<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Marzani Anwar's Weblog</title>
	<atom:link href="http://marzanianwar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://marzanianwar.wordpress.com</link>
	<description>Mengedepankan akal sehat, mengusung hati nurani, menuntaskan ide...</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Nov 2009 01:58:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='marzanianwar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4c36eca8a07a14935832cfe60b0201ae?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Marzani Anwar's Weblog</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>RESISTENSI MINORITAS SUKU KUBU  DI NEBANG PARAH JAMBI</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/11/01/resistensi-minoritas-suku-kubu-di-nebang-parah-jambi/</link>
		<comments>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/11/01/resistensi-minoritas-suku-kubu-di-nebang-parah-jambi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 01:44:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
				<category><![CDATA[HASIL PENELITIAN]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Suku anak Dalam]]></category>
		<category><![CDATA[Banjar]]></category>
		<category><![CDATA[Bugis]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Kubu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marzanianwar.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Marzani Anwar
Provinsi Jambi adalah salah satu propinsi yang dihuni oleh multi etnik seperti Melayu, Minang, Banjar, Batak, Bugis, Jawa, dan Sunda, serta masyarakat Terasing. Khusus ‘masyarakat terasing’ adalah masyarakat suku-suku yang perkembangannya berlangsung secara tersendiri, dalam arti khusus  terkait pada situasi dan waktu (Garna,1996:198). Jumlah mereka diperkirakan 35.000 jiwa, terdiri dari  orang Kubu, orang Talang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=233&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">Oleh</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Marzani Anwar</strong></p>
<p>Provinsi Jambi adalah salah satu propinsi yang dihuni oleh multi etnik seperti Melayu, Minang, Banjar, Batak, Bugis, Jawa, dan Sunda, serta masyarakat Terasing. Khusus ‘masyarakat terasing’ adalah masyarakat suku-suku yang perkembangannya berlangsung secara tersendiri, dalam arti khusus  terkait pada situasi dan waktu (Garna,1996:198). Jumlah mereka diperkirakan 35.000 jiwa, terdiri dari  orang Kubu, orang Talang Mamak, dan orang Bajau. Warga Suku-suku tersebut merupakan kelompok minoritas dan terpinggirkan.</p>
<p>Orang Kubu yang jumlah warganya terbanyak dibanding suku lainnya, terdiri dari dua sub etnik, yaitu orang Rimbo dan orang Dalam (Muntholib Sm: 1984,1998). Salah satu kelompok yang menamakan dirinya orang Dalam jumlahnya sekitar 240 jiwa yang sejak tahun 1971 mengasingkan diri masuk ke dalam hutan belantara di daerah yang mereka namakan Bangkai Tiga, yang sekarang berubah menjadi “Nebang Parah”. Mereka untuk mempertahankan kehidupannya dari desakan orang yang peradabannya relatif maju seperti Banjar, Jawa, dan Minang yang mulai masuk di permukiman asal mereka, yaitu desa Pelempang.</p>
<p><span id="more-233"></span></p>
<p>Mereka sesungguhnya sudah dibina oleh Departemen Sosial RI dengan cara membuat permukiman yang dilengkapi kebun karet 3 ha/KK, pasar, balai pertemuan, tempat ibadah, puskesmas pembantu. Tetapi tampaknya tidak cocok dengan model permukiman seperti itu. Mereka kemudian kembali masuk huta. Rumah dan lahan yang merupakan jatah untuk setiap keluarga, mereka jual  ke pendatang baru, terutama orang Jawa. Pada awalnya orang Jawa merupakan buruh penyadap karet di sekitar permukiman orang Dalam. Saat sekarang (2007) desa Pelempang dan Nyogan hampir tidak ada lagi orang Dalamnya, dan telah berubah menjadi perkampungan Jawa dan Melayu.</p>
<p>Orang Dalam Nebang Parah sekarang (2007) terletak di lokasi yang diapit oleh perkebunan kelapa sawit milik PTP VI dan kebun karet dan sawit milik penduduk desa Penerokan. Berada pada jarak 2,5 km dari jalan besar yang menghubungkan Sungai Bahar (pusat perkebunan sawit PTP VI) dengan kota Muara Bulian maupun Kota Jambi. Keadaan lalu lintas jalan tersebut relatif ramai, dengan kendaraan bermotor yang hampir tidak sepi sepanjang hari. Orang-orang Kubu sepertinya tidak bisa lagi menghindar dari keadaan ini, karena hutan sebagai perkampungan mereka sudah habis ditebang oleh perusahaan pemilik HPH, dan kini nyaris tidak ada lagi. Sementara ketrampilan berkebun seperti orang desa dan PTP belum mereka miliki dan 95% mereka tidak tahu tulis baca. Hal itu mengakibatkan perubahan sosial yang besar sekali dalam kehidupan orang Rimbo. Dan mereka berupaya untuk tetap survive di tempat itu.</p>
<p>Namun kelompok-kelompok sekecil apapun selalu ingin mempertahankan sistem nilai budaya, pandangan hidup, dan hak yang relatif berlainan dengan masyarakat pada umumnya. Dengan segala cara nilai-nilai itu dipertahankan agar tetap survive. Untuk itu mereka selalu mengisolir diri dan mengasingkan dirinya<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Permasalahan mendasar bagi orang Dalam Nebang Parah sebagai etnik minoritas dan merupakan kelompok terpinggirkan adalah eksistensi mereka di tengah-tengah masyarakat Jambi yang multi etnik dan relatif peradabannya lebih maju ini. Masalah pokoknya adalah: mengapa mereka ‘melarikan diri’ dari keramaian desa Pelempang dan Nyogan; Bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain yang peradabannya relatif lebih maju sehingga mereka tetap eksis.</p>
<p><strong> </strong>Penelitian ini bertujan mengetahui lebih dekat alasan mereka ‘melarikan diri’ dari tempat permukiman yang disiapkan oleh Departemen Sosial, serta bagaimana mereka mempertahankan nilai budaya dan pola keberagamaannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kajian Pustaka</strong></p>
<p>Kajian tentang orang Dalam tampaknya dimulai oleh salah seorang petugas lapangan Departemen Sosial Munawir Muchlas yang memulainya dengan menulis <em>Tambo Anak Dalam</em> (1974), berupa naskah stensilan yang menggambarkan siapa anak Dalam itu, sejarahnya dan sedikit budayanya. Kajian selanjutnya dilakukan oleh Sarjana IAIN Jambi lulusan Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Banda Aceh yang menulis laporan penelitian “orang Dalam di Pinggiran Perdesaan Jambi” yang menyoroti interaksi orang Dalam dengan masyarakat desa sekitar desa Pelempang Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Batanghari (Amir Faisol, 1977). Kajian lainnya untuk meraih magister di Universitas Kebangsaan Malaysia Kuala Lumpur yang meneliti perbandingan antara orang Kubu dengan orang Asli di Malaysia (M.A. Rahman; 1977).</p>
<p>Kajian-kajian lain semakin banyak antara lain: Perubahan Sosial di Kalangan Orang Kubu di Propinsi Jambi (Muntholib Sm,1984), Nyogan Sebuah Desa Anak Dalam di Jambi (Muntholib Sm;1985), Kesadaran Budaya tentang Ruang : Suatu Proses Adaptasi di Daerah salah satu bahasannya menyangkut orang Dalam (Muntholib Sm;1986), Perekaman Upacara Besale suatu upacara pengobatan penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh obat-obatan baik kimia maupun tradisional berbentuk kaset video berdurasi 48 menit (Muntholib Sm;1986).</p>
<p>Kajian-kajian sudah banyak dilakukan, misalnya seperti yang dilakukan oleh beberapa orang untuk meraih gelar doktor antara lain: <em>Orang Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional masyarakat Terasing di Makekal Propinsi Jambi</em>, yang membahas keseluruhan budayanya untuk memperoleh gelar doktor di Universitas Padjadjaran Bandung , penelitiannya dimulai 1992 dan baru berakhir 1995 (Muntholib Sm;1996); <em>Religi of orang Rimbo</em> untuk meraih gelar doktor di Universitas New Zeland Selandai Baru (Muhammad Fikri; 2006); orang Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan kajian untuk memperoleh gelar doktor di Mancherter United University Inggris (Muhammad Ramzy; 2002); dan kajian kehidupan orang Kubu di Kawasan Penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat yang kerjasama antara Bappeda Propinsi Jambi dengan Bank Dunia, antara lain untuk mengetahui apakah orang Kubu itu merusak hutan termasuk Taman Nasional Kerinci Seblat (Muntholib Sm, dkk;1998). Namun yang mengkhususkan masalah minoritas dalam kaitan dengan kehidupan beragama, tampaknya belum ada. Padahal kelompok-kelompok minoritas khususnya ‘masyarakat terasing’ tampak semakin kacau balau karena hunian mereka yang berupa hutan beralih fungsi dengan intensitas yang sangat tinggi dan terjadi hampir di seluruh permukiman ‘masyarakat terasing’. Permasalahan ini tampaknya mirip seperti yang terjadi di Luzon Filipina seperti ditemukan Dorall, Richard F. (1993).</p>
<p>.</p>
<p><strong>Konstruksi teoritis</strong></p>
<p>Kajian tentang survival masyarakat terasing seperti orang Dalam Nebang Parah ini dilakukan dengan teori interaksionisme simbolik. Sebagai kelompok minoritas seperti orang Kubu, ternyata tidak stagnan melainkan selalu berubah dalam melakoni kehidupannya.</p>
<p>Teori ini mengakui pentingnya kesadaran subyektif atau proses-proses mental yang tidak langsung tunduk pada pengukuran empiris yang obyektif. Persepsi tentang dunia luar, proses-proses fisiologis, dan kesadaran subyektif saling tergantung.</p>
<p>Interaksionisme simbolik ini menurut Mead dalam Johnson (1986) terdiri dari dua bagian. Pertama, komunikasi dan munculnya pikiran.Kedua, konsep diri dan organisasi sosial.</p>
<p>Komunikasi dan munculnya pikiran dapat dilihat, pertama isyarat versus simbol dalam proses komunikasi. Mead mengilustrasikan bahwa manusia berkomunikasi dengan isyarat. Contohnya, pemimpin geng anak remaja yang terlibat pertentangan dengan geng lainnya, dia mengepalkan tinjunya atau mengambil  pisau dalam bajunya, sehingga merangsang respons serupa dari lawannya. Atau seseorang yang tidak tertarik lagi dalam suatu percakapan, dia menatap langit tanpa perhatian atau tidak disadari dia mundur. Ke dua kasus ini adalah fase awal dari tindakan untuk merangsang orang lain untuk menyesuaikan perilakunya sendiri. Hal ini merupakan bentuk paling sederhana dan paling pokok dalam kominikasi, tetapi manusia tidak terbatas pada komunikasi seperti ini karena manusia mampu untuk menjadi obyek untuk dirinya sendiri dan melihat tindakan-tindakan seperti orang lain dapat melihatnya. Akibatnya mereka dapat merekonstruksikan perilakunya dengan sengaja untuk membangkitkan tipe respons tertentu dari orang lain.</p>
<p>Sebuah isyarat yang menghasilkan respos yang sama pada orang yang sedang melakukan seperti terjadi pada orang kemana isyarat itu diarahkan merupakan isyarat yang berarti. Respons yang sama merupakan arti isyarat dan muncul arti-arti bersama ini memungkinkan komunikasi simbol (<em>Simbolic communication</em>) yang karakteristiknya tidak terbatas pada isyarat-isyarat pisik. Sebaliknya manusia menggunakan kata-kata yaitu simbol-simbol suara yang mengandung arti bersama dan bersifat standar.</p>
<p>Kemungkinan komunikasi melalui simbol-simbol suara dengan arti-arti yang sama membuka kemungkinan yang besar untuk komunikasi yang tidak mungkin melalui isayarat pisik atau melalui sejumlah bunyi yang dapat digunakan oleh binatang.</p>
<p>Kesimpulannya, kemampuan manusia untuk menggunakan simbol suara yang dianut bersama memungkinkan perluasan dan penyempurnaan komunikasi jauh melebihi apa yang mungkin melalui isyarat fisik saja.</p>
<p>Ciri lain teori ini, adalah menyangkut proses berfikir dalam berinteraksi. Sebagaimana komunikasi manusia pada umumnya, yang tidak bisa dilepaskan dari penggunaan simbol. Begitu juga proses berfikir subyektif, karena hubungan antara komunikasi dengan kesadaran subyektif demikian dekatnya sehingga proses berfikir subyektif dilihat sebagai sisi yang tidak nampak (<em>covert</em>) dari komunikasi itu. Di dalamnya meliputi tindakan bercakap-cakap dengan dirinya sendiri, yang merupakan kegiatan yang tidak terpisah dari keterlibatan-keterlibatan orang lain dalam hubungan sosialnya atau perilaku yang nyata (<em>overt</em>).</p>
<p>Bagian kedua, konsep diri dan organisasi sosial. Bagian ini membahas tentang definisi dan yang paling penting adalah definisi tentang manusia sendiri dalam hubungannya dengan orang lain di mana mereka terlibat di dalamnya. Manusia tidak dilahirkan dengan suatu konsep diri, tetapi secara bertahap memperolehnya dari interaksinya dengan orang lain sebagai bagian dari proses yang sama dengan mana pikiran itu sendiri muncul.</p>
<p>Konsep diri (<em>self</em>) terdiri dari kesadaran individu mengenai keterlibatannya yang khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang berlangsung atau dalam komunitas yang terorganisasi. Dengan kata lain individu menjadi obyek dirinya sendiri dengan mengambil posisi orang lain dan menilai perilakunya sendiri seperti mereka inginkan. Penilaian itu meliputi suatu usaha untuk meramalkan respons orang lain dan meliputi penilaian akan respons-respons ini menurut implikasinya terhadap identitas individu itu sendiri.</p>
<p>Mengambil peran orang lain sebagai dasar organisasi sosial dalam konsep-diri bersifat eksternal dan saling berhubungan dengan sikap, definisi dari konsep-diri individu yang bersifat internal. Karena baik organisasi internal maupun yang eksternal muncul dari komunikasi simbol. Manusia selalu luwes menghadapi lingkungan, hal ini ditunjukkan oleh perkembangan tentang arti-arti dan sikap-sikap yang dimiliki bersama dalam organisasi sosial, dan tidak ada bentuk akhir dari organisasi sosial. Karena manusia dilengkapi dengan intelegensi yang dapat mengarahkan evolusi sosial secara sadar. Organisasi sosial menunjukkan intelegensi (kemampuan untuk menciptakan dan menggunakan simbol-simbol) individu dapat melampaui banyak batas yang muncul dari sifat biologisnya atau lingkungan fisiknya.</p>
<p>Interaksinis simbolik tidak hanya memperhatikan interaksi di tingkat mikro, tetapi juga tingkat struktur sosial, sehingga dapat digunakan untuk menganalisis organisasi sosial. Contohnya institusi ekonomi dan agama dapat dimengerti melalui proses mengambil peran orang lain yang bersifat fundamental. Institusi ekonomi misalnya, partisipasi pembeli dan penjual di pasar mengandaikan masing-masing dapat mengambil peran orang lain, dalam menawarkan barang-barang jualan si penjual menempatkan dirinya sebagai pembeli yang potensial. Hal yang sama dalam institusi agama yang bersifat universalistik didasarkan pada ide bahwa orang yang beragama itu mampu mengambil peran dari setiap orang dan mampu memberikan respons terhadap tetangga dan anggota komunitasnya. Inilah sebabnya bahwa sikap religius dan ekonomis cenderung lebih universal, karena dalam sikap ekonomis manusia dapat menjadi pembeli dan penjual, dan sikap religius karena kepercayaan agama yang mempersatukan semua orang didasarkan pada hakekat manusia atau hakekat spiritualnya yang sama. Perbedaannya, sikap ekonomi akan lebih dangkal, sedangkan sikap religius menyentuh tingkat-tingkat identitas seseorang yang paling dalam sebagai seorang manusia.</p>
<p>Studi tentang<strong> </strong>orang Dalam Nebang Parah ini menggunakan pendekatan kualitatif  (<em>naturaralistic inquiry) </em>sebagaimana dikemukakan oleh Bogdan dan Bilken (1982) dengan karakteristik: Pertama, latar alamiah sebagai objek manipulasi, artinya keadaan lapangan dibiarkan sealami mungkin tanpa ada manipulasi apapun sehingga semua peristiwa, kejadian, interaksi sosial semuanya terjadi dalam keadaan yang wajar. Kedua, peneliti merupakan instrumen utama karena penelitilah yang akan memahami semua kejadian yang ada di lokasi penelitiannya sebagaimana orang Dalam Nebang Parah memahami dirinya. Ketiga, lebih mementingkan proses dari pada hasil seperti proses pencarian data yang berulang-ulang karena kekurangpahaman peneliti, pencocokan informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan wawancara sehingga tebangun pemahaman yang mendalam. Keempat, analisis data cenderung menggunakan pemikiran induktif artinya teori memang penting untuk pemahaman konsep-konsep namun tidak mengekang peneliti untuk menemukan apa saja yang ingin ditemukan dan segala sesuatu secara esensial didasai apa yang ditemukan di lapangan. Kelima, makna yang dimiliki pelaku merupakan aspek esensial dalam penelitian artinya sesuatu tidak akan diartikan menurut selera peneliti melainkan tetap menurut yang punya makna yaitu pelaku. Peneliti hanya merekontruksikan kembali apa-apa yang dialami pelaku dengan bahasa peneliti sendiri kecuali bahasa istilah yang tidak atau sulit dialihbahasakan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Historis</strong></p>
<p>Nenek moyang orang Dalam Nebang Parah pada awalnya berasal dari ulu sungai Lilin (sekarang wilayah Sumatera Selatan) yang dulunya (kira-kira tahun 1200-an) termasuk wilayah kerajaan Melayu Jambi. Karena daerah itu dianggap kurang aman akibat pembukaan hutan oleh perusahaan pemilik peHPH maupun untuk perkebunan karet rakyat, maka mereka masuk ke hutan melalui sungai-sungai kecil dan sampailah di sungai Nyogan. Di pinggiran sungai inilah kira-kira tahun 1950-an mereka bermukim. Sementara pada tahun 1983 oleh Departemen Sosial RI telah dibuatkan permukiman, tetapi bukan di pinggir-pinggir sungai melainkan kira-kira ½ km dari sungai Nyogan dan bersambung dengan desa Pelempang selanjutnya bersambung dengan desa Tempino yang merupakan desa yang menjadi pusat pengeboran minyak sejak zaman Belanda.</p>
<p>Meskipun sudah dilengkapi 3 ha kebun karet dan ½ ha lahan pekarangan, untuk setiap kepala keluarga, mereka tampaknya tidak betah, karena rumah jatah bagi mereka beratapkan seng. Mereka merasakan panas bila siang hari. Seentara untuk berjualan getah karet, harganya waktu itu sangat murah seperti harga karet di seluruh propinsi Jambi yang sedang jatuh pada titik terendahnya. Maka mereka memilih untuk masuk ke dalam hutan antara lain,  di daerah Bangkai Tiga (sekarang Nebang Parah). Rumah, kebun karet 3 ha, ½ ha pekarangan yang berada di kanan kiri jalan dijual murah ke orang Jawa. Pendatang dari Jawa itu adalah mereka yang bekerja menjadi tukang sadap karet di desa Tempino maupun orang Pelempang.</p>
<p>Orang Dalam Nebang Parah tersebar di hutan/belukar desa Nyogan, jarak pemukiman asli mereka radiusnya antara 1-9 km. Mereka sepakat membuat pemukiman baru di Nebang Parah karena ajakan dan bujukan Temenggungya yaitu Syafii yang sudah sejak tahun 1972 menetap dan berkebun di situ.</p>
<p>Lokasi ini pada tahun 1972 merupakan lokasi yang dianggap tempat &#8216;<em>jin buang anak&#8217;</em> istilah mereka yang berarti lokasi yang tidak baik sama sekali untuk permukiman. Namun sekarang lokasi asli mereka justru terpencil dan Nebang Parah yang aslinya bernama Bangkai Tigo menjadi ramai karena dekat dengan jalan aspal (kira-kira 3 km) yang ramai, karena jalan raya itu menghubungkan lokasi perkebunan kelapa sawit Sungai Bahar dengan Muara Bulian dan Kota Jambi.</p>
<p>Lokasi asli mereka banyak yang terendam akibatnya kurang baik untuk permukiman dan terpencar-pencar. Lokasi ini oleh Departemen Sosial sedang dibina dengan cara dibantu bahan-bahan untuk pembuatan rumah sebanyak 62 KK, MCK 5 buah, listrik tenaga disel berkapasitas 10.000 watt, bantuan sapi bali; yang tujuan akhirnya akan dijadikan desa baru. Hal ini tampak dengan didirikannya sekolah dasar tiga lokal (SD Kecil), mesjid (bantuan Mensos, Gubernur, dan Bupati Muaro Jambi) yang sudah dapat digunakan. Khusus masjid dalam kenyataan tidak digunakan sama sekali karena mereka belum dapat melaksanakan aktivitas keagamaan seperti masyarakat desa lainnya.</p>
