Tag

, , ,

Kyai Surodimejo adalah putera kedua dari Kyai Towijoyo yang bertempat tinggal di Dusun Nglebeng, Margorejo, Tempel dan makamnya ada di dusun itu juga.

Kyai Surodimejo lahir ± tahun 1854, saudara kandungnya adalah:

  1. Kyai Kertodimejo tempat tinggal di Sidoarjo

2. Kyai Surodimejo tempat tinggal di Tekik

  1. Kyai Wongsorejo tempat tinggal di Tekik

Saudara seibu lain bapak ada 2 (dua):

  1. Kyai Prawirodimejo tempat tinggal di Selobonggo
  2. Nyai Cokropawiro tempat tinggal di Gondang Angin-angin yang dulu dikenal sebagai pemilik warung sego, jadah, wajik Ngablak.

Semasa kecil, Ki Surodimejo ikut ayah ibunya di Dusun Nglebeng, bapak ibunya cerai, ibunya yaitu Nyai Towijoyo dinikahi oleh Kyai Cokrodimejo (konon seorang Demang) yang bertempat tinggaldi Selobonggo, Kyai Surodimejo bersama kakak dan adiknya ikut ibunya dan diasuh bapak tiri Kyai Cokrodimejo.

Kyai Surodimejo setelah dewasa menikah dengan anak perempuan nomor dua R. Ngabehi Hondotirto yang konon seorang Undangi Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat (tukang kayu kraton).

Kyai Hondotirto dimakamkan di Terban Yogyakarta sedangkan Nyai makamnya di Pambregan, Trimulyo, Sleman, Yogyakarta; adapun putera-putera beliau adalah:

  1. Kyai Karsodikromo, tempat tinggal di Sleman
  2. Nyai Surodimejo tempat tingal di Tekik, Bangunkerto, Turi, Sleman
  3. Nyai Pawirodimejo tempat tinggal di Sleman, Yogyakarta
  4. Kyai Partodimejo tempat tinggal di Tukangan Yogyakarta
  5. Kyai Ahmad,  Ngebong, Tempel Sleman, Yogyakarta

Kyai Surodimejo dan keluarga bertempat tingal di Desa Tekik yang selanjutnya sampai sekarang menjadi rumah tinggal keluarga Kyai H. Mawardi.

Keturunan Kyai Surodimejo adalah: (yang kadang-kadang diberi sebutan empu, krandah, induk, pancer).

  1. Nyai Hj. Somodimejo, tempat tinggal desa  Ngemplak Blunyah, Trimulyo, Sleman
  2. Kyai H. Mertodiryo, tempat tingal  desa  Tekik, Turi, Bangunkerta,  Sleman
  3. Kyai Ali Harjo, tempat tinggal desa Blunyah, Trimulya, trimulyo, Sleman
  4. Kyai H. Kromodiharjo,  tempat tingga desa  Ngentak, Turi, Sleman.
  5. Kyai H. Kromodimejo, tempat tinggal desa Kadisobo, Trimulya, Sleman
  6. Kyai H. Prawiroharjono,  tempat tinggal des  Domban, Mororejo, Tempel, Sleman.
  7. Nyai Hj. Rifai Atmodimejo,  tempat tinggal  desa  Tekik, Bangunterto, Turi, Sleman.
  8. Nyai Hj. Muslim Martoprasetyo, tempat tinggal desa  Ngablak, Bangunkerta, Tur, Sleman.
  9. Kyai H. Mawardi,  tempat tinggal  desa  Tekik, Tekik, Bangun kerta, Turi, Sleman.
  10. Nyai Masyhuri,  tempat tinggal desa  Ngablak, Ngablak, Bangunterta, Turi, Sleman.

Pada waktu empu-empu tersebut masih ada, hubungan antara keluarga 10 saudara kandung tersebut cukup baik/erat, tempat tinggal satu sama lain tidak terlalu jauh. Semua berada di wilayah Sleman Utara. Saling berkunjung satu sama lain menjadi hal yang biasa. Lebih lagi sewaktu Lebaran Idul Fitri, sudah menjadi tradisi dalam masyarakat. Silaturahim antar anggota satu sama lain, terutama anggota keluarga yang muda pada anggota lain yang lebih tua atau yang dihormati. Demikian juga, anggota keluarga Surodimejo juga melakukan, yang muda berkunjung/sowan/ujung (menurut istilah Jawa).

Biasanya yang muda sowan sambil menunjukkan rasa hormat diantaranya ada yang sambil mencium lutut seraya mengucapkan kalimat, “Ngaturaken sugeng Riyadi sembah sungkem katur simbah/pak gede/……. nyuwun agunging pangapunten sedoyo kalepatan lahir/batin soho nyuwun tambahing pangestu”,. Tradisi tersebut dari tahun ke tahun atau dari generasi ke generasi pada hakekatnya tetap berlangsung, sampai pada suatu ketika para pinisepuh Surodimejan menyadari bahwa jumlah keluarga (anak, cucu, buyut, canggah dan seterusnya) Surodimenjan nantinya pasti semakin banyak. Pendidikan dan pekerjaan makin beragam, tempat tinggal saling berjauhan. Tradisi saling berkunjung/sowan/ujung ngabekten akan agak sulit dipertahankan.

