Tag

, , ,

INMEMORIUM H. HUSEIN UMAR

Oleh Marzani Anwar

Diiringi mendung yang kian menebal langit Jakarta, seorang tokoh paling senior di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDI), dan mantan Ketua KODI DKI, telah berpulang kerahmatullah. Tepatnya pada tanggal 17 April 2007. Hari di mana KODI DKI sedang menyelenggarakan pengukuhan kepengurusannya untuk periode 2007-2010. Bertepatan pula dengan wisuda PKM angkatan ke 13 dan Studium General PKM angkatan ke-14. Kepergain Bang Husen, demikian panggilan akrabnya, buat selamanya bersamaan waktunya dengan acara-acara itu, sekan sebuah tadir Tuhan, yang bermakna, bahwa gerak langkah KODI untuk pengkaderan dakwah melalui PKM adalah bagian dari warisan bang Husen Umar, dan kepergiannya itu adalah sebuah pesan terakhir si abang kepada para adik-adiknya, agar jangan tetap meneruskan warisan itu. Agar tak ada kata berhenti dalam mencetak kader dakwah.

Datang menggenapkan, pergi mengganjilkan, itulah pepatah yang paling tepat pada ustadz Husein Umar. Seorang da’i kondang yang

Ya ia datang ke tangah perjuangan menegakkan panji-panji Islam di bumi Nusantara. Dunia dakwah Islamiyah di Indonesia, seakan tak lengkap tanpa Husein Umar. Ia mengisi ruang kosong, yang tak terjamah oleh dai lain. Ruang kosong itu adalah kehausan anak-anak muda akan kekuatan aqidah Islam. Lalu ada Husen Umar, sang dai kelahiran pulau Dewata, itu siap diundang ke mana saja, sehingga pengkaderan dakwah itu menjadi lengkap adanya. Lalu ketika ia pergi, buat selamanya, maka perhelatan pun seakan ada yang kosong lagi; ada sesuatu kebutuhan dan hanya dia yang dianggap paling tepat mengisinya. Waktu yang menunggu untuk mencari figur seperti dai, seakan bakal sangat lama.
Pembawaannya yang tenang, dan suaranya lantang dan meyakinkan, memberikan kesan tersendiri bagi pendengarnya. Isu-isu nasional yang menyentuh kepentingan Islam, tak pernah ada yang ditinggalkan. Ia pelajari, dalami, dan sering diusung ke rapat-rapat KODI dan FKLD. Mengenai sepakterjang mereka yang dianggap hendak merusak kekuatan Islam, soal perjudian, ancaman kristenisasi, sekularsasi, dan sebagainya. Bang Husen dikenal paling jago kalau bicara soal kristenisasi. Seabreg data ia punyai, mengenai sepakterjang missionaris di Indonesia. Bagi Husein Umar, mengisi materi kristenisasi di dalam acara-acara pengkaderan at, pertemuan dan smeinar-seminar, bukan hendak mengajak kaum muslimin berperang atau berbuat kekerasan terhadap kaum Kristen, bukan. Tetapi ia hanya mengingatkan bahwa tidak seharusnya umat gampang goyah imannya oleh tawaran-tawaran manis pihak lain, yang hendak menggoyang iman. Ia hanya menuntut keadilan, agar kegiatan penyiaran agama-agam berjalan sesuai rel yang telah digariskan pemerintah, semata-mata untuk menjaga keutuhan bangsa.

