Resonansi Tafsir: PASAL SENDA GURAU

Featured

Marzani Anwar

QS Muhammad /47: 36

ِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

 

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.:

Meskipun hidup ini “paribasan  mung mampir ngombe” (numpang minum), tapi ngombe-ne sering dilama-lamain, biar bisa sambil kongkow. Itulah manusia, memiliki kesukaan ngobrol sana-sini, bercanda , dan yang ” diombe” juga bermacem-macem, ada cocacola, kopi, susu kental manis, teh tubruk, dan sebagainya.

Dalam ayat tersebut, Allah bukannya melarang, tapi menyindir saja. Ada kata LA’IB di situ, yang menurut Quraisy Shihab adalah suatu perbuatan yang dilakukan bukan untuk suatu tujuan yang wajar, tidak membawa manfaat atau tidak untuk mencegah kemungkaran atau kemudharatan,  Kadang hanya untuk mehghabiskan waktu semata.  Sedangkan kata LAHW adalah suatu perbuatan yang menyebabkan kelengahan pelakunya, dan atau pekerjaan yang tidak memberi manfaat. ( lihat buku: Lajnah Tafsir Kemenag, Maqasidus Syariah hal. 169) . Kata LAHW yang masdarnya  LAHWAN sering di-Jawakan menjadi LELAHANAN, yang artinya, ngobrol sana sini, tidak ada ujungpangkalnya. di ayat yang lain, kata Lahw  berati ” perkataan yang tidak berguna” ( lihat QS. Luqman /31:6)

Ayat yang sepadan dengan itu ada di QS. Al. Ankabut/29: 64, al Hadid/57: 20, yang menyebutkan bahwa semua kesenangan di dunia itu hanya MENIPU.

Pada sisi lain, Quraisy Shihab dengan mengutip pendapat mufassir  Tabatabai’yi , bahwa  kata “permainan” dalam ayat tersebut merupakan gambaran dari awal perkembangan manusia hingga mencapai kedewasaannya. Kata ALA’IB merupakan gambaran keadaan bayi, yang merasakan enaknya perbuatan bermain walau ia sendiri tidak tahu  tujuan apa apa kecuali bermain dan bermain. Disusul kemudian dengan AL-LAHW,. yakni ksesukaan. berceloteh, yang juga dilakukan oleh anak anak. Artinya bahwa, kesukaan bersenang senang yang tak jelas tujuannya itu sebenarnya, dunianya anak-anak. Makanya kalau orang dewasa  kok masih suka bermaln-main,  dibilang  “aya cah cilik/ seperti anak kacil”.

Masih. tentang pendapat  Tabataiy tadi, bahwa kesukaan bagi orang dewasa disebut sebagai   AZ- ZINAH yang artinya perhiasan. Itulah kesenangan kalangan  para pemuda dan remaja. (Azzina di sini jangan diartikan berzina). Karena perbuatan mereka suka berhias dan bergaya. menyusul kemudian perbuatan TAFAKHUR , yang artinya berbangga. Berikutnya adalah “takassur bil amwal wal aulad” , yaitu suka memperbanyak harta dan anak. Pelakunya jelas orang dewasa. Sekali lagi, Allah bukannya melarang kalian menjadi orang kaya, berbangga dengan kekayaannya, dan berbangga dengan anak anaknya. Tapi diingatkan di ayat 36 S. Muhammad tersebut, bahwa kesenangan di dunia ini adalah kesenangan yang PALSU.  Kenapa palsu, karena kesenangan dalam kegiatan seperti itu , pasti ada keberakhiran, atau kebosanan. Main gaple, ndengerin lagu, nonton fiilm,  jajan sate, makan pizza hut, minum racun eh w’dank ronde, dan apa saja,  pasti ada tingkat kebosanannya. Bahkan bagi yang usianya di atas 55 tahunan, disediakan roti enak-enak kayak brownis, oleh para  anak, cucu atau temen,  malah jawabe ” wis do panganen kono,  aku iki wae singkong goreng” ( saya cukup singkong gorengnya saja).

Di S. al A’nkabut/29: 64. Allah memaklumkan  pula atas kesenangan manusia itu, tapi harus ingat, bahwa  hidup yang sebenar-benarnya adalah DI AKHERAT kelak.

CUACA YANG BERUBAH CEPAT

📈Perubahan cuaca tgl 28 Maret 2017 di Jakarta dan juga di tempat lain di Indonesia. Dari pagi hingga siang bahkan hingga sore pukul 15.30 an panas sangat menyengat Tapi hanya dalam tempo sekitar 15 -20 menit cuaca berubah cepat, didahului oleh arakan mendung yang terus menebal, dan langsung hujan lebat, disertai angin kencang. Demikian beratnya curahan hujan dan angjn itu hingga terjadi banjir di beberapa tempat di kawasan Jabodetabek , dan di wilayah lainnya. Pohon-pohon pun bertumbangan dan hujan es di sebagian wilayah Jakarta
📉Perubahan secepat itu sering terjadi belakangan ini, dan nyaris tak sempat terbaca sebelumnya oleh BMKG dan oleh masyarakat umum. Para ahli biasanya mengidentifikasinya sebagai “anomali cuaca” atau transisi musim.

🎡Apapun namanya, peristiwa itu adalah sebuah peringatan akan DATANGNYA HARI KIAMAT yang entah kapan datangnya. Tapi jelas KIAMAT ITU DATANGNYA JUGA TIDAK TERPREDIKSI dan akan secara TIBA-TIBA

Allah SWT berfirman:

وَلِلّٰهِ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ؕ وَمَاۤ اَمْرُ السَّاعَةِ اِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Dan milik Allah (segala) yang tersembunyi di langit dan di bumi. URUSAN KEJADIAN KIAMAT ITU HANYA SEPERTI SEKEJAP MATA ATAU LFBIH CEPAT LAGI. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. An-Nahl/16: 77)

Demikian, sekedar untuk saling mengingatkan.

Wallahua’lam bissawwab

INDEKS KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Indeks Kerukunan Umat Beragama 2016 Naik

Menag Lukman merilis Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia tahun 2016. (foto: arief)
Jakarta (Kemenag) — Indeks kerukunan umat beragama di Indonesia tahun 2016 mengalami kenaikan jika dibanding dengan indeks tahun sebelumnya. Hal ini terungkap pada Launching Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia Tahun 2016 yang digelar Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balitbang-Diklat Kemenag di Jakarta.

Laporan Puslitbang menyebutkan, indeks kerukunan umat beragama 2016 berada pada angka 75,47%, naik 0,11% dari tahun sebelumnya, yakni 75,36%. Ada tiga variable yang diukur, yaitu: aspek kesetaraan, toleransi, dan kerjasama. Kalau dua aspek pertama sudah di atas 76% (78,4% dan 76,5%), aspek kerjasama baru mencapai angka 42%.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan hasil survei kerukunan umat beragama ini menunjukkan trend positif dan sepatutnya diapresiasi. Meski demikian, Menag tidak menutup mata dengan masih adanya sejumlah pekerjaan rumah dan tantangan yang harus diperbaiki ke depan, utamanya dalam membangun kerjasama antarumat beragama.

“Semua aspek kerukunan itu harus terus kita pupuk dan tingkatkan bersama-sama ke depan. Bukan hanya oleh Pemerintah, tetapi juga oleh semua elemen masyarakat,” tutur Menag, Selasa (14/03).

Menurut Menag, kerukunan bukan hanya pada tingkat pemahaman, melainkan juga sampai tingkat kesadaran yang bisa diejawantahkan ke dalam kenyataan sosial keberagamaan. Bagi umat beragama, agama harus bisa menjadi perekat persaudaraan, menjadi faktor pemersatu dan pemelihara kemajemukan.

“Marilah kita terus bekerja memperkuat layanan-layanan strategis demi terwujudnya kerukunan yang berkualitas dan produktif, demi kemaslahatan bersama, yang pada gilirannya akan menyokong perbaikan output survei di masa mendatang,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Puslitbang Bimas Islam dan Layanan Keagamaan Muharram Marzuki melaporkan bahwa laporan tahunan ini merupakan hasil penelitian terhadap data dan informasi yang berkembang di media massa, cetak dan elektronik. Laptah ini rutin dirilis oleh Puslitbang sejak tahun 2010.

Muharram berharap hadirnya Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia Tahun 2016 ini bisa menjadi bahan refleksi dalam memperbaiki kualitas kehidupan keagamaan mendatang. “Dengan hadirnya laporan ini, diharapkan bimas-bimas dapat lebih berupaya meningkatkan kualitas kerukunan di Indonesia dengan berbagai suku bangsa,” harapnya.

Kegiatan Launching ini dihadiri oleh para pimpinan majelis agama, para pimpinan ormas keagamaan serta para pejabat eselon I dan II di lingkungan Kementerian Agama.

Adapun narasumber dalam kegiatan ini adalah Guru Besar Hukum Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta Prof Dr M Atho Mudzhar dan Guru Besar Sosiologi Agama UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Bambang Pranowo MA. (Didah/mkd/mkd)

1171
DIBACA

R
PESAN RASULULLAH SAW TERKAIT AKSI BELA ISLAM 212 YANG DISAMPAIKAN LEWAT MIMPI
#####

(Jika Antum Cinta Rasulullah saw, laksanakan amanahnya dengan bantu share pesan ini)

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Saudaraku seiman yang dirahmati Allah. Saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah seorang manusia biasa yang begitu bersyukur dilahirkan sebagai umat Rasulullah saw, seorang hamba yang lemah dari Tuhan Yang Maha Kuat, seorang hamba yang bodoh dari Tuhan Yang Maha Mengetahui, seorang hamba yang kecil dari Tuhan Yang Maha Besar dan seorang hamba yang hina dari Tuhan yang Maha Mulia.

Saya merasa begitu iri melihat saudara-saudara saya seiman bisa menjadi ambil bagian dalam Aksi Bela Islam 212 yang saya yakin mendapatkan pahala yang begitu besarnya dari Allah swt, terlebih ketika kalian berkumpul dalam jamaah yang begitu besarnya, berdzikir mengagungkan nama Allah, mendirikan shalat jumat berjamaah dan kemudian juga tak lupa bershalawat yang bahkan Malaikat penghitung air hujan pun tak mampu menghitung pahala shalawat yang kalian baca dalam kumpulan jutaan jamaah yang berkumpul dalam seruan aksi bela islam 212 yang lalu sebagai para pembela Quran yang kita tahu merupakan Kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah saw.

Meskipun saya tidak bisa ikut ambil bagian dalam Aksi Bela Islam 212 karena alasan domisili saya yang jauh di ujung timur Bumi Indonesia yakni tepatnya di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, namun kali ini izinkan saya yang bodoh ini untuk menyampaikan apa yang dipesankan Rasulullah saw terkait Aksi Bela Islam 212 yang lalu yang disampaikan kepada saya melalui mimpi tadi malam yang Alhamdulillah Allah izinkan saya untuk berminpi bertemu Rasulullah saw.

Saya sangat yakin bahwa sosok yang mendatangi saya dalam mimpi saya tadi malam adalah benar-benar sosok Rasulullah saw karena Rasulullah saw pernah bersabda:

Dari Anas ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda,
“Siapa melihatku dalam mimpi, berarti ia telah melihatku, sebab setan tidak bisa menjelma sepertiku, dan mimpi seorang mukmin adalah sebagian dari empat puluh enam bagian kenabian.” (HR. Bukhari Muslim No. 6479)

Sudah menjadi kebiasaan saya bahwa setiap kali mau tidur, saya senantiasa membaca doa tidur dan kemudian melanjutkannya dengan membaca shalawat kepada Rasulullah saw beserta keluarga dan ahlul baitnya secara terus menerus tanpa henti hingga saya tertidur. Sebelum saya tidur saya berdoa dan memohon ampun kepada Allah atas ketidaksertaan saya dalam Aksi Bela Islam 212 yang saya yakini bahwa ALLAH Yang Maha Membolak-Balikkan Hati manusialah yang berada dibalik Aksi Belas Islam tersebut.

Saya berdoa dalam hati,
“Maafkan hamba Yaa Rabb. Maafkan hamba yang banyak dosa ini yang tidak bisa memenuhi panggilan-Mu dalam seruan Aksi Bela Islam 212 yang lalu. Engkau Maha Mengetahui Yaa Rabb apa yang menjadi alasan hamba tidak bisa memenuhi seruan-Mu dalam aksi tersebut. Maafkan hamba Yaa Rabb karena tidakbisa bergabung dengan saudara-saudara hamba disana. Maafkan Yaa Rabb sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf.”

Sambil terus menyesal dalam hati, lisan ini tidak berhenti melafalkan shalawat kepada Rasulullah saw beserta keluarga dan ahlul baitnya hingga akhirnya saya pun tertidur.

“Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyidina muhammad wa ‘alaa aali sayyidina muhammad wa ‘alaa ahli baitihi.”
(Shalawat inilah yang terus menerus saya baca hingga saya tertidur pulas.)

Belum berapa lama saya terlelap, tiba-tiba di dalam mimpi saya melihat ada dua sosok bercahaya turun dari langit dan menembus langit-langit kamar saya dan kemudian kedua sosok tersebut berdiri di hadapan saya dan seketika saja ruang kamar saya menjadi terang benderang penuh cahaya yang berasal dari kedua sosok ini.

Lambat laun, cahaya yang terpancar dari kedua sosok tersebut memudar dan perlahan wajah keduanya mulai terlihat jelas oleh saya. Begitu melihatnya, saya kaget bukan kepalang, ternyata kedua sosok ini adalah sosok yang sama yang pernah mendatangi saya dalam mimpi saya sebelumnya.

Keduanya secara bersamaan mengucapkan salam kepada saya,
“Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh.”

Saya menjawabnya,
“Wa ‘alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh Yaa Rasulullah Yaa Amirul Mukminin.”

Ternyata kedua sosok yang mendatangi saya ini adalah dua sosok yang sama yang pernah mendatangi saya dalam mimpi saya sebelumnya yang memperkenalkan diri mereka sebagai “Muhammad bin Abdullah” dan “Ali bin Abi Thallib”.

Saya memulai pembicaraan,
“Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin. Engkau datang lagi Wahai Rasulullah Wahai Kakek Guru. Dan Engkau pun datang lagi Wahai Amirul Mukminin. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah untuk Engkau Wahai Rasulullah Dan Wahai Amirul Mukminin.”

Rasulullah saw menjawab,
“Hanya atas izin Allah sematalah aku dan washiku Ali bisa datang menemuimu wahai cucuku. Kami datang untuk mengobati gundah gulanamu dan kesedihanmu atas ketidakikutsertaanmu dalam seruan Aksi Bela Islam yang dilakukan saudara-saudaramu hari jumat yg lalu. Allah menyampaikan pesan kepadaku bahwa Niat cucu telah sampai kepada-Nya meskipun cucu tidak bisa hadir dan menjadi bagian dalam aksi tersebut bersama saudara-saudaramu.”

Saya menjawab,
“Tapi Wahai Rasulullah, bukankah saat itu saya tidak ada bersama mereka dalam aksi tersebut?”

Rasulullah saw menjelaskan,
“Cucu memang tidak bersama mereka di dalam aksi tersebut, tapi cucu bersama mereka dengan niat cucu yang tulus. Niat cucu itulah yang sampai kepada Allah dan Allah telah mencatatnya. Ketahuilah wahai cucuku, betapa banyak para syuhada dari umatku yang meninggal bukan di medan peperangan, tapi mereka meninggal di atas tempat tidurnya karena niatnya. Itulah keutamaan niat wahai cucuku.”

Saya menjawab,
“Sampaikan terima kasihku kepada Allah Wahai Rasulullah. Saya sungguh-sungguh terharu ternyata Allah mendengar dan menerima niat tulus saya meskipun saya tidak bersama saudara-saudara saya dalam aksi tersebut.”

Rasulullah saw menjawab,
“Ketahuilah cucuku. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Tak perlu lagi aku sampaikan terima kasihmu itu.”

Saya menjawab,
“Maaf Wahai Rasulullah. Saya lupa dan saya khilaf.”

Rasulullah saw melanjutkan pembicaraannya,
“Wahai cucuku, sadarkah cucu apa hikmah dari aksi bela islam yang dilakukan oleh saudara-saudaramu pada hari jumat yang lalu?”

Saya menjawab,
“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Rasulullah saw tersenyum dan kemudian kembali menjelaskan,
“Hikmah darinya adalah bahwa hakikatnya Allah Yang Maha Menggerakkanlah yang telah memperjalankan saudara-saudaramu untuk menghadiri aksi tersebut. Allah Yang Maha Membolak-Balikkan Hatilah yang telah menggerakkan hati mereka semua. Bukan saudaramu Habib Rizieq. Habib Rizieq hanyalah perantara bagi Allah yang menyerukan ajakan aksi tersebut tapi Allah jualah yang menyampaikan seruannya kepada hamba-hamba-Nya yang telah dipilih-Nya sendiri. Ketahuilah cucuku bahwa teramat mudah bagi Allah untuk melakukan itu semua.”

Saya menjawab,
“Sami’na wahai Rasulullah.”

Rasulullah saw kembali melanjutkan,
“ketahuilah cucuku bahwa Allah telah memilih negerimu Indonesia dan telah memilih hamba-hamba-Nya yang sholeh dan taat yang tinggal di dalamnya. Bukankah aku pernah mengatakan bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur. Ketahuilah cucuku bahwa yang aku maksud itu adalah negerimu Indonesia, negeri yang jauh yang berada di belahan timur bumi namun memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Bukankah itu menjadi keberkahan tersendiri bagi negerimu? Allah lah yang telah memilih negerimu menjadi negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Allah sedang memberikan tanda-tanda akan kebenaran perkataanku kepada dunia kepada orang-orang yang memusuhi Islam bahwa kalianlah penduduk muslim Indonesia yang kelak mengemban amanah untuk membawa kejayaan peradaban dan rahmat bagi penduduk bumi ini dan membebaskan dan memerdekakan saudara-saudaramu yang berada di belahan Bumi Palestina. Kalianlah yang kelak akan mengibarkan “arroya” yakni benderaku yang terbuat dari kain berwarna hitam dan bertuliskan dua kalimat syahadat.”

Saya menjawab,
“Sami’na wahai Rasulullah. Sungguh saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari penduduk muslim Indonesia yang akan menjadi pemegang amanah terakhir dari-Nya untuk menjadi khalifatul ardhi yang sesungguhnya.”

Rasulullah saw melanjutkan,
“Sampaikan kepada saudara-saudaramu itu bersabarlah dalam jamaah. Teruslah melakukan amalan sholihah dan kembalilah kepada tauhid yang murni sambil terus saling mengingatkan satu sama lain dalam kebaikan. Kelak jika kalian melakukan apa yang aku pesankan ini, niscaya akan mendatangkan keridhaan Allah dimana jika Allah telah benar-benar ridha, maka Allah akan menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya dan menurunkan malaikat-malaikat-Nya.”

Rasulullah saw kemudian menambahkan,
“Sampaikan pula kepada saudara-saudaramu itu bahwa Allah Yang Maha Teliti telah menghitung jumlah kalian yang datang dalam aksi tersebut. Allah Maha Mengetahui niat-niat yang terucap dari dalam hati kalian semua. Ketahuilah bahwa jumlah kalian semua adalah 7,434,757 orang. Ketahuilah cucuku, bahwa tidak ada yang Sia-sia bagi Allah termasuk pula dengan jumlah saudara-saudaramu itu. Ada hikmah dari angka tersebut, karena Allah sendiri yang menghitungnya dan memastikan jumlahnya.”

Saya bertanya,
“Saya belum paham wahai Rasulullah. Apa gerangan hikmah dibalik angka tersebut?”

Rasulullah saw menjawab,
“Wahai Ali silahkan engkau lanjutkan dan sampaikan hikmah dibalik angka tersebut.”

Amirul Mukminin kw menjawab,
“Baik wahai Rasulullah.”

Kemudian Amirul mukminin menatapku dan memulai penjelasannya,
“Bagah angka jumlah saudaramu yang datang dalam aksi tersebut dengan bilangan Tuhan yakni angka 19. Berapa jumlahnya?”

Saya menghitungnya dan kemudian menjawab,
“7,434,757 dibagi 19 sama dengan 391,303. Wah ternyata angka tersebut habis dibagi 19. Subhanallah.”

Amirul Mukminin kw menjawab,
“Allah lah yang telah menghitungnya dan menetapkan sendiri jumlahnya. Sahabat kecilku, sekarang jumlahkanlah setiap angka dari hasil pembagian yang didapat.”

Saya kembali menghitungnya dan menjawab,
“Hasil baginya adalah 391,303. Kalau setiap angka ini dijumlahkan berarti 3+9+1+3+0+3 hasilnya tetap 19. Subhanallah. Kemudian apalagi wahai amirul mukminin?”

Amirul mukminin kw kembali menjelaskan,
“Bukankah aksi bela islam yang kalian lakukan disebut dengan Aksi 212? Sekarang kurangkan angka tersebut dengan angka 165 yang merupakan kodifikasi Iman, Islam dan Ihsan yaitu 1 Rukun Ihsan, 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Hitunglah seperti yang aku suruh. Berapa hasilnya?”

Saya kembali menghitungnya,
“212 dikurangi 165 sama dengan 47 wahai amirul mukminin.”

Amirul mukminin kw menjawab,
“Sahabat kecilku, tahukah ada apa dengan angka 47 itu? Angka tersebut adalah nomor surat di dalam Quran yang bernama Surat Muhammad. Artinya Aksi Bela Islam tanggal 2 desember itu sudah Allah tetapkan dalam lauhul mahfudz supaya kalian paham bahwa aksi tersebut adalah aksi damai bagi para pembawa rahmatan lil alamin untuk membela tauhid 165 yang dibawa oleh Nabi Muhammad dalam wujud Kitab Suci Al-Quran. Sekarang beritahu saya apa yang melatarbelakangi terjadinya aksi tersebut?”

