FUNGSI GARIS EDAR BUMI DAN MATAHARI

Istimewa

 

QS. Al-Anbiya (21) – Ayat 33

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.
Tafsir Kemenag

Dalam ayat ini Allah mengarahkan perhatian manusia kepada kekuasaan-Nya dalam menciptakan waktu malam dan siang, serta matahari yang bersinar di waktu siang, dan bulan bercahaya di waktu malam. Masing-masing beredar pada garis edarnya dalam ruang cakrawala yang amat luas yang hanya Allahlah yang mengetahui batas-batasnya. Adanya waktu siang dan malam disebabkan karena perputaran bumi pada sumbunya, di samping peredarannya mengelilingi matahari. Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami waktu siang, sedang bagiannya yang tidak mendapatkan sinar matahari tersebut mengalami waktu malam. Sedang cahaya bulan adalah sinar matahari yang dipantulkan bulan ke bumi. Di samping itu, bulan juga beredar mengelilingi bumi. Ayat ini menegaskan kembali apa yang telah Allah firmankan dalam Surah Ibrahim/14:33. Secara luas telah diketahui bahwa matahari dan bulan memiliki “garis edar”. Akan tetapi untuk “masing-masing dari keduanya (siang dan malam) beredar pada garis edarnya”, merupakan sesuatu yang baru dipahami. Mengapa siang dan malam harus beredar pada garis edar (orbit- manzilah), dan apa bentuk garis orbitnya ? Setelah dipelajari, ternyata bahwa yang dimaksud dengan “garis edar” ialah tempat kedudukan dari tempat-tempat di bumi yang mengalami pergantian siang ke malam, atau mengalami terbenamnya matahari (gurub). Sepanjang garis khatulistiwa garis ini bergeser dari Timur ke Barat seiring dengan urutan tempat-tempat terbenamnya matahari atau pergantian siang ke malam. Waktu terbenamnya matahari juga akan bergeser seiring dengan gerakan semu matahari terhadap bumi dari utara ke selatan dan sebaliknya. Pergeseran waktu magrib ini juga bergeser dan membentuk tempat kedudukannya sendiri yang dapat dikatakan sebagai garis edar tahunan dari pergantian siang ke malam. Pada hari-hari tertentu (pada awal bulan) saat terbenam matahari itu juga merupakan awal dari terlihatnya hilal (sabit awal bulan). Sabit ini sangat tipis dan suram sehingga sangat sulit diamati (ruyah). Waktu terbitnya hilal ini akan bergeser dari Timur ke Barat, dan sebagaimana halnya pergantian siang ke malam, garis edarnya juga berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lainnya di permukaan bumi. Bila dipetakan maka tempat kedudukan tempat-tempat waktu terbitnya hilal itu sama dengan waktu terbenamnya matahari itu akan membentuk spiral yang memotong permukaan bumi dua bahkan sampai tiga Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat di atas adalah untuk menjadi bukti-bukti alamiyah, di samping dalil-dalil yang rasional dan keterangan-keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu, tentang wujud dan kekuasaan Allah, untuk memperkuat apa yang telah disebutkan-Nya dalam firman-Nya yang terdahulu, bahwa “apabila” di langit dan di bumi ini ada tuhan-tuhan selain Allah niscaya rusak binasalah keduanya.

Iklan

Resonansi Tafsir: PASAL SENDA GURAU

Istimewa

Tag

Marzani Anwar

QS Muhammad /47: 36

ِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

 

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.:

Meskipun hidup ini “paribasan  mung mampir ngombe” (numpang minum), tapi ngombe-ne sering dilama-lamain, biar bisa sambil kongkow. Itulah manusia, memiliki kesukaan ngobrol sana-sini, bercanda , dan yang ” diombe” juga bermacem-macem, ada cocacola, kopi, susu kental manis, teh tubruk, dan sebagainya.

Dalam ayat tersebut, Allah bukannya melarang, tapi menyindir saja. Ada kata LA’IB di situ, yang menurut Quraisy Shihab adalah suatu perbuatan yang dilakukan bukan untuk suatu tujuan yang wajar, tidak membawa manfaat atau tidak untuk mencegah kemungkaran atau kemudharatan,  Kadang hanya untuk mehghabiskan waktu semata.  Sedangkan kata LAHW adalah suatu perbuatan yang menyebabkan kelengahan pelakunya, dan atau pekerjaan yang tidak memberi manfaat. ( lihat buku: Lajnah Tafsir Kemenag, Maqasidus Syariah hal. 169) . Kata LAHW yang masdarnya  LAHWAN sering di-Jawakan menjadi LELAHANAN, yang artinya, ngobrol sana sini, tidak ada ujungpangkalnya. di ayat yang lain, kata Lahw  berati ” perkataan yang tidak berguna” ( lihat QS. Luqman /31:6)

Ayat yang sepadan dengan itu ada di QS. Al. Ankabut/29: 64, al Hadid/57: 20, yang menyebutkan bahwa semua kesenangan di dunia itu hanya MENIPU.