<p>Mereka rata-rata sudah mengenal sepatah dua patah kalimat yang isinya ajaran Islam seperti: <em>assalamu&#8217;alaikum</em>, <em>Laailahaillallah</em>. Mereka juga mau menambah pengetahuan agamanya dengan cara pergi ke pengajian atau masjid di desa terdekat. Meski masih sering malu dan tidak berani, karena takut kalau diejek atau dimarahi. Mereka mengetahui pengetahuan agama Islam dari acara-acara di TV.</p>
<h2>Demografi.</h2>
<p>Sekarang (2007) Nebang Parah yang menjadi permukiman orang Dalam tidak lagi hanya terdiri dari mereka sendiri, tetapi sudah mulai ada campuran dengan suku lain. Wilayah ini sudah sangat terbuka bagi pemukim lain. Maka banyak pendatang baru menjadi bagian dari warga Nebang Parah. Mereka ada yang dari etnis Batak, Cina, Melayu, Banjar, dan Minang, dan terbanyak dari Jawa.</p>
<p>Orang Dalam Nebang Parah dalam komunikasi dengan etnik lain cukup baik. Mereka sudah terbiasa bergaul dengan orang lain, baik di pasar, di jalan, di masjid, meski frekuensinya masih terbatas. Media interaksinya melalui jual beli karet (getah), kebutuhan se hari-hari seperti beras, minyak makan, garam, cabe, gula, kopi, bensin, solar, sepeda motor, pakaian, dan sebagainya. Di antara mereka juga sudah terjadi perkawinan antara orang Jawa dengan orang Dalam, setidaknya sudah ada 4 (empat) pasang dan antara orang Bata dengan orang Dalam sebanyak 2 (dua) pasang. Kesemua pasangan itu, pihak perempuannya yang berasal dari Nebang Parah.</p>
<p>Penduduk Nebang Parah, yang pada tahun 2007 berjumlah 355 orang, terdiri  153 perempuan dan 202 laki-laki. Data ini menunjukkan bahwa penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Tampaknya inilah alasan mengapa kesemua pasangan kawin-mawin itu, yakni 6 orang suku lain adalah laki-laki dan dari Nebang Parah perempuan. Walau pada dasarnya, menurut aturan adat, perempuan Nebang Parah tidak diperbolehkan kawin dengan orang luar.</p>
<p>Interaksi yang terjadi antara orang Dalam dengan orang “luar” Nebang Parah telah merubah pandangan yang baru. Bahwa ada dari bagian adat yang tidak lagi ketat untuk dipegangi. Perjalanan waktu yang mereka lalui, antara lain adalah masuknya orang luar untuk bekerja, di dalam lingkungan perkampungan orang Dalam. Umumnya adalah pekerja pekebunan, menyadat getah karet atau menjadi penebang pohon. Meningkatnya kesejahteraan penduduk, yang antara lain ditandai dengan kepemilikan pesawat tv dan sepeda motor. Mereka suka berkumpul bersama untuk nonton tv. Bukan saja dengan begitu menambah pengetahuan dan memperoleh hiburan, tetapi juga terjadi interaksi sosial yang lebih intens. Kepemilikan sepeda motor para warga, juga ikut meniningkatkan mobilitas warga, dan sekaligus menambah luasnya jangkauan dalam pergaulan. Kesenian ”organ tunggal” sesekali didatangkan, ketika merayakan perkawinan atau memperingati hari besar nasional. Menambah intensitas interaksi antar warga.</p>
<p>Terjadinya perkawinan antar suku sebagaimana dikemukakan di atas, menurut pengakuan salah seoranag warga, di antaranya adalah karena laki-laki tersebut sudah lama menjadi tukang sadap karet milik keluarga Nebang Parah. Seperti diketahui, setiap keluarga di Nebang Parah, memiliki kebun karet rata-rata di atas 3 ha. Hubungan saling kenal karena sang laki-laki menjadi tenaga kerja orang Nebang Parah yang kebetulan punya anak gadis dan sering nonton bersama baik nonton televisi maupun nonton organ tunggal di desa terdekat. Pertemuan di tempat-tempat seperti itu, semakin melonggarkan perkenalan demi perkenalan, sehingga melintas batas kesukuan. Kemudian berkembang menjadi lebih akrab satu sama lain. Dan bagi sejumlah orang menemukan jodoh karenanya,  tanpa lagi merasa diikat oleh ketentuan adat.</p>
<p><strong>Respon Orang Dalam Menghadapi Perubahan Lingkungan.</strong></p>
<p>Perubahan lingkungan yang dimaksud adalah beralihnya fungsi hutan yang merupakan hidup dan penghidupannya, dari hutan lebat menjadi perkebunan karet atau sawit. Sejak tahun 1950an sampai tahun 2007, minimal sudah tiga kali perubahan mereka alami.</p>
<p>Pertama, ketika moyang mereka lari dari ulu sungai Lilin menuju sungai Nyogan dengan melalui sungai-sungai kecil. Sungai kecil penting bagi mereka karena berbagai alasan: (1) Untuk menghindari kemungkinan serangan orang luar, mereka masuk melalui sungai-sungai kecil dan mereka akan mudah lari bila terpaksa diserang orang luar; (2) Peralatan transportasi berupa perahu ataupun rakit yang mereka miliki memungkinkan untuk mobilitas yang tinggi; (3) Di kanan kiri sungai-sungai kecil mereka dapat mencari makan demi mempertahankan kelangsungan hidupnya, termasuk mempertahankan budayanya dari campuran atau intervensi budaya luar.</p>
<p>Perobahan kedua: ketika ada kebijakan dari Pemerintah, dengan memindahkan pemukiman mereka, yang semula di sekitar sungai Nyogan ‘menetap’ di kanan kiri jalan antara desa Pelempang, menuju desa Nyogan. Di daerah inilah mereka dimukimkan oleh Departemen Sosial RI. Di tempat yang baru ini, setiap keluarga mendapatkan satu unit rumah atap seng dinding papan, ½ ha lahan pekarangan, dan 3 ha lahan kebun karet.</p>
<p>Lingkungan menjadi serba terang karena hutan ditebangi untuk kebun dan permukiman. Menurut penuturan di antara orang Dalam, mereka merasa tidak betah, karena permukiman ini jauh dari sungai. Setiap keluarga, oleh pemerintah, diberikan jatah hidup selama satu tahun. Setelah jatahpun habis, sementara mereka belum cukup siap mencari makan sendiri. Meskipun lahan sudah tersedia tampaknya mereka belum bisa memanfaatkannya sementara hutan di sekitar sungai Nyogan masih lebat dan menyediakan makanan berupa ikan, kura-kura, ular, babi, umbi-umbian. Yang penting lagi mereka dapat dengan leluasa menjalankan aktifitas kebudayaannya seperti <em>melangun </em>dan<em> besale</em> tanpa ada gangguan dari pihak luar.</p>
<p>Perubahan ketiga: Atas kebijakan pemerintah lagi, yakni pemindahan pemukiman oleh Depsos, dari Nyogan menuju ke Bangkai Tigo. Tempat yang baru ini adalah yang pada tahun 1972 masih berupa hutan lebat. Namun sudah mengalami pembabatan dan hendak dirubah menjadi lahan pemukiman. Sementara masih tersisa hutan lebat di sana.</p>
<p>Di tempat yang baru ini, mulai terjadi pengelompokan warga Nebang Parah sendiri. Sebagian masih ingin hidup di hutan, agar bisa memperoleh mata pencaharian dengan mencari ikan, umbi-umbian, babi, ular, dan sebagainya. Sementara kelompok lain, seperti pengalaman keluarga Syafei, ingin membuat kelompok sendiri dan ketua kelompoknya yaitu Syafei. Menurut ceritanya, ia berkeinginan menjadi <em>Temenggung</em> (raja) dan sekaligus ingin menjadi <em>sidi</em> bagi upacara <em>besale. </em>Kalau ikut kelompok yang di hutan, konon tidak akan mungkin terlaksana keinginannya itu.</p>
<p>Dari waktu ke waktu, hutan pun semakin habis dibabat, antara lain untuk permukiman transmigrasi asal Sungai Bahar. Sebagian orang Nebang Parah timbul kesadaran baru, mengenai pentingnya membuka tanaman karet di lahan/hutan-hutan yang mereka diami. Kegiatan ini mendapat ejekan dari kelompoknya dan apalagi orang Dalam yang masih suka di tengah hutan. Dalam pandangan mereka, orang Dalam tidak usah menanam karet, karena berarti harus menetap secara permanen di tempat itu. Namun bagi kelompok yang menanam karet, beralasan, bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mencegah wilayah mereka diambil orang lain, karena tetap berupa hutan, tetapi bila sudah ada tanamannya pengalihan hak tidak akan terjadi.</p>
<p>Kelompok penanam karet ini juga mulai belajar bagaimana menyadap karet yang benar, bagaimana mengolahnya dan menjualnya. Dengan susah payah mereka mulai dan gurunya adalah orang Jawa yang telah lama menjadi penyadap karet. Mengapa mereka belajar ke orang Jawa, bukan ke orang Melayu Jambi atau Palembang, alasannya sederhana yaitu orang Jawa dianggap tekun (<em>tlaten</em>), jujur, dan tidak mudah marah, serta tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan atau dimakan oleh orang Dalam, yang penting tidak saling mengganggu dan saling menjaga bila ada serangan atau kesulitan yang menimpa. Kebiasaan ini mereka tempuh karena mereka sudah tahu bahwa tempat mereka mencari makan yaitu hutan pasti akan habis, dan orang yang mereka pandang maju dalam segala hal adalah orang Jawa. Dengan selalu berinteraksi dengan orang Jawa maka lambat laun mereka akan ketularan sifat, perilaku, cara kerja, dan bahkan kebudayaan orang Jawa.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Komunikasi isyarat dan simbolik.</strong></p>
<p>Orang Dalam Nebang Parah menggunakan komunikasi isyarat ketika berhadapan dengan etnik luar. Misalnya ketika orang tersebut merasa tidak senang dengan orang Dalam, karena bau badannya yang anyir, kemudian ia meludah. Orang Dalam pun merespon dengan cara menjilat ludah tadi dengan mengatakan: ”tunggu aku nanti malam”, yang berarti marah bercampur tersinggung. Si etnik saingannyapun membalas dengan memalingkan muka. Namun apa yang kemudian terjadi, peristiwa seperti itu biasanya malah menjadi awal komunikasi yang lebih dekat. Orang luar tersebut justru menjadi tertarik untuk mendekati. Mereka berlanjut dengan pertemanan, dan selalu mencarinya untuk diajak ngobrol atau kerjasama. Sesekali mereka membawa tikar dan bantal untuk duduk bersama. Tikar dan bantal merupakan simbol sebuah keakraban. Apabila si orang Dalam tadi kebetulan seorang perempuan, maka pemberian tikar dan bantal bisa menjadi tanda kecintaan, yang membawa kemungkinan pada hubungan perkawinan.</p>
<p>Tampaknya etnik luar menjadi orang yang siap mentaati perintah orang Dalam. Hubungan laki-perempuan yang sudah diikat oleh tali perkawinan, antara orang Dalam dengan suku lain, dalam pengalaman mereka, tidak banyak menimbulkan konflik, meski berbeda adat istiadat. Mereka saling melonggarkan diri untuk membangun kesatuan pandangan. Sehingga hampir tidak mungkin terjadi perceraian, kecuali ditinggal mati salah satu dari keduanya. Ketika benar pihak suami meninggal dunia, si perempuan mengaku tidak merasa bercerai.</p>
<p>Sudah sering terjadi, perkenalan yang diawali dengan saling mengejek ini, dikenal oleh orang luar dengan istilah ’lengket’, yaitu orang luar yang mengejek orang Dalam (biasanya lain jenis) mereka akhirnya menjadi suami isteri. Orang luar tersebut kemudian menuruti semua perintah pasangannya yang diejek tadi. Kasus ini sudah terjadi, baik pada orang Jawa, Minang, maupun orang Melayu. Tindakan yang dianggap ”menejek” orang Dalam ini, pada awalnya merupakan tindakan yang sangat ditakuti oleh orang luar, karena khawatir jangan-jangan ”ancaman” mereka itu dibuktikan dalam bentuk tindak kekerasan. Namun demi dilihatnya orang Dalam tersebut justru merasa senang bergaul kepada orang lain, maka mereka akan selalu mengajak bicara orang tersebut, bahkan ikut makan bersama.</p>
<p>Ada berbagai bentuk respon dari orang Dalam terhadap tindakan orang luar selama terjadi interaksi, terutama terhadap mereka yang disenanginya. Di antaranya adalah dengan menuruti perintahnya atau memberikan sesuatu yang dianggapnya berharga.  Sesuatu yang berharga itu, misalnya burung beo, paha kijang (yang sebelumbya minta disembelih oleh orang luar). Orang Dalam tahu bahwa bila kijang hasil buruannya mati tanpa disembelih terlebih dahulu, maka orang luar tidak akan mau memakannya. Tidak jarang  rumah tinggal yang berasal dari pemberian pemerintah, termasuk kebunnya pun dianggap layak untuk diberikan kepada orang luar.</p>
<p>Proses komunikasi timbal-balik pun berlanjut, di mana orang luar yang menaruh simpati itu akhirnya menjalin hubungan yang lebih akrab. Bentuk keakraban juga citunjukkan misalnya dengan memasukkan dalam rombongan <em>berbalok </em>(pencari kayu balok di hutan untuk dijual), ke dalam kelompok tukang tebang dan tukang tebas hutan, tanpa lagi melihat perbedaan “orang dalam” dan “orang luar” atau antar kelompok orang Dalam sendiri. Kelompok tukang tebang itu umumnya bekerja untuk membuka kebun karet atau kelapa sawit. Hubungan mesra lintas batas kesukuan itu dapat berlanjut menjadi hubungan perbesanan.</p>
<p>Komunikasi simbolik mengandung asas reciprocity, tepatnya adalah <em>balanced reciprocity</em>. Yakni pertukaran barang dengan mengharapkan respon seimbang dari pihak yang diberi (Ilihat: Ember, 1985: 260). Pada masyarakat primitif atau tradisional, pada awalnya berlaku pertukaran antar barang dengan barang, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bersama dengan perjalanan waktu, pertukaran itu berkembang menjadi antara barang dengan jasa, atau antara barang dengan <em>social value</em>. Dimaksudkan agar mereka tetap survive dalam membangun hubungan-hubungan sosial. Biasanya berkembang menjadi semacam konrak sosial. Mereka saling berupaya membentuk pola-pola tindakan yang mengikat di antara keduanya. Apa yang dilakukan oleh orang Dalam Nebang Parah antara lain dapat digambarkan sebagai berikut:</p>
<p>Pertama untuk orang yang sejajar dan dalam keadaan senang, maka wujudnya pemberian sesuatu misalnya pemberian ayam hutan, ikan gabus, madu hutan. Orang luar pun merespon dengan memberinya rokok, kopi, gula pasir. Barang-barang yang langsung dipetik atau disadap dari pepohonan merupakan simbol kesederhanaan. Barang itu juga mencerminkan, bahwa kebudayaan masyarakat suku Kubu atau orang Dalam, adalah produk alam yang masih murni. Belum ada campurtangan dari kebudayaan modern. Sehingga sesuatu yang dianggap bernilai adalah yang langsung dari alam dan memberi manfaat langsung bagi kehidupan. Sementara pada  suku non Kubu membalasnya dengan barang produk modern, seperti gula pasir, rokok atau kopi, yang kesemuanya merupakan produk budaya modern.</p>
<p>Dalam pengalaman mereka, pemberian barang dengan asas <em>reciprocity</em> itu tidak selalu berjalan mulus. Tidak jarang menimbulkan kesalahpahaman. Di antaranya  karena asal barang yang berbeda, antara produk alam dengan produk modern tersebut, yang dalam penialaian mereka mungkin berbeda. Di samping adalah karena dilatarbelakangi oleh paham religi mereka.  Misalnya, kepada orang luar mereka hadiahi seekor babi, atau seekor kijang mati yang tidak disembelih. Padahal orang luar tersebut, yang umumnya beragama Islam, sangat tidak suka akan pemberian seperti itu, karena menurut pandangan keagamaa adalah haram alias tidak boleh dimakan. Tindakan penolakan itu mengundang orang Dalam menjadi marah. Bentuk kemarahan diperlihatkan dengan mengasah parang ataupun <em>kojur</em> (tombak). Menghadapi kemarahan demikian, maka orang luar lari menjauhinya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Demikianlah proses interaksi itu berlangsung, dan akhirnya banyak membuahkan sikap-sikap akomodatif di antara kelompok orang Dalam dan orang luar.</p>
<p>Bentu kedua, dalam pemberian dengan asas reciprocity adalah yang diberikan oleh orang Dalam kepada orang luar yang dianggap punya kedudukan. Orang Dalam memberinya sesuatu yang dianggap bernilai sesuai kedudukannya, misalnya kepala rusa, kepala kambing, madu lebah penyengat. Pemberian dimaksudkan sebagai imbalan jasa atas kebaikan si pejabat di mana orang Dalam merasa telah dilindungi dan dibimbing. Dalam pengalaman mereka, seorang pejabat tidak selalu disenangi, antara lain karena suka melarang beburu atau karena melarang menebang pohon. Kepada pejabat yang demikian, orang Dalam tidak pernah berpikir untuk memberikan hadiah. Apabila pejabat yang tidak disenangi itu memanggil mereka, misalnya untuk diberi pengarahan atau semacamnya, orang Dalam yang pada datang biasanya membawa parang dan tombak. Mereka tidak mau masuk ke ruangan tempat berkumpul, melainkan tetap berada di luar.</p>
<p>Sesuatu yang berikan untuk orang lain itu memiliki makna simbolik, yakni sebagai bahasa komunikasi yang lazim dimiliki antar komunitas.  Tetapi symbol itu bersifat imbigu. Sesuatu pemberian dengan nilai yang terkandung di dalamnya tidak selalu dimaknai sama oleh masing-masing kelompok. Perbedaan pemaknaan itu bisa menjadi bagian dari proses interaksi sosial membentuk pola akomodasi. Namun tidak jarang yang mengundang konflik dan ketegangan. Kepercayaan atau sistem religi yang dianut oleh mereka, memberi sumbangan terjadinya ketegangan tersebut. Karena barang yang diberikan dimaknai secara berbeda oleh masing-masing kelompok.</p>
<p><strong>Identitas diri dan Sosial.</strong></p>
<p>Orang Dalam Nebang Parah dalam mendefinisikan konsep ”diri” mengalami proses sebagai berikut: Pertama mereka berinteraksi dengan orang lain tetapi dalam posisi diam. Mereka tidak bicara apabila tidak ditanya. Tetapi mendengarkan semua pembicaraan orang-orang yang terlibat interaksi (biasanya sekumpulan orang luar bercampur orang Dalam). Diamnya ini tampaknya mempelajari bagaimana cara bergaul, cara berbicara, cara makan, dan seterusnya agar perilaku orang Dalam dapat diterima oleh orang luar sehingga orang luar mau mengakui diri orang Dalam yang memang berbeda dengan orang luar terutama dalam taraf adaptasinya. Setelah beberapa kali pertemuan dalam berbagai kegiatan dan antara orang Dalam dengan orang luar sudah saling mengakui keberadaannya. Tampaknya mereka bergaul bisa dalam arti kadang-kadang agak marah dengan nada omongan tinggi, tetapi kebanyakan diwarnai hubungan akrab penuh joke-joke di antara mereka.</p>
<p>Orang Dalam tampaknya tetap menyadari dirinya sebagai orang Dalam karena memang budayanya berlainan dengan orang luar. Hal ini tampak bila membicarakan masalah yang berkaitan berita yang berupa tulisan, sebab hampir seluruh orang Dalam yang berumur 40 tahun ke atas buta huruf. Tetapi dalam pergaulan sehari-hari antara orang luar dengan orang Dalam, sepertinya tidak ada masalah. Dari waktu ke waktu tampaknya terjadi saling memahami karakteristik masing-masing. Orang luar tidak kemudian meremehkan orang Dalam, meskipun mereka lebih berpendidikan.</p>
<p>Orang Dalam Nebang Parah dan orang luar sering melakukan kerjasama, seperti gotong royong memperbaiki jalan kampung yang rusak. Awalnya orang Dalam tampak melihat bagaimana orang lain melakukannya, kemudian ia ikut bersama melakukannya juga. Demikian pula ketika orang Jawa mencangkul tanah, mencari rumput untuk kemudian dibalik dan ditimbunkan di tempat jalan yang rusak. Orang Dalam pertama kali bertanya mengapa dibuat begitu, maka orang Jawa menjelaskan bahwa dibuat seperti itu agar jalan yang becek dapat berkurang beceknya, dan orang Dalam pun mulai berbuat seperti itu, sehingga mereka diakui sebagai warga masyarakat sebagaimana warga masyarakat lainnya. Hal ini dilakukan agar orang Dalam yang merupakan etnik minoritas menjadi tidak terasingkan lagi.</p>
<p>Proses menjadi orang lain dalam pergaulan sosial ini berlangsung terus dengan media pekerjaan sehari-hari yang bagi orang Dalam belum terbiasa, sedangkan bagi etnik lainnya sudah dianggap biasa.</p>
<p>Konsep diri di tingkat struktur sosial bagi orang Dalam dapat dijelaskan melalui dua kegiatan, yaitu kegiatan ekonomi dan keagamaan.</p>
