Tag

, , , , , ,

Lima Buku Hasil Penelitian Diluncurkan
Sosok Gaib yang Mengaku Ruhul Kudus
Pada Lia Aminuddin itu Jibril atau Bukan?

Pekan lalu, Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta meluncurkan lima buku hasil penelitian sekaligus. Lima buku yang ditulis oleh para peneliti itu setidaknya dapat memberikan informasi dan sebagai rujukan lainnya.
Lima buku hasil penelitian tersebut berjudul: (1) Agama dan HAM: Dalam Kasus di Indonesia oleh H Moh Zahid SH, MH; (2) Jejak-Jejak Komunitas Perenial Eden Salamullah oleh Prof Marzani Anwar, MAg; (3) Pura dan Masjid: Konflik dan Integrasi pada Suku Tengger oleh Drs A Malik MTT, MSi; (4) Islam Menolak Kekerasan : Survival Perempuan Buruh Migran Menyikapi Kekerasan oleh Dra Anik Farida, MHum; (5) Wali dan Keramat dalam Islam oleh Dr H Harapandi Dahri MAg.
Lima buku tersebut dibahas dan didiskusikan sehari penuh di ruang pertemuan Balai Litbang Agama Jalan Rawa Kuning, Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur. Para pakar yang terlibat dalam pembahasan buku tersebut antara lain Prof Dr Atho Mudzhar (Kepala Litbang dan Diklat Departemen Agama), Dr H Imam Tholkhak, Prof Dr Hj Musdah Mulia, Prof Dr HM Bambang Pranowo, Drs H Ahmad SyafiI Mufid MA, dan Drs A Malik MTT,MSi.
Prof Dr HM Bambang Pranowo yang memberikan kata pengantar dalam buku Jejak-jejak Komunias Perenial: Eden Salamullah memaparkan kelompok keagamaan Eden Salamullah pada awal kehadirannya sesungguhnya dapat dikategorikan sebagai gerakan yang lebih bercorak inward looking. Kehadirannya bermula dari kekecewaan Lia Aminuddin, sang pendiri, terhadap dua orang ulama an bersama Lia merintis bedirinya Yayasan At-Taibin – sebuah yayasan yang bergerak di bidang dakwah bagi para mantan narapidana. Dalam acara pemilihan pimpinan sekalipun mayoritas ex-napi memilih Lia sebagai ketua, kedua ulama tidak menyetujuinya dan bahkan mengeluarkan Lia dari kepengurusan. Kekecewaan itu dirasakan lebih menyakitkan mengingat dua ulama tersebut justru merupakan tokoh terkenal yang sangat dihormati umat. Di tengah kegalauan itulah suatu malam seusai shalat tahajud Lia merasa didatangi makhluk halus yang memperkenalkan diri sebagai Habib al-Huda.
Dari perjumpaan Lia dengan Habib al-Huda yang dalam proses selanjutnya menyatakan diri sebagai Malaikat Jibril itulah kelompok keagamaan Salamullah bermula. Awalnya apa yang diterima dari Malaikat Jibril yang dikenal sebagai sapaan Jibril masih sangat bercorak Islam. Hal ini ditandai bukan hanya dengan ditempatkannya al-Qur\’an sebagai rujukan utama seperti tercermin dalam buku Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir, tetapi juga dengan kenyataan bahwa Lia dan jamaahnya masih melaksanakan peribadatan secara Islam. Bahkan unuk mengkonfirmasi apakah yang hadir itu benar-benar Jibril, Lia dan sejumlah pengikutnya melaksanakan ibadah umrah. Hasilnya adalah diperolehnya berbaai pengalaman gaib yan semakin meyakinkan Lia dan jamaahnya bahwa yang selalu hadir dan memberi berbagai pengajaran itu adalah benar-benar Malaikat Jibril.