Pada sisi lain, Quraisy Shihab dengan mengutip pendapat mufassir  Tabatabai’yi , bahwa  kata “permainan” dalam ayat tersebut merupakan gambaran dari awal perkembangan manusia hingga mencapai kedewasaannya. Kata ALA’IB merupakan gambaran keadaan bayi, yang merasakan enaknya perbuatan bermain walau ia sendiri tidak tahu  tujuan apa apa kecuali bermain dan bermain. Disusul kemudian dengan AL-LAHW,. yakni ksesukaan. berceloteh, yang juga dilakukan oleh anak anak. Artinya bahwa, kesukaan bersenang senang yang tak jelas tujuannya itu sebenarnya, dunianya anak-anak. Makanya kalau orang dewasa  kok masih suka bermaln-main,  dibilang  “aya cah cilik/ seperti anak kacil”.

Masih. tentang pendapat  Tabataiy tadi, bahwa kesukaan bagi orang dewasa disebut sebagai   AZ- ZINAH yang artinya perhiasan. Itulah kesenangan kalangan  para pemuda dan remaja. (Azzina di sini jangan diartikan berzina). Karena perbuatan mereka suka berhias dan bergaya. menyusul kemudian perbuatan TAFAKHUR , yang artinya berbangga. Berikutnya adalah “takassur bil amwal wal aulad” , yaitu suka memperbanyak harta dan anak. Pelakunya jelas orang dewasa. Sekali lagi, Allah bukannya melarang kalian menjadi orang kaya, berbangga dengan kekayaannya, dan berbangga dengan anak anaknya. Tapi diingatkan di ayat 36 S. Muhammad tersebut, bahwa kesenangan di dunia ini adalah kesenangan yang PALSU.  Kenapa palsu, karena kesenangan dalam kegiatan seperti itu , pasti ada keberakhiran, atau kebosanan. Main gaple, ndengerin lagu, nonton fiilm,  jajan sate, makan pizza hut, minum racun eh w’dank ronde, dan apa saja,  pasti ada tingkat kebosanannya. Bahkan bagi yang usianya di atas 55 tahunan, disediakan roti enak-enak kayak brownis, oleh para  anak, cucu atau temen,  malah jawabe ” wis do panganen kono,  aku iki wae singkong goreng” ( saya cukup singkong gorengnya saja).

Di S. al A’nkabut/29: 64. Allah memaklumkan  pula atas kesenangan manusia itu, tapi harus ingat, bahwa  hidup yang sebenar-benarnya adalah DI AKHERAT kelak.

MENEMUI TUHAN DI AKHIR MALAM

QS. Al-Furqan/ 25:64

وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا

Tafsir Ringkas

Salah satu ciri ‘ibàdurahman  adalah senantiasa shalat malam, dan menghabiskan sebagian waktu malam nya terutama di sepertiga malam terakhir. Beribadah mendekatkan Diri kepada Tuhan. Merapat kepada-Nya, meresapi kemahaperkasaan-Nya, dan mengakui kemahabesaran-Nya.
Beribadah pada saat itu betul-betul mencerminkan keikhlasan, hati lebih khusyuk, lebih konsentrasi untuk Sang Khalik.

Ketika malam berselimut sunyi sepi, manusia lelap dibuai oleh tidur nyenyaknya, mereka mengerjakan salat Tahajud dan menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Setelah menikmati nikmat dan kenyamanan tidur, ia teruskan dengan sepenuh jiwa dan raga memasrahkan diri, bermunajat menyonsong kehendak-Nya. Melakukan shalat malam, Tahajud seperti yang dilakukan Rasulullah karena shalat di malam hari itu jiwanya menjadi suci dan bersih. Imannya bertambah, keyakinan menjadi mantap karena tiada Tuhan selain Dia, rahmat dan kasih sayang-Nya Maha Luas memuat semua penemuan-Nya.Di sanalah ia memohon dan berdoa dengan penuh khusyuk dan tawadhuk agar diampuni dosa dan dilimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya. Setelah melakukan shalat malam itu, barulah ia tidur dengan perasaan bahagia penuh tawakal dan takwa. Ibnu ‘Abbas berkata, “Barang siapa yang shalat dua rakaat atau lebih dari shalat Isya berarti dia telah shalat sepanjang malam.” Dalam ayat lain, Allah menjelaskan pula sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengerjakan salat malam ini: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut.

Allah berfirman-“Apakah (kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? (az-Zumar / 39: 9). Dan firman-Nya: “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (adz-Dzariyat / 51: 17 “18).

BERATNYA MENGHADAPI PENGUASA ZALIM

Allah SWT berfirman:.