<p>Kegiatan ekonomi, misalnya menjual getah karet: pertama, orang Dalam bertanya berapa harga beli oleh toke terhadap getah karet di desa Penerokan untuk kualitas tertentu. Kemudian orang Dalam pun menawarkan sebesar itu pula, karena bila ditawarkan di atas itu ataupun di bawahnya, akan terjadi lain yaitu kecurigaan antara penjual (orang Dalam ) dengan pembeli (toke karet) dan berakibat tersendatnya proses jual beli antara mereka dan akibatnya kebutuhan pokok sehari-hari tidak dapat terpenuhi.</p>
<p>Hal yang sama ketika akan mengambil kredit motor di pasar Sungai Bahar. Tampaknya orang Dalam sebagai pembeli mulai mempelajari bagaimana kemauan penjual. Misalnya, syaratnya harus punya KTP (kartu tanda penduduk). Bagi orang Dalam, memiliki Kartu Keluarga adalah sesuatu yang dianggap asing. Karena berkeinginan membeli motor tersebut, maka mereka berusaha memperolehnya. Proses pun dijalani: terlebih dulu mereka datang ke dealer motor. Setelah semua dipenuhi, yang menarik mereka bertanya: “Bagi orang lain seperti ini juga? “ dan waktu dijawab “ya”, mereka pun terheran-heran dalam arti <em>bangga</em> karena mereka merasa sama dengan etnik lainnya juga.</p>
<p><strong>Agama dan Kepercayaan lokal. </strong></p>
<p>Pada awalnya, orang-orang dari Suku Kubu atau termasuk orang Rimbo percaya tentang adanya roh jahat dan roh baik. Roh baik membantu manusia dalam kehidupannya. Menurut mereka, ada Tuhan Yang Satu yang memelihara manusia dengan perantara roh baik tersebut. Roh ini selalu membantu mansia seperti memelihara keamanan keluarga, keamanan lingkungan, kampung, membuat ladang subur, melindungi tanaman agar menghasilkan buah yang bisa dimakan atau dimanfaatkan, dan menunjukkan jalan agar berhasil baik dalam berburu di hutan.</p>
<p>Sementara roh jahat dipercayai dalam bentuk setan, hantu, iblis. Roh-roh itu ada yang asalnya dari roh manusia, yang waktu hidupnya suka berperilaku jahat. Setan, hantu dan ibli suka mencelakakan manusia, antara lain dengan angin ribut, kemarau panjang, wabah penyakit, atau tanaman yang tidak berbuah.</p>
<p>Roh jahat yang berasal dari orang yang sudah meninggal, kebanyakan mengganggu anak kecil dan orang perempuan. Anak kecil yang selalu berpenyakitan, suka rewel, menangis pada malam hari, sering mengigau, merupakan pertanda bahwa ia sedang diganggu oleh hantu yang berasal dari roh manusia yang waktu  hidupnya selalu berperilaku jahat.</p>
<p>Hantu yang sering mengganggu perempuan, biasanya ketika perempuan sedang hamil, sedang menyusui atau temanten baru. Perempuan yang sedang berbicara dengan laki-laki lain yang tidak ada suaminya atau yang jauh dari bapak kandungnya, termasuk yang suka diganggu setan.</p>
<p>Bila gangguan roh jahat melanda banyak orang dan menyebar di beberapa <em>rombong </em>(perkampungan),<em> tubo</em> atau <em>seladang,</em> maka perlu diusir secara massal. Caranya adalah dengan melibatkan beberapa Alim yang berada di Makekal dan diikuti oleh seluruh masyarakat. Ritual untuk mengusir roh jahat tersebut dilakukan pada malam hari dan dilaksanakan secara bergiliran dari <em>tubo</em> satu ke <em>tubo</em> yang lain, sehingga semua terselesaikan. Mereka bersama-sama mengucapkan mantra-mantra  yang diiringi tari-tarian sampai sebagian besar orang terlibat dalam upacara tersebut dan menjadi <em>trance</em>. Dalam kepercayaan mereka, waktu <em>trance</em> inilah saatnya Tuhan melalui roh baik memberikan resep tentang cara-cara menanggulangi musibah yang melanda masyarakat.</p>
<p>Upacara pengusiran roh jahat ini, sama sekali terlarang bagi orang luar untuk mengikuti atau melihatnya. Bila ada orang mengintip dari jauh, misalnya memakai alat teropong, maka alim akan berkata: upacara tidak dapat dilaksanakan karena ada yang mengganggu. Maka gangguan tersebut harus dihilangkan terlebih dulu. Mengganggu orang yang sedang upacara ritual, samahalnya merusak kepercayaan mereka.</p>
<p>Menurut kepercayaan orang Dalam, Tuhan akan melindungi mereka apabila seluruh warga masyarakat taat kepada adat, trutama bagi para penghulunya. Bila para penghulu banyak yang bertindak tidak adil, hanya memntingkan diri sendiri dan keluarganya atau pemimpin lainnya (yang bukan orang Dalam), maka Tuhan akan menurunkan balak, yang berupa kemarau panjang, pohon berbuah tidak pada musimnya, menjala ikan di sungai tidak mendapatkan hasil, tanaman kurang ada hasilnya, banyak orang tertimpa penyakit, dan seterusnya.</p>
<p>Demikian sekilas mengenai kepercayaan suku Kubu atau Suku Rimbo atau yang sering disebut orang Dalam. Banyak upacara-upacara ritual yang dilaksanakan atas dasar kepercayaan mereka. Selain ritual untuk mengusir roh jahat, masih banyak lagi ritual lainnya, seperti pemujaan kepada Tuhan pencipta alam, ritus spontan, ritus penyambutan bayi lahir, ritus pengobatan dan ritus kematian. (Muntholib, 2005, 384-391)</p>
<p>Sejak perkampungan suku Kubu semakin terbuka, orang luar pun banyak yang datang ke wilayah ini dengan membawa agama masing-masing. Sebagian besar mereka, baik dari etnis Jawa, Minang, Batak, adalah beragama Islam. Tradisi keagamaan yang menonjol adalah yang berasal dari Jawa dan Minang. Sebagian besar mereka dikenal sebagai orang-orang yang taat beribdah, dan mengikuti paham <em>ahlusunnah waljamaah</em>. Mereka menjalankan ibadah shalat lima waktu setiap hari, shalat Jum’at berjamaah, berpuasa di bulan Ramadhan,  mereka jalankan, dan sering mengadakan pengajian al Qur’an.</p>
<p>Bagi orang Dalam, kepercayaan sebagaimana dianut oleh suku lain tersebut, sebenarnya tidak terlalu asing, terutama menyangkut kepercayaannya kepada adanya Tuhan Penguasa alam semesta. Namun mereka masih asing dalam masalah ritualitas. Perbedaan ritual antara orang dalam dan oranag luar, tidak membuat mereka konflik. Dalam perjalanan waktu, mereka justru saling belajar.</p>
<p>Orang Dalam sering melihat, cara cara beribadahnya orang-orang Islam, terutama dalam menjalankan shalat lima waktu, berkumpul mengaji, dan sebagainya. Lambat laun mereka tertarik untuk mengikuti cara-cara tersebut. Sementara mereka juga tidak begitu saja meninggalkan tradisi yang didasarkan oleh kepercayaan aslinya. Sementara orang pendatang juga sangat hati-hati untuk mengajak mereka merubah kepercayaan lamanya, dan atau mengikuti cara-cara Islam dalam beribadah. Tampaknya butuh waktu  lama untuk saling beradaptasi.</p>
<p>Sementara itu, menurut informasi dari beberapa warga, ada juga usaha yang intensif dari pihak kaum missionaris Nasrani, agar mengikuti tradisi mereka. Namun orang Kubu ternyata agak sulit menerima kepercayaan Nasrani. Bahkan sampai sekarang (tahun 2007) tidak ada satupun warga orang Dalam yang mau diajak masuk agama selain Islam. Menurut mereka, agama Nasrani terutama, bukanlah agama masyarakat desa yang berada di sekitar permukiman orang Dalam. Bila mereka tidak beragama sesuai agama orang desa, maka mereka akan terisolir dan tidak akan diterima bila bergaul dengan masyarakat desa. Tampaknya mereka memang tidak bisa terlepas dari kepercayaan aslinya.</p>
<p>Berbeda keadaanya sewaktu pada waktu ada tim dosen IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Mereka langsung menyambutnya dengan baik dan langsung minta diajari melakukan ritual seperti orang desa melakukan ritual agama Islam.</p>
<p>Selama tiga bulan siang malam, mereka memperoleh pelajaran agama Islam, mereka makin percaya diri dan tidak keberataan diidentfikasi sebagai orang Islam. Termasuk yang mau mengikuti kepercayaan baru tersebut adalah para penghulu adatnya. Secara sosial para penghulu tersebut sangat berpengaruh bagi masyarakat Dalam pada umumnya. Penerimaan orang Dalam terhadap Islam semakin hari semakin kuat. Mereka semakin bergairah untuk juga mengikuti kegiatan lainnya yang dilakukan oleh kalangan beragama Islam. Kehidupan semakin semarak, ditambah lagi ada empat orang anak dari daerah ini yang bersedia diajak masuk pesantren, yaitu pondok pesantren Dzulhijjah Muara Bulian.</p>
<p>Bersamaan dengan semakin longgarnya akses ke wilayah ini, listrik pun sudah masuk ke desa ini. Jalan-jalan kampung dikeraskan dengan hotmik. Sejumlah orang memiliki pesawat televisi dan radio. Listrik pun juga sudah masuk. Orang-orang sudah memasuki pekerjaan di berbagai sektor, seeprti perdagangan di pasar, menjadi pegawai kantor desa, kerja di kebun dengan peralatan modern, dan sebagainya. Perkampungan di wilayah Nebang Parah pun secara perlahan tidak lagi dianggap lokasi masyarakat terasing. Orang Dalam Nebang Parah pun leluasa mau beraktifitas di desa-desa sekitar mereka. Sekarang (2007) mereka sudah membangun masjid sebagai tempat pemusatan ibadah orang-orang Islam. Pembangunan rumah ibadah ini pada awalnya distimuli oleh bantuan pemerintah dan dilanjutkan oleh mereka sendiri melalui gotongroyong. Akhirnya bangunannya cukup megah untuk ukuran lingkungan  Nebang Parah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Masa depan.</strong></p>
<p>Orang Dalam Nebang Parah kini rata-rata mempunyai kebun sendiri. Sebagian ada yang punya kebun karet, sebagaian lagi punya kebun sawit, yang merupakan sumber kehidupan mereka. Kebun karet yang sudah tua pun tampak mulai diremajakan. Sesekali ada di antara mereka yang ingin menjual kebunnya, karena tergiur untuk memiliki uang banyak dalam waktu cepat.</p>
<p>Ada sebuah keluarga mempunyai ladang yang sudah ditebang untuk ditanami karet dan sawit seperti orang-orang di sekitarnya. Keluarga tersebut punya kenalan orang Batak yang sama-sama hoby minuman keras, akhirnya disepakatilah kebun tadi ditukar dengan Suzuki Smash 125 cc dengan harga Rp 12.500.000,- lengkap dengan STNK nama orang Dalam tersebut yang langsung disambut dengan suka cita oleh seluruh keluarga. Padahal harga pasaran kebun tersebut minimal Rp 24.000.000. Setelah dua tahun motor bebek tersebut rusak karena tidak tahu cara perawatannya, kemudian dijuallah kepada orang transmigrasi dengan harga Rp 2.000.000,- dan keluarga orang Dalam tersebut pindah dari kebun tadi dan menegakkan pondok sederhana di pinggir sungai Karas, hidup mencari upahan (kalau ada) serta mencari ikan yang jumlahnya sudah sangat sedikit.</p>
<p>Pengalaman seperti itu sudah sering terjadi, dan belakangan para pemuka adat menyadari akibat dari jual-beli yang seakan-akan memberikan keuntungan, dalam kenyataannya mereka dirugikan. Orang Dalam tidak mampu berpikir panjang, dan mereka terlalu awam untuk menghitung untung-rugi dalam rti yang sebenar-benarnya.</p>
<p>Kondisi demikian yang akhirnya menyentuh kesadaran kultural para pemangku adat adat. Terutama dalam hal menjual kebun, sebagai penduduk asli, mereka akhirnya tahu bahwa hal itu sangat merugikan masyarakat adat. Menjual kebun akan berati memindahkan kepemilikan kepada orang lain, dan mempersempit wilayah kepemilikian lahan pada penduduk asli. Oleh karena itu, para tumenggung (penghulu adat) berusaha menghentikan kegiatan menjual kebun. Walau tidak tahu dengan cara bagaimana menghentikannya. Karena orang-orang kalangan suku Kubu itu banyak yang kurang berpendidikan, dan mudah tergiur terhadap barang baru, yang memang serba canggih, seperti kendaaraan bermotor, televisi, dan lain sebagainya. Maka kepada warganya yang melakukan tindakan menjual kebun, oleh sang tumenggung dimarahi. Hanya sebatas itu.</p>
<p>Sebagian orang suku Kubu memang semakin mampu berhitung untung rugi, untuk kepentingan yang tidak semata-mata kepentingan pribadi atau kepentingan jangka pendek. Mereka juga merasa menyadari akan hak-haknya, setelah belajar dari orang luar. Dari segi ketrampilan menyadap karet juga hampir sama dengan etnik lainnya begitu juga dalam memelihara kebun sawit, sehingga anak mudanya banyak yang deiterima sebagai karyawan PTP. Selain itu lokasi ini sudah ada listrik yang memudahkan mereka mengakses informasi dari TV.</p>
<p>Anak-anak usia sekolah pun hampir semuanya masuk sekolah, bahkan ada yang melanjutkan ke luar daerah/ke kota Jambi atau Muara Bulian, sedangkan orang tua juga mulai ada yang kursus paket A sehingga angka melek hurufnya semakin bertambah.</p>
<p>Agama dalam hal ini semuanya beragama seperti agama masyarakat desa sekitarnya yaitu agama Islam. Pengetahuan dan pengamalan agamanya tampak selalu meningkat. Sudah banyak dari kalangan orang Dalam yang ikut belajar mengaji, menjalankan shalat dan berkumpul di masjid. Setahun sebanyak dua kali mereka minta ditempati mahasiswa kukerta IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Mereka berharap dengan kehadiran mahasiswa tersebut, bisa membimbing anak-anak orang Dalam di situ.</p>
<p>Anggapan masyarakat bahwa orang-orang Kubu atau orang Dalam adalah sebagai “orang rendahan” sudah semakin berkurang. Karena orang Dalam semakin banyak yang bisa membaca. Karena intensitas interaksi dengan orang luar, mereka semakin adaptif dengan situasi baru. Dalam berperilaku sehari-hari, mereka berpenampilan sebagai warga luar. Bila tidak jeli hampir tidak dapat membedakan orang Dalam dengan orang desa karena bila sore hari mereka pakai sarung dan baju taqwa, bila menghadiri pesta perkawinan memakai batik dan busana muslim bagi perempuan.</p>
<p>Pertumbuhan ekonomi telah membuat semakin meningkatnya kesejahteraan keluarga-keluarga suku Kubu. Daya beli meningkat, dan rata-rata mereka sudah punya sepeda motor lengkap dengan SIM dan KTP. Tanah yang dimiliki sudah dilengkapi dengan girik dan bukti pembayaran PBB. Pekarangan rumahnya punya sertifikat sehingga kemantapan bertempat tinggal menjadi tinggi. Karena fasilitasi oleh pemerintah, menjadikan kondisi fisik perkampungan orang Dalam  di Nebang Parah sudah  lebih baik dibanding desa-desa sekitarnya.</p>
<p>Perlakuan dari pemerintah pun bahkan sedikit berlebih karena pemerintah ingin lokasi ini dijadikan percontohan bagi pembinaan masyarakat terasing di propinsi Jambi. Apabila lokasi Nebang Parah dinilai berhasil, maka dalam waktu dekat akan ditingkatkan dari yang semula hanya disebut <em>dusun</em> menjadi  desa tersendiri.</p>
<p>Lokasi dusun-dusun tersebut kebetulan berdekatan dengan jalan raya, yang hampir siang malam tidak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor. Deangan lancarnya akses jalan tersebut, maka penjualan hasil kebun menjadi lancar. Meskipun musim hujan tiba, yang biasanya menyulitkan mereka pergi ke kota, kini sudah tidak lagi menjadi masalah.</p>
<p>Warna-warana budaya asli suku Kubu tampak berubah, dan cenderung mulai terpinggirkan. Pola kehidupan orang Dalam dengan orang luar, semakin tidak berbeda dengan masyarakat desa sekitarnya. Yang pasti mereka dapat dan mau berinteraksi dengan siapapun dalam arti tidak menutup diri apalagi merasa rendah diri.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Beberapa Kesimpulan</strong></p>
<p>Kajian tentang eksistensi etnik minoritas orang Dalam Nebang Parah, sebagaimana terurai dari bab ke bab di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Orang Dalam Nebang Parah berpindah-pindah sampai ke lokasi sekarang ini adalah perpindahan ke tiga. Pada awalnya tampaknya ingin mempertahankan keaslian mereka, tetapi lingkungan sekitar tampak tidak mendukung lagi, maka mereka berfikir keras bagaimana untuk menjadikan mereka sebagaimana orang luar yaitu warga masyarakat desa-desa sekitarnya yang terdiri dari multi etnik.</li>
<li>Persentuhan dengan orang luar, baik melalui kegiatan ekonomi, sosial, agama, dan aktivitas lainnya, tampak tidak menimbulkan ketegangan atau konflik yang berarti. Mereka diterima oleh masyarakat desa sekitarnya, sedangkan budaya asli yang masih dipertahankan tampak tidak menjadi persoalan bagi etnik lainnya.</li>
<li>Hasil berpikir keras orang Dalam Nebang Parah, yang terpenting adalah bagaimana harus menjadi seperti masyarakat desa sekitarnya. Khusus agama, mereka tidak mau menganut agama Islam bercorak ahlussunnah waljamaah. Karena agama Islam dengan corak seperti itu adalah agama yang juga dianut oleh masyarakat desa sekitarnya. Di antara ciri keberagamaannya yang mereka anut dan dianggap tidak berselisih dengan kepercayaan aslinya, adalah tradisi kenduri untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, merayakan hari besar Islam. Dengan demikian secara kultural telah terjadi proses adaptasi dengan lingkungan baru.</li>
<li>Sistem kepercayaan bertuhan satu telah lama menjadi bagian dari kultur orang Dalam. Untuk merefleksikan kepercayaannya itu mereka lebih banyak dikendalikan oleh kekuatan alam dan kepercayaan kepada makhluk gaib. Sejalan dengan tahap-tahap perubahan lingkungan, baik fisik maupun non fisik, maka kepercayaan itu pun semakin berubah. Terutama dalam pandangan mengenai ketuhanan, dan cara beribadah sebagai refleksi ketaatannya kepada Tuhan.</li>
</ol>
<p><strong>Rekomendasi.</strong></p>
<p>Hasil kajian ini dapat merekomendasikan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Kelompok etnik yang terpinggirkan bila mereka dianggap warga Negara yang wajar ternyata biasa hidup wajar seperti warga Negara lainnya. Oleh karena itu etnik minoritas sudah seharusnya dianggap warga Negara yang berhak mendapatkan hidup layak sebagaimana orang lain.</li>
<li>Bila sudah dianggap warga Negara yang sah, diharapkan merekapun tidak lagi merasa rendah diri atau ketakutan untuk berinteraksi dengan etnik lain.</li>
<li>Bagi para peneliti dan pengabdi hendaknya mau terjun ke lokasi yang terpencil, agar mereka tahu bahwa mereka itu juga manusia biasa yang memerlukan perlakuan biasa juga.</li>
<li>Refleksi keberagamaan suku terasing atau kelompok minoritas tidak seharusnya dilihat dengan kacamata <em>mainstream.</em> Karena akan meimbulkan prasangka. Oleh karena itu perlu pendekatan yang egalitarian untuk mengembangkan kehidupan beragamanya.</li>
</ol>
<p>Akhirnya kajian ini mudah-mudahan menjadikan bahan bagi kita semua dalam memahami etnik yang terpinggirkan, sehingga mereka dianggap manusia sebagaimana manusia Indonesia pada umumnya dan ada manfaatnya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marzanianwar.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marzanianwar.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marzanianwar.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marzanianwar.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marzanianwar.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marzanianwar.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marzanianwar.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marzanianwar.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marzanianwar.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marzanianwar.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=233&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/11/01/resistensi-minoritas-suku-kubu-di-nebang-parah-jambi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3313d5024cd0f2985d6c1506aa045f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marzani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEARIFAN LOKAL  DI MINANGKABAU DAN NAD</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/11/01/kearifan-lokal-di-minangkabau-dan-nad/</link>
		<comments>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/11/01/kearifan-lokal-di-minangkabau-dan-nad/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 01:40:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
				<category><![CDATA[HASIL PENELITIAN]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bagari]]></category>
		<category><![CDATA[Clifford Geertz]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marzanianwar.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Cuplikan Hasil Penelitian
Oleh Adlin Sila
 
