Tag

, , , ,

Oleh Marzani Anwar

Hari Jumat bagi masjid-masjid Raya ditengah kota, tidak hanya identik dengan ibadah berjamaah Shalat jumat. Namun juga identik dengan pasar tiban. Kehadirannya tidak direncanakan sebelumnya, tempatnya juga tidak disediakan,. Mereka datang secara tiba-tiba, pasang lapak-lapak di sudut-sudut jalan di trotoar, atau di emperan masjid. Itulah pedagang yang biasanya meramaikan suasana hari Jumat.
. Usai shalat Jumat, sekitar jam 12.30 an, adalah tengah hari, saat perut harus diisi. Para jamaah pun tidak ingin repot-repot cari makanan yang tidak jauh dari masjid. Mereka cukup menyantap makanan yang siap saji, meski dengan antri sebentar dan duduk lesehan jadilah. Para pedagang makanan, sengaja menghadang jamaah yang baru saja menunakan ibadah shalat Jumat tersebut. Penyediaan makan siang secara ‘instant’ menjadi sangat dominan, mulai dari gado-gado, soto, warteg, dan beragam jenis menu makanan lainnya. Sebagian pedagang mengambil tempat dengan memasang lapak dan bertengger di emperan masjid dan ada yang sengaja membuat bedeng sementara di trotoar dekat masjid. Selain makanan adalah beragam jenis kebutuhan rumah tangga mulai dari baju-baju muslim, peralatan ibadah, baju anak-anak perangkat tukang, alat tulis kantor, sepatu, sandal, kaus kaki, minuman ringan, obat-obat tradisional, dan buanyak lagi, bak pasar dadakan. Makanya masyarakat biasa menyebutnya sebagai pasar tiban. Karena tercipta secara tiba-tiba atau “pasar Jumat” karena ramainya hanya pada hari Jumat.
Dua hal perlu dicermati; pertama, mereka menggunakan momentum peribadatan Islam. Orang yang datang ke masjid di hari Jumat, jelas tidap punya niatan lain kecuali untuk beribadah shalat Jumat. Mereka datang untuk secara bersama-sama dalam jumlah besar berkumpul untuk melaksanakan kewajiban agama. Namun mereka adalah manusia biasa yang memiliki kebutuhan hidup yang sewaktu-waktu ingin dipenuhi, mulai dari kebutuhan primer yang berupa makan- minum, dan kebutuhan skunder sebagai kelengkapan atau assesori kehidupan, yang berupa peralatan rumah tangga atau lainnya.
Dalam teori pasar, kerumunan orang banyak adalah sebuah peluang pasar, yang perlu dijemput. Barang-barangpun bagi para pedagang adalah sudah menjadi bagian dari omsetya, yang memang ingin terdistribusi secara cepat untuk mendatangkan keuntungan (profit). Pedagang, sebagai pihak yang mendekatkan antara produsen dan konsumen mengambil peran penting di tempat dan waktu tersebut. Jamaah masjid adalah para konsumen yang relatif memiliki daya beli, meski berupa uang sekenanya. Situasi lingkungan msjid, terutama masjid besar, telah mempertemukan kedua pihak, hingga berlaku hukum pasar demand and suply.
Pasar di sekitar masjid, dalam budaya Islam, bukanlah hal baru. Sejak awal didirikannya masjid oleh Nabi, salah satu fungsi masjid adalah menjadi pasar. Setidaknya bukan hal aneh, kalau ada masjid di situ pula ada pasar. Bahkan bagi sementara mayarakat Islam, pasar adalah bagian penting dari lingkungan masjid.
Ada kalangan yang memandang pasar, di lingkungan masjid, tida lebih dari orang-orang liar, yang mengganggu ketentraman masjid dan mengganggu kekhusukan beribadah. Pandangan demikian bukan tidak benar, namun perlu melihat faktor lain. Sebab pedagang adalah juga bagian dari umat Islam, yang sedang berperan menyediakan kebutuhan yang diperlukan. Mereka merupakan kelompok potensial, yang secara aktif menggerakkan ekonomi yang berbasis umat Islam. Artinya pula, dengan adanya para pedagang di sekitar masjid, masjid telah berarti menghidupkan peluang bagi para pedagang untuk mencari keuntungan. Mendekatkan akses antara produsen dengan konsumen, bahkan tidak jarang suasana pasar, telah ikut meramaikan keberadaan lingkungan masjid, dan tidak jarang pula membantu pengadaan peralatan peribadatan atau buku-buku keagamaan yang bermanfaat bagi para jamaah.