قَا لَ رَبِّ اِنِّيْۤ اَخَا فُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ ۗ

“Dia (Musa) berkata, Ya Tuhanku, sungguh, aku takut mereka akan mendustakan aku,”
(QS. Asy-Syu’ara’/26: 12)

Tafsir Ringkas

Ayat ini menerangkan, tatkala Musa mendapat perintah Allah di awal kenabiannya. Ia mendapat perintah untuk menyampaikan risalah Tauhidnya kepada Fir’aun. Sang raja yang demikian kuat kedudukannya dan sangat perkasa. Sedangkan Musa hanya bagian dari rakyat biasa.
Musa merasa kecil diri, tidak tahu bagaimana cara menyampaikan pesan Tuhannya. Sebagai seorang utusan Allah, dia harus melaksanakan perintah-Nya. Karena merupakan tugasnya sebagai rasul. Di sisi lain, Musa menyaksikan bagaimana kaum Fir’aun itu telah disesatkan dari jalan yang benar dan Musa juga tahu bagaimana rakyat telah lama merasakan terjadinya penindasan dan kekasaran sang raja.
Musa menyadari betul bahwa betapa ia seorang yang lemah dan tak berdaya. Musa merasa sangat khawatir jika kaum Fir’aun itu menuduhnya sebagai pembohong dan pendusta. Selain itu, jika terjadi dengan penentangan oleh Fir’aun dan kaumnya, akan berat akibatanya. Musa yang tidak begitu fasih lidahnya akan menjadi gugup dalam memberikan alasan yang tepat dan kuat di hadapan raja, sehingga menjadi rumitlah persoalannya. Musa mengadukan semua masalah ini kepada Allah dan memohon dengan doanya:

َ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ
وَيَسِّرْ لِيْۤ اَمْرِيْ ۙ
وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَا نِیْ
يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

” Mudahkanlah untukku urusanku,
Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku,
dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,”
agar mereka mengerti perkataanku,”
(QS. Ta Ha/20: 25-28)

Demikian pula dalam firman-Nya yang lain, nabi Musa memohon agar saudaranya, Harun, diangkat sebagai pendamping dalam perjuangan dakwahnya. Karena Harun dianggap dia lebih fasih dalam menutur-katakan isi hatinya. Maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku. “(al-Qasas / 28: 34).

Dalam pandangan nabi Musa a.s., seandainya Harun menjadi pendampingnya, dan dia mati terbunuh, maka saudaranya itu bisa meneruskan risalahnya.

Wallahua’lam bissawab.

KETIKA SUMBER AIR MENGERING

Allah SWT berfirman:

قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَصْبَحَ مَآ ؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَآءٍ مَّعِيْنٍ

“Katakanlah (Muhammad), Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?”
(QS. Al-Mulk/67: 30).

Tafsir Ringkas

Siapa bisa bertahan hidup tanpa air, di muka bumi ini. Air sekali lagi air, hampir semua makhluk hidup, terutama manusia, memerlukannya. Untuk keperluan makan minum, membersihkan badan, menyirami tanaman sampai menggerakan mesin pembangkit listrik. Fungsi air menjadi teramat penting.
Maka Allah selalu mengingatkan kepada manusia agar menerima aneka nikmat dari-Nya, terutama dengan ketersediaan air. Dari sanalah sumber kehidupan itu ditumbuhkan dan kembangkan. Allah menunjukkan:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ

“…..Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?”
(QS. Al-Anbiya/21: 30)

Ayat ini ditujukan kepada kaum yang masih juga membangkang, tidak mau mengakui kebesaran Allah dan apalagi mensyukurinya. Maka Allah menantang: “ Terangkanlah kepadaKu jika sumber air menjadi kering. lalu siapa yang akan memberimu air mengalir? ” Pasti tidak ada selain Allah, Tuhan Pemelihara seluruh alam. Maka sudah sewajarnya agar manusia mengakui kemahabesar dan mahakasih-Nya. Karunia air itu diperuntukkan hanya kepada makhluknya yang hidup di muka bumi.

Dalam ayat di atas, Allah menerangkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya, dengan memberikan cobaan sementara berupa kekeringan atau kesulitan air.

Apa yang terpikir olehmu, jika karunia Allah itu MENGHENTIKAN SEMENTARA. Seandainya hujan yang dinanti-nantu belum juga turun, sumber-sumber air dan sumurmu menjadi kering, timba-timbamu dan mesin penyedot air tidak dapat menaikkan air dari tanah. “Adakah Tuhan selain Allah yang dapat mendatangkan sumber air itu, dapatkah kamu minum, kebun-kebunmu menjadi hijau kembali, kebunmu bisa subur dan hewan-hewan ternakmu dapat berkembang biak? Tidak ada lagi yang bisa mendatangkan air itu Kecuali Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang.

Untuk menjukkan kemurahan dalam pengadaan air, Allah tunjukkan melalui ayat berikut:
“…… dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya. Dan ada pula yang turun jatuh (sebagai hujan) karena ketaatan kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Baqarah/2: 74).

DASYATNYA CAHAYA ALLAH

 

QS An-Nur/24: 35

Allah SWT berfirman:

اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَرْضِ ۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌ ۗ الْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍ ۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَ نَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍ ۙ يَّـكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍ ۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَا لَ لِلنَّاسِ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ۙ

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nur/24: 35)

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.

