You are currently browsing the category archive for the 'PROFIL TRAH SURODIMEJAN' category.

Rois’Am

Drs KH Muhammad Badawi

Drs H Mashud Marzuki

Dewan Penasehat

Ketua                     : Drs H Muhadjir Prasetyo

Anggota                 :

  1. Drs H Mashoed Heroesoesanto
  2. Zurkoni, Bsc
  3. Drs H Marsudi

Pengurus

Ketua                        : Drs H Damanhuri, MBA

Wakil Ketua            : Drs H Djuremi Abdullah

Sekretaris                : Arief Suistya, SE

Wk. Sekretaris       : Moch Komarudin,SE

Bendahara               : Sudarto, SE

Wk Bendahara       : Dra Siti Kusniah Siswanto

Seksi Humas           : Suhardi, BA

Edwin, SH

Seksi Pemuda         : H Abdul Gofar Mu’alim, SE

M Arif Kurniawan, MT

Komisaris    :

1. Kel H Somodimedjo       : Drs Asbani Anwar

2. Kel H Mertodiryo            : Fatah

3. Kel Ki Ali Hardjo              : Hadi Susanto

4. Kel H Kromodiharjo      : Drs H Mirza Erapunagi,Msi

5. Kel Ki Kromodimedjo     : Hadiyatno

6. Kel H Prawirohardjono  : Dahron Helmi

7  Kel H Rifa’I                          : Sujadi Atmojo

8. Kel H Marto Prasetyo     : Hasto Nugroho, SE

9  Kel H Mawardi                   : Jumali

10. Kel H Masyhuri              : Zungamah

11. Kel H Partodimedjo      : Mukhlis

Eyang Surodimejo kakung dilahirkan di Nglebeng, Tempel, adalah putera kedua Ki Towidjojo. Bersaudara tiga orang, yakni (1) Eyang Kertodimedjo (mbah Sidoarjo), (2) Eyang Surodimedjo sendiri dan (3) Nyi Sorjo Tekik. Adapun saudara seibu tetapi lain Bapak adalah (1) Ki Pawirodimedjo Selobonggo dan Nyi Tjokropawiro Gondang Angin Ngablak.

Generasi pertama keturunan Eyang Surodimedjo lahir pada awal abad 20. Sekarang kita sudah berada di abad 21, dan Trah Suradimeja telah melahirkan generasi keenam. Anak, cucu, cicit dan seterusnya yang masih hidup sudah berjumlah sekitar 1300 an jiwa atau 450-an Kepala Keluarga.

Buku ini berisikan nama-nama anggota Trah Surodimejan berikut alamat setiap kepala keluarga. Dimulai dari krandah H. Somodimedjo sebagai putera pertama dan diakhiri oleh krandah H. Masyhuri sebagai putera terakhir. Tidak lupa juga, mengikutsertakan daftar nama-nama anggota krandah Partodimedjo Tukangan, yang nama beliau adalah keturunan Eyang Surodimedjo putri, dan selama ini aktif bergabung dengan warga keturunan Eyang kakung.

Dalam daftar ini, masing-maing anggota keluarga diberikan Nomor Induk Keluarga (NIK), untuk memudahkan mencari hubungan silsilah masing-masing sekaligus mempermudah penghitungan jumlah anggota. Untuk lebih jelasnya, penentuan NIK diatur dengan cara sebagai berikut:

  1. Penentuan Nomor Induk anggota keluarga Trah Surodimedjan, ditentukan menurut urutan kelahiranya. Dimulai dari generasi pertama, yang terdiri dari para putera-puteri Eyang Surodimedjo yang biasa dipanggil Empu, yakni:
    1. H Somodimedjo  (Ngemplak)
    2. H Mertodirjo   (Tekik)
    3. Ki Ali Hardjo  (Blunyah)
    4. H Kromodihardjo   (Ngentak)
    5. Ki Kromodihardjo  (Kadisono)
    6. H Prawirohardjono   (Domban)
    7. KH Rifa’i     (Tekik)
    8. H Marto Prasetyo    (Ngablak)
    9. H Mawardi   (Tekik).
    10. H Masyhuri  (Ngablak)

Nomor urut kelahiran tersebut sekaligus merupakan Nomor Induk Keluarga yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Khusus untuk Nomor Induk Keluarga Partodimedjo adalah 0.