Nagari adalah bagian tak terpisahkan dari identitas dan basis kehidupan masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Penerapan UU No.5/1979, yang mengubah Nagari menjadi desa, dianggap sebagai bentuk Jawanisasi yang telah mematisurikan hubungan sosial, identitas dan kepemimpinan lokal Nagari. Setelah reformasi, konsep Nagari bangkit dan semakin membuncah dengan slogan “kembali ke Nagari”.

Nagari mempunyai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=230&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Cuplikan Hasil Penelitian</strong></p>
<p><strong>Oleh Adlin Sila</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Nagari adalah bagian tak terpisahkan dari identitas dan basis kehidupan masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Penerapan UU No.5/1979, yang mengubah Nagari menjadi desa, dianggap sebagai bentuk Jawanisasi yang telah mematisurikan hubungan sosial, identitas dan kepemimpinan lokal Nagari. Setelah reformasi, konsep Nagari bangkit dan semakin membuncah dengan slogan “kembali ke Nagari”.</p>
<p><span id="more-230"></span></p>
<p>Nagari mempunyai seperangkat mekanisme adat untuk mengatur segala bentuk hubungan sosial, seperti sistem pemerintahan, sistem ekonomi, hubungan antara manusia dan hubungan antara manusia dengan alam. Nagari diatur dengan prinsip <em>tali tigo sapilin</em>: yaitu pertautan antara hukum adat, syari’at Islam dan hukum negara (atau Undang-Undang). Khusus hubungan antara adat dan Islam, orang Minang berpegang pada prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (atau disingkat ABS dan SBK), untuk mengatur dan menciptakan keseimbangan antara hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Pemerintahan Nagari yang otonom dipegang secara kolektif dengan prinsip <em>tigo tungku sajarangan</em> (ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai), dan pengambilan keputusan dilakukan melalui permusyawaratan antara pemimpin dan kaumnya di Nagari. Saat ini, Nagari tumbuh menjadi unit pemerintahan lokal yang menggabungkan antara prinsip-prinsip pemerintahan modern dengan nilai-nilai adat lokal. Para golongan tua di Nagari cenderung menggunakan referensi masa lalu untuk menata kembali Nagari. Misalnya, kembali ke Nagari berarti kembali ke adat dan kembali ke surau. Semua hal yang terkait dengan Nagari harus diatur dengan adat. Ninik mamak, misalnya, harus difungsikan kembali tanggung-jawabnya kepada kemenakan dalam kerangka keluarga besar (<em>extended family</em>).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adapun di Naggro Aceh Darussalam (NAD) dikenal apa yang disebut <strong> Gampong</strong> dan <strong>Mukim. </strong>Keduanya merupakan<strong> </strong>lembaga pemerintah yang menjadi konsep penting dalam isu Otonomi Khusus Aceh. Kembali ke Gampong adalah jargon untuk mengembalikan masyarakat Aceh kepada adat istiadat aslinya yang sebelumnya terberangus oleh diberlakukannya UU Nomor 5 Tahun 1979 tentang pokok-pokok pemerintahan desa yang berujung pada penyeragaman desa di zaman Orba. Dengan lahirnya beberapa UU dan Qanun seperti; UU No. 44 Tahun 1999 (Keistimewaan Aceh),  UU No. 18 Tahun 2002 (Otonomi Khusus), Perda No. 7 Tahun 2000 (Penyelenggaraan Adat), Qanun No. 4 Tahun 2003 (Pemerintahan Mukim), dan Qanun No. 5 Tahun 2003 (Pemerintahan Gampong), maka akan menjadi momentum bagi Meunasah dan Masjid untuk menjadi motivador kebangkitan semangat ke-Aceh-an yang sebelunya terpuruk oleh berbagai kebijakan Orba yang diskriminatif dan mematikan adat istiadat masyarakat Aceh serta akibat bencana Tsunami. Gampong adalah organisasi pemerintahan terendah di NAD, seperti desa atau kampung di daerah Jawa. Keuchik adalah kepala pemerintahan dan memegang manunggal tiga fungsi yaitu; eksekutif, legislative dan yudikatif. Sedangkan Mukim adalah kesatuan masyarakat hukum yang terdiri atas gabungan beberapa gampong dan diketuai oleh seorang camat yang dipimpin oleh Imeum Mukim sebagai kepala pemerintahan mukim, yang dibantu oleh imeum chik, tuha peut mukim, sekretaris mukim, Majelis Adat Mukim dan Majelis Musyawarah Mukim.</p>
<p>Selain itu, keberadaan Meunasah dan Masjid adalah dua hal lain yang vital dalam sistem budaya dan adat istiadat Aceh. Kedua lembaga ini merupakan symbol identitas ke-Aceh-an yang menjadi sumber energi budaya Aceh. Kedua lembaga ini memiliki nilai-nilai aspiratif untuk membangun keadilan dan kemakmuran serta menentang kezaliman dan penjajahan. Fungsi Meunasah antara lain; Tempat sholat berjamaah, dakwah, musyawarah, penyelesaian sengketa, pengembangan seni, pembinaan generasi muda, forum asah keterampilan dan olahraga, dan pusat ibukota Gampong. Sedangkan Masjid berfungsi sebagai; Tempat Sholat Jum’at, pengajian, Musyawarah/perdamaian, Dakwah, Pusat Kajian Ilmu, Tempat Pernikahan, dan Simbol persatuan Umat.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Meunasah menjadi pusat pengendali proses interaksi sosial masyarakat sehingga salah satu fungsinya adalah melahirkan tatanan adat istiadat. Meunasah sangat terikat dengan Gampong, karena Gampong sendiri adalah persekutuan masyarakat hukum. Dari itu, selain dibantu oleh sekretaris Gampong, Keuchik dalam menjalankan tugasnya juga dibantu oleh Imeum Meunasah, sehingga bisa dikatakan Meunasah merupakan pusat administrasi pemerintahan Gampong dan memiliki perangkat seperti; (1) Perangkat/struktur lembaga adat, (2) Pemangku adat, (3) Hukum adat, norma, (4) Adat istiadat dalam seremonial, seni, dan (5) Lembaga musyawarah adat/pengadilan adat. Dalam Gampong terdapat pula beberapa lembaga yaitu;</p>
<p>(1).<em> Keujrun Blang</em> : mengurus irigasi pertanian/perswahan dan sengketa sawah.</p>
<p>(2). <em>Pangliam Laot</em> : engurus penangkapan ikan di laut, dan menyelsaikan sengketa laut.</p>
<p>(3).<em>Peutua Seuneubok</em> : mengatur pembukaan hutan/perladangan/perkebunan pada wilayah gunung/lembah-lembah.</p>
<p>(4). <em>Haria Peukan</em> : mengatur ketertiban, kebersihan dan mengutip retribusi pasar.</p>
<p>(5). <em>Syahbandar</em> : mengatur urusan tambatan kapal/perahu, lalulintas angkutan laut, sungai dan danau.</p>
<p>Meunasah dan Masjid kini menjadi tonggak sejarah, sebagai sumber inspirasi untuk membangun Aceh. Masjid dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan Mukim (yang terdiri dari beberapa Gampong) seperti kebutuhan untuk beribadah pada Hari Jum’at. Dengan demikian, Masjid berperan dalam hal syariat, sedangkan Meunasah berperan dalam hal adapt istiadat. Kontirbusi dari Meunasah dan Masjid akan memperkokoh dua lembaga pemerintahan yaitu Gampong dan Mukim. Dalam rangka penguatan kembali fungsi Meunasah dan Masjid ini, Badruzzaman (2007) mengatakan bahwa penguatan kedua lembaga itu memerlukan pemilahan mana komponen budaya yang primer dan mana yang sekunder. Yang primer antara lain adalah;</p>
<ul>
<li>Aqidah Islam</li>
<li>Persatuan dan kesatuan</li>
<li>Tolong menolong</li>
<li>Rambateerata (gotongroyong/kebersamaan)</li>
<li>Taat/manut kepada Imeum (pemimpin)</li>
<li>Jujur, amanah dan berakhlak mulia</li>
<li>Musyawarah</li>
<li>Percaya diri</li>
<li>Menjaga keluarga</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertanyaannya kemudian; apakah norma-norma adat istiadat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Aceh atau sudah terberangus oleh norma-norma sosial yang bersifat popular dan mondial akibat arus informasi melalui media elektronik (TV) maupun cetak? Lalu, apakah prsayarat-prasyarat yang diperlukan dalam membangkitkan kembali norma-norma adat istiadat ini? Selanjutnya, perlu dilakukan kembali sebuah studi tentang bagaimana pandangan masyarakat Aceh sendiri tentang keberadaan lembaga Meunasah dan Masjid sebagai sumber dari motivator budaya orang Aceh, dan menggali faktor-faktor apa saja (diluar norma-norma adat istiadat) yang bisa dikembangkan untuk pembangunan ekonomi berbasis kearifan lokal di Aceh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Kearifan lokal atau <em>local wisdom</em> adalah istilah yang mengacu kepada nilai kearifan yang bersifat tradisional dan dimiliki oleh masyarakat secara turun temurun. Wacana ini muncul sebagai reaksi atas konsep rasionalisasi di bawah payung modernisasi yang mencoba mengeliminir peran kearifan lokal ini dalam sistem kosmologi masyarakat dengan lembaga-lembaga formal yang dianggap lebih rasional. Kearifan lokal adalah produk budaya (<em>cultural product</em>), dan agama sebagai salah satu produk dari budaya itu.</p>
<p>Membangkitkan kembali kearifan lokal ini adalah buah dari wacana multikulturalisme yang menjadi perbincangan yang hangat akhir-akhir ini. Bagi sebagian orang, konsep ini diharapkan menjadi oase di tengah hubungan antar komponen masyarakat Indonesia yang kurang harmonis. Gagasan ini awalnya muncul pada negara-negara yang berpenduduk majemuk dari segi etnis, budaya dan agama, seperti misalnya di Amerika Serikat dan Eropa. Sebelum muncul multikulturalisme, di Amerika Serikat pernah dikembangkan teori “<em>melting-pot</em>” (“tempat melebur”) dan teori “<em>salad-bowl</em>” (tempat salada). Tapi, kedua-duanya mempunyai kelemahan dan mengalami kegagalan. Dengan teori <em>melting-pot</em> diupayakan untuk menyatukan seluruh budaya yang ada dengan meleburkan seluruh budaya asal masing-masing. Dengan teori <em>salad bowl</em>, masing-masing budaya asal tidak dihilangkan melainkan diakomodir dan memberikan kontribusi bagi budaya bangsa, namun interaksi kultural belum berkembang dengan baik. Karena semua gagasan di atas tidak berjalan optimal, maka muncullah kemudian multikulturalisme untuk memperbaiki kelemahan gagasan-gagasan sebelumnya. Multikulturalisme muncul sebagai sebuah gerakan dimulai dengan gerakan menuntut hak-hak sipil dari masyarakat kulit hitam Amerika tahun 1960, hak-hak perempuan masyarakat Meksiko, Hispanik dan masyarakat asli Amerika tahu 1970, dan gerakan multikultur untuk reformasi kurikulum dan kebijakan pendidikan tahun 1980.</p>
<p>Indonesia termasuk negara yang mencoba memperbaiki konsepnya dalam  menghadapi keragaman agama dan budayanya. Jika sebelumnya, konsep homogeneisasi (penyeragaman) yang mirip dengan <em>melting pot</em>-nya Amerika Serikat diutamakan, maka Indonesia saat ini menempatkan semua agama secara sejajar. Dengan memperhatikan pokok-pokok tentang multikulturalisme dan dihubungkan dengan kondisi negara Indonesia saat ini, kiranya menjadi jelas bahwa multikulturalisme perlu dikembangkan di Indonesia, karena justru dengan gagasan inilah kita dapat memaknai keragaman agama di Indonesia. Konsep ini dapat memperkaya konsep kerukunan umat beragama yang dikembangkan secara nasional di negara kita.</p>
<p>Satu hal yang harus diamalkan bahwa gagasan multikulturalisme menghargai dan menghormati hak-hak sipil, termasuk hak-hak kelompok minoritas. Tapi, sikap ini tetap memperhatikan hubungan antara posisi negara Indonesia sebagai negara religius yang berdasarkan Pancasila. Negara Indonesia tidak membenarkan dan tidak mentolerir adanya pemahaman yang anti Tuhan (atheism). Negara Indonesia juga tidak mentolerir berbagai upaya yang ingin memisahkan agama dari negara (sekularisme). Mungkin kedua hal ini menjadi ciri khas multikulturalisme di negara asalnya seperti Amerika Serikat dan Eropa. Tapi, ketika konsep ini diterapkan di Indonesia, harus disesuaikan dengan konsep negara dan karakteristik masyarakat Indonesia yang religius. Singkatnya, multikulturalisme yang diterapkan di Indonesia adalah multikulturalisme religius.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Badruzzaman, (2007), <em>Mesjid dan Adat Meunasah sebagai Sumber Energi Budaya Aceh</em>. Cetakan ke-2, Aceh: Majelis Adat Aceh (MAA); dan “Kedudukan Meunasah dan Mesjid dalam Sistem Sosial Masyarakat Aceh. (Makalah tidak diterbitkan), disampaikan pada Kongres Kebudayaan Aceh, tanggal 7 – 9 April 2007 di Banda Aceh.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marzanianwar.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marzanianwar.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marzanianwar.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marzanianwar.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marzanianwar.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marzanianwar.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marzanianwar.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marzanianwar.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marzanianwar.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marzanianwar.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=230&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/11/01/kearifan-lokal-di-minangkabau-dan-nad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3313d5024cd0f2985d6c1506aa045f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marzani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENELUSUR JEJAK KONFLIK INTERNAL UMAT ISLAM</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/11/01/menelusur-jejak-konflik-internal-umat-islam/</link>
		<comments>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/11/01/menelusur-jejak-konflik-internal-umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 01:37:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
				<category><![CDATA[HASIL PENELITIAN]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'tazilah]]></category>
		<category><![CDATA[Jabariyah]]></category>
		<category><![CDATA[Maturidiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marzanianwar.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Marzani Anwar
Penganut Islam merupakan penduduk yang terbesar jumlahnya, dan sekaligus terbesar di seluruh dunia. Sehingga bukan hal aneh, meski Indonesia bukan negara agama dan bukan pula negara Islam, kalau berdirinya negara Indonesia juga banyak diwarnai oleh nilai-nilai keberagamaan yang bersumber dari ajaran atau pengaruh Islam. Religiusitas bangsa juga lebih mencerminkan religiusity-nya menurut Islam. Dan agama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=227&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Marzani Anwar</strong></p>
<p>Penganut Islam merupakan penduduk yang terbesar jumlahnya, dan sekaligus terbesar di seluruh dunia. Sehingga bukan hal aneh, meski Indonesia bukan negara agama dan bukan pula negara Islam, kalau berdirinya negara Indonesia juga banyak diwarnai oleh nilai-nilai keberagamaan yang bersumber dari ajaran atau pengaruh Islam. Religiusitas bangsa juga lebih mencerminkan religiusity-nya menurut Islam. Dan agama Islam menjadi variabel yang sangat diperhitungkan dalam percaturan politik di Indonesia.</p>
<p>Namun sejarah menunjukkan, bahwa kesatuan agama tidak menjamin kesatuan opini dalam politik, tidak juga menjadi kesatuan pandangan dalam memilih cara beragama. Perbedaan itu menjadi benih-benih timbulnya konflik, baik secara samar maupun terpendam, atau terbuka.</p>
<p><span id="more-227"></span></p>
<p>Konflik atau kekerasan pada kalangan umat beragama, terjadi pada hampir semua tingkat penjenjangan, yaitu: ketegangan (tension); ketidaksetujuan (<em>disagreement); p</em>ersaingan <em>(rivarly); p</em>ertengkaran (<em>dispute)</em>; permusuhan (<em>hostility); p</em>enyerangan (<em>aggression; k</em>ekerasan <em>(violence)</em>; peperangan (<em>warfare). </em>Penyebab terjadinya  cukup kompleks dan tidak selalu alasan agama, tetapi sudah berkaitan dengan kepentingan politik dan perebutan sumber ekonomi, dan sebagainya.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<h4>Peranan Aktor Sejarah</h4>
<p>Nabi Muhammad sebagai tokoh sentral dalam perkembangan agama ini, sebagaimana diketahui, sepeninggalnya tak mewarisi pesan-pesan soal kepemimpinan politik. Mungkin karena hal itu semata-mata urusan penduduk pada negeri yang bersangkutan. Ketika terjadi ketegangan tentang masalah kepemimpinan, maka saat itu pula  manusia punya keharusan  menciptakan sistem untuk kemaslahatan mereka sendiri. Kehidupannya bermasyarakat bernegara, bersuku-suku dan berkelompok-kelompok adalah ciri utama manusia, dan mereka juga yang berhak mengatur bagaimana suatu masyarakat mesti diatur. Kalau itu adalah sebuah negara, adalah bagaimana negara menemuka sistem pemerintahan yang efektif untuk memakmurkan rakyatnya, dst</p>
<p>Pesan nabi bahwa, “perbedaan umatku menjadi rahmat” (<em>alkhalifatu ummati rahmatun</em>), nampaknya ditujukan kepada para pengambil keputusan pada setiap kemunitas Muslim atau kepada bangsa-bangsa yang berpenduduk Muslim. Perbedaan visi dan kepentingan, adalah hal yang alami, dan hal itu akan menjadi bumbu bagi dinamika dan dunia inovasi. Perbedaan pandangan dan pemikiran, mendorong terjadinya sharing dan partisipasi aktif, di antara anggota suatu kelompok, mematangkan proses pembentukan bangunan kelompok atau komunitas yang kuat, yakni komunitas yang berakar pada nilai-nilai yang dijunjung dan dipelihara secara bersama-sama. Kenyataan itu memang benar-benar dibuktikan pada negara Madinah sewaktu dipimpinan langsung oleh nabi Muhammad. Namun menjadi lain ketika nabi tiada.</p>
<p>Sebagaimana diketahui bahwa di dalam Islam terdapat sejumlah aliran yang berlatarbelakang perbedaan paham, perbedaan etnis, perbedaan afiliasi politik dan perbedaan kebangsaan. Dalam skala makro, kondisi yang sangat pluralis sejauh ini tidak sampai menimbulkan perpecahan, terutama dalam aspek <em>ilahiat</em> (ibadah dan ritualitas). Namun pada dataran yang bersifat non ilahiat, diakui keberadaan aliran itu ada yang kemudian berkembang menjadi konflik antar kelompok</p>
<p>Mungkin benar kata Geertz, bahwa: fakta yang paradoksal dalam agama, bukanlah yang ilahi, bukan pula semacam manifestasi daripada yang ilahi itu di dunia. Bagaimana pun rupa yang sesungguhnya dari yang benar-benar riil itu, manusia harus merasa puas dengan hanya membuat citra tentang-nya yang apabila ia orang yang taat, ia anggap sebagai gambaran dari yang sejati itu dan ia pakai sebagai pedoman untuk menghubungkan diri dengan-Nya. Sebab, apa artinya, kalau bukan sesuatu kepercayaan yang tak tergoyahkan kepada yang abadi.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Ketegangan antar sahabat nabi, tentang siapa pengganti Rasulullah sebagai kepala pemerintahan, nampaknya memberi isyarat bahwa para pengikutnya tak cukup siap menghadapi perbedaan pendapat. Buat sementara berhasil diredam ketika, mereka berhasil membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah. Selama tiga tahun kepemimpinannya, Abu bakar masih bisa memelihara keutuhan umat. Tak nampak adanya pertikaian antar kelompok, meski daerah Islam semakin luas.</p>
<p>Konflik muncul ketika Umar menggantikannya sebagai khalifah. Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Umar ibn al-Khatab (tahun 644 M) oleh seseorang budak bangsa Persia bernama Abu Lu’luah, yang tidak lain adalah dari kalangan rakyatnya sendiri.<a href="#_ftn3">[3]</a> Pembunuhan tragis atas diri Khalifah itu seakan mengawali <em>budaya kekerasan</em> atas sesama muslim. Sementara pesan-pesan agama terus bergulir, melalui pendidikan dakwah. Umar bahkan sempat memperluas kekuasannya tanpa memaksa orang lain masuk Islam. Namun dalam saat yang bersamaan, tumbuh subur intrik-intrik dan fitnah yang berakhir pada penggulingan kekuasaan melalui tragedi berdarah. Seorang Khalifah yang dikenal sangat demokratis, sederhana dan merakyat, justru dijadikan sasaran orang lain, dan dengan sebab-sebab yang tidak jelas. Tapi jelas, membunuh seorang kepala negara, tentulah dilatarbelakangi oleh ketidaksukaan atau kepentingan politik tertentu. Perjalanan kekhalifahan Utsman  mengalami hal yang nyaris sama dengan Umar r.a.. Menurut Engeneer, telah terjadi erosi nilai-nilai pada masyarakat Islam waktu itu, yang kemudian ada sekelompok Islam bergerak melawan Khalifah. Sang Khalifah pun terbunuh secara mengenaskan. Inilah peristiwa tragis pertama dalam sejarah awal Islam yang sangat disayangkan. Kemudian Utsman digantikan oleh Sayidina Ali (1661 M ), seorang khalifah yang berusaha sekuat tenaga untuk menerapkan norma-norma Islam secara keras, namun tidak berhasil, karena kelompok-kelompok <em>vested-interest</em> dalam ekonomi dan politik telah mengkosnolidasikan diri. Sayidina Ali harus menghadapi sebuah peranag sipil di mana ribuan orang tewas. <a href="#_edn1">[i]</a></p>
<p>Sebagaimana juga yang terjadi pada peristiwa Karbala, dituturkan oleh Jalaluddin Rahmat: Pada suatu pagi, tanggal 10 Muharam 680 H, dua pasukan yang tidak seimbang bertemu di padang Karbala. Imam Husein dengan 72 pengikutnya berhadapan dengan 30.000 tentara Yazid. Cucu Rasulullah saw, berdiri tegak di hadapan cucu Abu Sofyan. Seakan-akan kisah Badar diulang kembali. Beberapa saat kemudian padang Karbala memerah karena darah. Tubuh-tubuh keluarga suci terkapar bergelimpangan. Kuda-kuda dengan garangnya menginjak-injak tubuh para korban. Menjelang sore, peperangan dramatis itu berakhir. Dengan penuh kepuasan Yazid dan pasukannya meninggalkan potongan–potongan tubuh manusia di padang itu. Dan kepala Husen yang terpotong itu, beserta para tawanan wanita yang terbelenggu dibawa oleh pasukan Yazid”.<a href="#_ftn4">[4]</a> Kisah ini yang kemudian bisa diperingati setiap tanggal 10 Muaharam, oleh terutama kaum Muslim Syiah. Tanggal tersebut kemudian menjadi benang sejarah yang menghubungkan mereka dengan warisan ruhani masa lalu, tetapi juga dengan harapan di masa yang akan datang. Pertarungan antara kebatilan dan kebenaran, kezaliman dan keadilan, penindasan dan perlawanan, perlahan-lahan merasuki jiwa mereka yang memperingati. Dengan perspektif itulah mereka memandang sejarah umat manusia. Dengan perspektif itu pula, mereka membentuk kehidupannya.</p>
<p>Turki Utsmani, yang berkuasa antara tahun 948 M s.d. lk. 1918 M. Diakui bahwa, penguasa telah telah banyak menciptakan tata pemerintahan baru demi kemajuan dan kemakmuran rakyatnya. Kota suci kedua Madinah, misalnya, pada masa itu, ada 4 lembaga diciptakan 4 lembaga kekuasaan administrasi dan agama yaitu: (1) Lembaga Pengadilan Agama, (2) Lembaga kepolisian, (3) Lembaga Pimpinan Militer, dan (4) Lembaga pimpinan masjid Nabawi, yang merupakan lembaga tertinggi. “ Orang-orang Turki Utsmani pada awalnya telah mengucurkan dana dan berbagai pemberian kepada penduduk Madinah, maka bursa sastra setempat dan bursa ilmu pengetahuan kembali hidup segar. Termasuk di dalamnya adalah pemugaran masjid  Nabawi  dan pembangunan jalur kereta api Hijaz yang perpangkal di Damaskus- Madinah.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Bersamaan dengan penciptaan tata pemerintahan dan pemakmuran masyarakat pada masa kekuasaan Turki Utsmani pula, tersebut serentetan peristiwa kekerasan dan kekejaman yang menimpa penduduk Madinah, terutama ketika Gubernur Madinah dipegang oleh Ali Pasha Marmahin (tahun 1904 M). Jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan harus dipegang oleh orang Turki; sebanyak 42 pemuka masyarakat dan 40 perwira Madinah dipenjarakan. Menyusul kemudian pengepungan terhadap penduduk Madinah selama 2 tahun (pada tahun 1917).  Di bawah panglima Militer ‘Umar Fakhri Pasha, menjadikan Madinah sebagai pangkalan militer untuk melindungi kekayaan dan kekuasaan . Mereka menguasai bahan-bahan pangan. Penduduk yang dilanda kelaparan, bukannya diberi makan, tetapi justru diungsikan, antara lain ke Suriah, Libanon dan Turki. Sebagian lainnya mengungsi ke Makkah. Mereka semua dijadikan pengunsgi dalam arti yang sebenar-benarnya, diangkut dengan gerbong-gerbong kereta api seperti layaknya barang. Sehingga penduduk Madinah habis keluar kecuali beberapa gelintir orang”.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Betapa kesamaan agama, tidak juga menjamin untuk terhindarnya kekerasan dan perang. Islam, agama suci ini, bukannya tidak mentolerir terjadinya kekerasan. Namun kekerasan macam apa. Menurut Engineer, bahwa hak untuk melakukan tindak kekerasan diperbolehkan dalam tradisi Islam, ketika dalam keadaan tertindas. Jika penduduk sebuah kota menjadi penindas dan menganiaya orang yang lemah, maka orang yang lemah ini berhak melawannya.<a href="#_ftn7">[7]</a> Jadi apabila tidak dalam kondisi yang demikian, maka Islam melarang kekerasan. Mereka yang membunuh, bukan karena alasan-alasan tersebut sangat dimurkai Tuhan. Tersebut firman Tuhan: <em>“ Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya</em>” (Q.S. 5: 32). Dalam kenyataannya, dalam lintasan sejarah Islam, terjadi berbagai pergolakan, dibarengi pemusnahan nyawa manusia dan kerusakan harta benda, yang dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat atau perbedaan kepentingan antar kelompok.</p>
<p>Banyak masalah yang mengundang perbedaan pendapat atau paham dalam kehidupan keagamaan. Dalam masalah ilmu kalam, banyak aliran, seperti Asya’ariyah, Syiah, Maturidiyah, Jabariyah, dan Mu’tazilah. Munculnya aliran tersebut berawal dari perbedan dalam memahami firman Allah. Sejauh pemikiran yang berkebang hanya berdebat pada soal teologia atau cara penafsiran suatu firman, sejauh ini tidak sampai mengundang konflik yang bermuara pada pertumpahan darah. Namun ketika perbedaan itu bergesekan dengan kepentingan politik, maka perbedaan itu berkembang menjadi perbenturan kepentingan, perebutan pengaruh atau kekuasaan.</p>
<p>Peperangan antar Faksi di Afganistan, yang berlangsung terutama sejak keluarnya hegemoni Rusia di negara tersebut, selama bertahun-tahun, serta perang Irak – Iran (1980-1989) menjadi contoh paling menonjol; betapa besar korban berjatuhan, bahkan hingga kini masih puluhan ribu nyawa melayang sebagai korban perang, antara kelompok Taliban dengan kelompok pemerintah, yang didukung oleh AS. Itu terjadi bersamaan dengan upaya menciptakan kemerdekaan bagi bangsanya. Mereka berperang atas nama kebenaran menegakkan yang hak atas nama Tuhan. Dalam waktu yang sama, mereka berebut keuasaan. Kesamaan cita-cita ternyata tak menjamin terhindarnya tindakan saling berbuat kekerasan dan pembunuhan.</p>
<p>Kasus-kasus di Indonesia muncul  merupakan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat dalam satu agama. Berikut ini kita ungkap beberapa kasus kekerasan yang  dilakukan oleh sesama umat Islam.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> kekerasan di Propinsi Aceh. Kekerasan di propinsi yang dijuluki <em>Serambi Mekkah</em> itu, sekan bukan berita <em>aneh dan mengejutkan</em>, karena kasus-kasusnya sudah berangsung sejak lebh dari 30 tahun yang lalu, dan telah banyak warga Aceh menjadi korban kekerasan itu. Sewaktu muncul pemberontakan DI/TII, yang berlangsung antara 1953-1964, sekitar 4000 warga Aceh terbunuh. Menyusul kemudian berdirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tahun 1976, yang diproklamirkan oleh Dr. Teuku Hasan Tiro, aktivitas kekerasan seakan menginjak babak baru. Gerilyawan GAM semakin banyak jumlahnya, termasuk masyarakat simpatisan atas gerakan tersebut semakin besar jumlahnya. Mereka secara terus-menerus berhadapan dengan pasukan keamanan (TNI). Teror demi teror dilakukan, dan korban-korban berjatuhan dari kalangan masyarakat, diantaranya adalah pemuka masyarakat seperti Rektor IAIN Ar Raniry, Rektor UNSIAH, anggota DPR, dan lain-lain, serta kalangan masyarakat sipil. Korban lainnya adalah pada insfrastruktur, berupa pembakaran sekolah, gedung perkantoran dan sebagainya yang tak terhitung jumlahnya. Diberlakukannya DOM (Daerah Operasi Militer) tahun 1990 yang semula dimaksudkan untuk memulihkan keamanan tidak berhasil, dan justru memakan korban penduduk spil, termasuk anak-anak dan wanita. Sebagian mereka terbunuh dan sebagaian lain terusir. Sampai dengan tahun 1995 an saja diperkirakan sebanyak 2000 dieksekusi tanpa pengadilan.  Antara tahun 1991 – 1995 sekitar 5000 warga menjadi pengungsi, dan mulai januari1 1999, sudah puluhan ribu jiwa yang meninggalkan Aceh untuk mencari tempat aman.<a href="#_ftn8">[8]</a> Mereka terusir, bukan oleh bangsa lain dan bukan oleh kelompk lain yang berbeda agama. Tetapi oleh bangsa sendiri dan saudara seagama.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Tragedi Sampit. Disebut ‘tragedi’, karena kasusnya benar-benar tragis. Tersulut mulai tanggal 18 Februari 2001, yakni ketika orang Dayak memusuhi orang-orang Madura di Sampit. Orang-orang dari etnis Madura yang merupakan warga pendatang dikejar-kejar dan dibunuh oleh orang-orang dari kalangan suku Dayak, yang merupakan suku asli. Tidak kurang dari lima ratusan warga Madura mati terbunuh secara mengerikan. Lebih dari 5000 jiwa yang mereka lari tungganglanggang menjadi lari ke hutan dan terkepung di sana. Sebagian lagi lari ke tanah asalnya, Madura, padahal mereka sudah tak lagi punya saudara dan tanah warisan orang tau, karena sejak kecil lahir di Sampit.  Sementara jiwa-jiwa banyak melayang, rumah-rumah pun terbakar, termasuk gedung-gedung lain yang diidentifikasi milik orang Madura. Orang-orang Madura nyaris tak menyisakan apapun ketika harus terusir dari negerinya sendiri. Mereka yang menjadi korban adalah orang-orang awam, termasuk wanita dan anak-anak, yang tidak tahu politik, tidak tahu apa dosa kenapa orang tuanya dibunuh, dan tidak mengerti kemana harus pergi. Mereka yang membunuh adalah orang-orang yang sesama warga bangsa dan sema saudara seagama.</p>
<p>Banyak pengamat mengajukan analisi tentang tragedi Sampit. Ada yang melihat dari segi kecemburuan sosial-ekonomi, karena warga Madura secara ekonomi lebih maju dan nyaris menguasai perekonomian Sampit. Ada yang mengemukakan soal gerakan Borneo Merdeka dan sebagainya.<a href="#_ftn9">[9]</a> Semua perkiraan dan asumsi itu boleh jadi benar semua, atau sebagian saja yang benar. Namun di sini hanya ingin dilihat dalam konteks persamaan agama. Mereka yang diusir atau dibunuh dengan mereka yang menngusir atau membunuh, adalah sesama warga satu agama, yakni Islam. Persamaan agama, ternyata tidak menjamin adanya persamaan sikap menahan diri ketika menghadapi perbedaan kepentingan atau perbedaan pendapat. Persaudaraan dalam satu iman nampaknya sulit terwujud. Kalau toh benar ada alasan lain yang mendorong terjadinya kekerasan itu, entah masalah politik, ekonomi, masalah budaya atau sosial, beraarti, persamaan agama dikalahkan oleh kepentingan lain, dalam hal persaduaraan.</p>
<p>Kedua kasus itu cukuplah sebagai representatif pengungkapan kasus-kasus konflik lain yang merupakan kasus perpecahan di kalangan umat Islam di berbagai daerah di Indonesia. Berbagai upaya rekonsiliasi telah dilakukan, dan sementara mampu meredam terjadinya tindak kekerasan yang lebih luas. Namun hingga kini tak ada yang bisa meramalkan,  akankah tindak kekerasan itu berhenti, pasca perdamian Akankah kesatuan dalam agama, bisa dijamin berkehidupan yang damai dan harmonis di masa mendatang.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat: Teori tentang kontinum konflik yang dikemukakan Amstutz (1982), untuk selanjutnya lihat pula: I Gede Suyatna, “ Suara Kriminal: Potensi Konflik di Kelurahan Kuta Kab. Badung Bali”, <strong>Jurnal Sosiologi Indonesia, </strong>No. 4 /2000).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Cliford Geertz, <strong>Islam yang Saya Amati,</strong> YIIS, 1982, hal. 67.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Dr. Ali Mufrodi, <strong>Islam di Kawasan Kebudayaan Arab</strong>, Logos Wacana Ilmu, 1999, hal. 67</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Drs. Jalaluddin Rahmat, <em>Ali Syariat: Panggilan untuk Ulil  Albab</em>, dalam Ali Syariati<strong>, Ideologi Kaum Intelektual</strong>, Mizan, 1984, hal. 9.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> ‘Ali Hafidh, Sejarah Mdinah, hal. 26</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> ‘Ali Hafidh, Sejarah Madinah, ibid. hal. 26</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Asghar Ali Engeneer, <strong>Islam dan Teologi Pembebasan</strong> (Islam and Liberation Theology), Pustaka Pelajar, 1999, hal. 319.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Informasi sebagaimana diungkap dalam buku:,Isma Sawitri dkk., <strong>Simak dan Selamatkan Aceh</strong>, Panitia Peduli Aceh, 1999 hal. 42-46. Data akurat mengenai kurban kekerasan di Aceh nampaknya sulit diperoleh, karena peristiwanya sendiri tidak selalu dapat diketahui oleh publik.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat Drs. Hamdan M Si  Ibnu Hasan Muchtar, Lc, <strong>Tragedi Sampit,</strong> Badan Litabng dan Diklat Keagamaan, 2001, hal. 6</p>
<hr size="1" /><a href="#_ednref1"></a></p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marzanianwar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marzanianwar.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marzanianwar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marzanianwar.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marzanianwar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marzanianwar.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marzanianwar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marzanianwar.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marzanianwar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marzanianwar.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=227&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/11/01/menelusur-jejak-konflik-internal-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3313d5024cd0f2985d6c1506aa045f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marzani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MUATAN DAKWAH TRANS TV DAN RESPON PEMIRSANYA</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/10/01/muatan-dakwah-trans-tv/</link>
		<comments>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/10/01/muatan-dakwah-trans-tv/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 02:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
				<category><![CDATA[HASIL PENELITIAN]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Metodologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tayangan]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marzanianwar.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Prof. Marzani Anwar, MA
Cuplikan Hasil Penelitian Tayangan Dakwah di Televisi

