Tag

, , , ,

Dia adalah seorang eksekutif. Tinggal di bilangan lingkungan elite, yaitu lingkungan yang hanya dihuni oleh orang-orang berduit banyak. Rata-rata rumah berdiri di atas 500 m2. Setiap rumah dilengkapi dengan taman yang indah dan ruang garasi mobil yang muat lebih dari dua. Bangunan bertingkat, dan pagar rumahnya tinggi, setinggi dua meteran. Di antaranya ada yang dilengkapi dengan kolam renang. Dan ternyata, bukan satu-satunya rumahnya. Masih ada tanah atau rumah lain, masih ada depositnya, yang susunan angkanya tak lagi muat di kalkultaror 8 digit.

Sesekali berekreasi keluar negeri, entah Hongkong, Singapore, atau ke Eropa, atau ke mana saja Negara yang dikunjungi, pokonya yang menyerap duit banyak. Lembaran uang serba dollar atau euro. Pulang-pulang bawa souveneer, untuk menandai pernah bertandang ke suatu tempat yang menawan dan berbeaya tinggi.
Soal agama ?, O jangan tanya. Dia tergolong Muslim tulen, bahkan boleh dibilang keluarma Muslim sukses luar-dalam. Shalat lima waktu, suami, isteri dan anak-anak, tak ada yang pernah kendor shalatnya, Keluarga ini bukan termasuk orang-orang yang “lupa diri”, meski segalanya tercukupi. Kapan saja biasa unjuk gigi untuk menjadi hamba Tuhan yang shaleh. Sudah dua kali menunaikan ibadah suami-isteri. Sekali umroh bersama keluarga. Tiap Ahad pagi rajin mengikuti majelis dzikir di sebuah Masjid tidak jauh dari tempat tinggalnya. Si isteri punya jadwal pengajian rutin di masjid elite di bilangan Menteng, tiap Selasa, meski rumahnya sendiri sudah terbilang di batas kota (tapi bukan berarti warga pinggiran lho). Ia termasuk keluarga yang sukses dunia -akherat, sepintas dengan melihat limpahan harta dan kerajinan ibadahnya ia termasuk orang yang “akan hidup selama-lamanya dengan limpahan hartanya, dan sekaligus menjadi orang yang siap untuk mati besok pagi” seperti disinyalir oleh sebuah hadits yang cukup popular itu.
Betulkah demikian, wallahua’lam. Karena ceritanya belum selesai sampai di situ. Ketika pada suatu saat, sang pembantu rumah tangga (PRT)nya jatuh sakit, dan tidak masuk kerja untuk beberapa hari. Sang majikan yang isteri eksekutif itupun repot dibuatnya. Karena soal masak, cuci dan seterika menjadi kalangkabut. Ketika si PRT sembuh dari sakit dan masuk kembali, si Ibu bukannya bertanya, semisal “Bagaimana sakitmu”, “ apa sudah sembuh betulan”, atau “ istirahat saja dulu kalau masih lemah”, atau semisal kata apa lagi untuk menunjukkan kelembutan atau keshalehan, atau sebagai tanda simpati atas penderitaan orng lain. Kata-kata yang muncul dari sang Ibu itu ternyata jusru bernada kesal campur emosional: ”kenapa sakit lama-lama, bikin repot saja”. Demikian pula ketika sopir pribadinya berhalangan masuk, karena harus mengantar anaknya ke Klinik yang menderita sakit tiba-tiba. Ketika sudah masuk kembali, bukannya ditanya: “Bagaimana kondisi anakkmu ?”, misalnya. Tapi malah disemprot: “besok kalau nggak masuk lagi, lebih baik kamu berhenti saja”. Suatu ketika ada adiknya datang , kebetulan tergolong ekonomi lemah, tiada senyum menyambut, karena dikiranya masuk minta bantuan,. Sang adik pun tersinggung, dan buru-buru pamitan.
Begitulah, profil salah sebuah keluarga Muslim kaya, yang di satu sisi memperlihatkan semangat yang tinggi untuk beribadah, tapi di sisi lain hatinya tak bergeming melihat penderitaan orang lain. Ketertiban urusan rumah tangganya seakan tidak boleh terusik oleh orang lain. Urusan dengan Tuhannya seakan bias dilepas begitu saja dengan urusan dengan manusia. Tuhan sepertinya cukup didekati dengan banyak berdzikir dan umrah, shalat atau berhaji. Kemusliman seakan sudah selesai tanpa kepedulian kepada saudaranya yang lemah.
Pantas saja Sayyidina Ali r.a., berkata: Puasa dan dzikir itu, adalah ibadahnya orang fakir, dan shadaqah itu ibadahnya orang kaya. Ungkapan itu hanya menegaskan pesan-pesan al Qur’an dan sunnah-sunah Nabi saw., akan betapa besarnya pahala bagi orang-orang yang banyak bersedekah, dan jauh melebihi besarnya pahala orang berdzikir. Sementara orang miskin, dalam mendekatkan diri kepada Tuhan memang hanya bisa dengan cara berdzikir dan berpuasa. Karena memang tidak punya cara lain yang lebih dari itu, apatah lagi berhaji, berumrah, shadaqah atau berjihad dengan harta.
Maka kalau orang-orang yang berharta banyak, kemudian kedekatannya pada Tuhan cukup mengandalkan cara peribadatan yang bersifat ritual, sebenarnya ia sedang “menfakirkan diri sendiri”, dan mengabaikan kepedulian pada orang-orang lain yang lemah. Sok taqwa di depan Tuhannya tetapi mengabaikan perintah Tuhan yang lain. Karena pengingkarannya itu, bisa jadi ia terkena pidana, berdasar Undang-Undang Ilahi Pasal eh Surah al Ma’un, ayat: 1s.d. 3 “pergilah sajalah kamu ke neraka wail, walau shalatmu khusu’, karena kau tak peduli dengan anak-anak yatim, dst,”.
Yang ideal sih, menjadi Muslim yang banyak harta, sekaligus peduli kemanusiaan, peduli lingkungan, banyak shadaqah, banyak dzikir dan suka puasa Senin-Kamis. Kalau itu yang diamalkan berarti anda sedang pesan kapling istana dengan segala perlengapan dan berjenis penyediaan makanan siap saji di kawasan Sorga nanti.

Iklan