Saya menjawab,
“Allah, Rasul-Nya dan Engkau lebih mengetahui wahai Amirul Mukminin. Tapi yang saya tahu bahwa aksi tersebut dilatarbelakangi oleh penistaan terhadap salah sayu ayat dalam Al-Quran yakni surat Al-Maidah ayat 51.”

Amirul mukminin kembali bertanya,
“Sekarang hikmah apa yang bisa kamu petik dari surat al-maidah ayat 51 tersebut diluar makna ayatnya itu sendiri? Gabungkan nomor urut surat al-maidah dengan nomor ayatnya, kemudian bagilah dengan bilangan Tuhan yakni angka 19.”

Saya menghitungnya dan menjawab,
“Surat al-maidah adalah surat dengan nomor urut 5 dari 114 surat dalam Quran. Jika digabungkan dengan nomor ayatnya berarti menjadi angka 551. Dan jika angka 551 ini dibagi dengan 19 maka hasilnya adalah 29. Subhanallah. Koq bisa wahai amirul mukminin?”

Amirul mukminin kw kembali menjawab,
“Ingat wahai sahabat kecilku, ini semua sudah Allah tetapkan dalam lauhul mahfudz-Nya dan semua sudah direncanakan dengan sangat teliti, dan begitu banyak hikmah di dalamnya sekiranya kamu mengetahui. Angka 29 adalah nomor surah dalam Quran yang bernama sura Al-Ankabut yang berarti laba-laba. Allah memberikan perumpamaan dalam Quran terkait binatang laba-laba ini supaya kita memperhatikan akan lemahnya jaring laba-laba. Tapi ketahuilah sahabatku bahwa sesungguhnya jaring laba-laba ini tidaklah lemah jika ia dibuat dan dirajut oleh si laba-laba dengan rapi dan teliti maka jaring tersebut akan menjadi kekuatan bagi laba-laba untuk menangkap binatang lain untuk menjadi makanannya. Begitupun halnya dengan kalian wahai saudaraku seiman dari negeri Indonesia. Hikmah dari aksi ini adalah agar kalian tetap selalu membuat dan merajut jaring laba-laba dalam ikatan persaudaraan ukhuwah islamiyah kalian. Jadilah kalian sebagai jaring laba-laba yang bersatu dan terikat dalam satu ikatan satu sama lain sehingga kalian menjelma menjadi kekuatan yang tidak bsia dihancurkan oleh orang-orang yang memusuhi islami. Janganlah kalian menjadi umat islam yang hanya menjadi buih di lautan yang banyak jumlahnya tapi terombang-ambing oleh arus lautan dan arus kehidupan dunia.”

Saya menjawab,
“Baik wahai Amirul Mukminin. Akan saya sampaikan pesan ini kepada saudara-saudaraku.”

Amirul Mukminin kw kembali menjelaskan,
“Sekarang kamu kalikan angka 551 yg merupakan simbol surat al-maidah ayat 51 dengan angka 212 yg merupakan simbol 2 desember. Kalikanlah dan berapa jumlahnya? Kemudian bagilah dengan bilangan Tuhan yakni angka 19. Apakah habis dibagi dengan angka 19?”

Saya kembali menghitungnya,
“551 dikali 212 sama dengan 116,812. Dan jika 116,812 dibagi dengan 19 maka hasilnya sama dengan 6148. Subhanallah ternyata hasil perkaliannya pun habis dibagi 19. Apa hikmah dari angka itu wahai Amirul Mukminin?”

Amirul mukminin kw menjelaskan,
“Sekarang Izinkan aku bertanya kepadamu? Berapa jumlah ayat al-quran seluruhnya?”

Saya menjawab,
“Kalau saya gak salah jumlahnya 6,236 ayat.”

Amirul mukminin kw menjawab,
“Benar sekali wahai sahabat kecilku. Jumlah ayat Al-Quran seluruhnya adalah 6,236 ayat. Nah sekarang kamu kurangi jumlah keseluruhan ayat Quran ini dengan hasil pembagian dari perkalian angka 551 dan 212 dengan angka 19.”

Saya menjawab,
“551 dikali 212 sama dengan 116,812 kemudian dibagi 19 sama dengan 6,148 dan jika 6,236 dikurangi 6,148 maka hasilnya sama dengan 88. Saya lebih tidak paham lagi wahai amirul mukminin.”

Amirul mukminin kw kembali bertanya,
“Sekarang kamu cari dalam Al-Quran, dari ke-114 surat di dalam Al-Quran, kira-kira surat apa yang jumlah ayatnya berjumlah 88 ayat?”

Saya mencarinya dan menjawab,
“Hanya ada dua surat wahai Amirul Mukminin yakni surat Al-Qashash dan surat Shad. Apa maksudnya wahai Amirul Mukminin?”

Amirul mukminin kw menjawab,
“Surat Al-Qashash adalah surat dalam Al-Quran dengan nomor urut 28 yang berarti Cerita atau Kisah sedangkan surat Shad adalah surat dalam Al-Quran dengan nomor urut 38 yang merupakan simbol dan perlambang dari Otak Kanan yang dimiliki oleh manusia yang merupakan bagian dari otak manusia yang berhubungan langsung dengan keimanan manusia dan juga dengan emosi manusia. Artinya apa? Artinya bahwa Allah menginginkan bahwa aksi bela islam 212 ini yang dihadiri oleh 7,434,757 hamba-hamba-Nya yang terpilih menjadi cerita dan kisah yang akan menjadi buah bibir bagi seluruh manusia di dunia, bagi seluruh penduduk negeri Indonesia dan bahkan bagi seluruh umat islam dimanapun. Aksi tersebut hendaknya menjadi cerita dan kisah akan bukti keimanan yang tinggi dari hamba-hamba-Nya yang dilambangkan dengan kedua surat tersebut yakni surat Al-Qashash dan surat Shad. Bukankah iman yang ada di dalam hati merekalah yang menggerakkan mereka untuk hadir dalam aksi tersebut? Kemudian sekarang kamu jumlahkan nomor surat 28 dan nomor surat 38 itu. Berapa hasilnya?”

Saya menghitungnya dan menjawab.
“28 ditambah 38 hasilnya sama dengan 66. Apa hikmahnya dari angka tersebut wahai Amirul Mukminin?”

Amirul mukminin kw menjawab,
“Dalam Ilmu Hisab Al-Jumal dimana setiap hirif hijaiyah memiliki nilai jumalnya masing-masing maka angka 66 ini adalah angka hasil penjumlahan dari huruf-huruf Alif yang bernilai 1, dua buah huruf Lam yang masing-masing bernilai 30 dan huruf Ha yang bernilai 5. Jika dirangkai menjadi alif lam lam ha yang menjadi kata ALLAH. Artinya bahwa hikmah dari aksi bela islam ini adalah merupakan seruan dan ajakan halus dari Allah untuk seluruh hamba-hamba-Nya yang beriman dari negeri yang bernama Indonesia ini untuk kembali hanya kepada ALLAH. Jangan meninggalkan ALLAH terlalu jauh dan jangan lupakan ALLAH dalam setiap aspek kehidupan kalian. Kalian adalah umat terpilih yang kelak akan membawa bendera hitam Rasulullah. Demikianlah penjelasanku tentang hikmah dibalik aksi 212. Saya kembalikan kepadamu Wahai Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah saw tersenyum seakan puas akan penjelasan panjang dari Amirul Mukminin kepada saya,
“Sungguh luas ilmumu wahai Ali. Sungguh benar apa yang dijelaskan Ali kepada cucu. Kalian penduduk muslim dari negeri yang bernama Indonesia adalah hamba-hamba-Nya dan umatku yang Allah pilih dari belahan timur bumi-Nya untuk mengemban amanah kejayaan Islam sebagaimana Allah telah memilih bangsa Arab, Persia, Kurdi, Mamlu, dan bangsa Turki. Sampaikanlah kepada saudara-saudaramu itu bahwa tugasnya hanyalah menggenapi syarat-syarat-Nya hingga datang waktunya bagi kalian memimpin peradaban Islam dunia. Ingatlah pesan hikmah yang disampaikan Ali terkait aksi bela islam 212, yakni pesan tentang jaring laba-laba surat Al-Ankabut, pesan tentang surat Al-Qashash dan surat Shad dan peaan untuk kembali kepada Allah kembali kepada tauhid Islam yang murni. Berpeganglah selalu kepada dua warisanku yakni Quran dan Sunnahku.”

Saya menjawab,
“Sami’na wa atha’na. Baik wahai Rasulullah, akan saya sampaikan pesanmu kepada saudara-saudaraku.”

Rasulullah saw kembali menjelaskan,
“Sampaikan pula salamku untuk Habib Rizieq, dialah sosok Umar dari negeri ini. Sampaikan pula salamku untuk Arifin Ilham, dialah sosok Utsman dari negeri ini. Dan sampaikan pula salamku untuk Abdullah Gymnastiar, dialah sosok Abu Bakar dari negeri ini. Dan sampaikan pula salamku untuk Fahmi Basya, dialah sosok Ali dari negeri ini. Dengan tafakur dan pengetahuan Matematika Qurannya, ia berhasil mengungkap bahwa satu-satunya peninggalan Nabi Sulaiman ada di negeri ini, dan ketahuilah bahwa peninggalan tersebut adalah Candi Borobudur. Namun sayang banyak saudara-saudara muslim yang tidak mendukung penemuannya. Dan tidak mungkin lewat dirinyalah yan merupakan sosok Ali yang dimiliki negeri ini, penemuan-penemuan lainnya akan berhasil ditemukan dari Al-Quran. Sedangkan engakau cucuku ketahuilah engkaulah yang Allah persiapkan menjadi sosok pemegang panji benderaku di negeri ini yang akan merangkul keempat sosok yang aku sebutkan sebelumnya untuk membawa panji tauhid islam dan memimpin peradaban Islam yang madani yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Nasabmu menggabungkan dua nasab yang mulia sekaligus karena menggabungkan nasab dariku dari jalur ayahmu yang membawa nasab Al-Atthas dan nasab dari Nabi Ibrahim dan istrinya Siti Qaturah dari jalur ibumu. Cucu adalah sosok yang terpilih yang akan memimpin umat islam negeri ini namun selama ini cucu tidak pernah menyadarinya. Akulah yang meminta saudaraku Khadir untuk menemuimu dalam rupa seorang pengemis jelek rupa yang menyampaikan pesan kepadamu untuk ingat wong cilik jika kamu menjadi pemimpin besar negeri ini. Akulah suara tanpa wujud yang menyuruhmu tiga kali berturut-turut dalam mimpi untuk berjalan dan pergi ke Gunung Nabi yang berada di ujung timur negeri ini yakni Bumi Cenderawasih Papua. Ketahuilah bahwa pemimpin pertama negeri ini Sukarno pun aku perintahkan untuk berjalan dan pergi ke Gunung Nabi. Ambillah apa yang diambil Sukarno dari gunung tersebut. Dan terakhir akulah yang datang kepadamu bersama Ali untuk menyampaikan amanah menulis risalah kecil berjudul ZERO PRAYING Memahami Pola Penghambaan Sejati Sang Hamba. Aku pun sudah memberimu petunjuk bahwa kunci dari risalah tersebut ada pada Surat Al-Fatihah sebagaimana rahasia 114 surat Al-Quran terkumpul menjadi satu dalam surat Al-Fatihah. Aku pun sudah mengajarimu Rahasia Bintang Nabi Daud yang sebenarnya ada di dalam Al-Quran yang menggabungkan pengetahuan dan hikmah tiga nabi sekaligus yang disebut sebagai Harmas Trismegistus yang sudah kubuka rahasianya yakni Nabi Idris, Nabi Ibrahim dan Nabi Khidir yang ketiganya merupakan pewaris Ilmu Shiddiq. Bukankah aku juga sudah mengajarkanmu rahasia candi borobudur sebagai piramida qalbu yang merupakan tangga mi’rajnya qalbu menuju Allah. Dan masih banyak lagi pengetahuan yang kuajarkan keladamu yang seluruhnya bersumber dari Quran? Susahkah cucu menuliskan itu semua menjadi sebuah risalah dan kemudian diajarkan kepada seluruh saudara-saudara muslim. Sudahkah cucu melaksanakan semua amanah yang kuperintahkan kepada cucu? Itu semua adalah ujian bagimu sebelum cucu menjadi sosok pemimpin peradaban islam dari negeri ini yang akan melengkapi sosok Umar dari diri Habib Rizieq, sosok Utsman dari diri Arifin Ilham, sosok Abu Bakar dari diri Abdullah Gymnastiar, dan sosok Ali dari diri Fahmi Basya. Ingat selalu pesanku ini wahai cucuku. Bukankah sidiq, amanah, fathanah dan tabligh adalah sifatku dan juga menjadi sifat warisan seluruh umatku?”

Saya menjawab,
“Maafkan saya wahai Rasulullah. Saya ingat akan semua amanah yang Engkau berikan kepada saya. Satu persatu dan perlahan akan kulaksanakan seluruh amanah itu. Sekali lagi maafkan saya wahai Rasulullah dan sampaikan pula maaf saya untuk Allah yang Maha Pengampun dan Maha Pemaaf.”

Rasulullah saw kemudian menjawab,
“Sampai disini dulu pertemuan kita. Aku dan Ali akan kembali lagi mendatangimu, jika Allah memerintahkan. Kami senantiasa mengawasimu wahai cucuku. Serulah pesan ini kepada saudara-saudara muslimmu di negeri ini. Dan yakinlah Allah yang akan menyampaikannya sebagaimana Dia mendatangkan 7,434,757 orang dengan begitu mudahnya ke dalam Aksi Bela Islam 212 yang lalu. Doaku selalu menyertai wahai cucuku. Barakallahu ‘alaika wa ‘alaa ummati fii indonesia. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh.”

Dan Spontan saya pun terbangun dari mimpi yang panjang itu.

Saudaraku seiman yang sama-sama tinggal di negeri bernama Indonesia, demikianlah pesan Rasulullah Saw yang disampaikan kepada saya lewat mimpi. Mohon kiranya untuk membantu menyebarkan pesan Rasulullah ini dan menyampaikan kepada saudara-saudara muslim yang lainnya, terlebih kepada 7,434,757 saudara muslim yang menjadi saksi sejarah Aksi Bela Islam 212.

Salam hormat dari Bumi Cenderawasih Papua,
(Yeddi Aprian Syakh al-atthas)

#Spirit212
#AksiBelaIslam212

MENANGKAL TERORISME

Studi Tentang Peran MUI  Banten Dalam menangkal  Aksi terorisme

Oleh

Marzani Anwar

Terorisme adalah tindak kjekerasan yang sangat meresahkan umat manusia. Secara agama, perbuatan itu mendapat tentangan oleh sebagian besar umat Islam. Namun demikian, hingga hari ini berbagai serangan teroris, yang disikapi aparat keamanan dengan aktivitas penangkapan anggota kelompok teroris serta pengungkapan jaringannya masih saja terus terjadi. Serangkaian penangkapan terduga pelaku teror rupanya juga terjadi di wilayah Tangerang Selatan baru-baru ini. Kejadian terbaru misalnya Gang Haji Hasan, Kampung Sawah, Tangerang Selatan, menambah panjang daftar penyergapan terduga teroris yang terjadi di wilayah Kota Tangerang Selatan. Di wilayah ini sejak 2010 lalu terhitung ada lima kasus termasuk yang di Kampung Sawah Selasa 31 Desember 2013.

Secara berturut-turut dapat disebutkan antara lain, yang terjadi pada Maret 2010, di mana tim dari Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri pertama kali menyambangi Tangerang Selatan. Saat itu mereka menggerebek sebuah rumah toko penyedia jasa warung internet Multiplus di Pamulang dan sebuah rumah di Gang Asem, Jl Setiabudi. Penyergapan saat itu menyebabkan tiga orang tewas ditembak karena dianggap melawan dan hendak melarikan diri saat ditangkap. Polisi menyatakan orang yang tewas dalam penggerebekan itu, salah satunya terduga teroris yanag dicari-cari bernama Dulmatin, perancang bom Bali 2002 lalu. Pada September 2012, Densus 88 giliran meringkus dua terduga teroris di kawasan pemukiman Bintaro Sektor IX. Keduanya diduga kuat anggota kelompok teroris jaringan Muhammad Toriq, yang sebelumnya menyerahkan diri di kawasan Tambora, Jakarta Barat. Mereka dianggap bertanggung jawab atas ledakan bom di Beji, Depok, Jawa Barat. Adapun penyergapan yang dilakukan di Kampung Sawah pada malam pergantian tahun lalu (2014) itu dianggap yang terbesar selama ini.[1].

Baca lebih lanjut

KRUSIALITAS DALAM PENELITIAN ANTROPOLOGI

Oleh Prof.Dr. Marzani Anwar

Penelitian antropologi adalah penelitian yang melibatkan manusia peneliti secara utuh di lapangan. Ke lapangan di samping berbekal konsep, seorang peneliti juga membekali diri dengan sikap mental, ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan menyesuaikan diri dengan budaya setempat, kesiapanmemutuskan sesuatu dengan cara yang tepat dalam menggapai data merupakan keunikan tersendiri. Belantara sasaran penelitian, adalah ragam keunikan dan sekaligus tantangan. Di antara tantangan itu ada yang sifatnya mikro, yakni ada pada diri peneliti sendiri, dan yang bersifat makro adalah kondisi di luar dirinya, yang ikut mempengaruhi cara kerja penelitian.

Dimaksud isu praktis dalam metodologi penelitian, adalah masalah-masalah yang secara praktis dihadapi dalam penelitian etnografi. Karena kerja penelitian adalah sebuah proses panjang, yang dimulai sejak seseorang peneliti memusatkan perhatian pada sebuah tema penelitian. Tahapan yang dilalui neliputi: perumusan masalah secara benar, mengangkat permasalahan penelitian secara meyakinkan, menguraikan metodologi, signifikansi, dan bila perlu membuat hipotesa kerja. Dalam membuat rencana lapangan, dituntut kejelasan dalam konsep, penetapan teknik-teknik pengumpulan data sesuai dengan kondisi lapangan, menghimpun data dan bagaimana data akan dianalisis. Kerja ini merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan antara aspek teoritas dan metodologi. Apa yang dimaksud dengan masalah paktis pun tidak sederhana. Karena pada dasarnya menyangkut semua pentahapan ker peneltian tersebut.

Masalah praktis yang di uraikan dalam makalah ini, dibatasi dalam masalah berkenaan dengan pengalaman seseorang peneliti selama proses pengumpulan data:
1. Apa yang dilakukan seorang peneliti ketika menghadapi situasi yang berbeda dari yang diperkirikan semula, sebagaimana tertulis dalam rencana kerja.
2. Apa yang dilakukan peneliti, ketika mengalami kesulitan berkomunikasi dengan agency.
3. Apa yang dilakukan peneliti, ketika membangun rapport.
4. Tantangan apa saja yang dihadapi seseorang penelitian di lapangan, dan apa tindakan akselerasinya.
5. Apa yang dilakukan seseorang peneliti, ketika menghadapi suatu hal baru, namun tidak secara langsung berhubungan dengan fokus penelitiannya.
6. Adakah kesulitan-kesulitan dalam prosedural penelitian, dan bagaimana cara menyelesaikannya.
Untuk memperoleh informasi mengenai masalah-masalah tersebut, kami mencoba melakukan kajian atas karya-karya etnografi yang terbit dalam bentuk buku, serta makalah hasil refleksi para etnografer yang dimuat pada Jurna-Jurnal Social Science, dan makalah dari situs website. Arti penting dengan mengungkap beragam isu praktis seperti itu adalah:
1. Memberikan sumbangan bagi para etnografer untuk pengembangan metodologi penelitan.
2. Semakin banyak masalah yang dijadikan bahan pertimbangan, akan semakin matang bagi seseorang dalam merancang kerja penelitian lapangan.
3. Mengungkap sebanyak mungkin isu praktis metodologi penelitian, akan memperkaya pengembangan teknik dan metode pengumpulan data dalam penelitian etnografi.
4. Isu praktis yang bersifat teknis, akan juga memberikan kontribusi bagi institusi yang mengelola kegiatan penelitian.

Berikut ini dipaparkan ragam isu praktis yang ditemui atau dialami oleh para antropolog dalam melaksanakan kerja penelitiannya, sejauh yang bisa saya rekam. Apakah saya berhasil dalam memaparkan atau mengkategorisasi bahwa sesuatu itu sebagai isu praktis dalam metodologi antropologi, itu soal lain. Karena penentuan bahsa sesuatu itu adalah “isues” atau tidak, atau apakah sesuatu itu termasuk dalam “practical issues” atau “teoritical issues” ini adalah persoalan rumit dan banyak dipengaruhi unsur subyektivitas saya. Persoalan berikut adalah: masih relevankah apa yang saya paparkan dalam makalah ini dengan perkembangan antropologi dewasa ini, semua memang tidak lepas, sekali lagi, dari ranah subyektivitas.

1. Masalah Bahasa dan Komplikasi Pengertian.
Johnnetta B. Cole (1982), Anthropology for the Eighties, The Free Press, New York. Di bawah tulisan berjudul “The Practice and Ethics of Fieldwork” mengawali tulisan dalam buku tersebutm membahas tulisan Paul Bohannan (1963), Social Antropology, New York Holt, Rinehart & Winston. Dengan uraiannya itu seakan Johnetta ingin menarik benang merah, antara antropologi periode 60an dengan antropologi 80an.
Seorang antropolog, menurutnya, tidak begitu saja “go to the field”, dengan berbekal pengetahuan awal, atau petunjuk key informan. Ada nilai-nilai, sikap hidup dan perilaku yang harus di”masuki” dengan bijak.