dan Respon Masyarakat Lokal
Balai Ltbang Agama Jakarta, 18-19 Agustus 2009
Pendahuluan
Indonesia dikenal sebagai bangsa religius, yang mengindikasikan sebagian besar warganya adalah menjadi penganut agama khususunya Islam, dalam hal ini menjadi segmen pasar yang sangat diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan media televisi.  Kompleksitas masalah sosial keagamaan yang berkembang selama ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=192&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh</p>
<p>Prof. Marzani Anwar, MA</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Cuplikan Hasil Penelitian Tayangan Dakwah di Televisi<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>dan Respon Masyarakat Lokal</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Balai Ltbang Agama Jakarta, </em>18-19 Agustus 2009</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Indonesia dikenal sebagai bangsa religius, yang mengindikasikan sebagian besar warganya adalah menjadi penganut agama khususunya Islam, dalam hal ini menjadi segmen pasar yang sangat diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan media televisi.  Kompleksitas masalah sosial keagamaan yang berkembang selama ini telah direspon oleh para arsitek siaran, dalam rangka menarik sebanyak mungkin pemirsa atau pasar. Pengolahan atas isu-isu yang diangkat di media elektronik juga akan menemukan peta kedakwahan yang diselenggarakan, baik menyangkut model tayangan, waktu tayang, dan model artistic yang ditampilkan.  Namun demikian, dakwah televisi di tengah masyarakat yang awam dan tidak kritis, sering menghasilkan efek <em>mainstreaming</em>. Pesan-pesan yang disampaikan acapkali mencerminkan paham keagamaan yang dimiliki oleh sang narasumber, dan mengharuskannya untuk diterima secara mutlak. Sementara paham atau pemikiran keagamaan yang berbeda dari si penceramah cenderung dilemahkan.</p>
<p><span id="more-192"></span></p>
<p>Hasil penelitian Sunandar menginformasikan bahwa, secara umum dakwah di tv dengan berbagai bentuk dan formatnya, masih belum meningkatkan rating acara yang bersangkutan (Sunandar, 2008). Sementara itu, dengan rendahnya rating, menunjukkan kemungkinan kecilnya dukungan atau kepedulian mayarakat terhadap siaran-siaran dakwah di TV. Bentuk-bentuk dakwah yang digunakan berjalan tampak tidak sanggup berpacu melawan produk siaran pop dan komedian, serta beragam produk lainnya yang lebih mengundang minat kalangan pemirsa. Kompleksitas permasalahan keagamaan yang dihadapi bangsa Indonesia tentu juga telah ikut mempengaruhi pilihan-pilihan atas substansi yang harus dikedepankan  dalam dakwah.</p>
<p>Provinsi Jambi yang masyarakatnya mayoritas menganut Islam, adalah bagian dari masyarakat yang bisa menangkap siaran televise nasional, yang dipancarkan dari Jakarta. Tidak terkecuali TranTV dengan siaran bermuatan dakwahnya. Secara langsung maupun tidak langsung, masyarakat memperoleh spirit dari pesan-pesan keagamaan yang ditayangkan hamper setiap pagi. Para pirsawan dari kalangan mereka, memiliki perhatian, penyerapan dan penilaian terhadap substansi acara tersebut.</p>
<p>Latar belakang di atas menjadi pijakan tema penelitian ini, yakni bagaimana respon masyarakat Jambi terhadap program acara bermuatan dakwah Islam di Trans TV.   Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini adalah: Apakah tayangan bermuatan dakwah di TransTv selama ini bisa diterima dengan baik di wilayah Jambi; Apakah masyarakat Jambi, menaruh perhatian terhadap acara-acara tersebut; Bagaimana respon masyarakat Jambi seputar dakwah Islam di TransTV?, dan bagaimana respon masyarakat Jambi terhadap substansi, sistem pengemasan, dan jam tayang, tiga program bermuatan dakwah, terutama Khazanah, Perjalanan 3 Wanita dan halal?.</p>
<p>Penelitian ini sendiri bertujuan, mendalami dan mengkritisi substansi dakwah di TransTV, dengan segala aspek yang melekat di dalamnya. Sebagai substansi yang ditawarkan ke publik, diasumsikan mendapatkan banyak tanggaan dan respon dari kalangan pemirsa, sehingga terjadi suatu pensikapan, penghayatan dan sekaligus daya kritis yang diperlihatkan sehubungan dengan substansi dakwah dalam tayangan tersebut.</p>
<p><strong>Metodologi</strong></p>
<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan menggunakan teknik analisis kualitatif dan analisis wacana kritis. Kasus yang diteliti melingkupi kajian terutama terhadap tiga program acara bermuatan dakwah Islam di Trans TV (Perjalanan Tiga</p>
<p>Dalam tahapan ini, peneliti mendalami substansi setiap paket bermuatan dakwah, yang meliputi (a) Tema-tema di setiap episode; (b) Metode penyampaian pesan keagamaan; (c) Setting ; (d) Nara sumber; dan (e) Pemanduan acara.</p>
<p>Dalam penelitian ini, media ditempatkan sebagai subyek yang netral. Meskipun harus diakui, bahwa pada setiap acara tayangan, hampir pasti ada muatan kepentingan. Di dalam menyelenggarakan program tayang dan muatan yang disampaikannya, dilihat sebagai fakta sosial,</p>
<p>Pengertian<strong> </strong><em>masyarakat lokal</em><strong>, </strong>dalam penelitian ini<strong> </strong>adalah sejumlah figure yang relative mewakili <em>opini public</em> pada masyarakat di provinsi Jambi. Ada beberapa pengertian mengenai public, diantaranya<strong>: </strong><em>Publik </em>adalah sejumlah orang yang bersatu dalam satu ikatan dan mempunyai pendirian sama terhadap suatu permasalahan social (Emery Bogardus);<strong> </strong><em>Publik </em>adalah: sekelompok orang yang (1) dihadapkan pada suatu permasalahan, (2) berbagi pendapat mengenai cara pemecahan persoalan tersebut, (3) terlibat dalam diskusi mengenai persoalan itu. (Herbert Blumer)<strong>. </strong>Mengenaai<strong> </strong><em>Opini Publik</em>, ada beberapa pengertian mengenai hal ini, satu di antaranya adalah yang mengartikan sebagai: pendapat umum yang menunjukkan sikap sekelompok orang terhadap suatu permasalahan. (Prof. W. Doop). Pendapat lain menyatakan, opini public adalah ekspresi segenap anggota suatu kelompok yang berkepentingan atas suatu masalah (William Abig). <a href="#_ftn1">[1]</a> Dalam penelitian ini, peneliti membatasi pada sekelompok akademisi ( mahasiswa dan dosen) di lingkungan perguruan tinggi IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, dan beberapa mahasiswa STIA Swasta lainnya.</p>
<p>Para akademisi ini selain mempunyai kecenderungan terhadap hal-hal yang bersifat keagamaan juga memiliki wawasan yang cukup untuk membawakan opini masyarakat Jambi pada aumumnya, dalam memberi penilaian terhadap suatu acara dakwah dan komponen yang mendukungnya sehingga memungkinkan peneliti untuk mendapat jawaban yang jujur</p>
<p>Respon tersebut muncul ketika kepada mereka diajukan sejumlah pertanyaan atau yang muncul dalam suatu diskusi (focus group discussion) yang sengaja diadakan oleh peneliti. Sekelompok orang yang dijadikan sasaran wawancara dan atau diajak berdiskusi adalah mereka yang selama ini memberikan perhatian cukup terhadap siaran-siaran bermuatan dakwah di TransTV tersebut. Terutama tentang tiga program dakwah di Trans TV yang notabene adalah acara yang kurang digemari oleh anak muda. Karena mereka biasanya cenderung untuk memilih acara yang menghibur.</p>
<p>Analisis wacana yang digunakan lebih menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Subyek tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Substansi muatan dakwah dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema tertentu, dan strategi-strategi yang melekat di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar substansi yang ada dalam setiap tayangan bermuatan dakwah; batasan-batasan yang digunakan; perspektif yang dipakai, topik yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa media dilihat dalam hubungan kekuasaan.</p>
<p>Analisis wacana yang dimaksudkan dalam penelitian ini, adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subyek (pemanduan) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pemandu dengan mengikuti struktur makna dari keseluruhan ide yang ditampilkan sehingga bentuk distribusi dan produksi ide yang disamarkan dalam wacana dapat di ketahui.</p>
<p>Dalam studi analisis wacana (discourse analysis), pengungkapan seperti itu dimaksudkan dalam kategori analisis wacana kritis (critical discourse analysis-CDA). Pemahaman dasar CDA adalah wacana tidak dipahami semata-mata sebagai obyek bahasa. Bahasa media digunakan untuk menganalisis teks dan konteks.</p>
<p>Dakwah yang ditawarkan TransTV baik <em>Perjalanan Tiga Wanita</em> (PTW), <em>Khazanah</em>, dan <em>Halal ?</em>, dikemas secara modern, kreatif, inovatif dan aktual. Substansi materi yang disajikan biasanya berkisar pada aqidah, akhlak, fiqih dan siyasah, bersifat <em>qadlo’i </em>(menyangkut aspek hukum positif dan bersifat umum) dan <em> diyani </em>(berhubungan dengan moralitas) seperti hukum mengekspresikan cinta-kasih sayang dengan ciuman atau pacaran di tempat sepi), shalat di tempat umum, seseorang yang sudah lanjut usia namun tetap bekerja untuk mencari nafkah, padahal semestinya sudah pension dan sebagainya.</p>
<p align="center"><strong>Siaran Bermuatan Dakwah Islam TransTV</strong></p>
<p align="center">Juni-Juli 2009<strong> </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">
<p align="center">Paket Acara</p>
</td>
<td colspan="2" width="252" valign="top">
<p align="center">Waktu Tayang</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="120" valign="top">Hari</td>
<td width="132" valign="top">Pukul</td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">Perjalanan 3 Wanita</td>
<td width="120" valign="top">Senin</td>
<td width="132" valign="top">6.00 – 6.30</td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">Teropong</td>
<td width="120" valign="top">Selasa</td>
<td width="132" valign="top">6.00 – 6.30</td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">Khazanah</td>
<td width="120" valign="top">Rabo</td>
<td width="132" valign="top">6.00 – 6.30</td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">Perjalanan 3 Wanita</td>
<td width="120" valign="top">Kamis</td>
<td width="132" valign="top">6.00 – 6.30</td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">Cakrawala Iman/</p>
<p>Pencerahan Qalbu</td>
<td width="120" valign="top">Jumat</td>
<td width="132" valign="top">6.00 – 6.30</td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">Halal ?</td>
<td width="120" valign="top">Ahad</td>
<td width="132" valign="top">6.00 – 6.30</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Beberapa diskripsi singkat paket-paket siaran bermuatan dakwah, adalah sebagaimana penjelasan berikut.</p>
<pre><strong>Paket Acara: <em>Perjalanan Tiga Wanita</em></strong>
            <em>Perjalanan Tiga Wanita</em> (PTW), adalah nama program siaran yang ditayang setiap Senin dan Kamis pagi jam 06.00-06.30. Acara berdurasi 30 menit minus iklan ini diawali dengan sebuah telop bertuliskan <em>Perjalanan 3 Wanita</em> dengan ilustrasi beragam petualangan ketiga gadis berjilbab menerjang kerasnya alam sekaligus keindahan alam di berbagai pelosok nusantara. Tayangan ini mengandung muatan dakwah. Salah satu indikatornya adalah, adanya penyampaian pesan agama Islam, berupa ayat-ayat al Qur’an yang relevan dengan topic yang sedang diangkat atau pesan langsung oleh pemandu (host) atau oleh seorang narasumber (ustadz). Pesan itu kadang disampaikan pada awal tayang, kadang hanya diselipkan di tengah, kadang di akhir, dan kadang hanya secara tersirat.
            Program ini tampaknya merupakan kelanjutan program sebelumnya bertajuk <em>Perjalanan Islam di Indonesia</em> (PII). Materi program berisi sejarah dan features, yang ditayangkan sejak tahun 2004. Program ini pada dasarnya adalah sebuah mosaik yang mencerminkan sebuah perjalanan Islam, sejak masuk ke Indonesia (abad ke 7 Masehi) hingga wajah kontemporer Islam sekarang. Demikian juga PTW pada dasarnya adalah kisah sejarah, kekayaan dan keragaman budaya bangsa. Dalam PTW juga ditampilkan keragaman, keunikan, dan kekayaan wajah Islam dan bangsa Indonesia. Para reporter PTW melakukan napak tilas ke tempat-tempat yang pernah berperan besar dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara, dengan megangkat kehidupan Islam masa kini, serta profil kelompok muslim baik tradisional maupun modern serta khasanah wisata alam.
            Gaya tampilan PTW adalah peliputan dengan pendekatan sejarah, budaya dan sosio-antropologi, dan bukan pendekatan religi <em>ansich</em>. Dengan pertimbangan itu pula, jika ada praktek-praktek agama yang kontroversial, PTW hanya memotretnya, sejauh praktek itu dianggap cukup signifikan dalam sejarah Islam di Indonesia.
            PTW selama ini menampilkan sebuah potret, yang relatif detail, akurat dan objektif, dalam menggambarkan perjalanan sejarah Islam di Indonesia dan khazanah budaya bangsa, dengan segala nuansa dan aspeknya, yang edukatif, informatif, sekaligus menghibur.
            Dari episode ke episode, PTW sering menceritakan perjalanan penyebaran Islam di berbagai daerah di Nusatara (Indonesia), tradisi Islam serta kesenian yang terkait dengan metode dakwah mereka serta kehidupan komunitas Islam di berbagai daerah yang unik. Di antaranya adalah tentang komunitas Islam <em>Watu Telu</em> di Lombok, komunitas Islam di Papua, di Bali, komunitas Muslim Tionghoa, dan lain-lain. Dalam pembahasan itu, juga diungkap proses penyebaran Islam dan kerajaan-kerajaan Islam yang pernah ada di Sumatra, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.</pre>
<p><em> </em>Tiga orang wanita petualng di PTW, yang selalu berjilbab dan berpenampilan atraktif dan enerjik, terbiasa dengan naik-turun pegunungan, menyusuri alam terbuka dan hutan belantara, pantai dan sungai-sungai. Wisata alam (tadabur alam) dilakukan dengan kunjungan ke tempat bersejarah, lokasi yang menarik, indah, unik dan menghibur. Seperti ketika perjalanan ke tempat yang banyak bangkai pesawat peninggalan pasukan sekutu pada PD II, masyarakat sekitarnya banyak yang mengambil besi-besi tuanya untuk diolah menjadi kerajinan berupa asesoari yang bernilai jual tinggi; rekreasi ke tempat yang indah dan menakjubkan seperti air terjun, gowa, selat, teluk, kawah gunung, tempat-tempat yang bernuansa mistis, mengunjungi wisata kebun yang memperlihatkan hasil pertanian berupa buah, ikan. Sambil menikmati wisata alam ditunjukkan presenter kekuasaan Tuhan dengan menimbulkan kesadaran bahwa tanpa kerja keras bumi Tuhan tidak akan memberikan hasil yang melimpah.</p>
<p>Salah satu segmen PTW yang bisa diskripsikan penulis adalah  episode 28 Mei 2009, pukul 06.00-06.30 WIB (<em>prime time</em>),  topik: <em>Renungan Catatan Perjalanan Tiga Wanita</em>; Setting: ruang terbuka; Metode : monolog; host: anonym.</p>
<p><em> Keterangan singkat: </em></p>
<p>Gambaran umum selama setahun, tiga orang pembawa acara PTW secara bersama-sama mencari, menjalankan  dan mengemas acara PTW bersama produser Trans TV. Kesan-kesan unik, menarik, persahabatan dan kekecewaan diungkapkan tiga presenter PTW secara bergantian. Selama setahun keakraban, kekeluargaan dijalin oleh tiga Host PTW. Kesan-kesan menarik dan baik telah terbangun dalam diri personalitas Host PTW. Sebagaimana ungkapan-ungkapan yang dilontarkan para Host tentang ketiga teman sejawatnya. Menurut Dila,  Dinna sangat cantik, Silvi berpendapat Dina sedikit egois tapi baik benget. Fadila petualang sejati, cuek, perjalanan ke tempat berbahaya, asyik, toboy enak banget menurut Silvi, serta baik dan sensitive menurut Dina. Silvita Wulandari  cantik, keibuan, seperti artis kata Dila, dan baik, sabar, serta pengertian menurut Dina.</p>
<p>Sebagai host PTW adalah tiga serangkai  Fadila (Dila), Silvita Wulandari (Silvi), Dina Febriani (Dinna). Ke tiganya adalah gadis cantik berjilbab yang dengan cerdas, berani, dan berkarakter secara bergantian membawakan acara PTW sesuai dengan segmen yang sedang dihadapi.</p>
<p><em>Latar: </em></p>
<p>Backgroud yang menjadi ilustrasi saat penyampaian pesan oleh tiga host PTW ada di ruang terbuka, sambil duduk di suatu tempat bersejarah atau berdiri di antara tangga yang sedang dinaiki atau gunung yang sedang di daki atau sambil jongkok ketika masuk di gua dan sebagainya. Dengan santai dan atraktif host PTW menjelaskan kesejarahan, keunikan dan keindahan alam yang ia kunjungi sambil menunjukkan betapa Agung, Suci, dan Kuasa Allah Yang Maha Esa. Terkadang disertai dengan landasan normatif al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW.</p>
<p><em> Setting </em></p>
<p>Liputan utama adalah di ruang terbuka di alam bebas sesuai tema yang diusung.menjadi lebih menarik karena dilengkapi dengan indahnya nuansa alam yang dikunjungi host PTW. Kesan yang ditimbulkan dari desain demikian adalah unik, menarik, mampu menimbulkan keta’juban akan Kuasa Illahi dan Kemaha Besaran-Nya.</p>
<p><em> Skema dan Teknik Penyampaian Pesan</em></p>
<p>Diawali dengan cerita sangat berkesan bagi Dina dan Silvie ketika shooting pertama di Semarang. Diikuti dengan tayangan ulang perjalanan ke Semarang para Host PTW.  Dilanjutkan dengan Waktu Dinna bertugas meliput segmen “Segara Anakan di Jatim”. Menurut Silvie, perpaduan telaga, air terjun sangat asik dan indah, karena air terjun langsung turun kelaut. Kemudian segmen ketika Dila berkunjung ke “Pulau Bungin ada di Sumbawa” di mana penduduknya sangat padat, Kambing pun makan kertas, perayaan sunatan masal semua orang keluar semua.</p>
<p>Setelah jeda iklan Silvie cerita tentang segmen yang paling berkesan darinya adalah ketika meliput “Gowa Londa di Baturaja” yang paling <em>nyeremin</em> karena ada peti banyak sekali ada salah satu peti yang dimasukkan baru dua minggu, dan dalam upacara adat banyak sekali babi sebagai hewan korban.</p>
<p>Dilanjutkan dengan segmen ketika Silvie bermain kapal selam, arung jeram, menyelam, yang paling unik arung gelombang di laut. Disertai kejadian berkesan bagi Dina yang sampai dua kali jatuh dari perahu karet. Kemudian diakhiri dengan keta’juban Dina ketika melihat keindahan alam bawah laut, Subhanallah.</p>
<p>Kilas balik tayangan PTW dilengkapi dengan perjalanan Silvie di Tanah Merah Kalimantan; tangga  yang paling berkesan di Sumut harus menaiki sejumlah 700 anak tangga (kapan <em>nyampeknya)</em> untuk sampai ke Masjid dan Makam Di Puncak Gunung Spara.Dila Di Gunung Gede, Dinna  di Gunung Gamalama Di Jember kepleset.</p>
<p>Diakhiri dengan ucapan syukur Alhamdulillah dalam dunia yang fana Allah mengikat tiga Sahabat menuju jalan yang diridlainya, mendapat ilmu, semoga tetap jaya, menemami anda menikmati alam ciptaan-Nya, dan menatap kebesaran-Nya.</p>
<p><strong>Paket Acara</strong>: <strong><em>Khazanah</em></strong><em> </em></p>
<p>Khazanah, adalah nama program yang juga bermuatan dakwah. Disiarkan setiap Selasa jam 06.15-06.30. Mengangkat tema-tema tertentu dari beragam persoalan keagamaan. Topik untuk setiap episode dieksplorasi dari realitas di masyarakat, kemudian digali melalui proses telaah dari segi hukum, etika, kemaslahatan dan filosofinya. Contoh tayangan dengan topic “Bersuci” atau wudlu. Diawali dengan bagaimana komentar dan pendapat masyarakat dan artis tentang  cara berwudlu yang benar dari proses awal sampai dengan hal-hal yang membatalkan wudlu. Kemudian baru dibahas cara wudlu yang benar menurut al-Qur’an dan Hadis oleh seorang ustadz menyajikan materi, diperlihatkan nilai-nilai manfaat dari setiap tahapan wudlu dan do’a yang dilakukan bagi kesehatan sebagai epilog tema yang diangkat. Sebagai contoh program tayangan Khazanah:</p>
<p><strong> </strong>Contoh acara <em>Khazanah</em>, episode  4 Mei 2009, pukul  06.00-06.30 (<em>prime time</em>); topik: Perceraian Pada Kalangan Artis; setting: ruang terbuka dan tertutup; metode: interaktif; host        : anonym.</p>
<p>K<em>eterangan singkat. </em></p>
<p>Gambaran umum dengan mengaitkan antara variabel keagamaan dalam hal ini perceraian di kalangan artis dihubungkan dengan penyebab keretakan rumah tangga mereka yang diakhiri dengan perceraian. Perceraian dadakan sering terjadi pada kalangan artis, misalnya pasangan artis Feri Maryadi yang mempunyai selang umur yang berbeda. Adanya pihak ketiga -wanita idaman lain (WIL) ditengarai sebagai sebab perceraiannya. Menurut sang istri: Fery selama ini dikenal sebagai suami yang baik dan rumah tangganya rukun-rukun saja, dan tidak pernah bertengkar, tapi mengapa tiba-tiba suaminya menceraikannya?. Di sini diekspose keadaan sang istri yang sempat shok. Menurut Fery sendiri penyebab keretakan keluarganya sudah lama, di antaranya karena ruang geraknya sebagai artis dibatasi istrinya dan sudah tidak ada kecocokan lagi.</p>
<p>Demikian juga Julia Perez dan suaminya, penyebab retaknya rumah tangga disebabkan komunikasi yang kurang lancar karena tinggal di negara yang berbeda dan adanya pihak ketiga. Kesetiaan menjadi tidak abadi, ”aku hanya manusia biasa saat jauh dari suami butuh kasih sayang dan perhatian serta ketulusan”, katanya. Jika hal itu tidak ada, katanya, maka perkawinan menjadi figure cacat ketika itu dirasakan kurang seperti Juve dan Danian.</p>
<p>Diekspose pula perceraian antara artis Dewi Persik-Saiful Jamil. Menurut yang bersangkutan, isteri maupun suami, perceraian adalah jalan terbaik karena sudah dipikir dan dimusyawarahkan dengan matang. Masalahnya, karena perbedaan pendapat yang tidak bisa dikompromikan, sebagai upaya terbaik maka harus berpisah.</p>