Tafsir Ringkas Kemenag

Allah adalah pemberi cahaya, karenanya Dia menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi cahaya bagi kehidupan manusia. Allah adalah pemberi cahaya pada langit dan bumi, baik cahaya material yang kasat mata maupun cahaya immaterial seperti keimanan, pengetahuan, dan lainnya. Perumpamaan kecerlangan cahaya-Nya yang menerangi hati orang-orang mukmin seperti sebuah lubang yang tidak tembus sehingga tidak diterpa angin yang dapat memadamkan cahaya, dan membantu mengumpulkan cahaya lalu memantulkannya; yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun, yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, sehingga pohon itu selalu mendapat sinar matahari sepanjang hari. Kejernihan minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, berlapis-lapis; pelita adalah cahaya, demikian pula kaca dan minyak yang begitu jernih, sehingga sempurnalah sinarnya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, yaitu siapa saja yang mengikuti petunjuk Al-Qur’an, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka mudah memahami kandungannya dan mengambil pela-jaran darinya hingga akhirnya mau beriman. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu; tidak ada sedikit pun yang tersembunyi dari-Nya.

Ayat ini menerangkan bahwa Allah adalah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi dan semua yang ada pada keduanya. Dengan cahaya itu segala sesuatu berjalan dengan tertib dan teratur, tak ada yang menyimpang dari jalan yang telah ditentukan baginya, ibarat orang yang berjalan di tengah malam yang gelap gulita dan di tangannya ada sebuah lampu yang terang benderang yang menerangi apa yang ada di sekitarnya. Tentu dia akan aman dalam perjalanannya tidak akan tersesat atau terperosok ke jurang yang dalam, walau bagaimana pun banyak liku-liku yang dilaluinya. Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai lampu, tentu akan banyak menemui kesulitan. Meraba-raba kesana kemari berjalan tertegun-tegun karena tidak tahu arah, maka pastilah orang ini akan tersesat atau mendapat kecelakaan karena tidak melihat alam sekitarnya. Amat besarlah faedahnya cahaya yang diberikan Allah kepada alam semesta ini. Cahaya yang dikaruniakan Allah itu bukan sembarang cahaya. Ia adalah cahaya yang istimewa yang tidak ada bandingannya, karena cahaya itu bukan saja menerangi alam lahiriah, tetapi menerangi batiniah. Allah memberikan perumpamaan bagi cahaya-Nya dengan sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan oleh manusia pada waktu diturunkannya ayat ini, yaitu dengan cahaya lampu yang dianggap pada masa itu merupakan cahaya yang paling cemerlang. Mungkin bagi kita sekarang ini cahaya lampu itu kurang artinya bila dibandingkan dengan cahaya lampu listrik seribu watt apalagi cahaya yang dapat menembus lapisan-lapisan yang ada di depannya. Sebenarnya cahaya yang menjadi sumber kekuatan bagi alam semesta tidak dapat diserupakan dengan cahaya apa pun yang dapat ditemukan manusia seperti cahaya laser umpamanya. Allah memberikan perumpamaan bagi cahaya-Nya dengan cahaya sebuah lampu yang terletak pada suatu tempat di dinding rumah yang sengaja dibuat untuk meletakkan lampu sehingga cahayanya amat terang sekali, berlainan dengan lampu yang diletakkan di tengah rumah, maka cahayanya akan berkurang karena luasnya ruangan yang menyerap cahayanya. Sumbu lampu itu berada dalam kaca yang bersih dan jernih. Kaca itu sendiri sudah cemerlang seperti kristal. Minyaknya diperas dari buah zaitun yang ditanam di atas bukit, selalu disinari cahaya matahari pagi dan petang. Maka pada ayat ini diibaratkan dengan tumbuh-tumbuhan yang tidak tumbuh di timur dan tidak pula di barat, karena kalau pohon itu tumbuh di sebelah timur, mungkin pada sorenya tidak ditimpa cahaya matahari lagi, demikian pula sebaliknya. Minyak lampu itu sendiri karena jernihnya dan baik mutunya hampir-hampir bercahaya, walaupun belum disentuh api, apalagi kalau sudah menyala tentulah cahaya yang ditimbulkannya akan berlipat ganda. Di samping cahaya lampu itu sendiri yang amat cemerlang, cahaya itu juga dipantulkan oleh tempat letaknya, maka cahaya yang dipantulkan lampu itu menjadi berlipat ganda. Demikianlah perumpamaan bagi cahaya Allah meskipun amat jauh perbedaan antara cahaya Allah dan cahaya yang dijadikan perumpamaan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mendapat cahaya itu sehingga dia selalu menempuh jalan yang lurus yang menyampaikannya kepada cita-citanya yang baik dan selalu bertindak bijaksana dalam menghadapi berbagai macam persoalan dalam hidupnya. Berbahagialah orang yang mendapat pancaran Nur Ilahi itu, karena dia telah mempunyai pedoman yang tepat yang tidak akan membawanya kepada hal-hal yang tidak benar dan menyesatkan. Untuk memperoleh Nur Ilahi itu seseorang harus benar-benar beriman dan taat kepada perintah Allah serta menjauhi segala perbuatan maksiat. Imam Syafi`i pernah bertanya kepada gurunya yang bernama Waki’ tentang hafalannya yang tidak pernah mantap dan cepat lupa, maka gurunya itu menasehatinya supaya ia menjauhi segala perbuatan maksiat, karena ilmu itu adalah Nur Ilahi, dan Nur Ilahi itu tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat. Seperti dalam syair di bawah ini: Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, Lalu ia menasihatiku agar meninggalkan kemaksiatan. Ia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya, Dan Cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat. Yahya bin Salam pernah berkata, “Hati seorang mukmin dapat mengetahui mana yang benar sebelum diterangkan kepadanya, karena hatinya itu selalu sesuai dengan kebenaran.” Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah saw. Berhati-hatilah terhadap firasat orang mukmin, karena ia melihat dengan Nur Allah. (Riwayat al-Bukhari dalam kitab at-Tarikh al-Kabir dari Abu Sa’id al-Khudri) Tentu saja yang dimaksud dengan orang mukmin di sini ialah orang-orang yang benar beriman dan bertakwa kepada Allah dengan sepenuhnya. Ibnu `Abbas berkata tentang ayat ini, “Inilah contoh bagi Nur Allah dan petunjuk-Nya yang berada dalam hati orang mukmin. Jika minyak lampu dapat bercahaya sendiri sebelum disentuh api, dan bila disentuh oleh api bertambah cemerlang cahayanya, maka seperti itu pula hati orang mukmin, dia selalu mendapat petunjuk dalam tindakannya sebelum dia diberi ilmu. Apabila dia diberi ilmu, akan bertambahlah keyakinannya, dan bertambah pula cahaya dalam hatinya. Demikianlah Allah memberikan perumpamaan kepada manusia tentang Nur-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