Persoalan bahasa menjadi sangat penting bagi seorang antropolog ketika berhadapan dengan masalah penterjemahan beberapa istilah atau ungkapan-ungkapan. Setiap hari ia dikelilingi oleh ekspresi dan konsep-konsep kultural, yang bagi si antropolog adalah baru atau asing. Sejak sebelum ia ke lapangan ia harus mempelajari bahasa masyarakat. Suatu saat bisa terajdi, suatu istilah “x”, dalam bahasa lokal, diterjamahkan menjadi istilah “y’ seakan menjadi bahasa antropolog.
“Kesalahpahaman itu menjadi semakin sempurna tatkala peradaban orang lain dilihat dengan kacamata peradabannya sendiri”. Itu yang terjadi pada bangsa-bangs akolonial, yang melihat “ budaya orang-orang pribumi” seakan merupakan realitas yang menjadi absah dianalisis dengan konsep Barat, dan hal itu boleh jadi pelengkap keganjilan bangsa Barat.

Sayangnya, para antropolog masih sering membuat kesalahan ketika memberikan penjelasan dengan menggunakan konsepnya sendiri untuk menjelaskan kebudayaan orang lain. Solusi penting atas problem penterjemahan ini, menurut Cole, pertama dengan mengenal problem dan latihan ketat memelihara hubungan baik (komunikatif) dengan realitas budaya yang ditelitinya. Menterjemahkan dengan menggunakan bahasa asing untuk diusung ke dalam bahasa kultur tersebut. Kedua, ketika seorang antropolog, memperoleh informasi dari konsep-konsep dan realitas budaya masyarakat tersebut, jauh-jauh hari ia perlu membangun sensifitas pada istilah-istilah tertentu sehingga familiar.

Ketika antropolog melakukan studi di negeri sendiri menggunakan sebuah bahasa real, bahasa asli kebudayaan si antropolog, bukan berarti tidak ada masalah dalam masalah penterjemahan. Hanyasaja masalahnya agak berbeda. Adalah seperti pada semua penelitian sosial, issu tentang bagaimana menterjemahkan secara benar “apa kata si empunya bangsa” ke dalam analisis istilah, itu dilakukan ketika membangun teori-teori dan konsep. Maka ketika antropolog mempelajari budayanya sendiri dan dengan penuh percaya diri dengan bahasa sendiri, itu hanya bisa berhasil menterjemahkan selagi menggunakan bahasa yang benar-benar komunikatif. Satu potensi menguji alasan ini tentu saja bahwa kultur asli si antropolog memiliki peluang untuk membaca dengan jelas tentang apa-apa yang ditulis tentang mereka.

Persoalan bahasa memang tidak hanya persoalan kata, tetapi adalah persoalan simbol dan budaya. Sebuah teori mengenai interaksi simbolis menyatakan bahwa simbol adalah gejala, yang akan membawa kepada pemaknaan-pemaknaan. “Kekhasan dalam interaksi simbolis adalah fakta bahwa dalam kehidupan antar manusia, lebih banyak menginterpretasi satu sama lain daripada berintekasi satu sama lainnya. Respon mereka tidak terjadi secara langsung kepada tindakan satu dengan lainnya tetapi bahkan didasarkan pada pemaknaan atas sentuhan kepada tindakan tersebut. Interaksi manusia dalam hal ini dimediasi oleh simbol-simbol, yang dalam hal in termasuk bahasa, yang kemudian diinterpretasi atau diberikan makna oleh orang lain. Mediasi ini sama artinya dengan memasukkan sebuah proses interpretasi antara simbol dan tujuan dalam kasus perilaku manusia. ( lihat: Blumer, 1969: 79).
Dalam salah satu premis mengenai interaksi simbolik dikatakan, bahwa terjadinya pemaknaan atas simbol adalah ketika arti dari sesuatu tanda itu diambil atau terpelihara dalam bangunan interaksi sosial yang dilakukan orang seorang dan diikuti orang lain. Sementara kebudayaan adalah seperti sebuah bagian dari sistem makna, yang dipelajari, direvisi, dipelihara, dan didefinisikan dalam konteks interaksi warga masyarakat. (lihat: Spreadly, 1990: 28).

2. Independensi Peneliti vs. Kepentingan Politik
Dalam melakukan penelitian terhadap suatu masyarakat, tidak selamanya seorang antropolog terbebas dari kepentingan politik. Tidak sedikit juga yang justru bekerjasama dengan pemerintah tertentu. Karena karya antropologi bagi pemerintah yang berkepentingan memberikan manfaat secara politik. Malinowski (1929) sebagaimna dikutip Kolttak , menyebutnya sebagai “practical anthropology” untuk menjelaskan mengenai adanya antropolog yang bekerjasama dengan pemerintah kolonial. Ini terjadi misalnya dengan pemerintah Inggris dengan politik appartheidnya di Afrika Selatan, atau Snough Hurgronye ketika bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda, sekitar tahun 1870an.

Menurut Malinowski, seorang antropolog dapat mengambil jarak dengan kepentingan politik pemerintahnya. Ia seharusnya bekerja atas nama pandangan politiknya sendiri, yang boleh jadi sejalan dan boleh jadi tidak sejalan dengan politik pemerintahnya. Masalahnya adalah, karena penelitiannya yang ia lakukan memperoleh beaya dari pemerintah yang bersangkutan. Tentulah pemerintah punya kepentingan. Bagaimanapun, ini soal aplied anthropology, sehingga seorang peneliti secara moral harus memberikan kontribusi bagi tujuan-tujun politik pemerintah.
Dalam konstelasi yang berbeda, peneliti dewasa ini juga tidak jarang melakukan penelitian atas beaya negara. Dan di balik sponsorship adalah kepentingan-kepentingan spesifik dan pragmatis. Seorang peneliti kadang harus pandai-pandai menterjemahkan bahasa politik. Ada target-target politik pada pemerintah yang perlu dibaca baik-baik. Termasuk target politik adalah kepentingan keamanan negara, atau kepentingan status quo, dan sebagainya. Ketika hasil penelitiannya dipandang memberikan kontribusi pada pencapaian tujuan politik tersebut, biasanya ia memperoleh grand, dan berikutnya mendapat kepercayaan lebih banyak. Sebaliknya bila hasil penelitiannya kurang memenuhi capaian politik, maka menurunkan kepercayaan di mata pemerintah.
Masalahnya, adalah: bagaimana dengan pandangan politik si peneliti sendiri, dan seberapa besar sumbangannya dan dalam bentuk apa hasil penelitian itu menjadi sumbangan kepada masyarakat dalam arti seluas-luasnya, termasuk dunia ilmu pengetahuan.

3. Menghadapi masalah inkonsistensi informan.
John Middleton (1982) dengan tulisannya “The End of Fieldwork, dalam Johnnetta B. Cole Anthropology for the Eighties, The Free Press, New York, mengurai pengalaman penelitiannya selama 2 tahun di Ligbalarand, bagian selatan Uganda. Ia merasakan betapa bedanya dengan penelitian sosilogi, penelitian ekonomi, pendidikan, sejarah, teknik, dan sebagainya. Dalam penelitian antrologi memerlukan full participant, menyatukan kehidupannya dengan kehidupan masyarakat sasaran penelitian. Sementara masyarakat sebagai tuan rumah, adalah pemilik budaya. Sebagai orang laur yang harus menjadi tamu yang bisa diterima dalam waktu yang lama, ia selalu mencari cara bagaimana harus merekrut pembantu lapangan atau guide di untuk menunjukkan tempat-tempat atau event-event yang dianggap penting. Termasuk bagaimana cara terbaik menghadapi aparat pemerintah setempat. Sebagai peneliti sekaligus tamu, harus pula mengetahui larangan-larangan dan kewajiban-kewajiban yang harus ditaati para warganya. Middleton menemukan hal-hal paradoks dan ambiguitas (pengertian ganda), serta ketidaktentuan expresi di antara sesama warga. Pada diri seorang individu, kadang terjadi paradox, ketika ia menjelaskan pendapatnya mengenai sesuatu, dan di lain waktu pandangannya itu ia tentang sendiri. Maka peneliti sebaiknya jangan berasumsi-asumsi terhadap fakta-fakta, karena bisa menyesatkan.

Keadaan demikian bisa terjadi pada komunitas lain, terutama komunitas yang warganya terdiri beragam karakter atau beragam asal etnis. Ada kecenderungan untuk terlalu berhati-hati atau kecenderungan memanipulasi pernyataan, karena ingin menjaga hubungan baik dengan tetangga, atau sebaliknya menyampaikan pernyataan berlebihan, justru karena ingin menjatuhkan orang lain yang tidak ia sukai.

Masalah inkonsistensi informan juga dialami oleh Lea Jellinek yang melakukan penelitian pada masyarakat Kebon Kacang, Tanah Abang Jakarta, (1971-1981). Ia mengkisahkan pengalamannya berada di tengah penduduk miskin, untuk mengumpulkan data. Dalam bukunya The Wheel of Fortune, ia mengurai pengalaman tersebut di bagian awal. Ia menyebutnya menulis “sejarah lisan”, dengan apa yang dia lakukan, karena harus melakukan full wawancara dengan informan, karena tidak adanya sumber informasi tertulis mengenai keadaan masyarakat yang dia teliti.

Kebetulan informannya adalah orang Jawa, yang datang ke Jakarta buat mengais rezeki. Obrolan santai memudahkan mereka mengemukakan pandangan-pandangan dan pikiran mengenai dunia mereka sendiri. Namun tidaklah mudah mengajak obrolan, untuk sampai pada informasi yang diinginkan peneliti. Dibutuhkan waktu panjang dan berkali-kali untuk itu. Cara yang ditempuh untuk wawancara dengan orang Jawa adalah bertutur kata lemah-lembut dan tidak langsung. Orang Jawa, katanya, tidak pernah siap menerima pertanyaan-pertanyaan secara langsung. Mempertanyakan secara langsung ke pokok persoalan, bisa mengakibatkan goncangan dan ketakutan dan tak terelakkan lagi akan memberikan tanggapan yang menyesatkan. Ada topik-topik tertentu yang bagi orang Jawa tidak akan menjawab dengan baik, misalnya pertanyaan soal pendapatan, masalah utang, hubungan antar perorangan, dan sikapnya terhadap pemerintah. Kadang peneliti kesulitan menghadapi informan yang sedang curiga dan ketakutan, atau ia sedang sibuk atau malu. Peneliti sempat frustasi, karena memperoleh banyak informasi yang tidak berakaitan satu sama lain. Namun ketika wawancara diformalkan, terasa dibuat-buat, dan suasana menjadi tidak menyenangkan dan sebagian besar tidak produktif. Ada sebagian informal senang dengan kedatangan peneliti, sekalipun menggunakan alat perekam. Sebagian lagi informan merasa tegang karenanya, bahkan ketika peneliti mengeluarkan kertas dan alat tulis saja, mereka merasa diintimidasi. (Jellinek, 1991).

4. Tidak mudahnya membangun Rapport
Penelitian dengan menggunakan dua strtagei pengumpulan data, yakni membagi kuesener dan wawancara mendalam dengan sejumlah informan. Ini yang dilakukan oleh Yulfita Rahardja, ketika melakukan penelitian tentang Wanita Kota Jakarta. Kedua teknik pendekatan sengaja dilakukan untuk saling bisa menutup kelemahan masing-masing.
Karena lapangan perhatiannya, yakni wanita kota Jakarta cukup luas, setidaknya mengikuti stratifikasi sample yang telah ditetapkan sebelumnya, yang antara lain memperhitungkan latarbelakang etnis para wanita yang dijadikan sasaran wawancara. Lingkup penelitian adalah sekitar pandangan para wanita terhadap masalah Keluarga Berencana dan Prilaku Reproduksi.

Koordinator penelitian, hendak mengeleiminir kelemahan dalam berkomunikasi antara pewawancara dengan yang diwawancarai. Salah satu cara yang dianggap jitu, adalah dengan menggunakan teknik obrolan santai. Tapi masalahnya, bagaimana agar kedua pihak bisa berkomunikasi dengan relaks. Wanita kota Jakarta yang menjadi sasaran penelitian ini, adalah para warga Jakarta pendatang yang terdiri dari beragam asal suku bangsa. Meskipun mereka sudah lama tinggal di Jakarta, mereka merasa akrab dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing apabila berjumpa dengan orang lian yang belum dikenalnya. Maka para anggota tim pewawancara diambil orang-orang dari berbagai etnis. Bagi wanita asal Manado nantinya diwawancarai oleh pewawancara asal Manado, wanita yang berasal dari Sunda diwawancarai oleh orang Sunda, di samping orang Betawi yang juga perlu diwawancarai oleh petugas asal Betawi, dan seterusnya termasuk dari Jawa, dan Medan. Atas dasar itulah, maka peneliti merekrut sejumlah orang dari etnis yang berbeda satu sama lain, untuk menjadi petugas lapangan,

Sebelum para anggota tim bertugas di lapangan, mereka dilatih tentang teknik-teknik wawancara dengan baik. Namun masalahnya belum selesai, sebab ternyata para anggota tim sendiri banyak yang belum tahu atau belum menguasai masalah yang hendak diajukan dalam wawancara. Padahal prasarat untuk bisa ngobrol santai adalah harus benar-benar menguasai materi obrolan, agar obrolannya terfokus. Maka pelatihan calon pembantu lapangan itu juga memasukkan pengetahuan dan pemahaman atas materi penelitian, sampai benar-benar substansi penelitian terkuasai.
Pembantu lapangan yang diperlukan dalam penelitian, ternyata tidak sekedar menjadi guide selama kerja lapangan. Akan tetapi yang lebih penting adalah menjadi “penterjemah” bahasa dalam arti yang sebenar-benarnya. Mereka dipilih dari kalangan yang satu etnis dimaksudkan agar bisa komunikatif dalam wawancara, dan bisa mengartikan makna-makna ungkapan, mengetahui apa di balik tanda-tanda atau penjelasan atas simbol-simbol yang digunakan informan. Di samping itu, dengan menggunakan satu bahasa antara peneliti dan informan, akan memperkecil kesalahpahaman.

Masalah rapport dan transbuliding ini juga dikemukakan olen Konetjaraingrat (1982), yang mengurai pengalamannya di sekitar Pengamatan Terlibat oleh seorang peneliti Pribumi dan Asing. Sebagai seorang keturunan Jawa, pak Koen (demikian ia biasa dipanggil), pada dasarnya bukan orang asing bagi masyarakat yang ditelitinya. Namun kenyataannya ia tidak berhasil menjadi sahabat baik para petani Jawa. Mereka menempatkan pak keon sebagai seorang terpelajar dari kota, seorang pegawai negeri, alias priyayi, yang harus dihormati. Dalam tradisi pedesaan jawa, memang berlaku penghormatan demikian, sehingga tidak mungkin seorang yang di-priyayikan itu bisa bercengekarama atau guyon bersama para petani. Padahal suasana seperti itu yang dimaui peneliti, agar bisa menangkap secara apa adanya perilaku dan uangkapan-ungkapan mereka. Para petani merasa harus menjaga jarak, harus menjaga sopan santun dan harus bicara “yang baik’baik” kepada priyayi, yang sekaligus dianggap tamu. Keintiman dan kedekatan itu gagal dilakukan oleh pak Koen, karena terlanjur ditempatkan oleh warga pada kedudukan tertentu.

Penelitiannya sendiri dilakukan pada tahun 1958 dan 1959 di desa karanganyar, sekitar 100 km sebelah barat kota Yogyakarta, dan desa Celapar, sebuah utara kota kabupaten Karanganyar, yang dikenal sebagai desa pegunungan yang agak terpencil. Pengumpulan data dimaksudkan oleh peneliti untuk pembuatan suatu diskripsi antropologi mengenai perubahan kebudayaan jawa yang belum banyak dipengarui perkembangan jaman dengan (membandingkan) desa lain yang lebih banyak dipengaruhi perkembangan tersebut. Dalam proses penelitiannya, peneliti tetap berupaya untuk bisa dekat dengan para petani, dan akhirnya agak berhasil berkat pendekatannya kepada beberapa pemuda desa, yang sudah berpendidikan sekolah lanjutan. Melalui cara itu peneliti bisa agak jauh memasuki budaya mereka. Walau tetap diakui, bahwa sampai akhir penelitian, ia masih tetap merasa terjerat oleh penempatannya pada kelompok tertentu oleh warga. (Koentjaraningrat, 1982: 93-94).

5. Menghadapi kejenuhan di lapangan
Melakukan penelitian ethnografi, memang memerlukan waktu yang cukup untuk sempurnya sebuah penelitian. Ia harus tinggal berlama-lama dengan masyarakat sasaran. Seakan menjadi bagian dari mereka, sehingga dalam kehidupan keseharian bergelut bergabung dan bersosialisasi. Sasaran masyarakat primitif atau dalam area yang terpencil dari keramaian, akan menghadapi kejenuhan selama melakukan penelitian ethnografi.
James Danandjaja menuliskan pengalamannnya mengenai hal ini, sebagaimana dimuat dalam: Koentjaraningrat dan Donald K. Emmerson (Editor), (1982) Aspek manusia dalam Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia. Ketika ia melakukan penelitian di desa Trunyan, Bali. Masyarakat ini dikenal tidak suka kepada kebersihan, seperti orang kota. Jenis makanan itu-itu saja. Tranportasi dari kota ke desa lumayan susahm apalagi antar desa sekitarnya. Peneliti harus hidup di rumah yang tempat tidurnya banyak kutu busuknya. Ketika kasur dibersihkan, justru menjadi tontonan, seakan ia melawan budaya setempat. Di desa Trunyan, dikenal paling banyak penderita Kustanya di banding daerah lain se provinsi Bali. Kebiasaan mandi dengan sabun dianggap aneh oleh masyarakat. Masyarakat tidak suka membuang sisa makanan termasuk nasi, sehingga si peneliti biasa disuguhi makanan basi. (Dananjaja, 1982: 11). Untuk mengatasi kejenuhan di lapangan itu, ia setiap seminggu sekali pergi ke kota Denpasar.

Problem psikologis yang biasa dihadapi oleh peneliti, ketika ia berada di suatu lokasi yang asing. Ia merasa serba salah ketika akan bertindak. Ada kehawatiran kalau-kalau apa yang dilakukan itu menyalahi budaya setempat. Meski beriktikat baik letikahendak melakukannya, tetapi belum tentu disambut baik oleh masyarakat. Sebaliknya ketika berbuat yang tidak baik, misalnya, ikut berjudi, bisa jadi justru disambut baik oleh masyarakatnya, karena bagi mereka berjudi adalah bagian dari kebiasaan atau tradisinya.

6. Antara Indedependensi dan Keberpihakan Peneliti.
Dr. Erni Budiwanti dalam bukunya Islam Sasak, LkiS, (2000), Yogyakarta. Judul aslinya adalah Religion of The Sasak: An Ethnographic Study of The Sasak: An Anthropologic the impact of Islamization on the Wetu Telu of Lombok. Merupakan tesis Ph D dari Monash University (1997). Selama di lapangan berada di tengah masyarakat desa Bayan, di mana masyarakatnya sebagian berpaham keagamaan Wetu Telu dan sebagian lain berpaham keagaman Wetu Lima. Kelompok Wetu Telu dianggap masih beragama primitif, karena meskipun beragama Islam tetapi tidak mau sembahyang lima kali. Menurut kelompok Wetu Lima, berarti orang Islam Wetu Telu belum sempurna agamanya dan perlu diberikan dakwah. Namun para penganut Wetu Telu tidak mau dianggap agamanya keliru, dan mereka memandang paham yang diyakininya sebagai warisan nenek moyangnya, dan itu adalah yang benar dan harus dipelihara. Perselisihan pun tak terhindarkan, karena perbedaan paham tersebut. Si Peneliti, ketika bertempat tinggal pada wilayah desa salah satu pihak, ia dituding oleh pihak yang lain, sebagai pendukung kelompok yang didekati itu. Sehingga kedatangannya sering dicurigai. Kehadirannya dianggap membahayakan kelompok yang lain.

Lepas dari konflik di antara dua kelompok itu, ketika si peneliti akrab dengan masyarakat, dianggap oleh mereka bisa memberikan petunjuk atau solusi atas kesulitan-kesulitan hidup yang mereka hadapi. Ia pun tidak luput dari pengaruh politik. Ketika itu, Kepala Desanya adalah tokoh Golkar, sedangkan salah seorang warga yang sering didekati kebetulan tokoh PDI, yang dengan sendirinya menjadi lawan politik Kades. Akibatnya ia juga dicurigai oleh Kepala desa tersebut, seakan menjadi kaki tangan PDI. (Budiwati, 2000: 20).

Konflik bagi si peneliti merupakan kasus tersendiri yang biasanya menjadi bagian dari lingkup penelitiannya atau pengayaan informasi. Namun menjadi sulit bagi peneliti, untuk memposisikan dirinya secara tepat. Kepada siapapun yang datang, tidak terkecuali peneliti, diharapkan untuk berpihak kepada salah satunya, dengan resiko harus ikut “melawan” pihak yang lain. Kondisi psikologis para warga pendukung adalah orang-orang yang sedang sangat emosional, sehingga trlalu mudah membenci siapapun yang tidak berpihak kepadanya, dan sebaliknya terlalu cepat menaruh harap kepada siappaun yang bersimpati kepadanya.

