Oleh Marzani Anwar

Selalu saja menjadi pertanyaan banyak orang, kenapa ada saja orang yang mau masuk komunitas eden. Meski ajarannya aneh, pimpinannya mengaku-aku mendapat wahyu dari malaikat jibril, suka menebar berita-berita buruk, menebar kebohongan, dan memurtadkan para pengikutnya.
Pencucian otak atau brain washing memang telah terjadi di komunitas Eden. Pemusatannya pada ritual penyucian. Seseorang yang semula Muslim, setelah dicuci otak, jadi keluar dari agamanya. Meyakini ajaran eden sebagai sumber kebenarannya. Dst.
Seseorang yang mau pensucian memang berbekkal kepercayaan pada eden, dhi percaya bahwa Lia itu adalah benar seorang yang memperoleh wahyu tuhan, pendamping jibril . Pertanyaannya, kenapa bisa membenarkan pewahyuan eden. Jawabannya memang lebih kepada yang bersangkutan. Tapi di duga kuat, karena terpesona pada risalah risalah eden, yang ditulis dengan bahasa yang indah. Sementara pengetahuan agama yang bersangkutan belum memadai. Jadi nyaris tidak ada waktu untuk  memilih ruang mana yang seharusnya dimasuki.
Kalau soal kelebihan seseorang, mengundang keterpesonaan, ini sudah lazim dalam dunia messianis. Oliver Leaman et.al dalam bukunya Pemerintahan akhir Zaman (2005: 157-158), mengutip catatan Timothy Furnish, tentang jumlah para messianis yang lebih dari ratusan. Belum termasuk mahdi-mahdi di kalangan Syiah, dan yang beredar di internet. Antara lain ada Ghafar Shahi yang mengaku wajahnya tergambar di bulan, ada Rael, seorang wartawn Perancis yang mengaku bertemu dengan Elohim, makluk angkasa luar yang mendeklar dirinya sebagai pencipta alam semesta. Ada lagi Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku “memperoleh wahyu”, Jaber Bolushi, dan sebagainya. Penulis di sini, tidak dalam kapasitas mempersoalkan pengakuan-pengakuan atau klaim-klaim tersebut secara teologis, kecuali membaca fenomena messianisme yang kini muncul. Sebagiannya ada yang sudah menyejarah, seperti kemahdian pada masyarakat syiah dan dalam pengikut ahmadiyah. Masih banyak lagi kisah-kisah kemunculan seseorang yang mengklaim memiliki keluarbiasaan dan kemudian mendeklar dirinya sebagai pemimpin umat manusia akhir zaman.
Lia Eden dengan klaim dan “kelebihan” yang dimiliki, hanyalah salah satu dari orang sebanyak itu. Sebagaimana para messianis yang lain, ia memperoleh sejumlah orang yang percaya pada ajaran-ajarannya. Keluarbiasaan Lia eden dimunculkan, dengan pengukuhannya, atasnama tuhan, bahwa dirinya adalah Ratu di Kerajaan Tuhan. Pengikutnya sendiri senantiasa memandangnya sebagai orang yang luar biasa, karena bisa menerima wahyu tuhan. Ia juga yang mendeklar bahwa zaman ini adalah zaman kerasulan baru, di mana jibril telah turun ke dunia menjadi rasul. Sekaligus klaim bahwa dalam kedudukan jibril sebagai rasul itulah, jibril didampingi Lia Eden. Terhadap orang-orang yang percaya pada klaim-klaimnya itulah, dilakukan proses pembaiatan, yang oleh Lia disebut “pensucian”.
Prosesi ritual sendiri sebenarnya cukup simpel: Ia berada dalam sebuah majelis. Didahului dengan pengakuan atas semua dosa-dosanya, minta ampun kepada Tuhan, dan berjanji untuk tidak akan berbuat dosa sekecil apapun lagi. Hampir sama dengan ajaran Islam tentang tobat nasuha. Justru dengan adanya kesamaan dengan tatacara bertobat dalam Islam itu menjadi pintu tersendiri yang membuka simpati dari kalangan Muslim yang tertarik untuk percaya dan bersedia disucikan.

Pertobatan melalui pensucian itu adalah peristiwa spiritual, yang melibatkan kesadaran diri dengan tuhannya. Tapi dalam majelis pertobatan itu, bertindak sebagai representasi tuhan adalah pimpinan komunitas sendiri, yaitu Lia Eden. Jadi, seseorang yang bertobat kepada tuhan, bersimpuh di hadapan sosok yang dipersepsi sebagai representasi tuhan, tersirat makna khusus. Dari sosok Lia edenlah keabsyahan pertobatan itu ditentukan, dan kepada Lia lah pengawasan atas tindakan paska ritual.

