Oleh Marzani Anwar

Dimaksud dengan teologi jihad di sini, adalah sistem kepercayaan dalam agama yang dijadikan dasar atau motivasi melakukan suatu tindakan jihad. Dalam ajaran Islam, arti jihad secara kharfiah adalah bersungguh-sungguh . Maka terdapat beberapa pengertian yang mengikuti substansi tersebut, misalnya jihad dalam membela hak-hak sipil, jihad memerangi kemiskinan, jihad memerangi kebodohan, jihad melawan penindasan, dan sebagainya. Masing-masing memiliki pengertiannya sendiri.
Ziauddin Sardar, misalnya, mengaitkan arti jihad dengan potensi intelektual cendekiawan Islam. Menurutnya, Jihad tidak mempunyai kaitan dengan agresi, ataupun dengan penyebaran keyakinan, ego individual, fanatisme, maupun irasional. Jihad adalah suatu tindakan defensif yang sudah dipertimbangkan dengan matang oleh komunitas untuk melawan penindasan dan ketidakadilan dalam segala bentuknya. Tujuannya adalah untuk melawan ketidakadilan dan bukan untuk menggantikan sistem kekuasaan satu dengan lainnya atau untuk menggantikan dominasi suatu kelompok dengan dominasi kelompok lainnya .
Sementra itu, pengertian Jihad menurut Muhammad Chirzin, ditegaskan, adalah berkaitan langsung dengan perintah dakwah. Kegiatan dakwah, sejak jaman Nabi hingga sekarang mengalami dinamika. Mulai dari kegiatan door to door, dan berkirim Surat, hingga pada zaman modern dilakukan melalui radio, surat kabar, televisi, dan media elektronik lainnya. Dengan mendasarkan pada teks Firman Allah di S. Al A’raf/7: 158 dan S.QS. Al-Fath/48: 16, juga dengan mengadopsi pendapat Muhammad Husaini Fadlullah, pada ayat pertama, mengarah pada penyingkiran hambatan yang merintangi dakwah Islaam, dengan menghancurkan unsur-unsur yang menghalangi kaum Muslimin mengamalkan dan mendakwahkan ajaran Islam. Dengan demikian, perang dimaksudkan untuk mencegah terjadinya fitnah. Dari ayat tersebut tidak dapat ditarik dalil apapun untuk pembenaran perang untuk tujuan dakwah. Adapun ayat kedua, adalah berisi seruan kepada orang Arab Badui agar bergabung dalam barisan pejuang yang memerangi kaum kafir dengan dua pilihan, masuk Islam atau diperangi. Peperangan yang dimaksud dalam ayat ini, dilakukan atas permusuhan atas orang-orang kafir, dan/ atau untuk memperthanlan diri dari serangan mereka .


Menyimak uraian di atas, dapat dipahami bahwa faktor penyebab seseorang terjerat dalam aksi terorisme tidaklah tunggal, misalnya hanya karena salah dalam memahami doktrin agama saja. Kesalahan memahami doktrin agama turut menyumbang terjerumusnya seseorang dalam jaringan terorisme, dan faktor kondisi individu yang rentan baik dari sisi ekonomi maupun fasilitas hidup turut menyumbang keputusan untuk terlibat dalam aksi-aksi terorisme. Di samping itu, tidak dapat dilupakan juga faktor psikologis seseorang yang dalam kondisi krisis identitas misalnya juga dapat mengarahkannya terlibat dalam aksi-aksi terorisme.
Bagi kelompok teroris, mengartikan jihad semata-mata menurut argumentasi kalangan mereka sendiri. Seperti ditemukan dalam literatur yang beredar di masyarakat, baik yang berupa buku maupun situs internet. Diantaranya adalah informasi yang diangkat oleh Saiful Rahman Barito, di sekitar masalah perang melawan musuh Islam di Afganistan, yang dijadikan sumber utama bagi para teroris untuk melaksanakan “perintah Jihad”.