Dalam masalah pengumpulan data netralitas seorang peneliti, memang tidak selalu menjadi jaminan akurasi data. Tergantung pada jenis data yang ingin dikumpulkan dan siapa (subyek) yang menjadi sasaran penelitian.Seorang etnografer seperti Oscar Lewis justru membutuhkan keberpihakan secara utuh dengan apa yang sedang diperjuangkan informan. Maksudnya adalah dalam rangka menggali sebanyak mungkin informasi, si peneliti melarutkan diri perasaannya dengan perasaan informan. Dalam bukunya yang sangat terkenal, Five Families, Lewis menunjukkan pengalamannya sebagai etnografer yang melakukan obervasi, partisipasi sekaligus mengikuti pergulatan hidup dengan para informan. Margaret Mead dalam kata pengantar buku itu menyatakan. ‘Karya Lewis ini benar-benar ditulis dengan penuh gairah, yang menggabungkan syarat-syarat kecermatan yang akurat dengan suatu simpai yang sangat besar terhadap jenis penderitaan yang khusus diliputi oleh rasa iba pada diri sendiri dan orang lain”. Dalam menghimpun informasi, hampir-hampir Lewis tidak mengambil jarak dengan informan, dalam arti mengikuti perasaan-perasaan mereka, dan dengan intuisi yang terus mengalir, sehingga ada keutuhan alur cerita. Cerita-cerita itu menjadi demikian hidup, manusiawi dan membuka pikiran, yang menurut Mead, layak dianggap sebagai terobosan nyata dalam karya etnografi.

Selama penelitian, Lewis mengikuti keluarga-keluarga para informan, yang waktu itu mengalami perpindahan dari desa Tepozlan ke Mexico City. Perpindahan itu tak hanya memiliki fisikal tapi juga artifisial, yakni terjadinya pergeseran budaya, karena mereka harus meninggalkan kebiasaan lamanya dan harus berganti dengan kebiasaan baru, menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang baru. Peneliti mengikuti perubahan perubahan kultur yang melekat pada pergeseran tempat tinggal tersebut. Bahkan lebih tajam dari itu, menurut penulisnya sendiri, bahwa semua keluarga tersebut adalah orang-orang yang kebudayaannya “dalam masa peralihan”. Dalam arti bahwa kebudayaan lama menjadi hancur sebelum munculnya serangan gencar dari Abad teknologi, — sebuah kebudayaan material baru yang menghancurkan kebudayaan-kebudayaan non material orang –orang yang dijangkaunya, dan yang sekarang menjangkau mereka.

Dengan participant obervation, peneliti dapat menggambarkan sasaran penelitiannya secara utuh dan bulat. Sebagaimana dikemukakan Parsudi Suparlan dalam “kata pengantar” buku ini, peneliti bisa hidup di antara warga masyarakat yang ditelitinya, dengan identitasnya yang jelas, untuk mempelajari guna memahami dan turut mmenggunakan ungkapan-ungkapan kebudayaan yang mereka gunakan, dalam kehidupan sehari-hari, baik yang nampak maupun yang tersamar. Peneliti mendengar langsung ungkapan-ungkapan emosi dan perasaan, imaji serta harapan-harapan, kasih sayang dan kebencian, keberanian dan ketakutan, serta kehidupan sehari-hari, dan dengan logika yang berlaku dalam kebudayaan mereka.

7. Peneliti di tengah Cultural Schock.
Topik ini penulis angkat berdasarkan pengalaman yang ditulis oleh Dwight Y. King (1982). Seorang peneliti yang datang dari AS ke Jakarta. Ia tidak menunjukkan topik penelitiannya, kecuali hanya bercerita selama tinggal di Jakarta selama mengumpulkan data. Kebetulan selama di Jakarta, tahun 1973-1974 adalah masa krisis Indonesia dilanda krisis karena meningginya inflasi, dan antiklimaksnya adalah terjadi huru-hara peristiwa malari.

Masyarakat kota Jakarta yang sedang tumbuh menjadi metropolitan, jelas sangat berbeda dengan masyarakat desa yang lebih mencerminkan ciri tradisionalnya. Namun dalam mempersepsi orang asing (bule) kadang tidak berbeda. Peneliti yang berambut pirang, bersama keluarganya, sering mendapat perhatian berlebih dari orang-orang lain. Ada pengalaman buruk dialami, menyangkut belanja sehari-hari, yang sering diberikan harga jual tinggi oleh warga. Terpaksa King menawar berkali-kali, setidaknya menyamakan dengan harga rata-rata yang berlaku di lingkungannya. Orang-orang pribumi memiliki persepsi, bahwa orang bule itu adalah orang kaya alias banyak uangnya, sehingga dianggap akan mau membayar berapa saja harga yang ditawarkan. Padahal bekal yang dibawa peneliti, semata-mata mengandalkan biaya hidup yang disediakan sponsor, yang besarnya hanya pas-pasan untuk ukuran hidup di kota besar seperti Jakarta. Terutama untuk membayar sewa rumah, karena membawa keluarga), yang lumayan tinggi. Itu baru pengalaman kecil. Karena yang terlebih penting adalah menyangkut proses wawancara dan penyebaran kuesener. Dalam pengalamannya, informan di Jakarta tidak mudah dipegang waktunya. Mereka itu orang sibuk, sehingga tidak begitu saja bisa ditemui menurut semau waktunya peneliti. Sementara pemakaian telepon waktu itu, belum semudah sekarang. Untuk membuat janji dengan informan, kapan bisa bertemu, memerlukan waktu tersendiri, karena harus berkendaraan. Kemudian timbul problem berikutnya, karena over time, yang bukan saja harus memperpanjang ijin tinggalnya di Jakarta, tetapi juga keharusan untuk melakukan penambahan waktu pengumpulan datanya. Penambahan waktu juga berarti membengkaknya biaya hidup.

Pengalaman lain menyangkut proses wawancara, yang menurut King, ia merasa bebas membicarakan masalah-masalah sensitif berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Sebagaimana diketahjui, saat itu adalah ketika Orde Baru masih berkuasa dan sangat sensitif terhadap suara-suara miring dari warga amasyarakat. Berbicara kepada orang asing bagi warga pribumi tampaknya lebih senang dalam hal itu. Mungkin justru dianggap sebagai orang asing, maka dianggap tidak akan berakibat apa-apa kalaupun bercerita mengenai masalah-masalah yang sensitif. Kesempatan itu yang dimanfaatkan oleh King, sehinggal ia lebih sering membiarkan orang bicara mengenai sesuatu masalah secara umum, kemudian mengikuti kerangka pemikirannya dengan menggunakan terminologi mereka untuk sampai pada detail yang diperlukan peneliti. ( King, 1982: 186).

Masih dalam konteks cultural shocks, Sinha juga memiliki pengalaman ketika melakukan penelitian terhadap sebuah komunitas yang terdiri dua kelompok: Protestan-Katholik di Mapletown AS. (Surajit Sinha, 1982: 431). Melakukan penelitian dengan sasaran masyarakat modern, ada kemudahan tersendiri, terutama karena masyarakat relatif lebih terbuka. Peneliti juga memperoleh kemudahan dengan tersedianya akses-akses informasi, termasuk akses internet atau media publikasi lainnya. Cara berdiskusi dengan kalangan informan juga dirasa sangat membantu untuk menggali informasi dan tingkat pengetahuan masyarakat. Diskusi yang lazim disebut Focus Group Discussion (FGD) melibatkan kalangan berpendidikan yang menjadi sasaran.
Di Mapletown ada sejumlah intelektual lokal yang berpikir reflektif tentang struktur dan proses kehidupan komunitasnya. Mereka adalah pengkhotbah, dokter, pengacara, petani berpendidikan, guru sekolah, wartawan, dsb. Kepada mereka peneliti melakukan pendekatan secara khusus – mengikuti cara berpikir intelek atau informan berpendidikan. Peneliti menjadi terbiasa mengajak untuk menyeleksi informasi, mereka membantu berkeliling kampung dan mencoba mengikuti berbagai kegiatan komunitas
Namun perjumpaan dengan kalangan terpelajar juga rawan terhadap manipulasi informasi. Karena seseorang, yang menjadi informan, sering tidak begitu jelas membedakan antara informasi dan opini, antara pendalaman makna dengan hasil analisis oleh dirinya sendiri. Bisa terjadi justifikasi atas fakta-fakta yang dia sukai, yang kemudian diinformasikan kepada peneliti. Di sinilah pentingnya re check and cross check; sesuatu informasi perlu diverifikasi melalui dialog dengan pihak lain.

8. Masalah Etika dalam Penelitian Antropologi.
Di dalam pengalaman penelitian, ada kalanya seorang etnografer menghadapi sesuatu yang dianggap tabu untuk diinformasikan. Padahal informasinya sangat diperlukan oleh peneliti. Masalah ini diangkat dalam tulisan Joseph G. Jorgensen, dalam “On Ethics and Anthropology”. Ia menguraikan pengalamannya berada di dalam masyarakat Eastern Pueblo Indian. Warga masyarakat di sana paling tidak mau menceritakan soal-soal yang berkaitan dengan mite dan ritual, karena menyangkut kepemilikan harta yang tidak dapat diganggu gugat, serta tidak mau mendengar uangkapan critical sekalipun untuk kebaikan komunitasnya. Sikap protektif itu adalah sebagai bagian dari defens mechanism. Mereka merasa mendapat mandat dari para leluhur untuk menyelamatkan dan mengamankan harta benda warisannya, antara lain dengan tidak mudah memberi informasi. Menjadi informan baginya tidak merasa diuntungkan atau tidak tahu untuk apa memberi informasi menganai hal itu.

Pada masyarakat barriade di Lima atau Callampa di Santiago, terkenal sangat protektif menginformasikan tentang sumber dan penghitungan pendapatannya. Mereka juga sangat tertutup untuk menginformasikan sikap politiknya. Karena tidak tahu atau tidak yakin, apakah dengan menginformasikan itu justru akan membuka rahasia yang sama sekali tidak memberi manfaat apa-apa. Pada masyarakat Campa yang dijululuki “bit man”, kemungkinan dianggap melanggar aturan karena anda bicara dengan seorang saudara muda, sebelum anda berbicara dengan saudara tuanya. Hal ini dianggap merendahkan status dan prestise dalam masyarakatnya. Bisa-bisa malah peneliti menjadi terancam karenanya.

Kita semua memerlukan kerjasama memperoleh informasi yang lengkap sesuai yang kita kehendaki dalam penelitian. Kita mengharapkan sesuatu dengan mengikuti tertib sosial yang ada, dan mencoba menoleh ke belakang untuk tidak tergesa-gesa menyampaikan maksud dan tujuan, Sambil kita menguji kebersihan nurani, atau menguji apakah kita akan bisa dipercaya, dan seterusnya. Namun pada kesempatan yang lain kita, sebagai manusia pada umumnya, juga berharap untuk merahasiakan sesuatu yang menjadi milik kita. Namun menjadi kenyataan, bahwa kita sedang membutuhkan sesuatu kepada orang lain, sehingga kita seakan hendak menekan mereka; agar bisa menyampaikan informasi itu. Tapi lebih baik untuk tidak negetahui atau mendiskusikan; selagi fakta-fakta, pikiran-pikiran, situasi, dan seterusnya, terlalu sumir untuk diketahui. Dan kita yakin bahwa kita memang tidak paham.
Dalam banyak kasus di mana sesuatu hal itu disukai, entah yang berhubungan dengan waktu, keadaanm makna-makna atas, dan fakta-fakta lain tentang kehidupan kita, sikap kita, kepercayaan, perilaku dan opini, ternyata tidak selalu bisa diinformasikan kepada orang lain. .

Setiap orang mengklaim memiliki privacy, di lain pihak peneliti mengharap banyak informasi, namun kenyataannya pada sementara warga yang diteliti terlalu ketat menjaga diri untuk merahasiakan informasi. Ini menjadi problem yang berhubungan dengan masalah ethika sebagai seorang peneliti.

Sebagai peneliti, kita ingin terpenuhi hak-hak kita untuk memperoleh informasi secara lengkap dan akurat. Sementara kita memang harus respek terhadap hal-hal yang menyangkut privacy. Untuk itu, informasi dari hasil wawancara, dalam hal seperti ini, sebaiknya tidak kita gunakan untuk keperluan lain selain kepentingan akademis. Peneliti di lapangan, jangan selalu menganggap subyek itu pasif.. Peneliti harus juga siap diteliti oleh subyek, siap dimintai keterangan kalau diperlukan oleh subyek. Seorang partisipan yang mendiskripsikan sendiri informasinya, seharusnya tidak berbuat licik atau menyesatkan. Dalam hal observasi langsung, sebaiknya tahu bahwa dia sedang mengobservasi dan sebaiknya dia juga bersedia untuk diobservasi juga. Ketika kita mengumpulkan diskripsi salah seseorang dari seseorang lain atau dari menulis rekaman, kita sebaiknya tidak menawarkan untuk menyogok buat memperoleh informasi yang akan mengarahkan kepada pelanggaran kepercayaan atau kerahasiaan. Kita seharusnya mengajak atau mempertanyakan kita sendiri apakah informasi yang didapat akan layak diberikan kepada informan atau tidak. Peneliti memang sangat mudah untuk memainkan peran antagonis memperlawankan satu dengan lainnya dalam penyelidikan kita untuk hal-hal privacy.

Bagaimana pun cara yang ditempuh untuk mengumpulkan informasi, jangan sampai justru akan mempersulit peneliti. Cara mengatasi, bisa dengan mencari hubungan dan keterkaitan fakta yang ada dengan orang atau pihak lain. Baranagkali bisa membantu memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang ingin dicari. Namun masalahnya, apa yang harus dilakukan kalau harus tetap menjaga sesuatu yang dianggap “privacy”. Boleh juga, si peneliti mencoba mengalihkan perhatian kepada hal lain, yang membuat informan menyukai peneliti, dan tidak lagi terlalu merahasiakan sesuatu yang dibutuhkan. Namun boleh jadi pula, apabila tema-nya dianggap serius, dan menyulitkan, faktor ini juga bisa menjadi pertimbangan untuk menggeser tema penelitian, agar tujuan penelitiabn tetap bisa dicapai.

Masih soal etika dalam peneliti lapangan. Kali ini yang dihadapi bukan masalah hubunagn antar individu, atau antara peneliti dengan informan. Tetapi sasaran penelitian secara keseluruhan, yang harus disamarkan namanya, kalau tidak malah ditutupi. Tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan dari kemungkinan adanya kesalahpahaman masyarakat sebagai akibat penyebutan nama secara langsung subyek penelitian.

Penelitian yang dilakukan Clifford Geertz di Jawa yang menghasilkan buku The Religion of Java (1960), tidak menyebutkan sama sekali identitas subyek. Nama desa tempat Geertz tinggal selama masa penelitian, disebutkan dengan nama desa Mojokuto. Padahal nama itu tidak dikenal dalam wilayah administrtaif di Jawa, khususnya Jawa Timur, dan lebih khusus adalah di Kabupaten Kediri. Karena nama kabupaten ini yang banyak disebut dalam tulisan-tulisan Geertz, yang bisa diartikan bahwa Mojokuto tempat yang disebut-sebut Geertz tersebut bukan nama yang sebenarnya.

Kerahasiaan berlanjut dalam penyebutan nama-nama informan, seperti para modin, kepala desa, pemuda desa, pemuka agama, dan sebagainya, semua tidak satupun disebut nama diri. Penyebutan hanya pada kedudukannya atau status, atau fungsi yang melekat di tengah masyarakatnya. Dengan merahasiakan nama-nama tersebut, peneliti bertujuan memproteksi atau sebagai penghargaan nama mereka, agar tidak membawa dampak tertentu kepadanya, ketika hasil penelitian dipublikasi.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Oscar Lewis, dengan buku hasil penelitian brjudul: Five Families, Mexican Case Studies ing the Culture of Poverty (1959). Buku yang telah diindonesiakan dengan Kisah Lima keluarga (1988) tersebut menyamarkan nama-nama para pemberi informasi, terutama kelima orang yang dikisahkan tersebut. Sebagaimana dikemukakan Parsudi Suparlan dalam Kata Pengantarnya, tujuan perahasiaan itu adalah untuk melindungi nama baik dan kehormatan para informan. Yang demikian itu sesuai dengan kode etik antropologi dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya (Suparlan, 1988). Maksud merahasiakan nama informan, bagi si peneliti juga untuk membebaskan diri dari ikatan-ikatan bathin atau kepentingan tertentu pihak informan, sehingga dengan demikian peneliti berkeleluasaan dalam mendiskripsi dan analisis fakta.

Lepas dari soal perlindungan nama baik informan atau kepentingan pihak informan sekalipun, perahasiaan identitas subyek bisa membuka peluang terjadinya manipulasi informasi. Ketika suatu informasi yang dituangkan sebagai hasil penelitian, ternyata berbeda, kalau bukan berlawanan dengan informasi yang sebenarnya disampaikan informan yang bersangkutan, maka menjadi sulit dilakukan verifikasi.. Konfirmasi data dan informasi memamng menjadi sulit dilakukan oleh orang lain, selain si peneliti sendiri, karena hanya ia yang tahu identitas secara jelas atas subyek-subyek penelitiannya. Sementara sebuah kejujuran telah menjadi bagian yang sangat penting dalam dunia ilmu pengetahuan, yakni kejujuran atas fakta, dan tentu saja termasuk kejujuran dalam mengungkap sumber informasinya. Masalahnya akan menjadi rumit apabila yang terjadi adalah misalnya ada tuntutan yuridis pihak informan, karena ada informasi yang menurutnya tidak benar atau dimanipulasi oleh peneliti. Pengandaian ini barangkalai dianggap terlalu jauh, tetapi bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Bagaimana pun ada dilema yang dihadapi peneliti, yakni antara keharusan menjaga kehormatan dan nama baik informan dengan keharusan berlaku jujur pada sumber data. Kembalinya bukan dengan memperketat kode etik penelitian, tetapi justru bagaimana melonggarkan kode etik tersebut, kalau hal itu dianggap ada. Kejujuran menjadi kata kunci, meskipun hal itu adalah sangat subyektif. Hasil penelitian adalah hasil penelitian itu sendiri, dan bukan pertanggungajawaban moral pribadi si peneliti. Karena sudut pandangan informan dan sudut pandang keilmuan, adalah dua dunia yang memang berbeda. Namun ada etika dan moralitas yang menjembatani di antara keduanya.

9. Peneliti Menghadapi Proteksi Politik.
Studi kebudayaan di negeri “orang lain” yang berebda sistem politiknya, merupakan tantangan tersendiri. Terutama pada suatu negara yang memberlakukan sistem proteksi yang sangat ketat, sehingga mempersulit bagi masuknya orang luar yang ingin masuk ke negaranya, untuk melakukan penelitian. Cina, yang dikenal sebagai negara penganut sistem komunias waktu itu, adalah negara paling protektif terhadap akses-akses keluar. Tembok Cina yang dibangun pada abad 16 itu seakan simbol kekuatan bangsa Cina nan tak tergoyahkan, dan menjadi aktraktif sebagai simbol kekuatan pemerintah yang begitu kuat dengan Marxisme-Leninisme-Maoisme. Pada bagian lain, yakni kerajaan Arab Saudi, menerapkan sistem proteksi yang sangat ketat, khususnya untuk masuknya orang non Muslim ke kota suci Mekah.

Adalah John Bryan Starr dengan bukunya: Ideology and Culture: An introduction to the dialectic of contemporary Chinese politics (1973), yang membongkar fakta sejarah di mana teori-teori materialisme kebudayaan oleh Marx telah sekian lama diartikulasi ke dalam dunia politik dan terjadi ideologisasi di daratan Cina. Dalam bab pertama buku tersebut, Starr mengurai bagaimana ia menembus liku-liku membuka pintu-pintu informasi mengenai realitas politik di Cina. Sebagai ilmuwan yang dituntut obyektivitasnya, tidak mudah baginya menghimpun informasi. Untuk menggali informasi dari kalangan rakyat biasa, hampir tidak mungkin. Mayoritas warga adalah kaum yang suka dan begitu fanatik dengan idiologi Marxis-Leninis dan Mao Tsetung. Cara membuat agar orang Cina mau berterus terang menginformasikan sikap dan pandangan politiknya hampir mustahil dapat dilakukan. Karena ketatnya pengawasan penguasa terhadap rakyatnya. Orang-orang yang datang ke Cina, termasuk si peneliti, tidak begitu saja dibolehkan memasuki komunitas dalam wilayah negaranya. Sebagaimana diketahui, penelitian ini dilakukan ketika kekuatan komunis pada pemerintah Cina belum cair seperti sekarang. Dominasi kekuatan Partai Komunis cukup kuat: mengontrol media massa, termauk televisi dan siaran radio.

Dalam penjajagannya mengenai kehidupan politik Cina, peneliti menggali pengetahuan dari siaran radio Cina, dan surat kabar terbitan Cina, sejauh yang bisa diakses di luar negeri. Sumber kedua, adalah dengan menginterview para pelarian atau pengungsi Cina, khususnya yang berada di Hongkong. Sumber berikutnya adalah juga pengungsi atau mahasiswa Cina yang sedang studi di AS. Dan terakhir, peneliti menggunakan visa sebagai jurnalis Amerika yang berkunjung ke Cina. Cara ini dilakukan karena pemerintah Cina tidak mengijinkan peneliti asing masuk ke negaranya. Terakhir sumber informasi adalah dari brosur yang disebarkan oleh kelompok bawah tanah (clandestine) Cina, yang sejak lama beroposisi hendak menggulingkan pemerintah. Kelompok ini sering menerbitkan selebaran atau brosur untuk dipublikasi kepada para pengungsi di luar negeri. (Starr,1973: 2).

