Dari Marzani Anwar

Belakangan ini telah terbit beberapa Risalah Komunitas Eden, dan tidak terhitung, nama saya disebut-sebut. Melalui kesempatan ini, pertama-tama saya sampaikan terimakasih dan rasa hormat kami, atas besarnya perhatian terhadap diri saya. Melalui kesempatan ini pula, perkenankan saya menyampaikan beberapa hal, menanggapi risalah-risalah tersebut.

Sudah yang kesekian kalinya Eden memakai ayat al Qur’an untuk menjustifikasi, sampai dengan ancaman atas perbuatan dosa manusia. Artinya, bahwa meski Eden sudah menghapus agama Islam, tetapi masih menyandarkan ayat-ayat suci dari Al Qur’an untuk rujukan amalnya. Hanyasaja sangat disayangkan, ayat-ayat yang dipilih hanya sebatas yang pas dengan sepakterjangnya sendiri. Perintah Allah yang lain yang juga ada di Al Qur’an kok ditinggalkan. Diantaranya ayat Al Qur’an yang berbunyi “ Hari ini telah kusempurnakan agamamu dan Kuridhai Islam menjadi agamamu” (QS Al Maidah/5: 3).

Lia eden tidak pernah mau mengakui , bahwa ia telah menghapus Al Qur’an, padahal jelas telah menghapus Islam. Orang ber- Islam itu ada karena mereka menjalankan petunjuk Al Qur’an. Jadi tidak mungkin, kitab sucinya diakui kebenarannya, tapi agama Islamnya dihapus. Perhatikan firman Allah berikut: “Dan Kami turunkan Al Qur’an sebagai suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang orang yang beriman , dan Al Qur’an itu tidaklah menambah (manfaat) kepada orang orang yang zalim kecuali kerugian”. Lihatlah juga QS Yunus/10: 37: “Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam”. “ Dan Kami turunkan Al Qur’an itu dengan sebenar benarnya dan Al Qur’an itu membawa kebenaran” (QS Al Isra/17: 105). “Telah sempurna kalimat Tuhanmu ( Al Qur’an) , sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimatNya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengehaui” ( QS Al An’am/6: 115).

Dalam risalah terakhir di bawah judul Gelar hari Kuasa Tuhan, Lia eden antara lain mejelaskan ancamannya tehadap para pembuat dosa, dengan menggunakan dalil-dalil ayat al Qu’an. Tulisan itu hampir pasti diarahkan utamanya kepada saya. Karena dtuangkan setelah menghujat-hujat saya dan orang-orang yang melawan Eden. Ketika menunjukkan ancama atas dosa manusia, Lia tidak menyebutkan sama sekali, dosa manusia yang meninggalkan shalat, meninggalkan kewajiban berzakat, meninggalkan amalan berbakti kepada orang tua. Seperti misalnya yang dituangkan dalam QS. Lukman/31: 17 : “ Hai anakku,dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu, termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah”. Juga ayat 79 dari surah Al Isra : “…….dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin” (QS Al Fajr/89: 18). Itu hanya secuil perintah Tuhan, yang apabila ditinggalkan maka berdosalah manusia. Tapi bagi Eden meninggalkan perintah Tuhan yang seperti itu bukanlah dosa. Itulah ketidak konsistenan Eden, sok menggunakan ayat suci tapi mengabaikan ayat suci juga, yang sama-sama dari Tuhan.

Eden bersemangat mau menyatukan agama-agama, sementara ia menghapus agama-agama. Masuk akal kah itu. Di satu sisi mengajak “damai” dan bersatu, di sisi lain menghapus-hapus agama.

Saya sebenarnya tidak begitu berminat untuk berpolemik, karena mata hati Lia Eden sudah tertutup. Tidak mau membuka mata dan melihat ada kebenaran di luar dirinya, yang berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Agama “eden” kerjanya hanya mengancam dan mengancam, terhadap siapapun yang mengusik dirinya, serta ajakan bersuci, tidak lebih dari itu. Tidak pernah mengajak umat untuk misalnya peduli pada kemanusiaan, menanggulangi kenakalan remaja, membantu korban bencana alam, membantu kaum dhuafa, menyantuni kaum papa, berbakti kepada orang tua dan sebagainya. Agama macam apa ini.

Bagaimana orang bisa percaya kalau segala sesuatu yang Eden sampaikan itu isinya banyak kebohongan. Padahal kalau risalah Eden itu adalah kebenaran dari Tuhan, tidak mungkin ada kebohongan. Fakta kebohongan yang saya uraikan dalam beberapa artikel saya terdahulu melalui milis kompasiana.com adalah berdasarkan fakta, dan atas hasil penelitian saya beberapa tahun penelitian di komunitas Eden.

Sementara Eden dalam beberapa risalahnya menuduh saya: telah melakukan fitnah dan menghasut. Padahal sejak awal justru saya yang menawarkan perlunya “diskusi” melalui tulisan di media, agar tidak terjadi kekerasan atau pemaksaan kehendak. Surat terbuka saya mengkritisi risalah Eden pun pernah saya sampaikan via email, namun tak berjawab sama sekali. Namun yang datang dari Eden adalah tuduhan bahwa saya telah menfitnah dan menghasut.
Masyarakat kami persilahkan menilai, siapa yang sebenarnya menghasut dan pemfitnah itu.

Urusan eden menjadi urusan negara, karena telah terjadinya penganiayaan terhadap warga , yang anggota keluarganya masuk Eden. Mereka tidak beda dengan pengkut Gafatar, meninggalkan keluarga, dan menetap di Jl. Mahoni 30 Jakpus. Selama di rumah itu, ia sibuk dengan urusan Eden, dan melupakan tanggungjawab keluarga, entah sebagai isteri, suami, atau oranag tua dari anak-anaknya. Kalo mereka coba-coba pulang untuk mengurusi tanggungjawab keluarganya, oleh pimpinan Eden diultimatum “kamu mau pilih urusan tuhan atau urusan keluarga”. Dalam pandangan Eden, setiap orang, termasuk anggota keluarganya, akan selamat hanya apabila ikut kepercayaan Eden.

Dalam konteks kenegaraan, saya melihat Eden sangat berpotensi memecahbelah keutuhan bangsa dan negara. karena tidak lagi menghormati undang-undang yang berlaku di Negara RI. Eden tak lagi mengakui eksistensi kekuasaan Negara, selama kepala negara tidak mau mempercayai kehadiran Lia Eden sebagai Ruhul Kudus.

Segala yang kami lakukan terhadap Eden selama ini berpijak pada prosedur yang diatur negara. Masalah yang menyangkut pelanggaran hukum kami laporkan kepada Polisi; masalah yang menyangkut pelanggaran perlindungan kepada anak-anak kami laporkan kepada KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), dan masalah yang berkaitan dengan penodaan Agama (Islam) kami laporkan kepada MUI. Laporan-laporaan itu kami buat karena saya tidak ingin terjadi kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Maaf, ajakan Eden untuk mubahalah dengan saya, sementara saya abaikan, karena hal itu lebih pada urusan pribadi, dan tidak akan ada dampaknya pada Negara.

Demikian release saya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.