MAUNYA SERBA INSTAN

QS. Al-Anbiya/21:37

خُلِقَ الْاِنْسَا نُ مِنْ عَجَلٍ ۗ سَاُورِيْكُمْ اٰيٰتِيْ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْنِ

“Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya.”

Sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka
suka terburu-buru, lekas marah, mudah terperdaya oleh godaan nafsu duniawi. Kalau menghadapi persoalan, ingin segera teratasi, ingin segera ada solusi.
Demikian juga dalam berdoa pada Tuhan, ingin yang serba cepat dipenuhi. Sesuatu yang didoakan kadang bersifat temporal, kekinian dan keduniawian. Misalnya: minta lulus ujian sekolah; dimudahkan rezki; segera mendapat pekerjaan; segera memperoleh jodoh; segera angkat penyakitnya, segera naik pangkat, jabatan, dst. Tidak ada yang salah memang, berdoa meminta ini dan itu. Namanya juga hamba punya keinginan.
Tapi Allah Maha Berkuasa untuk menentukan kapan waktunya untuk memenuhi permintaan itu.  karena nengukurnya serba “kekinian”,  kadang Pemberian itu sesuatu yang tidak disukai oleh hamba yang bersangkutan, padahal itu merupakan hal yang baik baginya. Sebaliknya kadang Tuhan Memberikan sesuatu yang disukai atau ditunggu-tunggu, padahal hal itu justru berakibat tidak baik baginya.
“……boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah/2:  216)

Maka dalam setiap doa, sempurnakan doa itu dengan  baca ” Rabbana atina fi-addunya khasanah wafi al-akhirati al khasanah waqiina a’dzab an nar”  maksudnya, apapun yang karuniakan atau yang ditakdirkan oleh Allah, harapan kita adalah sesuatu yang baik dan membaikkan kita, untuk hidup di dunia maupun untuk hidup di akherat. Doa itu disertai dengan tawakkal kepada Allah, berserah diri kepadaNya. InshaAllah apapun yang Allah berikan kepada kita, akan membaikkan kita.
Wallahua’alam bissawab.

HAMBA YANG SALEH PEWARIS BUMI

Allah SWT berfirman:

وَلَـقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ

“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”
(QS. Al-Anbiya/21: 105)
Tafsir Ringkas

Pada ayat ini Allah menerangkan ketetapan-Nya tentang orang-orang yang mewarisi bumi. Dan sungguh, Allah telah tuliskan Ketetapan itu sebagaimana telah tertulis dalam Kitab Zabur , yang diturunkan kepada Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, setelah ditulis juga di dalam Az-Zikr, yaitu Lauh Mahfuz . Bahwa bumi ini milik-Allah dan diwarisi kepada hamba-hamba-Nya yang saleh , yaitu yang sanggup mengelola bumi dan memakmurkannya, yang tidak berbuat kerusakan terhadap bumi; yang mau mengambil manfaat dari kekayaan alamnya. Mereka yang sanggup mengumpulkan kekuatan dan menempuh segala daya upaya untuk menggali dan mengolah semberdaya di dalamnya guna  memakmurkan masyarakat. Sebagai pewaris  adalah juga menjaga kelesatarian bumi itu sendiri.
Semua itu dilakukan semata-mata karena mengikuti Petunjuk Allah.
Alangkah mulianya manusia yang saleh itu di tengah-tengah makhluk Tuhan yang lain.