Penelitian antropologi terhadap kehidupan politik di suatu negara yang berideologi komunis, ternyata mengandung resiko besar. Karena ketika ia harus obyektif dan jujur dalam penghimpunan informasi, sama saja dengan bunuh diri. Hingga ia menempuh berbagai cara, termasuk menempuh prosedur ilegal. Melalui jalan legal akan dianggap membongkar rahasia negara, yang ancamannya adalah dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi, kalau bukan dihukum bunuh.

Dengan suatu tujuan yang berbeda, prtoteksi yang sangat ketat, juga diberlakukan oleh pemerintah Saudi Arabia. Pengalaman menembus ketatnya proteksi itu pernah dilakukan oleh etnografer asal Belanda, Snouk Horgronje. Salah satu karyanya berjudul: Perayaan Mekah, termuat dalam serial INIS, (1989), yang telah diindonesiakan menjadi setebal 115 halaman tersebut diatulis pada akhir abad 18. Masa di mana kajian-kajian etnografi, khususnya mengenai bangsa-banga Asia masih sangat langka. Tapi Snouck, yang lebih dikenal sebagai non Mslim itu, dengan keberaniannya ia memasuki wilayah bangsa Muslim, dan seperti dketahui, ada aturan di Arab, bahwa kota Mekah hanya diperuntukkan orang Muslim. Artinya, orang non Muslim dilarang masuk ke kota suci tersebut. Cultural split tentu merupakan tantangan tersendiri bagi Snouck. Karena ia hampir pasti memanipulisi identitas keagamaannya. Lepas dari itu semua, ia menyempatkan pergi “berhaji” ke Makah untuk menelusiri jejak-jekak atau akar filosofi kehidupan bangsa Muslim Indonesia. Ia mengurai sejarah dan latarbelakang, kenapa umat Islam berkumpul setahun sekali, hanya untuk berbondong-bondong melakukan gerakan mengitari batu besar bernama Ka’bah. Ia mempelajari siapa Muhammad, sang tokoh pembuat sejarah, yang telah sanggup menggerakkan komunitas besar bernama dunia Islam, termasuk Muslim Indonesia. Diskripsi panjang oleh Snouck menggambarkan proses-proses kultural yang terjadi, yang antara lain dibentuk melalui perayaan haji ini, sehingga dunia Islam memperoleh kekuatan sejati. Tak pelak adanya topangan keyakinan atas kesejatian misi yang dibawa Muhammad, dan mitos-mitos yang menyertai ritual haji, telah diartikulasi dalam perjalanan panjang peradaban Islam. Para ahli boleh berbeda pendapat mengenai masalah akurasi data, sistematika penulisan atau diskusi yang lebih mendasar mengenai teori etnografi untuk menyimak peninggalan Snouck. Bahkan orang boleh mengumpat atau berdebat mengenai isu “Snouck masuk Islam atau berpura-pura masuk Islam”. Bagaimana pun itu adalah perjalanan membangun metodologi etnografi yang patut diberikan tempat tersendiri. Boleh jadi ia melanggar etika atas penyamarannya itu, seandainya benar, dan yang lebih keparat lagi, adalah tuduhan yang ditimpakan kepada Snouck, sebagai kaki tangan bangsa penjajah, sehingg apa-apa yang ditulisnya adalah hanya untuk masukan pemerintah Hindia Belanda untuk memperkuat wilayah jajahannya. Tapi karya-karya Snouck yang berjumlah ribuan halaman tentu, tak diingkari punya nilai luar biasa bagi kajian tentang Indonesia pada umumnya dan tentang Islam khususnya di di Asia tenggara.

Kondisi seperti itu pernah juga terjadi di Indonesia, ketika rezim orde baru berkuasa. Para peneliti asing cenderung dilihat dengan kacama kepentingan politik. Pemerintah Soeharto tidak ingin ada peneliti asing yang menulis tentang Indonesia tanpa seijin resmi pemerintahnya. Dimaksud dengan “ijin” di sini adalah memberikan keleluasaan melakukan penelitian selagi tidak merugikan kekuasaan. Obyektivitas dalam penelitian, sering diidentikan mengkritisi sepakterjang pemerintah Soeharto. Dan itu sama dengan menggerogoti kekuasannya.

10. Masalah Bahasa dan Komunikasi dalam penelitian Lapangan.
Dalam pertunjukan kesenian wayang kulit pada masyarakat Jawa, peranan dalang adalah menduduki tempat yang sentral. Studi antropologi yang dilakukan Groenendael (1987) ini memusatkan perhatian pada peran sang dalang. ia adalah bagian dari masyarakat Jawa yang kebetulan memiliki ketrampilkan memainkan pentas pewayangan tersebut. Ia adalah orangnya yang sangat halus bertutur kata dan sangat menguasai semua tingkatan dalam bahasa Jawa, seperti bahasa rakyat biasa, bahasa ngoko dan bahasa kromoinggil. Namun ia bukanlah golongan ningrat, atau keturunan bangsawan. Walau harus diakui, bahwa ada dalang yang khusus mendalang (mementaskan kesenian wayang) untuk kalangan keluarga kerajaan.
Dalam penelitiannya, Groenendael mengamati mengenai riwayat hidup masing-masing dalang yang ada di tengah masyarakat Jogya dan Surakarta. Karena di kedua kota ini, menurut hemat peneliti, menjadi pusatnya kebudayaan Jawa. Di dalam “Kata pengantar”mya, ia mengurai panjang lebar mengenai pengalaman kerja lapangannya. Di antara yang sangat spektakuler, adalah kesiapan bahasa. Penelitiannya sendiri merupakan desertasi doktornya pada Vrije Universiteid di Leiden. Sebagai orang Belanda, yang hendak terjun ke negara lain, Indonesia, ia mempersiapkan diri kursus bahasa Indonesia. Dan sebagai orang asing pula, yang hendak menelitu kebudayaan lokal (Jawa), ia pun membekali diri dengan kemampuan berbahasa Jawa. Kedua bahasa “asing” itu, terutama bahasa Jawa, bukan sesuatu yang mudah untuk dikuasai.

Orang asing biasanya kesulitan dalam menguasai bahasa tersebut. Karena bahasa yang harus diukasi tidak sekedar alat komunikasi, tetapi sebagai alat (simbol) untuk memahami kedalaman budaya yang sedang dikaji. Sebagaimana diketahui, bahasa Jawa adalah bertingkat-tingkat, sebagaimana disebutkan di atas. Sehingga memutuskan untuk meneliti kehidupan sang dalang, terlebih bagi orang asing, seakan memutuskan untuk menaiki sebuah gunung oleh orang yang bukan pecinta alam. Ini menyangkut masalah strategi pengumpulan data lapangan, yang dilalui si peneliti Belanda. Pertama-tama ia datang ke ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) di Solo, untuk memperkenalkan diri. Kemudian dari sini, atas bantuan Direktur ASKI, ia minta bantuan tenaga mahasiswa. Sebanyak 6 orang mahasiswa jurusan karawitam berhasil direkrut untuk membantu, terutama mewawancarai para dalang di Solo dan Yogyakarya, termasuk dalang Istana (kraton). Nama-nama para pembantu lapangan tersebut, ia uraikan riawayat hidupnya di bagian awal buku ini, termasuk sang direktur ASKI, bukan sekedar untuk diberi ucapan terimakasih, tetapi sebagai pertanggungjawaban keilmuan. Karena sebuah pengutaraan pengalaman lapangan, dan yang sekaligus memperlihatkan “wajah” para pembantu lapangan, bagaimana suka dan dukanya, akan dapat membantu memahami paparan-paparan hasil penelitian tersebut. Bahkan membantu konfirmasi-konfirmasi informasi dan pengembangan teori yang ditemukan.

Simpulan
Tidak mudah untuk menemukan isu-isu praktis menyangkut metodologi penelitian dalam karya-karya etnografi. Sebagaimana hasil refiew sejumlah karya etnografi yang penulis lakukan, isu-isu itu tidak selalu terungkap dengan jelas. Sebagian besar tidak mengemukan refleksi dari pengalaman lapangannya. Padahal pengungkapan seperti itu, mestinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan karya tulisnya itu sendiri, sebagai pertanggungjawaban ilmiah. Dengan mengemukakan pengalamannya dalam kerja lapangan, akan bisa disintesakan seberapa besar ketepatan metodologi yang dirancang dalam rencana kerjanya. Sebab hampir tidak mungkin, seseorang peneliti etnografi, yang sejak awal memang harus berlama-lama di lapangan, kemudian tidak mengalami kesulitan. Dan menjelaskan kesulitan yang dihadapi tersebut, bukanlah suatu “aib” dari segi metodologis, sepanjang diikuti dengan penjelasan mengenai langkah-langkah taktis atau akselerasi yang memadai dalam pengumpulan data.
Metyodologi yang pada awal diuraikan

Pada sebagian etnografer, ditemukan adanya semacam refelski, dengan mengurakan mengenai proses dan pengelaman selama penelitian. Tulisan itu dituangkan dalam makalah tersendiri dan diterbitkan pada kesempatan lain di luar karya etnografisnya. Buku Koentjaraningrat dan Donald K. Emerson (ed.), (1982), Aspek Manusia dan Penelitian Masyarakat, adalah satu contoh buku yang mengkhususkan penulisan pengalaman penelitian oleh sejumlah etnografer, seperti James Danandjaja, Hanna Papanek, Anton A. Lucas, Clifford Geertz, dan sebagainya. Pada awal pengkajian, saya menemukan sejumlah artikel yang termuat dalam buku: Johnnetta B. Cole Anthropology for the Eighties (ed.), (1982), yang di dalamnya banyak ditemui isu-isu praktis metodologis, yang ditulis oleh para etnografer. Di antaranya adalah: Cole, Johnnetta B. The Practice and Ethics Fieldwork, merupakan bahasan tulisan Paul Bohannan, (1963), Social Antropology; Holt, Rienhart and Winston, Charles A. Valentine, Fieldwork in the Ghetto. Tulisan ini mengungkap pengalamannya sebagai participant – observer, tentang kehidupan sehari-hari kaum minoritas urban (slum) yang sangat berbeda dengan penduduk Lugbara, Uganda; John Middleton, The End of Fieldwork. Menguraikan pengalaman lapangannya ketika berada di Lugbara Uganda. Ia mendiskripsikan pandangannya, perasaannya, tehnik-tehnik penelitian yang digunakan dan posisinya di dalam komunitas dan bagaimana ia mengikuti perkembangannya sampai over time; Joan Ablon, Field Method in Working with Class, menguraikan pengalamannya sebagai anthropolog, yang melakukan kajian terhadap klas menengah Amerika berhadapan dengan keunikan seseorang dan dilema profesi yang menyatukan diri sebagai insider dan sekaligus outsider dalam satu kultur; Joseph, On Ethics and Anthropology., menguraikan pengalaman ketika di dalam negerinya dan di luar negeri, sebagai anthropolog harus mempertimbangkan dan meredakan pengaruh yang mengganggu dan laporan yang dipublikasi di dalam masyarakat yang dia kaji.
Karya-karya etnografi yang sengaja tidak menuangkan masalah-masalah metodologis, kemungkinan berasalsan bahwa hal itu bukan hal yang substansial dalam penualisan, atau karena penulisan itu memerlukan perenuangan tersendiri, yang membutuhkan waktu pasca usainya penelitian. Penulis besar seperti Snouck Hurgronje , Juyonboll, Drewes, yang aktif menulis tentang Indonesia pada abad 18-19, termasuk di antara yang tidak menyertakan uraian mengenai bagaimana proses penelitian itu mereka lalui. Penulis lain adalah seperti Jan Boelaars (1986), Manusia Irian (1886), dan B. Bolland (1985), Pergumulan Islam di Indonesia. Dari ke 50 karya etnografi yang saya review, tidak ada 10 tulisan yang mengurai pengalaman peneliti selkama di lapangan.

Dari paparan practical issues di atas, penulis mencoba mengambil beberapa simpulan, bahwa proses penelitan lapangan, tidak selalu sesuai dengan yang direncanakan. Banyak kendala dan tantangan selama di lapangan.
1. Masalah membangun rapport, yang merupakan pintu utama dan pertama dalam kerja lapangan. Ada yang mengaku kegagalan, dan ada yang sekedar mengalami kesulitan. Kemudian beberapa cara ditempuh untuk mengatasinya.
2. Masalah kesulitan bahasa. Bagi seorang peneliti, faktor bahasa menjadi sangat urgen. Sebagai alat komunikasi, faktor bahasa bisa merusak hasil penelitian, karena ada kesalahan pemahaman oleh informan ketika diajukan pertanyaan. Sebagai bahasa budaya, kadang salah mengartikan sesuatu dari apa yang dihasilkan dari lapangan, semata-mata karena ungkapan itu diterjemahkan dalam bahasa peneliti, yang berbeda budayanya.
3. Masalah psikis seorang peneliti. Ketika menghadapi situasi yang terasa tidak mengenakkan. Penyebabnya, ada yang dari luar drinya, di antaranya karena sikap masyarakat yang curiga, tidak mau diwawancara karena sibuk dan cuek (ignore). Penyebab dari dalam, adalah peneliti merasa tidak siap secara mental, menghadapi kenyataan yang dihadapi, sehingga terasa jenuh atau bosan.
4. Masalah yang bersifat tantangan, adalah yang meyangkut proteksi politik. Disebut tantangan, karena apa yang seharusnya dilakukan oleh peneliti, hampir mustahil bisa dilakukan. Penyebabnya adalah karena proteksi politik, yang jelas melarang orang asing memasuki wilayah negaranya. Tantangan seperti itu ternyata bukan alasan untuk mengendurkan peneliti untuk tetap melanjutkan pekerjaannya. Cara yang ditempuh adalah dengan melakukan penyamaran, pengelabuhan bahkan menipulasi identitas.
5. Ada kompleksitas masyarakat, yang tidak mudah diduga, sehingga seorang peneliti harus bergegas membelokkan aspek metodologisnya. Bukan hal yang luar biasa, ketika seorang peneliti harus merubah “pertanyaan penelitian” ketika di tengah proses pengumpulan data, atau bahkan merubah judul penelitiannya. Semata-mata karena adanya sesuatu yang baru atau sesuatu yang lebih menarik untuk diperdalam, dan sebagainya.
6. Subyektivitas selalu menemani obyektivitas dalam penelitan lapangan. Yang pertama adalah karena aspek manusia, dengan segala aspek kepribadian dan kejiawaannya yang harus bertemu dengan sama manusia (informan), sehingga harus melunakkan diri, atau sementara tidak mengambil jarak. Sementarea pada sepk kedua, seorang peneliti harus mengambil jarak, untuk bisa melakukan klasifikasi-klasifikasi dan kategorisasi atas informasi secara obyektif. Secara metodologis, hal ini menyankut ranah etik dan emik. Subyektivitas lebih banyak diartikan menonjolkan faktor emik, agar data yang terkumpulkan benar-beanr lugas. Dan dalam melakukan kategorisasi menonjol faktor etik, karena untuk kepentingan analisis. Dst.
7. Masalah perlu dan tidaknya menuangkan “reffeksi atas pengalaman lapangannya”, bolehlah menjadi perdebatan. Tapi menurut hemat penulism hal sangat diperlu, sebagai bagian dari pertanggungajawaban proses yang dilalui dalam penulisan karya etnografis itu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Budiwanti, Dr. Erni, (2000), Islam Sasak, LkiS, Yogyakarta.
2. Babcock, Tim G., Kampung Jawa Tondano: Religiom and Cultural Identity, 1989, Gadjah Mada Univ. Press.
3. Dijk, C. van, “Survai Ringkas Kajian Indonesia Indonesia di negeri Belanda”, dalam: Stokhof, W.A.I. dan N.J.G. Kaptein (ed.), 1990, Beberapa Kajian Indonesia dan Islam, Seri INIS Jilid VI, Jakarta
4. Geertz, Clifford, (1973), The Interpretation of Cultures, Basic Books, Inc, Publishers, New York.
5. Cole, Johnnetta B, (1982), Anthropology for the Eighties, The Free Press, New York.
6. Groenandael, Victoria M. Clara van, 1987, Dalang di balik Wayang (judul asli: The Dalang behind the Wayang – The Role of the Surakarta and the Yogyakarta dalang in Indonesian – Javanese Society), Pustaka Utama Grafiti.
7. Ihromi, T.O., Paradigma Baru bagi Pengkajian Masalah Wanita dan Jender dalam Antropologi, Antropologi Indonesia, No. 60 Tahun XXIII, Agustus-Oktober 1999.
8. King, Dwight Y., “Masalah Pengolahan Data yang Berguna Bagi Pemerintah di Jakarta”, dalam: Koentjaraningrat dan Donald K. Emmerson (Editor), (1982) Aspek manusia dalam Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia
9. Koentjaraningrat dan Donald K. Emmerson (Editor), (1982) Aspek manusia dalam Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia.
10. Koentjaraningrat, “Pengamatan Terlibat oleh Seorang peneliti Pribumi dan Asing”, dalam: Koentjaraningrat dan Donald K. Emmerson (Editor), (1982) Aspek manusia dalam Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia.
11. Maliki, Zainuddin, 2004, Agama Priyayi: Makna Agama di tangan Elite Penguasa, Pustaka Marwa.
12. Mulder, Niels, 1997, Everay life in the Philippines: Interpretation of everiday life, Quezon City: New Delhi Publisher
13. Middleton, John, (1982),“The End of Fieldwork, dalam Johnnetta B. Cole Anthropology for the Eighties, The Free Press, New York.
14. Lewis, Oscar, Five Families (1950) (terj. Kisah lima Keluarga), 1988, Ys. Obor Indonesia.
15. Reinharz, Shulamit, 2005, Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial, Women Research Institute (copyright 1992 by Oxford University Press inc.).
16. Sinha, Surajit, “Religion in an Affluent Society”, dalam: Cole, Johnnetta B, (1982), Anthropology for the Eighties, The Free Press, New York
17. Spreadly, James P, David W.McCurdy, (1990), Conformity and Conflct, Reading in Cultural Anthropology, Scott, Foremasn and Company, USA.
18. Suparlan, Parsudi, 1988, “Kata Pengantar untuk edisi Indonesia”, Kisah Lima Keluarga; Telaah-telaah Kasus Orang Meksiko dalam Kebudayaan Kemiskinan, 1988, Ys. Obor Indonesia.
19. _____________________, “Culture and Ethnography”, dalam Spreadly, James P, David W.McCurdy, (1990), Conformity and Conflct, Reading in Cultural Anthropology, Scott, Foresman and Company, USA.
20. _____________________, “Culture and the Contemporary World”, dalam Spreadly, James P, David W.McCurdy, (1990), Conformity and Conflct, Reading in Cultural Anthropology, Scott, Foresman and Company, USA.
21. Hurgronje, Christiaan, Snouck, 1989, Perayaan Mekah, ( terj. Supardi), Seri INIS Jilid V, Jakarta.
22. Spreadly, James P, David W.McCurdy, (1990), “Culture and Ethnography”, dalam Spreadly, James P, David W.McCurdy, (1990), Conformity and Conflct, Reading in Cultural Anthropology, Scott, Foresman and Company, USA.
23. Starr, John Bryan, 1973, Ideology and Culture: An Introduction to the Dialectic of Contemporary Chinese Politics, Harper & Rowm Publication, Inc, New York.

PENDIDIKAN KEAGAMAAN EKSKUL DI BOGOR

STUDI KASUS DI SMA NEGERI 3 DAN SMA PGRI 1 BOGOR

Oleh
Marzani Anwar

Latar Belakang
Kegiatan Kerohanian sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah dalam beberapa tahun terakhir ini terus menyita perhatian. Publik semakin menyoriti kegiatan ini atas dasar semakin maraknya kegiatan sejenis ini di sekolah-sekolah baik tingkat SLTP maupun apalagi SLTA. Perdebatan atas dampak dari kegiatan ini pun tidak pelak mengemuka.
Salah satu penilaian terhadap efektivitas kegiatan Rohis ini muncul dalam sebuah tayangan di televise swasta. Sebagaimana diketahui, 5 September 2012, Metro TV mengadakan dialog di program Metro Hari Ini bersama narasumber Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta Profesor Bambang Pranowo, mantan Kepala Badan Intelijen Negara Hendropriyono dan pengamat terorisme Taufik Andri. Dalam dialog tersebut Profesor Bambang Pranowo menyampaikan hasil penelitiannya bahwa ada lima pola rekrutmen teroris muda. Salah satunya melalui ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Saat dialog berlangsung, ditayangkan pula info grafik berisi poin-poin lima pola rekrutmen versi Profesor Bambang Pranowo.
Dalam dialog itu dijelaskan, bahwa sasaran “teroris” adalah siswa SMP akhir hingga bangku SMA dari sekolah-sekolah umum, mereka juga masuk melalui program ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Siswa-siswi yang terlihat tertarik kemudian diajak diskusi diluar sekolah dan mereka dijejali berbagai kondisi sosial yang buruk, penguasa korup, keadilan tidak seimbang. Yang tidak kalah penting, katanya, mereka didoktrin bahwa penguasa adalah thogut/kafir/musuh. Penilaian terhadap dampak Rohis semacam ini tentu sepertinya “menggugat” atas berlangsungnya praktik kegiatan Rohis sebagai salah satu bentuk ekstrakurikuler keagamaan di sekolah. Tentu saja ada pihak yang pro dan kontra atas sinyalemen tersebut di atas dan tentu sebuah kewajaran semata.
Aktivisme remaja Islam yang duduk di bangku sekolah menengah ini jelas bukan sesuatu yang baru. Aktivisme mereka bisa dilacak jauh ke dua dekade yang lalu. Para remaja sekolah inilah yang mendorong pemakaian jilbab yang kini meluas di ruang-ruang publik: sekolah, kampus, kantor, pasar, mall, dan lain-lain sebagaimana studi Alatas dan Desliyanti (2002). Herrera dan Bayat (2010) yang dikutip Salim dkk, menuliskan bahwa seperti remaja lainnya, para remaja Muslim ini memiliki kesamaan selera pada segala sesuatu yang bersifat populer yang dijajakan oleh pasar kebudayaan global. Kendati demikian, mereka juga memiliki aspirasi-aspirasi politik ideologis dan melakukan seleksi dan negosiasi atas pilihan-pilihan yang ditawarkan pasar global tersebut. Hal ini membuat mereka menjadi sama, tetapi serentak dengan itu juga berbeda, dengan banyak remaja kota dan dunia lainnya, serta remaja Muslim lain di luar mereka.
Yudhistira (2010) menyebutkan, dalam kesarjanaan di Indonesia, anak muda biasa dibedakan menjadi dua: remaja dan pemuda. Yang pertama adalah anak-anak muda yang memiliki kesamaan selera, aspirasi, dan gaya hidup yang ingin selalu berubah dan umumnya mengacu pada perkembangan yang terjadi pada tingkat global, terutama Barat. Yang kedua adalah jenis mereka yang memiliki kesadaran lebih tinggi akan persoalan bangsanya, seperti persoalan korupsi, sistem politik, dan lain-lain. Yang pertama dianggap bersifat apolitis, sedangkan yang kedua bersifat politis, yang sering dihubungkan dengan kedudukan para mahasiswa.