Adalah Abdullah Azzam, seorang mujahid dari Afganistan yang sangat mempengaruhi kaum mujahidin sedunia. Beliau adalah ulama yang terjun langsung ke dalam pertempuran. Dia tahu benar kondisi sebenarnya di lapangan itu. Dia juga berinteraksi dengan ulama lain dari berbagai negeri. Karena itu Afganistan menjadi bumi jihad Islam seluruh dunia, yang didukung para ulama. “Buku karya Abdullah Azzam yang saya gemari”, katanya, “adalah Tarbiyah Jihadiyah (Edisi Indonesia buku ini sudah diperbanyak oleh salah satu penerbit di Solo, terdiri atas lebih dari selusin jilid-Red) dan Dibawah Naungan Surat At-Taubah” .
Selama di Peshawar, Azzam juga menerbitkan sebuah media Risalah al-Jihad (bulanan) yang mewartakan berita-berita pertempuran di Afghanistan dan artikel-artikel mengenai jihad. Lewat media ini ia menyuarakan jihad, membangkitkan kesadaran tentang jihad, dan menyeru segenap kaum muslimin untuk turut andil dalam jihad, (wikipedia-ar). Selain itu, ia juga menerbitkan sebuah majalah mingguan bernama “Lahib al-Ma’rakah”yang fokus pada berita-berita terbaru dan hangat dari medan pertempuran di Afghanistan.
Selama di Afghanistan, Azzam tidak hanya aktif mempromosikan ide-idenya tentang jihad, memberikan pengajaran dan pelatihan kepada para sukarelawan yang datang dari berbagai negara, ia juga terjun langsung ke medan-medan pertempuran melawan Uni Soviet, yang paling sengit di antaranya Pertempuran Jaji yang terjadi pada Ramadhan 1408 H (1987). Setelah itu ia dipercaya menjadi komandan Maktab al-Khadamat bagi para mujahidin Afghanistan
Salah satu karya Azzam yang cukup populer, dari kedua belas karya tulis (bukunya) adalah Ilhaq bil Qafilah, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Join The Caravans. Buku ini selesai ia tulis pada 15 April 1987 / 17 Sya’ban 1407 H.
Setelah bagian pendahuluan yang cukup singkat, pada pasal pertama, Azzam menegaskan bahwa musibah terbesar kaum muslimin sekarang ini adalah mengabaikan perintah jihad sehingga para penguasa yang zalim berkuasa atas diri mereka di berbagai tempat di belahan dunia. Dengan dasar pemikiran itulah ia menyerukan jihad kepada kaum muslimin dan memaparkan alasan-alasannya. Setidaknya ada 16 alasan yang menurutnya sangat penting dan harus dijadikan landasan motivasi dan tujuan untuk terjun ke medan pertempuran. Setiap alasan ia jelaskan dengan landasan dalil ayat atau hadis atau argumentasi yang ia paparkan dari kondisi riil berdasarkan kepada sudut pandangnya.
