Resonansi Tafsir: PASAL SENDA GURAU

Istimewa

Marzani Anwar

QS Muhammad /47: 36

ِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

 

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.:

Meskipun hidup ini “paribasan  mung mampir ngombe” (numpang minum), tapi ngombe-ne sering dilama-lamain, biar bisa sambil kongkow. Itulah manusia, memiliki kesukaan ngobrol sana-sini, bercanda , dan yang ” diombe” juga bermacem-macem, ada cocacola, kopi, susu kental manis, teh tubruk, dan sebagainya.

Dalam ayat tersebut, Allah bukannya melarang, tapi menyindir saja. Ada kata LA’IB di situ, yang menurut Quraisy Shihab adalah suatu perbuatan yang dilakukan bukan untuk suatu tujuan yang wajar, tidak membawa manfaat atau tidak untuk mencegah kemungkaran atau kemudharatan,  Kadang hanya untuk mehghabiskan waktu semata.  Sedangkan kata LAHW adalah suatu perbuatan yang menyebabkan kelengahan pelakunya, dan atau pekerjaan yang tidak memberi manfaat. ( lihat buku: Lajnah Tafsir Kemenag, Maqasidus Syariah hal. 169) . Kata LAHW yang masdarnya  LAHWAN sering di-Jawakan menjadi LELAHANAN, yang artinya, ngobrol sana sini, tidak ada ujungpangkalnya. di ayat yang lain, kata Lahw  berati ” perkataan yang tidak berguna” ( lihat QS. Luqman /31:6)

Ayat yang sepadan dengan itu ada di QS. Al. Ankabut/29: 64, al Hadid/57: 20, yang menyebutkan bahwa semua kesenangan di dunia itu hanya MENIPU.

Pada sisi lain, Quraisy Shihab dengan mengutip pendapat mufassir  Tabatabai’yi , bahwa  kata “permainan” dalam ayat tersebut merupakan gambaran dari awal perkembangan manusia hingga mencapai kedewasaannya. Kata ALA’IB merupakan gambaran keadaan bayi, yang merasakan enaknya perbuatan bermain walau ia sendiri tidak tahu  tujuan apa apa kecuali bermain dan bermain. Disusul kemudian dengan AL-LAHW,. yakni ksesukaan. berceloteh, yang juga dilakukan oleh anak anak. Artinya bahwa, kesukaan bersenang senang yang tak jelas tujuannya itu sebenarnya, dunianya anak-anak. Makanya kalau orang dewasa  kok masih suka bermaln-main,  dibilang  “aya cah cilik/ seperti anak kacil”.

Masih. tentang pendapat  Tabataiy tadi, bahwa kesukaan bagi orang dewasa disebut sebagai   AZ- ZINAH yang artinya perhiasan. Itulah kesenangan kalangan  para pemuda dan remaja. (Azzina di sini jangan diartikan berzina). Karena perbuatan mereka suka berhias dan bergaya. menyusul kemudian perbuatan TAFAKHUR , yang artinya berbangga. Berikutnya adalah “takassur bil amwal wal aulad” , yaitu suka memperbanyak harta dan anak. Pelakunya jelas orang dewasa. Sekali lagi, Allah bukannya melarang kalian menjadi orang kaya, berbangga dengan kekayaannya, dan berbangga dengan anak anaknya. Tapi diingatkan di ayat 36 S. Muhammad tersebut, bahwa kesenangan di dunia ini adalah kesenangan yang PALSU.  Kenapa palsu, karena kesenangan dalam kegiatan seperti itu , pasti ada keberakhiran, atau kebosanan. Main gaple, ndengerin lagu, nonton fiilm,  jajan sate, makan pizza hut, minum racun eh w’dank ronde, dan apa saja,  pasti ada tingkat kebosanannya. Bahkan bagi yang usianya di atas 55 tahunan, disediakan roti enak-enak kayak brownis, oleh para  anak, cucu atau temen,  malah jawabe ” wis do panganen kono,  aku iki wae singkong goreng” ( saya cukup singkong gorengnya saja).

Di S. al A’nkabut/29: 64. Allah memaklumkan  pula atas kesenangan manusia itu, tapi harus ingat, bahwa  hidup yang sebenar-benarnya adalah DI AKHERAT kelak.

MENANGKAL TERORISME

Studi Tentang Peran MUI  Banten Dalam menangkal  Aksi terorisme

Oleh

Marzani Anwar

Terorisme adalah tindak kjekerasan yang sangat meresahkan umat manusia. Secara agama, perbuatan itu mendapat tentangan oleh sebagian besar umat Islam. Namun demikian, hingga hari ini berbagai serangan teroris, yang disikapi aparat keamanan dengan aktivitas penangkapan anggota kelompok teroris serta pengungkapan jaringannya masih saja terus terjadi. Serangkaian penangkapan terduga pelaku teror rupanya juga terjadi di wilayah Tangerang Selatan baru-baru ini. Kejadian terbaru misalnya Gang Haji Hasan, Kampung Sawah, Tangerang Selatan, menambah panjang daftar penyergapan terduga teroris yang terjadi di wilayah Kota Tangerang Selatan. Di wilayah ini sejak 2010 lalu terhitung ada lima kasus termasuk yang di Kampung Sawah Selasa 31 Desember 2013.

Secara berturut-turut dapat disebutkan antara lain, yang terjadi pada Maret 2010, di mana tim dari Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri pertama kali menyambangi Tangerang Selatan. Saat itu mereka menggerebek sebuah rumah toko penyedia jasa warung internet Multiplus di Pamulang dan sebuah rumah di Gang Asem, Jl Setiabudi. Penyergapan saat itu menyebabkan tiga orang tewas ditembak karena dianggap melawan dan hendak melarikan diri saat ditangkap. Polisi menyatakan orang yang tewas dalam penggerebekan itu, salah satunya terduga teroris yanag dicari-cari bernama Dulmatin, perancang bom Bali 2002 lalu. Pada September 2012, Densus 88 giliran meringkus dua terduga teroris di kawasan pemukiman Bintaro Sektor IX. Keduanya diduga kuat anggota kelompok teroris jaringan Muhammad Toriq, yang sebelumnya menyerahkan diri di kawasan Tambora, Jakarta Barat. Mereka dianggap bertanggung jawab atas ledakan bom di Beji, Depok, Jawa Barat. Adapun penyergapan yang dilakukan di Kampung Sawah pada malam pergantian tahun lalu (2014) itu dianggap yang terbesar selama ini.[1].

Baca lebih lanjut

KRUSIALITAS DALAM PENELITIAN ANTROPOLOGI

Oleh Prof.Dr. Marzani Anwar

Penelitian antropologi adalah penelitian yang melibatkan manusia peneliti secara utuh di lapangan. Ke lapangan di samping berbekal konsep, seorang peneli juga membekali diri dengan sikap mental, ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan menyesuaikan diri dengan budaya setempat, kesiapan memutuskan sesuatu dengan cara yang tepat bila menghadapi kesulitan-kesulitan. Belantara sasaran penelitian, adalah ragam keunikan dan sekaligus tantangan. Di antara tantangan itu ada yang sifatnya mikro, yakni ada pada diri peneliti sendiri, dan yang bersifat makro adalah kondisi di luar dirinya, yang ikut mempengaruhi cara kerja penelitian.

Dimaksud isu praktis dalam metodologi penelitian, adalah masalah-masalah yang secara praktis dihadapi dalam penelitian etnografi. Karena kerja penelitian adalah sebuah proses panjang, yang dimulai sejak seseorang peneliti memusatkan perhatian pada sebuah tema penelitian. Tahapan yang dilalui neliputi: perumusan masalah secara benar, mengangkat permasalahan penelitian secara meyakinkan, menguraikan metodologi, signifikansi, dan bila perlu membuat hipotesa kerja. Dalam membuat rencana lapangan, dituntut kejelasan dalam konsep, penetapan teknik-teknik pengumpulan data sesuai dengan kondisi lapangan, menghimpun data dan bagaimana data akan dianalisis. Kerja ini merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan antara aspek teoritas dan metodologi. Apa yang dimaksud dengan masalah paktis pun tidak sederhana. Karena pada dasarnya menyangkut semua pentahapan ker peneltian tersebut.

Baca lebih lanjut

PENDIDIKAN KEAGAMAAN EKSKUL DI BOGOR

STUDI KASUS DI SMA NEGERI 3 DAN SMA PGRI 1 BOGOR

Oleh
Marzani Anwar

Latar Belakang
Kegiatan Kerohanian sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah dalam beberapa tahun terakhir ini terus menyita perhatian. Publik semakin menyoriti kegiatan ini atas dasar semakin maraknya kegiatan sejenis ini di sekolah-sekolah baik tingkat SLTP maupun apalagi SLTA. Perdebatan atas dampak dari kegiatan ini pun tidak pelak mengemuka.
Salah satu penilaian terhadap efektivitas kegiatan Rohis ini muncul dalam sebuah tayangan di televise swasta. Sebagaimana diketahui, 5 September 2012, Metro TV mengadakan dialog di program Metro Hari Ini bersama narasumber Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta Profesor Bambang Pranowo, mantan Kepala Badan Intelijen Negara Hendropriyono dan pengamat terorisme Taufik Andri. Dalam dialog tersebut Profesor Bambang Pranowo menyampaikan hasil penelitiannya bahwa ada lima pola rekrutmen teroris muda. Salah satunya melalui ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Saat dialog berlangsung, ditayangkan pula info grafik berisi poin-poin lima pola rekrutmen versi Profesor Bambang Pranowo.
Dalam dialog itu dijelaskan, bahwa sasaran “teroris” adalah siswa SMP akhir hingga bangku SMA dari sekolah-sekolah umum, mereka juga masuk melalui program ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Siswa-siswi yang terlihat tertarik kemudian diajak diskusi diluar sekolah dan mereka dijejali berbagai kondisi sosial yang buruk, penguasa korup, keadilan tidak seimbang. Yang tidak kalah penting, katanya, mereka didoktrin bahwa penguasa adalah thogut/kafir/musuh. Penilaian terhadap dampak Rohis semacam ini tentu sepertinya “menggugat” atas berlangsungnya praktik kegiatan Rohis sebagai salah satu bentuk ekstrakurikuler keagamaan di sekolah. Tentu saja ada pihak yang pro dan kontra atas sinyalemen tersebut di atas dan tentu sebuah kewajaran semata.
Aktivisme remaja Islam yang duduk di bangku sekolah menengah ini jelas bukan sesuatu yang baru. Aktivisme mereka bisa dilacak jauh ke dua dekade yang lalu. Para remaja sekolah inilah yang mendorong pemakaian jilbab yang kini meluas di ruang-ruang publik: sekolah, kampus, kantor, pasar, mall, dan lain-lain sebagaimana studi Alatas dan Desliyanti (2002). Herrera dan Bayat (2010) yang dikutip Salim dkk, menuliskan bahwa seperti remaja lainnya, para remaja Muslim ini memiliki kesamaan selera pada segala sesuatu yang bersifat populer yang dijajakan oleh pasar kebudayaan global. Kendati demikian, mereka juga memiliki aspirasi-aspirasi politik ideologis dan melakukan seleksi dan negosiasi atas pilihan-pilihan yang ditawarkan pasar global tersebut. Hal ini membuat mereka menjadi sama, tetapi serentak dengan itu juga berbeda, dengan banyak remaja kota dan dunia lainnya, serta remaja Muslim lain di luar mereka.
Yudhistira (2010) menyebutkan, dalam kesarjanaan di Indonesia, anak muda biasa dibedakan menjadi dua: remaja dan pemuda. Yang pertama adalah anak-anak muda yang memiliki kesamaan selera, aspirasi, dan gaya hidup yang ingin selalu berubah dan umumnya mengacu pada perkembangan yang terjadi pada tingkat global, terutama Barat. Yang kedua adalah jenis mereka yang memiliki kesadaran lebih tinggi akan persoalan bangsanya, seperti persoalan korupsi, sistem politik, dan lain-lain. Yang pertama dianggap bersifat apolitis, sedangkan yang kedua bersifat politis, yang sering dihubungkan dengan kedudukan para mahasiswa.

Baca lebih lanjut

BIMBINGAN PRANIKAH DI KUA DALAM WILAYAH KOTA BOGOR

Marzani Anwar

Pernikahan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk mengarungi kehidupan berumahtangga, diperlukan kematangan, baik secara fisik, mental maupun pengetahuan yang cukup. Di sanalah diperlukan adanya bimbingan khusus, yaitu bimbingan yang diberikan kepada calon mempelai, sebagai bekal memasuki kehidupan baru tersebut. Diantara bekal yang ditanamkan adalah nilai-nilai keagamaan dalam berumahtangga, kesiapan mental mengarungi hidup bersama pasangannya, menguasai pengetahuan yang cukup masalah hak-hak dan kewajiban sebagai suami atau sebagai isteri.
Kantor Urusan Agama sebagai lembaga pemerintah yang bertugas melakukan pencatatan nikah, punya tanggungjawan moral tersendiri. Tidak sekedar mengakui keabsyahan secara administrasi, tetapi bertanggungjawab agar sang mempelai memiliki bekal yang cukup dalam memasuki gerbang berumahtangga. Dalam Undang Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, ditegaskan bahwa perkawinan merupakan ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1). Menjadi tugas dan wewenang KUA untuk menjalankan tugas pencatatan atas peristiwa nikah tersebut, dan sekaligus memberikan bimbingan kepada calon mempelai untuk pembekalan berumahtangga.
Namun dalam perjalanan berumahtangga, banyak persoalan yang timbul dan tak sedikit yang berakhir pada perceraian.Menurut data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA, sebagaimana dikutip dalam Saputra, 2011), pada2010 ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian ke Pengadilan Agama se-Indonesia. Menurut sumber data yang sama, pada tahun 2013 ada 319.066 permohonan cerai (baik cerai gugat dan cerai talak) yang dikabulkan oleh putusan mahkamah syar’iyyah/pengadilan agama di seluruh wilayah Indonesia. Tiga provinsi dengan jumlah kasus cerai terbanyak adalah Jawa Timur, 83.201 peristiwa (26,08 persen), Jawa Tengah, 68.202 peristiwa (21.38 persen). Dengan demikian, di ketiga provinsi tersebut saja, persentase peristiwa cerai mencapai 66,94 persen dari total peristiwa cerai nasional.
Diantara faktor-faktor penyebab perceraian yang diklasifikasikan pengadilan agama adalah faktor moral (poligami tidak sehat, krisis akhlak, cemburu), meninggalkan kewajiban (kawin paksa, ekonomi, tidak ada tanggungjawab), kawin dibawah umur, menyakiti jasmani (kekejaman jasmani, kekejaman mental), dihukum, cacat biologis, dan terus menerus berselisih (politis, gangguan pihak ketiga, tidak ada keharmonisan).
Sebagai bagian dari upaya menekan jumlah angka perceraian di Indonesia, Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kementerian Agama mengeluarkan peraturan Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 tentang Kursus Calon Pengantin. Tujuan pelaksanaan suscatin/kursus pranikah tersebut antara lain adalah untuk mewujudkan keluarga sakinah. Yang dimaksud keluarga sakinah dimaksud adalah keluarga yang didasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spritual dan materiil secara serasi dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara internal keluarga dan lingkungannya, mampu memahami, mengamalkan dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlakul karimah.

Baca lebih lanjut

JURU DAKWAH PLAT MERAH

Abstraksi hasil penelitian tentang Bimbingan Agama dan Kepenyuluhan di Jalarta Timur
Marzani Anwar
Pengantar
Masyarakat Jakarta seringkali menyuguhkan pemandangan yang kontras dalam kehidupan beragama. Di satu sisi ada sekelompok warga Jakarta yang sangat tinggi apresiasinya terhadap ajaran agama. Mereka tidak saja memiliki pengetahuan yang tinggi tehadap nilai dan ajaran Islam, tetapi juga memiliki kepatuhan yang mendalam dalam melakukan ritual ibadah. Kelompok social masyarakat dengan tipe seperti ini tidak hanya didominasi oleh masyarakat/etnis asli (Betawi), yang memang meyakini Islam sebagai suatu yang given. Tetapi kepatuhan yang sama terhadap ajaran Islam juga ditunjukkan oleh masyarakat pendatang. Terkadang kepatuhan yang amat mendalam yang dibarengi oleh semangat etnoreligius ini mengarah pada tindakan yang hanya mengejar kesalehan individual. Kehidupannya lebih banyak dihiasi oleh semangat untuk menyiapakan kehidupan kelak di akherat. Sehingga, bagi mereka yang berada dalam kondisi miskin, tak ada semangat untuk melakukan mobilitas. Anggapannya, kehidupan dunia sekedar “jembatan’ untuk mencapai kehidupan yang lebih kekal (baca: akherat). Hari-harinya lebih banyak dilewatkan untuk keluar masuk masjid, memuji nama Allah, sementara anak isteri di rumah membutuhkan nafkah yang harus segera dipenuhi. Padahal., sejatinya setiap manusia mengemban misi hidup yang harus seimbang antara dunia dan akherat.
Di sisi lain ada suatu kelompok yang “sedang meninggalkan” agamanya. Mereka tumbuh sebagai masyarakat yang kosmopolit, yang lebih mengedepankan nilai-nilai kemoderenan sambil mencampakkan nilai-nilai tradisional termasuk agama. Kehidupannya dipenuhi oleh semangat hedonis yang memprioritaskan kepusan duniawi semata. Budaya materialime menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan untuk bisa disebut sebagai “hidup sukses“ sebagai warga Jakarta. Kehidupan gemerlap dan serba glamour menandai gaya hidupnya. Terkadang, kelompok ini cenderung abai terhadap kebutuhan social kelompok masyarakat lain, alasannya karena prestasi hidup yang diukur oleh budaya materialisme hanya dapat diraih semata-mata karena usaha sendiri. Pada gilirannya mereka lupa untuk menyisakan kepedulian social bagi masyarakat sekitarnya.
Kehidupan hedonis dan materialis juga telah menyeret kelompok ini untuk meninggalkan syariat agama. Meskipun mengaku beragama Islam, ritual ibadah seperti shalat lima waktu, puasa dan menjalankan ibadah haji dianggapanya tidak terlalu penting.
Dua kelompok masyarakat di atas adalah dikotomi ekstrim yang biasa kita temukan sehari-hari dalam kehidupan di Jakarta. Keduanya memerlukan sentuhan pola dakwah yang transformatif. Persoalanya, bagaimana melakukan dakwah transformatif bagi kedua kelompok yang berbeda ini?

