAg; (3) Pura dan Masjid: Konflik dan Integrasi pada Suku Tengger oleh Drs A Malik MTT, MSi; (4) Islam Menolak Kekerasan : Survival Perempuan Buruh Migran Menyikapi Kekerasan oleh Dra Anik Farida, MHum; (5) Wali dan Keramat dalam Islam oleh Dr H Harapandi Dahri MAg.
Lima buku tersebut dibahas dan didiskusikan sehari penuh di ruang pertemuan Balai Litbang Agama Jalan Rawa Kuning, Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur. Para pakar yang terlibat dalam pembahasan buku tersebut antara lain Prof Dr Atho Mudzhar (Kepala Litbang dan Diklat Departemen Agama), Dr H Imam Tholkhak, Prof Dr Hj Musdah Mulia, Prof Dr HM Bambang Pranowo, Drs H Ahmad SyafiI Mufid MA, dan Drs A Malik MTT,MSi.
Prof Dr HM Bambang Pranowo yang memberikan kata pengantar dalam buku Jejak-jejak Komunias Perenial: Eden Salamullah memaparkan kelompok keagamaan Eden Salamullah pada awal kehadirannya sesungguhnya dapat dikategorikan sebagai gerakan yang lebih bercorak inward looking. Kehadirannya bermula dari kekecewaan Lia Aminuddin, sang pendiri, terhadap dua orang ulama an bersama Lia merintis bedirinya Yayasan At-Taibin – sebuah yayasan yang bergerak di bidang dakwah bagi para mantan narapidana. Dalam acara pemilihan pimpinan sekalipun mayoritas ex-napi memilih Lia sebagai ketua, kedua ulama tidak menyetujuinya dan bahkan mengeluarkan Lia dari kepengurusan. Kekecewaan itu dirasakan lebih menyakitkan mengingat dua ulama tersebut justru merupakan tokoh terkenal yang sangat dihormati umat. Di tengah kegalauan itulah suatu malam seusai shalat tahajud Lia merasa didatangi makhluk halus yang memperkenalkan diri sebagai Habib al-Huda.
Dari perjumpaan Lia dengan Habib al-Huda yang dalam proses selanjutnya menyatakan diri sebagai Malaikat Jibril itulah kelompok keagamaan Salamullah bermula. Awalnya apa yang diterima dari Malaikat Jibril yang dikenal sebagai sapaan Jibril masih sangat bercorak Islam. Hal ini ditandai bukan hanya dengan ditempatkannya al-Qur\’an sebagai rujukan utama seperti tercermin dalam buku Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir, tetapi juga dengan kenyataan bahwa Lia dan jamaahnya masih melaksanakan peribadatan secara Islam. Bahkan unuk mengkonfirmasi apakah yang hadir itu benar-benar Jibril, Lia dan sejumlah pengikutnya melaksanakan ibadah umrah. Hasilnya adalah diperolehnya berbaai pengalaman gaib yan semakin meyakinkan Lia dan jamaahnya bahwa yang selalu hadir dan memberi berbagai pengajaran itu adalah benar-benar Malaikat Jibril.
INMEMORIUM H. HUSEIN UMAR
Oleh Marzani Anwar
Diiringi mendung yang kian menebal langit Jakarta, seorang tokoh paling senior di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDI), dan mantan Ketua KODI DKI, telah berpulang kerahmatullah. Tepatnya pada tanggal 17 April 2007. Hari di mana KODI DKI sedang menyelenggarakan pengukuhan kepengurusannya untuk periode 2007-2010. Bertepatan pula dengan wisuda PKM angkatan ke 13 dan Studium General PKM angkatan ke-14. Kepergain Bang Husen, demikian panggilan akrabnya, buat selamanya bersamaan waktunya dengan acara-acara itu, sekan sebuah tadir Tuhan, yang bermakna, bahwa gerak langkah KODI untuk pengkaderan dakwah melalui PKM adalah bagian dari warisan bang Husen Umar, dan kepergiannya itu adalah sebuah pesan terakhir si abang kepada para adik-adiknya, agar jangan tetap meneruskan warisan itu. Agar tak ada kata berhenti dalam mencetak kader dakwah.
Datang menggenapkan, pergi mengganjilkan, itulah pepatah yang paling tepat pada ustadz Husein Umar. Seorang da’i kondang yang
Ya ia datang ke tangah perjuangan menegakkan panji-panji Islam di bumi Nusantara. Dunia dakwah Islamiyah di Indonesia, seakan tak lengkap tanpa Husein Umar. Ia mengisi ruang kosong, yang tak terjamah oleh dai lain. Ruang kosong itu adalah kehausan anak-anak muda akan kekuatan aqidah Islam. Lalu ada Husen Umar, sang dai kelahiran pulau Dewata, itu siap diundang ke mana saja, sehingga pengkaderan dakwah itu menjadi lengkap adanya. Lalu ketika ia pergi, buat selamanya, maka perhelatan pun seakan ada yang kosong lagi; ada sesuatu kebutuhan dan hanya dia yang dianggap paling tepat mengisinya. Waktu yang menunggu untuk mencari figur seperti dai, seakan bakal sangat lama.