  1. Penetapan Nomor Induk untuk generasi berikutnya mengikuti Nomor Induk orang tua masing-masing anggota. Caranya adalah dengan menambahkan angka urutan kelahirannya di belakang angka NIK yang dimiliki orang tuanya.

Contoh:

Nama H. Harun Imant Atmodjo sebagai anggota Trah Surodimedjan, adalah putera ke-1 dari H Rifa’i. Kita ketahui bahwa, H Rifa’i memiliki Nomor Induk 7. Maka penentuan Nomor Induk untuk H Harun Iman Atmadja ditetapkan dengan menambahkan angka 1 dibelakang angka 7 sehingga menjadi 71.

  1. Penentuan Nomor Induk sebagaimana tersebut di atas dilanjutkan untuk anggota keluarga generasi berikutnya.

Contoh:

Sudara Agus Sulistyono sebagai anggota keluarga Trah Surodimedjan adalah putera ke-6 dari H Harun Iman Armodjo. Seperti diketahui, Nomor Induk H Harun adalah 71. Dengan mengikuti pola penentuan sebagaiamana tersebut di atas, maka angka 6 ditambahkan di belakang angka 71, sehingga ditemukan Nomor Induk saudara Agung Sulistyono, yakni 716.

  1. Bagi anggota yang sudah berstatus suami-isteri, cukup memiliki satu Nomor Induk.
  2. Anggota yang telah meninggal dunia dalam keadan belum kawin, dibebaskan dari penomoran induk. Kecuali memang sudah tercantum pada daftar keluarga edisi pertama (th. 1987/1988).
  3. Status Kepala Keluarga, bagi suami yang telah meninggal dunia, digantikan oleh pihak isteri dalam Daftar keanggotaan ini.
  4. Nama-nama anggota keluarga yang belum bisa diketahui pencatatan Daftar Anggota Keluarga ini, tetap disediakan kolom Nomor Induk untuk yang bersangkutan, dan mereka tetap diperhitungkan dalam penjumlahan keseluruhan anggota keluarga.
  5. Nama anggota dalam kondisi tertentu ditulis dengan pembahasan kode sebagai berikut:

-): telah meninggal dunia

+) kawin dengan

Marzani Anwar

Terlebih dahulu perlu diinformasikan, bahwa

Mbah Kakung dimakamkan di Terban, Yogyakarta

Mbah Putri dimakamkan di Pambregan, Sleman

  1. A. Nyai KARSODIKROMO

I     Joyosumarto, Bedoyo

II     M. USMAN, Kumendaman

1  Ny. Salbiah berputera Drs. H. Darochim, tinggal di Mloko, Medari

III     DULLAH UMAR

1  . Achmad, meninggal tertembak Belanda di Mlati, puteranya Murbani tinggal di Panggeran.

2     . Patonag

3     . Bachrun

4     . Amir

5     . Fatimah

6     . Badrun

7     . Busari

IV     Nyi. JOYOWIYONO, Somoetan

1  Amad Danuri

2     Suyono Partowiyono, Somoetan

3     Mujiono, Panggeran

4     Mujilah

5     Suroso

V     Nyi. KROMODIARJO, Panggeran[1]

1  Nyi. Umi Dulah Maksum, Jongke, Mlati

VI     Nyi. ABDULKAMID, Panggeran

1  Abdul Basir

2       Aspiah

3       Aminah berputera Lasno

4       Juwariyah

5       Bariah + Sumardjono

B. Nyi. SURODIMEJO (lihat pada daftar “TRAH SURODIMEJAN”)

C. Nyi. PAWIRODIMEJO + Ki. PAWIRODIMEJO bin COKRODIMEJO

I     Padmodiwiryo, Ngablak

1  . Marsigit

2     . Harno

3     . Martono

4     . Mardiati

5     . Mawardi

6     . Marsudarti[2]

II     SASTRO, Karangkemusuh

1  . Waripah

2     . Jumaeri

3     . Wafingah

4     . Warsimah

5     . Wakimah

6     . Wazumah

7     . Jazari

8     . Zurngah

III.  Nyi PAWIRODIMEJAN (Kelegen)

1  . Notoprayitno

2     . Sumirah

3     . Murjinem

4     . Suwarno[3]