Baca lebih lanjut

MERETAS KONFLIK DAN KEKERASAN PELAJAR SMA/K DEPOK, JAWA BARAT

Oleh
Marzani Anwar

Bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa kekerasan paling kerap terjadi di kota-kota tidak lain adalah terjadinya tawuran yang melibatkan sesama siswa. Pada kenyataannya, tawuran yang melibatkan sesama pelajar memang terus saja marak, tanpa pernah berhasil diredam dan dinihilkan hingga kini. Modusnya pun bermacam, mulai dari senggolan lalu menyebabkan keroyokan, kadang saling lempar benda apa saja, saling ejek, hingga membajak angkutan umum. Korbannya pun sudah banyak berjatuhan.
Kalau mengikuti berita demi berita di media massa maupun elektronik, motif tawuran itu bermacam-macam. Mulai dari hal-hal sepele seperti beda atribut sekolah, rebutan pacar hingga yang paling serius sejarah pertarungan dan dendam bebuyutan antarsekolah. Pendek kata, kalau sekolah A itu musuh abadinya sekolah B, maka sekolah A bisa bergandengan dengan sekolah C, tapi tidak bisa dengan B. Demikian sebaliknya.
Bayangkan pula, jika melihat kalau mereka selagi dalam aksi tawuran. Seolah dunia ini hanya milik mereka. Muka-muka yang masih imut itu sontak bermata nanar dan tajam. Tidak diperhatikan lagi orang-orang di sekitarnya. Matanya nanar hanya tertuju pada pelajar lain yang jadi lawannya. Mereka berlari-lari sambil menenteng benda-benda tajam seperti rantai, gir, golok dan senjata tajam lainnya. Mereka berduyun mengejar lawannya. Belum puas, mereka melempari angkutan umum yang ditumpangi lawannya. Apalagi jika jumlah lawannya tidak sebanding, maka mereka makin beringas.
Di Kota Depok di Jawa Barat, sebagai kota yang berdekatan dengan wilayah Ibu Kota negara juga tak kalah marak sering terjadinya tawuran antarpelajar. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kota Depok, pada 2012, ada satu siswa tewas dan tiga pelajar dipenjara akibat tawuran tersebut. Setahun berikutnya, tahun 2013, kembali satu pelajar tewas dan satu pelaku dipenjara. Di tahun 2014 ini, sudah satu siswa meninggal, satu siswa dipenjara 2 bulan, dan satu lagi divonis 5 tahun penjara.
Atas persoalan masih sering terjadinya tawuran antarpelajar khususnya yang melibatkan siswa-siswa di beberapa sekolah (baca SMK) di Depok, maka perlu dilakukan penelitian untuk melihat sejauh mana efektivitas PAI di sekolah-sekolah tersebut. Mengingat bahwa, tindak kekerasan tersebut memiliki urgensi langsung dengan pendidikan agama. Siswa-siswa sekolah sebagai peserta didik tentulah memperoleh pelajaran agama secara rutin, sesuaai dengan tuntutan kurikulum yang telah dibakukan di dunia pendidikan nasional. Perbuatan kekerasan adalah sebuah penyimpangan, bahkan penentangan, terhadap sendi-sendi keagamaan. Nilai-nilai moral seperti itu tentu sudah sering ditanamkan oleh para guru agama, baik di dalam maupun di luar kelas. Maka terjadinya tindak kekerasan pada para siswa, patut dipertanyakan, kenapa mereka melakukan hal itu. Apakah mereka abai terhadap tuntunan, atau terdapat kelemahan pada pihak guru dalam metode pengajaran agamanya.
Penelitian ini penting dilakukan untuk mencari solusi atas masih seringnya terjadi tawuran antarpelajar di Depok dan mengembangkan PAI itu sendiri dalam konteks situasi pelajar yang sedemikian bermasalah dari sisi pemahaman toleransi dan budi pekerti dipandang dari sudut dampak pemberian mata pelajaran PAI.

Baca lebih lanjut

BARA DI KISARAN RUMAH IBADAH Cuplikan Hasil Studi tentang manajemen Konflik

Oleh Marzani Anwar

Persamaan berbangsa dan bertanah air tampaknya masih belum menjamin keharmonisan dalam masyarakat Indonesia. Perbedaan kepenganutan dalam beragama seringkali menumbuhkan keretakan. Demikian pun persamaan dalam kepenganutan satu agama, juga tidak selamanya terjauhkan dari perpecahan. Perbedaan kepentingan antar kelompok acapkali berkembang menjadi konflik.
Adalah sesuatu yang sangat sensitive, manakala konflik kepentingan itu bernuansa agama. Telah banyak konflik dan kekerasan terjadi, yang dilatarbelakangi oleh perbedaan paham keagamaan. Upaya penyelesaian atas konflik-konflik tersebut, telah pula dilakukan oleh berbagai pihak yang concern pada penciptaan perdamaian dan kaharmonisan hidup, sebagai bangsa yang bermartabat.
Terjadinya konflik bernuansa agama, telah menjadi keprihatinan berbagai pihak. Maka dalam menyikapi fakta konflik, negara dan masyarakat sudah berusaha melakukan tindakan-tindakan kongkrit sesuai tugas dan fungsinya masing-masing. Hal mana layak dilakukan karena, dalam bentuk apapun gejolak yang berbuah konflik bernuansa SARA ini merupakan salah satu ancaman bagi keutuhan bangsa dan negara.
Diantara kasus-kasus konflik bernuansa agama, adalah sebagaimana terjadi di Medan, tepatnya di Kalurahan Pulo Brayan II, pada tahun 2013. Memperhadapkan antara seorang warga etnis Cina, yang beragama Buddha dengan warga sekitar yang beragama Islam. Warga keturunan tersebut memiliki rumah pengobatan yang telah lama berkembang. Menurut warga, perkembangannya mengarah kepada pembentukan rumah ibadah. Masyarakat sekitar menaruh kecurigaan, karena ada tanda-tanda berubah menjadi rumah ibadah, yakni yang disebut Pekong. Warga merasa tidak nyaman dengan perkembangan tersebut, hingga timbul proses penolakan. Ketegangan antarumat beragama tak terelakkan, melibatkan warga masyarakat di Medan Timur yang beda agama.
Dari permasalahan itu, maka penelitian ini dilakukan. Dimaksudkan memperoleh gambaran yang jelas, kenapa konflik itu terjadi, dan bagaimana pengelolaan konflik itu sendiri. Siapa siapa saja para pihak yang memiliki komptensi untuk mengelola konflik di dalamyanya.
Cakupan dari permasalahan yang dimaksud akan meliputi banyak komponen dalam budaya setempat. Pada masyarakat Medan, yang dikenal multietnis, tekandung keunikan-keunikan tertentu dalam menghadapi masalah seperti ini. Manajemen konflik yang diterapkannya, barangkali tidak sebagaimana yang diperkirakan para pengamat.
Hasil penelitian ini selanjutnya diharapkan dapat berguna sebagai entry point bagi pembuat kebijakan Kementerian Agama dalam: memberikan informasi tentang upaya pengelolaan yang dilakukan oleh beberapa komunitas di wilayah Indonesia bagian Barat dalam upaya menemukan solusi konflik bernuansa keagamaan.

Strategi Pengumpulan Data
Penelitian ini merupakan studi kasus, dan bersifat kualitatif. Dalam memahami pokok persoalan penelitian, teknik dan pengumpulan data digunakan dua lpendekatan, yakni emik dan etik. Pendekatan pertama, mengharuskan peneliti untuk terjun langsung bersama masyarakat, dalam rangka mengenali secara apa adanya, fakta-fakta social dan kecenderungan-kecenderungan mereka, penilaian mereka, dan harapan-harapannya. Secara teknis, dilakukan dengan mencatat apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Untuk kelengkapannya, digunakan juga teknik wawancara.
Pendekatan etik dalam penelitian seperti ini, adalah dengan mempertimbangkan ketentuan- ketentuan yang berlaku, terutama yang dibuat oleh Pemerintah, dalam rangka menjaga keutuhan kerukunan antarumat beragama. Ketentuan, bisa berupa Perundang-undangan atau Surat Keputusan Bersama Antar Kementerian terkait, yang substansinya berangkat dari aspirasi umat beragama itu sendiri. Dengan melekatnya kepentingan-kepentingan itu, yang bersifat nasional, maka apa yang dihasilkan oleh penelitian juga diharapkan memberikan kontribusi scara nasional. Pendekatan etik juga dilakukan dengan mendalami literature dan peraturan pemerintah yang berkenaan dengan hubungan antarumat beragama di Indonesia Meski sifat studi adalah kasual, maka sejak awal berupaya menemukan fakta-fakta yang nantinya dapat diramu menjadi sesuatu yang general.. Sedangkan pendekatan emik

Profil Masyarakat Medan Timur
Sebagaimana juga masyarakat dalam wilayah lain di kota Medan, masyarakat Medan Timur sangat heterogeen. Secara kesukuan, terdiri dari masyarakat etnis Jawa, Batak, Simalangun, Cina, Aceh, dan Arab. Warga asal Jawa dan Batak relative dominan di wilayah ini. Meski masyarakat Batak, asalnya adalah Tapanuli Utara dan Toba Samosir, akan tetapi telah terjadi proses migrasi dari tahun ke tahun.
Penduduk dalam wilayah Medan Timur, kebanyakan adalah kaum pendatang. Mereka sudah sejak abad 18 menjadi penduduk di kota ini. Sudah terjadi proses asimilasi, integrasi, akomodasi, dan inkulturasi. Secara adat istiadat, para pendatang memang masih bisa dikelompok sesuai dengan suku atau marganya. Karena banyak aktivitas tradisional mereka yang masih dipertahankan. Nilai-nilai budaya masih banyak yang coba dipertahankan oleh masing-masing kelompok kesukuan.
Secara budaya pula, telah tumbuh budaya baru, sebagai hasil asimilasi mereka. Percampuran itu terjadi oleh adanya dinamika sosial dan proses modernisasi, yang melekat pada hampir semua bidang kehidupan. Terjadinya iklim kompetitif antar kelompok warga, di satu pihak, dan iklim integratif di lain pihak, adalah bagian dari proses dinamika sosial itu sendiri. Itulah ciri masyarakat industri.
Istilah industrialism adalah label yang menunjukkan jenis terakhir dari jenis-jenis strategi subsisten. Sebagaimana diketahui, bahwa pada semua masyarakat industri, baik di Barat maupun di Negara-negara Asia, sebagai negara industri memiliki kompleksitas. Mereka memperlihatkan kecenderungan memiliki keluasan dalam mata pencaharian, keragaman kelompok dan status sosial. Masyarakat industri cenderung didominasi oleh ekonomi pasar di mana terjadi pertukaran barang-barang dan jasa yang diukur melalui penentuan harga., dan berlaku hukum “demand and suply”. Ada kecenderungan memiliki tingkat spesialisasi yang tinggi di bidang ekonomi, dan pasar terbuka yang mengarah pada depersonalisasi hubungan antar manusia (depersonalization of human relation). Tipe kaum industrialis adalah segala sesuatu itu dituntut legalitas, political, dan sistem ekonomi menjadi institusi yang terpisah
Proses modernisasi pada masyarakat Medan Timur telah semakin membuat mereka terpolarisasi secara sosial, ekonomi dan budaya. Di samping lembaga-lembaga yang secara khusus melayani mesalah keagamaan, terdapat lembaga-lembaga yang secara khusus bergerak di sektor bisnis; bidang pengembangan budaya daerah; lembaga-lembaga sosial, dan organisasi pembinaan keolahragaan.
Kelompok warga etnis Cina di Medan Timur, misalnya, adalah merupakan bagian yang memiliki arti tersendiri. Mereka menjadi penggerak ekonomi, di hampir semua lini. Mulai perhotelan, pertokoan, sampai restoran, mereka ada. Dan menempati ruang-ruang strategis dalam mendekatkan diri dengan konsumen. Mereka menguasai pusat-pusat pertokoan dan di sepanjang jalur jalan protokol dan di mal-mal.
Orang Cina terkenal dengan sikapnya yang cuek terhadap agama. Orientasi hidup mereka lebih ke masalah-masalah bisnis. Soal keberagamaan, sebagian memeluk agama Buddha, dan sebagian lagi ke agama Konghucu. Meski agama yang terakhir ini adalah agama leluhur orang keturunan Tionghoa, namun hanya sedikit yang memeluknya.
Warga keturunan sebenarnya termasuk “penduduk asli” kota Medan. Maksudnya, bahwa sejak awal tumbuh dan berkembangnya kota ini, mereka sudah bertempat tinggal di sana. Namun warga keturunan selalu dikelompokkan sebagai warga “non pribumi”, dan selainnya, terutama warga asal Batak, Jawa, dan lain-lain, disebutnya sebagai warga pribumi.
Menjadilah masyarakat Medan Timur sebagai multikulturalis, ketika masing-masing kelompok etnis, kelompok agama, berbaur dalam keperbedaan. Hidup dan memiliki dinamika sendiri, tanpa saling mengalahkan, atau setidaknya, tanpa saling melemahkan. Multikulturalisme seperti itu, menjadi bagian penting pada masyarakat. Hal mana pada dasarnya bisa dilihat sebagai sebuah respon kebijakan publik terhadap heterogenitas budaya warga yang cenderung semakin kompleks akibat makin intensif dan massifnya pola migrasi manusia dari satu titik ke titik lainnya .
Sebagai kota metropolitan, dengan sendirinya harus menerapkan kebijakan kultural yang didasarkan pada konsepsi seperti itu. Asumsi kebijakan molting pot yang sering dilekatkan dengan kebijakan pengendalian masyarakat kota, adalah bahwa budaya-budaya warga yang sangat beragam itu akan mengalami percampuran dengan sendirinya tanpa intervensi negara. Masyarakat Medan Timur, dengan etnisitas masing-masing, bergerak secara alami. Terjadi juga proses kawin mawin, yang telah menjadikan perbedaan etnisitas pada sementara orang menjadi tidak kental lagi. Pada sebagian warga asal Jawa, yang memang sudah mengalami proses social dari generasi ke generasi, nyaris telah hilang karakteristik ke”Jawaan”nya. Mereka sering diidentifikasi sebagai Pujakusuma, yang artinya “putera Jawa kelahiran Sumatera”. Mereka sudah lekat dengan budaya setempat (Sumatera), yang merupakan percampuran antara Batak, Minang dan Aceh, Cina, dan sebagainya. Demikian juga pada masyarakat lainnya, ada sisi karakteristik yang mereka “korbankan” untuk menguatkan citra kebersamaan.
Masyarakat etnis Batak Mandailing, Batak Simalungun, Karo, Deli, sebagai warga asli (Sumut), mengalami pembauran budaya, melalui proses social yang sangat panjang. Pengaruh utama adalah pergaulan dan kerjasama secara multi etnis di berbagai lapangan kehidupan. Di samping itu adalah karena mereka memasuki pendidikan umum, baik di dalam maupun di luar Medan. Terutama adalah di perguruan tinggi di Jawa. Mereka mengenal budaya orang lain dan menyelami selama masa-masa studi . Dalam konsep molting pot tersebut, mereka memang harus melepaskan karakteristik kulturalnya masing-masing untuk bisa menjadi bagian dari sebuah budaya yang baru. Orang tidak bisa mempertahankan eksistensi kulturalnya masing-masing, melainkan harus hidup dalam sebuah budaya hasil percampuradukan. .

Keberagamaan
Data penduduk menurut Agama, yang ada di Kanwil Kemenag Sumut tahun 2013 menunjukkan bahwa pemeluk Islam di Medan Timur menduduki 68 % dari seluruh jumlah penduduk, yang mencapai besaran 122.288 jiwa. Disusul besaran berikutnya, adalah penganut Protestan sebesar 19,60 % atau 24.060 jiwa. Bagian terbesar para penganut Kristen Protestan adalah kalangan warga etnis Batak. Data selengkapnya adalah sbb.:

Tabel Jumlah Penduduk Berdasar Agama
Kecamatan Medan Timur
NO Agama Jumlah %
1. Muslim 83.098 68,00
2. Protestan 24.060 19,60
3. Katolik 10.501 08,50
4. Hindu 1.145 01,00
5. Buddha 3.437 02,70
6. Konghucu 147 00,20
Lain-2 0 0
Jumlah 122.288 100
Sumber: Kanwil Kemenag Sumut, Tahun 2013

Khusus mengenai kepemelukan suatu agama bagi masyarakat Batak, secara kasar dapat dikelompokkan antara Batak beragama Kristen, dan Batak Muslim. Penganut Kristen yang dominan di Nusantara menghimpunkan diri ke dalam HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Walau agama Kristen yang di tanah Batak pada mulanya ditaburkan di Parausorat Sipirok, akan tetapi perkembangan agama Kristen telah semarak di tanah Batak daripada di Sipirok sendiri. Daerah ini juga masih menyisakan kepercayaan tradisional seperti Parmalin yang terdapat di daerah Laguboti Balige. Sementara tanah Batak Balige juga dihuni oleh penganut Islam asal Batak yang mengalami konversi, antara lain atas pengaruh orang-orang Minang yang juga banyak tinggal di sana.
Orang Batak yang menganut Islam, biasanya mengelompokkan diri ke dalam Perkumpulan Jam’iyyah Batak Muslim Indonesia (JBMI). Sekalipun terjadi penggolongan secara agama, orang Batak memiliki ikatan yang kuat secara adat. Hubungan kekeluargaan dalam satu marga sangatlah dominan. Apapun agamanya, selama masih dalam satu payung marga, mereka terikat oleh adat kemargaan. Di manapun mereka bertempat tinggal, atau bekerja, orang-orang “se marga” atau “se Batak” pastilah merasa bersaudara dekat. Mereka memiliki tradisi hubungan kekerabatan Dalihan Natolu (sama dengan Tiga Tungku Sajarangan, pada masyarakat Minang), yaitu system kekerabatan sebagai hula-hula, dongan tu dan boru. Kedudukan yang dimiliki oleh seseorang dalam pandangan adat Batak tidaklah permanen, tergantung di kelompok mana ia berada. Cara ini dapat membawa pandangan bagi orang Batak, yaitu merelatifkan semua perbedaan, dan dalam kaitan itulah ruang gerak harmoni dibangun.
Menurut Bikhu Parekh, sebagaimana dikutip dalam tulisan Hikmat Budiman menyatakan, bahwa budaya yang berbeda mempresentasikan sistem makna dan visi tentang kehidupan yang baik yang juga berlainan. Karena masing-masing menyadari keterbatasan kapasitas dan emosi manusia dan hanya mampu menangkap sebagian saja dari totalitas eksistensi manusia, ia membutuhkan budaya-budaya lain untuk membantu mehamai dirinya secara lebih baik, mengembangkan cakrawala intelektualnya, merentangkan imajainasi dsb. Walau harus diakui ada riak ketegangan bernuansa agama, namun tidak sampai berkembang menjadi tindak kekerasan (anarki). Tercatat diantaranya : (1) Peristiwa penyerangan terhadap warga Muslim Kampung Melayu Selambo Kabupaten Deli Serdang oleh warga non Muslim; (2) Protes masyarakat Muslim atas pendirian rumah makan “babi panggang” sebelah “Masjid Kamal ” di Sibolangit di Deli Serdang; (3) Kasus dikeluarkannya peserta Pesparani dari Asrama Haji Medan; (4) Keberatan warga terhadap pembangunan Gereja GBKP di desa Gung Pinto Kec. Naman Teran; (5) Keberatan warga Lingkungan II atas pendirian Gereja HKBP Kel. Jati Makmur Kota, Binjai, dan (6) Konflik antar Jemaat HKBP di Medan Timur, bulan Agustus 2013,
Masih ada lagi kasus-kasus lain seperti itu dalam wilayah Sumatera Utara. Terakhir adalah yang bersifat internal, yakni sesama umat Protestan yang bernaung dalam HKBP. Peristiwanya terjadi pada bulan Agustus 2013 di Gereja HKBP Nommensen Pulo Brayan, yang berlokasi di Jl. Rumah Sakit Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Baru, Kec. Medan Timur. Konflik terjadi antara dua kelompok jemaat.
Pemda Kota Medan tampak cukup memberikan perhatian terhadap masalah pemeliharaan kerukunan antarumat beragama. FKUB sebagai lembaga yang dianggap penting di dalamnya, difasilitasi oleh Pemda dengan penganggaran dari APBD. Pimpinan FKUB juga dimasukkan dalam Muspida, setara dengan Kepala Kejaksaan, Kepala Kepolisian, Kepala Pradilan, Badan Perencanaan Pembanguna Daerah, dan lainnya. Peran penting FKUB antara lain adalah mediasi, apabila terjadi ketegangan antarkelompok agama, baik yang bersifat internal umat seagama maupun eksternal, antaragama .
Pulo Brayan Darat II, atau biasa disingkat “PBD II” adalah salah satu kelurahan dalam wilayah kecamatan Medan Timur. Dalam Data di KUA setempat, tercatat jumlah penduduknya adalah 17.276. Dari jumlah tersebut sebanyak 13.770 beragama Islam, Kristen Protestan 1.152 orang, Katolik 677 orang, Hindu 294 dan Buddha sebanyak 1.383 orang. Ternyata jumlah pemeluk agama Buddha terbanyak dari semua agama non Islam .
Besaran jumlah rumah ibadah di Pulo Brayan Darat II terdiri: Masjid sebanyak 7 buah, Mushalla 6 Gereja (tidak dibedakan antara Kristen dan Katolik) sebanyak 2, Vihara satu buah, dan belum ada Kuil. Sebagaimana diketahui, Kuil adalah tempat sesembahan bagi penganut agama Buddha. Kalau melihat besaran angka 1.383 jumlah pemeluk Buddha, memang layak dipertanyakan masalah belum adanya rumah ibadah bagi agama Buddha di wilayah kelurahan ini.
Walau perlu juga diketahui juga, bahwa fungsi rumah ibadah biasanya bersifat lintas batas wilayah administrasi. Artinya, sebuah rumah ibadah di mana pun berdirinya, dapat digunakan oleh pemeluk agamanya tanpa membatasi batas batas wilayah administratif. Dilihat dalam satu wilayah Kecamatan, umat Buddha ada sebesar 13.565 orang, dengan Kuil dua buah, yakni di dalam wilayah kelurahan Gang Batu dan Kelurahan Durian, masing masing satu buah. Maka menurut perhitungan kasar, umat Buddha, dengan jumlah penganut sebesar itu, masih bisa ditoleransi untuk mengajukan pembangunan rumah ibadah, di wilayah kecamatan Medan Timur.