1. Agar kekufuran tidak mendominasi dan merajalela.
2. Kurangnya orang-orang yang terjun ke medan jihad.
3. Takut Api Neraka
4. Melaksanakan kewajiban dan memenuhi seruan Tuhan
5. Meneladani Salafussaleh
6. Membangun wilayah yang kuat sebagai basis Islam
7. Melindungi orang-orang yang lemah dan tertindas
8. Mengharapkan syahid
9. Menjaga kehormatan umat dan mengangkat martabatnya
10. Memelihara wibawa umat dan menangkal tipu daya dan konspirasi musuhnya
11. Dengan jihad terdapat pelestarian bumi dan perlindungannya dari kerusakan
12. Menjaga syiar-syiar Islam
13. Melindungi umat dari siksa, kepunahan, dan penggantian peran
14. Dengan jihad tercipta kemakmuran bagi umat dan peningkatan sumber daya
15. Jihad adalah puncak tertinggi Islam
16. Jihad adalah ibadah paling utama dan dengan jihadlah seorang Muslim mencapai derajat tertinggi .
Dalam kondisi penindasan seperti itu dan pada saat rakyat Afghanistan menaruh harapan besar terhadap bantuan saudara-saudara mereka untuk datang membantu, menyuarakan penderitaan dan perjuangan yang tiada henti, kaum Muslimin, katanya, justru tidak menyambut seruan mereka, tidak mendengarkan rintihan-rintihan rakyat yang tertindas, anak-anak yatim yang terus mengaduh. Mereka yang tersentuh hatinya pun sekadar mengirimkan bantuan logistik dan makanan.Sementara itu, kondisinya jauh lebih mengenaskan dan memprihatinkan. Islam dan kaum muslimin di Afghanistan sedang dalam musibah besar dan berada di bawah ancaman yang sangat berbahaya dan pasti .Padahal, menurut Azzam, Allah Swt telah berfirman:…Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan…(QS Al-Anfaal [8]: 72). Masih menurut Barito, Azzam menekankan bahwa jihad dengan jiwa dan harta dalam kondisi ini sudah termasuk kategori fardhu ‘ain (kewajiban personal) yang kedudukan hukumnya sama seperti shalat dan puasa. Dengan kapasitas keilmuannya, Azzam mengajukan dalil-dalil dari al-Quran dan Hadis, dan menguatkannya dengan pendapat mazhab-mazhab fikih dalam masalah ini.
“Kami meyakini bahwa jihad dengan jiwa dan harta dalam kondisi yang sekarang terjadi di Afghanistan adalah fardhu ‘ain sebagaimana ditegaskan oleh para ahli fikih Empat Mazhab tanpa kecuali. Sepakat dengan mereka mayoritas ahli tafsir, ahli hadis, dan ahli ushul.”

Azzam mengutip pendapat Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya, al-Fatawa al-Kubra (4: 608) yang menyatakan bahwa apabila musuh telah memasuki wilayah Islam, tanpa ada keraguan bahwa wajib melawannya bagi mereka yang berada paling dekat, kemudian yang terdekat,… karena negri Islam seluruhnya sama seperti satu kesatuan wilayah. Juga, wajib berangkat jihad menghadang musuh itu tanpa perlu izin orang tua ataupun kreditur (bagi yang memiliki utang). Teks-teks Imam Ahmad jelas dan tegas mengenai masalah ini. Azzam mengingatkan kepada semua pihak, khususnya para ulama Islam, bahwa teks-teks para ahli fikih empat mazhab jelas dan tegas pendapatnya dalam masalah ini tanpa mengandung potensi penafsiran lain. Ia lalu mengutip pendapat para ahli fikih dari empat mazhab satu per satu.
Sampai di sini saja, tampak bahwa pendapat Azzam tentang jihad tidak berbeda jauh dengan pendapat para ulama Islam pada umumnya, bahwa apabila musuh telah memasuki suatu wilayah kaum muslimin, kewajiban setiap orang yang berada di wilayah itu untuk melawan dan mengusirnya.
Konsep Azzam yang menghadapkan kelompok Islam dengan Barat. Dalam hal ini, kelompok yang berkepentingan adalah Taliban, atau lebih luasnya adalah Afganistan, sementara Barat adalah AS dan sekutunya, dikategorikan sebagai Musuh Islam.
Untuk konteks Afganistan barangkali agak relevan, karena memang terjadi intervensi Barat terhadap urusan dalam negerinya, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim. Namun dalam konteks Indonesia, masalahnya sangat berbeda. Karena di Indonesia tidak ada intervensi, dan apalagi penindasan terhadap kaum Muslim oleh bangsa asing.