Pembawaannya yang tenang, dan suaranya lantang dan meyakinkan, memberikan kesan tersendiri bagi pendengarnya. Isu-isu nasional yang menyentuh kepentingan Islam, tak pernah ada yang ditinggalkan. Ia pelajari, dalami, dan sering diusung ke rapat-rapat KODI dan FKLD. Mengenai sepakterjang mereka yang dianggap hendak merusak kekuatan Islam, soal perjudian, ancaman kristenisasi, sekularsasi, dan sebagainya. Bang Husen dikenal paling jago kalau bicara soal kristenisasi. Seabreg data ia punyai, mengenai sepakterjang missionaris di Indonesia. Bagi Husein Umar, mengisi materi kristenisasi di dalam acara-acara pengkaderan at, pertemuan dan smeinar-seminar, bukan hendak mengajak kaum muslimin berperang atau berbuat kekerasan terhadap kaum Kristen, bukan. Tetapi ia hanya mengingatkan bahwa tidak seharusnya umat gampang goyah imannya oleh tawaran-tawaran manis pihak lain, yang hendak menggoyang iman. Ia hanya menuntut keadilan, agar kegiatan penyiaran agama-agam berjalan sesuai rel yang telah digariskan pemerintah, semata-mata untuk menjaga keutuhan bangsa.
Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qodiyani keduanya sama-sama hidup dan berkembang di Indonesia. Ahmadiyah Qodiyani mengorganisir diri dalam Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang berpusat di Parung, Bogor, sementara Ahmadiyah Lahore memiliki kantor pusat di Yogyakarta yang terorganisir dalam Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI).
“Mungkin selama ini orang mengira bahwa Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qodiyani seperti saudara, padahal kami tidak demikian,” tegas Rachmat Basoeki Soeropranoto dari Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI). Basoeki dengan lantang meminta kepada Zafrullah Pontoh dari Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), untuk menghilangkan eksklusifisme di masjid-masjid Ahmadiyah dengan mengundang orang luar untuk misalnya memimpin shalat berjamaah. Ia juga sempat menyayangkan efek domino imbas fatwa MUI yang turut menimpa kalangan Ahmadiyah Lahore.
Basoeki dengan tegas menolak pemahaman JAI yang menganggap Nabi Muhammad bukan sebagai nabi terakhir. Ia sempat membacakan naskah dari Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad (Pendiri Ahmadiyah Qodiyani) yang menurut Maulana Muhammad Ali, seorang pendiri Ahmadiyah Lahore, dalam teksnya jelas Bashirudin telah menyeleweng dari ajaran Islam dan amanat yang disampaikan Mirza Ghulam Ahmad.
Pernyataan tersebut disampaikan Basoeki dalam sesi klarifikasi Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian tentang “Ahmadiyah” yang diselenggarakan oleh Balai Litbang Depag (22/12/05). Diskusi membahas temuan 2 calon peneliti Depag yaitu Saeful Bahri yang bertajuk “Telaah Terhadap Ahmadiyah Qadiyani: Studi di Mesjid Jemaat Ahmadiyah Desa Sindang Barang Jero Kecamatan Gunung Batu Kabupaten Bogor” dan Rudy Harisyah Alam dengan tajuk “Ahmadiyah dan Perumusan Kebijakan Keagamaan di Indonesia”. Diskusi yang dipandu oleh Anik Farida (LKAJ) itu juga menghadirkan Abdul Aziz, seorang peneliti Depag dan mantan pengurus PBNU sebagai penanggap ahli.
Dalam pelaksanaan ritual keagamaan, Ahmadiyah Qadiyani dinilai memiliki sikap eksklusif. Misalnya saat pelaksanaan shalat berjamaah, para pendiri Jemaat menganjurkan untuk shalat di masjid milik Jemaat Ahmadiyah. Selanjutnya, oleh para pengikutnya perintah tersebut disikapi sebagai doktrin. Jika masjid itu tidak didapati, mereka akan shalat di masjid umum tetapi mufarraqah (tidak bermakmum kepada orang yang bukan Ahmadi), dengan alasan loyalitas makmum terhadap imam sangat penting dalam shalat berjamaah.
Namun penelitian Saeful Bahri membuktikan bahwa bukan berarti Jemaat Ahmadiyah tidak mau menyatu dengan komunitas non-Ahmadi. Sikap eksklusif itu justru berawal dari perlakuan tidak adil dan reaksi keras pihak-pihak non-Ahmadi yang mengucilkan mereka dari masjid, menganggap mereka najis dan mencuci bekas tempat mereka shalat. Dalam hal ini, bukan Jemaat Ahmadiyah yang mengisolasi diri namun justru merekalah yang dikucilkan oleh pihak luar.
Lebih lanjut Saeful juga mengungkapkan bahwa pernyataan kitab Tadzkirah sebagai kitab suci Ahmadiyah tidak berasal dari kalangan Ahmadiyah, melainkan dari M. Amin Djamaludin dalam bukunya “Ahmadiyah & Pembajakan Alqur’an”. Tuduhan Amin Djamaludin itu semata-mata didasarkan atas adanya beberapa ayat Alqur’an yang juga menjadi bagian dari tadzkirah. Walaupun menurut Aziz, pola dalam Tadzkirah yang menggabungkan satu ayat dengan ayat lain atau satu ayat dengan doa itu lazim juga dijumpai dalam wirid-wirid dan bacaan zikir umat
(ICRP, Liputan 04 April 2006 )

Komentar Terakhir