Kasus Pergeseran Fungsi “Rumah Pengobatan” di Jl. Nangka.
Lingkungan PBD II, adalah masyarakat yang sangat heterogeen. Masyarakatnya berasal dari berbagai suku dan campuran. Paling mudah digolongkan adalah, antara suku Batak, suku Jawa dan Cina. Mereka hidup berbaur, dalam arti tidak ada “blok-blokan” dalam berumah tinggal. Hanyasaja, kalangan kebanyakan warga etnis Cina menempati jalur kanan-kiri jalan, Jl. Cemara, yang kondisinya lebih baik. Setidaknya lebih lebar dibandang gang-gang lain di lingkungannya, yakni sekitar 4 M. Posisi jalan Cemara hanya berjarak sekitar 30 M dari Pusat Pengobatan. Bangunan rumah-rumah mereka tegrolong lebih “berkelas menengah ke atas.
Sementara di perkampungan “warga kebanyakan” dalam wilayah tersebut terdiri beragam perumahan, mulai level di atas kelas memengah sampai di bawah kelas tersebut. Kondisi jalan-jalan kurang baik, yakni setengah beraspal dan ada bagian-bagian yang sudah rusak. Semak-semak liar terlihat di sebelah menyebelah jalan.
Seseorang ahli pengobatan Cina membuka praktek di sebuah rumah dalam wilayah yang bertetanggaan langsung dengan warga lain (non Cina). Pusat pengobatan ini adalah sebuah pengobatan alternatif. Karena pelayan medisnya tidak berpendidikan dokter atau akademisi yang sejenis. Cara pengobatan sangat mistis, yakni menggunakan dupa, dan doa-doa khusus ala agama Leluhur. Obat yang diramu adalah racikan tradisional Cina.
Rumah tempat praktek tepatnya di Jl. Cemara Gg. Nangka No. 20 Kel. Pulo Brayan Darat II Kec. Medan Timur. Sang ahli pengobatan tersebut bernama Joni Poniman alias Yansen, seorang warga keturunan. Ia mengaku sudah 16 tahun menjalankan prakteknya. Namun secara formal, berdasar Surat Ijin yang dikeluarkan oleh Kejaksaan Tinggi Medan, baru mulai praktek, pada tahun 2010.
Para pasien tiap hari berdatangan dari berbagai tempat, termasuk dari luar kota Medan. Umumnya dari masyarakat menengah ke bawah. Pada umumnya adalah mengidap penyakit semacam kesurupan atau gangguan kelainan syaraf lainnya. Cara pengobatan, seperti tertulis dalam surat ijin praktek, adalah: bersemedi lalu memasukkan Roh kemudian melakukan pengobatan memakai Hio, kertas merah, hijau, kuning, lilin dan pedang.
Selama menjalankan praktek, bertahun-tahun, tidak ada satupun pasien yang berasal dari wilayah kalurahannya sendiri. Masyarakat sekitar bersikap pasif, dalam arti, selama itu mereka tidak mempermasalahkan keberadaannya. Menurut pengakuan Yansen, “kami tidak membedakan pasien dari segi agama. Apapun agamanya, kami bantu penyembuhannya”. Tidak ada pula pasien yang mempermasalahkan cara cara pengobatan yang dilakukan.
Rumah pengobatan menempati lahan sekitar 250 M2. Di atas tanah habis untuk bangunan, yakni 2/3 lahan merupakan bangunan bertingkat dua. Bagian depan, adalah loby, yang berfungsi sebagai ruang tunggu pasien. Pintu depan tidak seperti layaknya rumah tinggal, tapi tertutup bagian bawah setinggi 1,6 M dan bagian atas setinggi 1 M merupakan dinding terbuat dari anyaman kawat, semacam lobang angin. Untuk masuk ke ruang ini hanya disediakan pintu kecil, berukuran 1 x 2 M. Pintu hanya dibuka untuk orang yang datang, kemudian ditutup kembali.
Di ruang loby dipasang beberapa patung berukuran sekitar 1x 1,5 M2. Jumlah patung antara 5. S.d. 7 buah, ditempatkan di sudut-sudut ruangan, dan dekat dinding kanan dan kiri ruangan. Di bagian dalam, adalah tempat praktek pengobatan, dan ruang keluarga. Setiap hari, terutama saat jam praktek, ruangan tengah dan depan, dilengkapi dupa berasap dan lilin yang selalu menyala.
Dalam perkembangannya, rumah pengobaan Yansen memperluas lahannya, khusunya halaman samping kanan,sekitar 300an M2. Lahan perluasan kemudian dipagar besi dan menyatu dengan rumah pengobatan tersebut. Menurut sang pemilik, lahan tambahan digunakan untuk parkir para tamu. Karena jalan depan rumah hanya sebatas untuk papasan kendaraan roda empat.
Kondisi jalan depan rumah prakteknya, tepatnya di Gg Nangka, memang hanya sebatas untuk lewat dua mobil. Kalau papasan antar kendaraan roda empat, harus bergerak lambat dan hati-hati, karena ruang gerak yang terbatas.
Menurut penjelasan para tetangganya, dari dalam rumah praktek penyembuhan alternative ini, sering mengeluarkan asap dupa (Hio). Semakin hari masyarakat merasa terganggu dengan adanya asap tersebut. Mereka menduga , di rumah pengobatan ini digunakan pula untuk persembanyangan secara agama Buddha. Dugaan itu diperkuat dengan adanya perubahan pada fisik bangunan. Pada pagar tinggi yang melingkar dipasang patung tertentu, sebagaimana layaknya terlihat pada Vihara, yang biasa menjadi pusat peribadatan kaum Buddha. Bentuk bangunan dan ornamen di sekitarnya semakin menampakkan diri sebagai sebuah Pekong. Sejauh ini tempat tersebut belum menampakkan sebagai pusat ibadah yang mendatangkan sejumlah orang.
Dugaan demi dugaan pun menyebar dan berkembang menjadi isu, yakni isu tentang keresahan warga, yang merasa terganggu oleh adanya asap dupa yang selalu keluar dari rumah tersebut. Walau menurut Yansen, “soal asap itu sebenarnya sudah ada sejak awal praktek, 16 tahun yang lalu, dan tidak ada warga yang mempermasalahkan. Sekarang,”kenapa itu dimasalahkan”, tanyanya. Warga pun mengangkat masalah lain, yakni melihat indikasi rumah yang menjadi pusat pengobatan tersebut akan diubah menjadi rumah ibadah.
Isu tentang adanya perubahan dari pusat pengobatan menjadi rumah ibadah, didasarkan juga pada: (1) penempatan patung-patung di ruang depan: (2) asap dupa atau Hio yang terus mengepul; (3) kunjungan sejumlah orang setiap malam, yang diduga bukan pasien, tapi peserta peribadatan, dan (3) ketertutupan rumah, baik rumah utama dan lahan “parkir”, tertutup oleh pagar tembok setnggi 3 meter. Masyarakat menduga, ada sesuatu yang dirahasiakan dengan ketertutupan itu. Sementara papan namanya memang tertulis sebaga Rumah Pengobatan
Cukup lengkap bekal kecurigaan oleh masyarakat sekitar, khususnya warga Muslim, terhadap perubahan bangunan yang akan menjadi rumah ibadah Buddha. Seperti diketahui, bahwa masyarakat yang tinggal di dalam wilayah kalurahan tersebut, mayoritas adalah beragama Islam. Mereka cukup sensitif dengan isu keagamaan seperti itu. Berdirinya rumah agama lain di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Sebagaimana penjelasan lurah setempat, bahwa umat Islam di lingkungannya merasa terganggu, dengan dugaan akan berdirinya rumah ibadah agama lain.
Dugaan juga membawa kekhawatiran, bahwa rumah ibadah nantinya akan berkembang, dan mempengaruhi keberagamaan anak anak. Mereka yang sudah lama hidup rukun sesama warga, kini merasa terusik karenanya. Meski data menunjukkan bawa, dalam wilayah kalurahan tersebut sebenarnya terdapat sejumlah warga penganut Buddha, yang membutuhkan rumah ibadah. Namun Yansen sendiri hampir tidak pernah berbicara “atas nama warga seagama”. Apa yang ia jelaskan selalu hanya berkisar soal perijinan sebagai pusat pengobatan. Sebagai pemilik sekaligus ahli pengobatannya, telah mengantongi izin dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, dengan menunjukkan copy Surat tersebut, Nomor B. 27. DSP.5/01/2010. Surat Izin ini dikeluarkan pada tanggal 11 Januari 2010
Surat tersebut diperpanjang, dengan isian yang sama, tertanggal 7 Juli 2013. Perpanjangan ini ia peroleh, pada saat-saat genting, yakni ketika warga baru saja menyampaikan gugatannya ke Walikota Medan tentang keberadaan rumah tersebut. Soal perizinan praktek pengobatan yang kedua tersebut, menurut Kepala KUA dan Lurah setempat, terindikasi dipalsukan. Karena pada tanggal 7 Juli adalah bertepatan hari Minggu. Maka tidak mungkin pejabat pemerintah menandatangani surat pada hari libur seperti itu. Surat ijin kedua ini disampaikan oleh pemilik rumah kepada Lurah setepat, dengan copy ditembuskan kepada Kepala Kecamatan dan Kepala KUA Medan Timur.
Warga Lingkungan 1 Pulo Brayan Darat II Kecamatan Medan Timur menempuh berbagai cara untuk menggagalkan rintisan Rumah Ibadah tersebut. Beberapa langkah yang ditempuh adalah sbb.:
Pertama, membuat Surat Pernyataan penolakan, dengan alasan, bahwa mereka tidak setuju pendirian Pekong, karena warga sekitar merasa terganggu dengan asap Hio. Surat Pernyataan ditandatangani sekitar 37 orang yang terdiri warga sekitar dalam lingkungan Jl. Nangka, dan beragama Islam.
Kedua, melakukan unjuk rasa di depan rumah Pengobatan. Sebanyak antara 60-70, yang kebanyakan ibu ibu. Mereka berombongan jalan kaki, dari rumah Kepling menuju Rumah Pengobatan tersebut. Sesampai di depan rumah pengobatan, mereka meneriakkan zel-zel pengusiran kepada pemilik rumah, agar mengehentikan ritual yang mengeluarkan asap hio, dan meminta agar segera pindah. Mereka juga menegaskan pernyataan “menolak” rumah ini dijadikan Pekong atau tempat ibadah umat Buddha.
Ketiga, memasang Baleho berukuran antara 3x 6 m , dengan dasar putih, dan tulisan merah berbunyi “ Kami warga lingkungan Pulo Brayan Darat II Tidak Mengizinkan adanya Pekong Di sini, Dan Supaya Ditutup”. Spanduk dipasang oleh beberapa orang Bapak-bapak, dan disaksikan oleh warga sekitar.
Keempat, menyampaikan Surat resmi ke Walikota, Perihal Operasi Pekong/ Pengobatan. Diantara isi surat adalah sbb.:
Sehubungan dengan keberadaan Pekong/Pengobatan yang berada di Jl. Cemara Gg. Nangka No. 20. Sangat mengganggu masyarakat sekitarnya, terutama asap Hio dan Abu Hionya yang beterbangan ke rumah-rumah penduduk sekitar yang menyebabkan sakit gangguan pernapasan / batuk.

Surat tertanggal 26 Juni 2013 ini ditandatangani: Kepala Lingkungan (Kepling) 1 Pulo Brayan Darat I; Kepala Kalurahan Pulo Brayan Darat II. Turut mendatangani atau “mengetahui” adalah: Ketua STMK Lk. 1, Ketua BKM Al Muslimin. Tembusan disampaikan kepada: MUI (Majelis Ulama Indonesia) Medan; Kejati Kota Medan; Kejari Kota Medan; Camat Medan Timur dan PKS Kota Medan. Tidak jelas, atas alasan apa, tembusan Surat juga disampaikan ke PKS, yang sepengetahuan orang adalah kepanjangan dari Partai Keadilan Sejahtera. Sebuah partai politik di Indonesia yang dikenal berbasis umat Islam.
Dengan adanya kemelut di sekitar dugaan pendirian rumah ibadah tersebut, maka aparat Pemerintah setempat turun tangan. Pihak Walikota menyerahkan penyelesaiannya kepada Camat setempat. Camat berkoordinasi dengan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Medan Timur. Kepala Camat seakan menjadi wakil Kementerian Dalam Negeri, dan Kepala KUA seakan mewakili Kementerian Agama. Oleh karena dalam setiap langkahnya, masing-masing melapor ke atasan langsung. Khususnya KUA melapor kekepala Kanwil Kementerian Agama.
Hubungan baik antara aparat di bawah, tampaknya memang sudah lama terjalin. Dalam hal ini: Lurah, Camat, Kepala KUA dan Kepala Lingkungan (Kepling) terlibat langsung dalam penyelesaian. Atas dukungan para pihak tersebut, Lurah Brayan Darat II mengambil inisiatif mengadakan dialog. Terutama dengan memanggil Yansen, sang empunya rumah pengobatan, dan beberapa pemuka masyarakat setempat lainnya.
Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Lurah. Setelah membuka acara, ia memberikan penjelasan mengnai kasus dan tujuan pertemuan. Terutama disebabkan adanya kemelut di tengah masyarakat, yang diakibatkan oleh beredarnya isu di sekitar rumah pengobatan, yang telah mengganggu ketertiban umum. Terutama mengenai keluhan warga, yang merasa terganggu dengan kepulan asap Hio dari rumah Yansen, serta indikasi akan menjadikan rumahnya sebagai Pekong atau rumah ibadah kaum Buddha.
Pihak Pelapor, yang diwakili oleh Kepling (Ketua RT) dan pemuka warga lainnya, menyampaikan keluhan warga sekitar soal asap Hio. Penjelasan lainnya, berkembang pada masalah kecurigaan dengan indikasi penggunaan rumah tersebut yang mengarah menjadi “Pekong”. Jadi, keluhan warga telah berkembang ke soal pendirian rumah ibadah. Oleh karena itu, maka dilampirkam pula Copy Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2006 (PBM) Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan FKUB dan Pendirian Rumah Ibadat.

Preview
Dalam ketegangan ernuansa Agama di Medan Timur ini, memperhadapkan antara warga Muslim dengan seorang warga beragama Buddha, etnis Cina, yang membuka usaha :pengobatan alternatif”,
Pihak Yansen alias Joni Poniman, yang adalah seorang warga Buddga tersebut, meskipun ia seorang warga etnis Tionghoa, tapi ia tidak bertindak atas nama kesukuan. Warga Pulo Brayan Darat II sebenarnya banyak dari kalangan Cina, dan tinggal dalam satu wilayah kalurahan, tetapi tidak ada yang ikut merasa terusik dengan masalah yang dihadapi Yansen.
Meski Yansen seorang penganut agama Buddha, ia pun tidak bertindak sebagai kelompok penganut agama Buddha. Pihak Kasi Pembinaan Agama Budha di Kantor Kemenag, tidak mau tahu masalah tersebut. Karena apa yang dilakukan Yansen, sepertinya bukan representasi kaum Buddha di wilayahnya.
Sebagai seorang ahli pengobatan alternatif, Yansen juga tidak bertindak dengan membawa organisasi para ahli pengobatan alternative. Barangkali memang tidak ada semacam asosiasi semacam itu. Tapi yang tampak dari permukaan, tindakan Yansen tidak lebih dari warga biasa, yang memiliki hak dan kewajiban. Ia ingin memperoleh kebebasan sebagaimana mestinya dalam membuka ruang usaha.
Yansen, pada dasarnya bertindak lebih sebagai individu yang membuka usaha untuk bisnis melalui jasa pengobatan tersebut. Hanya kebetulan ia adalah seorang keturunan Tionghoa, dan ia beragama Buddha yang tergolong taat. Cara pengobatan mengandung unsur kuat religi tertentu, yang dalam hal ini lebih dekat kepada agama Buddha.
Ritual yang dilakukan adalah bagian dari metode peribadatannya, yang tidak bisa langsung diidentifikasi sebagai “cara agama Buddha”, karena bercampur dengan motivasi penyembuhan suatu penyakit. Hanya saja dalam ritual itu dilengkapi dengan dupa dan nyala lilin, dan perangkat “magis” lainnya, di antara patung-patung yang biasa dijadikan sesembahan kaum Buddha.
Ketika masyarakat menyebut-nyebut tempat itu akan dijadikan pusat peribadatan, yang bernama “Pekong”. Penamaan sebagai rumah ibadah masih menjadi tandatanya. Karena pihak Yansen sendiri, dalam penjelasannya hanya “ingin bisa beribadah di rumah sendiri”. Nama Pekong sendiri tampaknya bukan dari Yansen, tapi dari masyarakat. Masalahnya, apakah benar, Pekong itu adalah Vihara kecil, atau sejenis Vihara, yang biasa dijadikan pusat persembahyangan kaum Buddha.
Hasil pertemuan di kantor kelurahan Pulo Brayan darat II, adalah kesediaan Yansen menutup Kinik Pengobatannya. Namun tidak berarti penutupan itu atas dasar sukarela. Tindakan penutupan oleh si empunya rumah pengobatan, tampaknya dengan berat hati dan terpaksa. Kepada penulis, antara lain ia menuturkan, bahwa” Balai Pengobatan yang terletak di Jl. Nangka, Pulo Brayan Darat II, itu adalah usaha saya, untuk membantu orang lain. Dan sudah dapat ijin dari Kejaksaan. Saya berpraktek sudah sejak 16 tahun yang lalu, dan soal asap dupa juga sudah ada sejak lama. Pertanyaan saya, “kenapa sekarang diributkan”. Kami melakukan pengobatan, tidak membeda-bedakan pasian, agamanya apa, dari semua agama, dan ada yang Islam, kami tidak pilih-pilih, semua saya obati. Terjadinya kasus pengusiran pada saya, ternyata yang menjadi povokator adalah tetangga sebelah rumah saya sendiri. Tampaknya ia tidak suka dengan keberhasilan saya. Provokasi dengan mencari-cari kesalahan saya, dibantu juga oleh Kepling (RT kalau di Jawa). Kalau menggunakan rumah saya untuk tempat ibadah, apakah itu salah ? Kepindahan saya, ini karena kami sengaja mengalah. Tapi tidak berarti kalah. Kami percaya, siapa yang zalim, yang menganiaya, pastilah akan menerima karmanya .
Pengakuan seperti di atas, mencerminkan keluguan seorang warga biasa. Tidak tampak ada ambisi untuk kepentingan yang di luar kepentingannya sendiri. Seorang Yansen, lebih menampakkan sebagai pebisnis, dan berkeahlian menjual jasa pengobatan. Kepentingan utamanya adalah bisnis di bidang jasa pengobatan.
Namun ia juga menunjukkan sebagai orang yang memiliki religiusitas. Jasa pengobatan ditempuh juga melalui ritual tertentu, yang kemungkinan besar memang bagian dari ajaran agamanya yang ia peluk. Ia merasa bebas menempuh cara apa saja, karena merasa di rumah sendiri, dan tidak mengganggu orang lain.
Namun ada sedikit masalah yang dilupakan oleh Yansen alias Joni Poniman. Bahwa masyarakat lingkungannya adalah warga yang beda agama. Ia menempuh cara dengan membiarkan abu hio (asap) beterbangan. Penampakan abu Hio, di tenagh warga beda agama, diartikan sebagai show of force. Sementara itu, ia adalah warga minoritas, yang gampang didekte oleh kelompok yang lebih besar.
Kalau benar apa yang ia lakukan selama ini, hanya untuk tujuan bisnis, mengapa dinding rumahnya dibuat tinggi, sampai 3 meter. Ketinggian dinding tertutup itu sendiri, secara budaya sudah menjadi simbol keangkuhan, atau setidaknya menjadi simbol ketertutupan. Gilirannya adalah mengundang kecurigaan, dan prasangka warga sekitar.
Prasangka negative yang membawa agama, merupakan menciptakan sensitivitas tersendiri. Dan persoalannya kadang membesar dan menyebar menjadi tanpa kendali.

