ASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.

Alhamdulillahirobil’alamin, wabihi nasta’in, washollatu wassalmu ‘ala asrofil mursalin. Sayidina Muhammad waahlii, wasohbihi, wattabi’in ila yaumiddin.

Trah adalah istilah dalam budaya Jawa, yang berarti  “satuan keluarga yang dijalin atas dasar hubungan darah dari satu pasangan”. Sebagaimana diketahui, bahwa keluarga yang terdiri dari suami-isteri dan anak merupakan satuan organisasi terkecil (nucleus family) yang ada dalam masyarakat. Dari anak-anak kemudian terjadi kawin-mawin dengan orang lain, dan melahirkan keturunan demi keturunan. Dari hubungan darah itu terus-menerus melahirkan pertambahan anggota keluarga yang merupakan keluarga luas (extended family). Sebutan untuk generasi kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, dari keluarga luas tersebut adalah cucu, buyut, cicit, dan seterusnya.  Lahirnya Trah adalah dari kesadaran anggota keluarga besar yang merasa berasal dari satu induk semang  yang sama. Pada masyarakat Jawa, banyak dijumpai perkumpulan Trah seperti itu. Misalnya  Trah Wongsodirjan, artinya adalah perkumpulan keluarga besar dari keturunan sedarah dari pasangan Bapak dan Ibu Wongsodirjo. Sebagai nama sebuah perkumpulan, kemudian secara bahasa dibenda-kan dengan menambahkan akhiran an, menjadi Wongsodirjan.

Paguyuban Trah Surodimejan adalah salah satu Trah yang hidup di dalam masyarakat Jawa, yang anggotanya adalah orang-orang yang berasal dari keturunan yang sama yakni pasangan suami-isteri bernama Surodimeja. Secara resmi Trah Surodimeja dibentuk pada hari Ahad 8 Mei 1956, bertepatan dengan pertemuan keluarga yang pertama di rumah Kyai Mertodiryo, Tekik Bangunkerto, Turi, Sleman, Yogyakarta.

Daftar yang diterbitkan kali ini nama berasal dari hasil sensus yang dilakukan oleh pengurus Trah pada tahun 1985, kemudian berupaya diupdate pada tahun 1987/1988 dan terakhir tahin 2013. Selanjutnya pada setiap  pertemuan Trah tercatat laporan dari masing-masing empu, tentang terjadinya mutasi jumlah; baik pertambahan dari kelahiran dan perkawinan maupun pengurangan karena meninggal.

Daftar Anggota Trah Surodimejan ini berasal dari updating Tahun 2013 tersebut, yang dilakukan oleh Pengurus Trah. Tambahan hal-hal yang dirasa perlu diketahui dan dipahami oleh seluruh anggota keluarga, antara lain, riwayat dan silsilah Kyai Surodimejo (jalur mbah kakung) di sisi lain riwayat dan silsilah Nyai Surodimejo (jalur mbah putri).

Daftar anggota keluarga dari hasil pencacahan kembali oleh komisaris masing-masing keluarga, karena beberapa kesulitan terpaksa masih banyak dijumpai antara lain kolom-kolom dalam tabel penulisan nama-nama yang kurang tepat termasuk gelar-gelarnya, nama-nama yang belum tertulis/kosong, nomor induk yang tidak urut dan kemungkinan ada anggota-anggota keluarga yang belum masuk dalam daftar, semua kekurangan-kekurangan tersebut kami pengurus mohon maaf dan sangat diharapkan kritik yang tujuannya untuk memperbaiki/melengkapi dokumen keluarga ini.

Tidaklah bisa dipungkiri bahwa karena perkembangan keluarga ternyata banyak anggota keluarga yang tidak saling kenal satu sama lain. Ada yang sudah tahu/saling kenal karena tetapi jarang bertemu menjadi tidak akrab; tentunya seluruh anggota keluarga Trah Surodimejan berkeinginan untuk saling mengenal, walaupun hal itu ada kendala berupa tempat tinggal yang saling berjauhan, sehingga jarang bertemua karena masing-masing disibukkan dengan urusan dan pekerjaan. Oleh karena itu pertemuan rutin Trah Surodimejan dan pertemuan keluarga lainnya menjadi perlu demikian pula tersedianya buku keluarga serta informasi tentang keluarga dapat menjadi wahana dan sarana untuk mewujudkan tujuan organisasi Trah Surodimejan yang bisa dirumsukan “kekeluargaaan yang akrab dalam lingkungan Trah Surodimejan”.

Kami yakin bahwa tercapainya tujuan tersebut sangat tergantung pada sikap, kemauan seluruh anggota keluarga tanpa kecuali. Terima kasih atas perhatiannya

Yogyakarta,  Juni 2017

Marzani Anwar/ admin

Iklan