AIR SUMBER KEHIDUPAN

Allah SWT berfirman:

وَا للّٰهُ خَلَقَ كُلَّ دَآ بَّةٍ مِّنْ مَّآءٍ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى بَطْنِهٖ ۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰۤى اَرْبَعٍ ۗ يَخْلُقُ اللّٰهُ مَا يَشَآءُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. An-Nur/24: 45)

Tafsir Kemenag

Pada ayat ini Allah mengarahkan perhatian manusia supaya memperhatikan hewan-hewan yang bermacam-macam jenis dan bentuknya. Dia telah menciptakan semua jenis hewan itu dari air. Ternyata memang air itulah yang menjadi pokok kehidupan hewan karena sebagian besar dari unsur-unsur yang terkandung dalam tubuhnya adalah air. Hewan tidak dapat bertahan hidup tanpa air. Di antara binatang-binatang itu ada yang melata, bergerak dan berjalan dengan perutnya seperti ular. Di antaranya ada yang berjalan dengan dua kaki dan ada pula yang berjalan dengan empat kaki, bahkan kita lihat pula di antara binatang-binatang itu yang banyak kakinya, tetapi tidak disebutkan dalam ayat ini karena Allah menerangkan bahwa Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya bukan saja binatang-binatang yang berkaki banyak tetapi mencakup semua binatang dengan berbagai macam bentuk. Masing-masing binatang itu diberinya naluri, anggota tubuh, dan alat-alat pertahanan agar ia dapat menjaga kelestarian hidupnya. Ahli-ahli ilmu hewan merasa kagum memperhatikan susunan anggota tubuh masing-masing hewan itu sehingga ia dapat bertahan atau menghindarkan diri dari musuhnya yang hendak membinasakannya. Hal itu semua menunjukkan kekuasaan Allah, ketelitian dan kekukuhan ciptaan-Nya. Manusia bagaimana pun tinggi ilmu dan teknologinya tidak dapat menciptakan sesuatu seperti ciptaan Allah, sebagaimana disebut dalam firman-Nya: (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (an- Naml/27: 88) Menurut ilmu sains dan teknologi, kaitan antara air dan kehidupan dapat diketahui di bawah ini: 1.Air ditengarai sangat dekat dengan makhluk hidup, karena, khususnya untuk kebanyakan hewan, berasal dari cairan sperma. Diindikasikan bahwa keanekaragaman binatang “datangnya” dari air tertentu yang khusus (sperma) dan menghasilkan yang sesuai dengan ciri masing-masing binatang yang dicontohkan dalam ayat tersebut. 2.Pengertian kedua mengenai air sebagai asal muasal kehidupan, diduga karena air merupakan bagian yang penting agar makhluk dapat hidup. Pada kenyataannya, memang sebagian besar bagian tubuh makhluk hidup terdiri atas air. Misal saja pada manusia, 70% bagian berat tubuhnya terdiri dari air. Manusia tidak dapat bertahan lama apabila 20% saja dari persediaan air yang ada di tubuhnya hilang. Akan tetapi, manusia masih dapat bertahan hidup selama 60 hari tanpa makan. Sedangkan mereka akan mati dalam waktu 3-10 hari tanpa minum. Juga diketahui bahwa air merupakan bahan pokok dalam pembentukan darah, cairan limpa, kencing, air mata, cairan susu dan semua organ lain yang ada di dalam tubuh manusia. Bahwa semua kehidupan dimulai dari air. Air di sini lebih tepat bila diartikan sebagai laut. Teori modern tentang asal mula kehidupan belum secara mantap disetujui sampai sekitar dua atau tiga abad yang lalu. Sebelum itu, teori yang mengemuka adalah suatu konsep yang dikenal dengan nama “spontaneous generation”. Dalam konsep ini dipercaya bahwa makhluk hidup itu ada dengan sendirinya dan muncul dari ketiadaan. Teori ini kemudian ditentang oleh beberapa ahli di sekitar tahun 1850-an, antara lain oleh Louis Pasteur. Dimulai dengan penelitian yang dilakukan oleh Huxley, dan sampai penelitian masa kini, teori lain ditawarkan sebagai alternatif. Teori ini percaya bahwa kehidupan muncul dari rantai reaksi kimia yang panjang dan komplek. Rantai kimia ini dipercaya dimulai dari kedalaman lautan. Dugaan bahwa di lautlah mulainya kehidupan disebabkan karena kondisi atmosfer pada saat itu belum berkembang menjadi kawasan yang dapat dihuni makhluk hidup. Radiasi ultraviolet yang terlalu kuat akan mematikan setiap makhluk hidup yang ada di daratan. Diperkirakan, kehidupan baru bergerak menuju daratan pada 425 juta tahun yang lalu, saat lapisan ozon mulai terbentuk dan melindungi permukaan bumi dari radiasi ultraviolet. Protoplasma adalah dasar dari semua makhluk untuk dapat hidup. Sedangkan kerja dari protoplasma dalam menunjang kehidupan sangat bergantung pada kehadiran air. Kembali air menjadi segalanya. Dari uraian ini peran air bagi kehidupan sangat jelas, dari mulai adanya makhluk hidup di bumi (berasal dari kedalaman laut), bagi kelangsungan hidupnya (air diperlukan untuk pembentukan organ dan menjalankan fungsi organ) dan memulai kehidupan (terutama bagi kelompok hewan “ air tertentu yang khusus “ sperma). Di luar protoplasma, yang menjadi dasar terjadinya kehidupan, sebagian besar bagian tubuh mengandung air. Indikasi ini menyatakan bahwa walaupun hidup di daratan, semuanya masih berhubungan dengan tempat dimulainya kehidupan, yaitu lautan. Pada binatang bertulang belakang (binatang menyusui, burung, dan lain-lain), terlihat kaitannya dengan laut pada beberapa tahap perkembangan janin (embriologi). Beberapa organ sebagaimana dimiliki oleh ikan dimiliki oleh mereka. Uraian di atas tampaknya menyetujui teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Akan tetapi, perlu diberikan catatan di sini, bahwa Al-Qur’an tidak memberikan peluang khusus untuk mendukung teori evolusi. Walaupun semua ayat di atas memberikan indikasi yang tidak meragukan bahwa Allah menciptakan semua makhluk hidup dari air, masih banyak ayat lainnya yang menekankan akan Kekuasaan-Nya terhadap semua yang ada di alam semesta, seperti, antara lain, dua penggalan ayat 47 Surah Ali ‘Imran/3 (” …….. Ia hanya berkata “jadilah” maka …..” ) dan Surah Fussilat/41:39.

