Tag

, ,

CATATAN DARI SEMINAR HASIL PENELITIAN MULTIKULTURALISME DAN KEHIDUPAN BERAGAMA

Oleh: Marzani Anwar

Multikultural selama ini di satu pihak lebih banyak dipahami sebagai konsep normatif, yaitu bagaimana memandang orang lain. Di pihak lain, multikultural adalah sebagai fakta sosial. Hasil penelitian ini sebatas pada penggambaran keanekaragaman, artinya: baru dalam taraf pengayaan informasi. Belum mendiskusikan entry point dalam memandang perbedaan itu ”harus bagaimana”, dan bagaimana orang lain melihat yang berbeda budaya itu, dan bagaimana expectasi itu membawa ekses yang equal (setara). Demikian salah satu point yang terungkap dalam seminar yang diadakan pada tanggal 12-13 November 2007 oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta. Seminar yang diikuti oleh para peneliti dan pengamat sosial lain dari sejumlah perguruan tinggi itu, menyatakan juga beberapa points sbb.:

  • Bahwa pengelompokan sebagai ”suku terasing”, ”suku tertinggal”. Nama ”Kubu” itu identitas suatu kelompok yang dilatarbelakngi karena punya karakteristik budaya. ”Penamaan ”terasing” atau ”terpinggirkan, ”adalah fakta budaya- selama tidak diberikan pretensi negatif. Konsep – konsep seperti itu sebenarnya tidak netral. Asli dan tidak asli adalah ambigu. Dampak sosialnya sangat tinggi. Seperti juga istilah ”minoritas”, bisa juga dari segi akses , kapasitas, dan kualitas.
  • Belum semua kelompok minoritas di wilayah penelitian khususunya dan di Indonesia pada umumnya, memperoleh perlakukan sewajarnya. Termasuk di dalamnya adalah pelayanan keagamaan, masih terbatas pada tenaga mahasiswa (kerja lapangan), yang sifatnya temporal.
  • Kelompok yang sudah memperoleh perlakukan yang layak memerlukan waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan kelompok lain. Mereka tidak bisa diperlakukan dengan cara ketat.
  • Lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti Don Bosco di Sumatera Barat dan Kusuma bangsa di Palembang, pada dasarnya sangat potensial dalam menerapkan pendidikaan multikulturalisme. Melalui sistem klasikal maupun individual. Democratic clasrrom bisa dilihat sebagai suatu proses secara utuh di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Namun diakui bahwa sementara pendidikan demokratik berjalan, kita masih melihat lembaga-lembaga seperti itu, yang masih memperlihatkan inklusivitasnya, dan sering mengundang prasangka dari pihak luar. Kenyataan demikian jelas tidak mendukung semangat multikulturalisme. Belum lagi soal sang penelitinya yang beragama Islam, meneliti lembaga non muslim. Pihak yang menjadi sasawan (ketika diwawancarai) mensikapi dengan membatasi informasi. Berarti ada soft defence, yang justru menjadi problem multikultural. Contoh menarik lagi tentang pengakuan guru ”kita sama-sama baik, tetapi sebatas ini saja”. Ini berarti, bahwa hubungan baik itu masih diliputi oleh sekat-sekat multi budaya
  • Political recognition dengan kelompok berbeda agama, ternyata hanya enak dinyatakan tetapi tidak enak disaksikan. Selama ini sudah terlalu banyak pernyataan politik, pernyataan kesalingpahaman, dan memandang pentingnya persaudaraan di antara kelompok berbeda kultur. Tetapi sebagaimana terungkap dalam penelitian ini, prasangka yang tumbuh dari perbedaan ideologi dan kepentingan tetap banyak bermunculan.
  • Dari hasil penelitian masyarakat suku terasing seperti suku Kubu, yang menggunakan pendekatan interaksionisme simbolik, memperlihatkan bahwa identitas masyarakat di sana dibentuk tidak hanya oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang lain. Ini perlu mendapat perhatian bagi kalangan luar, agar tidak gegabah dalam mengintervensi, karena kalau tidak tepat justru mengundang resistensi.
  • Keragaman yang muncul di berbagai komunitas merupakan suatu kekuatan yang memberikan kontribusi pada setiap orang untuk menumbuhkan kesatuan bangsa. Dan utuk pengembangannya perlu suatu diskursus akademik, agar bisa mendalami masalahnya secara lebih jauh. Di samping itu adalah keterlibatan budayawan, untuk mengembangkan dialog budaya yang menumbuhkan semangat kultural baru yang memperkaya budaya bangsa.