Seminar nasional bertajuk Implementasi Hasil Penelitian Bagi Pembangunan Agama masa Depan pernah dilangsungkan pada tanggal 19-20 Januari 2010, bertempat di Hotel Horison Bekasi. Diselenggarakan oleh Balai Litbang Agama Jakarta. Sebagai nara sumber adala: Prof. Dr. H. Atho’ Mudzhar, Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat waktu iti. Drs. H. Tulus, Staf Ahli Kementerian Agama; Prof. Dr. Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang, dan Lukmanul Hakim, Ph D, konultan Balai Litbang Agama Jakarta

Peserta terdidiri dari para peneliti, birokrat di lingkungan Departemen Agama, utusan-utusan lembaga Penelitian di beberapa Perguruan Tinggi.

Berikut ini adalah beberapa pokok pikiran yang berkembang dalam seminar

 

Masalah dan Tantangan

  1. Bahwa hasil hasil penelitian keagamaan yang sudah dilakukan selama ini, baik oleh instansi di lingkungan Badan Litbang Agama dan Perguruan Tinggi Agama telah memberikan masukan untuk dijadikan dasar pengambilan kebijakan pembangunan agama, dalam meningkatkan kualitas umat beragama, menjaga kerukunan nasional serta meningkatkan pendidikan madrasah. Namun diakui masih banyak yang belum bisa menunjang kebijakan pembangunan agama.
  2. Namun harus diakui, bahwa secara umum, selama ini pembangunan agama belum berbasis riset. Sementara tantangan ke depn dalam pembangunan agama semakin besar, antara lain karena semakin banyaknya muncul kelompok keagamaan baru yang di satu sisi sangat konservatif dan di sisi lain cenderung sangat liberal.
  3. Hasil-hasil penelitian keagamaan selama ini juga dipandang masih kurang menyentuh secara langsung kebutuhan kelembagaan di lingkungan Kementerian Agama khususnya, kurang tersosialisasi dengan baik pada kalangan pejabat pemegang kebijakan dan kurang tersosialisasi secara baik di masyarakat
  4. Pemaknaan tentang agama belakangan semakin meluas, dipahami bukan hanya sebagai agama, tapi  agama ádalah peradaban.
  5. Ternyata al Qur’an dan kitab-kitab suci agama lain, tekah banyak bicara mengenai banyak aspek kehidupan semesta, ilmu física, metasika, ilmu akhlaq, ilmu bilologi, matematika, dst. Inilah wilayah yang seharusnya menjadi kajian dalam penelitian agama.
  6. Ada keterbatasan dana riset selama ini, dan tidak sebanding dengan tuntutan pengembangan institusional dan tantangan yang terus berkembang.
  7. Bangsa Indonsia ádalah bangsa yang majemuk, tapi penelitian keagamaan selama ini, terutama yang dilakukan Badan Litbang Agama, masih “Islam centris”. Ini tidak sesuai dengan missi dialog anatarumat beragama menuju keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Rekomendasi:

  1. Kualitas kelitbangan sudah seharusnya dipandang sebagai penentu keberhasilan pembaangunan  terutama pada kementerian agama. Karena dari apa yang dihasilkan oleh instansi kelitbangan inilah, bisa diukur  ouput dan output pembangunan agama.
  2. Badan Litbang Agama harus dipandang sebagai Icon Institusi Kementerian Agama. Oleh karena itu perlu meningkatkan fungsi dan perannya dengan meningkatkan jaringan lembaga-lembaga penelitian agama di perguruan Tinggi.
  3. Kriteria penelitiaan yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka menunjang kebijakan antara lain: (1) perencana penelitian harus menguasai area kebijakan Kementerian Agama; (2) Mampu memprediksi persoalan pembangunan keagamaan masa depan; (3) Peneliti mampu menterjemahkan apa yang diperlukan untuk menunjang kebjakan.
  4. Masalah-masalah yang tidak kalah pentingnya, untuk dilakukan penelitian dan kajian adalah yang menyangkut substansi ayat-ayat kauniyah (kealam semestaan) dalam kitab suci, sehingga kelitbangan agama meliputi wilayah sosial dan sain.
  5. Para peneliti agama disarankan mengkaji RUU Kebebasan Agama yang kini telah bergulir sebagai inisiatif DPR., dapat memberikan masukan substansi yang harus diatur dalam RUU ini.
  6. Perlu pemetaan kebutuhan sarana dan prasarana keagamaan, yang menjangkau seluruh provinsi di Indonesia. Termasuk di dalamnya mengkaji isu-isu actual   sampai menemukan solusi yang strategis. Dalam hal ini instansi kelitbangan agar diberi mandat penuh untuk merancang hal demikian.
  7. Mengingat luasnya wilayah yang seharusnya menjadi bahan kajian, maka Badan Litbang atau Balai Litbang Agama ke depan sebaiknya juga menerima peneliti, yang tidak hanya dari ilmu-ilmu sosial, tapi juga dari peneliti Saint.
  8. Dalam konsteks penggunaan hasil reset, bila perlu dilakukan penelitian ulang apabila ada kebijakan umum yang tidak berdasarkan hasil riset. Termasuk melihat, apa akibatnya kalau tidak menggunakan riset. Ini introspeksi bagi semua, baik peneliti maupun pengguna.
  9. Mengingat urgensi dunia penelitian selama ini dalam pembangunan agama kini dan mendatang, maka sudah selayaknya dana riset lebih ditingkatkan secara proporsional.
  10. Dalam konteks riset, harus ada kesamaan pandangan, bahwa  antara institusi pengguna dan institusi yang menghasilkan, ini harus saling memberi dan menerima serta memanfaatkan.

 

–        Marzani Anwar —

Iklan