Di masjid Istiqlal Jakarta, kini berlaku pandangan bahwa membuka restoran di lingkungan masjid di anggap mengotori dan mengganggu lingkungan. Padahal para pekerja masjid membutuhkan makan sewaktu-waktu. Para pengunjung masjid, hampir setiap hari berdatangan dari luar kota, ingin melengkapi tujuan wisatanya dengan verkumjung ke masjid. Di amping shala berjamaah, mereka ingin pula menikmati lingkungan masjid: berphoto ria, membeli buku-buku agama, membeli souveneer, membeli makanan ringan, bahkan oleh-olej, dana sebagainya. Jangankan para tamu dari luar kota, para karyawan yang bekerja di lingkungabn masjid Istiqlal semdiri, atau yang beribadah atau tamu-tamu yang sedang berurusan dengan kantor-kantor yang ada di masjid, membutuhkan makan minum pada saat tertentu.
Sayang sekali, pihak pengelola masjid yang bersangkutan, justru menjauhkan para pedagang yang menyediakan kebutuhan tersebut.
Pasar Jumat atau pasar di sekitar masjid, atau pasar yang tercipta bersamaan dengan kegiatan keagamaan, adalah sebuah fenomena kultural yang tidak boleh diabaikan. Di sanalah potensi kultural itu, perlu digerakkan dan dikembangkan. Situasi bertemunya antara penjual dan pembeli dan dengan latar belakang moment keagamaan, tidak harus berupa sesuatu yang dirancang sedemikian rupa macam mall Islami atau supermarket Islami misalnya, tetapi komunitas juali-beli itu tercipta sedemikian rupa dalam kondisi yang aktif dan mobile. Itu merupakan potensi yang sangat berharga ketika kita bicara masalah pengembangan ekonomi Islam atau ingin mewujudkan kemandirian di tengah perekonomian global.
Kemudian di sana berlaku sistem pengelolaan terpadu. Bagaimana menertiban lokasi, agar pasar tetap hidup sementara suasana ibadah terpelihara; bagaimana situasi dikembangkan justru untuk mendekatkan masyarakat dengan masjid; bagaimana dirumuskan kinerja agar pengelolaan ekonomi pasar tiban itu menjadi satu dengan sistem pengelolaan kemasjidan itu sendiri; ada peluang bagi hasil antara pihak pengelola masjid dengan para pedagang; Di antara syarat pengelolaan yang baik adalah, misalnya dilengkapi dengan pelayanan perbankan, BMT (Baitul Mal wat Tamwil) penataan ruangan agar justru menarik minat untuk datang ke masjid, karena tersedia kebutuhan-kebutuhan ringan: keagamaan, peribadatan, penyaluran hoby, kaset-kaset lagu Islami, souveneer, tukang foto langsung jadi, dan sebagainya. Apabila lahan masih memungkinkan, katakanlah seperti Masjid Ismalic Center di Jakarta Utara dan Masjid Istiqlal Jakarta, Masjid at-Tiin Jakarta Timur, akan sangat diburu oleh para pendatang dari luar kota manakala dilengkapi dengan penginapan Islami yang mampu menampung dalam jumlah banyak. Sehingga mereka tertarik untuk tidak sekedar berkunjung sebagai turis, tetapi juga menikmati peribadatan dan kenangan-kenangan tertentu bersama indahnya pasar dan pertokoan Islami. Alangkah baik juga ketika penginapan itu dilengkapi dengan ruangan pertemuan atau seminar. Pengunjung dari mereka yang sekedar beristirahat, shalat fardhu, hingga yang dengan keperluan study tour, dan kunjungan lapangan dari berbagai kota bisa terja, terjawab di Masjid ini.
Penataan lingkungan justru untuk mengatur bagaimana agar kegiatan ekonomi menjadi pendukung beragam kegiatan masjid: peribadatan, kegiatan remaja, seni budaya, dan sebagainya. Sehingga situasi jual-beli sebagai bagian tidak terpisahkan bahkan sebaliknya justru memperindah lingkungan masjid, dan menjadikan jakmaah semaikin krasan untuk berlama-lama di masjid dan senang datang ke masjid. Ada pemasukan setiap hari dari dari iuran para pemarkir kendaraan, dari bagi hasil para pedagang, pemasukan mingguan dari hasil sewa ruangan, sewa kamar pengiapan, dan sebagainya.
Membangun ekonomi umat perlu dimulai dari masjid. Kapan lagi !
Kalau di Masjid Nabawi dan Masjid al Haram bisa menyatukan yang seperti itu, kenapa kita tidak.

Iklan