Sumber lain yang dijadikan rujukan penting dalam jihad, adalah sebagai mana dipaparkan dalam buku Abu Musab Al Suri, yang berjudul Al-Muslimūn fī Wasaţ Asiyā wa Ma‘rakah al-Islām al-Muqbilah. Diulas oleh Rudy Harisyah Alam, seorang peneliti Balai Litbang Agama Jakarta. Al-Suri dalam buku ini menyajikan informasi umum mengenai negara-negara yang berada di kawasan Asia Tengah. Yang dimaksud dengan kawasan Asia Tengah ialah daerah yang terletak di antara Cina Timur, Iran dan Laut Kaspia di sebelah barat, dan terletak antara India dan Pakistan di sebelah selatan hingga Siberia dan Ural di sebelah utara. Ada 8 negara yang disajikan informasinya, meliputi nama negara, ibu kota, luas wilayah dan demografi. Kedelapan negara tersebut ialah Turkistan Timur (yang diduduki oleh China), Kyrgyztan, Uzbekistan, Kazakhstan, Turkmenistan, Tajikistan (lima yang terakhir ini disebut Turkistan Barat), Pakistan dan Afganistan. Luas kawasan ini lebih dari 8 juta kilometer persegi, yang dihuni lebih dari 200 juta penduduk Muslim, yang menurut al-Suri, mayoritas adalah penganut mazhab Hanafi. di kawasan ini terdapat ibu kota-ibu kota negara berpenduduk mayoritas Muslim, yang memiliki sejarah penting bagi gerakan-gerakan Islam saat ini maupun masa mendatang, seperti Bukhara dan Samarkand, Termez dan Tashkent, serta Khwarizm, Kabul dan Merv.
Hal yang dianggap Suri sebagai salah satu alasan terpenting terkait dengan masa depan gerakan-gerakan Islam adalah nubuwwah (berita kenabian) tentang akhir zaman, bersatunya para penganut kebenaran, dan munculnya ‘panji-panji kemenangan’ dari wilayah ini. Menurut Suri, nubuwwah tentang akhir zaman yang terekam dalam berbagai hadis Nabi Muhammad SAW juga sejalan dengan berbagai ramalan yang dipercayai oleh kalangan ahl al-kitāb. Menurut Suri, nubuwwah tersebut ialah: Di kawasan Asia Tengah ini, mulai dari Uzbekistan hingga Azerbaijan, Dajjāl, raja-raja terakhir kaum Yahudi, akan muncul setelah diikuti oleh tujuh puluh ribu umat Yahudi dari Isfahan. Adapun komunitas Yahudi Iran akan tetap bersama komunitas Yahudi lainnya dan tidak dapat bermigrasi ke Israel seperti halnya kaum Yahudi di seluruh dunia tengah menanti kedatangan Raja mereka, al-Masīh al-Dajjāl. Di kawasan ini hingga ke utara Afganistan dan Transoxiana, bendera hitam akan muncul tatkala al-Mahdi diharapkan memenuhi dunia dengan keseimbangan dan keadilan, dan membawa bendera umat Islam hingga meraih kemenangan. Hal ini akan berlanjut hingga akhir zaman di al-Syam [berhadapan] dengan kaum Nasrani dan Yahudi .
Konsekskuensi dari tindakan jihad, dalam keyakinan mereka, adalah syahid, yaitu mati dalam keadaan berjuang di jalan Allah. Sedemikian mendalam keyakinan itu, maka tidak mengherankan kalau para teroris tersebut, melakukan tindakannya dalam bentuk “bom bunuh diri”. Antara lain seperti yang ditemukan pada catatan pelaku bom di Cirebon.
Aksi-aksi peledakan bom di Masjid Adz Dzikra, yang berada di kompleks Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kota Cirebon, Jawa Barat. Bom yang meledak sesaat menjelang dimulainya shalat Jumat di masjid itu menewaskan 1 orang, yang diduga sebagai pelaku peledakan, serta melukai 31 orang, yang kebanyakan adalah aparat kepolisian yang sedang mengikuti shalat Jumat di masjid tersebut.
