Tag

, , , , , , ,

Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qodiyani keduanya sama-sama hidup dan berkembang di Indonesia. Ahmadiyah Qodiyani mengorganisir diri dalam Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang berpusat di Parung, Bogor, sementara Ahmadiyah Lahore memiliki kantor pusat di Yogyakarta yang terorganisir dalam Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI).
“Mungkin selama ini orang mengira bahwa Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qodiyani seperti saudara, padahal kami tidak demikian,” tegas Rachmat Basoeki Soeropranoto dari Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI). Basoeki dengan lantang meminta kepada Zafrullah Pontoh dari Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), untuk menghilangkan eksklusifisme di masjid-masjid Ahmadiyah dengan mengundang orang luar untuk misalnya memimpin shalat berjamaah. Ia juga sempat menyayangkan efek domino imbas fatwa MUI yang turut menimpa kalangan Ahmadiyah Lahore.
Basoeki dengan tegas menolak pemahaman JAI yang menganggap Nabi Muhammad bukan sebagai nabi terakhir. Ia sempat membacakan naskah dari Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad (Pendiri Ahmadiyah Qodiyani) yang menurut Maulana Muhammad Ali, seorang pendiri Ahmadiyah Lahore, dalam teksnya jelas Bashirudin telah menyeleweng dari ajaran Islam dan amanat yang disampaikan Mirza Ghulam Ahmad.
Pernyataan tersebut disampaikan Basoeki dalam sesi klarifikasi Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian tentang “Ahmadiyah” yang diselenggarakan oleh Balai Litbang Depag (22/12/05). Diskusi membahas temuan 2 calon peneliti Depag yaitu Saeful Bahri yang bertajuk “Telaah Terhadap Ahmadiyah Qadiyani: Studi di Mesjid Jemaat Ahmadiyah Desa Sindang Barang Jero Kecamatan Gunung Batu Kabupaten Bogor” dan Rudy Harisyah Alam dengan tajuk “Ahmadiyah dan Perumusan Kebijakan Keagamaan di Indonesia”. Diskusi yang dipandu oleh Anik Farida (LKAJ) itu juga menghadirkan Abdul Aziz, seorang peneliti Depag dan mantan pengurus PBNU sebagai penanggap ahli.
Dalam pelaksanaan ritual keagamaan, Ahmadiyah Qadiyani dinilai memiliki sikap eksklusif. Misalnya saat pelaksanaan shalat berjamaah, para pendiri Jemaat menganjurkan untuk shalat di masjid milik Jemaat Ahmadiyah. Selanjutnya, oleh para pengikutnya perintah tersebut disikapi sebagai doktrin. Jika masjid itu tidak didapati, mereka akan shalat di masjid umum tetapi mufarraqah (tidak bermakmum kepada orang yang bukan Ahmadi), dengan alasan loyalitas makmum terhadap imam sangat penting dalam shalat berjamaah.
Namun penelitian Saeful Bahri membuktikan bahwa bukan berarti Jemaat Ahmadiyah tidak mau menyatu dengan komunitas non-Ahmadi. Sikap eksklusif itu justru berawal dari perlakuan tidak adil dan reaksi keras pihak-pihak non-Ahmadi yang mengucilkan mereka dari masjid, menganggap mereka najis dan mencuci bekas tempat mereka shalat. Dalam hal ini, bukan Jemaat Ahmadiyah yang mengisolasi diri namun justru merekalah yang dikucilkan oleh pihak luar.
Lebih lanjut Saeful juga mengungkapkan bahwa pernyataan kitab Tadzkirah sebagai kitab suci Ahmadiyah tidak berasal dari kalangan Ahmadiyah, melainkan dari M. Amin Djamaludin dalam bukunya “Ahmadiyah & Pembajakan Alqur’an”. Tuduhan Amin Djamaludin itu semata-mata didasarkan atas adanya beberapa ayat Alqur’an yang juga menjadi bagian dari tadzkirah. Walaupun menurut Aziz, pola dalam Tadzkirah yang menggabungkan satu ayat dengan ayat lain atau satu ayat dengan doa itu lazim juga dijumpai dalam wirid-wirid dan bacaan zikir umat

(ICRP, Liputan 04 April 2006 )