5     . Sumilah Mansur

Nyi Pawirodimeja + Ki ……………… (Klegun) Peputro: Ny. Mertidiryo

Ki ……………… Klegung Sedo kemudian Nyi Prawirodimeja + Ki  Pawirodimejo bin Cokrodimejo Peputro: 1. Padmodiwiryo; 2, Ny. Sastro, (Karang Kemusuh) seterusnya Ki Prawirodimejo bin Cokrodimejo Kromo kaliyah Ny. Pawirodimejo isteri ke 2, peputro (1) Noto Prayitno,(2) Sumirah), (3) Murjinem, (4) Suwarno, (5) Sumilah Mansur putro Ny. Pawirodimejo ke-2 dengan Ki ……… (tidak diketahui namanya)

  1. D. KI. PARTODIMEJO, Tukangan

I          Puspo Pawiro/Pawiro Ngulomo putra: 1. Suyati

E. Mbah NGEBONG

1         Ahmad Hudoyo + Bu Sapurian Kotagede

Keterangan:

Mbah Ngebong Kakung + Mbah Putri (isteri ke 1) berputra Ny. Prawiroharjono, setelah Mbah putri meninggal kromo malih kaliyan Mbah Ngebon (isteri ke 2) berputra Akhmad Budoyo.

Catatan:

R. Ngabei Hondotirto konon seorang Undagi Kraton Ngayojokarto Hadiningrat (tukang kayu) dimakamkan di Pambregan, Trimulyo, Sleman, Yogyakarta.

KI. SUROSETIKO

Nyi. SUROSETIKO KE 1

  1. A. Nyi Notowidjoyo, Mbah Kelor

I     Nyi Wagirah/Nyi Padmodiwiryo

  1. Marsigit
  2. Harno
  3. Martono
  4. Mardiyati
  5. Mawardi
  6. Marsudarti

II     Ny. Warsinem/Joyo Permati/Bu Panji

III     Ky. Slamet + Ny. Ratipah: Pak Sosro Pemoto Kelor

  1. Ny. Sri Titik
  2. Ny. Sri Marni

B. SARDJONO SASTRO: Gundengan

C. SURODIRYO, Kadisobo

  1. Nyi. Harjowiyoto/Suratinah, Jetis
  2. Ny. Katimah/Nyi. Prodjo W, Gundengan
  3. Ky. Sahid/Sosro Harsono Notoprajan
  4. Ky. Pawirogiyono
  5. Ny. Sutinah/Ny. Marto Karyono
  6. Ny. Sutirah/Ny. Wiryodiharjo, Sedogan
  1. D. SURODIATMO, Pambregan

I     Bu. Wirosarjono/Bu Aman, Karangwuni

  1. Supartini
  2. Suyono + Siti Afsah, Karangwuni

II     Nyi. Surodisastro, Gondang

  1. Sunarto
  2. Suwanti
  3. Sumarno
  4. Sudarto
  5. Sudariyah
  6. Sudarsono
  7. Sumartini
  8. Suyitno
  9. Hadi Supranto

10.  Isni

  1. Bb. Pribadi

III     Bu. Puji/Nyi Hardjodisastrodiatmojo, Baciro

  1. CH Sugiyarti
  2. FX Sugiyarto
  3. Ing. Sutikno
  4. Yb. Sugiyanto
  5. Supartini
  6. C. Suhartini
  7. Suryanto
  8. Y. Rispranoto
  9. St. Subagyo

10.  Th. Herlina

  1. T. Winarto

IV     Ki. Indro Subardjo, Gulon

  1. Agus Darmawan
  2. Istiyatun
  3. Retno Harwiti
  4. Pujo Setiarso
  5. Endang
  6. Retno Setyaningsih
  7. Edy Sulistyo
  8. Sigit Prabowo

V     Ny. Suminah/Nyi. Mutejo, Pambregan

  1. Sri Sumarsih
  2. Listyani/Ny. Dullah Umar
  3. Tristyanto Wibowo
  4. Tristyatun
  5. Sulistyaningsih
  6. Kusharyaniwati

VI     Sumilah/Nyi. Akhmad Munir

VII     Ki Sumidjo, Bogor

  1. Edy Sumarso
  2. Eny Sumarni
  3. Irian Sugiyono
  4. Ety Ambarwati
  5. Sri Indarti

VIII     Ny. Bandiyah/Nyi. Suwandi

  1. Siti Pandansari
  2. Siti Windyantadi
  3. Indarto Purnomohadiputro
  4. Siti Dewinaryati
  5. Murtaji Purnomo
  6. Ruswahyuaji
  7. Siti Rusamsiyadi
  8. Rus Hardarmadi Purnomo