Beberapa hari kemudian, aparat kepolisian berhasil mengidentifikasi pelaku bom di Masjid Adz Dzikra itu sebagai Muhammad Syarif Astanagrif (24 th.), yang berdasarkan hasil uji DNA, diketahui sebagai anak dari Abdul Gofur dan Ratu Srimulat, yang bertempat tinggal di Gang Rara Kuning II, RT 03/ RW 6, Kampung Astanagarib Utara, Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat. Perkembangan penyelidikan menemukan bahwa M. Syarif pernah terlibat dalam aksi perusakan gerai Alfamart karena menjual minuman keras. Selain itu, M. Syarif juga diduga sebagai pelaku pembunuhan anggota TNI, Kopral Kepala Sutejo, di Desa Cempaka pada 2 April 2011, dengan ditemukannya identitas pelaku di tempat kejadian perkara. M Syarif meninggalkan seorang istri yang tengah hamil tua bernama Sri Maliha (27 th.).
Aparat kepolisian melakukan penggeledahan di kediaman mertua M Syarif di Blok Senin Panjalin Kidul, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Pada olah tempat kejadian perkara (TKP) pertama, Minggu 17 April 2011, ditemukan antara lain CPU, VCD dan tujuh rangkaian elektronik di rumah tersebut. Pada olah TKP kedua, Senin 18 April 2011, ditemukan buku-buku bertemakan tentang jihad. Salah satunya berjudul Jihad di Asia Tengah (Perang Akhir Zaman) karya Abu Musab Suri.
Di bagian belakang buku itu terdapat tulisan tangan yang diduga merupakan tulisan M Syarif berbunyi:
Bahwa saya: Muhammad Syarif Insya Allah atas/izin Allah, sangat, sangat !!!!!! “Meninggal Syahid”. Bukan karena ingin disebut Mujahid tetapi kemuliaan Syahid telah melekat berat di hati. Dengan janji dari yang menciptakan saya dan yang akan mensucikan saya Yaitu janji Allah…….Allah…….Allah. Pesan saya: “sungguh kehidupan dunia hanya menipu. Wass.

Temuan tersebut memperkuat dugaan yang berkembang selama ini bahwa pemikiran tentang jihad, dan tertanamnya sebuah keyakinan, bahwa melakukan bom bunuh diri dalam melakukan tindakan itu adalah mati syahid. Kasus ini bukan saja menambah semakin brutalnya aksi terorisme dengan mengatasnamakan “jihad”, bahkan juga semakin tidak jelasnya mengartikan “musuh” Islam. Sasaran bom justru umat Islam yang sedang bersiap menunaikan shalat Jumat. Tidak ada satupun warga yang menjadi sasaran atau kantor yang diledakkan, berafiliasi pada “musuh Islam”.
Pola pikir keagamaan para teroris yang seakan membela Islam, tapi kenyataan di lapangan justru merusak nama Islam, bahkan mengkhianati firman Tuhan. Pemikiran demikian biasanya memperoleh respek dari kelompok Islam radikal atau Muslim garis keras. Suka atau tidak suka, pemikiran keagamaan, yang terlalu tekstual, sering menjadi pilihan utama dalam melakukan tindakan.
Adalah ustadz Ba’asyir, seorang ulama yang namanya cukup mengemuka dalam masalah tersebut. Karena pikiran-pikirannya yang radikal dan keras. Ba’asyir menggulirkan semangat jihad, untuk menghadapi “teroris” yang sebenarnya, yakni Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya. Stigmatisasi Islam, dengan menyebut “Islam militant”, “Islam garis keras”, “Islam fundamentalis”, seakan berada di balik aksi-aksi teror, seperti peledkan WTC 11 September 2001 dan Bom Bali 12 Oktober 2002 . Pernyataan Ba’asyir melalui berbagai media seperti ini, dengan segala argumentasinya, seakan menjadi racikan yang layak ditelan begitu saja. Sampai mereka yang setuju atas pandangan tersebut, siap menjadi martir “demi agama”.