HAMBA YANG SALEH PEWARIS BUMI

Allah SWT berfirman:

وَلَـقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ

“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”
(QS. Al-Anbiya/21: 105)
Tafsir Ringkas

Pada ayat ini Allah menerangkan ketetapan-Nya tentang orang-orang yang mewarisi bumi. Dan sungguh, Allah telah tuliskan Ketetapan itu sebagaimana telah tertulis dalam Kitab Zabur , yang diturunkan kepada Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, setelah ditulis juga di dalam Az-Zikr, yaitu Lauh Mahfuz . Bahwa bumi ini milik-Allah dan diwarisi kepada hamba-hamba-Nya yang saleh , yaitu yang sanggup mengelola bumi dan memakmurkannya, yang tidak berbuat kerusakan terhadap bumi; yang mau mengambil manfaat dari kekayaan alamnya. Mereka yang sanggup mengumpulkan kekuatan dan menempuh segala daya upaya untuk menggali dan mengolah semberdaya di dalamnya guna  memakmurkan masyarakat. Sebagai pewaris  adalah juga menjaga kelesatarian bumi itu sendiri.
Semua itu dilakukan semata-mata karena mengikuti Petunjuk Allah.
Alangkah mulianya manusia yang saleh itu di tengah-tengah makhluk Tuhan yang lain.

STRUKTUR SEMESTA PELINDUNG CIPTAAN-NYA

 

QS. al Ambiya/21: 32

Allah SWT berfirman:

وَجَعَلْنَا السَّمَآءَ سَقْفًا مَّحْفُوْظًا ۚ وَهُمْ عَنْ اٰيٰتِهَا مُعْرِضُوْنَ

“Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan, dan lain-lain).”

Tafsir Kemenag

Pada ayat ini Allah mengarahkan perhatian manusia pada benda-benda langit, yang diciptakan-Nya dimengerti rupa masing-masing berjalan dan diperlengkapi, tanpa jatuh berguguran atau bertabrakan satu sama lain.Semua itu dipelihara dengan kekuatan yang disebut “daya tarik menarik” antara benda-benda langit itu, termasuk matahari dan bumi. Ini juga merupakan bukti yang nyata tentang wujud dan kekuasaan Allah. Akan tetapi banyak orang yang tidak memperhatikan bukti-bukti tersebut. Ketika kita naik pesawat terbang di atas ketinggian 10.000 mil, kita melihat awan di bawah kita, hujan yang turun pun di bawah kita, Jadi tampak jelas bumi ini membangun langit yang sangat kuat dan atmosfir bumi serta zat oksigen yang dibutuhkan manusia dan berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan hewan tetap terpelihara memelihara oleh langit yang sangat kuat memperbaiki itu. Menurut para saintis, ayat ini menunjukkan bahwa langit adalah atap yang terpelihara. Layaknya sebuah atap, adala melindungi segala sesuatu yang ada di bawahnya, termasuk manusia. Berbeda dengan bulan, karena ia tidak memiliki pelindung, maka kita mendapatkan permukaan bulan sangat tidak rata, rumit dengan kawah-kawah akibat tumbukan dengan meteor. Atmosfer bumi menghancurkan semua meteor yang melepaskan bumi dan memfilter sinar yang berbahaya, yang dikeluarkan dari ledakan energi fusi di matahari. Atmosfer hanya diperbolehkan masuk sinar, gelombang radio yang tidak berbahaya. Sinar ultra violet misalnya. Sinar ini hanya dibiarkan masuk dalam kandungan tertentu yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk melakukan fotosintesa, dan pada saat dibutuhkan memberikan manfaat bagi manusia. Dalam lapisan atmosfer, terdapat pelindung yang disebut “Sabuk radiasi Van Allen” yang melindungi bumi dari benda-benda langit yang menuju bumi.Demikianlah, langit telah menguatkan atap pelindung untuk mahluk di muka bumi. Atap langit ini akan terus terpelihara selama bumi ini ada, karena lapisan-lapisan pelindung ini terkait dengan struktur inti bumi. Sabuk Van Allen dihasilkan dari interaksi medan magnet yang dihasilkan oleh inti bumi. Inti bumi banyak mengandung logam-logam, seperti besi dan nikel. Nukleusnya sendiri terdiri dari dua bagian, inti lengkap dan inti luarnya padat.Kedua lapisan ini masing-masing berputar seiring dengan rotasi bumi. Perputaran ini menimbulkan efek magnetik pada logam-logam pada struktur yang membentuk magnetik.Sabuk Van Allen merupakan perpanjangan dari medan magnet yang terbentang hingga lapisan atmosfer terluar. Betapa ilmu dan perlindungan Allah yang selalu melindungi mahluk ciptaan-Nya. Mengapa teori alam semesta ini tidak dipercayai sebagai Karunia Ilahi oleh banyak manusia, sehingga mereka masih berpaling dari kebenaran dan kekuasaan Allah, padahal begitu jelas tanda-tanda kekuasaan Allah di alam ini.Betapa ilmu dan perlindungan Allah yang selalu melindungi mahluk ciptaan-Nya. Mengapa hal-hal demikian tidak dijadikan pijakan berpikir oleh banyak manusia, sehingga mereka masih berpaling dari kebenaran dan kekuasaan Allah, padahal begitu jelas tanda-tanda kekuasaan Allah di alam ini.Betapa ilmu dan perlindungan Allah yang selalu melindungi mahluk ciptaan-Nya. Mengapa hal-hal demikian masih diragukan oleh mereka. Mereka berpaling dari kebenaran dan kekuasaan Allah, padahal begitu jelas tanda-tanda kekuasaan Allah di alam ini.