<p>Sebagai nara sumber tunggal dalam membahas perceraian ini adalah Ustad Wahfiudin.</p>
<p><em> Latar:</em></p>
<p>Backgroud yang menjadi ilustrasi saat penyampaian pesan oleh ustadz Wahfiudin ada di taman terbuka, sambil berdiri dan mengekspresikan angota tubuhnya sang Ustadz menjelaskan maksud dan tujuan diselenggarakan pernikahan, dan jika terpaksa harus bercerai disertai landasan normatif al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW.</p>
<p><em>Desain Ruangan:</em></p>
<p>Taman sebagai bentuk ruang terbuka, menimbulkan kesan fresh dan fleksibel ketika ustad Wahfiudin memaparkan tema yang diangkat.</p>
<p>Skema dan Teknik Penyampaian Pesan:</p>
<p><em> Pertama, </em>penayangan beberapa kasus perceraian di kalangan artis, dan paparan penyebab perceraian; <em>kedua</em>: ustadz Wahfiudin memaparkan bahwa pernikahan adalah ikatan yang kuat atau ibadah yang agung. Keputusan untuk perceraian seharusnya dipikirkan dalam-dalam; <em>ketiga</em>: komentar dari pembawa acara, Kenapa mesti bercerai…Sudah tidak ada kecocokan lagi perbedaan prinsip yang tidak bisa disatukan lagi, padahal dua orang memang beda. Karena pengkhianatan, luntur komitmennya, atau apa&#8230; Apakah masih mungkin perceraian diperbaiki? Masih mungkin pernikahan diperbaiki dengan jalan: tobat, minta maaf dengan pasangan, memperbaiki dan menjaga komitmen bersama pasangan. <em>Keempat: </em>ustadz Wahfiudin menyampaikan pesan: Pernikahan adalah  ikatan yang sangat kuat, cinta melibatkan keluarga dua belah pihak, janji kepada Tuhan, perceraian mengakibatkan luka yang dalam bagi pelaku, anak, keluarga kedua pihak dan semua relasi yang berhubungan dengan mereka. Diakhiri dengan pembacaan QS. An-Nisa’ 4:130, <em>“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. </em><em>Dan Allah adalah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana”.</em> Dilengkapi dengan sebuah hadis Nabi yang mengatakan: ”<em>yang aku khawatirkan adalah dosa dan perbuatan maksiyat kecil. Orang yang biasa kawin-cerai adalah merendahkan agama</em>”; perceraian merupakan bukti bahwa komitmen dalam agama dan ikatan perkawinan tidak lagi ada kesakralan.</p>
<p><em>Kelima: </em> pendapat beberapa warga masyarakat, antara lain, jangan bercerai karena proses untuk berlangsungnya perkawinan itu panjang; waktu menikah disaksikan banyak orang dan dido’akan dan direstui banyak orang. Namun mengapa ujian dan cobaan dalam berumah tangga membuat orang begitu mudah memutuskan untuk bercerai.<em> Terakhir, </em>pembawa acara menegaskan bahwa: cerai bukan satu-satunya jalan keluar, ada hakam, orang tua dan pihak penengah yang bisa dimintai nasehat dan pertimbangan atau pisah ranjang dulu, jika merasa kangen bisa kembali lagi kepada pasangannya. Percayalah, cinta kalian masih ada, coba anda temukan kembali cinta itu. Sadarlah kita punya kelebihan dan kekurang masing-masing, bangunlah jalinan komunikasi dengan baik disertai niat bai, beribadah dan do’a bersama, jangan melupakan Allah dalam membina keluarga.</p>
<pre> 
<strong>Paket Acara: <em>Halal ?</em></strong>
            Program tayang <em>Halal ?, </em>dari namanya sudah menunjuk adanya muatan dakwah di sana. Kata ”halal” diikuti tanda tanya, memang dimaksudkan untuk membahas suatu topik tertentu berkenaan dengan suatu jenis makanan, yang masih perlu diklarifikasi hukum halal-haramnya. Tayangan ini mengeksplorasi kemampuan dan pemahaman keagamaan  serta penguasaan materi keagamaan yang dipandang sangat mendasar dari masyarakat muslim pada umumnya. Hal ini ditunjukkan pengemasan program yang biasanya diawali dengan ulasan tema yang diangkat kemudian acting. Sang ustadz kemudian menyajikan tema yang diangkat.</pre>
<p><strong> </strong>Contoh acara: <em>Halal ?,</em> <strong>e</strong>pisode  27 Mei 2009, pukul 06.00-06.30 WIB; topik:  <em>Ekspresikan Cintamu</em>; setting: ruang terbuka dan tertutup; metode: interaktif; host: anonim.</p>
<p><em> Keterangan singkat </em></p>
<p>Gambaran umum realitas di masyarakat, ditampilkan pasangan muda-mudi yang saling bermesraan di tempat umum, ada juga yang melakukannya ditempat yang sepi. Kemesraan yang dilakukan pasangan muda-mudi pada waktu pacaran ini terkadang berlebihan dan melanggar aturan norma sosial serta agama. Begitu juga suami-istri yang halal untuk bermesra-mesraan, realitasnya semakin mengendur seiring bertambahnya usia pernikahan mereka. Sebagai nara sumber tunggal dalam membahas ekspresi cinta ini adalah Ustad Ahmad Al- Habsyi</p>
<p><em> Latar </em></p>
<p>Backgroud yang menjadi ilustrasi saat penyampaian pesan oleh ustadz Ahmad Al-Habsyi ada di ruang tertutup, sambil duduk di kursi sofa berwarna kuning sang Ustadz menjelaskan bagaimana ekspresi cinta itu halal untuk dilakukan  suami-istri dan menjadi haram dilakukan jika tidak pada tempatnya. Disertai dengan landasan normatif al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Mengenai larangan laki-perempuan berkhalwat.</p>
<p><em> Desain Ruangan</em></p>
<p>Dalam ruang yang tertutup, yang dilengkapi kursi sofa, sebuah meja, dihiasi bunga, dengan backgroud hiasan dinding. Sang Ustadz memakai baju gamis dan berkopiah. Desain ruangan yang  demikian menimbulkan kesan formal dan profesional.</p>
<p><em> Teknik Penyampaian Pesan</em></p>
<p><em> </em>Diawali dengan sebuah prolog dari host: Pernikahan menyebabkan hal yang haram menjadi halal. Manusia mempunyai banyak kecenderungan mengekspresikan perasaannya (pada orang lain). seperti ekspresi cinta pada pasangannya: ingin dicintai, mencintai. Ekspresi itu boleh dengan berbagai cara: berupa perhatian, kata lemah lembut, bermesra-mesraan. Bentuk bermesra-mesraan bisa dilakukan dengan selalu berdua, nyaman, romantis, manja dan dimanja, dan sebagainya. Berikutnya, ustadz Ahmad Al Habsyi membacakan QS. Ar Rum 21, artinya: “<em>dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan di antaramu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.</em> Ustadz selanjutnya menyampaikan pesa, bahwa tumbuhnya rasa kasih-sayang pada satu pasangan adalah wajar pada masa pacaran, tapi sayang setelah menikah menjadi semakin kendur. Menjaga kemesraan bisa dilakukan dengan komunikasi, atau makan berdua meski sudah punya anak. Kemesraan adalah bumbu keharmonisan keluarga, Mesra adalah tergantung pandangan yang ada, misalnya dengan kata-kata dan pengorbanan yang dilakukan. Bermesraan di depan orang banyak, bagaimana menurut Islam?, jelas tidak diperkenankan. Namun pernikaham mampu merubah yang tadinya haram menjadi halal, berpegang tangan, berpelukan, berciuman menjadi halal, tetapi tetap tidak boleh dilakukan di depan umum. Bermesraan identik dengan bersentuhan fisik. Islam menyarankan bermesraan sebagai bentuk kepedulian satu dengan yang lain, menjaga kemesraan, saling perhatian, rindu, kangen dan sebagainya</p>
<p><em> </em>Pandangan anak-anak mereka (artis): “saya melihat kedua orang tua saya tidur berpelukan, menurut saya hal itu jarang dilakukan pada orang tua yang lain”. Sementara yang lain mengungkapkan “lucu aja saya <em>ngeliat </em>orang tua saya mesra menonton berdua, saya senang tapi lucu karena sudah lama mereka menikah sekitar 20 tahun. Tapi hubungan mereka masih mesra. Nabi mengatakan: <em>Sesungguhnya lelaki yang memandang istrinya dan sebaliknya maka Allah akan memberikan Rahmat-Nya, jika saling memegang tangan maka akan dihapus dosanya</em>. Mesra ditempat umum, jangan terlalu berlebihan. Asal ditempat aman dan tidak menimbulkan ekses negatif. Misalnya Nenek saling menyuapi tidak apa-apa.</p>
<p><em> </em>Terakhir<em>, </em>setelah jeda iklan<em> </em>Ustadz Ahmad Al Habsyi berpesan: jangan menunjukkan aurat di depan umum atau anak-anak, jika hal itu dilakukan berarti telah terjadi krisis. Hubungan suami-istri yang halal, ditampilkan kepada umum bisa menjadikan dosa, karena membuat orang menjadi terbakar syahwatnya, menjadi dosa bagi kita yang melakukannya. Cinta yang langgeng butuh menjaganya secara ekstra. Cinta sejati pasti tidak luntur, tindakan spontan dan tidak dibuat-buat, ekspresi pegangan tangan, ciuman biasa dan sebagainya. Aisyah menceritakan “<em>Nabi biasa meletakkan kepalanya dipangkuanku meskipun aku sedang haid, kemudin beliau membaca al-Qur’an”</em>. Sebagai penutup ustadz al-Habsy menegaskan, bahwa  kemesraan merupakan rahmad-Nya dalam bentuk komunikasi,  saling percaya. Masalah besar <em>dikecilin</em>, melalui komunikasi yang baik. Kemesraan juga bisa menjadi hina dan dosa bila dilakukan tidak pada tempatnya, misalnya di tempat umum, tidak malu dihadapan umum.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Responsi </strong></p>
<p>Dari hasil wawancara dan diskusi terfokus dengan para responden, yang mengusung opini publik masyarakat Jambi, bisa dikemukakan beberapa hal: <em>pertama, </em>masyarakat Jambi secara umum merespon secara positif terhadap tayangan dakwah Islam di TV nasional. Karena karena tayangan dakwah Islam di TV lokal, dinilai masih sangat terbatas, dan kurang variatif. Pada TV nasional, materi-materi yang disajikan, tema, jam tayang dan kemasannya lebih variatif. Sementara narasumbernya dinilai cukup professional. Pada umumnya responden juga tertarik pada program dakwah TV nasional  dengan pendekatan dialog interaktif, karena bisa memberikan wawasan yang lebih luas dari sisi kompleksitas masalah yang timbul di masyarakat, dan keluasan pembahasan oleh pembicara (nara asumber), seperti “Mama dan Aa’ Curhat Dong” (Indosiar). Dan program dakwah yang mengangkat kasus-kasus riil di masyarakat melalui penelusuran yang panjang tentang asal-muasal problem oleh pengusul (masyarakat) dibantu produser TV sehingga kasus tersebut tuntas dan menumbuhkan kesadaran keagamaan bagi orang yang berkasus, misalnya acara Realigi (Trans TV).</p>
<p><em>Kedua, </em>respon masyarakat Jambi tentang tema, materi/substansi, sistem pengemasan, dan jam tayang, tiga program dakwah Islam di Trans TV adalah (a) Tentang tema dan substansi materi PTW responden berpendapat PTW identik dengan dakwah jalan-jalan (<em>safar</em>) ke berbagai tempat wisata yang bernilai sejarah, tempat rekreasi, tempat refreshing dan liburan. Dakwah yang dikemas demikian menarik, bagus, tapi secara formal pesan dakwahnya kurang. Sebagian reponden kurang setuju terhadap petualangan tiga wanita dalam PTW karena kesannya kurang bagus, secara implisit berarti mengajak wanita untuk bebas atau membiasakan jalan-jalan atau melegitimasi wanita suka berpetualang, padahal wanita bertanggung jawab lebih besar dalam mengelola rumah tangganya. Sebaliknya sebagian responden justru merespon positif acara PTW yang ingin menunjukan bahwa wanita itu juga kuat, dengan demikian PTW mendongkrak citra wanita yang terpuruk, lemah, manja, tidak tegas, tidak mampu berdikari dan menggantungkan kepada laki-laki dan sebagainya.</p>
<p>Reponden pada umumnya mengatakan substansi materi Khazanah cukup jelas dilihat dari sisi masalah, hukum, respon masyarakat di TV disertai dengan penjelasan yang cukup dan tegas oleh ustadz-ustadz yang membahas persoalan dimaksud, dengan dalil ayat Al-Qur’an dan Hadits yang pas sesuai tema dan materi yang diangkat. Misalnya tema <em>Jilbabku Mahkotaku; Repotnya menjadi Cantik; Menyambung Rambut; Mencat Kuku; Face Book</em>.</p>
<p>Tema dan substansi acara <em>Halal ?</em> pada umumnya cukup menetralisir hal-hal yang selama ini dianggap kontroversi, lebih mendiskripsikan secara apik keragaman fenomena pemahaman keagamaan yang ada di masyarakat, namun demikian masih menyisakan pertanyaan bagi pemirsa karena belum bisa menemukan solusi atas beberapa persoalan penting, di samping ada juga beberapa hal tidak cukup jelas dari aspek hukumnya terhadap sesuatu produk. Misalnya bahasan tentang <em>bayi tabung, penggunaan susuk pelaris.</em></p>
<p>Respon Masyarakat Jambi tentang kemasan tiga paket acara  bermuatan dakwah di TransTV: <em>Perjalanan 3 Wanita</em>, yang memilih wanita sebagai pembawa acara, menurut sebagian besar responden mengatakan bahwa pembawa acara wanita menjadi daya tarik tersendiri bagi segmen pemirsa. Dengan memakai wanita muda sebagai figur da’inya, tidak lain sebagai daya tarik dengan image yang dibangun atau kesan yang dibangun adalah sejumlah anak muda menjadi penerus dakwah. Karena jika dipilih yang lebih tua, secara fisik tidak akan kuat, untuk naik gunung turun ke laut, dan sebagainya. Mengapa dipilih perempuan, karena nama acaranya memang Perjalanan “tiga wanita”. Selain itu wanita identik dengan menyukai aktifitas jalan-jalan, shoping, menyukai wisata yang bagus di daerah-daerah tertentu bisa menjadi wahana refreshing, menambah pengalaman dan menawarkan tempat-tempat yang patut untuk dikunjungi, bukan sekedar shoping.</p>
<p>Image dan kesan yang ingin ditimbulkan PTW tampaknya diperuntukkaan kalangan anak muda, untuk menjadi penerus dakwah, dan mempunyai idealisme. Sementara untuk menjalankan tugas naik gunung, berjalan-jalan ke laut membutuhkan, membuka mata akan kebesaran ciptaan Ilahi. Di sana membutuhkan fisik yang kuat dan hal itu bisa dilakukan oleh kalangan anak muda. Pemberian perean perempuan juga sebagai bentuk emansipasi dan upaya menghilangkan bias gender. Sistem pengemasan yang dibuat pada setiap segmen PTW tiga orang pembawa acara dibuat terpisah-pisah tugasnya. Menurut sebagian besar responden: jika tiga orang dijadikan satu dalam membawakan acara PTW menjadi tidak menarik, dengan diversifikasi objek meminimalisir bias, dan berusaha untuk memunculkan kelebihan masing-masing pembawa acara.</p>
<p>Terlepas dari sisi negative di mata sebagian masyarakat Jambi, secara umum responden mengakui, bahwa kemasan paket bermuatan dakwah pada  PTW, Khazanah, dan Halal ? adalah kemasan yang menarik, orisinal dan <em>trendy</em>. Durasi yang relatif tidak lama, yakni 30 menit adalah cukup, sehingga tidak membosankan. Materi juga dikemas secara dinamis, tidak monoton, dan tidak terkesan menggurui. Misalnya juga pada paket acara <em>Teropong Iman </em>oleh Aa’ Jimmy, yang disetting  dengan gaya konyol. Format dakwah Khazanah seperti itu tidak membosankan, lebih interaktif, variatif. Seperti pada liputan aktifitas makan atau minum sambil berdiri, bencong/ waria/cowok berinisial wanita, memakai tattoo, dan sebagainya.</p>
<p>Respon Masyarakat Jambi tentang jam tayang tiga program dakwah Islam di Trans TV, perjalanan tiga wanita, khazanah, halal? yang ditayang pada jam 06.00 sampai dengan 06.30. Sebagian besar responden (perempuan) berpendapat bahwa waktu tayang tiga program dakwah Trans TV tersebut adalah kurang tepat dan merupakan jam-jam sibuk. Bagi seorang ibu harus beraktifitas memasak dan  mempersiapkan anak ke sekolah sambil menonton TV. Responden  mengusulkan lebih baik PTW disiarkan siang hari, di mana aktifitas menonton bisa dilakukan sambil bersantai. Sementara <em>Khazanah</em> dan <em>Halal ?</em> diusulkan tayang pada menjelang maghrib, setelah kerja sambil santai menunggu maghrib, itu lebih menarik, katanya. Jika ditayangkan pada jam lima pagi, penonton sangat menyayangkan karena tidak bisa menonton acara dakwah Islam favoritnya di stasiun TV Nasional lainnya.</p>
<p>Adapun aspek-aspek yang mempengaruhi dinamika dakwah Islam di TransTV, dalam pandangan sebagian warga Jambi adalah: (a) tema dan materi yang diusung mampu memberikan jawaban Islam terhadap berbagai permasalahan umat. KHususnya [ada paket acara <em>Halal, Khazanah</em> dan <em>Pencerahan Qalbu</em>; (b) Paket-paket acara bermuatan dakwah TransTV dipandang tidak hanya bersifat konvensional, sporadis, dan reaktif, tetapi lebih bersifat profesional, strategis, dan pro-aktif; (c) kemampuan mengemas acara dakwah dengan pola mengintregasikan antara wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam berbagai perencanaan dakwah yang ingin disajikan, melalui pendekatan dakwah yang progresif dan inklusif bisa dilihat pada tayangan <em>Perjalanan Tiga Wanita</em> (PTW); (d)<em> </em>dukungan para juru dakwah yang dinilai memiliki kualifikasi dan persyaratan akademik dan empirik. Narasumber dakwah di Trans TV, dipandang memenuhi harapan pemirsa, dan berdiri di atas emua golongan atau paham dalam Islam,  bisa dilihat dari tampilan ustadz Mahfiudin,  KH. Mustafa Ya’qub, ustadz Ahmad al-Habsy dan ustadz Hidayat, Yusuf Mansur; (e) telah menggunakan pendekatan dua pola, yakni <em>dakw</em><em>ah struktutural</em>,<em> </em>menekankan aspek normatif dan lebih bersifat top-down,<em> </em>dan<em> </em>sekaligus <em>d</em><em>akwah kultural</em> yang menekankan aspek historis bersifat buttom-up. Ciri lain dakwah cultural adalah bersifat akomodatif terhadap nilai budaya tertentu secara inovatif dan kreatif tanpa menghilangkan aspek substansial keagamaan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Analisis </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sebuah tradisi secara esensial terdiri dari wacana-wacana yang berusaha menginstruksi para praktisinya mengenai bentuk yang benar dan tujuan dari suatu praktik  tertentu  yang persis karena ia diciptakan, memiliki suatu sejarah. Wacana-wacana ini berhubungan secara konseptual dengan masa lalu (ketika praktek yang bersangkutan dilembagakan, dan darinya pengetahuan tentang isi dan pelaksanaannya yang tepat ditransmisikan) dan masa depan (bagaimana isi dan praktek itu dipelihara sebaik-baiknya dalam jangka pendek atau jangka panjang , atau mengapa ia harus dimodifikasi atau ditinggalkan) melalui masa sekarang (bagaimana ia dihubungkan dengan praktik-praktik lainnya, lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi sosial).  Suatu tradisi discursive Islam sebenarnya adalah suatu tradisi wacana Muslim yang mengarahkan dirinya kepada gambaran-gambaran tentang masa lalu dan masa depan Islam dengan merujuk kepada suatu parktik tertentu yang ada di masa sekarang. (Mujiburahman, 2008: 39).</p>
<p>Karena tradisi agama, bagi Asad, adalah “wacana” yang harus dipelajari seorang peneliti (antropolog), ketika hendak mengkaji fenomena keagamaan dalam suatu masyarakat, maka dia harus memiliki pengetahuan tentang ajaran-ajaran agama tersebut, termausk argumen-argumen yang mendasarinya. Maka kajian agama harus dilihat sebagai kumpulan doktrin dan sebagai realitas social tertentu.</p>
<p>Dengan melihat pertimbangan-pertimbangan seperti itu, maka apa yang tersaji melalui tayangan <em>P3W</em>, <em>Khazanah</em>, <em>Pencerahan Qalbu,</em> dan <em>Halal ?</em> sebagaimana dimainkan TransTV, dan dengan mendasarkan komentar dan opini yang berkembang dalam diskusi terfokus para akdemisi, maka bisa diuraikan beberapa wacana seperti di bawah ini.</p>
<ol>
<li>Pengembaraan model Islam kultural.</li>
</ol>
<p>Terutama pada tayangan-tayangan <em>PTW</em>, <em>Khazanah</em>, <em>Pencerahan Qalbu,</em> memasuki ranah Islamisasi yang <em>bergerak pelan tanpa henti</em>. Bergerak, dalam penyampaiannya berlangsung terus-menerus tanpa ada yang bisa menghentikan. Karena berorientasi pada penanaman moral, sehingga tidak mungkin ada orang berani melarang. Dakwah itu berjalan <em>smooth</em>, dengan materi-matreri yang yang tidak mengundang kontroversi. Muatan dakwah TransTV menjauhi pemihakan politik dan golongan. Topik-topik yang diangkat juga bukan masalah-masalah khilafiah, secara teologis, sehingga terhindarkan dari reaksi publik untuk ”pro-kontra”. Kondisi ini, yang oleh Emersoon, adalah merupakan sumbangan sangat besar bagi sebuah gerakan Islam kultural. Suatu gerakan, yang kalau boleh disebut demikian, untuk memperkokoh kesalehan religius, dalam arti seluas-luasnya.Dengan mempertimbangkan peran Islam di dunia modern,  maka sebuah Islam yang lebih simpatik dan lebih substantif bisa dihadirkan. Pada saatnya juga Islam yang demikian itu dapat membantu mengakhiri tahun-tahun getir kesalingcurigaan antara Islam dan negara. (Donlad K. Emmersson, dalam: Bachtiar Effendi, 2009: 47). Diskursus ini, yang dalam pengamatan Emmersoon sudah terlihat sejak 1980-an, bahwa Islam di Indonesia sedang menegaskan dimensi kulturalnya. Dengan dimensi ”Islam kultural” ini, Islam di Indonesia benar-benar hidup dan berkembang baik. Penguasa, menurutnya, sama sekali tidak punya kepentingan untuk menentang kesalehan religius seperti ini. (Bachtiar Effendi, ibid: 48). Dalam dimensi kultural, dakwah tidak bisa secara langsung bisa dilihat efeknya. Tidak seperti guru yang mengajar di depan kelas, kemudian menguji kemampuaan siswanya di akhir smester, misalnya. Dakwah hanya bisa diukur efeknya, setelah dalam kurun waktu tertentu, di mana terjadi perubahan dalam pola beragamaan dalam masyarakat, dan telah lebih baik dari kurun waktu sebelumnya.</p>
<ol>
<li>Penguatan Islam <em>mainstreem</em>.</li>
</ol>
<p>Segmentasi pasar, adalah umat Islam, yang mayoritas berpaham sunni atau ahlusunnah waljamaah. Materi bahasan dalam kebanyakan episode adalah domain Islam paham tersebut. Ini dikuatkan dengan penampilan para nara sumber, yang hampir semuanya adalah kalangan yang keahliannya tidak jauh dari sekitar paham sunni dan atau ahlisunnah waljamaah tersebut. Para nara sumber di media ini, adalah: ustad Wahfiudin, Ustadz Yusuf  Mansyur, ustadz Mustafa Ya’qub, Ustdz Hidayat, mereka adalah yang relatif bisa diterima oleh ”pasar”. Karena sebagai program apapun, yang ditayangkan oleh perusahaan ini, adalah menjadi ladang bisnis, atau setidak-tidaknya tidak merdampak merugikan secara finansial bagi perusahaan tv..</p>