Diantara pikirannya yang ia tulis, adalah yang berjudul Catatan dari Penjara untuk mengamalkan dan menegakkan Dinul Islam (2006). Uraian dalam buku ini meliputi: masalah bagaimana menegakkan Dinul Islam, seperti:
a. Berdemokrasi adalah perbuatan Kufur Akbar, dan sistem Parlemen (MPR) adalah musyrik;
b. Kedaulatan Mutlak hanya ada di tangan Allah;
c. Muamalah wajib bersih dari adat istiadat jahiliyah;
d. Orang Islam wajib menegakkan Dinul Islam, yakni menjalankan hidup menurut tuntunan Tuhan, dan harus secara kaffah;
e. Pemimpin yang mengeluarkan rakyatnya dari cahaya iman adalah Toghut;
f. Umat Islam wajib bertahkim, hukumnya adalah fardlu a’in, yakni menegakkan hukum Islam;
g. Pengamalan Dinul Islam secara berjamaah maksudnya adalah dengan kekuasaan politik secara Khilafah;
h. Ancaman dikenakan kepada orang Islam yang sengaja mengamalkan syariat Islam secara sepotong-sepotong;
i. Berjihad adalah wajib dalam rangka bertahkim untuk menegakkan Dinul Islam;
j. Bunuh diri ( istisyhaad) boleh dilakukan asal dilaksanakan untuk menyerbu ke tengah-tengah musuh sendirian, meski dalam keyakinannya ia akan mati. Namun istisyhaad hendaknya dengan perhitungan: menguntungkan perjuangan dan menaikkan keberanian serta semangat jihad kaum Muslimin, serta membawa kerugian musuh-musuh Islam (kafir harby) dan menjatuhkan mental dan semangat keberanian mereka.
k. Wajib Bertahkim bagi setiap orang Islam, yakni menegakkan hukum Islam di tengah masyarakat.
l. Bernegara dengan mengikuti penguasa yang tidak menegakkan syariat Islam hukumnya musyrik .
Untuk setiap pasal dalam buku tersebut, Ba’asyir menggunakan argumen dengan referensi Al Qur’an dan Hadits Nabi. Namun tafsiran Ba’asyir hanya mengikuti prinsipnya sendiri. Tidak memberi ruang sedikitpun bagi tafsiran yang berbeda dari dirinya. Bandingkan dengan pikiran Naquib al Atas, seperti dikutip Ziauddin Sardar, tentang term yang sama, yakni pemaknaan kata din dalam Islam. Din bisa diikhtisarkan menjadi empat signifikansi primer: hutang (indebtedness); kekuasaan yang bijaksana (judious power), dan kecenderungan alamiah atau fitrah (natural inclination). Berdasar empat komponen, menjadikan Islam adalah sebagai suatu sistem sosial dan etika “alamiah” .
Adalah seorang Al Ustadz Abu Karim Fatullah yang kemudian memberikan bahasan secara kritis atas seluruh pemikiran Ba’asyir yang dianggapnya kontroversial tersebut. Ustadz Fatullah menuangkan hasil pemikirannya dalam buku yang berjudul Kekeliruan Pemikiran Abu Bakar Ba’asyir (2006). Fatullah membahas pasal demi pasal uraian Ba’asyir untuk kemudian ia kritisi dengan menggunakan rujukan (yang juga) berdasar Kitab suci Al Qur’an dan Hadits Nabi. Menurutnya, Ba’asyir dalam memahami tuntunan Islam sangat tekstualis. Tanpa melihat konteks historis (asbab an nuzul dan asbab al wurud), dengan latarbelakang sosial yang melingkupinya. Memahami dengan metode yang benar dalam mendekati sumber-sumber ajaran Islam sangat menentukan bagi kemajuan umat Islam. Pemahaman Islam secara tekstual jelas bukan solusi atas keterpurukan Islam selama ini .
