Tag

, , , , ,

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Merekaa kekal di dalamnya. ( QS. al Baqarah/2: 82).

Demikian kala Tuhan berjanji kepada orang-orang yang percaya akan ke-EsaanNya, dan kemudian mereka berbuat amal saleh, akan menjadi kekasih Tuhan di akherat. Tuhan memberikan tempat setinggi itu, tidak lain karena, orang-orang beriman adalah umat yang sangat diunggulkan di muka bumi. Orang beriman adalah umat yang tidak hanya mengakui ke-Esaan Tuhan, tetapi juga mengakui bahwa Tuhan sebagai Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Adil, dan sebagainya sebagaimana tercermin dalam Asmaul Husna. Orang bertauhid adalah orang yang terjauh dari kemusyrikan, dan kekufuran ayat-ayat Allah.
Dalam sejarah peradaban manusia memperlihatkan, betapa banyak manusia yang hidup dari zaman-ke zaman, jumlah mereka yang tidak beriman jauh lebih banyak daripada yang beriman. Manusia yang hidup bersamaan dengan pemunculan para nabi, sejak nabi, sebut saja nabi Nuh as, Nabi Shalih, Hud, Ibrahim, Yakub, Yunus, Musa, Isa hingga Muhammad saw, nyaris tidak mengenal sukses dalam berdakwah. Zaman selalu diwarnai dengan penolakan ajakan moral yang dibawakannya. Tauhid adalah ajaran paling mendasar yang disampaikan oleh para Nabi. Dan keberimanan adalah tanda penerimaan akan ajaran tersebut. Apa yang disebut kufur, adalah mereka yang mengingkari Allah sebagai Tuhan satu-satunya.
Mereka yang tidak beriman itu, terbagi pada berbagai paham. Penganut paganisme, yakni kaum penyembah berhala, hampir memenuhi belantara dunia selama beberapa abad. Sejak tiga ribu tahun sebelum Masehi, kelahiran Muhammad saw, sebagian penduduk bumi adalah penganut faham paganis (penyembah berhala). Bahkan pada akhir abad 18, lahir paham ateis yang dibawakan oleh Karl Marx dan para penganut filsafat materialis lainnya. Para pengikut ateis bertebaran di berbagai negara, dan jumlah penganutnya jauh melebihi para penganut paham monoteis.
Golongan manusia yang menentang kepercayaan adanya Tuhan, telah ikut meramaikan belantara peradaban umat manusia, dan fakta – fakta historis itu hanya untuk mengingatkan kita, betapa besar arti keberimanan itu. Maka Tuhan mengingatkan kita dengan firmannya: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Ali Imrah/3: 137).
Sekecil papapun jumlah orang-orang beriman, maka sangat layak kalau Tuhan memberikan imbalan yang berupa surga yang tidak akan habis-habisnya, sebagaimana tersurat pada firman tersebut d awal tulisan ini. Kondisi di mana paham materialis dan ateis terus berkembang seperti dewasa ini, telah didukung dengan penemuan-penemuan yang spektakuler di bidang teknologi dan ilmu pegetahuan, hingga umat manusia banyak yang kemudian mempertuhankan benda-benda, kedudukan dan symbol-simbol kemajuan lainnya.
Dengan memahami ayat sebagai mana tertuatng dalam s. al-Baqarah 82, Tuhan memberikan koridor yang jelas sekali, yakni keberimanan plus amal kebajikan. Mereka adalah orang-orang yang berhak menjadi kekasih Allah, dan dijanjikan akan menikmati surga di akherat. Apapun aliran keagamaan, lingkungan geografis, kebangsaan, warna kulit, laki-perempuan perbedaan tingkat pendidikan, dan sebagainya, sepanjang mereka beriman dan beramal shaleh, mereka adalah orang-orang yang berada dalam koridor kebenaran Allah. Maka mereka, yang menjaga hubungan baik kepada mereka, berarti menjagai hubungan baik dengan sesama kekasih Allah.

Indikator Keberimanan
Penghujatan terhadap kelompok tertentu, seperti Ahmadaiyah belakangan ini, demikian mudahn dilakukan oleh sesama kaum beriman. Padahal tanda keberimanan itu ada pada mereka dan cukup transparan, yakni mereka mengakui /meyakini tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah rasulullah. Dan keyakinan seperti itu jelas melekat pada para pengikut Ahmadiyah. Tidak ada celah sedikit pun untuk berbeda pendapat dalam memahami prinsip ketauhidan ini. Bahkan Ahmadiyah juga yang tak diragukan mengimani adanya hari akhir, mengimani adanya rasul-rasul dan kitab-kitab suci.
Keberimanan dan amal saleh adalah koridor yang paling mendasar dalam menilai apakah seseorang itu sesat atau tidak sesat. Dan bagi orang-orang beriman seperti itu, diharamkan darahnya atas sesama kaum beriman. Mereka wajib dianggap sebagai saudara, sebagaimana Allahpun menjanjikan mereka akan mendapatkan surga.
.Masih ragukah akan janji Allah tersebut, yang sampai diulang-ulang. Di antaranya pada QS. Al Baqarah/2:25:
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata: “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu”. ( QS. al baqarah/2; 25).
Siapa yang meragukan janji Allah seperti itu sama halnya meragukan akan kebesaran Allah. Dan tidak ada yang berhak mengingkari janji Allah tersebut, kecuali kaum yang tidak percaya pada kebenaran al Qur’an.
Tuduhan “sesat – menyesatkan” yang ditujukan kepada sesama kaum beriman, sama saja tidak percaya akan janji Tuhan tersebut. Janji Tuhan untuk memberikan ampunan dan menempatkan dalam surganya Allah, seakan diabaikan. Menentang sesama kaum beriman, seperti yang difatwakan MUI, sama halnya memusuhi para kekasih Allah tersebut. Siapapun dia, sepanjang kaum beriman dan beramal saleh, maka sepanjang itu pula tidak hak bagi orang lain atau kelompok untuk menuduhkan sesat menyesatkan, mengutuk atau bahkan memurtadkannya.