Dengan demikian, menurut Bambang Pranowo, keyakinan akan kehadiran kembali Malaikat Jibril ke bumi untuk memberikan pelajaran kepada umat manusia melalui Lia Aminuddin sebagai corongnya adalah titik sentral dari keyakinan Salamullah. Keyakinan ini pula yang telah menjadi penggerak utama bagi jamaah Salamullah sehingga mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka miliki, bahkan kalau perlu bercerai dari suami, istri maupun meninggalkan pekerjaan yang prestisius, demi menaati apa yang diyakini sebagai perintah dari Malaikat Jibril.
Menurut Bambang Pranowo, di awal perjalanan Salamullah, Lia adalah orang yang pertama menyatakan keluar dari Islam. Dia tidak lagi salat lima waktu dan tidak melaksanakan ajaran-ajaran Islam lainnya. Salamullah dan Komunitas Eden harus erada di atas semua aama dan tidak memihak agama apa pun. Bahkan belakangan, Komunitas Eden cenderung \”anti Islam\” Lia, misalnya, mengaku mendapat wahyu untuk menjelaskan bahwa al-Qur\’an sudah kehilangan berkahnya. Lia juga menyatakan bahwa di antara umat beragama yang ada di dunia, umat Islamlah yang paling tidak disukai Allah karena keterlibatannya dalam terorisme.
Menanggapi hal ini, Bambang Pranowo mengatakan bahwa pendapat Lia sangat naif, sebab seandainya klaim Lia sebagai utusan Tuhan itu benar, kenapa Tuhan mencabut berkah kitab suci umat Islam yang dibawa utusan-Nya. Padahal sepanjang sejarah agama-agama besar di dunia, tak pernah ada statement Allah dalam kitab-kiab suci-Nya atau melalui para utusan-Nya yang tidak menghargai kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Pendapat kedua, umat Islam sebagai umat yang tidak disukai Allah karena keterlibatannya dalam terorisme jelas tidak berdasarkan fakta. Sebab, tindakan terorisme dilakukan tidak hanya oleh umat Islam, tapi juga oleh umat lain.
Penghancuran kantor pemerintahan federal Oklahoma, misalnya, dilakukan oleh Mc Vey yang beragama Kristen. Tindakan terorisme yang terjadi di Srilanka, yang menewaskan ribuan orang, dilakukan oleh gerakan Macan Tamil yang mayoritas beragama Hindu. Statement tersebut memunculkan prasangka-prasangka negatif terhadap klaim kerasulan Lia. Dari gambaran tersebut dapat dipertanyakan: mungkinkah Allah menurunkan wahyu semacam iu kepada Lia?
Peneliti utama Drs Ahmad Syafi\’I Mufid MA pada awalnya mengira bahwa Salamullah merupakan gerakan fusisme perkotaan. Tapi dalam perjalanannya, ketika melihat Salamullah mengusung perenialisme dan keluar dari Islam, pandangan Syafi\’i berubah. Belakangan Syafi\’i secara lugas menyatakan bahwa gerakan Salamullah tidak lebih dari sebuah gerakan yang ada dalam mistisisme tradisional, bahkan gerakan perdukunan. Pandangan Syafii ini muncul setelah dia memperoleh informasi dari beberapa temannya bahwa ada orang yang kesurupan di Makassar dimana jin yang masuk ke dalam orang tersebut mengaku sama dengan jin yng berada pada Lia Aminuddin. Tentu apa yang dinyatakan Syafi\’i tersebut tidak bisa menjadi bukti ilmiah dari ketidkbenaran keberadaan Jibril yang berada pada Lia Aminuddin – sama persis seperti klaim Lia Aminuddin bahwa dirinya selalu bersama Jibril juga tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.
Mengapa Danarto yang dikenal sebagai sastrawan dan Syaefudin Simon sastrawan yang sebelumnya dikenal sebagai pengikut setia Salamullah akhirnya keluar dari ajaran tersebut? Simon pernah bercerita perihal keraguannya apakah sosok Jibril yang hadir pada Lia itu benar atau palsu. Di awal-awal perjalanan Salamullah, tahun 1997-an, salah seorang teman Simon, drg. Lilik Masduki meningal dunia karena kesurupan. Dia kesurupan sejak pulang dari acara napak tilas Salamullah ke tempat-tempat para wali di Kabupaten Cirebon. Yang membuatnya heran ternyata Lia tidak bisa menyembuhkan Lilik. Padahal, jika Lia benar benar didampingi Jibril atau Ruhul Kudus, niscaya jin yang merasuki Lilik pasti akan pergi.
Simon membandingkan kajadian tersebut pada perjalanan Isa Al-Masih ke Galilea. Seperti diceritakan dalam Perjanjian Baru, ketika Yesus datang ke Galelea, ada oang gila yang mau menyerangnya. Ketika Yesus mendekat, orang gila itu langsung merunduk. Dia bertekuk lutut sambil menyatakan, jangan bunuh aku Yesus. Yesus pun berkata, pergilah kau ke gerombolan babi-babi. Setelah itu, jin yang berada pada orang gila itu lari ke gerombolan babi, dan orang gila itu pun sembuh. Hanya dengan memandangnya, Yesus Isa menyembuhkan orang gila yang kesurupan jin tersebut. Hal ini ternyata menurut Simon, tidak bisa dilakukan oleh Lia. Padahal, jika Lia bersama Ruhul Kudus, niscaya jin an measuki Lilik pasti akan pergi ketika Lia menaapya. Itulah sebabnya, Simon kerap mmpertanyakan benarkah sosok gaib yang mengaku Ruhul Kudus yang ada pada Lia itu Jibril atau bukan-sama seperti pertanyaan Danarto.
Danarto akhirnya keluar dari Salamullah setelah meyakini bahwa sosok yang mengaku Jibril yang ada pada Lia itu bukan Jibril yang sama dengan yang mendampingi Nabi Muhammad dan Nabi Isa. Simon juga keluar dengan alasan yang kurang lebih sama setelah mencoba memverifikasi berbagai pengalamannya selama tujuh tahun bergabung di Salamullah dengan kisah-kisah para Nabi. (sidik m nasir)

Pelita, 18 Januari 2008

Iklan