Pada tahun 1954 Kyai Mertodiryo mempunyai usul agar para pinisepuh lainnya, menyelenggarakan pertemuan yang dihadiri putra wayah Surodimejan. Waktu itu kesepuhan yang rumahnya saling berdekatan adalah: Kyai Kromodiharjo, Kyai H. Rifai Atmodimejo, Kyai Martoprasetyo, Kyai Mawardi, dan Kyai Mashuri. Mereka sepakat hal itu memang perlu dengan harapan antara lain, agar hubungan kekeluarga anak cucu/keturunan Surodimejo dapat dibina keakrabannya satu sama lain. Di samping itu juga dipesan agar anak cucu tetap memelihara Iman Islam dan taat melaksanakan syariat Islam sampai akhir hayat. Jangan ada yang keluar dari tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Sebelum rencana pertemuan tersebut terlaksana Kyai Mertodiryo meninggal dunia, saat beliau  sedang melaksanakan ibadah Haji tahun 1955. Almarhum dimakamkan di Makkah al Mukaromah. Inna lillahi wa inna illaihi roji’un. Para sesepuh keluarga merasa amanat Kyai Mertodiryo perlu segera diwujudkan, kemudian menunjuk Kyai Mashuri untuk melaksanakan pertemuan keluarga. Dalam kesempatan itu, para sepuh meminta para generasi muda, antara lain Bapak Harun Iman Atmojo, Bapak Badawi, Bapak Mashud Heru Susanto, Bapak KRT Sutarjonegoro, Bapak H. Jalal Dibyo Hartono, Bapak H. Asmuni Suryoharyono, MA (yang lebih 40 tahun beliau-beliau menjadi pimpinan organisasi Trah Surodimejan ini) untuk mewujudkan keinginan para sesepuh tersebut. Alhamdulillah akhirnya berhasil diwujudka, yakni Pertemuan Trah Surodimejan.

Pertemuan Trah yang pertama dilaksanakan pada hari Ahad 8 Mei 1956, bertempat di rumah Kyai Haji Mertodiryo (penggagas pertama pertemuan ini) di Desa Tekik Bangunkerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Ada pertemuan pertama tersebut dapat dicatat antara lain: jumlah anak cucu Kyai Surodimejo 209 orang, yang tertua hadir pada waktu itu adalah Kyai Partodimejo (mbah Tukangan), dan mbah Ngebong. Pertemuan keluarga ini juga sering disebut Syawalan, karena diadakannya pada bulan Syawal, berkenaan dengan Lebaran atau Idul Fitri. Untuk selanjutnya pertemua Trah Surodimejan diadakan tiap awal bulan Syawal, pada hari ketiga. Tempatnya bergilir berdasarkan urutan Empu selaku 10 putra/i Kyai Surodimejo.

Dalam perkembangan, penyelenggara ditambah di rumah/keluarga Kyai Partodimejo Ld. Tuakangan. Pada saat itu, soal biaya disepakati untuk penyelenggaraan dihimpun dari 10 keluarga, Namun dalam perkembangannya, disepakati agar masalah pembiayaan dicukupkan ditanggung oleh anak-cucu masing-masing empu yang sedang mendapatgiliran.

Meskipun sudah ada pertemuan Trah Surodimejan, sebenarnya para sepuh tetap mengharapkan agar anak-cucu, putro-wayah, sebisa mungkin tetap saling berkunjung/sowan, terutama oleh yang muda kepada yang lebih tua. Silaturahim dilakukan setidaknya pada Hari Raya Idul Fitri agar keakraban bisa lebih terjamin.

Ternyata pertemuan Trah Surodimejan dapat berjalan sampai sekarang, walaupun mengalami pasang surut. Masih banyak yang menyempatkan hadir dalam pertemuan Trah Surodimejan yang hanya 1 kali dalam 1 tahun. Dalam kesempatan itu akan dapat bertemu dengan banyak anggota keluarga lain yang karena beberapa sebab sudah lama tidak saling berjumpa.

Pertemuan yang diselenggarakan pada tahun 2009 merupakan pertemuan ke 52. Satu putaran/satu periode adalah 11 tahun, berarti setiap empu keluarga sekurang-kurangnya sudah  5  kali mendapat giliran. Jumlah anggota keluarga hingga pada pertemuan tahun 2009 sudah lebih dari 1.200 orang. Sekedar mengetahui perkembangan dari tahun ke tahun, jumlah anggota keluarga, bisa dilihat data jumlah keluarga antara 1956 – 1983  sbb.

PERKEMBANGAN JUMLAH ANGGOTA KELUARGA

TRAH SURODIMEJAN

TAHUN

JUMLAH KELUARGA

1956

209

1961

256

1968

351

1969

374

1970

387

1971

405

1978

556

1979

573

1980

584

1981

600

1983

624

Organisasi Trah Surodimejan (pengertiannya sudah termasuk keluarga Kyai Partodimejo yang dikenal dengan sebutan mbah Tukangan) adalah Paguyuban Keluarga yang sesuai dengan keinginan para pinisepuh pada saat dimulai. Tujuan yang ingin dicapai ialah agar rasa kekeluargaannya tetap akrab guyub rukun, bersatu, saling menyayangi, tidak cerai berai, tidak terputus hubungan sehingga sangat diharapkan dari sana insya Allah selanjutnya akan muncul sikap bantu membantu, saling menolong. Sementara  agama Islam hendaknya tetap menjadi landasan hidup seluruh anak cucu mbah Surodimejo. Diharapkan pula seluruh warga Trah memahami, menghayati, dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Perlu disadari bahwa sejalan dengan perkembangan zaman ada keprihatinan kemungkinan terancamnya nilai-nilai silaturrahmi dalam keluarga sebagai dampak negatif dari problem-problem kehidupan yang semakin komplek menyita banyak waktu dan tenaga. Maka paguyuban keluarga ini diharap dapat dijadikan persinggahan yang akan dapat membantu terpeliharanya rasa persaudaraan dalam keluarga.

Akhirnya mudah-mudahan di masa-masa yang akan datang untuk menjaga agar keakraban keluarga Surodimejan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi, transformasi dan komunikasi. Amin.

Yogyakarta,     Juli    2009

Marzani Anwar/Pengurus Trah