DI BAWAH LAUT ADA API

QS. at-Tur/52:6:

وَا لْبَحْرِ الْمَسْجُوْرِ ۙ
“dan laut yang di dalam tanahnya ada api,”
(QS. At-Tur/52: 6)

Tafsir Kemenag

Dalam ayat ini Allah bersumpah, Demi al-Bahrul-Masjur (laut yang di mana ada api) yaitu laut yang tertahan dari banjir karena jika laut yang dilepaskan, ia akan menenggelamkan semua yang ada di bumi dan hewan-tumbuh segala tanaman akan habis musnah. Maka rusaklah alam dan dibuatlah hikmah alam ini dibuat.Sebagian besar terbuat dari kulit semangka, dan kulitnya seperti kulit semangka, itu yang dimaksud dengan kulit bumi dan api yang ada di kulitnya seperti kulit semangka dengan isinya, yang ditambahkan itu. Karena sekarang kita berada di atas api yang besar, yaitu di atas laut yang di bawahnya penuh dengan api dan laut itu tertutup dengan kulit bumi dari segala penjurunya. Dari waktu ke waktu api itu naik ke atas laut yang tampak pada waktu gempa dan pada saat gunung berapi meletus; seperti gunung berapi Visofius yang meletus di Italia pada tahun 1909 M yang telah diambil kota Mozaina, dan gempa ini yang telah terjadi di Jepang pada tahun 1952 M yang memusnahkan kota-kotanya sekaligus. Menurut Jumhur yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah laut bumi. Akan tetapi berbeda pendapat dalam kata “masjur” di antara pendapatnya adalah berarti: dinyalakan api di hari Kiamat seperti dalam Al-Qur’an: Dan mengizinkan lautan digunakan meluap. (al-Infithar / 82: 3) Firman-Nya yang lain: Dan peningkatan lautan dipanaskan.(at-Takwir / 81: 6) dan gempa ini telah terjadi di Jepang pada tahun 1952 M yang memusnahkan kota-kotanya sekaligus. Menurut Jumhur yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah laut bumi. Akan tetapi berbeda pendapat dalam kata “masjur” di antara pendapatnya adalah berarti: dinyalakan api di hari Kiamat seperti dalam Al-Qur’an: Dan mengizinkan lautan digunakan meluap. (al-Infithar / 82: 3) Firman-Nya yang lain: Dan peningkatan lautan dipanaskan.(at-Takwir / 81: 6) dan gempa ini telah terjadi di Jepang pada tahun 1952 M yang memusnahkan kota-kotanya sekaligus. Menurut Jumhur yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah laut bumi. Akan tetapi berbeda pendapat dalam kata “masjur” di antara pendapatnya adalah berarti: dinyalakan api di hari Kiamat seperti dalam Al-Qur’an: Dan mengizinkan lautan digunakan meluap. (al-Infithar / 82: 3) Firman-Nya yang lain: Dan peningkatan lautan dipanaskan.(at-Takwir / 81: 6) Dan memulihkan lautan dipanaskan.(at-Takwir / 81: 6) Dan memulihkan lautan dipanaskan.(at-Takwir / 81: 6)