E. SURODIHARJO, Pambregan

F. Nyi ATMO

Nyi SUROSETIKO isteri ke-2

A.  Kyai Atmo, Karangwuni

I          Ki Muhtar

II          Ny. Banilah

III          Ny. Kartini

IV          Ny. Sukirdjo (AURI)

V          Nyi. Sukarti

VI          Ki. Kirman

VII          Nyi. Sri Maryati


[1] Setelah Ny. Kromodiharjo meninggal, selanjutnya Ki. Kromodiharjo beristeri lagi dengan adik Ki. Abdul Khamid, berputera (lihat keluarga Surodimejo)

[2] Catatan: Ki. Padmodiwiryo Sakderengipun Kromo kaliyan ……………. Dari Tegalrejo mempunyai puteri Ny. Jariyah dari Karang Gawang, selanjutnya Ny. Jariyah berkeluarga dan mempunya anak: 1. Khatijah; 2. Fatima:, 3. Aisyiyah, Plumbon; 4. Dul Rahman; 5. Bu Taryono; 6. Daryono.

[3] Nyi Toijoyo kromo malih kaliyan Demang Cokrodimejo peputero: 1. Ki. Pawirodimejo (Selobonggo); 2. Nyi. Cokropawiro (Warung Sego, Jadah, Wajik, Ngablak)

JUMLAH ANGGOTA KELUARGA

TRAH SURODIMEJAN 2004

Anak

No.

RUMPUN SURODIMEJAN

Jumlah

Rumpun/Anak Surodimejan

  1. Somodimejo
  2. Mertodiryo
  3. Aliharjo
  4. Kromodiharjo
  5. Kromodimejo
  6. Prawiroharjono
  7. KH. Rifa’i Atmodimedjo
  8. Hj. Martoprasetyo

IX.  Mawardi

  1. Mashuri

I

II

III

IV

V

VI

VII

VIII

IX

X

1

33

34

2

51

16

13

45

48

12

8

2

57

18

28

17

29

18

6

20

8

8

3

38

19

27

9

7

19

15

4

4

6

4

130

34

52

11

18

10

16

2

5

5

5

45

12

2

9

4

9

7

25

5

6

25

22

8

7

6

8

1

7

24

5

7

3

7

8

21

9

7

13

9

14

9

6

10

35

16

Ortu

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

22

Jumlah

305

144

229

130

97

77

10

144

31

34

1293

Jumlah Kepala Keluarga

76

30

59

48

28

21

29

49

9

11

360

Perhitungan 10 Oktober 2004

Kyai Surodimejo adalah putera kedua dari Kyai Towijoyo yang bertempat tinggal di Dusun Nglebeng, Margorejo, Tempel dan makamnya ada di dusun itu juga.

Kyai Surodimejo lahir ± tahun 1854, saudara kandungnya adalah:

  1. Kyai Kertodimejo tempat tinggal di Sidoarjo

2. Kyai Surodimejo tempat tinggal di Tekik

  1. Kyai Wongsorejo tempat tinggal di Tekik

Saudara seibu lain bapak ada 2 (dua):

  1. Kyai Prawirodimejo tempat tinggal di Selobonggo
  2. Nyai Cokropawiro tempat tinggal di Gondang Angin-angin yang dulu dikenal sebagai pemilik warung sego, jadah, wajik Ngablak.

Semasa kecil, Ki Surodimejo ikut ayah ibunya di Dusun Nglebeng, bapak ibunya cerai, ibunya yaitu Nyai Towijoyo dinikahi oleh Kyai Cokrodimejo (konon seorang Demang) yang bertempat tinggaldi Selobonggo, Kyai Surodimejo bersama kakak dan adiknya ikut ibunya dan diasuh bapak tiri Kyai Cokrodimejo.

Read the rest of this entry »

ASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.

Alhamdulillahirobil’alamin, wabihi nasta’in, washollatu wassalmu ‘ala asrofil mursalin. Sayidina Muhammad waahlii, wasohbihi, wattabi’in ila yaumiddin.