Islam sendiri. Dan hati-hati pulalah menyampaikan pandangan tentang Islam, agar tidak terlalu liberalisme, karena akan dihadang Bang Husen. Dunia Husen Umar adalah dunia dakwah, dengan segala sumpah serapah terhadap mereka yang hendak merusak ukhuwah Islamiyah. FKLD (Forum Komunikasi Lembaga Dakwah) yang terlahir 1987 an itu juga tidak bisa dilepaskan dari jasa Husen Umar. Sebagai reaksi umat Islam, tatkala diceraiberaikan leh ”peristiwa Tangjung Priuk”, terasa benar akan perlunya membangun ukhuwah Islamiyah. Keberadaan lembaga-lembaga dakwah di DKI merupakan ujung tombak bagi pelestarian ukhuwah tersebut. Husen Umar yang terlibat secara aktif menggodok Anggaran Dasar dan Rumah Tangganya. Menyertai berdirinya FKLD DKI kala itu, bang Husen pula yang melibati terumuskannya Adab dan Akhlaq Mubaligh. Awalnya disebut kode etik mubaligh. Menurut pikiran Bang Husen, kalau istilah kode etik itu yang digunakan, maka kegiatan mubaligh yang sangat mulia, itu kok seperti kegiatan profesi yang lain, macam jurnalisti, pengacara, hakim, dan sebagainya, yang masing-masing punya kode etik memang. Maka dipilihlah istilah yang tepat, yakni “Adab dan Akhlaq Mubaligh”.
Berdirinya FKLD DKI dalam perjalanannya menginspirasi bagi penggalangan kebersamaan lembaga-lembaga dakwah tingkat nasional. Berkat tangan Bang Husen pula FKLD tingkat pusat dideklarasikan. Dan banyak lagi yang dibidani berdirinya lembaga-lembaga keumatan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Namun ia mengingatkan: hati-hatilah mensikapi perbedaan, katanya, di suatu kesempatan, yakni jangan menempuh cara kekerasan untuk mengatasinya. Karena kekerasan itu akan menyudutkan Islam sendiri.

Bukan Husein Umar, kalau tidak pula mengingatkan agar umat Islam gemar membayar zakat, guna membantu menolong kaum miskin, agar mereka tidak gampang terjerumus pada jurang kekafiran. Sosialisasi melalui panflet yang dikeluarkan oleh Dewan Dakwah ndonesia, memuat wajah Bang Husen, sebagai satu cara meyakinkan umat atas tugas suci tersebut.

Bang Husen yang dikenal banyak makan asam garam perjuangan menegakkan panji-panji Islam, telah melewati ragam tragedi yang menimpa dirinya. Mulai dari penyerbuan orang-orang PKI pada persitiwa Kanigoro, di tahun 1964an, sampai ketika ia harus menjadi tahanan politik orde baru. Bahkan ia sempat masuk daftar nomor satu, dai keras di wilayah DKI. Sampai ia sempat berujar: ”apanya ya yang keras dari saya ini, rasanya dalam berdakwah biasa-biasa saja”. Waktupun terus berlalu, dan Bang Husen yang dikenal akomodatif dengan lawan maupun kawan, akhirnya dikenal cukup akrab dengan para petinggi di tingkat nasional maupun pejabat DKI. Zaman awal orde baru, ia menjadi incaran intel KOKAMTIB, dan siap di”ambil”, belakangan ia tetap diburu, tetapi untuk dimintai ceramah sana – sini. Sampai ia kewalahan mengatur waktu hari-harinya.

Nama Husein Umar, tak hanya lekat dengan Dewan Dakwah, tetapi juga lekat dengan ICMI (Iktan Cendekiawan Muslim Indonesia), Majlis ulama Indonesia, KODI DKI Jakarta, Yayasan Al Azhar, dan PII, dan banyak lagi institusi Islam tingkat nasional. Karena di sanalah Husein Umar banyak berkiprah, dan berkhidmat untuk Islam.
Tidak terhitung berapa banyak banyak kelompok-kelompok Islam, terutama anak muda Kampus, yang mendatangkan beliau untuk menanamkan nilai-nilai dasar keislaman.

Pada dirinya melekat sikap hidup yang rendah hati, kesederhanaan, egalitarian, dan penuh ketegaran. Tak ada kompromi untuk melindungi akidah umat Islam. Segala bentuk aliran dan pemkirna yang menurutnya, akan merusak sendi-sendi keislaman, telah menjadi lawan bebuyutannya. Sikap tak mau menyerah ini pula, yang menjadikan usinya nyaris tak pernah kelihatan tua. Hanya penyakitnya yang kemudian melemahkan fisiknya, yang ahirnya membawa kehadlirat Ilahi.

Langit mendung Jakarta, yang kian menebal, akhirnya menjatuhkan deari-derai hujan. Mengantarkannya ke peristirahatan abadi. Di sanalah di pemakaman Karet Bivak, si da’i kondang ini dimakamkan. Selamat jalan Bang Husein. Kami siap menruskan perjuangan.