Sementara Ba’asyir dalam pikiran-pikirannya itu juga tidak mau melihat masyarakat dalam konteks keragaman (puralitas). Bahwa hidupnya masyarakat Indonesia, secara kultural terdiri dari berbagai suku dan agama. Ada perbedaan cara pandang antar kelompok, yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama atau sebaliknya, ada perbedaan cara pandang keagamaan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya. Dalam satu agama saja, terdapat beragam pendapat terhadap satu persoalan. Sesuai prinsip dalam Islam sendiri, yang “tidak ada paksaan dalam agama”, maka tidak mungkin ada pemaksaan untuk mengikuti hanya satu pandangan. Keragaman juga terjadi dalam tingkat pengetahuan. Khususnya menyangkut masalah pengetahuan agama. Perbedaan tingkatan itu, terefleksi juga pada cara mengamalkan tuntunan agama. Maka orang yang masih dalam taraf belajar, atau awam atau tidak cukup pengetahuan terhadap sesuatu masalah, tidak bisa dipaksakan harus sama pengamalannya dengan orang yang pengetahuan agamanya relatif lebih sempurna. Cara pengamalan keberagaaan menjadi berbeda-beda, meski banyak juga persamaannya antar kelompok.
Itu adalah fakta. Di sana ada Hak Allah untuk menilai, seberapa sempurna pengamalan agama itu. Ini juga karena agama adalah persoalan spiritual, yang sekali lagi, tidak bisa dinilai oleh sesama manusia, karena spiritualitas itu ada dalam tataran paling dalam. Maka apa yang akan terjadi dengan memaksakan penegakan atas hukum Islam (Dinul Islam) itu. Siapa yang memiliki otoritas untuk menjadi penguasa atas dasar Islam, yang terjamin tidak akan mengundang perbedaan opini di kalangan umat. Jawabannya sangat sulit, karena sosok pemimpin, siapapun orangnya tidak akan terlahir, kalau dipilih tanpa melalui proses demokrasi.
Terlepas dari persoalan tersebut, bagaimanapun pemikiran-pemikiran radikal sebagaimana yang keluar dari Ba’asyir, Abdullah Azzam dan Abu Musab Al Suri. Telah dijadikan rujukan penting bagi para teroris. Argumentasi yang disampaikan, sedikit banyak telah dijadikan sumber acuan bagi gerakan-gerakan terorisme.
Khususnya kelompok teroris di Indonesia, tampak hanya mengambil semangat “jihad”nya ke Indonesia, setelah belajar dari Afganistan. Mereka tidak membedakan, secara kontekstual, antara Afganistan dan Indonesia, jelas berbeda. Di Afganistan barangkali sedikit bisa dimaklumi, kondisi negaranya yang terus berhadapan dengan intervensi asing. Sementara di Indonesia, kehidupan masyarakatnya adem ayem, dalam arti tidak sedang dalam peperangan atau berhadapan dengan musuh yang sedang menyerang.
Melakukan teror dalam rangka “melawan musuh” dengan cara meledakkan Bom bunuh diri, sebagaimana terjadi pada peristiwa Bom Bali, “Bom Mariot” dan pengeboman di tempat-tempat lain, jelas sulit dimengerti. Dalam kasus-kasus seperti itu, semakin tidak jelas, siapa yang dipandang sebagai “musuh Islam” itu. Siapa pula yang dianggap sebagai kawan sesama Muslim. Karena akibat dari pengeboman itu adalah warga teracak, ada turis asing, ada warga biasa yang diantaranya bagian dari umat Islam. Ormas keagamaan di Indonesia, seperti Majelis Ulama dari tingkat Pusat hingga tingkat Kabupaten/Kota, Nahdlatull Ulama dan Muhammadiyah, serta Ormas besar lainnya, hampir tidak ada yang mendukung ideologi teroris. Penggunaan agama sebagai acuan dalam tindakan terorisme adalah sangat menodai agama itu sendiri.