Perspektif Budaya Lokal
Dalam kehidupan bermasyarakat, pola hubungan antar kelompok atau antarindividu biasa dibalut dengan norma-norma. Norma dipelihara melalui adat istiadat. Maka apabila terjadi konflik, termasuk yang bernuansa keagamaan, pada dasarnya masyarakat tidak mau melakukan tindakan terbuka.
Secara budaya, pada dasarnya manusia itu tidak senang dengan pertentangan atau konflik dan salah satu cara untuk menghindari terjadinya konflik ini adalah mengatakan sesuatu yang dirasa tidak mengenakkan. Disampaikannya secara langsung, tetapi dikemas sedemikian rupa sehingga ketika disampaikan tidak menyinggung perasaan orang lain .
Apa yang ditempuh oleh pemerintah dan pemuka agama di Medan Timur, tampak mereka berupaya melokalisir permasalahan. Maksudnya, agar peristiwa itu tidak sampai menjadi pembicaraan di level yang lebih luas.
Masalah “rumah pengobatan” Yansen telah dilokalisir di tingkat kalurahan. Artinya, bahwa pihak lurah setempat dianggap cukup utuk mengatasi konflik bernuansa tersebut. Tapi pertanyannya, kenapa Surat Protes warga disampaikan ke walikota dan melampirkan surat tersebut dengan copy SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, yang mengatur pendirian rumah ibadah.
Masih juga sulit dimengerti, persoalan “merasa terganggu oleh kepulan asap Hio”, yang menjadi subyek permasalahan, berkembang menjadi dugaan “pendirian rumah ibadah”. Dugaan itu yang kemudian dijadikan dasar protes. Mestinya, justru masalah itu yang menjadi subyek dialog, sebelum mempermasalahkan pendirian rumah ibadah itu sendiri.
Smentara dalam kasus yang terjadi di Medan Timur ini, orang yang bernama Yansen pada awalnya adalah lebih sebagai individu, yang bergerak di bidang bisnis usahaa jasa pengobatan.
1. Ia adalah seorang beretnis Cina, yang cenderung disikapi secara agak berjarak dengan etnis lainnya
2. Memiliki sikap hidup yang ekslusif. Tidak banyak bergaul dengan tetangga.
3. Kurang berkomunikasi secara terbuka.
4. Memiliki kebiasaan keagamaan, yang berbeda dengan masyarakat sekitar.
5. Tidak mengindahkan peraturan pemerintah tentang pendirian rumah ibadah.
Aparat di tingkat paling bawah menggunakan kewenangannya, sejauh ada dalam peraturan ruang lingkupnya. Sebagaimana diketahui, fungsi Camat, sebagaimana diatur oleh Pemda Kota Medan, antara lain: (1) Mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum, dan (2) Mengoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan .
Pejabat se-level Camat yang ada di Kota adalah Kantor Kementerian Adama Kota Medan, yang secara struktural di bawah Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Sumut. Pejabat di bawah Camat, adalah kepala Kalurahan, yakni kalurahan BDP II, sedangkan aparat di bawah Kepala Kantor Kemenag Kota adalah Kepala KUA Medan Timur.
Kedua pejabat, yakni Lurah BPD II dan Kepala KUA Medan Timur, adalah dua pejabat terbawah, dari kementerian masing-masing. Selama ini, merekalah yang langsung menangani persoalan konflik bernuansa agama dalam wilayahnya.
Di kalangan umat berbeda agama, hal yang menumbuhkan semangat kerukunan adalah adanya wadah lain yang mempertemukan mereka, yaitu upacara-upacara budaya. Konsep Dalihan Natolu (tiga tungku) dalam setiap kampung , membuat masyarakat memiliki titik temu yang lain, sungguhpun mereka berbeda anutan agama. Pengertian Dahlian Natolu adalah bahwa setiap kampung berdiri di atas kesepakatan bersama yang diperankan oleh tiga komponen, yaitu Mora (pengambilan gadis), Kahanggi (kawan seketurunan) dan anak Boru (pemberian gadis). Konsep ini berlangsung secara dinamis. Artinya, di kampung tertentu, seseorang memerankan fungsi moral, tetapi apabila ia pergi ke kampung lain maka ia mungkin memerankan fungsi anak Boru, dan demikian seterusnya .
Masyarakat Medan yang dikenal multietnis, para pemuka agama di Medan, sebenarnya telah mencoba mengakomodir pemikiran secara lintas teologi. Salah satu bentuknya adalah dengan menerbitkan buku Ensiklopedi Praktis Kerukunan Hidup Umat Beragama. Materi utama buku adalah penjelasan terhadap kosakata dan idiom keagamaan yang biasa dipakai dalam percaturan antaragama. Semangat yang digaungkan melalui buku ini, adalah mengusung ke-saling-pengertian dalam rangka menciptakan keharmonisan antarumat beragama. Buku Ensiklopedi ini, oleh tim penulisnya berharap menjadi bagian dari interaksi dan komunikasi antaragama. Dialog akademis, menempatkan semua subyek dalam martabat dan penghormatan yang sama

Sementara dalam manajemen konflik, kalau mengikuti apa yang menurut Robinson dan Clifford (1974), merupakan tindakan konstruktif yang direncanakan, diorganisasikan, digerakkan, dan dievaluasi secara teratur atas semua usaha demi mengakhiri konflik. Manajemen konflik seperti ini harus dilakukan sejak pertama kali konflik mulai tumbuh. Karena itu, sangat dibutuhkan setidaknya kemampuan melacak pelbagai faktor positif pencegah konflik daripada melacak faktor negatif yang mengancam konflik. Sebagaimana dikatakan Parker (1974), konflik tidak dapat dimanajemen kecuali ditunda dengan mengurangi tindakan ekstrim yang terjadi. Caranya antara lain adalah mencegah konflik agar tidak menghasilkan sesuatu. Manajer konflik segera menarik individu keluar dari keterlibatan mereka dalam suatu konflik dan memasukkan mereka ke kelompok lain yang tengah menjalankan program-program positif.
Konsep seperti itu tampaknya sangat sulit diterapkan dalam mengelola konflik antaragama atau konflik bernuansa agama. Karena keberagamaan adalah refleksi budaya, yang bercampur antara yang profan dan yang sekular, antara yang duniawi dan yang sakral. Walau diakui, bahwa pada sebagiannya adalah perilaku yang sifatnya formal, dan bahkan ada realitas yang terstruktur secara sosial. Namun masalah pengelolaan terhadap suatu tindakan yang berlatar belakang agama, memerlukan pendekatan yang konprehensif. Perlu jalan panjang untuk mengelola konflik seperti itu, untuk menghasilkan output yang akan bersifat perbaikan. Sebuah sistem yang tersusun paska evaluasi adalah sistem yang lebih kondusif, yang menjamin keberartian hasil kesepakatan dan negosiasi antar para pihak yang terlibat. Setidaknya lebih mampu meredam perseteruan yang bersifat laten. Di sinilah perlunya kearifan lokal diperlukan, yakni dengan sama-sama merasa terkendali oleh nila-nilai budaya lokal.

Perspektif “ mayoritas-minoritas”
Potensi konflik muncul, kapan saja dan di mana saja, ketika kegiatan kelompok agama minoritas melakukan misi dakwah untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas penganutnya, yang oleh kelompok mayoritas dipandang sebagai ancaman . Apa yang terjadi di Medan Timur, sedikit banyak juga mencerminkan karakterisik seperti itu. Kelompok mayoritas Islam tampak sangat peka terhadap setiap perkembangan agama kelompok minoritas, dan bereaksi cepat dan mungkin juga keras terhadap kegiatan kelompok agama minoritas yang dinilai merugikan atau mengganggu eksistensi kelompok mayoritas Islam.
Seperti juga yang terjadi di beberapa daerah Indonesia Timur, seperti NTT, Irian Jaya, kelompok mayoritas Katolik atau Kristen akan sangat sensitif terhadap perkembangan kelompok agama minoritas, dan juga akan bereaksi cepat dan mungkin juga keras terhadap kelompok agama minoritas yang dipandang telah mengganggu dan mengancam eksistensi kelompok agama mayoritas Kristen di daerah tersebut. Demikian juga di Bali, daerah yang dikenal cukup terbuka dan memiliki toleransi tinggi terhadap agama-agama lain, ternyata juga tidak mudah bagi kelompok agama minoritas untuk meluaskan kegiatannya dan menempatkan para personil pada posisi pemerintahan tertentu. Kelompok agama mayoritas Hindu di daerah ini akan selalu waspada dan mendeteksi dan mungkin juga mencurigai setiap kegiatan kelompok agama minoritas di daerah ini. Mereka juga sangat peka dan dapat bereaksi keras terhadap kegiatan kelompok agama minoritas yang dinilai mengganggu dan mengancam eksistensi agama Hindu Bali .
Menurut Feagin (1984), kelompok minoritas memiliki lima karakteristik: (1) diskriminasi penderitaan dan subordinasi, (2) fisik dan / atau ciri-ciri budaya yang membedakan mereka, dan yang ditolak oleh kelompok dominan, (3) berbagi rasa identitas kolektif dan beban umum, (4) sosial berbagi aturan tentang siapa yang termasuk dan yang tidak menentukan status minoritas, dan (5) kecenderungan untuk menikah antar anggota kelompoknya. Sementara menurut sosiolog Louis Wirth, kelompok minoritas didefinisikan sebagai “sekelompok orang yang, karena karakteristik fisik atau budaya, dibedakan dengan yang lain dalam masyarakat di mana mereka hidup, mereka merasa terdeferiansi dan mendapat perlakuan yang tidak adil, dan yang karenanya menganggap dirinya sebagai obyek diskriminasi kolektif ” .
Tidak semua komponen karakteristik tersebut sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Namun setidaknya memberikan gambaran, betapa kelompok Yansent di Jl. Moh. Yamin dan Yansen di Jl. Nangka PBD II, adalah represantasi kelompok penganut Buddha di Medan Timur. Dengan jumlah penganutnya, yang hanya 2,7 dari populasi penganut Agama, berarti memang benar-benar minoritas. Sementara kelompok Muslim yang dihadapi adalah sebesar 68 persen dari populasi, yang dalam posisi lebih dominan.
Pengelolaan konflik, yang terjadi, memang tidak tampak mengangkat masalah “minoritas-mayoritas”, tapi secara tidak langsung bisa dicermati. Khususnya terhadap rumah Yansen di Jl. Nangka, yang dihadai dengan cara unjuk rasa, pemasangan spanduk di dinding rumahnya. Berlanjut dengan penyampaian, kalau tidak boleh dibilang pelaporan, ke Walikota, atas dasar persangkaan “ pusat pengobatan dijadikan rumah ibadah”. Komunitas dominan seakan lebih leluasa menyampaikan aspirasi. Sementara seorang Yansen nyaris tidak punya kekuatan apa-apa untuk membela diri.
Kesediaan Yansen untuk menghentikan kegiatan dan pindah tempat praktek ternyata juga bukan sebuah keputusan yang tulus. Pernyataan yang bersangkutan, yang merasa diperlakukan tidak adil, dan menjadi korban provokasi, menunjukkan bahwa kepergiannya dari rumah sendiri dihinggapi rasa takut. Tentu ketakutan terhadap kelompok dominan. Meski harus pula diakui, bahwa pihak kelompok dominan, dalam hal ini telah juga menunjukkan penggunaan cara-cara legal dan menjauhi kekerasan dalam melakukan aksinya.
Tetap saja menjadi catatan penting, bagaimana mengelola konflik keagamaan seperti itu. Agar tidak ada pihak yang dirugikan. Sebaliknya justru diupayakan menciptakan kondisi yang saling menguntungkan. Secara teoritis, pengelolaannya akan melewati tahapan-tahapan tertentu, hingga ketahapan terakhir mencapai keharmonisan abadi.
Secara teoritis, bisa meminjam penahapan setelah melalui teknik resolusi konflik, menurut Liliweri, dengan memperhatikan factor-faktor yang menjadi stimulasi konflik, maka keseluruhannya akan menghasilkan konflik yang fungsional dan disfungsional. Ditunjukkan keluaran konflik yang fungsional, misalnya konflik yang dapat memperbarui kualitas keputusan, menghadirkan inovasi dan kreativitas baru, meningkatkan perhatian, kepentingan, dan rasa ingin tahu, dan terakhir, membuat kita melakukan evaluasi diri. Sedangkan hasil yang disfungsional itu, antara lain, munculnya hambatan komunikasi, mengurangi derajat kohesi, mengganti tujuan dengan permusuhan, membuat kelompok makin berkurang fungsinya, dan membuat kelompok saling mengancam karena ada daya juang.
Apa yang terjadi di Medan Timur, tampaknya belum sejauh itu. Namun menjadi kewapaan bersama, oleh para pihak yang terlibat konflik, untuk melakukan pengawalan secara dinamis, agar tidak semua pihak merasa bebas dan terhindar dari keterancaman.

Simpulan dan Rekomendasi
Kasus itu sebenarnya bisa dilokalisir, dalam arti diselesaikan melalui musyawarah warga Kalurahan tempat di mana rumah pengobatan itu berdiri. Tapi cara yang ditempuh dengan menyurati walikota dan dengan melampirkan copy SKB Dua Menteri, telah berarti membawa persoalan mikra ke level makro. Sehingga pengelolaan konflik seakan harus melewati batas-batas komunitas spatial.
Keperbedaan agama, antara pendiri rumah ibadah dengan masyarakat lingkungannya, sebenarnya tidak sertamerta menimbulkan resistensi, manakala dikelola dengan baik. Salah satu kata kuncinya adalah, komunikasi. Bagaimana para pemuka Agama yang ada, dalam hal ini, dari Agama Buddha dan pemuka Islam, memiliki intensitas untuk sering bertemu, berdialog dan tukar pikiran. Tentang pendirian rumah ibadah oleh salah satu pihak yang berdialog, adalah salah satu agenda. Untuk dipikirkan bersama, mengenai sejauh mana umat setempat memiliki kebutuhan.
Masyarakat perlu menangani perbedaan-perbedaan yang ada secara arif. Kalau perbedaan-perbedaan itu dipertentangkan, dengan mengabaikan prinsip kearifan local tersebut, maka akan berkembang menjadi bom waktu, kearah konflik berkepanjangan. Saat ini, yang terjadi adalah semacam pengusiran terhadap seorang warga Buddha – Cina yang dianggap tidak arif dalam mensikapi lingkungannya, yang Muslim. Sementara warga Muslimnya kurang bertindak arif, karena telah menyebabkan seorang warga tersebut, terpaksa pergi, dan dengan perasaan (yang dalam pengakuannya) “menyakitkan”. Persoalan yang sebenarnya sangat local ini, semestinya dikelola dengan “bahasa local” dan sebisa mungkin penyelesaian bisa menguntungkan semua pihak.