Prosesi pensucian itu oleh eden dijadikan momentum yang menjadi benang merah, antara keadaan sebelum dan sesudahnya, bagi si pelaku. Momentum bermakna Pembaitan. Sumpah kepada tuhan untuk tidak melakukan dosa sekecil apapun, meski itu tidak masuk di akal (karena mana mungkin selama menjadi manusia, tidak melakukan dosa “sekecil apapun”), tapi itu dijadikan pijakan oleh eden. Pensucian menjadi sangat sakral, karena dilakukan di depan sosok yang begitu dimuliakan dan diagungkan, yaitu Lia Eden yang dipercaya sebagai ruhul kudus dan ratu  di kerajaan tuhan. Bayang-bayang sang penguasa alam semesta pun ada di Lia eden, karena sewaktu-waktu ia bisa terima “wahyu” yang ditujukan kepada siapa saja termasuk orang yang sedang disucikan. Pada saat seperti ini, seseorang yang tersucikan meyerah pasrah, segenap ruh dan raganya, kepada Lia Eden sekaligus. Pengakuan sekaligus keyakinan luar biasa tumbuh, dengan pengakuan baru bahwa hanya Lia Eden sebagai sosok pengendali alam semesta, kepenguasaan semua manusia dan segala yang diciptakan didunia. Lia Eden juga yang diyakini sebagai sumber keselamatan. Bagi siapapun yang ingin memperoleh keselamatan, hanya ada satu jalan, yakni dengan mengikuti ajaran eden. Sebaliknya kecelakaan akan ditimpakan kepada siapapun yang melawan ajaran Eden.

Menjadilah Lia Eden sebagai pemiliki otoritas tunggal untuk menentukan perbuatan mana yang boleh dan perbuatan yang tidak boleh. Sampaipun memerintahkan untuk meninggalkan kewajiban shalat, bagi pengikutnya yang Muslim, perintah itu ditaati. Bahkan deklarasi menghapus semua agama, juga diyakini bahwa itu “benar perintah dari Tuhan”.

Ketaatan kepada Lia eden sebagai bayang-bayang Tuhan, juga terhadap perintah terhadap mereka yang sudah tersucikan harus tinggal menetap di rumah eden Jl. Mahoni 30. Selama tinggal di eden, ia melaksanakan tugas-tugas yang dianggap suci, seperti menyapu, membersihkan kamar, menulis risalah, mengelola website. Atas perintah Lia juga, tertanam keyakinan, bahwa semua tugas sehari-hari di eden, adalah untuk kepentingan tuhan, dan semua tugas hidup, di luar eden adalah kepentingan manusia biasa atau kepentingan keluarga, yang tidak adaurusannya dengan Tuhan. Atas dasar itulah, mareka tidak lagi peduli dengan urusan orang lain, ia meninggalkan anak isteri, serta tidak lagi menjalankan kewajiban sebagai suami/isteri dan membiarkan anak-anak juga tidak merasa berdosa. Kalau ada anggota menghadapi ketegangan dengan suami/isteri di rumah, gara-gara ia tidak pernah pulang dan menafkahi keluarga, oleh Lia diultimatum: anda lebih memilih kepentingan keluarga atau kepentingan tuhan. Dengan sendirinya sang pengikut memilih “urusan tuhan”

Perbuatan dosa “sekecil apapun” yang harus dihindari, bukanlah dosa sebagaimana di atur dalam kitab suci, bukan juga yang diatur oleh komunitas di luar dirinya. Dosa yang dimaksud adalah semua jenis larangan yang telah ditentukan oleh Lia sebagai representasi ruhul kudus. Mereka yang tersucikan hanya boleh mentaati ajaran eden. Sampai pun urusan KTP, mereka memilih lebih baik tidak punya kartu identitas tersebut, karena itu bukan ajaran tuhannya. Perkawinan hanya dibolehkan dengan sesama anggota eden, dan tatacara perkawinannya juga punya tatacara tersendiri. Mereka tidak mau tunduk pada Pemerintah dengan segala aturan dan perundang-undangan yang ada.
Seseorang yang telah mengikuti medium pensucian, merasakan keterikatan luar biasa kepada sosok pimpinan komunitasnya, yaitu Lia Eden. Selain sebagai ruhul kudus, yang merepresentasikan malaikat jibril, ia juga merepresentasikan sebagai tuhan. Yang terakhir ini, karena ia mengklaim dan sekaligus dipercaya, sering menerima wahyu langsung dari tuhan. Sebagai ruhul kudus, ia mendeklarasi sebagai rasul , setaraf dengan para rasulullah Muhammad s.a.w, Isa a.s., Ibrahim, Musa a.s.