Baca lebih lanjut

BIMBINGAN PRANIKAH DI KUA DALAM WILAYAH KOTA BOGOR

Marzani Anwar

Pernikahan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk mengarungi kehidupan berumahtangga, diperlukan kematangan, baik secara fisik, mental maupun pengetahuan yang cukup. Di sanalah diperlukan adanya bimbingan khusus, yaitu bimbingan yang diberikan kepada calon mempelai, sebagai bekal memasuki kehidupan baru tersebut. Diantara bekal yang ditanamkan adalah nilai-nilai keagamaan dalam berumahtangga, kesiapan mental mengarungi hidup bersama pasangannya, menguasai pengetahuan yang cukup masalah hak-hak dan kewajiban sebagai suami atau sebagai isteri.
Kantor Urusan Agama sebagai lembaga pemerintah yang bertugas melakukan pencatatan nikah, punya tanggungjawan moral tersendiri. Tidak sekedar mengakui keabsyahan secara administrasi, tetapi bertanggungjawab agar sang mempelai memiliki bekal yang cukup dalam memasuki gerbang berumahtangga. Dalam Undang Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, ditegaskan bahwa perkawinan merupakan ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1). Menjadi tugas dan wewenang KUA untuk menjalankan tugas pencatatan atas peristiwa nikah tersebut, dan sekaligus memberikan bimbingan kepada calon mempelai untuk pembekalan berumahtangga.
Namun dalam perjalanan berumahtangga, banyak persoalan yang timbul dan tak sedikit yang berakhir pada perceraian.Menurut data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA, sebagaimana dikutip dalam Saputra, 2011), pada2010 ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian ke Pengadilan Agama se-Indonesia. Menurut sumber data yang sama, pada tahun 2013 ada 319.066 permohonan cerai (baik cerai gugat dan cerai talak) yang dikabulkan oleh putusan mahkamah syar’iyyah/pengadilan agama di seluruh wilayah Indonesia. Tiga provinsi dengan jumlah kasus cerai terbanyak adalah Jawa Timur, 83.201 peristiwa (26,08 persen), Jawa Tengah, 68.202 peristiwa (21.38 persen). Dengan demikian, di ketiga provinsi tersebut saja, persentase peristiwa cerai mencapai 66,94 persen dari total peristiwa cerai nasional.
Diantara faktor-faktor penyebab perceraian yang diklasifikasikan pengadilan agama adalah faktor moral (poligami tidak sehat, krisis akhlak, cemburu), meninggalkan kewajiban (kawin paksa, ekonomi, tidak ada tanggungjawab), kawin dibawah umur, menyakiti jasmani (kekejaman jasmani, kekejaman mental), dihukum, cacat biologis, dan terus menerus berselisih (politis, gangguan pihak ketiga, tidak ada keharmonisan).
Sebagai bagian dari upaya menekan jumlah angka perceraian di Indonesia, Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kementerian Agama mengeluarkan peraturan Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 tentang Kursus Calon Pengantin. Tujuan pelaksanaan suscatin/kursus pranikah tersebut antara lain adalah untuk mewujudkan keluarga sakinah. Yang dimaksud keluarga sakinah dimaksud adalah keluarga yang didasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spritual dan materiil secara serasi dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara internal keluarga dan lingkungannya, mampu memahami, mengamalkan dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlakul karimah.

Baca lebih lanjut

JURU DAKWAH PLAT MERAH

Abstraksi hasil penelitian tentang Bimbingan Agama dan Kepenyuluhan di Jalarta Timur
Marzani Anwar
Pengantar
Masyarakat Jakarta seringkali menyuguhkan pemandangan yang kontras dalam kehidupan beragama. Di satu sisi ada sekelompok warga Jakarta yang sangat tinggi apresiasinya terhadap ajaran agama. Mereka tidak saja memiliki pengetahuan yang tinggi tehadap nilai dan ajaran Islam, tetapi juga memiliki kepatuhan yang mendalam dalam melakukan ritual ibadah. Kelompok social masyarakat dengan tipe seperti ini tidak hanya didominasi oleh masyarakat/etnis asli (Betawi), yang memang meyakini Islam sebagai suatu yang given. Tetapi kepatuhan yang sama terhadap ajaran Islam juga ditunjukkan oleh masyarakat pendatang. Terkadang kepatuhan yang amat mendalam yang dibarengi oleh semangat etnoreligius ini mengarah pada tindakan yang hanya mengejar kesalehan individual. Kehidupannya lebih banyak dihiasi oleh semangat untuk menyiapakan kehidupan kelak di akherat. Sehingga, bagi mereka yang berada dalam kondisi miskin, tak ada semangat untuk melakukan mobilitas. Anggapannya, kehidupan dunia sekedar “jembatan’ untuk mencapai kehidupan yang lebih kekal (baca: akherat). Hari-harinya lebih banyak dilewatkan untuk keluar masuk masjid, memuji nama Allah, sementara anak isteri di rumah membutuhkan nafkah yang harus segera dipenuhi. Padahal., sejatinya setiap manusia mengemban misi hidup yang harus seimbang antara dunia dan akherat.
Di sisi lain ada suatu kelompok yang “sedang meninggalkan” agamanya. Mereka tumbuh sebagai masyarakat yang kosmopolit, yang lebih mengedepankan nilai-nilai kemoderenan sambil mencampakkan nilai-nilai tradisional termasuk agama. Kehidupannya dipenuhi oleh semangat hedonis yang memprioritaskan kepusan duniawi semata. Budaya materialime menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan untuk bisa disebut sebagai “hidup sukses“ sebagai warga Jakarta. Kehidupan gemerlap dan serba glamour menandai gaya hidupnya. Terkadang, kelompok ini cenderung abai terhadap kebutuhan social kelompok masyarakat lain, alasannya karena prestasi hidup yang diukur oleh budaya materialisme hanya dapat diraih semata-mata karena usaha sendiri. Pada gilirannya mereka lupa untuk menyisakan kepedulian social bagi masyarakat sekitarnya.
Kehidupan hedonis dan materialis juga telah menyeret kelompok ini untuk meninggalkan syariat agama. Meskipun mengaku beragama Islam, ritual ibadah seperti shalat lima waktu, puasa dan menjalankan ibadah haji dianggapanya tidak terlalu penting.
Dua kelompok masyarakat di atas adalah dikotomi ekstrim yang biasa kita temukan sehari-hari dalam kehidupan di Jakarta. Keduanya memerlukan sentuhan pola dakwah yang transformatif. Persoalanya, bagaimana melakukan dakwah transformatif bagi kedua kelompok yang berbeda ini?

Baca lebih lanjut

MERETAS KONFLIK DAN KEKERASAN PELAJAR SMA/K DEPOK, JAWA BARAT

Oleh
Marzani Anwar

Bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa kekerasan paling kerap terjadi di kota-kota tidak lain adalah terjadinya tawuran yang melibatkan sesama siswa. Pada kenyataannya, tawuran yang melibatkan sesama pelajar memang terus saja marak, tanpa pernah berhasil diredam dan dinihilkan hingga kini. Modusnya pun bermacam, mulai dari senggolan lalu menyebabkan keroyokan, kadang saling lempar benda apa saja, saling ejek, hingga membajak angkutan umum. Korbannya pun sudah banyak berjatuhan.
Kalau mengikuti berita demi berita di media massa maupun elektronik, motif tawuran itu bermacam-macam. Mulai dari hal-hal sepele seperti beda atribut sekolah, rebutan pacar hingga yang paling serius sejarah pertarungan dan dendam bebuyutan antarsekolah. Pendek kata, kalau sekolah A itu musuh abadinya sekolah B, maka sekolah A bisa bergandengan dengan sekolah C, tapi tidak bisa dengan B. Demikian sebaliknya.
Bayangkan pula, jika melihat kalau mereka selagi dalam aksi tawuran. Seolah dunia ini hanya milik mereka. Muka-muka yang masih imut itu sontak bermata nanar dan tajam. Tidak diperhatikan lagi orang-orang di sekitarnya. Matanya nanar hanya tertuju pada pelajar lain yang jadi lawannya. Mereka berlari-lari sambil menenteng benda-benda tajam seperti rantai, gir, golok dan senjata tajam lainnya. Mereka berduyun mengejar lawannya. Belum puas, mereka melempari angkutan umum yang ditumpangi lawannya. Apalagi jika jumlah lawannya tidak sebanding, maka mereka makin beringas.
Di Kota Depok di Jawa Barat, sebagai kota yang berdekatan dengan wilayah Ibu Kota negara juga tak kalah marak sering terjadinya tawuran antarpelajar. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kota Depok, pada 2012, ada satu siswa tewas dan tiga pelajar dipenjara akibat tawuran tersebut. Setahun berikutnya, tahun 2013, kembali satu pelajar tewas dan satu pelaku dipenjara. Di tahun 2014 ini, sudah satu siswa meninggal, satu siswa dipenjara 2 bulan, dan satu lagi divonis 5 tahun penjara.
Atas persoalan masih sering terjadinya tawuran antarpelajar khususnya yang melibatkan siswa-siswa di beberapa sekolah (baca SMK) di Depok, maka perlu dilakukan penelitian untuk melihat sejauh mana efektivitas PAI di sekolah-sekolah tersebut. Mengingat bahwa, tindak kekerasan tersebut memiliki urgensi langsung dengan pendidikan agama. Siswa-siswa sekolah sebagai peserta didik tentulah memperoleh pelajaran agama secara rutin, sesuaai dengan tuntutan kurikulum yang telah dibakukan di dunia pendidikan nasional. Perbuatan kekerasan adalah sebuah penyimpangan, bahkan penentangan, terhadap sendi-sendi keagamaan. Nilai-nilai moral seperti itu tentu sudah sering ditanamkan oleh para guru agama, baik di dalam maupun di luar kelas. Maka terjadinya tindak kekerasan pada para siswa, patut dipertanyakan, kenapa mereka melakukan hal itu. Apakah mereka abai terhadap tuntunan, atau terdapat kelemahan pada pihak guru dalam metode pengajaran agamanya.
Penelitian ini penting dilakukan untuk mencari solusi atas masih seringnya terjadi tawuran antarpelajar di Depok dan mengembangkan PAI itu sendiri dalam konteks situasi pelajar yang sedemikian bermasalah dari sisi pemahaman toleransi dan budi pekerti dipandang dari sudut dampak pemberian mata pelajaran PAI.

Baca lebih lanjut

BARA DI KISARAN RUMAH IBADAH Cuplikan Hasil Studi tentang manajemen Konflik

Oleh Marzani Anwar

Persamaan berbangsa dan bertanah air tampaknya masih belum menjamin keharmonisan dalam masyarakat Indonesia. Perbedaan kepenganutan dalam beragama seringkali menumbuhkan keretakan. Demikian pun persamaan dalam kepenganutan satu agama, juga tidak selamanya terjauhkan dari perpecahan. Perbedaan kepentingan antar kelompok acapkali berkembang menjadi konflik.
Adalah sesuatu yang sangat sensitive, manakala konflik kepentingan itu bernuansa agama. Telah banyak konflik dan kekerasan terjadi, yang dilatarbelakangi oleh perbedaan paham keagamaan. Upaya penyelesaian atas konflik-konflik tersebut, telah pula dilakukan oleh berbagai pihak yang concern pada penciptaan perdamaian dan kaharmonisan hidup, sebagai bangsa yang bermartabat.
Terjadinya konflik bernuansa agama, telah menjadi keprihatinan berbagai pihak. Maka dalam menyikapi fakta konflik, negara dan masyarakat sudah berusaha melakukan tindakan-tindakan kongkrit sesuai tugas dan fungsinya masing-masing. Hal mana layak dilakukan karena, dalam bentuk apapun gejolak yang berbuah konflik bernuansa SARA ini merupakan salah satu ancaman bagi keutuhan bangsa dan negara.
Diantara kasus-kasus konflik bernuansa agama, adalah sebagaimana terjadi di Medan, tepatnya di Kalurahan Pulo Brayan II, pada tahun 2013. Memperhadapkan antara seorang warga etnis Cina, yang beragama Buddha dengan warga sekitar yang beragama Islam. Warga keturunan tersebut memiliki rumah pengobatan yang telah lama berkembang. Menurut warga, perkembangannya mengarah kepada pembentukan rumah ibadah. Masyarakat sekitar menaruh kecurigaan, karena ada tanda-tanda berubah menjadi rumah ibadah, yakni yang disebut Pekong. Warga merasa tidak nyaman dengan perkembangan tersebut, hingga timbul proses penolakan. Ketegangan antarumat beragama tak terelakkan, melibatkan warga masyarakat di Medan Timur yang beda agama.
Dari permasalahan itu, maka penelitian ini dilakukan. Dimaksudkan memperoleh gambaran yang jelas, kenapa konflik itu terjadi, dan bagaimana pengelolaan konflik itu sendiri. Siapa siapa saja para pihak yang memiliki komptensi untuk mengelola konflik di dalamyanya.
Cakupan dari permasalahan yang dimaksud akan meliputi banyak komponen dalam budaya setempat. Pada masyarakat Medan, yang dikenal multietnis, tekandung keunikan-keunikan tertentu dalam menghadapi masalah seperti ini. Manajemen konflik yang diterapkannya, barangkali tidak sebagaimana yang diperkirakan para pengamat.
Hasil penelitian ini selanjutnya diharapkan dapat berguna sebagai entry point bagi pembuat kebijakan Kementerian Agama dalam: memberikan informasi tentang upaya pengelolaan yang dilakukan oleh beberapa komunitas di wilayah Indonesia bagian Barat dalam upaya menemukan solusi konflik bernuansa keagamaan.

Strategi Pengumpulan Data
Penelitian ini merupakan studi kasus, dan bersifat kualitatif. Dalam memahami pokok persoalan penelitian, teknik dan pengumpulan data digunakan dua lpendekatan, yakni emik dan etik. Pendekatan pertama, mengharuskan peneliti untuk terjun langsung bersama masyarakat, dalam rangka mengenali secara apa adanya, fakta-fakta social dan kecenderungan-kecenderungan mereka, penilaian mereka, dan harapan-harapannya. Secara teknis, dilakukan dengan mencatat apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Untuk kelengkapannya, digunakan juga teknik wawancara.
Pendekatan etik dalam penelitian seperti ini, adalah dengan mempertimbangkan ketentuan- ketentuan yang berlaku, terutama yang dibuat oleh Pemerintah, dalam rangka menjaga keutuhan kerukunan antarumat beragama. Ketentuan, bisa berupa Perundang-undangan atau Surat Keputusan Bersama Antar Kementerian terkait, yang substansinya berangkat dari aspirasi umat beragama itu sendiri. Dengan melekatnya kepentingan-kepentingan itu, yang bersifat nasional, maka apa yang dihasilkan oleh penelitian juga diharapkan memberikan kontribusi scara nasional. Pendekatan etik juga dilakukan dengan mendalami literature dan peraturan pemerintah yang berkenaan dengan hubungan antarumat beragama di Indonesia Meski sifat studi adalah kasual, maka sejak awal berupaya menemukan fakta-fakta yang nantinya dapat diramu menjadi sesuatu yang general.. Sedangkan pendekatan emik

Profil Masyarakat Medan Timur
Sebagaimana juga masyarakat dalam wilayah lain di kota Medan, masyarakat Medan Timur sangat heterogeen. Secara kesukuan, terdiri dari masyarakat etnis Jawa, Batak, Simalangun, Cina, Aceh, dan Arab. Warga asal Jawa dan Batak relative dominan di wilayah ini. Meski masyarakat Batak, asalnya adalah Tapanuli Utara dan Toba Samosir, akan tetapi telah terjadi proses migrasi dari tahun ke tahun.
Penduduk dalam wilayah Medan Timur, kebanyakan adalah kaum pendatang. Mereka sudah sejak abad 18 menjadi penduduk di kota ini. Sudah terjadi proses asimilasi, integrasi, akomodasi, dan inkulturasi. Secara adat istiadat, para pendatang memang masih bisa dikelompok sesuai dengan suku atau marganya. Karena banyak aktivitas tradisional mereka yang masih dipertahankan. Nilai-nilai budaya masih banyak yang coba dipertahankan oleh masing-masing kelompok kesukuan.
Secara budaya pula, telah tumbuh budaya baru, sebagai hasil asimilasi mereka. Percampuran itu terjadi oleh adanya dinamika sosial dan proses modernisasi, yang melekat pada hampir semua bidang kehidupan. Terjadinya iklim kompetitif antar kelompok warga, di satu pihak, dan iklim integratif di lain pihak, adalah bagian dari proses dinamika sosial itu sendiri. Itulah ciri masyarakat industri.
Istilah industrialism adalah label yang menunjukkan jenis terakhir dari jenis-jenis strategi subsisten. Sebagaimana diketahui, bahwa pada semua masyarakat industri, baik di Barat maupun di Negara-negara Asia, sebagai negara industri memiliki kompleksitas. Mereka memperlihatkan kecenderungan memiliki keluasan dalam mata pencaharian, keragaman kelompok dan status sosial. Masyarakat industri cenderung didominasi oleh ekonomi pasar di mana terjadi pertukaran barang-barang dan jasa yang diukur melalui penentuan harga., dan berlaku hukum “demand and suply”. Ada kecenderungan memiliki tingkat spesialisasi yang tinggi di bidang ekonomi, dan pasar terbuka yang mengarah pada depersonalisasi hubungan antar manusia (depersonalization of human relation). Tipe kaum industrialis adalah segala sesuatu itu dituntut legalitas, political, dan sistem ekonomi menjadi institusi yang terpisah
Proses modernisasi pada masyarakat Medan Timur telah semakin membuat mereka terpolarisasi secara sosial, ekonomi dan budaya. Di samping lembaga-lembaga yang secara khusus melayani mesalah keagamaan, terdapat lembaga-lembaga yang secara khusus bergerak di sektor bisnis; bidang pengembangan budaya daerah; lembaga-lembaga sosial, dan organisasi pembinaan keolahragaan.
Kelompok warga etnis Cina di Medan Timur, misalnya, adalah merupakan bagian yang memiliki arti tersendiri. Mereka menjadi penggerak ekonomi, di hampir semua lini. Mulai perhotelan, pertokoan, sampai restoran, mereka ada. Dan menempati ruang-ruang strategis dalam mendekatkan diri dengan konsumen. Mereka menguasai pusat-pusat pertokoan dan di sepanjang jalur jalan protokol dan di mal-mal.
Orang Cina terkenal dengan sikapnya yang cuek terhadap agama. Orientasi hidup mereka lebih ke masalah-masalah bisnis. Soal keberagamaan, sebagian memeluk agama Buddha, dan sebagian lagi ke agama Konghucu. Meski agama yang terakhir ini adalah agama leluhur orang keturunan Tionghoa, namun hanya sedikit yang memeluknya.
Warga keturunan sebenarnya termasuk “penduduk asli” kota Medan. Maksudnya, bahwa sejak awal tumbuh dan berkembangnya kota ini, mereka sudah bertempat tinggal di sana. Namun warga keturunan selalu dikelompokkan sebagai warga “non pribumi”, dan selainnya, terutama warga asal Batak, Jawa, dan lain-lain, disebutnya sebagai warga pribumi.
Menjadilah masyarakat Medan Timur sebagai multikulturalis, ketika masing-masing kelompok etnis, kelompok agama, berbaur dalam keperbedaan. Hidup dan memiliki dinamika sendiri, tanpa saling mengalahkan, atau setidaknya, tanpa saling melemahkan. Multikulturalisme seperti itu, menjadi bagian penting pada masyarakat. Hal mana pada dasarnya bisa dilihat sebagai sebuah respon kebijakan publik terhadap heterogenitas budaya warga yang cenderung semakin kompleks akibat makin intensif dan massifnya pola migrasi manusia dari satu titik ke titik lainnya .
Sebagai kota metropolitan, dengan sendirinya harus menerapkan kebijakan kultural yang didasarkan pada konsepsi seperti itu. Asumsi kebijakan molting pot yang sering dilekatkan dengan kebijakan pengendalian masyarakat kota, adalah bahwa budaya-budaya warga yang sangat beragam itu akan mengalami percampuran dengan sendirinya tanpa intervensi negara. Masyarakat Medan Timur, dengan etnisitas masing-masing, bergerak secara alami. Terjadi juga proses kawin mawin, yang telah menjadikan perbedaan etnisitas pada sementara orang menjadi tidak kental lagi. Pada sebagian warga asal Jawa, yang memang sudah mengalami proses social dari generasi ke generasi, nyaris telah hilang karakteristik ke”Jawaan”nya. Mereka sering diidentifikasi sebagai Pujakusuma, yang artinya “putera Jawa kelahiran Sumatera”. Mereka sudah lekat dengan budaya setempat (Sumatera), yang merupakan percampuran antara Batak, Minang dan Aceh, Cina, dan sebagainya. Demikian juga pada masyarakat lainnya, ada sisi karakteristik yang mereka “korbankan” untuk menguatkan citra kebersamaan.
Masyarakat etnis Batak Mandailing, Batak Simalungun, Karo, Deli, sebagai warga asli (Sumut), mengalami pembauran budaya, melalui proses social yang sangat panjang. Pengaruh utama adalah pergaulan dan kerjasama secara multi etnis di berbagai lapangan kehidupan. Di samping itu adalah karena mereka memasuki pendidikan umum, baik di dalam maupun di luar Medan. Terutama adalah di perguruan tinggi di Jawa. Mereka mengenal budaya orang lain dan menyelami selama masa-masa studi . Dalam konsep molting pot tersebut, mereka memang harus melepaskan karakteristik kulturalnya masing-masing untuk bisa menjadi bagian dari sebuah budaya yang baru. Orang tidak bisa mempertahankan eksistensi kulturalnya masing-masing, melainkan harus hidup dalam sebuah budaya hasil percampuradukan. .