MENANGKAL TERORISME Kasus MUI Tangsel

Oleh
Marzani Anwar

Pendahuluan
Terorisme adalah tindak kjekerasan yang sangat meresahkan umat manusia. Secara agama, perbuatan itu mendapat tentangan oleh sebagian besar umat Islam. Namun demikian, hingga hari ini berbagai serangan teroris, yang disikapi aparat keamanan dengan aktivitas penangkapan anggota kelompok teroris serta pengungkapan jaringannya masih saja terus terjadi. Serangkaian penangkapan terduga pelaku teror rupanya juga terjadi di wilayah Tangerang Selatan baru-baru ini. Kejadian terbaru misalnya Gang Haji Hasan, Kampung Sawah, Tangerang Selatan, menambah panjang daftar penyergapan terduga teroris yang terjadi di wilayah Kota Tangerang Selatan. Di wilayah ini sejak 2010 lalu terhitung ada lima kasus termasuk yang di Kampung Sawah Selasa 31 Desember 2013.
Secara berturut-turut dapat disebutkan antara lain, yang terjadi pada Maret 2010, di mana tim dari Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri pertama kali menyambangi Tangerang Selatan. Saat itu mereka menggerebek sebuah rumah toko penyedia jasa warung internet Multiplus di Pamulang dan sebuah rumah di Gang Asem, Jl Setiabudi. Penyergapan saat itu menyebabkan tiga orang tewas ditembak karena dianggap melawan dan hendak melarikan diri saat ditangkap. Polisi menyatakan orang yang tewas dalam penggerebekan itu, salah satunya terduga teroris yanag dicari-cari bernama Dulmatin, perancang bom Bali 2002 lalu. Pada September 2012, Densus 88 giliran meringkus dua terduga teroris di kawasan pemukiman Bintaro Sektor IX. Keduanya diduga kuat anggota kelompok teroris jaringan Muhammad Toriq, yang sebelumnya menyerahkan diri di kawasan Tambora, Jakarta Barat. Mereka dianggap bertanggung jawab atas ledakan bom di Beji, Depok, Jawa Barat. Adapun penyergapan yang dilakukan di Kampung Sawah pada malam pergantian tahun lalu (2014) itu dianggap yang terbesar selama ini. .
Kondisi demikian tentu masih menyisakan kekhawatiran bahkan ketakutan bagi sebagian besar masyarakat Tangerang Selatan. Menjadi sebuah keprihatinan apabila masalah aksi-aksi terorisme sebagai hilirnya, dan persebaran paham keagamaan radikal dan intoleran sebagai hulunya, tidak segera ditanggulangi dan dicegah secara memadai.
Bukan tanpa alasan kalau, para pemuka agama, dalam hal ini Islam, berkomitmen untuk mencari solusi pencegahan tindak terorisme. Karena kasus-kasus teror selama ini, banyak membawa nama agama. Motivasi jihad yang melekat pada pelaku teror, tidak terelakkan, adalah produk dari keyakinan keagamaan. Di dalamnya ada latar belakang ideologis yang terbangun melalui proses pengentalan berkeyakinan.
Terorisme dengan segala masalah yang melatarbeakangi dan dampaknya bagi bangsa Indnesia dan khususnya pada masyarakat Tangsel, telah mempengaruhi pandangan para ulama. Khususnya MUI Tangsel telah memberikan perhatian tersendiri, dalam dalam rangka memelihara keutuhan umat beragama, baik secara internal maupun antarumat agama. Namun sejauh ini, belum didapatkan informasi memadai bagaimana sesungguhnya peran dan kontribusi organisasi keagamaan Islam dalam menghadapi persoalan terorisme dan intoleransi di wilayah Tangerang Selatan. Organisasi keislaman yang dianggap mewakili semua unsur adalah MUI Kota Tangerang Selatan. Namun hingga saat ini, belum banyak diperoleh informasi seberapa dalam peran organisasi ini dalam menangkal terorisme dan intoleransi di wilayahnya.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui sikap dan pandanagan MUI Kota Tangsel terhadap fenomena terorisme dan intoleransi: (2) menggambarkan aksi-aksi nyata MUI Kota Tangsel menyikapi fenomena terorisme, dan (3) mengeksplorasi latar belakang peran MUI Kota Tangsel dalam memelihara keutuhan umat Islam dalam konteksitas tersebut.

Kerangka Teoritik
Terkait dengan pengertian terorisme, banyak pakar telah menuliskan pandangannya ke dalam beberapa versi. Di sini pengertian terorisme mengacu pada penjelasan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, dinyatakan bahwa: “terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap negara, karena terorisme sudah merupakan kejahatan yang bersifat internasional yang menimbulkan bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat sehingga perlu dilakukan pemberantasan secara berencana dan berkesinambungan sehingga hak asasi orang banyak dapat dilindungi dan dijunjung tinggi”.
Melihat gejala-gejala fundamentalisme agama yanga di antaranya berupa aksi-aksi terorisme semacam ini, sebagian pengamat, salah satunya An Na’im (2005) mempercayai bahwa simbol-simbol dan diskursus keagamaan sering digunakan oleh kalangan kurang beruntung (disadvantaged groups) baik di level lokal maupun nasional untuk memobilisasi keuntungan politiknya dalam menghadapi akibat dari terjangan globalisasi. Ia mengutip pengalaman di India pasca meletusnya komunalisme kaum Hindu yang menyerang Masjid Babri di Ayodhya, 6 Desember 1992 sebagai contoh, bahwa faktor agama dan ketakutan terhadap dampak dari globalisasi yang berkombinasi dengan menguatnya partai sayap kanan (konservatif), dengan kuatnya aganda agama untuk mengontrol pemerintahan nasional, sebagai sebab di balik terjadinya tindakan kekerasan komunal tersebut.
An-Na’im juga menyebutkan fundamentalisme Islam belakangan ini dapat dilacak akar historisnya di masa silam, terutama timbul sebagai respon terhadap krisis dahsyat di tengah komunitas Muslim. Dengan kata lain, fundamentalisme Islam juga harus dilihat sebagai respon lokal terhadap krisis sosial, ekonomi dan politik yang ada dan bukan semata sebagai produk dari kitab suci dan sejarah Islam. Perubahan-perubahan yang terjadi di kalangan umat Islam haruslah dilihat konteks-nya secara khusus. Gerakan fundamentalisme Islam di lain sisi juga menuju pada klaim legitimasi dan pencarian kekuatan politik era pascakolonial di berbagai belahan masyarakat Muslim dengan mengatasnamakan hak umat Islam untuk mengatur diri sendiri menggunakan syariat Islam.
Dengan mendudukkan konteks secara khusus, maka menarik melihat gejala fundamentalisme Islam di sebuah lokasi tertentu. Meminjam penjelasan An-Na’im di atas berarti mengajak tilikan untuk menghindari upaya generalisasi seperti yang dilakukan penulis semacam Milton-Edward, dengan menampilkan seolah-olah Islam lekat dengan kekerasan. Guna melihat konteks sosial khusus diharapkan akan membawa pada gambaran khas di masing-masing wilayah.
Kota Tangerang Selatan merupakan daerah pemekaran baru. Peristiwa pengepungan dan penangkapan, bahkan penembakan terduga terorisme kerap terjadi di wilayah Kota Tangerang Selatan sejak beberapa tahun terakhir ini. Walaupun tidak menyatakan bahwa daerah ini adalah kantong teroris, namun sulit untuk mengatakan daerah ini terbebas dari aksi-aksi terorisme.
Sebagai daerah pemekaran baru, maka lembaga-lembaga terkait dengan pemerintahan dan pranata sosial juga banyak yang baru. Salah satunya adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) wilayah Kota Tangerang Selatan. Ormas yang mempunyai jaringan dari pusat hingga ke daerah ini, tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Perannya sangat terlihat ketika misalnya bersama-sama dengan pemerintah kota Tangerang Selatan mengeluarkan beberapa kebijakan terkait tertib sosial-moral dan masalah keagamaan di wilayah ini.
Sebagai lembaga yang menampung semua unsur dalam Islam, lembaga MUI berkomitmen untuk menyebarkan pemahaman keagamaan yang moderat dan menekankan paham kebangsaaan dalam beragama. Lembaga ini juga berperan serta dalam menangkal tindakan intoleransi yang hadir di tengah-tengah masyarakat melalui serangkaian kegiatannya. Secara khusus, sejauh ini belum belum ada kajian yang mendalami peran MUI Kota Tangerang Selatan dalam menangkal tindakan intoleransi dan terorisme di wilayahnya.
Dalam tataran sosiologis, lembaga keagamaan seperti MUI, adalah organisasi yang secara aspiratip dianggap mewadahi semua unsur kelompok yang berkepentingan . Untuk di wilayah Tangerang Selatan sebagai salah satu pemerintahan kota di wilayah Provinsi Banten, karakter keislaman tidak dapat dilepaskan sebagaimana masyarakat Banten pada umumnya.
Sebagaimana diketahui, bahwa agama mempunyai berbagai pranata dan lembaga yang memungkinkan ajarannya lebih langsung dapat ditangkap oleh individu-individu penganutnya dan lebih mungkin terpantul dalam pengaturan hubungan dan sistem perilaku sosial. Dalam Islam, yang tidak mempunyai sistem kelembagaan yang formal-hirarkis, peralatan yang paling strategis untuk hal-hal tersebut ialah ulama dan lembaga pendidikan. Bahkan tidaklah terlalu berlebih-lebihan jika dikatakan bahwa dinamika dari kedua hal ini adalah ukuran yang paling sesuai untuk meninjau masyarakat Islam. Di dalamnya, membahas berbagai aspek yang menyangkut hubungan agama, dengan perubahan sosial, dengan menjadikan peranan ulama dan lembaga pendidikan sebagai fokus yang paling awal untuk dikaji .
Gillin dan Gillin di dalam karyanya yang berjudul General Features of Social Institutions, seperti dikutip Soerjono Soekanto, menguraikan beberapa ciri umum lembaga kemasyarakatan, antara lain: adanya sistem kepercayaan dan aneka macam tindakan baru setelah melewati waktu yang relatif lama. Lembaga-lembaga kemasyarkatan biasanya berumur lama karena pada umumnya orang menganggapnya sebagai himpunan norma-norma yang berkisar pada kebutuhan pokok masyarakat yang sudah sewajarnya harus dipelihara .
MUI sebagai lembaga kemasyarakatan sedikit banyak memiliki ciri-ciri seperti disebut di atas. Dinamika kelembagaannya dapat dilihat dalam menjalankan fungsinya. Bahwa lembaga ini tidak akan berhenti dalam mensikapi lingkungan dengan berbagai aspek perubahannya. Dalam tugasnya membimbing umat, lembaga ini senantiasa tanggap terhadap gejala apapun yang dianggap akan mengusik kehidupan keberagamaan. Termasuk di dalamnya adalah menjaga dan memelihara keharmonisan hubungan-hubungan internal sesama umat seagama dan hubungan antarumat beragama. Dalam konteks ini, masalah terorisme adalah menjadi perhatian penting dalam kerangka berpikir keulamaannya.

Teknik Pengumpulan Data dan Analisis.
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi dokumen dalam mengkaji data primer. Observasi dilakukan ketika melakukan field trip. Kemudian selanjutnya wawancara kepada individu-individu yang dinilai mempunyai informasi tentang subjek penelitian. Untuk studi dokumen, dokumen yang akan dilihat setidaknya selama 5 tahun terakhir. Studi dokumen dilakukan untuk memvalidasi hasil wawancara.
Menyadari bahwa, kegiatan penelitian ini lebih bersifat penelitian kebijakan, maka dalam perspektif ini, hasil penelitian digunakan untuk memberikan kontribusi bagi penyusunan policy pembangunan oleh pemerintah, khususnya bidang keagamaan. Ada kendala psikologis di lapangan, karena dalam statusnya sasaran penelitian menyinggung persoalan terorisme. Dengan sendirinya, diperlukan ada kontak atau wawancara dengan para pihak yang diduga kuat mendukung gagasan di balik aksi terorisme. Diperlukan cara khusus untuk melakukan pendekatan kepada informan. Namun ternyata memerlukan waktu yang lama, dan menjadi sesuatu yang musykil dilakukan dengan adanya keterbatasan waktu di lapangan. Maka untuk mengenali seluk beluk pemikiran para teroris dicukupkan menggali dari buku-buku atau sumber tertulis lainnya, sejauh substansinya bisa ditemukan. Cara lain untuk penghimpunan data adalah melakukan wawancara dan diskusi terfokus dengan dengan para pihak yang kompeten, seperti pemuka masyarakat, MUI, dan akademisi.
Tentang analisis dalam penelitian, meminjam pendekatan interpretif, dengan menggunakan analisis causal. Sebagaimana dikemukakan Weber, interpretasi “maknawi yang sangat memadai harus dilengkapi dengan pembahasan kausalitasnya. Bagi Weber, pada dasarnya hal ini lebih dilihat dalam pengertian historis ketimbang mekanistik, dan upaya melibatkan peran beragam faktor anteseden yang mendasari fenomena atau peristiwa sosial tertentu . Bicara tentang teroris, ternyata tidak bisa dilihat dalam perspektif lokal. Terorisme, bahkan secara ideologis lebih memiliki target untuk melawan kekuatan global. Secara diakronis ternyata juga memiliki sejarah panjang. Oleh karena itu, analisis dalam penelitian ini, tidak hanya dikaji dalam konteks lokal (baca:Tangsel), tetapi dilihat juga dengan pendekatan historis. Setidaknya untuk mengenali latarbelakang tindakan dan motivasinya.

Dinamika Masyarakat Tangsel dan Kehidupan Keagamaan
Ada situasi paradoks pada masyarakat Tangsel. Bahwa masyarakat kota tersebut tampak sedang dalam perubahan yang cukup dramatis. Dalam konteksitas keberagamaan, di satu sisi menunjukkan kemarakan kegiatan keagamaan. Namun kegiatan tersebut sebenarnya terkonsentrasi di wilayah tertentu, misalnya di perkampungan, atau sekitar rumah ibadah dan pusat-pusat pendidikan keagamaan. Namun tidak dalam wilayah pusat perdagangan, atau perkantoran, mal dan sejenisnya. Sementara kota Tangsel kini menjadi primadona bagi pertumbuhan ekonomi, setaraf metropolitan. Pemandangan kota didominasi oleh kesibukan lalulintas dengan kendaraan pribadi bersileweran milik kalangan menengah ke atas. Mal-mal dibangun dan diramaikan oleh para pebisnis dan masyarakat yang juga kalangan menengah ke atas. Hotel-hotel dan gedung perkantoran, dengan bangunan berarsitektur modern, dalam keseharian disibukkan dengan ragam aktivitas yang bukan oleh kalangan bawah, dan jauh dari warna keagamaan.
Kota BSD atau BSD City yang menjadi bagian penting kota Tangsel, lebih dikenal sebagai kota modern, yang memiliki dinamikanya sendiri. Terlepas dari nuansa keagamaan sama sekali. Berdirinya gedung-gedung bertaraf internasional dan kompleks perumahan baru tersebut, semakin menampakkan wajah sekuler.
Di sisi lain, ada pelembagaan agama, yang berupaya memperlihatkan eksistensinya. Menurut Dwi Narwoko, pelembagaan seperti itu pada dasarnya berlangsung pada tiga tingkat yang saling memengaruhi, yaitu ibadah, doktrin, dan organisasi. Hal itu sebenarnya beranjak dari kebutuhan akan stabilitas dan kesinambungan, dan kebutuhan melestarikan isi keimanan. Karisma yang ada diubah bentuknya ke dalam karisma instansi dan spontanitas relatif yang ada pada periode yang lebih awal digantikan dengan bentuk-bentuk yang terlembaga pada tiga tingkat tersebut. Proses penentuan selanjutnya sering terperangkap dalam konflik yang tajam, keras dan berlangsung lama. Proses mana ditampilkan oleh kebutuhan untuk menjawab permasalahan yang timbul dari implikasi doktrin itu sendiri. Kebutuhan untuk menafsirkan kembali implikasi ajaran-ajaran tradisional agar isinya tetap relevan dengan situasi baru dan kebutuhan untuk mengatasi pengaruh ekstrinsik .
Masyarakat agama kota Tangsel kini sedang menghadapi tantangannya sendiri, yang boleh jadi khas Tangsel. Mengingat perlunya dinamika dalam setiap langkahnya, berkejaran dengan proses perubahan yang multidimensi. Secara normative, kadang perubahan yang terjadi bisa diantisipasi, dan sebagian lagi tidak bisa diprediksi, bahkan tidak bisa dimengerti.

Aksi-Aksi Terorisme
Adalah seorang Imam Samudra, pemuda asal Banten, yang pada tahun 2003, diadili di ruang sidang Gedung Nari Graha, Renon, Denpasar. Jaksa menuntutnya dengan hukuman mati karena terlibat langsung Bom Bali 1.Imam Samudra diketahui sebagai orang yang membagi tugas masing-masing orang untuk pengeboman yang diklaim terdasyat setelah peristiwa World Trade Center Amerika Serikat itu.Dan akhirnya pada 10 September, anak pasangan Titin Embay dan Sihabuddin itu pun divonis mati oleh hakim.Bersama Amrozi dan Ali Gufron, Imam Samudra dieksekusi mati di Nusakambangan. Ketiga orang ini diputuskan bersalah dan dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas tewasnya lebih dari 200 orang pada ledakan bom 12 Oktober 2002.
Mengutip sebuah sumber, rentetan peristiwa yang terkait dengan terorisme di kawasan ini antara lain, awal mula bukan saja menjadi asal kelahiran Imam Samudra. Terjadinya ledakan bom dengan daya low explosive di dekat atau di samping rumah tokoh Islam Abu Jibril, yang berlokasi di kompleks perumahan Witana Harja Blok C, Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang. Pada peristiwa itu, diberitakan tidak ditemukan korban jiwa pada peristiwa ledakan bom yang terjadi pada tanggal 8 Juni 2005, pada sekitar pukul 04.40 wib itu. sosok Abu Jibril alias M Iqbal bin Abdurrachman telah begitu luas dikenal di wilayah Tangsel dan dikenal pula sebagai aktivis Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), yang disebut-sebut pernah ditahan di Malaysia dan memiliki keterkaitan dengan jaringan Al Qaeda.
Peristiwa yang tidak kalah menghebohkan adalah terkait dengan sosok yang bernama Muhammad Jibril, yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), tetapi kemudian dicokok aparat Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror pada tanggal 25 Agustus 2009. Muhammad Jibril alias Muhammad Ricky Ardhan, tak lain adalah anak dari Abu Jibril. Penangkapan tersebut terjadi di Pamulang, dan waktu itu, digambarkan sempat seperti adegan kejar-kejaran dalam film laga antara aparat kepolisian dengan Muhammad Jibril. Pria ini juga diketahui aktif mengelola situs arrahmah.com. Kala itu, Mabes Polri menduga, Muhammad Jibril menjadi perantara aliran dana dari luar negeri ke Indonesia untuk dipergunakan sebagai pendanaan peledakan bom di dua hotel di Jakarta, yaitu JW Marriot dan Ritz Carlton.
Peristiwa ketiga yang terjadi di Tangsel adalah dilakukannya aksi penggerebekan sejumlah teroris oleh aparat Polri Densus 88 Antiteror selang dua bulan sejak penangkapan Muhammad Jibril. Kejadian kali ini tepatnya pada tanggal 9 Oktober 2009, dan berlokasi di Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangsel. Ada dua orang terduga teroris yang tewas ditembak, yakni Syaifuddin Zuhri dan Mohammad Syahrir. Keduanya tinggal di sebuah rumah kos yang letaknya berdekatan dengan Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat.
Selanjutnya, peristiwa yang cukup menghebohkan terjadi pula pada tanggal 9 Maret 2010. Yang mengherankan, kali ini kejadiannya berurutan di dua lokasi yang berdekatan. Diawali dengan penggerebekan yang akhirnya membuat seorang tersangka teroris tewas ditembak oleh aparat Densus 88 Antiteror di sebuah ruko yang biasa melayani business service center termasuk Warnet ‘Multiplus’ di Jalan Raya Siliwangi (seberang Situ Tujuh Muara, dan pusat perbelanjaan Pamulang Square), Kecamatan Pamulang, Tangsel. Lantas, kurang lebih setengah jam kemudian, aparat kepolisian menangkap kembali terduga pelaku teror. Kali ini, lokasinya masih berada di kecamatan yang sama tapi hanya bergeser sekitar satu kilometer saja dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Warnet ‘Multiplus’ sebelumnya. Kejadian tepatnya adalah di Gang Asem yang berada di Jalan Raya Setiabudi, Kelurahan Pamulang Barat. Drama penyergapan bersenjata di tempat ini menewaskan dua orang tersangka teroris.
Peristiwa paling hangat baru-baru ini terkait dengan aksi penggerebekan oleh tim Densus 88 Antiteror yang bertepatan pada malam tanggal 31 Desember 2013. Penggerebekan itu berlangsung hingga pagi hari, 1 Januari 2014. Para terduga teroris ini berdiam di Kampung Sawah, Kecamatan Ciputat, Tangsel. Dalam peristiwa yang bertepatan dengan malam pergantian tahun ini, enam tersangka teroris yang ditembak mati oleh aparat Densus 88. Satu orang tersangka teroris bernama Dayat ‘Kacamata’ ditembak aparat saat hendak melawan petugas dan melarikan diri menggunakan sepeda motornya. Sedangkan lima tersangka teroris lainnya, tewas diterjang peluru aparat Densus 88 Antiteror di dalam rumah kontrakan. Di rumah kontrakan itu ternyata ditemukan sejumlah bom rakitan, beberapa senjata api dengan tipe pistol berikut pelurunya, sejumlah senjata tajam, dan barang bukti lainnya.
Dilihat dari rententan penangkapan dan penembakan terduga teroris tersebut, sepertinya daerah Tangsel merupakan daerah yang nyaman untuk melakukan penyamaran dan sekaligus juga daerah yang nyaman untuk melakukan perencanaan aksi. Karena itu, walaupun peristiwa terorisme yang dilakukan para teroris kebanyakan di luar Tangsel, kecuali beberapa peristiwa penembakan polisi, namun keberadaan Tangsel sebagai daerah nyaman untuk memonitor aksi terorisme tentu mengagetkan banyak kalangan.