Pensucian itu sendiri dilangsungkan tidak hanya sekali. Sesuai perintah Lia eden, anggotanya harus menjalani pensucian kapan saja, dan dengan cara yang berbeda-beda. Ketika nubuatan eden tidak menjadi kenyataan, misalnya seperti kasus pemberitahuan ke publik, bahwa Pesawat UFO akan turun di Monas dan menjemput para pengikut Lia eden di bawah ke planet surga, dan ternyata tidak menjadi kenyataan. Menurut eden, peristiwa itu adalah cara tuhan untuk pensucian anggota eden, dengan dipermalukan di muka publik.
Itu baru contoh betapa Lia dengan nubuatan seperti itu, tidak surut, untuk tetap memperkuat keyakinan yang sudah terbentuk pada para anggotanya. Yaitu dengan melakukan justifikasi atas kejadian-kejadian tertentu. Contoh lain, misalnya ada gempa bumi di sebuah kota di Indonesia, kemudian murid-murid eden, dikumpulkan dan diberi penjelasan, bahwa gempa bumi yang terjadi itu adalah tulah dari tuhan karena bangsa Indonesia tidak percaya pada kerasulan eden. Sampailah ketika Lia divonis pidana atas tuduhan penodaan agama beberapa tahun yang lalu, dia klaim bahwa “pemidanaannya itu adalah memang sudah dipersiapkan tuhan, sebagai penggenapan karena tugasnya sebagai rasul”.
Ungkapan yang diklaim sebagai wahyu menyangkut hal seperti itu bisa disimak dari ungakapan Lia yang lainnya berikut ini:
“Kalau aku masih mensucikan kamu di depan publik, atas nama tuhan yang maha gaib. Ia itu untuk memutlakkan kesucianmu”.
“ Penyucian di muka public harus terlihat nyata bahwa kamu telah disucikan di surga
“Pembebasan melalui pensucian anggota Eden itu berarti untuk mensucikan seluruh umat manusia di dunia”.
“Orang-orang yang disucikan di eden akan bersama malaikat memerangi iblis
(dikutip dari risalah-risalah eden antara Juni-Agustus 2015, yang terekam dalam memory disk milik salah seorang anggota eden).
Untuk meningkatkan percaya diri atau kebanggaan diri seorang yang telah disucikan, Lia, atas nama tuhan, mengangkat kepada yang bersangkutan menjadi “rasul”. Maka kepada sesama anggota eden biasa mereka memanggilnya dengan kata “rasul”, seperti rasul marike, rasul agus, rasul Arifin, rasul Arif, dst.
Bagaimanapun penyebutan “rasul” telah berarti menyetarakan kedudukan anggota komunitas Eden dengan Rasul (utusan) Tuhan yang sebenarnya. Suatu sikap yang sangat arogan, di hadapan Tuhan. Karena kondisi kesucian pada diri seseorang, itu hanya Tuhan yang Maha Tahu. Dan pengangkatan kerasulan pada dasarnya adalah hak Allah. Tidak ada kewenangan pada manusia untuk mengangkat dirinya menjadi seorang rasul.

Kisah kecil itu hanya untuk menegaskan klaim Lia sebagai “ruhul kudus”, dan sebagai “rasul”, yang karenanya ia merasa di atas kekuasaan pemerintahan di negara ini. Seorang rasul yang merasa dirinya sebagai makhluk luar biasa, sehingga tidak perlu mendudukkan diri sebagai warga suatu negara (Indonesia).
Demikianlah, cara eden mem-brain washing pengikutnya. Sehingga seseorang yang telah mengalami pembaitan melalui ritual penyucian, akan “tidak lagi menjadi dirinya”. Kepercayaan pada Tuhan tergantikan oleh kepercayaan pada sosok Lia eden yang menuhankan diri. Lia eden menjadi pusat kebenaran sekaligus pusat pembenaran atas semua perintah dan larangannya.

#eden #komunitas #agama #brainwashing #cuciotak #liaeden

Iklan