Keberagamaan
Data penduduk menurut Agama, yang ada di Kanwil Kemenag Sumut tahun 2013 menunjukkan bahwa pemeluk Islam di Medan Timur menduduki 68 % dari seluruh jumlah penduduk, yang mencapai besaran 122.288 jiwa. Disusul besaran berikutnya, adalah penganut Protestan sebesar 19,60 % atau 24.060 jiwa. Bagian terbesar para penganut Kristen Protestan adalah kalangan warga etnis Batak. Data selengkapnya adalah sbb.:

Tabel Jumlah Penduduk Berdasar Agama
Kecamatan Medan Timur
NO Agama Jumlah %
1. Muslim 83.098 68,00
2. Protestan 24.060 19,60
3. Katolik 10.501 08,50
4. Hindu 1.145 01,00
5. Buddha 3.437 02,70
6. Konghucu 147 00,20
Lain-2 0 0
Jumlah 122.288 100
Sumber: Kanwil Kemenag Sumut, Tahun 2013

Khusus mengenai kepemelukan suatu agama bagi masyarakat Batak, secara kasar dapat dikelompokkan antara Batak beragama Kristen, dan Batak Muslim. Penganut Kristen yang dominan di Nusantara menghimpunkan diri ke dalam HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Walau agama Kristen yang di tanah Batak pada mulanya ditaburkan di Parausorat Sipirok, akan tetapi perkembangan agama Kristen telah semarak di tanah Batak daripada di Sipirok sendiri. Daerah ini juga masih menyisakan kepercayaan tradisional seperti Parmalin yang terdapat di daerah Laguboti Balige. Sementara tanah Batak Balige juga dihuni oleh penganut Islam asal Batak yang mengalami konversi, antara lain atas pengaruh orang-orang Minang yang juga banyak tinggal di sana.
Orang Batak yang menganut Islam, biasanya mengelompokkan diri ke dalam Perkumpulan Jam’iyyah Batak Muslim Indonesia (JBMI). Sekalipun terjadi penggolongan secara agama, orang Batak memiliki ikatan yang kuat secara adat. Hubungan kekeluargaan dalam satu marga sangatlah dominan. Apapun agamanya, selama masih dalam satu payung marga, mereka terikat oleh adat kemargaan. Di manapun mereka bertempat tinggal, atau bekerja, orang-orang “se marga” atau “se Batak” pastilah merasa bersaudara dekat. Mereka memiliki tradisi hubungan kekerabatan Dalihan Natolu (sama dengan Tiga Tungku Sajarangan, pada masyarakat Minang), yaitu system kekerabatan sebagai hula-hula, dongan tu dan boru. Kedudukan yang dimiliki oleh seseorang dalam pandangan adat Batak tidaklah permanen, tergantung di kelompok mana ia berada. Cara ini dapat membawa pandangan bagi orang Batak, yaitu merelatifkan semua perbedaan, dan dalam kaitan itulah ruang gerak harmoni dibangun.
Menurut Bikhu Parekh, sebagaimana dikutip dalam tulisan Hikmat Budiman menyatakan, bahwa budaya yang berbeda mempresentasikan sistem makna dan visi tentang kehidupan yang baik yang juga berlainan. Karena masing-masing menyadari keterbatasan kapasitas dan emosi manusia dan hanya mampu menangkap sebagian saja dari totalitas eksistensi manusia, ia membutuhkan budaya-budaya lain untuk membantu mehamai dirinya secara lebih baik, mengembangkan cakrawala intelektualnya, merentangkan imajainasi dsb. Walau harus diakui ada riak ketegangan bernuansa agama, namun tidak sampai berkembang menjadi tindak kekerasan (anarki). Tercatat diantaranya : (1) Peristiwa penyerangan terhadap warga Muslim Kampung Melayu Selambo Kabupaten Deli Serdang oleh warga non Muslim; (2) Protes masyarakat Muslim atas pendirian rumah makan “babi panggang” sebelah “Masjid Kamal ” di Sibolangit di Deli Serdang; (3) Kasus dikeluarkannya peserta Pesparani dari Asrama Haji Medan; (4) Keberatan warga terhadap pembangunan Gereja GBKP di desa Gung Pinto Kec. Naman Teran; (5) Keberatan warga Lingkungan II atas pendirian Gereja HKBP Kel. Jati Makmur Kota, Binjai, dan (6) Konflik antar Jemaat HKBP di Medan Timur, bulan Agustus 2013,
Masih ada lagi kasus-kasus lain seperti itu dalam wilayah Sumatera Utara. Terakhir adalah yang bersifat internal, yakni sesama umat Protestan yang bernaung dalam HKBP. Peristiwanya terjadi pada bulan Agustus 2013 di Gereja HKBP Nommensen Pulo Brayan, yang berlokasi di Jl. Rumah Sakit Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Baru, Kec. Medan Timur. Konflik terjadi antara dua kelompok jemaat.
Pemda Kota Medan tampak cukup memberikan perhatian terhadap masalah pemeliharaan kerukunan antarumat beragama. FKUB sebagai lembaga yang dianggap penting di dalamnya, difasilitasi oleh Pemda dengan penganggaran dari APBD. Pimpinan FKUB juga dimasukkan dalam Muspida, setara dengan Kepala Kejaksaan, Kepala Kepolisian, Kepala Pradilan, Badan Perencanaan Pembanguna Daerah, dan lainnya. Peran penting FKUB antara lain adalah mediasi, apabila terjadi ketegangan antarkelompok agama, baik yang bersifat internal umat seagama maupun eksternal, antaragama .
Pulo Brayan Darat II, atau biasa disingkat “PBD II” adalah salah satu kelurahan dalam wilayah kecamatan Medan Timur. Dalam Data di KUA setempat, tercatat jumlah penduduknya adalah 17.276. Dari jumlah tersebut sebanyak 13.770 beragama Islam, Kristen Protestan 1.152 orang, Katolik 677 orang, Hindu 294 dan Buddha sebanyak 1.383 orang. Ternyata jumlah pemeluk agama Buddha terbanyak dari semua agama non Islam .
Besaran jumlah rumah ibadah di Pulo Brayan Darat II terdiri: Masjid sebanyak 7 buah, Mushalla 6 Gereja (tidak dibedakan antara Kristen dan Katolik) sebanyak 2, Vihara satu buah, dan belum ada Kuil. Sebagaimana diketahui, Kuil adalah tempat sesembahan bagi penganut agama Buddha. Kalau melihat besaran angka 1.383 jumlah pemeluk Buddha, memang layak dipertanyakan masalah belum adanya rumah ibadah bagi agama Buddha di wilayah kelurahan ini.
Walau perlu juga diketahui juga, bahwa fungsi rumah ibadah biasanya bersifat lintas batas wilayah administrasi. Artinya, sebuah rumah ibadah di mana pun berdirinya, dapat digunakan oleh pemeluk agamanya tanpa membatasi batas batas wilayah administratif. Dilihat dalam satu wilayah Kecamatan, umat Buddha ada sebesar 13.565 orang, dengan Kuil dua buah, yakni di dalam wilayah kelurahan Gang Batu dan Kelurahan Durian, masing masing satu buah. Maka menurut perhitungan kasar, umat Buddha, dengan jumlah penganut sebesar itu, masih bisa ditoleransi untuk mengajukan pembangunan rumah ibadah, di wilayah kecamatan Medan Timur.

Kasus Pergeseran Fungsi “Rumah Pengobatan” di Jl. Nangka.
Lingkungan PBD II, adalah masyarakat yang sangat heterogeen. Masyarakatnya berasal dari berbagai suku dan campuran. Paling mudah digolongkan adalah, antara suku Batak, suku Jawa dan Cina. Mereka hidup berbaur, dalam arti tidak ada “blok-blokan” dalam berumah tinggal. Hanyasaja, kalangan kebanyakan warga etnis Cina menempati jalur kanan-kiri jalan, Jl. Cemara, yang kondisinya lebih baik. Setidaknya lebih lebar dibandang gang-gang lain di lingkungannya, yakni sekitar 4 M. Posisi jalan Cemara hanya berjarak sekitar 30 M dari Pusat Pengobatan. Bangunan rumah-rumah mereka tegrolong lebih “berkelas menengah ke atas.
Sementara di perkampungan “warga kebanyakan” dalam wilayah tersebut terdiri beragam perumahan, mulai level di atas kelas memengah sampai di bawah kelas tersebut. Kondisi jalan-jalan kurang baik, yakni setengah beraspal dan ada bagian-bagian yang sudah rusak. Semak-semak liar terlihat di sebelah menyebelah jalan.
Seseorang ahli pengobatan Cina membuka praktek di sebuah rumah dalam wilayah yang bertetanggaan langsung dengan warga lain (non Cina). Pusat pengobatan ini adalah sebuah pengobatan alternatif. Karena pelayan medisnya tidak berpendidikan dokter atau akademisi yang sejenis. Cara pengobatan sangat mistis, yakni menggunakan dupa, dan doa-doa khusus ala agama Leluhur. Obat yang diramu adalah racikan tradisional Cina.
Rumah tempat praktek tepatnya di Jl. Cemara Gg. Nangka No. 20 Kel. Pulo Brayan Darat II Kec. Medan Timur. Sang ahli pengobatan tersebut bernama Joni Poniman alias Yansen, seorang warga keturunan. Ia mengaku sudah 16 tahun menjalankan prakteknya. Namun secara formal, berdasar Surat Ijin yang dikeluarkan oleh Kejaksaan Tinggi Medan, baru mulai praktek, pada tahun 2010.
Para pasien tiap hari berdatangan dari berbagai tempat, termasuk dari luar kota Medan. Umumnya dari masyarakat menengah ke bawah. Pada umumnya adalah mengidap penyakit semacam kesurupan atau gangguan kelainan syaraf lainnya. Cara pengobatan, seperti tertulis dalam surat ijin praktek, adalah: bersemedi lalu memasukkan Roh kemudian melakukan pengobatan memakai Hio, kertas merah, hijau, kuning, lilin dan pedang.
Selama menjalankan praktek, bertahun-tahun, tidak ada satupun pasien yang berasal dari wilayah kalurahannya sendiri. Masyarakat sekitar bersikap pasif, dalam arti, selama itu mereka tidak mempermasalahkan keberadaannya. Menurut pengakuan Yansen, “kami tidak membedakan pasien dari segi agama. Apapun agamanya, kami bantu penyembuhannya”. Tidak ada pula pasien yang mempermasalahkan cara cara pengobatan yang dilakukan.
Rumah pengobatan menempati lahan sekitar 250 M2. Di atas tanah habis untuk bangunan, yakni 2/3 lahan merupakan bangunan bertingkat dua. Bagian depan, adalah loby, yang berfungsi sebagai ruang tunggu pasien. Pintu depan tidak seperti layaknya rumah tinggal, tapi tertutup bagian bawah setinggi 1,6 M dan bagian atas setinggi 1 M merupakan dinding terbuat dari anyaman kawat, semacam lobang angin. Untuk masuk ke ruang ini hanya disediakan pintu kecil, berukuran 1 x 2 M. Pintu hanya dibuka untuk orang yang datang, kemudian ditutup kembali.
Di ruang loby dipasang beberapa patung berukuran sekitar 1x 1,5 M2. Jumlah patung antara 5. S.d. 7 buah, ditempatkan di sudut-sudut ruangan, dan dekat dinding kanan dan kiri ruangan. Di bagian dalam, adalah tempat praktek pengobatan, dan ruang keluarga. Setiap hari, terutama saat jam praktek, ruangan tengah dan depan, dilengkapi dupa berasap dan lilin yang selalu menyala.
Dalam perkembangannya, rumah pengobaan Yansen memperluas lahannya, khusunya halaman samping kanan,sekitar 300an M2. Lahan perluasan kemudian dipagar besi dan menyatu dengan rumah pengobatan tersebut. Menurut sang pemilik, lahan tambahan digunakan untuk parkir para tamu. Karena jalan depan rumah hanya sebatas untuk papasan kendaraan roda empat.
Kondisi jalan depan rumah prakteknya, tepatnya di Gg Nangka, memang hanya sebatas untuk lewat dua mobil. Kalau papasan antar kendaraan roda empat, harus bergerak lambat dan hati-hati, karena ruang gerak yang terbatas.
Menurut penjelasan para tetangganya, dari dalam rumah praktek penyembuhan alternative ini, sering mengeluarkan asap dupa (Hio). Semakin hari masyarakat merasa terganggu dengan adanya asap tersebut. Mereka menduga , di rumah pengobatan ini digunakan pula untuk persembanyangan secara agama Buddha. Dugaan itu diperkuat dengan adanya perubahan pada fisik bangunan. Pada pagar tinggi yang melingkar dipasang patung tertentu, sebagaimana layaknya terlihat pada Vihara, yang biasa menjadi pusat peribadatan kaum Buddha. Bentuk bangunan dan ornamen di sekitarnya semakin menampakkan diri sebagai sebuah Pekong. Sejauh ini tempat tersebut belum menampakkan sebagai pusat ibadah yang mendatangkan sejumlah orang.
Dugaan demi dugaan pun menyebar dan berkembang menjadi isu, yakni isu tentang keresahan warga, yang merasa terganggu oleh adanya asap dupa yang selalu keluar dari rumah tersebut. Walau menurut Yansen, “soal asap itu sebenarnya sudah ada sejak awal praktek, 16 tahun yang lalu, dan tidak ada warga yang mempermasalahkan. Sekarang,”kenapa itu dimasalahkan”, tanyanya. Warga pun mengangkat masalah lain, yakni melihat indikasi rumah yang menjadi pusat pengobatan tersebut akan diubah menjadi rumah ibadah.
Isu tentang adanya perubahan dari pusat pengobatan menjadi rumah ibadah, didasarkan juga pada: (1) penempatan patung-patung di ruang depan: (2) asap dupa atau Hio yang terus mengepul; (3) kunjungan sejumlah orang setiap malam, yang diduga bukan pasien, tapi peserta peribadatan, dan (3) ketertutupan rumah, baik rumah utama dan lahan “parkir”, tertutup oleh pagar tembok setnggi 3 meter. Masyarakat menduga, ada sesuatu yang dirahasiakan dengan ketertutupan itu. Sementara papan namanya memang tertulis sebaga Rumah Pengobatan
Cukup lengkap bekal kecurigaan oleh masyarakat sekitar, khususnya warga Muslim, terhadap perubahan bangunan yang akan menjadi rumah ibadah Buddha. Seperti diketahui, bahwa masyarakat yang tinggal di dalam wilayah kalurahan tersebut, mayoritas adalah beragama Islam. Mereka cukup sensitif dengan isu keagamaan seperti itu. Berdirinya rumah agama lain di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Sebagaimana penjelasan lurah setempat, bahwa umat Islam di lingkungannya merasa terganggu, dengan dugaan akan berdirinya rumah ibadah agama lain.
Dugaan juga membawa kekhawatiran, bahwa rumah ibadah nantinya akan berkembang, dan mempengaruhi keberagamaan anak anak. Mereka yang sudah lama hidup rukun sesama warga, kini merasa terusik karenanya. Meski data menunjukkan bawa, dalam wilayah kalurahan tersebut sebenarnya terdapat sejumlah warga penganut Buddha, yang membutuhkan rumah ibadah. Namun Yansen sendiri hampir tidak pernah berbicara “atas nama warga seagama”. Apa yang ia jelaskan selalu hanya berkisar soal perijinan sebagai pusat pengobatan. Sebagai pemilik sekaligus ahli pengobatannya, telah mengantongi izin dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, dengan menunjukkan copy Surat tersebut, Nomor B. 27. DSP.5/01/2010. Surat Izin ini dikeluarkan pada tanggal 11 Januari 2010
Surat tersebut diperpanjang, dengan isian yang sama, tertanggal 7 Juli 2013. Perpanjangan ini ia peroleh, pada saat-saat genting, yakni ketika warga baru saja menyampaikan gugatannya ke Walikota Medan tentang keberadaan rumah tersebut. Soal perizinan praktek pengobatan yang kedua tersebut, menurut Kepala KUA dan Lurah setempat, terindikasi dipalsukan. Karena pada tanggal 7 Juli adalah bertepatan hari Minggu. Maka tidak mungkin pejabat pemerintah menandatangani surat pada hari libur seperti itu. Surat ijin kedua ini disampaikan oleh pemilik rumah kepada Lurah setepat, dengan copy ditembuskan kepada Kepala Kecamatan dan Kepala KUA Medan Timur.
Warga Lingkungan 1 Pulo Brayan Darat II Kecamatan Medan Timur menempuh berbagai cara untuk menggagalkan rintisan Rumah Ibadah tersebut. Beberapa langkah yang ditempuh adalah sbb.:
Pertama, membuat Surat Pernyataan penolakan, dengan alasan, bahwa mereka tidak setuju pendirian Pekong, karena warga sekitar merasa terganggu dengan asap Hio. Surat Pernyataan ditandatangani sekitar 37 orang yang terdiri warga sekitar dalam lingkungan Jl. Nangka, dan beragama Islam.
Kedua, melakukan unjuk rasa di depan rumah Pengobatan. Sebanyak antara 60-70, yang kebanyakan ibu ibu. Mereka berombongan jalan kaki, dari rumah Kepling menuju Rumah Pengobatan tersebut. Sesampai di depan rumah pengobatan, mereka meneriakkan zel-zel pengusiran kepada pemilik rumah, agar mengehentikan ritual yang mengeluarkan asap hio, dan meminta agar segera pindah. Mereka juga menegaskan pernyataan “menolak” rumah ini dijadikan Pekong atau tempat ibadah umat Buddha.
Ketiga, memasang Baleho berukuran antara 3x 6 m , dengan dasar putih, dan tulisan merah berbunyi “ Kami warga lingkungan Pulo Brayan Darat II Tidak Mengizinkan adanya Pekong Di sini, Dan Supaya Ditutup”. Spanduk dipasang oleh beberapa orang Bapak-bapak, dan disaksikan oleh warga sekitar.
Keempat, menyampaikan Surat resmi ke Walikota, Perihal Operasi Pekong/ Pengobatan. Diantara isi surat adalah sbb.:
Sehubungan dengan keberadaan Pekong/Pengobatan yang berada di Jl. Cemara Gg. Nangka No. 20. Sangat mengganggu masyarakat sekitarnya, terutama asap Hio dan Abu Hionya yang beterbangan ke rumah-rumah penduduk sekitar yang menyebabkan sakit gangguan pernapasan / batuk.

Surat tertanggal 26 Juni 2013 ini ditandatangani: Kepala Lingkungan (Kepling) 1 Pulo Brayan Darat I; Kepala Kalurahan Pulo Brayan Darat II. Turut mendatangani atau “mengetahui” adalah: Ketua STMK Lk. 1, Ketua BKM Al Muslimin. Tembusan disampaikan kepada: MUI (Majelis Ulama Indonesia) Medan; Kejati Kota Medan; Kejari Kota Medan; Camat Medan Timur dan PKS Kota Medan. Tidak jelas, atas alasan apa, tembusan Surat juga disampaikan ke PKS, yang sepengetahuan orang adalah kepanjangan dari Partai Keadilan Sejahtera. Sebuah partai politik di Indonesia yang dikenal berbasis umat Islam.
Dengan adanya kemelut di sekitar dugaan pendirian rumah ibadah tersebut, maka aparat Pemerintah setempat turun tangan. Pihak Walikota menyerahkan penyelesaiannya kepada Camat setempat. Camat berkoordinasi dengan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Medan Timur. Kepala Camat seakan menjadi wakil Kementerian Dalam Negeri, dan Kepala KUA seakan mewakili Kementerian Agama. Oleh karena dalam setiap langkahnya, masing-masing melapor ke atasan langsung. Khususnya KUA melapor kekepala Kanwil Kementerian Agama.
Hubungan baik antara aparat di bawah, tampaknya memang sudah lama terjalin. Dalam hal ini: Lurah, Camat, Kepala KUA dan Kepala Lingkungan (Kepling) terlibat langsung dalam penyelesaian. Atas dukungan para pihak tersebut, Lurah Brayan Darat II mengambil inisiatif mengadakan dialog. Terutama dengan memanggil Yansen, sang empunya rumah pengobatan, dan beberapa pemuka masyarakat setempat lainnya.
Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Lurah. Setelah membuka acara, ia memberikan penjelasan mengnai kasus dan tujuan pertemuan. Terutama disebabkan adanya kemelut di tengah masyarakat, yang diakibatkan oleh beredarnya isu di sekitar rumah pengobatan, yang telah mengganggu ketertiban umum. Terutama mengenai keluhan warga, yang merasa terganggu dengan kepulan asap Hio dari rumah Yansen, serta indikasi akan menjadikan rumahnya sebagai Pekong atau rumah ibadah kaum Buddha.
Pihak Pelapor, yang diwakili oleh Kepling (Ketua RT) dan pemuka warga lainnya, menyampaikan keluhan warga sekitar soal asap Hio. Penjelasan lainnya, berkembang pada masalah kecurigaan dengan indikasi penggunaan rumah tersebut yang mengarah menjadi “Pekong”. Jadi, keluhan warga telah berkembang ke soal pendirian rumah ibadah. Oleh karena itu, maka dilampirkam pula Copy Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2006 (PBM) Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan FKUB dan Pendirian Rumah Ibadat.