Tidak juga kepada Imam Samudra, yang menulis buku Aku Melawan Teroris, yang memperlihatkan bagaimana terorisme sebetulnya sudah memperoleh pembenaran dalam keyakinan agamanya. Dengan menulis dan menerbitkan bku itu seakan ia meneguhkan sebuah keyakinan bahwa terorisme adalah cara terbaik yang harus dilakukan, untuk melawan terorisme (global). Inilah yang menunjukkan bahwa terorisme sudah menjadi ideologi.
Menurut Juwono Sudarsono, dengan mengutip pendapat Prof. Woorward, ideologi terorisme yang mendasarkan keyakinan dan agama, belakangan ini banyak muncul di tengah kehidupan manusia modern yang kehilangan jiwa dan hatinurani. Terorisme macam inilah yang amat bahaya, karena gerakannya bisa berkedok membela agama dan menjaga kesucian nama tuhan. Dengan landasan inilah maka terorisme tumbuh menjadi ideologi. Dan tumbuhnya ideologi terorisme selalu beriringan dengan tindakan kekerasan, yang intensitas dan kecanggihannya semakin lama semakin besar .
Tulisan ini hanya ingin menegaskan adanya pola pandang keagamaan pada sebagian penganut Islam, yang selama ini masih memprihatinkan. Yaitu cara menafsirkan firman Tuhan yang justru berlawanan dengan missi agama Tuhan. Ada identifikasi terhadap “siapa kawan dan siapa lawan” yang tidak bisa dipertanggungjawabkan menurut ajaran agama, dan menurut akal sehat. Kesalahan pandangan itu telah menciptakan berbagai benuk tindakan, dengan mengesyahkan kekerasan dan membunuh saudara-saudara seagama, sewarga bangsa, dan sesama manusia yang tidak berdosa.
Daftar Pustaka
Alam, Rudy Harisyah, “Studi berbasis Media Tentang Pola Konflik Keagamaan di Provinsi Banten “, dalam: Afif HM. (Ed.), 2010, Pemetaan Kerukunan Umat Beragama di Banten, Balai Litbang Agama Jakarta.
_________________, “Asia Tengah sebagai Basis Perlawanan Islam Global di Masa Depan”, makalah disampaikan pada acara Workshop Keagamaan Kontemporer di Indonesia yang diselenggarakan Balai Litbang Agama Jakarta, Hotel Horison Bekasi, 14-16 Juni 2011

Azca, Muhammad Najib,“Pascajihad”: Tilikan Biografis. (http://majalah.tempointeraktif. com).
Ardison Muhammad, 2010, Terorisme: Ideologi penebar Ketakutan, Penerbit Iris.
Irfan S. Awwas, 2008, Jejak Jihad M. Kartosuwiryo, Uswah, Yogyakarta.
Ba’asyir, Abu Bakar, 2006, Catatan dari Penjara untuk Mengamalkan dan Menegakkan Dinul Islam, Penerbit Mushaf, Depok. Cet. I
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), 2011, Draft Cetak Biru Program Nasional Pencegahan Radikal Terorisme.
Barito, Saiful Rahman, “Seruan Jihad Abullah Azzam”, Makalah disampaikan pada acara Workshop Keagamaan Kontemporer di Indonesia yang diselenggarakan Balai Litbang Agama Jakarta, Hotel Horison Bekasi, 14-16 Juni 2011
Chircin, Muhammad, MA, DR., 2005, Penafsiran Rasyid Ridha dan Sayyid Qutub tentang Jihad, 2005, Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Departemen Agama.
Sudarsono, Juwono , 2011, “Kata Pengantar: Terorisme Musuh Bersama Umat Manusia”, dalam: M. Bambang Pranowo, Orang Jawa Jadi Teroris, Alvabet