Teologi “jihad” kaum Teroris
Tindakan Samudra yang ia akui sendiri sebagai jalan terbaik, untuk melawan AS dengan segala alasannya, adalah langkah pembodohan kepada umat Islam dan umat manusia pada umumnya. Karena sasaran pengeboman bukan tentara AS dan atau tidak ada hubungan sama sekali dengan kepentingan negara tersebut. Nama Islam justru terpuruk akibat perbuatannya yang telah mengatasnamakan agama.
Secara kognitif, pemikiran keagamaan para teroris, Imam Samudra Cs adalah dangkal. Mereka merupakan subjek terkait dengan struktur kognitif mereka yang sederhana. Sebagai orang-orang yang sederhana, beberapa dari mereka memiliki pendidikan yang amat terbatas dan hampir tidak mempunyai pengalaman di luar komunitasnya. Para subjek tidak memiliki pengetahuan pembanding. Bahkan subjek yang lebih terdidik (sebagian dari mereka memiliki gelar akademik), tidak menunjukkan tanda-tanda memiliki pikiran yang luas. Oleh karena itu, yang dapat mereka lakukan hanyalah berpegang pada ajaran Islam monolitik yang telah diajarkan ustadz mereka di pesantren. Meskipun beberapa dari mereka pernah mengalami bepergian ke tempat-tempat lain, hubungan sosial mereka terbatas pada jaringan tertentu yaitu orang-orang yang radikal itu sendiri.
Di balik motif yang jelas dan terungkap secara verbal, terdapat pula beberapa motif implisit seperti kebutuhan atas identitas diri, kebutuhan untuk diakui, dan kebutuhan atas harga diri. Kebanyakan dari subjek berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah tanpa pekerjaan permanen. Mereka membutuhkan status untuk meningkatkan harga diri mereka dan status tersebut hanya dapat diperoleh melalui suatu kelompok tertentu yang menurut pemikiran mereka identik dengan kelompok fundamentalis. Bagi pemahaman mereka, status mereka akan lebih diakui, lebih jelas definisinya, dan menjadi lebih tinggi apabila mereka bergabung dengan kelompok yang dapat mengimplementasikan hukum syariah di Indonesia. Di sini, jihad adalah satu-satunya cara untuk mencapai hal itu.
Sebagian besar subjek yang terlibat pertama kali dengan kelompok fundamentalis-radikal terlibat dengan cara bertemu sebelumnya dengan orang-orang yang telah terlibat terlebih dahulu. Pertemuan bisa berlangsung pada konteks di mana mereka sedang mempelajari Islam seperti di pesantren, majlis taklim, organisasis siwa di sekolah (OSIS) dan kampus-kampus (BEM), dll. Tidak semua pesantren, majelis taklim, dan kelompok studi Islam itu radikal, tapi rata-rata semua subjek yang secara jelas adalah orang-orang fundamentalis sebelumnya pasti pernah, meskipun hanya sekali dalam hidupnya, bergabung dalam institusi Islam radikal.
Untuk merekrut anggot baru, kelompok ini menggunakan pendekatan yang berbeda. Intinya adalah untuk menyasar pada krisis identitas. Melalui kerabat, teman atau guru, organisasi tersebut menawarkan informasi religius yang dibutuhkan oeh sang subjek, atau komitmen untuk terlibat langsung dalam upaya membela Islam dan juga kesempatan untuk membalas dendam. Kemudian mereka menjanjikan, mulai dari sedikit informasi mengenai Islam sampai lowongan pekerjaan, status sebagai anggota JI (Jamaah Islamiyah), dan bahkan kehidupan yang indah di surga beserta semua fasilitasnya sebagai seorang syuhada di mata Allah. Para subjek didorong untuk meninggalkan identitas pribadi mereka dan mengubahnya menjadi identitas kelompok, atau dalam hal ini identitas JI.
Dimaksud dengan teologi jihad di sini, adalah sistem kepercayaan dalam agama yang dijadikan dasar atau motivasi melakukan suatu tindakan jihad. Dalam hal ini adalah tindakan para teroris. Terlepas dari target politik atau motivasi lainnya, selama ini para teroris, khususnya yang terlibat dalam kasus Bom Bali 1 dan 2, Bom Marriot, dan yang lain, menggunakan term keagamaan untuk melakukan tindakannya. Mereka memaknai “jihad” sesuai dengan kepentingan tersebut.
Dalam ajaran Islam, arti jihad secara kharfiah adalah bersungguh-sungguh . Maka terdapat beberapa pengertian yang mengikuti substansi tersebut, misalnya jihad dalam membela hak-hak sipil, jihad memerangi kemiskinan, jihad memerangi kebodohan, jihad melawan penindasan, dan sebagainya. Masing-masing memiliki pengertiannya sendiri.
Ziauddin Sardar, misalnya, mengaitkan arti jihad dengan potensi intelektual cendekiawan Islam. Menurutnya, Jihad tidak mempunyai kaitan dengan agresi, ataupun dengan penyebaran keyakinan, ego individual, fanatisme, maupun irasional. Jihad adalah suatu tindakan defensif yang sudah dipertimbangkan dengan matang oleh komunitas untuk melawan penindasan dan ketidakadilan dalam segala bentuknya. Tujuannya adalah untuk melawan ketidakadilan dan bukan untuk menggantikan sistem kekuasaan satu dengan lainnya atau untuk menggantikan dominasi suatu kelompok dengan dominasi kelompok lainnya .
Sementra itu, pengertian Jihad menurut Muhammad Chirzin, ditegaskan, adalah berkaitan langsung dengan perintah dakwah. Kegiatan dakwah, sejak jaman Nabi hingga sekarang mengalami dinamika. Mulai dari kegiatan door to door, dan berkirim Surat, hingga pada zaman modern dilakukan melalui radio, surat kabar, televisi, dan media elektronik lainnya. Dengan mendasarkan pada teks Firman Allah di S. Al A’raf/7: 158 dan S.QS. Al-Fath/48: 16, juga dengan mengadopsi pendapat Muhammad Husaini Fadlullah, pada ayat pertama, mengarah pada penyingkiran hambatan yang merintangi dakwah Islaam, dengan menghancurkan unsur-unsur yang menghalangi kaum Muslimin mengamalkan dan mendakwahkan ajaran Islam. Dengan demikian, perang dimaksudkan untuk mencegah terjadinya fitnah. Dari ayat tersebut tidak dapat ditarik dalil apapun untuk pembenaran perang untuk tujuan dakwah. Adapun ayat kedua, adalah berisi seruan kepada orang Arab Badui agar bergabung da;am barisan pejuang yang memerangi kaum kafir dengan dua pilihan, masuk Islam atau diperangi. Peperangan yang dimaksud dalam ayat ini, dilakukan atas permusuhan atas orang-orang kafir, dan/ atau untuk memperthanlan diri dari serangan mereka .
Menyimak uraian di atas, dapat dipahami bahwa faktor penyebab seseorang terjerat dalam aksi terorisme tidaklah tunggal, misalnya hanya karena salah dalam memahami doktrin agama saja. Kesalahan memahami doktrin agama turut menyumbang terjerumusnya seseorang dalam jaringan terorisme, dan faktor kondisi individu yang rentan baik dari sisi ekonomi maupun fasilitas hidup turut menyumbang keputusan untuk terlibat dalam aksi-aksi terorisme. Di samping itu, tidak dapat dilupakan juga faktor psikologis seseorang yang dalam kondisi krisis identitas misalnya juga dapat mengarahkannya terlibat dalam aksi-aksi terorisme.
Bagi kelompok teroris, mengartikan jihad semata-mata menurut argumentasi kalangan mereka sendiri. Seperti ditemukan dalam literatur yang beredar di masyarakat, baik yang berupa buku maupun situs internet. Diantaranya adalah informasi yang diangkat oleh Saiful Rahman Barito, di sekitar masalah perang melawan musuh Islam di Afganistan, yang dijadikan sumber utama bagi para teroris untuk melaksanakan “perintah Jihad”. Menurutnya, adalah Abdullah Azzam, seorang mujahid dari Afganistan yang sangat mempengaruhi kaum mujahidin sedunia. Beliau adalah ulama yang terjun langsung ke dalam pertempuran. Dia tahu benar kondisi sebenarnya di lapangan itu. Dia juga berinteraksi dengan ulama lain dari berbagai negeri. Karena itu Afganistan menjadi bumi jihad Islam seluruh dunia, yang didukung para ulama. “Buku karya Abdullah Azzam yang saya gemari”, katanya, “adalah Tarbiyah Jihadiyah (Edisi Indonesia buku ini sudah diperbanyak oleh salah satu penerbit di Solo, terdiri atas lebih dari selusin jilid-Red) dan Dibawah Naungan Surat At-Taubah” .
Menurut Barito, Azzam menekankan bahwa jihad dengan jiwa dan harta dalam kondisi sekarang ini sudah termasuk kategori fardhu ‘ain (kewajiban personal) yang kedudukan hukumnya sama seperti shalat dan puasa. Dengan kapasitas keilmuannya, Azzam mengajukan dalil-dalil dari al-Quran dan Hadis, dan menguatkannya dengan pendapat mazhab-mazhab fikih dalam masalah ini.
“Kami meyakini bahwa jihad dengan jiwa dan harta dalam kondisi yang sekarang terjadi di Afghanistan adalah fardhu ‘ainsebagaimana ditegaskan oleh para ahli fikih Empat Mazhab tanpa kecuali. Sepakat dengan mereka mayoritas ahli tafsir, ahli hadis, dan ahli ushul.”

Untuk konteks Afganistan barangkali agak relevan, karena memang terjadi intervensi Barat terhadap urusan dalam negerinya, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim. Namun dalam konteks Indonesia, masalahnya sangat berbeda. Karena di Indonesia tidak ada intervensi, dan apalagi penindasan terhadap kaum Muslim oleh bangsa asing.
Konsekskuensi dari tindakan jihad, dalam keyakinan mereka, adalah syahid, yaitu mati dalam keadaan berjuang di jalan Allah. Sedemikian mendalam keyakinan itu, maka tidak mengherankan kalau para teroris tersebut, melakukan tindakannya dalam bentuk “bom bunuh diri”. Antara lain seperti yang ditemukan pada catatan pelaku bom di Cirebon. Yaitu Aksi-aksi peledakan bom di Masjid Adz Dzikra, yang berada di kompleks Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kota Cirebon, Jawa Barat .
Kasus ini bukan saja menambah semakin brutalnya aksi terorisme dengan mengatasnamakan “jihad”, bahkan juga semakin tidak jelasnya mengartikan “musuh” Islam. Sasaran bom justru umat Islam yang sedang bersiap menunaikan shalat Jumat. Tidak ada satupun warga yang menjadi sasaran atau kantor yang diledakkan, berafiliasi pada “musuh Islam”.
Pola pikir keagamaan para teroris yang seakan membela Islam, tapi kenyataan di lapangan justru merusak nama Islam, bahkan mengkhianati firman Tuhan. Pemikiran demikian biasanya memperoleh respek dari kelompok Islam radikal atau Muslim garis keras. Suka atau tidak suka, pemikiran keagamaan, yang terlalu tekstual, sering menjadi pilihan utama dalam melakukan tindakan.
Adalah ustadz Ba’asyir, seorang ulama yang namanya cukup mengemuka dalam masalah tersebut. Karena pikiran-pikirannya yang radikal dan keras. Ba’asyir menggulirkan semangat jihad, untuk menghadapi “teroris” yang sebenarnya, yakni Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya. Stigmatisasi Islam, dengan menyebut “Islam militant”, “Islam garis keras”, “Islam fundamentalis”, seakan berada di balik aksi-aksi teror, seperti peledkan WTC 11 September 2001 dan Bom Bali 12 Oktober 2002 . Pernyataan Ba’asyir melalui berbagai media seperti ini, dengan segala argumentasinya, seakan menjadi racikan yang layak ditelan begitu saja. Sampai mereka yang setuju atas pandangan tersebut, siap menjadi martir “demi agama”.
Diantara pikirannya yang ia tulis, adalah yang berjudul Catatan dari Penjara untuk mengamalkan dan menegakkan Dinul Islam (2006). Uraian dalam buku ini meliputi: masalah bagaimana menegakkan Dinul Islam, seperti: (a) Berdemokrasi adalah perbuatan Kufur Akbar, dan sistem Parlemen (MPR) adalah musyrik; (b) Mentaati penguasa yang tidak menformulasikan syariat Islam adalah Musyrik; (c) Kedaulatan Mutlak hanya ada di tangan Allah; (d) Orang Islam wajib menegakkan Dinul Islam, yakni menjalankan hidup menurut tuntunan Tuhan, dan harus secara kaffah; (e) Pemimpin yang mengeluarkan rakyatnya dari cahaya iman adalah Toghut, serta (f) Bernegara dengan mengikuti penguasa yang tidak menegakkan syariat Islam hukumnya musyrik .
Untuk setiap pasal dalam buku tersebut, Ba’asyir menggunakan argumen dengan referensi Al Qur’an dan Hadits Nabi. Namun tafsiran Ba’asyir hanya mengikuti prinsipnya sendiri. Tidak memberi ruang sedikitpun bagi tafsiran yang berbeda dari dirinya. Bandingkan dengan pikiran Naquib al Atas, seperti dikutip Ziauddin Sardar, tentang term yang sama, yakni pemaknaan kata din dalam Islam. Din bisa diikhtisarkan menjadi empat signifikansi primer: hutang (indebtedness); kekuasaan yang bijaksana (judious power), dan kecenderungan alamiah atau fitrah (natural inclination). Berdasar empat komponen, menjadikan Islam adalah sebagai suatu sistem sosial dan etika “alamiah” .
Adalah seorang Al Ustadz Abu Karim Fatullah yang kemudian memberikan bahasan secara kritis atas seluruh pemikiran Ba’asyir yang dianggapnya kontroversial tersebut. Ustadz Fatullah menuangkan hasil pemikirannya dalam buku yang berjudul Kekeliruan Pemikiran Abu Bakar Ba’asyir (2006). Sebagaimana telah disebutkan dalam pasal sebelumnya, bahwa Fatullah membahas pasal demi pasal uraian Ba’asyir untuk kemudian ia kritisi dengan menggunakan rujukan (yang juga) berdasar Kitab suci Al Qur’an dan Hadits Nabi. Menurutnya, Ba’asyir dalam memahami tuntunan Islam sangat tekstualis. Tanpa melihat konteks historis (asbab an nuzul dan asbab al wurud), dengan latarbelakang sosial yang melingkupinya. Memahami dengan metode yang benar dalam mendekati sumber-sumber ajaran Islam sangat menentukan bagi kemajuan umat Islam. Pemahaman Islam secara tekstual jelas bukan solusi atas keterpurukan Islam selama ini .
Sementara Ba’asyir dalam pikiran-pikirannya itu juga tidak mau melihat masyarakat dalam konteks keragaman (puralitas). Bahwa hidupnya masyarakat Indonesia, secara kultural terdiri dari berbagai suku dan agama. Ada perbedaan cara pandang antar kelompok, yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama atau sebaliknya, ada perbedaan cara pandang keagamaan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya. Dalam satu agama saja, terdapat beragam pendapat terhadap satu persoalan. Sesuai prinsip dalam Islam sendiri, yang “tidak ada paksaan dalam agama”, maka tidak mungkin ada pemaksaan untuk mengikuti hanya satu pandangan. Keragaman juga terjadi dalam tingkat pengetahuan. Khususnya menyangkut masalah pengetahuan agama. Perbedaan tingkatan itu, terefleksi juga pada cara mengamalkan tuntunan agama. Maka orang yang masih dalam taraf belajar, atau awam atau tidak cukup pengetahuan terhadap sesuatu masalah, tidak bisa dipaksakan harus sama pengamalannya dengan orang yang pengetahuan agamanya relatif lebih sempurna. Cara pengamalan keberagaaan menjadi berbeda-beda, meski banyak juga persamaannya antar kelompok.
Terlepas dari persoalan tersebut, bagaimanapun pemikiran-pemikiran radikal sebagaimana yang keluar dari Ba’asyir, Abdullah Azzam dan Abu Musab Al Suri. Telah dijadikan rujukan penting bagi para teroris. Argumentasi yang disampaikan, sedikit banyak telah dijadikan sumber acuan bagi gerakan-gerakan terorisme.
Khususnya kelompok teroris di Indonesia, tampak hanya mengambil semangat “jihad”nya ke Indonesia, setelah belajar dari Afganistan. Mereka tidak membedakan, secara kontekstual, antara Afganistan dan Indonesia, jelas berbeda. Di Afganistan barangkali sedikit bisa dimaklumi, kondisi negaranya yang terus berhadapan dengan intervensi asing. Sementara di Indonesia, kehidupan masyarakatnya adem ayem, dalam arti tidak sedang dalam peperangan atau berhadapan dengan musuh yang sedang menyerang.
Menurut Juwono Sudarsono, dengan mengutip pendapat Prof. Woorward, ideologi terorisme yang mendasarkan keyakinan dan agama, belakangan ini banyak muncul di tengah kehidupan manusia modern yang kehilangan jiwa dan hatinurani. Terorisme macam inilah yang amat bahaya, karena gerakannya bisa berkedok membela agama dan menjaga kesucianNama Tuhan. Dengan landasan inilah maka terorisme tumbuh menjadi ideologi. Dan tumbuhnya ideologi terorisme selalu beriringan dengan tindakan kekerasan, yang intensitas dan kecanggihannya semakin lama semakin besar .
Bagian tulisan pada buku ini, sebenarnya hanya ingin menegaskan adanya pola pandang keagamaan pada sebagian penganut Islam, yang selama ini masih memprihatinkan. Yaitu cara menafsirkan firman Tuhan yang justru berlawanan dengan missi agama Tuhan. Ada identifikasi terhadap “siapa kawan dan siapa lawan” yang tidak bisa dipertanggungjawabkan menurut ajaran agama, dan menurut akal sehat. Kesalahan pandangan itu telah menciptakan berbagai benuk tindakan, dengan mengesyahkan kekerasan dan membunuh saudara-saudara seagama, sewarga bangsa, dan sesama manusia yang tidak berdosa.