Trah adalah istilah dalam budaya Jawa, yang berarti  “satuan keluarga yang dijalin atas dasar hubungan darah dari satu pasangan”. Sebagaimana diketahui, bahwa keluarga yang terdiri dari suami-isteri dan anak merupakan satuan organisasi terkecil (nucleus family) yang ada dalam masyarakat. Dari anak-anak kemudian terjadi kawin-mawin dengan orang lain, dan melahirkan keturunan demi keturunan. Dari hubungan darah itu terus-menerus melahirkan pertambahan anggota keluarga yang merupakan keluarga luas (extended family). Sebutan untuk generasi kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, dari keluarga luas tersebut adalah cucu, buyut, cicit, dan seterusnya.  Lahirnya Trah adalah dari kesadaran anggota keluarga besar yang merasa berasal dari satu induk semang  yang sama. Pada masyarakat Jawa, banyak dijumpai perkumpulan Trah seperti itu. Misalnya  Trah Wongsodirjan, artinya adalah perkumpulan keluarga besar dari keturunan sedarah dari pasangan Bapak dan Ibu Wongsodirjo. Sebagai nama sebuah perkumpulan, kemudian secara bahasa dibenda-kan dengan menambahkan akhiran an, menjadi Wongsodirjan.

Paguyuban Trah Surodimejan adalah salah satu Trah yang hidup di dalam masyarakat Jawa, yang anggotanya adalah orang-orang yang berasal dari keturunan yang sama yakni pasangan suami-isteri bernama Surodimeja. Secara resmi Trah Surodimeja dibentuk pada hari Ahad 8 Mei 1956, bertepatan dengan pertemuan keluarga yang pertama di rumah Kyai Mertodiryo, Tekik Bangunkerto, Turi, Sleman, Yogyakarta.

Daftar yang diterbitkan kali ini nama berasal dari hasil sensus yang dilakukan oleh pengurus Trah pada tahun 1985, kemudian berupaya diupdate pada tahun 1987/1988.  Selanjutnya pada setiap  pertemuan Trah tercatat laporan dari masing-masing empu, tentang terjadinya mutasi jumlah; baik pertambahan dari kelahiran dan perkawinan maupun pengurangan karena meninggal.

Daftar Anggota Trah Surodimejan ini berasal dari updating Tahun 2004,. Tambahan hal-hal yang dirasa perlu diketahui dan dipahami oleh seluruh anggota keluarga, antara lain, riwayat dan silsilah Kyai Surodimejo (jalur mbah kakung) di sisi lain riwayat dan silsilah Nyai Surodimejo (jalur mbah putri).

Daftar anggota keluarga dari hasil pencacahan kembali oleh komisaris masing-masing keluarga, karena beberapa kesulitan terpaksa masih banyak dijumpai antara lain kolom-kolom dalam tabel penulisan nama-nama yang kurang tepat termasuk gelar-gelarnya, nama-nama yang belum tertulis/kosong, nomor induk yang tidak urut dan kemungkinan ada anggota-anggota keluarga yang belum masuk dalam daftar, semua kekurangan-kekurangan tersebut kami pengurus mohon maaf dan sangat diharapkan kritik yang tujuannya untuk memperbaiki/melengkapi dokumen keluarga ini.

Tidaklah bisa dipungkiri bahwa karena perkembangan keluarga ternyata banyak anggota keluarga yang tidak saling kenal satu sama lain. Ada yang sudah tahu/saling kenal karena tetapi jarang bertemu menjadi tidak akrab; tentunya seluruh anggota keluarga Trah Surodimejan berkeinginan untuk saling mengenal, walaupun hal itu ada kendala berupa tempat tinggal yang saling berjauhan, sehingga jarang bertemua karena masing-masing disibukkan dengan urusan dan pekerjaan. Oleh karena itu pertemuan rutin Trah Surodimejan dan pertemuan keluarga lainnya menjadi perlu demikian pula tersedianya buku keluarga serta informasi tentang keluarga dapat menjadi wahana dan sarana untuk mewujudkan tujuan organisasi Trah Surodimejan yang bisa dirumsukan “kekeluargaaan yang akrab dalam lingkungan Trah Surodimejan”.

Kami yakin bahwa tercapainya tujuan tersebut sangat tergantung pada sikap, kemauan seluruh anggota keluarga tanpa kecuali. Terima kasih atas perhatiannya

Yogyakarta,    Juli   2009

Marzani Anwar/ Pengurus Trah