<ol>
<li>Kelanjutan Tradisi Islam.</li>
</ol>
<p>Dasarnya adalah tradisi keagamaan, terlepas dari motivasi lain di luar konteks dakwah keagamaan, si pemrakarsa atau produser melemparkaan wacana mengenai pentingnya menyebarluaskan pesan-pesan keagamaan. Berdakwah dalam hal ini, adalah bagian dari tradisi Islam. Sebagai poduser ia berhitung mengenai segmentasi pemirsa, di mana bagian terbesar adalah masyarakat beragama Islam, yang menjadi bagian penting pemelihara tradisi berdakwah tersebut. Perangkat siaran menjadikan media transmisi tradisi berdakwah tersebut, kepada khalayak. Karena kekuatan TV adalah pada jangkauan pemirsa yang melampui batas-batas wilayah provinsi, wilayah kultural lokal. Tv memiliki kekuatan melintas batas budaya dan administrasi (<em>borderless</em>).</p>
<ol>
<li>Inovasi dakwah, antara Seni dan Teknologi Tinggi.</li>
</ol>
<p>Dakwah adalah bagian dari cara mempertahankan tradisi. Karena sejak awal lahirnya Islam, agama ini disebarluaskan melalui dakwah. Dari adanya dakwah inilah, maka agama Islam dikenal sebagai agama<em> missioner. </em>Di maanpun dan kapanpun selalu ingin survive. Tayangan sebagaimana diprogram oleh TransTV, adalah pelanjutan dari tradisi tersebut, yang terus ingin survive. Dakwah dalam ini digarap dengan menggabungkan antara pesan agama, seni (<em>art</em>) dan pekerja seni dan teknologi sistem elektronik. Semsta-mata dalam rangka menarik perhatian pemirsa. Paketi ini dikemas sedemikian rupa, hingga selalu memperlihatkan sebagai sesuatu yang baru. Sebagaimana diketahui, bahwa dalam karya seni, tidak mengenal pengulangan, karena hal itu akan membosankan, dan ditinggalkan pemirsa. Seperti disebutkan di setiap akhir episode, bahwa paket muatan dakwah yang baru saja disajikan, melibatkan sekian komponen kru, seperti pengilustrasi musik, pelibatan artis (sebagai tamu atau presentar), tim riset, penata gambar, penyedia peralatan siaran, ahli artistik, penata busana, penata grafis, penyunting gambar, quality control, tim library. Kru itu diwadahi oleh Pusat Pengembangan Kreativitas Produksi. Keberadaan unit-unit produksi itu ada di setiap paket bermuatan dakwah, baik P3W, Khazanah, Teropong, dan Halal ?.</p>
<p>Dakwah dengan mempekerjakan sekian banyak orang yang berkeahlian berbeda satu sama lain tersebut, ditemukan dalam paket <em>PTW,</em> <em>Khazanah</em>, Teropong dan <em>Halal?.</em> Presenter dengan dandanan muslimah, tetapi aktif simpatik dan pertualng ala pecinta alam. Tentu gaya seperti ini, memikat pemirsa anak-anak muda. Topik dan lokasi untuk setiap episode selalu berbeda. Kadang di pegunungan, pantai, atau mall, untuk mencitrakan sebuah keindahan alam, dan realitas kehidupan masyatrakat, dan kadang penonton diajak memasuki sebuah museum, dan dengan mewawancarai seorang penjaganya.</p>
<ol>
<li>Penyampaian pesan secara non verbal.</li>
</ol>
<p>Bahwa pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dengan tidak secara verbal, adalah nilai tersendiri dalam P3W.  Topiknya sendiri, yakni ”Perjalanan 3 Wanita”, hanya sebutan untuk menunjukkan sebuah aktivitas tiga orang perempuan, yang tidak langsung memperlihatkan ”perjalanan dalam rangka apa” atau perjalanan ke mana, dan siapa yang disebut tiga wanita itu. Pemirsa yang hanya melihat selintas, akan penasaran, untuk berkeinginan tahu lebih jauh. Kemudian ketika yang ditayangkan adalah suatu panorama alam, seperti pada episode 2 Juli 2009 tentang Perjalanan ke pulau-pulau kecil di Sulsel. Fenomena ini, seperti tidak ada hubungannya dengan dakwah. Simbol Islam yang pertama memberi kesan hanyalah, tiga perempuan itu mengenakan jilbab. Kemudian mereka mengajak berjalan-jalan ke tempat bersejarah, dengan kamera yang mengarahkan ke berbagai sudut, sehingga gambaran keindahan yang diperoleh sang pemirsa itu menjadi utuh. Barulah sebuah ayat al Qur’an dimunculkan, dengan kandungan yang mengajak ”agar manusia mengingat akan kebesaran Allah”, dengan ciptaannya yang terhampar di muka bumi. Dengan demikian pemirsa terhindar dari kejenuhan, dan sekaligus tidak merasa digurui.</p>
<ol>
<li>Penyederhanaan isi pesan.</li>
</ol>
<p>Sumber ajaran dengan mengangkat satu atau dua ayat al Qur’an atau Hadits Nabi. Suatu pesan yang ingin dibumikan, dicarikan relevansinya dengan budaya dan kejadian yang sedang menjadi pembicaraan di masyarakat. Seperti bisa dilihat pada episode Prita Mulyasari, yang ditayangkan pada episode akhir Juni 2009.  Topiknya adalah penegakan etika dan keadilan menurut Islam. Kasus Prita sengaja diangkat, karena di balik kasus itu, ada makna tersirat yang bisa ditarik, yang dalam perspektif agama disebut hikmah. Artinya, ada pelajaran keagamaan untuk membumikan pesan tersebut, karena isu ini sedang hangat-hangatnya di masyarakat. Seperti diketahui, saat itu, yakni pada awal bulan Juni 2009 kasus Prita cukup menghebohkan, gara-gara surat elektronik yang ia layangkan ke media internet mengenai pengalaman memperoleh perlakuan buruk di sebuah rumah sakit. Isi surat itu mengeluhkan pengalammnya ketika ia berobat di RS tersebut, dengan gejala sakit tertentu. Namun Prita tidak memperoleh informasi yang benar dari dokter yang memeriksanya, bahkan ia harus diopname tanpa mengetahui penyakit yang sebenarnya. Sampai akhirnya ia menuangkan uneg-unegnya melalui surat elektronik. Karena surat itu bersifat terbuka, di belantara situs internet, telah membuat pihak RS merasa dirugikan, kemudian mengadukan Prita ke pihak berwajib, dengan tuduhan mencemarkan nama baik. Terlepas dari persoalan hukumnya, masalah itu diangkat dalam episode <em>Khazanah,</em> dan dimintakan komentar dari warga masyarakat berbagai kalangan, seperti mahasiswa, pedagang, dosen, pelajar, dan sebagainya. Terhadap kejadian yang menimpa Prita, rata-rata mereka menyayangkan sikap RS Omni yang menuntut soal ”pencemaran nama baik” tersebut. Sementara di sela-sela wawancara itu, dimunculkan seorang narasumber, ustadz Wahfiudin. Sang ustadz antara lain mengatakan bahwa: mengadu adalah hak warga yang menerima pelayanan, dan dalam mengadu sebaiknya harus dengan etika, apakah akan menyakiti orang lain. Demikian juga pihak pelayan sudah seharusnya, bersikap jujur dan adil. Jujur dalam memberi keterangan, dan adil dalam mensikapi setiap orang/pelanggan. Jangan karena dirugikan kemudian main tuduh kepada orang lain, dan jangan pula melayani kepentingan hanya kepada pihak yang lebih besar uangnya, dsb. Kemudian dikeluakan ayat surah an Nisa/4: 58:</p>
<p><em>Sungguh Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara  manusia hendaknya kamu menetapkan dengan adil. Sungguh Allah, sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh Allah maha Mandengar, Maha Melihat</em>.</p>
<ol>
<li>Memposisikan ”nara sumber” secara tidak dominan.</li>
</ol>
<p>Dari sekian banyak episode bermuatan dakwah di TransTV, selalu ditampilkan seorang atau lebih dari satu nara sumber. Kadang suatu tayangan sangat dominan pada visualisasi dan kata, tanpa nara sumber. Seperti pada episode PTW  episode 16 Juli 2009 bertema <em>Perjalanan berhikmah di Jatim</em>. Tayangan ini  muncul tanpa nara sumber. Tetapi muatan dakwahnya terlihat pada endingnya. Setelah pemirsa diajak berkelana di sana sini, akhirnya hostnya yang menyampaikan pesan agamanya. ”Betapa kita harus bersyukur atas karunia Tuhan berupa keindahana alam, dan kita diberi kesempatan menikmatinya”. Main set dakwah tanpa menempatkan narasumber sebagai faktor dominan, bukan berarti mengecilkan peranan mereka, sebagai ulama, pemegang otoritas pengetahuan agama. Namun ini suatu upaya untuk tidak membentuk opini pada pengkultusan pada seseorang. Sebab, pengalaman seperti itu sudah sering terjadi, di mana seorang da’i yang sudah sangat <em>kondang</em>, bahkan dijuluki ”da’i sejuta pemirsa”, tetapi tiba-tiba kehilangan kharisma, hanya karena ia berpoligami, suatu perbuatan yang sifatnya ”melawan arus” opini publik. Terlepas dari masalah pro-kontra tentang poligami, profil da’i yang sudah terlanjur ditempatkan sebagai orang terhormat dan tausyiahnya ditunggu-tunggu setiap hari, namun seakan jatuh nama karenanya, dan tausyiahnya tidak lagi dinanti-nanti pemirsa. Pihak manajemen televisi yang sudah biasa menampilkan sang da’i tersebut, tentu ikut menanggung beban moral dan resiko ditinggal pemirsa.</p>
<p>8. Dakwah sebagai Simbol Gaya Hidup</p>
<p>Terlepas dari seberapa besar kekuatannya dalam mempengaruhi secara positif perilaku masyarakat, sebagai individu maupun sebagai kelompok. Di dalam konteks perkembangan image diri, telah menemukan simbol baru gerakan dakwah yang akomodatif dengan gaya hidup elitis dan akademis. Kegiatan dakwah TransTV itu sendiri, dengan gaya tayangan yang melibatkan para selebriti dan sisem animasi grafis, ilustrasi musik, dan liputan di ruang terbuka, menjadi bagian dari simbol gaya hidup Muslim modern.</p>
<p>Mengenai apa itu simbol maka bisa kita rujuk pendapat dari William A. Folley (1997: 26); "A simbol is a sign in which the relationship between its form and meaning is stricly conventional, neither due to physical similarity or contextual constraints". Jadi sebuah simbol adalah sesuatu yang akan memiliki makna apabila sesuatu itu dihubungkan dengan hal yang lain. Pemberian makna ini tentu saja mengacu kepada konteks sosial-budaya masyarakat si pemilik simbol. Mungkin saja sesuatu itu oleh sekelompok masyarakat dianggap sebagai simbol yang penuh makna, akan tetapi bisa saja, objek yang sama itu tidak memiliki makna apa-apa atau hampa makna, dalam pandangan masyarakat yang lain. Tayangan bermuatan dakwah TransTV bisa jadi dianggap sebagai salah satu simbol gaya hidup bagi masyarakat Indonesia, karena dia mampu menampilkan “agama” sebagai bagian dari status social dan harga diri.</p>
<p>Seperti diuraikan dalam sebuah buku yang dipublikasi KODI DKI, bahwa di tengah arus modernitas, agama kini tidak sekedar menjadi acuan normatif kelompok masyarakat marginal, tapi sudah menjadi <em>dignity</em> bagi masyarakat profesi. Kalangan eksekutif muda, kalangan akademisi, bahkan kalangan profesi dunia hiburan yang berpenghasilan spektakuler, merasa terbangun image dirinya jika telah menjalankan tuntunan-tuntunan normatif keagamaan. Mereka merasa terbangun image dirinya jika telah menjakankan ibadah haji, jika memakai baju koko, menghadiri momen-moment peringatan hari besar keagamaan, buka puasa bersama, menyelenggarakan pengajian di kantor atau di kompleks perumahannya, dsb. (KODI DKI, 2007: 12).</p>
<p>9. Antara Bisnis dan Dakwah.</p>
<p>Tidak bisa dipungkiri, bahwa untuk setiap program acara yang ditayangkan melalui TV, termasuk acara bermuatan dakwah oleh TransTV, memerlukan pembiayaan yang amat besar. Di samping untuk proses produsksi, adalah untuk menjaga kelangsungan, menjaga kualitas, menemukan ide baru untuk setiap episode, melengkapi atibut, pemeliharaan peralatan elektronik yang harus dalam kondisi fit dan ready, pengerahan sejumlah orang profesional atau berkeahlian, dan banyak lagi pekerjaan yang harus perfect. Tidak satu unit kerja produksi yang boleh dilewatkan, karena satu kelemahan, misalnya sang presenter tiba-tiba jatuh sakit, maka satu paket program bisa tertunda pengerjaannya dan mungkin menunda jam tayangnya.</p>
<p>Dalam perekonomian yang sehat, stasiun televisi dapat menjadi tambang emas, namun sebaliknya dalam perekonomian yang lemah, stasiun televisi hanya akan menghabiskan dana yang besar. Menjalankan suatu program, memerlukan imajinasi dan gairah yang tidak boleh kendor. Para anggota kru suatu program haruslah terdiri dari orang-orang yang kaya gagasan, dan penuh energi. Selain itu, TV (nasoional) menggunakan gelombang udara publik, sehingga TV mempunya tanggungjawab kepada pemirsanya melebihi bisnis lainnya dalam amsyarakat.( Morisson, 2008: 1).</p>
<p>Program acara televisi adalah juga berada dalam persaingan ketat, bukan saja persaingan antar stasiun televisi sendiri, tetapi persaingan dengan acara-acara lain dalam rangka merebut pasar. Karena semakin banyak pemirsa, akan semakin mengundang masuknya banyak iklan, dan masuknya iklan berarti pemasukan dana. Semakin besar dana masuk, berarti semakin terjaga kelangsungan acaranya dan pengembangannya, bahkan sumber benefit bagi perusahaan. Sementara kegiatan dakwah, adalah suatu penyampaian ide atau pesan moral, yang pada dasarnya terjauh dari motif keuntungan secara finansial. Di sinilah tantangannya, yakni bagaimana kemasan dakwah TV, seperti TransTV, mampu menempatkan diri sebagai pengawal moral sekaligus sebagai ”ladang bisnis”. Masalah ini tentu tidak bisa begitu saja mengalir, tanpa suatu keberanian menghadapi resiko, yaitu resiko tergelencir dari nilai-nilai moral, dan menemukan solusi-solusi baru untuk suatu problem yang akan muncul kemujdian.</p>
<p>10. Pasang Waktu: <em>Prime time</em></p>
<p>Pilihan waktu tayang bagi pengelola stasiun televise adalah sesuatu yang sangat berarti. Pertimbangan utamanya adalah pada nilai ekonomi. Bagaimana agar perusahaan bisa tetap survive, dan yang lebih dari itu adalah, agar acara yang ditayangkan menjadi sumber keuntungan. Walau harus diakaui, adakalanya pihak pemilik TV harus menyediakan waktu, kalau tidak boleh disebut mengorbankan waktu, dengan meliput moment tertentu karena alasan kepentingan kemanusiaan, misalnya.</p>
<p>Adalah suatu keberanian bagi pihak TransTV, menempatkan hampir semua paket acara bermuatan dakwah, pada <em>prime time, </em>yaitu pukul 06.00-6.30. WIB. Setidaknya untuk masyarakat pada wilayah Indonesia bagian barat, terutama Jawa dan Sumatera, Kalimantan. Bagi masyarakat ujung Jawa Timur, waktu tersebut belum terlalu siang, dan bagi masyarakat di ujung barat Sumatera, seperti Aceh, juga tidak terlalu pagi. Di tiga pulau inilah, penduduk Indonesia, relative terkonsentrasi.</p>
<p>Waktu pagi hari, adalah saat di mana rata-rata orang belum memasuki aktivitas keseharian pekerjaannya, mereka masih berkesempatan memanfaatkann waktunya untuk nonton siaran televise. Lebih banyak dibandingkan kalau tayangan disiarkan antara jam 00.00 – 04.00 misalnya.</p>
<p>Keberanian itu punya arti tersendiri, dalam konteks dakwah keagamaan. Melawan fakta, tentang rendahnya “rating” siaran dakwah di televise (lihat, hasil penelitian Sunandar, 2008). Data yang dikemukakan Sunandar memang lebih banyak ditujukan pada siaran keagamaan yang disiarkan menjelang jam 05.00 an. Walau harus pula diakui, bahwa sampai dengan penelitian ini, belum ditemukan angka “rating” terbaru dari siaran bermuatan dakwah ala TransTv tersebut. Namun dilihat dari bertahannya acara, sudah berjalan hampir dua tahunan, terutama acara Khazanah dan P3W, patut diduga bahwa, penentuan waktu prime time pada tayangan dakwah tersebut, tidak berefek merugikan pada pihak pengelola. Begitu saja.</p>
<p><strong>Rekomendasi</strong></p>
<p>Kepentingan bisnis terutama pihak Production House (PH) dan stasiun TV yang lebih mengedepankan keuntungan material ketimbang visi seni apalagi visi dakwah, diharapkan tidak menjadikan setiap program yang ditayangkan menyingkirkan unsur idealisme terutama pendidikan.</p>
<p>Berhubungan dengan dakwah di TV, kearifan pihak produser TransTv yang memilih waktu tayang prime time, patut dijadikan bahan pertimbangan bagi pengelola siaran TV Nasional lainnya, bahwa “dengan berdakwah, bisnis tetap jalan”. Namun tetap pula dituntut, agar ada saatnya pula dalam menyampaikan pesan moral untuk tidak melihat keuntungan semata. Dalam pengembangan dakwah di televisi, diperlukan produktivitas pemrograman dakwah (melalui sinetron, film, dsb.) yang berkualitas dan memberikan pendidikan agama yang baik  dan dapat memberdayakan para professional dan pakar yang kompeten di bidangnya.</p>
<p>Tayangan dakwah bukan hanya melulu bersumber dari sejarah Islam klasik, tapi ide cerita bisa diambil dari potret kehidupan nyata masyarakat sehari-hari yang dituturkan dengan menarik, segar, kreatif dan artistik. Untuk itu dibutuhkan da’i yang handal dan professional serta para penulis naskah (film, sineron religi) yang tentunya mempunyai kematangan dalam memahami ajaran Islam. Sehingga meski bertutur tentang kehidupan keseharian, namun tetap lekat dan kental dengan dakwah dan visi Islam. Umat Islam perlu semacam lembaga pendidikan khusus untuk para penulis cerita Islami dan mereka harus diperkenalkan dengan visi dan misi dari sebuah cerita yang bernuansa Islami, bahkan perlu belajar syari’at Islam agar benar-benar paham dengan apa yang mereka tulis.</p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ul>
<li>Arifin,      Zaenal, 2007, <em>Syi’ar Deddy Mizwar.</em> STAIN Purwokerto Press.</li>
<li>Azra,      Azyumardi, 1999, <em>Konteks      Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam</em>. Jakarta: Paramadina.</li>
<li>Budiyanto, Irmayanti Meliono. 2004. <em>Ideologi Budaya.</em> Kota Kita.</li>
<li>Effendi, Bachtiar, 2009, <em>Islam dan Negara,</em> Ys. Wakaf      Paramadina.</li>
<li>Eldin, Achyar. 2003. <em>Dakwah Stratejik.</em> Jakarta:      Pustaka Tarbiyatuna.</li>
<li>Eriyanto,      2001,  <em>Analisis Wacana,</em> Yogyakarta: LkiS.</li>
<li>Eriyanto.  2006. <em>Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media., </em> Yogyakarta: LKiS.</li>
<li>Foley, William A.,(1997), "Anthropological      Linguistics An Introduction", Malden USA:      Balckwell Publishers Inc.</li>
<li>Hamad, Ibnu, 2008, ”Manajemen Dakwah di TV”,  Makalah Seminar ”Pembinaan Dakwah Media      Elektronik<em>”.</em> KODI DKI Jakarta.</li>
<li>Hidayat,      Helmi, 2008, ”Membumikan Ajaran Islam melalui Dakwah Interaktif di      Televisi”,  Makalah Seminar      “Pembinaan Dakwah Media Elektronik”. KODI DKI Jakarta.</li>
<li>Jensen,      William I. Rivers-Jay W.- - Theodore Paterson, 2008, <em>Media Massa &amp; Masyarakat Modern</em>, Kencana Prenada Media      Group.</li>
<li>Kontowijoyo,      1985,<em> Dinamika Sejarah Umat      Islam Indonesia<strong>. </strong></em>Yogyakarta: Salahudin Press.</li>
<li>Koordinasi      Dakwah Islam (KODI) DKI, 2007, <em>Dakwah  Satu Dasawarsa: Daro seruan ke Pelayanan.</em></li>
<li>Michel      Faucoult, dalam: Mujiburrahman, 2008, <em>Mengislamkan      Indonesia</em>, Pustaka Pelajar Offset.</li>
<li>Kohar,      Wakidul, M.Ag, dalam: Amir Mahmud (ed.), 2005, <em>Islam dan Realitas Sosial Di mata Intelektual Muslim Indonesia,</em> Edu Indonesia Sinergi.</li>
<li>Mulyana,      2005, <em>Kajian Wacana Teori, Metode      dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana, </em>Yogyakarta: Tiara      Wacana.</li>
<li>Mulyana,      Deddy,  2005, <em>Ilmu Komunikasi</em>. PT. Remaja Rosda Karya.</li>
<li>Mulyana,      Deddy, 2004. <em>Metodologi Penelitian      Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan lainnya,</em> PT, Remaja      Rosda Karya.</li>
<li>Suparta,      Munzier dan Harjani (Ed.), 2003, <em>Metode Dakwah</em>, Jakarta: Rahmat Semesta.</li>
<li>Sunandar.      2008, “Tantangan dan Problematika Dakwah di Televisi”, Makalah Seminar      “Pembinaan Dakwah Media Elektronik”. KODI DKI Jakarta.</li>
<li>Sutrisno,      Mudji, Tt., <em>Cultural Studies,</em> Koekoesan.</li>
<li>Sutrisno,      Mudji, dan Hendar Putranto. (ed.),2005, <em>Teori-Teori      Kebudayaan, </em>Yogyakarta: Kanisius.</li>
<li>Thomson,      Peter, 1999, <em>Rahasia Komunikasi.</em> Yayasan Obor Indonesia.</li>
<li>Winarto,      Yunita T. dkk. (Peny.), 2004, <em>Karya      Tulis Ilmiah Sosial.</em> Ys. Obor Indonesia.</li>
</ul>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Diangkat dari “Publik dan Opini Publik”, dalam <a href="http://markbiz.wordpress.com/">http://markbiz.wordpress.com</a>.</p>
<p dir="rtl">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marzanianwar.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marzanianwar.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marzanianwar.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marzanianwar.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marzanianwar.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marzanianwar.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marzanianwar.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marzanianwar.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marzanianwar.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marzanianwar.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=192&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/10/01/muatan-dakwah-trans-tv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3313d5024cd0f2985d6c1506aa045f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marzani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KRANDAH: H. SOMODIMEJO, No. Induk: 1</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/30/krandah-h-somodimejo-no-induk-1/</link>
		<comments>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/30/krandah-h-somodimejo-no-induk-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 00:43:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
				<category><![CDATA[DAFTAR TRAH SURODIMEJAN]]></category>
		<category><![CDATA[H. Abdul Djalil]]></category>
		<category><![CDATA[H. Ilyas Shidiq]]></category>
		<category><![CDATA[H.Moh Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Ny.Hj. Marzuki]]></category>
		<category><![CDATA[Somodimejo.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marzanianwar.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[