Preview
Dalam ketegangan ernuansa Agama di Medan Timur ini, memperhadapkan antara warga Muslim dengan seorang warga beragama Buddha, etnis Cina, yang membuka usaha :pengobatan alternatif”,
Pihak Yansen alias Joni Poniman, yang adalah seorang warga Buddga tersebut, meskipun ia seorang warga etnis Tionghoa, tapi ia tidak bertindak atas nama kesukuan. Warga Pulo Brayan Darat II sebenarnya banyak dari kalangan Cina, dan tinggal dalam satu wilayah kalurahan, tetapi tidak ada yang ikut merasa terusik dengan masalah yang dihadapi Yansen.
Meski Yansen seorang penganut agama Buddha, ia pun tidak bertindak sebagai kelompok penganut agama Buddha. Pihak Kasi Pembinaan Agama Budha di Kantor Kemenag, tidak mau tahu masalah tersebut. Karena apa yang dilakukan Yansen, sepertinya bukan representasi kaum Buddha di wilayahnya.
Sebagai seorang ahli pengobatan alternatif, Yansen juga tidak bertindak dengan membawa organisasi para ahli pengobatan alternative. Barangkali memang tidak ada semacam asosiasi semacam itu. Tapi yang tampak dari permukaan, tindakan Yansen tidak lebih dari warga biasa, yang memiliki hak dan kewajiban. Ia ingin memperoleh kebebasan sebagaimana mestinya dalam membuka ruang usaha.
Yansen, pada dasarnya bertindak lebih sebagai individu yang membuka usaha untuk bisnis melalui jasa pengobatan tersebut. Hanya kebetulan ia adalah seorang keturunan Tionghoa, dan ia beragama Buddha yang tergolong taat. Cara pengobatan mengandung unsur kuat religi tertentu, yang dalam hal ini lebih dekat kepada agama Buddha.
Ritual yang dilakukan adalah bagian dari metode peribadatannya, yang tidak bisa langsung diidentifikasi sebagai “cara agama Buddha”, karena bercampur dengan motivasi penyembuhan suatu penyakit. Hanya saja dalam ritual itu dilengkapi dengan dupa dan nyala lilin, dan perangkat “magis” lainnya, di antara patung-patung yang biasa dijadikan sesembahan kaum Buddha.
Ketika masyarakat menyebut-nyebut tempat itu akan dijadikan pusat peribadatan, yang bernama “Pekong”. Penamaan sebagai rumah ibadah masih menjadi tandatanya. Karena pihak Yansen sendiri, dalam penjelasannya hanya “ingin bisa beribadah di rumah sendiri”. Nama Pekong sendiri tampaknya bukan dari Yansen, tapi dari masyarakat. Masalahnya, apakah benar, Pekong itu adalah Vihara kecil, atau sejenis Vihara, yang biasa dijadikan pusat persembahyangan kaum Buddha.
Hasil pertemuan di kantor kelurahan Pulo Brayan darat II, adalah kesediaan Yansen menutup Kinik Pengobatannya. Namun tidak berarti penutupan itu atas dasar sukarela. Tindakan penutupan oleh si empunya rumah pengobatan, tampaknya dengan berat hati dan terpaksa. Kepada penulis, antara lain ia menuturkan, bahwa” Balai Pengobatan yang terletak di Jl. Nangka, Pulo Brayan Darat II, itu adalah usaha saya, untuk membantu orang lain. Dan sudah dapat ijin dari Kejaksaan. Saya berpraktek sudah sejak 16 tahun yang lalu, dan soal asap dupa juga sudah ada sejak lama. Pertanyaan saya, “kenapa sekarang diributkan”. Kami melakukan pengobatan, tidak membeda-bedakan pasian, agamanya apa, dari semua agama, dan ada yang Islam, kami tidak pilih-pilih, semua saya obati. Terjadinya kasus pengusiran pada saya, ternyata yang menjadi povokator adalah tetangga sebelah rumah saya sendiri. Tampaknya ia tidak suka dengan keberhasilan saya. Provokasi dengan mencari-cari kesalahan saya, dibantu juga oleh Kepling (RT kalau di Jawa). Kalau menggunakan rumah saya untuk tempat ibadah, apakah itu salah ? Kepindahan saya, ini karena kami sengaja mengalah. Tapi tidak berarti kalah. Kami percaya, siapa yang zalim, yang menganiaya, pastilah akan menerima karmanya .
Pengakuan seperti di atas, mencerminkan keluguan seorang warga biasa. Tidak tampak ada ambisi untuk kepentingan yang di luar kepentingannya sendiri. Seorang Yansen, lebih menampakkan sebagai pebisnis, dan berkeahlian menjual jasa pengobatan. Kepentingan utamanya adalah bisnis di bidang jasa pengobatan.
Namun ia juga menunjukkan sebagai orang yang memiliki religiusitas. Jasa pengobatan ditempuh juga melalui ritual tertentu, yang kemungkinan besar memang bagian dari ajaran agamanya yang ia peluk. Ia merasa bebas menempuh cara apa saja, karena merasa di rumah sendiri, dan tidak mengganggu orang lain.
Namun ada sedikit masalah yang dilupakan oleh Yansen alias Joni Poniman. Bahwa masyarakat lingkungannya adalah warga yang beda agama. Ia menempuh cara dengan membiarkan abu hio (asap) beterbangan. Penampakan abu Hio, di tenagh warga beda agama, diartikan sebagai show of force. Sementara itu, ia adalah warga minoritas, yang gampang didekte oleh kelompok yang lebih besar.
Kalau benar apa yang ia lakukan selama ini, hanya untuk tujuan bisnis, mengapa dinding rumahnya dibuat tinggi, sampai 3 meter. Ketinggian dinding tertutup itu sendiri, secara budaya sudah menjadi simbol keangkuhan, atau setidaknya menjadi simbol ketertutupan. Gilirannya adalah mengundang kecurigaan, dan prasangka warga sekitar.
Prasangka negative yang membawa agama, merupakan menciptakan sensitivitas tersendiri. Dan persoalannya kadang membesar dan menyebar menjadi tanpa kendali.

Perspektif Budaya Lokal
Dalam kehidupan bermasyarakat, pola hubungan antar kelompok atau antarindividu biasa dibalut dengan norma-norma. Norma dipelihara melalui adat istiadat. Maka apabila terjadi konflik, termasuk yang bernuansa keagamaan, pada dasarnya masyarakat tidak mau melakukan tindakan terbuka.
Secara budaya, pada dasarnya manusia itu tidak senang dengan pertentangan atau konflik dan salah satu cara untuk menghindari terjadinya konflik ini adalah mengatakan sesuatu yang dirasa tidak mengenakkan. Disampaikannya secara langsung, tetapi dikemas sedemikian rupa sehingga ketika disampaikan tidak menyinggung perasaan orang lain .
Apa yang ditempuh oleh pemerintah dan pemuka agama di Medan Timur, tampak mereka berupaya melokalisir permasalahan. Maksudnya, agar peristiwa itu tidak sampai menjadi pembicaraan di level yang lebih luas.
Masalah “rumah pengobatan” Yansen telah dilokalisir di tingkat kalurahan. Artinya, bahwa pihak lurah setempat dianggap cukup utuk mengatasi konflik bernuansa tersebut. Tapi pertanyannya, kenapa Surat Protes warga disampaikan ke walikota dan melampirkan surat tersebut dengan copy SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, yang mengatur pendirian rumah ibadah.
Masih juga sulit dimengerti, persoalan “merasa terganggu oleh kepulan asap Hio”, yang menjadi subyek permasalahan, berkembang menjadi dugaan “pendirian rumah ibadah”. Dugaan itu yang kemudian dijadikan dasar protes. Mestinya, justru masalah itu yang menjadi subyek dialog, sebelum mempermasalahkan pendirian rumah ibadah itu sendiri.
Smentara dalam kasus yang terjadi di Medan Timur ini, orang yang bernama Yansen pada awalnya adalah lebih sebagai individu, yang bergerak di bidang bisnis usahaa jasa pengobatan.
1. Ia adalah seorang beretnis Cina, yang cenderung disikapi secara agak berjarak dengan etnis lainnya
2. Memiliki sikap hidup yang ekslusif. Tidak banyak bergaul dengan tetangga.
3. Kurang berkomunikasi secara terbuka.
4. Memiliki kebiasaan keagamaan, yang berbeda dengan masyarakat sekitar.
5. Tidak mengindahkan peraturan pemerintah tentang pendirian rumah ibadah.
Aparat di tingkat paling bawah menggunakan kewenangannya, sejauh ada dalam peraturan ruang lingkupnya. Sebagaimana diketahui, fungsi Camat, sebagaimana diatur oleh Pemda Kota Medan, antara lain: (1) Mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum, dan (2) Mengoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan .
Pejabat se-level Camat yang ada di Kota adalah Kantor Kementerian Adama Kota Medan, yang secara struktural di bawah Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Sumut. Pejabat di bawah Camat, adalah kepala Kalurahan, yakni kalurahan BDP II, sedangkan aparat di bawah Kepala Kantor Kemenag Kota adalah Kepala KUA Medan Timur.
Kedua pejabat, yakni Lurah BPD II dan Kepala KUA Medan Timur, adalah dua pejabat terbawah, dari kementerian masing-masing. Selama ini, merekalah yang langsung menangani persoalan konflik bernuansa agama dalam wilayahnya.
Di kalangan umat berbeda agama, hal yang menumbuhkan semangat kerukunan adalah adanya wadah lain yang mempertemukan mereka, yaitu upacara-upacara budaya. Konsep Dalihan Natolu (tiga tungku) dalam setiap kampung , membuat masyarakat memiliki titik temu yang lain, sungguhpun mereka berbeda anutan agama. Pengertian Dahlian Natolu adalah bahwa setiap kampung berdiri di atas kesepakatan bersama yang diperankan oleh tiga komponen, yaitu Mora (pengambilan gadis), Kahanggi (kawan seketurunan) dan anak Boru (pemberian gadis). Konsep ini berlangsung secara dinamis. Artinya, di kampung tertentu, seseorang memerankan fungsi moral, tetapi apabila ia pergi ke kampung lain maka ia mungkin memerankan fungsi anak Boru, dan demikian seterusnya .
Masyarakat Medan yang dikenal multietnis, para pemuka agama di Medan, sebenarnya telah mencoba mengakomodir pemikiran secara lintas teologi. Salah satu bentuknya adalah dengan menerbitkan buku Ensiklopedi Praktis Kerukunan Hidup Umat Beragama. Materi utama buku adalah penjelasan terhadap kosakata dan idiom keagamaan yang biasa dipakai dalam percaturan antaragama. Semangat yang digaungkan melalui buku ini, adalah mengusung ke-saling-pengertian dalam rangka menciptakan keharmonisan antarumat beragama. Buku Ensiklopedi ini, oleh tim penulisnya berharap menjadi bagian dari interaksi dan komunikasi antaragama. Dialog akademis, menempatkan semua subyek dalam martabat dan penghormatan yang sama

Sementara dalam manajemen konflik, kalau mengikuti apa yang menurut Robinson dan Clifford (1974), merupakan tindakan konstruktif yang direncanakan, diorganisasikan, digerakkan, dan dievaluasi secara teratur atas semua usaha demi mengakhiri konflik. Manajemen konflik seperti ini harus dilakukan sejak pertama kali konflik mulai tumbuh. Karena itu, sangat dibutuhkan setidaknya kemampuan melacak pelbagai faktor positif pencegah konflik daripada melacak faktor negatif yang mengancam konflik. Sebagaimana dikatakan Parker (1974), konflik tidak dapat dimanajemen kecuali ditunda dengan mengurangi tindakan ekstrim yang terjadi. Caranya antara lain adalah mencegah konflik agar tidak menghasilkan sesuatu. Manajer konflik segera menarik individu keluar dari keterlibatan mereka dalam suatu konflik dan memasukkan mereka ke kelompok lain yang tengah menjalankan program-program positif.
Konsep seperti itu tampaknya sangat sulit diterapkan dalam mengelola konflik antaragama atau konflik bernuansa agama. Karena keberagamaan adalah refleksi budaya, yang bercampur antara yang profan dan yang sekular, antara yang duniawi dan yang sakral. Walau diakui, bahwa pada sebagiannya adalah perilaku yang sifatnya formal, dan bahkan ada realitas yang terstruktur secara sosial. Namun masalah pengelolaan terhadap suatu tindakan yang berlatar belakang agama, memerlukan pendekatan yang konprehensif. Perlu jalan panjang untuk mengelola konflik seperti itu, untuk menghasilkan output yang akan bersifat perbaikan. Sebuah sistem yang tersusun paska evaluasi adalah sistem yang lebih kondusif, yang menjamin keberartian hasil kesepakatan dan negosiasi antar para pihak yang terlibat. Setidaknya lebih mampu meredam perseteruan yang bersifat laten. Di sinilah perlunya kearifan lokal diperlukan, yakni dengan sama-sama merasa terkendali oleh nila-nilai budaya lokal.

Perspektif “ mayoritas-minoritas”
Potensi konflik muncul, kapan saja dan di mana saja, ketika kegiatan kelompok agama minoritas melakukan misi dakwah untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas penganutnya, yang oleh kelompok mayoritas dipandang sebagai ancaman . Apa yang terjadi di Medan Timur, sedikit banyak juga mencerminkan karakterisik seperti itu. Kelompok mayoritas Islam tampak sangat peka terhadap setiap perkembangan agama kelompok minoritas, dan bereaksi cepat dan mungkin juga keras terhadap kegiatan kelompok agama minoritas yang dinilai merugikan atau mengganggu eksistensi kelompok mayoritas Islam.
Seperti juga yang terjadi di beberapa daerah Indonesia Timur, seperti NTT, Irian Jaya, kelompok mayoritas Katolik atau Kristen akan sangat sensitif terhadap perkembangan kelompok agama minoritas, dan juga akan bereaksi cepat dan mungkin juga keras terhadap kelompok agama minoritas yang dipandang telah mengganggu dan mengancam eksistensi kelompok agama mayoritas Kristen di daerah tersebut. Demikian juga di Bali, daerah yang dikenal cukup terbuka dan memiliki toleransi tinggi terhadap agama-agama lain, ternyata juga tidak mudah bagi kelompok agama minoritas untuk meluaskan kegiatannya dan menempatkan para personil pada posisi pemerintahan tertentu. Kelompok agama mayoritas Hindu di daerah ini akan selalu waspada dan mendeteksi dan mungkin juga mencurigai setiap kegiatan kelompok agama minoritas di daerah ini. Mereka juga sangat peka dan dapat bereaksi keras terhadap kegiatan kelompok agama minoritas yang dinilai mengganggu dan mengancam eksistensi agama Hindu Bali .
Menurut Feagin (1984), kelompok minoritas memiliki lima karakteristik: (1) diskriminasi penderitaan dan subordinasi, (2) fisik dan / atau ciri-ciri budaya yang membedakan mereka, dan yang ditolak oleh kelompok dominan, (3) berbagi rasa identitas kolektif dan beban umum, (4) sosial berbagi aturan tentang siapa yang termasuk dan yang tidak menentukan status minoritas, dan (5) kecenderungan untuk menikah antar anggota kelompoknya. Sementara menurut sosiolog Louis Wirth, kelompok minoritas didefinisikan sebagai “sekelompok orang yang, karena karakteristik fisik atau budaya, dibedakan dengan yang lain dalam masyarakat di mana mereka hidup, mereka merasa terdeferiansi dan mendapat perlakuan yang tidak adil, dan yang karenanya menganggap dirinya sebagai obyek diskriminasi kolektif ” .
Tidak semua komponen karakteristik tersebut sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Namun setidaknya memberikan gambaran, betapa kelompok Yansent di Jl. Moh. Yamin dan Yansen di Jl. Nangka PBD II, adalah represantasi kelompok penganut Buddha di Medan Timur. Dengan jumlah penganutnya, yang hanya 2,7 dari populasi penganut Agama, berarti memang benar-benar minoritas. Sementara kelompok Muslim yang dihadapi adalah sebesar 68 persen dari populasi, yang dalam posisi lebih dominan.
Pengelolaan konflik, yang terjadi, memang tidak tampak mengangkat masalah “minoritas-mayoritas”, tapi secara tidak langsung bisa dicermati. Khususnya terhadap rumah Yansen di Jl. Nangka, yang dihadai dengan cara unjuk rasa, pemasangan spanduk di dinding rumahnya. Berlanjut dengan penyampaian, kalau tidak boleh dibilang pelaporan, ke Walikota, atas dasar persangkaan “ pusat pengobatan dijadikan rumah ibadah”. Komunitas dominan seakan lebih leluasa menyampaikan aspirasi. Sementara seorang Yansen nyaris tidak punya kekuatan apa-apa untuk membela diri.
Kesediaan Yansen untuk menghentikan kegiatan dan pindah tempat praktek ternyata juga bukan sebuah keputusan yang tulus. Pernyataan yang bersangkutan, yang merasa diperlakukan tidak adil, dan menjadi korban provokasi, menunjukkan bahwa kepergiannya dari rumah sendiri dihinggapi rasa takut. Tentu ketakutan terhadap kelompok dominan. Meski harus pula diakui, bahwa pihak kelompok dominan, dalam hal ini telah juga menunjukkan penggunaan cara-cara legal dan menjauhi kekerasan dalam melakukan aksinya.
Tetap saja menjadi catatan penting, bagaimana mengelola konflik keagamaan seperti itu. Agar tidak ada pihak yang dirugikan. Sebaliknya justru diupayakan menciptakan kondisi yang saling menguntungkan. Secara teoritis, pengelolaannya akan melewati tahapan-tahapan tertentu, hingga ketahapan terakhir mencapai keharmonisan abadi.
Secara teoritis, bisa meminjam penahapan setelah melalui teknik resolusi konflik, menurut Liliweri, dengan memperhatikan factor-faktor yang menjadi stimulasi konflik, maka keseluruhannya akan menghasilkan konflik yang fungsional dan disfungsional. Ditunjukkan keluaran konflik yang fungsional, misalnya konflik yang dapat memperbarui kualitas keputusan, menghadirkan inovasi dan kreativitas baru, meningkatkan perhatian, kepentingan, dan rasa ingin tahu, dan terakhir, membuat kita melakukan evaluasi diri. Sedangkan hasil yang disfungsional itu, antara lain, munculnya hambatan komunikasi, mengurangi derajat kohesi, mengganti tujuan dengan permusuhan, membuat kelompok makin berkurang fungsinya, dan membuat kelompok saling mengancam karena ada daya juang.
Apa yang terjadi di Medan Timur, tampaknya belum sejauh itu. Namun menjadi kewapaan bersama, oleh para pihak yang terlibat konflik, untuk melakukan pengawalan secara dinamis, agar tidak semua pihak merasa bebas dan terhindar dari keterancaman.

Simpulan dan Rekomendasi
Kasus itu sebenarnya bisa dilokalisir, dalam arti diselesaikan melalui musyawarah warga Kalurahan tempat di mana rumah pengobatan itu berdiri. Tapi cara yang ditempuh dengan menyurati walikota dan dengan melampirkan copy SKB Dua Menteri, telah berarti membawa persoalan mikra ke level makro. Sehingga pengelolaan konflik seakan harus melewati batas-batas komunitas spatial.
Keperbedaan agama, antara pendiri rumah ibadah dengan masyarakat lingkungannya, sebenarnya tidak sertamerta menimbulkan resistensi, manakala dikelola dengan baik. Salah satu kata kuncinya adalah, komunikasi. Bagaimana para pemuka Agama yang ada, dalam hal ini, dari Agama Buddha dan pemuka Islam, memiliki intensitas untuk sering bertemu, berdialog dan tukar pikiran. Tentang pendirian rumah ibadah oleh salah satu pihak yang berdialog, adalah salah satu agenda. Untuk dipikirkan bersama, mengenai sejauh mana umat setempat memiliki kebutuhan.
Masyarakat perlu menangani perbedaan-perbedaan yang ada secara arif. Kalau perbedaan-perbedaan itu dipertentangkan, dengan mengabaikan prinsip kearifan local tersebut, maka akan berkembang menjadi bom waktu, kearah konflik berkepanjangan. Saat ini, yang terjadi adalah semacam pengusiran terhadap seorang warga Buddha – Cina yang dianggap tidak arif dalam mensikapi lingkungannya, yang Muslim. Sementara warga Muslimnya kurang bertindak arif, karena telah menyebabkan seorang warga tersebut, terpaksa pergi, dan dengan perasaan (yang dalam pengakuannya) “menyakitkan”. Persoalan yang sebenarnya sangat local ini, semestinya dikelola dengan “bahasa local” dan sebisa mungkin penyelesaian bisa menguntungkan semua pihak.