Penangkalan ala MUI
Diantarausaha yang dilakukanoleh MUI, sebagaimana tertuang dalam Pasal 6 Pedoman Dasar adalah: (1) Memberikan bimbingan dan tuntunan kepada ummat Islam agar tercipta kondisi kehidupan beragama yang bisa menjadi landasan yang kuat dan bisa mendorong terwujudnya masyarakat yang berkualitas (khaira ummah),dan (2) merumuskan kebijakan penyelenggaraan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar untuk memacu terwujudnya kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridlai oleh Allah SWT. Atas dasar itu, maka MUI merasa ikut bertanggungjawab dalam masalah penanggulangan terorisme, baik dalam skala global, nasional, maupun local. Karena terorisme merupakan tindak kemungkaran, yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Lebih memperihatinkan lagi, adalah adanya sementara teroris yang menggunakan ajaran Islam sebagai alasan pembenarannya.
Dalam konteks geografis, beberapa informasi tentang terorisme seakan dilekatkan juga dengan konteks kewilayahan Kota Tangerang Selatan. Banyak media menggiring opini seakan Kota Tangsel menjadi sarang teroris. Hal inilah yang menjadi kerisauan para tokoh ulama di Tangerang Selatan karena opini seperti ini tentu akan membawa dampak yang tidak baik bagi iklim kehidupan segala bidang di kota yang baru dimekarkan dari Kabupaten Tangerang tahun 2008 ini. Karena itu jelas-jelas mereka berupaya untuk menangkis opini tersebut. Para tokoh agama di Tangsel juga berupaya memberi pemahaman kepada khalayak umum di Tangsel akan bahaya terorisme supaya warga juga mempunyai kepedulian terhadap para pendatang yang dianggap mencurigakan.
Sudah selayaknya, kalau lembaga keagamaan seperti MUI, memiliki keprihatinan tersendiri terhadap tindakan atau isu yang secara normatif mengusik keluhuran agama Islam.
Menurut Dwi Narwoko, pelembagaan agama pada dasarnya berlangsung pada tiga tingkat yang saling memengaruhi, yaitu ibadah, doktrin, dan organisasi. Hal itu sebenarnya beranjak dari kebutuhan akan stabilitas dan kesinambungan, dan kebutuhan melestarikan isi keimanan. Karisma yang ada diubah bentuknya ke dalam karisma instansi dan spontanitas relatif yang ada pada periode yang lebih awal digantikan dengan bentuk-bentuk yang terlembaga pada tiga tingkat tersebut. Proses penentuan selanjutnya sering terperangkap dalam konflik yang tajam, keras dan berlangsung lama. Proses mana ditampilkan oleh kebutuhan untuk menjawab permasalahan yang timbul dari implikasi doktrin itu sendiri. Kebutuhan untuk menafsirkan kembali implikasi ajaran-ajaran tradisional agar isinya tetap relevan dengan situasi baru dan kebutuhan untuk mengatasi pengaruh ekstrinsik .
MUI Kota Tangsel sebagai partner dari Pemerintah Kota Tangsel berupaya agar penanggulangan terorisme itu berjalan secara bertahap. Cara ini ditempuh selain karena keterbatasan kapasitas MUI dalam melakukan perannya dalam mencegah terulangnya kembali penangkapan terduga teroris, juga untuk memuluskan kepentingan publik lebih luas. Secara khusus beberapa tokoh MUI Tangsel sering terlibat dalam kegiatan Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) di Tangsel.
Menurut Ketua Umum MUI Tangsel dan Sekretaris Umum MUI Tangsel, pertama sekali yang mereka lakukan selama ini adalah dengan melakukan penyadaran kepada masyarakat luas terhadap bahaya ideologi terorisme. Karena dalam terorisme ada tiga faktor yang perlu diwaspadai yaitu pertama ideologi, kedua organisator atau leader-nya, dan ketiga terjadi rekruitmennya. MUI Tangsel pada intinya perlu melakukan penyadaran akan bahaya terorisme kepada masyarakat Tangsel khususnya. Hal ini dilakukan bekerja sama dengan pemkot terkait dengan wewenangnya menjaga kerukunan dan ketertiban warga, serta elemen lain seperti kaum akademisi, yang dibuktikan dengan diselenggarakannya seminar tentang bahaya terorisme di berbagai kesempatan.
Dalam hal ini mereka melihat tidak menjadi soal siapa yang menyelenggarakan, yang penting adanya kesadaran terhadap bahaya terorisme dan MUI Terlibat di dalamnya. Nantinya diharapkan lahirnya semacam kesepakatan bersama antara walikota, MUI, Kemenag, dan para tokoh masyarakat atas bahaya terorisme. Oleh karenanya, sejauh ini peran MUI Tangsel baru sebatas terlibat dalam upaya penyadaran kepada publik akan bahaya laten terorisme. Adapun untuk identifikasi terduga atau perilaku terorisme bukan termasuk wilayah mereka, karena membutuhkan keahlian khusus dan sejauh ini MUI Tangsel tidak dalam kerangka ke arah sana.
Di samping itu, program penyadaran pubik melalui penerbitan teks khutbah jumat juga pernah dilakukan, dengan tema terkait dengan isu antiterorisme. Beberapa pengurus MUI Tangsel sendiri juga aktif menyuarakan dalam khutbah-khutbah mereka akan pentingnya kewaspadaan terhadap terorisme yang keberadaannya jarang tercium oleh masyarakat awam. Ditekankan adalah kewaspadaan terhadap paham radikal yang menjadi penyulut bagi tumbuhnya ideologi terorisme.
Di samping itu, ditempuh pula program yang sifatnya himbauan kepada khalayak umum untuk waspada terhadap para pendatang yang mencurigakan. Untuk tindakan yang bersifat pre-emtive, MUI Kota Tangsel juga belum pernah mendekati pelaku terorisme yang kebetulan berbaur dengan warga Tangsel. Karena hal itu sudah masuk ke ranah pihak kepolisian. Ditakutkan mereka malah nantinya akan memperuncing masalah.
Jelaslah bahwa selama ini paling jauh peran MUI Kota Tangsel dalam menanggapi gejala terorisme di wilayah Tangsel sebatas melakukan edukasi dan penyadaran kepada publik Tangsel khususnya. Langkah sosialisasi itu dilakukan dengan mendatangi forum-forum diskusi dan seminar terkait dengan tema pencegahan terorisme. Secara kelembagaan, MUI Tangsel juga pernah menyelenggarakan seminar khusus membahas masalah terorisme pada tahun 2012 yang lalu. Mengenai sosialisasi ini belumlah sampai menjangkau ke pemukiman warga termasuk ke kontrakan sebagai lokasi yang sering “disambangi” Densus 88 Antiteror, sebab hal ini tentu bukan bidangnya MUI.
MUI Tangsel juga mendukung langkah Pemkot yang mengeluarkan peraturan walikota untuk dilakukannya pendataan warga, khususnya warga pendatang. Walikota Tangsel sendiri telah mengeluarkan perwal tentang pendataan pendatang ini yaituPeraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 32 Tahun 2011 tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Kecamatan yang di dalamnya menyebutkan tugas pokok perangkat kecamatan untuk melakukan pendataan warga pendatang dan menyediakan form pendataan warga khususnya pendatang. Di situ juga diterakan biodata singkat karena kejadiannya beberapa kali terjadi di rumah kontakan.
Terhadap keberadaan kelompok radikal di Tangsel, pihak MUI Tangsel sendiri telah menarik garis batas. Dengan alasan perbedaan paham dan sulit dirangkul, kelompok radikal yang sekarang masih bertahan itu tetap dibiarkan saja. Karena itu, bagi pengurus MUI Tangsel, dialog dengan kelompok seperti mereka tidak pernah dilakukan. Karena memang mereka sudah berpendirian seperti itu, dan jika diladeni juga malah tidak produktif. MUI Tangsel pun akhirnya dalam posisi membiarkan saja.
Ketika disinggung keterkaitan dengan sosok berpaham radikal seperti Abu Jibril, mereka hanya berprinsip, agar kelompok-kelompok mereka tidak diberi peluang. Kalau diberi peluang bisa berbahaya. Mereka bisa memulai dari situ untuk melancarkan gerakannya .
Hingga saat ini, kegiatan MUI lebih banyak menjalin kemitraan melalui berbagai forum dengan instansi-instansi lain, misanya saja dalam bentuk menghadiri undangan. Adapun MUI Kota Tangsel terhitung jarang melakukan kegiatan sendiri sebagai host dari kegiatan tersebut.
Dari sebuah kegiatan dilaporkan juga telah dilakukan dialog dalam bentuk tanya jawab. Salah satu nara sumber berasal dari unsur Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan juga dari unsur pemuda lintas agama Kota Tangerang Selatan). Acara yang diawali pukul 8 pagi itu, diakhiri hingga pukul 12.30 siang.
Keterlibatan MUI Tangsel dalam rangka mencegah penyebaran paham radikalisme terorisme dapat disimak dalam bentuk diskusi dan seminar, yang mengahdirkan para pemuka berbagai agama dan kaum cendeiawan. MUI bekerjasama dengan lembaga-lembaga sosial keagamaan ain seperti: Forum Pemuda Lintas Agama (PELITA), Kemenag Tangsel, PGLII Banten dan Majelis Dzikir Raudhatul Mahabbah. Diuantara narasumber yang dihadirkan antara lain: Zora A. Sukabdi (Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP)/ Psikologi UI), Rumadi Ahmad (Wahid Institute) , Nasaruddin Umar (Wakil Menteri Agama), Benny Susetya (KWI), Abdul Rojak (MUI Tangsel) dan dari Walikota Tangsel.
Beberapa catatan hasil diskusi tersebut, adalah seperti terangkum sbb.:
1. Masalah terorisme sudah sepatutnya dijadikan musuh bersama dan menjadi tanggung jawab bersama, sebab para terduga teroris itu telah membaur. Masyarakat diharapkan tidak lagi cuek dan menyalahkan pemerintah saja.
2. Pemerintah saat ini terus berupaya maksimal dalam pemberantasan terorisme dengan cara selalu melakukan pengawasan gerak gerik para teroris. Salah satu program adalah pendataan kependudukan secara periodik. Mengharapkan dukungan dari masyarakat.
3. Membagi terorisme di Indonesia ke dalam tiga lapisan, yaitu: ideolog, organisatoris dan pengikut. Disamping itu, ada empat klasifikasi penyebab tindakan pengeboman, yaitu penyebab struktural, penyebab penghantar, penyebab pendorong dan penyebab pencetus.
4. Dalam berbagai studi yang dilakukan, tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan munculnya terorisme. Faktor pemahaman keagamaan yang sempit, ketidakadilan baik pada level lokal, nasional, bahkan global serta kemiskinan senantiasa terkait mendorong aksi terorisme. Mengungkap hasil penelitian Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi ((PAKAR) tahun 2011 yang menunjukkan bahwa setidaknya terdapat 102 pesantren radikal tersebar di 15 provinsi di Indonesia.
5. Faktor ekonomi dan kurangnya pemahaman tentng agama disinyalir sebagai penyebab menjamurnya pelaku terorisme di Indonesia. Memandang perlunya pemantauan dan membaur dengan masyarakat agar petugas kepolisian maupun pemerintah mengetahui apa yang terjadi di masyarakat.
6. Memasuki tahun 2014 diperkirakan aksi terorisme masih marak terjadi. Untuk itu semua pihak diharapkan kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar dan mewaspadai bahaya terorisme tersebut. Islam menolak cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan.
7. Sifat dan karakter umat Islam sesuai al Quran adalah umat pertengahan. Paham radikal merupakan ajaran yang keras da terlalu berlebihan. Banyak paham radikal yang menyalahartikan jihad, padahal jihad hanya dilakukan sebagai pembelaan diri, bukan untuk menyerang. Islam tidak pernah mengajarkan untuk menyerang orang-orang sipil, kaum perempuan dan anak-anak, meskipun mereka berbeda agama. Hal ini tidak dibenarkan dalam etika jihad yang sesungguhnya diajarkan Rasulullah SAW. Umat Islam yang terbaik adalah dalam posisi tengah. Dirinya menolak paham radikalisme dan paham liberalisme karena kedua paham ini terlalu keras dan terlalu bebas dalam ajarannya.

Simpulan
Dinamika MUI Tangsel tidak bisa dilepaskan dengan perkembangan lingkungan sosial, yang cenderung kurang terkontrol. Secara normatif keagamaan, sebagai wilayah pemekaran kota metropolitan, telah dimanfaatkan oleh sementara orang untuk tujuan persembunyian dan pematangan kegiatan terorisme. Menurut MUI, terorisme adalah bentuk kemungkaran yang melawan ajaran agama.
MUI Kota Tangsel sebagai partner dari Pemerintah Kota Tangsel mengambil bagian dalam upaya penanggulangan terorisme. Sesuai proporsinya, lembaga ini menempuh cara melalui pendekatan agama dan bentuk kerja kemitraan dengan berbagai pihak yang kompeten. Meski diakui, bahwa MUI memiliki keterbatasan dalam melakukan perannya, karena faktor pendanaan.
Kegiatan utama yang dilakukan selama ini adalah melakukan penyadaran, edukasi kepada publik Tangsel khususnya. Langkah sosialisasi itu dilakukan melalui forum-forum diskusi dan seminar terkait dengan tema pencegahan terorisme.
Keberadaan para teroris. Dalam pandangan MUI Tangsel, adalah sangat berbahaya, karena mengahalalkan perbuatan yang dilarang agama. Tindak terorisme adalah perbuatan munkar, karena telah merusak sendi-sendi kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, perlu keterlibatan semua pihak, di samping MUI sendiri, untuk bersama-sama menempuh langkah-langkah penanggulangannya.

Rekomendasi
Untuk mengatasi permasalahan terorisme dan ancaman kehidupan keberagamaan di wilayah Tangsel ini, langkah pertama yang harus diambil pemerintah adalah memperkuat kelembagaan MUI Tangsel. Penguatan kelembagaan MUI Tangsel ini menunjuk pada wilayah Tangsel yang selama lima tahun terakhir ini kerap menjadi persinggahan kelompok teroris. Alasan yang lebih luas, karena terorisme merupakan ancaman sosial dan hukum yang harus melibatkan unsur negara dalam penanganannya. Keberadaan MUI Tangsel cukup efektif untuk menyebarluaskan pemahaman agama yang moderat dan juga mencegah berkembangnya pemahaman keagamaan yang radikal terorisme.
Dukungan terhadap MUI Tangsel ini juga perlu dilakukan dengan melibatkan lebih banyak kalangan akademisi. Hal ini tidak lain karena di Tangsel berdiri banyak perguruan tinggi, namun apa yang dilakukan dalam rangka menghentikan berkembangnya ideologi terorisme masih kurang mengakomodir kaum akademisi dari kampus-kampus setempat