NO. URUT


NO. INDUK


 
 
NAMA    DAN ALAMAT (ASAL) KEP. KELUARGA


 
 
NAMA PUTERA-PUTERI 








1
H.   Somodimejo -)
Ngemplak   Polodadi, Sleman, Yogyakarta


H.   Abdul Djalil
H.   Djaelani
H.   Moh. Anwar
Ny.   H. Marzuki
H.   Ilyas Shidiq









11
H.   Abdul Djalil -)
Ngemplak   Polodado, Sleman, Yogyakarta


Badingah
Sudariyah
Suwarti
Drs. M. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=189&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<p align="center"><strong>NO. URUT</strong></p>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="center"><strong>NO. INDUK</strong></p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>NAMA    DAN ALAMAT (ASAL) KEP. KELUARGA</strong></p>
</td>
<td width="219" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>NAMA PUTERA-PUTERI </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">1</td>
<td width="230" valign="top">H.   Somodimejo -)</p>
<p>Ngemplak   Polodadi, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>H.   Abdul Djalil</li>
<li>H.   Djaelani</li>
<li>H.   Moh. Anwar</li>
<li>Ny.   H. Marzuki</li>
<li>H.   Ilyas Shidiq</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">11</td>
<td width="230" valign="top">H.   Abdul Djalil -)</p>
<p>Ngemplak   Polodado, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Badingah</li>
<li>Sudariyah</li>
<li>Suwarti</li>
<li>Drs. M. Badawi</li>
<li>St. Hidayatun Fatonah</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">12</td>
<td width="230" valign="top">H.   Djaelani -)</p>
<p>Balong,   Trimulyo, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Hj. Fatimah</li>
<li>Robingah</li>
<li>Basriyah</li>
<li>Roisul Hadi</li>
<li>Basuki Bakhroni</li>
<li>Yamawi</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">13</td>
<td width="230" valign="top">H.   Moh. Anwar -)</p>
<p>Ngemplak   Polodadi, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Drs. H.  Anwar   Dhani, Ph.D</li>
<li>Ir. Anwar Ispandi</li>
<li>Ema Mandarsih</li>
<li>Ir. H. Mawardi  Anwar</li>
<li>Drs.    Marzani  Anwar</li>
<li>Drs. Suroto Anwar</li>
<li>Murdaningsih &#8211; )</li>
<li>Drs. Asbani</li>
<li>Dra. Sumarsih</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">14</td>
<td width="230" valign="top">Hj.   Marzuki -)</p>
<p>Blunyah   Cilik, Trimulyo,  Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>H. Ahmad Djazuli</li>
<li>Hj. Dasimah</li>
<li>Hj. Shofiah</li>
<li>Drs. H.Masyhud Mz</li>
<li>Drs. H. Basyir Mz</li>
<li>Hj. Waridah</li>
<li>Hj. Hadiyati, BA</li>
<li>Hj. Warfingah</li>
<li>Dra. Jumanah</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">15</td>
<td width="230" valign="top">H.   Ilyas Shidiq</p>
<p>Gawar,   Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>H. Damanhuri</li>
<li>Hj. Sri Widayatonah</li>
<li>Istiqomah</li>
<li>Darto Sunhaji</li>
<li>Sri Murtini</li>
<li>Syamsuhadi</li>
<li>Muslihul Hadi</li>
<li>Zahid Mustofa</li>
<li>Nurhadi</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">111</td>
<td width="230" valign="top">Ny. Badingah</p>
<p>Ngemplak   Polodadi, Trimulyo, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Endang Marsudiningsih</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">112</td>
<td width="230" valign="top">Nursiswanto/   Sudarijah -)</p>
<p>Dadapan,   Sidoluhur, Godean, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>St. Wien Nurhidayati</li>
<li>M. Agus Budisantoso, S Ag.</li>
<li>Siti Mutmainah</li>
<li>Luluk Fitria Astuti</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">113</td>
<td width="230" valign="top">Agus   Tanto/ Suwarti</p>
<p>Rebobong   Kidul, Mororejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Lis Purnawati</li>
<li>Nurhadi</li>
<li>Yayuk Iszukhaini</li>
<li>Safaruddin Zuhri</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">114</td>
<td width="230" valign="top">Drs.   KH.M. Badawi /</p>
<p>Hj.   Mahmudah</p>
<p>Ngemplak   Polodadi, Trimulyo, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Mohammad    Salim</li>
<li>Iffati Yamimah</li>
<li>Mira Khairunnisa</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">115</td>
<td width="230" valign="top">M. Suhardjono BA / Siti Hd. Fatonah</p>
<p>Donolayan, Donoharjo, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Lutfatul Latifah</li>
<li>Lina Ari Suharyani</li>
<li>Ratna Muthoharoh</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">121</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>H. Hasyim Sobar -)/ Hj.  Fatimah -)</h3>
<h3>Sosrokusuman   45, Telp. 4107, Yogyakarta</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Nurhayati Ekowati</li>
<li>Ir. Mustafa Dwiyono</li>
<li>Arsyad Triono</li>
<li>Drs. Anif Kwartono</li>
<li>Drs. Muzani Indriono</li>
<li>Dra. Nuraini Saptawati</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">122</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Rocky / Robingah -)</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Agus Sapura</li>
<li>Basyori</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">123</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Ny. Basriyah</h3>
<h3>Balong,   Trimulyo, Sleman, Yogyakarta</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Muhajir</li>
<li>Eni Baroroh</li>
<li>Fathul Affan</li>
<li>Safaruddin Zuhri</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">124</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Roisul Hadi -)</h3>
<h3>Balong,   Trimulyo, Sleman, Yogyakarta</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Umi Wasfiatul Janah</li>
<li>Ahmad Sholihin</li>
<li>Zaenal Abidin</li>
<li>Fatah Arianto</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">125</td>
<td width="230" valign="top">Basuki Bakhroni + Ny. Herminah</p>
<p>Balong,   Trimulyo, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Markhanah Nurhidayati, SE</li>
<li>Rochman Arief, ST</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">126</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Yamawi</h3>
<h3>Sebayu,   Triharjo, Sleman, Yogyakarta</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Ferra Ernawati</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">131</td>
<td width="230" valign="top">H. Anwar Dhani, Ph. D –)</p>
<p>Jl. Kaliurang   Km. 15 Telp. 12, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Dhini Murhandayani, ST.</li>
<li>Dian Gamayanti, SE</li>
<li>Herdiana Puspitasari, ST</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">132</td>
<td width="230" valign="top">Ir.H.Anwar   Ispandi, M. Sc</p>
<p>Karangpandak, Pakisaji, Malang, Jawa Timur</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Andi Susmiarto</li>
<li>Fenty Lelana Rakhmawati</li>
<li>Ishadi Nurwidiantoro</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">133</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Ahmad Hunein/</h3>
<h3>Ema Mandarsih</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Happy Al-Husni</li>
<li>Ifan Mohamad Ihsan, ST</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">134</td>
<td width="230" valign="top">Ir. H. Marwadi Anwar</p>
<p>Jl. Pondok Kelapa III Blok B-7/11</p>
<p>Jakarta Timur,   telp. 021-8640567</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Anfid Erdian, ST</li>
<li>Dimas Aristyanto, ST</li>
<li>Adithiya Triananta</li>
<li>Vina Ardiarini Alamanda</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">135</td>
<td width="230" valign="top">Prof. Marzani Anwar,MA</p>
<p>+ Dra. Sri   Rahayu</p>
<p>PTB DKI Blok A 12/23 Pondok Kelapa, Jaktim   13450. telp. 021-8640446</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Elfa Diasmara, ST</li>
<li>Divi Analis, SM</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">136</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Drs. Suroto Anwar</h3>
<h3>Ld. Tukangan Dn II/223 Yogyakarta 55212</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Hanifah Latif Muslimah</li>
<li>Arif Hasan Amiruddin</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">137</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Drs. Asbani Anwar + Rr.</h3>
<h3>Siti   Zubaidah</h3>
<h3>Ngemplak Polodadi,    Trimluyo, Sleman</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">1.   Nadia Nur Annisa</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">138</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Dra. Sumarsih Anwar + Nurhadi, S Ag.</h3>
<p>Perm. Grya   Bukit Jaya, Blok N 5 No. 17 Gunung Putri Bogor, telp. 021 86850264</td>
<td width="219" valign="top">(idem   NIK 159)</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1311</p>
</td>
<td width="230" valign="top">Ir. Martono, M S /</p>
<p>Dhini Murhandayani, SP</p>
<p>Perm. Bukit Permatasari Blok E 2/2   Cimahi, Bandung. Bandung</td>
<td width="219" valign="top">1. Reza Naufal Alfafa</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1312</p>
</td>
<td width="230" valign="top">Wahid Hasyim /</p>
<p>Dra. Dian Gamayanti</p>
<p>Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">1. Naya</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1313</p>
</td>
<td width="230" valign="top">Ary    Trianto Wibowo/ Herdiana Puspitasari</p>
<p>Jl. Pejajaran I/2 Krangkilan, Manahan, Sala.</td>
<td width="219" valign="top">1.   Hilal Taslimi  Ary</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">141</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>H. Sudjoko Djazuli</h3>
<h3>Ld. Tukangan Dn II/224 Yogyakarta 55212</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Husni Supriyadi</li>
<li>Yulianto</li>
<li>Khifdiyah Yuliati</li>
<li>Moh. Ikhsan Yulisantoso</li>
<li>Rohmad Yulisantoso</li>
<li>Wahid Hasyim</li>
<li>Tutik Syamherawati</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">142</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>H. Abdul Basyir/</h3>
<h3>Hj. Dasimah -)</h3>
<h3>Panggeran XII, Trihardjo, Sleman, Yogyakarta</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Siti Djaziroh</li>
<li>Drs. Bahruddin</li>
<li>Drs. Syamsuddin</li>
<li>Drs. Ahmad Zaidi</li>
<li>Wahid Zaenuri</li>
<li>Arintas Ikhsaniah</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">143</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Suwandi   -)/ Ny. Sofiah –)</h3>
<h1>Kutu Dukuh 51 A XI/73</h1>
<h3>Jl.   Magelang, Yogyakarta</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Moh. Qomaruddin</li>
<li>Moh. Hasanuddin, SH</li>
<li>Drs. Rakhmad Sayogya</li>
<li>Abdul Muid Sofyan</li>
<li>Abdul Ghafar Mualim</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">144</p>
</td>
<td width="230" valign="top">Drs.H. Masyhud   Marzuki</p>
<p>Jogokerten, Trimulyo, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>M. Sidik Hanafi</li>
<li>Farida Nuraini</li>
<li>Astuti Kusumawati</li>
<li>M. Qadri Agus Setiawan</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">145</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Drs.    Basyir Mz</h3>
<h3>Blunyah Trimulyo, Sleman, Yogyakarta</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Dewi Nurhastuti</li>
<li>Jati Purnamawati</li>
<li>Irawan</li>
<li>Diah Listiarifah</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">146</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>H. Sarindi Harsono/Hj.   Waridah</h3>
<h3>Jl. Monumen Yogya Kembali   Nanda Gg. II/24 RT.02/38 Yogyakarta 55581</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Eny Trisnowati</li>
<li>Tuty Budiarti</li>
<li>Yuyun Zulaikhah</li>
<li>Muzaroh Syarwanto</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">147</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>H. Sukirman / Hj. Hadiyati</h3>
<h3>Karangwuni,    Donokerto, Turi, Yogyakarta</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Siti    Nur Andariyati</li>
<li>Kurniawati</li>
<li>Latifatun Amanati</li>
<li>Syarifah M. Isyiana</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">148</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Ir.H.   Soemantri / Hj. Siti Warfingah</h3>
<h1>Komplek BATAN E-10 Pasar   Minggu</h1>
<h3>Telp. 7803928 Jakarta Selatan</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Prima Kusuma Sumantri, SE</li>
<li>Niken Puspitaningrum, SM</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">149</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Sudarman, SH/Dra. Djumanah</h3>
<h3>Bengkulu</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Linda Suryaningrum</li>
<li>Binang Sukmayuda</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">151</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>H. Damanhuri +</h3>
<h3>Hj. Sri Muslimatun,</h3>
<p><em>RS Sakina Idaman</em>, Blunyah   Gede Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>dr. Nur Muhammad Artha</li>
<li>dr. Nizar Hero Kartika</li>
<li>hernica Syfa Damayanti</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">152</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Sukirman/ Sri Widayatonah</h3>
<h3>Banyu Urip Kidul Gg. Via No. 37 Surabaya</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Budiyanto</li>
<li>Hari Subagyo</li>
<li>Harto Sulistio</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">153</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Djuwari /Istiqomah</h3>
<p>Pendeman,   Trimulyo, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>St. Fatimatun Nafsiah</li>
<li>Edwin Bisri Mustofa</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">154</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Darto Sunhaji</h3>
<h3>Gawar Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Latif Zuhdiyanto</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">155</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Sukoyo   / Sri Murtini</h3>
<h1>Tirtomulyo, Upang, Palembang,</h1>
<h3>Sumatera Selatan</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Tini Sukaemi</li>
<li>Endro</li>
<li>Wulandari</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">156</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Samsuhadi</h3>
<h3>Kpasgad Ditif Kopur Linud, Cilodong</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Ervi Melisa</li>
<li>Dewinta</li>
<li>Rifqi</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">157</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Muslikhulhadi + Ny. Muslikhulhadi</h3>
<h1><strong>Kendal Payak, Malang  ®</strong></h1>
<p>Balitan Kendal Payak, Mlg. (k)</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Rehan</li>
<li>Indra Zakaria</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">158</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Zahid Mustofa +</h3>
<h3>Ny. Zahid Mustofa</h3>
<h1>P3HTA Das Brantas, Jl. Industri Timur 36 Malang   (k)</h1>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Yusuf</li>
<li>Rifet</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">159</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Nurhadi, S Ag./ Dra.   Sumarsih Anwar</h3>
<p>Perm. Grya   Bukit Jaya, Blok N 5 No. 17 Gunung Putri Bogor, telp. 021 86850264</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Fandi</li>
<li>Kevin</li>
<li>Safa</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1111</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Arief Sarodja / Endang   Marsudiningsih</h3>
<p>Bakalan, Bligo, Ngluwar, Magelang</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Azis Wahyu Hidayat</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1121</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Effendi   -)/ St. Wien Nurhidayati</h3>
<p>Godean, Km 7,   Sidoarum, Sleman</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Diah Rana Meta   Novia, S Sos</li>
<li>Iput</li>
<li>Diah Ayu Wulan</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1122</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Agus Budisantoso, S Ag + Maimunah</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">1.</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1211</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Haryoto *) / Nurhayati Ekowati</h3>
<p>Jl. H. Agus Salim 8 Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Vivi Alfiani</li>
<li>Wiwit Hustami K</li>
<li>Didit</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1212</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Ir. Mustofa Dwiyono + dr.   Endang</h3>
<p>Jakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Arif Eka Rahmanto</li>
<li>Apria</li>
<li>Aryo</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1242</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Ahmad Sholihin, S Ag + Ida Listiyani</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Arif   Qusoyyi Rahmadani</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1252</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Rohman Airef, ST +</h3>
<h3>Dyah Ayu Kurniawati, Amd.</h3>
</td>
<td width="219" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1213</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Arsyad   Triono + Muni’ah</h3>
<p>Wonosobo,   Jateng</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Eko Zulham Arianto</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1214</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Drs.   Chanif Kwartono + Wiwik</h3>
<h3>Perm. Jambusari, Yk.</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Rahmawati Ikasari</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1215</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Drs. Muzani Indriono + Listiyani</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Rinda Agustifani Putri</li>
<li>Febri Rahmawati</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1216</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Catur Slamet Irianto/ Dra. Nuraini Saptowati</h3>
<p>Jl. Duta Prima V E 9/ 31</p>
<p>Duta Harapan, Bekasi</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Ryan Zilham Priyadi</li>
<li>Rizki Januar Putranto</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1231</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Muhajiri+ Asih</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">1.   Rizki Ardika Akbar</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1241</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Umi Wasilatul Janah</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Aulia Fitriani</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1351</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h1>Elfa Diasmara, ST + Habsari Hadiputra, A Md</h1>
<h1>Jl.   Cipinang Cempedak 128 A, Jatinegara, Jakarta</h1>
</td>
<td width="219" valign="top">1.</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1411</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Husni   Supriadi + Ny, Marti</h3>
<p>Jl. Lampersari   55 Telp. (024) 315769 Semarang  (r)</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Najib</li>
<li>Nuril</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1412</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Yulianto + Rini</h3>
<p>Ld. Tukangan Dn II/224 Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Putri</li>
<li>Elang</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1413</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Drs. Hanani Nasheh +</h3>
<h3>Khifdiah Yuliati</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Gania</li>
<li>Farhan</li>
<li>Fais</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1421</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Suhardi + Siti Djaziroh</h3>
<p>Panggeran XII    Triharja, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Ita Ikhsaniati</li>
<li>Iin Zamanita</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1422</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Drs.   Baharuddin  + Pandan Wilis</h3>
<p>Panggeran XII Triharja, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Athif Ka’isah</li>
<li>Mohammad Zaid, RA</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1423</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Drs. Syamsuddin + Watik</h3>
<h3>Panggeran XII, Triharja, Sleman, Yogyakarta</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Ellya</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1424</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h1>Ahmad Zaidi, SE + Lidarti</h1>
<h1>Kompl. BATAN Serpong, Jawa Barat</h1>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Tika</li>
<li>Fatharani Putri</li>
<li>Irham Naufal Yulian</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1425</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Zaenuri + Ratri</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">1. m</p>
<p>2.</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1431</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Moh. Qomaruddin, B Sc +</h3>
<h1>Dra.   Herawati</h1>
<h1>Blunyah Gede 51 A XII/30 Yogyakarta</h1>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Erma Yuliantaufiq</li>
<li>Septian Erma Putra</li>
<li>Febrina Erma Putri</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1432</p>
</td>
<td width="230" valign="top">Moh.   Hasanuddin, SH +</p>
<h1>Nunis   Ani Haniah</h1>
<h1>Perum. Candi Gebang Permai   Blok C/3 Yogyakarta 55283</h1>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Radite Hanundita Alfan Putra (Ifan)</li>
<li>Anita</li>
<li>Putri</li>
<li>Hanun</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1433</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Rakhmad Sayogya +  Siti Lestari</h3>
<h3>Jl.   Raya Wanasari, Yogya</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Tisa</li>
<li>Manda</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1434</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Abdul Muid Sofyan</h3>
<h3>Kutu Dukuh, Sinduadi, Yogyakarta,   tlp. 0274-54335</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Ryo Arjian</li>
<li>Cindy</li>
<li>Ayu Ramdani</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1435</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Abd.   Ghafur Mualim  + Nurrachmah</h3>
<h1>Kutu Dukuh, Sinduadi, Yogyakarta,   tlp. 0274-54335</h1>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Attaya Ghoniya Putri</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1451</p>
</td>
<td width="230" valign="top">Jati Purnawati   + Sam Sutrisno</p>
<p>Blunyah, Trimulyo, Sleman</td>
<td width="219" valign="top">1.   Mohammad Fallah</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1461</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Eni   Trisnowati +  Jono</h3>
<p>Cebongan.   Mlati, Sleman</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Elma Alfaningrum</li>
<li>Nanang Haryono</li>
<li>Aminda Hastaningrum</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1462</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Tuti Budiart + Babang Rohadi</h3>
<h3>Nandan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Dila Alifandi</li>
<li>Alfan</li>
<li>Rafli</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1363</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Yuyun Yilaikah + M. Halabi, S Ag</h3>
<p>Nandan,   Sariharjo, Ngaglik, Sleman</td>
<td width="219" valign="top">1. Ahmad Wajih</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1464</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Muzaroh Sarwanto + Ny. Suciati</h3>
</td>
<td width="219" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1471</p>
</td>
<td width="230" valign="top">Nur Andari +  Tri Nugroho</td>
<td width="219" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1151</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Budi   Suyanto + Eny Yulianti</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">
<ol>
<li>Mohammad Yulianto</li>
<li>Mohammad Alfan Lufianto</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="53" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="52" valign="top">
<p align="right">1152</p>
</td>
<td width="230" valign="top">
<h3>Hari   Subagyo + Listiyanti</h3>
</td>
<td width="219" valign="top">1.Yahya</td>
</tr>
</tbody>
</table>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marzanianwar.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marzanianwar.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marzanianwar.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marzanianwar.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marzanianwar.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marzanianwar.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marzanianwar.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marzanianwar.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marzanianwar.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marzanianwar.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=189&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/30/krandah-h-somodimejo-no-induk-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3313d5024cd0f2985d6c1506aa045f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marzani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>H. Damanhuri, MBE</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/13/h-damanhuri-mbe/</link>
		<comments>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/13/h-damanhuri-mbe/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 01:14:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
				<category><![CDATA[GALERY FOTO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marzanianwar.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=176&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_177" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-177" title="DAMAN" src="http://marzanianwar.files.wordpress.com/2009/09/daman2.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Bpk. dan Ibu H. Damanhuri berpose dengan pasangan penganten Hapyy-Elfa putera Bpk. H. Marzani Anwar " width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Bpk. dan Ibu H. Damanhuri berpose dengan pasangan pengantin Hapyy-Elfa putera Bpk. H. Marzani Anwar </p></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marzanianwar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marzanianwar.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marzanianwar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marzanianwar.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marzanianwar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marzanianwar.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marzanianwar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marzanianwar.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marzanianwar.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marzanianwar.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=176&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/13/h-damanhuri-mbe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3313d5024cd0f2985d6c1506aa045f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marzani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://marzanianwar.files.wordpress.com/2009/09/daman2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DAMAN</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hj. Sumarni Anwar Dhani</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/13/hj-sumarni-anwar-dhani/</link>
		<comments>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/13/hj-sumarni-anwar-dhani/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 01:07:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
				<category><![CDATA[GALERY FOTO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marzanianwar.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=172&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_171" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-171" title="Ibu Hj. Sumarni Anwardhani (kanan) dan Ibu Hj. Hadiprawito" src="http://marzanianwar.files.wordpress.com/2009/09/mbah-baciro.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Ibu Hj. Sumarni Anwardhani dan Ibu Hj. Hadiprawito " width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Ibu Hj. Sumarni Anwardhani dan Ibu Hj. Hadiprawito </p></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marzanianwar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marzanianwar.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marzanianwar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marzanianwar.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marzanianwar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marzanianwar.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marzanianwar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marzanianwar.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marzanianwar.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marzanianwar.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=172&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/13/hj-sumarni-anwar-dhani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3313d5024cd0f2985d6c1506aa045f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marzani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://marzanianwar.files.wordpress.com/2009/09/mbah-baciro.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ibu Hj. Sumarni Anwardhani (kanan) dan Ibu Hj. Hadiprawito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bpk. H. Mashoed Heroesoesanto</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/10/berita-bergambar/</link>
		<comments>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/10/berita-bergambar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 07:53:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
				<category><![CDATA[GALERY FOTO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/10/berita-bergambar/</guid>
		<description><![CDATA[



       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=160&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if !mso]&gt;--><br />
<span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--></span></p>
<div id="attachment_158" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-158" title="Foto Keluarga " src="http://marzanianwar.files.wordpress.com/2009/09/img_6528.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Bpk. dan Ibu H. Masyhoed Heroesoesanto " width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Bpk. dan Ibu H. Mashoed Heroesoesant, mantan Ketua Trah Paguyuban Surodimejan </p></div>
<p><!--[endif]--></p>
<p><img src="/DOCUME%7E1/aaa/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marzanianwar.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marzanianwar.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marzanianwar.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marzanianwar.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marzanianwar.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marzanianwar.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marzanianwar.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marzanianwar.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marzanianwar.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marzanianwar.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=160&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/10/berita-bergambar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3313d5024cd0f2985d6c1506aa045f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marzani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://marzanianwar.files.wordpress.com/2009/09/img_6528.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Foto Keluarga </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/aaa/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SUSUNAN PENGURUS TRAH SURODIMEDJAN PERIODE 2008-2010</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/10/susunan-pengurus-trah-surodimedjan-periode-2008-2010/</link>
		<comments>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/10/susunan-pengurus-trah-surodimedjan-periode-2008-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 02:52:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
				<category><![CDATA[PROFIL TRAH SURODIMEJAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marzanianwar.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Rois’Am
Drs KH Muhammad Badawi
Drs H Mashud Marzuki
Dewan Penasehat
Ketua                     : Drs H Muhadjir Prasetyo
Anggota                 :

Drs H Mashoed Heroesoesanto
Zurkoni, Bsc
Drs H Marsudi

Pengurus
Ketua                        : Drs H Damanhuri, MBA
Wakil Ketua            : Drs H Djuremi Abdullah
Sekretaris                : Arief Suistya, SE
Wk. Sekretaris       : Moch Komarudin,SE
Bendahara               : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=155&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rois’Am</p>
<p>Drs KH Muhammad Badawi</p>
<p>Drs H Mashud Marzuki</p>
<p><strong>Dewan Penasehat</strong></p>
<p>Ketua                     : Drs H Muhadjir Prasetyo</p>
<p>Anggota                 :</p>
<ol>
<li>Drs H Mashoed Heroesoesanto</li>
<li>Zurkoni, Bsc</li>
<li>Drs H Marsudi</li>
</ol>
<p><strong>Pengurus</strong></p>
<p>Ketua                        : Drs H Damanhuri, MBA</p>
<p>Wakil Ketua            : Drs H Djuremi Abdullah</p>
<p>Sekretaris                : Arief Suistya, SE</p>
<p>Wk. Sekretaris       : Moch Komarudin,SE</p>
<p>Bendahara               : Sudarto, SE</p>
<p>Wk Bendahara       : Dra Siti Kusniah Siswanto</p>
<p>Seksi Humas           : Suhardi, BA</p>
<p>Edwin, SH</p>
<p>Seksi Pemuda         : H Abdul Gofar Mu’alim, SE</p>
<p>M Arif Kurniawan, MT</p>
<p><strong>Komisaris    :</strong></p>
<p>1. Kel H Somodimedjo       : Drs Asbani Anwar</p>
<p>2. Kel H Mertodiryo            : Fatah</p>
<p>3. Kel Ki Ali Hardjo              : Hadi Susanto</p>
<p>4. Kel H Kromodiharjo      : Drs H Mirza Erapunagi,Msi</p>
<p>5. Kel Ki Kromodimedjo     : Hadiyatno</p>
<p>6. Kel H Prawirohardjono  : Dahron Helmi</p>
<p>7  Kel H Rifa’I                          : Sujadi Atmojo</p>
<p>8. Kel H Marto Prasetyo     : Hasto Nugroho, SE</p>
<p>9  Kel H Mawardi                   : Jumali</p>
<p>10. Kel H Masyhuri              : Zungamah</p>
<p>11. Kel H Partodimedjo      : Mukhlis</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marzanianwar.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marzanianwar.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marzanianwar.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marzanianwar.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marzanianwar.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marzanianwar.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marzanianwar.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marzanianwar.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marzanianwar.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marzanianwar.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=155&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/10/susunan-pengurus-trah-surodimedjan-periode-2008-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3313d5024cd0f2985d6c1506aa045f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marzani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KRANDAH KEL. MERTODIRYO, No. Induk: 2</title>
		<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/06/krandah-kel-mertodiryo-no-induk-2/</link>
		<comments>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/06/krandah-kel-mertodiryo-no-induk-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 02:52:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
				<category><![CDATA[DAFTAR TRAH SURODIMEJAN]]></category>
		<category><![CDATA[Hasyim Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Muh. Sudjak]]></category>
		<category><![CDATA[Ny. Djamilah]]></category>
		<category><![CDATA[Ny. Hasyimah]]></category>
		<category><![CDATA[Ny. Mardilah]]></category>
		<category><![CDATA[Ny. Walidjah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marzanianwar.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[



NO. URUT


NO. INDUK


 
 
KEP. KELUARGA 


 
 
PUTERA-PUTERI 









2

H. Mertodirjo
Tekik, Bangunkerto, Turi, Sleman, Yogyakarta


Ny. Djamilah
Muh.   Sudjak
Ny.   Walidjah
Hasyim   Anwar
Ny.   Mardilah
Ny.   Hasyimah







21

H.   Djaelani / Ny. Djamilah
I dem No.   Induk 12








22

Mohammad   Sudjak
Jl. Pugeran 15 Yogyakarta


Muh.  Khamim &#8211; )
Asmuri
Suryati







24

Hasyim   Anwar
Jl. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=132&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="62" valign="top">
<p align="center"><strong>NO. URUT</strong></p>
</td>
<td width="77" valign="top">
<p align="center"><strong>NO. INDUK</strong></p>
</td>
<td width="193" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>KEP. KELUARGA </strong></p>
</td>
<td width="197" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>PUTERA-PUTERI </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">2</p>
</td>
<td width="193" valign="top">H. Mertodirjo</p>
<p>Tekik, Bangunkerto, Turi, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Ny. Djamilah</li>
<li>Muh.   Sudjak</li>
<li>Ny.   Walidjah</li>
<li>Hasyim   Anwar</li>
<li>Ny.   Mardilah</li>
<li>Ny.   Hasyimah</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">21</p>
</td>
<td width="193" valign="top">H.   Djaelani / Ny. Djamilah</td>
<td width="197" valign="top">I dem No.   Induk 12</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">22</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Mohammad   Sudjak</p>
<p>Jl. Pugeran 15 Yogyakarta</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Muh.  Khamim &#8211; )</li>
<li>Asmuri</li>
<li>Suryati</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">24</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Hasyim   Anwar</p>
<p>Jl. Diwantoko II RT. 01/03 Serang, Jawa Barat</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Toto   Hendrato</li>
<li>Hendratmoko</li>
<li>Herawati</li>
<li>Tati   Heranti</li>
<li>Yanto</li>
<li>Heru</li>
<li>Sobari</li>
<li>Sapari</li>
<li>Erni</li>
<li>Itje</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">025</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Subardiyan   / Ny. Mardilah</p>
<p>Pesanggaran, Jajg,   Banyuwangi, Jawa Timur</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Thamrin   B Widyatmoko</li>
<li>Isni   Sudarti</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">26</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Moh.   Alawan / Ny. Hasyimah</p>
<p>Perumnas Mojosongo,   Solo</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Nurcahyo   Handyani</li>
<li>dr.   Heru Prajadmo</li>
<li>Astuti</li>
<li>Nunik</li>
<li>Cuk   Munjit</li>
<li>Henri</li>
<li>Ipah</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">222</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Asmuri</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Brusman   Kenedi</li>
<li>Edwin   Edrianti</li>
<li>Abdul   Haris N.G</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">223</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Moh.   Abdul Gani BE/</p>
<p>Ny.   Suryati</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li></li>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">231</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Bambang   Widyanto</p>
<p>Tosaren, Srumbung,   Magelang</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Anis   Muflikhatun</li>
<li>Abul   Hasan Al as’ari</li>
<li>Mar’atul   Azizah</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">232</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Marsigit   Sugondo</p>
<p>Jagang Kidul, Salam,   Magelang</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Yogi</li>
<li>Lidia   Astuti</li>
<li>Rama   Nurdiansah</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">233</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Sarbini   /Ny. Sri. Anj. Purwaningsih</p>
<p>Jagang Kidul, Salam,  Magelang</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Danang   Dwi S. Kurniawan</li>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">234</p>
</td>
<td width="193" valign="top">/</p>
<p>Ny.   Astuti C. Handayani</p>
<p>Jagang Kidul, Salam,   Magelang</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Nurul   Lutfi Herdayani</li>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">241</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Toto   Hendarto / Ny. Yoyoh Rohayah</p>
<p>Jl. Jiwantaka I RT. 02/03 No. 32 Serang</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Novita   Hendrayani</li>
<li>Hilda   Novianti</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">242</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Hendratmoko</p>
<p>Jl. Gerong Blok C Cilegon, Jawa Barat</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Yudistira</li>
<li>Leo   Agusta</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">243</p>
</td>
<td width="193" valign="top">…… +   Hendrawati</p>
<p>Jl. Jiwantaka I Serang</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li></li>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">244</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Erwan   Sutrisno/ Ny. Tati Hartanti</p>
<p>Perum. Citra Garden I,</p>
<p>Jl. Citra Tirta, Blok F-4/12 Kalideres, Jakarta Barat</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Rani   Rahmawati</li>
<li>Vanny   Hafianti</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">245</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Mas   Hesyanto + Umi Kurniasih</p>
<p>Jl. Jiwantaka II RT. 01/03 No. 9 Serang 42114 (Lontar)</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Ajeng   Sri Utami Heryaning­tyas</li>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">246</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Herususanto</p>
<p>Jl. Perunggu No. 1A Jakarta</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Memet   H</li>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">247</p>
</td>
<td width="193" valign="top">/</p>
<p>Ny. Erna   Herlina</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li></li>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">248</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Sobari</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li></li>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">249</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Sopari +   Ny. Sopary</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li></li>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">250</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Gempur   Rianto + Erni Hermawati</p>
<p>Concast SSP PT. KS   (AL-KAN) Blok C 11 No. 19 Pondok Cilegon, Serang</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>B.   Nugroho Aryanto</li>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">251</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Thamrin   Bb. Widyatmoko</p>
<p>Kompl. Antilop Maju, Jatiwaringin C-9/134 Pondok Gede, Telp. 8462784   Bekasi</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Widhi   Asmoro</li>
<li>Diah   Widianti</li>
<li>Agustin   Khusnul Kht.</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">252</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Usman Effendi + Ny. Isni Sudarti</p>
<p>Pesanggaran, Jajag, Bumiwangi, Jawa Timur</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Edy   Ismanto</li>
<li>Budi   Utomo</li>
<li>Didik   Purnomo</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">261</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Marwan / Ny. Nur Cahya Handayani</p>
<p>Kompl. AL Jl. Pejaba,   Pondok Gede, Jatiwaringin Asri Bekasi</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>…………………..</li>
<li>Dina</li>
<li>Bentar</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">262</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Dr. Heru   Prajadmo</p>
<p>Kompl. Minomartani,</p>
<p>Jl. Gurameh, Sleman, Yogyakarta</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Jefri</li>
<li>Lina</li>
<li>Dona   Agustina Prajadmo</li>
<li>Dini   Agustina Prajadmo</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">263</p>
</td>
<td width="193" valign="top">Ir. HM. Syuhada / Ny. Astuti</p>
<p>Villa Pejaten Mas Blok A/19 a, Pasar Minggu,   Jaksel</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li>Dodi</li>
<li>Petra</li>
<li>Dani</li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="62" valign="top"></td>
<td width="77" valign="top">
<p align="right">264</p>
</td>
<td width="193" valign="top">…………/ Ny.   Nunik</p>
<p>Perum. Mojosongo,   Kartosuro, Solo</td>
<td width="197" valign="top">
<ol>
<li></li>
<li></li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marzanianwar.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marzanianwar.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marzanianwar.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marzanianwar.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marzanianwar.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marzanianwar.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marzanianwar.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marzanianwar.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marzanianwar.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marzanianwar.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marzanianwar.wordpress.com&blog=3086091&post=132&subd=marzanianwar&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marzanianwar.wordpress.com/2009/09/06/krandah-kel-mertodiryo-no-induk-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3313d5024cd0f2985d6c1506aa045f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Marzani</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>