MUI DIMINTA ANULIR FATWA SESAT EDEN

Marzani Anwar
Maklumat Eden yang dikeluarkan di bulan Februari 2016 berisi permintaan kepada MUI untuk menganulir fatwa MUI Kep-768/MUI/XII/1997 tentang ajaran eden yang sesat dan menyesatkan. Sementara Eden sendiri telah beberapa kali menegaskan penghapusan Islam. Dengan menghapus Islam berarti ia telah tidak Islam lagi. Telah punya agama sendiri, dan berhak mengatur agamanya sendiri. Kalau MUI menfatwakan “sesat dan menyesatkan” atas Eden, itu sama-mata untuk melindungi umat Islam. Buat apa lagi, Eden minta berurusan dengan MUI.
Menjawab permasalahan yang saya ajukan, tentang penegasan di kitab Suci Al Quran, Surat Al-Maidah ayat 3: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu Nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Eden menyatakan bahwa ayat itu sebagai Deklarasi Tuhan bahwa telah tercukupkannya pewahyuan kepada Nabi Muhammad pada saat itu, telah lengkap seluruh Kewahyuan untuk Nabi Muhammad disampaikan Tuhan, sebagai tanda bahwa masa Kerasulan Nabi Muhammad telah hampir selesai. Maksud Eden, masih terbuka pewahyuan Tuhan pada era pasca Muhammad.
Eden lupa, bahwa ayat-ayat Qur’an itu berlaku abadi, untuk sepanjang masa. Hanya untuk kasus tertentu, yang sifatnya temporal. Maka apakah tepat, kalau ayat di surah Al Maidah 3 itu ditafsir dengan seenaknya sendiri, seakan hanya berlaku pada saat Nabi Muhammad mengakhiri perjuangan dakwahnya. Ayat itu justru menjadi penegas keberadaan malaikat Jibril yang sesungguhnya, yang menyampaikan pesan penting dari Allah kepada Rasulullah SAW., Bukan malaikat yang datang tiba-tiba dan mewahyukan “penghapusan Islam”. Tapi yang dibawakan Muhammad, sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Mengayomi umat manusia sampai akhir zaman. Maka menjadi pertanyaan besar, kalau kini ada orang yang mengaku-aku pendamping malaikat Jibril dan berkewenangan menghapus Islam.
Secara pribadi, saya tak menafikan kemungkinan Tuhan berwahyu kapanpun dan kepada siapapun, kepada hamba yang dipilihNya, mungkin berupa inspire atau bisikan suci dalam rangka memperbaiki umat manusia. Tapi bahasa Tuhan itu pastilah yang bisa diuji kebenarannya dan kesuciannya. Bukan pewahyuan yang menghamburkan kebohongan dibalik ungkapan-ungkapannya yang indah dan tampak menawan. Jadi tidak mudah untuk mengakui klaim kewahyuan yang diatasnamakan Tuhan.
Sudah terlalu banyak orang-orang yang mengaku mendapat wahyu dan seakan Tuhan menugaskan dirinya menjadi penyelemat dunia di akhir zaman. Tapi ujung-ujungnya hanya mengobral ramalan di sekitaran akan datangnya hari kiamat. Orientasi teologinya lebih pada bangunan egoisme kelompoknya. Tak peduli dengan persoalan kemanusiaan, persoalan kerusakan moral, dan tidak juga memahami persoalan keilahian dalam arti yang sebenar-benarnya.
Eden menegaskan bahwa wahyu yang diterimanya sejak awal hingga kini, tak pernah bergeser, yakni perjuangan anti kemusyrikan dan menegakkan ketauhidan. Ternyata yang dimaksud dengan kemusyrikan itu adalah bangunan ilusinya sendiri tentang kepercayaan terhadap kekuasaan atau kekuatan Nyi Roro Kidul. Sementara bangsa Ini, sudah lama meninggalkan mitos seperti itu, kecuali untuk beberapa orang, dan itu juga bersifat kasual. Tapi Eden mendramatisir sedemikian rupa, seakan pemerintah yang berkuasa saat ini menggunakan kekuatan ratu laut selatan tersebut.
Eden dalam mengajak orang untuk mempercayai risalahnya tampak membutakan hatinya, terhadap kenyataan umat yang dihadapi. Bahwa setiap jiwa, yang hidup di dunia ini, terutama yang sudah mengaku Muslim, adalah mereka yang sudah bertauhid, dan telah anti kemusyrikan. Serendah apapun kadar keberimanan itu, mereka punya komitmen moral tentang ketauhidan tersebut. Namun Eden seakan menjadi pahlawan sendiri untuk memeperjuangkan hal itu.
Eden dengan wahyu-wahyunya, mengkalim dirinya sebagai rasul yang didampingi malaikat Jibril. Ia menyetarakan diri dengan para Nabi dan Rasul Allah terdahulu. Tapi tidak mau melihat siapa yang dihadapi para Rasul tersebut ketika Nabi-nabi itu mulai dakwah. Mereka yang dihadapi adalah betul-betul kalangan penentang Allah. Seperti nabi Ibrahim, umatnya jelas kaum penyembah berhala; nabi Musa umatnya penyembah raja Fira’uan; nabi Isa umatnya jelas kaum penyembah matahari, dan nabi Muhammad dengan umatnya kaum Jahiliyah. Tapi “rasul Eden” ? , alangkah naifnya kalau menganggap umat yang sekarang ini adalah umat seburuk itu.
Apa yang terlihat di depan mata saya, ketika seseorang masuk Eden , melalui proses pensucian. Sejak prosesi itu terjadi, prinsip ‘bertauhid dan anti kemusyrikan itu mereka tinggalkan”. Berganti dengan pembelokan aqidah yang luar biasa. Ia tinggalkan agama Islam. Semua ajaran Muhammad SAW harus ditinggalkan. Padahal, fondasi keberislaman itu adalah ketauhidan, dan pengakuan pada kerasulan Muhammad.. Pensucian yang hanya berlangsung dalam tempo semalam, telah membuat kaum eden jadi keluar dari Islam. Mereka, yang kebanyakan beragama Islam, langsung neninggalkan kewajiban shalat, dan tinggal menetap di rumah Eden. Sang isteri dan anak-anak yang sudah taat menjalankan ibadah shalat dan kesalehan lainnya, diajak tinggalkan itu semua, dan justru diultimatum “kalau ingin selamat, agar mengikuti jejaknya, yakni tinggal di rumah eden dan ikut pensucian”. Hilangnya rasa kasih sayang kepada anak isteri dan orang tua justru ketika ia telah menjadi orang yang “sudah disucikan” seperti itu.
Sang anggota barau Eden telah meninggalkan isterinya, ibunya, ayahandanya, dan famili besarnya. Mereka hanya bisa menangis, sepanjang hari dan sepanjang malam. Hatinya tercabik-cabik, karena tidak mengira sama sekali ia berkeputusan seperti itu. Sementara yang bersangkutan tenang-tenang saja di Mahoni 30, seakan tidak terjadi apa-apa dalam keluarganya. Ketika sang anggota eden itu datang ke rumah isterinya, tujuannya bukan melepas kasih sayangnya, tapi hanya ingin menegaskan pendiriannya tentang keyakinan barunya. Tidak merasa ada masalah yang harus dicari solusinya. Ia datang ketika derita sang isteri tak tertahankan. Satu-satunya cara menghadapi suami, sang isteri hanya dengan menutup pintu kamar rumahnya rapat-rapat. Karena hanya itulah “bahasa seorang wanita”. Si Eden itu datang di rumahnya yang Jakarta, (karena ia punya dua rumah), ternyata pintu rumah dalam keadaan digembok oleh ibu mertua. Kemudian ia mengambil gambar pintu yang tergembok, dan kemudian gambar itulah yang dijadikan alasan bahwa “isteri menolak untuk ditemui” dan sekaligus dijadikan alasan untuk mengelak dari tanggungjawab sebagai suami. Tanpa melihat, bahwa dalam keluarganya sedang menghadapi masalah berat dengan perubahan drastis yang dilakukannya. Betapa pedih seluruh isi rumah, dan melebar ke keluarga besar, karena ulah sang anggota baru Eden, yang telah disulap oleh doktrin tak berperikemanusiaan itu.
Kondisi demikian bukannya dicarikan solusi, tapi yang muncul melalui website komunitas eden, yang bersangkutan menegaskan bahwa, “saya sudah bersumpah dengan Tuhan untuk tetap di Eden”. Tetap tinggal di Eden maksudnya juga tinggal di rumah Jl Mahoni 30 Jakpus. Tidak akan pulang ke rumah orang tua maupun rumah keluarga di mana isteri dan anak-anaknya merindukan kasih sayangnya. Penegasan berikutnya, bahkan disebar melalui media sosial Eden, bahwa “seluruh gaji yang bersangkutan akan digunakan seluruhnyab untuk eden”. Sebagaimana juga pengalaman orang-orang yang sebelumnya, yang masuk Eden, meyakini bahwa “urusan Eden adalah urusan Tuhan, dan di luar itu bukan urusan Tuhan”. Begitulah keyakinan yang ditanamkan oleh eden ke mereka-mereka itu.
Naudzubillah, ini baru di tataran kemanusiaan, agama Eden sudah sedemikian garangnya. Maka kasus pemaksaan saya untuk mengambil seorang anggota yang masuk Eden, kalau itu dianggap kekerasan, bukan apa-apanya dibanding kekerasan cara eden yang telah membuat kepedihan sang isteri dan keluarganya.
Derita keluarga sebagai akibat dari anggotanya yang masuk Eden, telah dialami oleh banyak orang. Setiap ada anggotanya yang menghadapi masalah dalam keluarganya, gara-gara ia masuk Eden, selalu saja diultimatum “pilih kepentingan Tuhan atau kepentingan keluarga”. Dari ini juga mengapa Bpk. Sudiyono (alm) ayahanda Mbak Sudiarti, isteri Abdul Rachman, pernah mengadu ke saya kala itu, minta tolong atas kekesalan sebagai orang tua dan bahkan keputus asaan karena ditinggal anaknya untuk menetap di Eden. Sampai ketika ia menderita sakit sudah semakin parah, ia berwasiat, “kalau aku mati jangan ada anak-cucuku yang di Eden menyentuh mayat saya”. Saya tak hendak memperpanjang kisah-kisah keluarga seperti ini (maaf , aku benar-benar tidak kuat menahan tangis saya sambil menulis ini).
Kondisi yang sungguh memilukan demikian, di mata orang Eden, tampaknya justru dijadikan kebanggaan sebagai “keberhasilan dalam uji kesetiaan pada tuhannya”. Kekejaman Eden, dengan dalih memihak “kepentingan tuhan” seperti itu, menjadi tanda kemenangannya.
Sejumlah cendekiawan dan seniman besar, memang benar pernah mengampiri Eden. Juga saya sendiri, benar sebagaimana yang anda sebut-sebut, bahwa mereka semula tertarik untuk melihat ada “kebenarankah di sana”. Tapi apa yang terjadi. Diakui, bahwa ada pesan-pesan yang spektakuler di Eden, menyangkut keadaan umat manusia, dan cara bagaimana mengatasi. Kami berprasangka baik, waktu itu, dan siapa tahu pesan itu memang dari langit. Tapi semakin dekat ke Eden, semakin terlihat juga pesan-pesan yang berisi ramalan-ramalan kosong.
Apakah orang yang dibohongi itu gagal melihat kebenaran, ataukah kaum eden, sendiri yang justru gagal memperlihatkan bukti kebenarannya. Pandangan positif para cendekiawan dan seniman itu pun lambat laun luntur karenanya. Karena tidak mungkin wahyu Tuhan itu memberitakan kebohongan. Seperti janji tentang malaikat Jibril yang akan turun dalam ujud manusia di Kemayoran, Jibril mau menjilma menjadi manusia di tengah pengadilan Lia Eden di bulan Maret 2009 waktu itu.
Wajar sajalah kalau teman-teman yang sudah bertahun-tahun di Eden, berkeputusan chek out dari “surga eden” Mahoni. Seperti Satya, Suad, Zaitun, Aun, Aar, Simon, Fadly, Andito. Yang disebut terakhir ini tentu manusia suci karena menjadi penulis lembar-lembar Risalah Eden, namun justru semakin menjauhi. Kurang apa gagahnya mereka-mereka ketika menangkis tuduhan-tuduhan sesat dari luar, dan buku-buku tulisannya, yang mereka terbitkan telah cukup membahana membela paham Eden. Sampai pada anak-anak sang ruhul kudus, seperti Muqy Day, Mukti Day, dengan alasan masing-masing, yang kalau saya beberkan di sini, akan menghabiskan banyak halaman dan melelahkan. Belum lagi Kisah Bpk Aminuddin Day, yang awalnya oleh Ruhul Kudus diangkat sebagai ruhnya Nabi Adam, kini telah berbalik menuduh Lia itu ruhnya Iblis. Mereka-mereka yang kini menjauhi bukanlah manusia-manusia radikal dan sangar. Dan aku melihat sendiri bagaimana taqarubnya pak Aminuddin sekarang kepada Allah, setelah melewati penyesalan yang dalam karena telah mengikuti paham yang sesat. Belum lagi Aun, yang balik membenci sang ibundanya, karena banyak dikhianati ibunya sndiri, meski bergelar orang suci (ruhul kudus) tapi, Ibu kerjanya morotin uang sang anak. Menjadilah kini Lia sebagai sosok ibu yang tak lagi peduli pada nasib anak-anaknya. Bahkan status rumah Mahoni yang dideklar sebagai “surga” ternyata adalah tanah yang disengketakan dengan sang suami
eden boleh berkilah, bahwa mereka yang saya sebut itu adalah orang-orang yang gagal menjalani atau menuntaskan pensucian. Dan dari eden pula teberitakan, bahwa mereka yang telah melewai ujian ke ujian pensucian itu adalah yang memilih hidup di surga Tuhan. Kalau benar demikian, surga yang luasnya seluas bumi dan langit, itu milik siapa. Apakah terjatahkan hanya untuk orang-orang, tersebut yang sudah berhasil melewati uji kesucian, sebagaimana yang anda utarakan. Alangkah naifnya, kemahabesaran Allah yang telah menjanjikan surga seluas bumi dan langit.
dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, ( QS Ali Imran/3:133).

Para cendekiawan dan mereka-mereka yang kau sebut orang-orang yang gagal pensucian, itu bukanlah kalangan orang-orang penentang Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang selama ini membina ketauhidan yang nyata. Mereka berasal dari kalangan yang taat beribadah mendekatkan diri, merebahkan diri di hadapan Yang Maa Suci, mendidik putra-putrinya menjadi anak yang saleh, menjauhi kemusyrikan, kekufuran, dan sebagainya. Mereka adalah yang oleh Allah dijanjikan “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggalnya” (QS Al Kahfi/18: 107).
Telepas dari tingkat keberimanan dan kesalehan setiap diri manusia, dan memang tak ada manusia yang sempurna, dihadapan Ilahi Rabbi. Dosa-dosa yang masih banyak melekat dalam dirinya, dan oleh karena itu dalam setiap shalat selalu baca ucapan rabbighfirli….. warhamni. Orang-orang yang setia kepada Allah seperi ini, telah kau nistakan, atasnama kesucian dan atasnama tuhan.
Kau (Eden) mengajak meninggalkan shalat, padahal tidak ada kewahyuan baru yang menasakh (menghapus ) perintah Al Qur’an tentang shalat itu.
Kau tinggalkan ibadah berzakat, padahal kewahyuan sesudah Al Qur’an belum pernah menasakh perintah itu.
Kau tinggalkan ibadah puasa, padahal belum pernah ada pewahyuan pasca Al Qur’an itu yang menasakh ayat pewajiban puasa.
Kau tinggalkan perintah berbakti kepada orang tua, padahal belum pernah ada pewahyuan setelah Al Qur’an itu yang menghapus perintah tersebut.

(Kalau setiap perintah Tuhan yang ada di dalam Qur’an itu dan yang belum pernah ada pewahyuan yang menasakh, saya tulis di sini, akan membutuhkan berpulu-puluh halaman lagi.
Menjadi pertanyaan besar, kenapa Eden, paling suka menggunakan ayat Al Qur’an, untuk mendukung pahamnya yang sedang digulirkan. Tapi menafikan ayat-ayat suci yang memerintahkan untuk beribadah.
Menurut eden, ‘Islam’ dalam pengertian yang esensial-lah yang seharusnya menjadi pijakan kaum Muslimin saat ini. Itu tidak menjadi persoalan bagi saya. Tapi dari mana, alasan, ditemukan, bahwa dengan menghayati esensi Islam harus dengan menganulir sistem peribadatan. Terhadap para ahli ibadah, justru Anda tuduh, tidak mengetahui esensi beragama, tak beda dengan kaum radikal. Tak tahukah makna ayat berikut, dari Al Qur’an di S. Al Kahfi/18: 109 yang menyatakan:

Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.

Betapa terbatasnya manusia bisa menguasai ilmuNya, dan hanya dengan keterbatasan itu masing-manusia menjalani ibadah atau mengekspresikan kepasrahannya kepadaNya. Itulah maka manusia harus terus beajar dan belajar menimba ilmu yang Ilahi. Tapi Anda malah sok tahu, mengenai kualitas ibadah orang lain. Termasuk kepada saya, yang dianggap tidak tahu makna hakiki agama, menyombongkan diri kepada Tuhan dan menuduh saya, tidak kenal fitrah diri, itu terserah Anda. (Mudah-mudahan Allah selalu membimbing saya yang memang bodoh ini).
Saya dengan terpaksa meyakini bahwa Tuhan anda dan Tuhan saya berbeda, karena dari Anda sendiri yang merusak konsepi Ketuhanan itu. Maka saya tak ingin mengikuti kehendakmu kalau itu di-akukan berasal dari Tuhan yang saya yakini selama ini. Dengan doktrin Eden, ketika mengultimatum pengikutnya yang bermasalah di keluarganya, bahwa mereka yang tinggal di rumah eden, berarti “memilih kepentingan Tuhan dan pilihan di luar itu bukan kepentingan Tuhan”. Itulah doktrin yang ditanamkan kepada para pengikut Eden. Dari sanalah saya dapat pengetahuan, bahwa tuhan yang dimaksud Eden itu adalah: yang hanya mengurusi kepentingan eden, dengan beberapa umatnya yang tak seberapa itu; yang anda yakini telah pasti keberadaannya oleh mereka yang telah tersucikan di eden; yang suka menghukum orang-orang yang mengusik kepentingan eden, dan yang abadi dengan sifat-sifatNya.
Rangkuman saya itu mungkin saja tidak tepat, tetapi saya hanya menegaskan bahwa “tuhanmu dan Tuhanku memang berbeda”. Adapun Tuhan yang kuyakini Ada-nya adalah:
Yang mencipta alam semesta dengan segenap isinya
Yang berhak dicintai oleh umat yang senantiasa mensyukuri karuniaNya,
yang terbuka didekati hambanya dengan berdzikir memuji kebesaranNya,
yang disembah oleh siapa saja dan di manapun berada
yang akan mengadili perbuatan manusia sesuai amalnya, dan
yang akan membalasi surga bagi manusia atas amal kebajikannya

Eden yang merasa diri sebagai agama damai, menuduh-nuduh Islam yang kacau, dan berpecah-pecah dalam berbagai kelompok. Lihatlah ke dalam dirimu, apa yang kau jaminkan untuk menjaga kekompakanmu. Selama 19 tahun sejak kemunculanmu yang bernama Salamullah, semula berpengikut 80 an orang dan kini tinggal di bawah 30 an orang. Kau boleh bilang “ini hasil seleksi tuhan” atau apa, tapi itu sudah mengindikasikan bahwa, tidak ada jaminan terciptanya kesatuan dalam keberimanan cara Eden. Dengan jumlah yang sedikit, dan otoritas dipegang pada satu orang, memang sebenarnya paling gampang menjaga kekompakan. Tapi apa yang terjadi, adalah pemerosotan anggotanya sendiri. Apalagi kalau anda memandang jauh ke depan, dalam beberapa tahun mendatang, bicaralah bagaimana kalau Lia Eden sudah tidak ada.
Bicara tentang kepengikutan seorang Nabi, tidak bisa dilepaskan adanya kelompok pengikutnya, (yang minoritas) yang punya paham sendiri atau sendiri-sendiri. Diantaranya adalah orang-orang yang mengaku sebagai nabi, yang sekecil apapun pasti punya pengikut. Kemudian mereka membentuk komunitas, dan dengan kekuatan komunitasnya itulah, pada gilirannya akan terjadi pemaksaan kehendak, kepada penguasa atau kepada siapapun yang dianggap tidak taat pada aturannya. Eden juga yang punya pra-konsep tentang surga Eden. Bahwa rumah Jl. Mahoni 30 Jakarta itu adalah surga, dan dalam arti yang sebenarnya. Kemudian karena konsepnya itulah, maka isi surganya, termasuk orang-orang yang di dalamnya direkayasa biar seakan-akan benar adanya, seperti yang ditulis di Qur’an S. Maryam ayat 61-63.
Terlepas dari itu, kata anda “surga dan neraka adalah pilihan, dan Tuhan menyelamatkan mereka yang memilih bersuci di Surga, mengangkatnya ke bumi yang baru dan langit yang baru”. Artinya, orang yang tidak mau masuk eden, berarti memilih neraka atau tidak ingin masuk surga.
Baiklah kalau memang anda sekarang berpaham begitu, bahwa surga Eden adalah seluas planet yang sudah tersedia untuk pendaratan UFO. Telah tersedian kendaraan untuk mengantarkan kaum Eden ke sana. Meski surga itu seluas langit dan bumi, tapi berhubung yang Anda yakini masuk surga adalah orang-orang yang percaya saja sama Eden. Tuhanmu juga yang menyediakan surga hanya untuk orang-orang:
yang disucikan di situ di rumah Jl. Mahoni 30
Yang lebih memilih urusan di eden daripada harus berbakti kepada Orang tua.
Yang memandang bahwa kepentingan negara itu tidak penting,
Yang sibuk membina egoisme kelompok,
Yang hanya berurusan dengan esensi iman tanpa beribadah
yang mengabaikan kepedulian social dan kemanusiaan.

Bagi saya, surga itu tersedia untuk siapa saja, manusia yang beriman, yang beramal saleh, percaya hari akhir, sebagaimana yang Allah janjikan.

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata: “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu”. ( QS. al Baqarah/2; 25).

Dan orang-orang yang beriman dan mngerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Merekaa kekal di dalamnya. ( QS. al Baqarah/2: 82).

Ayat Al Qur’an itulah yang seharusnya menyatupadukan kita. Sebagai sama-sama orang beriman. Perbedaan diantara kita, sebenarnya hanya soal bagaimana cara beramal saleh dan cara mendekatkan diri kepada-Nya. Bahwa Tuhan menjanjikan surga itu adalah kepada siapa saja, hambanya yang mau berbuat kebajikan. Bukan hamba yang diberi persyaratan berliku-liku, yang memberatkan dirinya dan apalagi yang memberatkan keluarganya.
Dalam konteks seperti itulah, maka ada keprihatinan mendalam kami terhadap tindak kekerasan bahkan pembunuhan massal dengan mengatasnamakan agama. Seakan yang demikian itu menjadi jalan ke surga. Padahal itu adalah penyimpangan berat dalam pengamalan ajaran agama, yang hanif dan rahmatan lila’lamin. Bagaimanapun tidak ada tempat bagi saya, sebagai pengamat sekalipun, untuk mengambil kesempatan memojokkan agama, dan pembenaran penghapusan agama agama. Karena jumlah yang terbanyak dari penganut agama (Islam) di dunia ini, adalah mereka yang berperilaku baik, minimal tidak setuju jalan kekerasan.
Anda boleh saja tidak percaya, bahwa komunitas Eden adalah juga sekte agama, seperti dibilang pak Syafii, yang seindah apapun filosofi dan cita-citanya, pada saatnya berpotensi menimbulkan kekerasan. Ketika memiliki jumlah penganut besar. Katakanlah dalam hitungan ribu apalagi juta. Pastilah akan ada friksi-friksi yang ingin menonjolkan diri atau ingin berkuasa, dan sebagainya. yang pada akhirnya akan menganulir keberadaan orang-orang yang berbeda kepentingannya, kemudian menempuh berbagai cara untuk memenuhi ambisinya.

Wallahua’lam bissawab.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 235 pengikut lainnya