Marzani Anwar

Istilah reinkarnasi dalam persoalan agama selama ini memang hanya ada di komunitas Eden selain pada agama Hindu dan Buddha. Kira-kira menyangkut suatu kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu.

Di komunitas Eden, kepercayaan adanya reinkarnasi itu telah menjadi bagian pentimg dalam ajarannya, bahwa seseorang itu adalah reinkarnasi dari ruh orang lain yang hidup terdahulu, bahkan dalam hitungan ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Maka di Eden dikenal penyebutan seseorang yang dinisbatkan dengan tokoh tertentu pada zamannya. Misalnya Zaenab Luxfiarti adalah ruhnya Dewi Tan Im, Abdul Rachman adalah reinkarnasi Nabi Muhammad, dan Lia Eden sendiri adalah reinkarnasi Bunda Maria, dst. Bahkan orang-orang tertentu di luar Eden sering dinisbatkan menyandang ruhnya orang lain, misalnya Akbar Tanjung pernah disebut-sebut sebagai ruhnya Pangeran Dponegoro.

Kali ini, giliran saya, Marzani Anwar, yang disebut sebagai reinkarnasi Imam Agung Kayafas yang mengeksekusi penyaliban atas Yesus dan sekaligus juga adalah reinkarnasi Bishop Pierre Cauchon yang berperan besar dalam eksekusi mati terhadap Joan of Arc dengan cara dibakar hidup-hidup. Tidak tahu kenapa saya dinisbatkan dengan ruh dari sosok orag sejahat itu.

Tak ada kepedulian saya tentang masalah reinkarnasi. Percaturan tentang itu adalah urusan komunitas Eden sendiri dengan tuhannya. Yang saya pertanggungjawabkan kepada Tuhan (Allah SWT), yaitu amalan saya, kebajikan saya, dosa-dosa saya dalam menjalani hidup di dunia. Itulah yang diajarkan oleh Tuhan Allah, Penguasa Alam Semesta. Yang telah mengutus Muhammad sebagai Rasul dan Nabi terakhir. Membawa kitab Suci Al Qur’an yang saya yakini benar adanya.

Tuduhan Eden bahwa saya adalah reinkarnasi duaa penjahat kelas dunia tersebut, bagi mereka, tuduhan itu tidak main-main. Mungkin karena saya adalah orangnya yang paling banyak mengkritisi Eden, dan telah terbiasa dituduh sebagai penghasut dan pemfitnah oleh mereka. Oleh karena itu saya dikutuk dengan menempatkan ruh jahat tersebut pada diri saya. Ajakan mubahalah menjadi pilihan satu-satunya untuk menguji kebenaran atas perkara reinkarnasinya. Saya tetap abai terhadap ajakan mubahalah, karena tidak ada “kamus reinkarnasi” dalam hidup saya dan tidak ada “permainan ruh-ruh” seperti dalam keyakinan. Bisa-bisa ajakan mubahalah itu, akan dijadikan perangkap untuk menunai penyamaan persepsi tentang reinkarnasi, menjadi seakan benar adaanya.

Saya tak lebih dari seorang hamba Allah, yang terlalu kecil, hina, dan tak punya kekuatan apa-apa dan banyak dosa. Dalam keyakinan saya, hanya Allah tempat kami berpasarh diri, dan hanya kepadaNya kami bergantung. Maka saya ikhlas dengan segala resikonya atas keyakinan saya itu.

Kalau komunitas Eden memandang bahwa saya adalah orangnya yang layak dihukum atau dimusnahkan, karena menentang kehendak tuhan Anda, ya silahkan.

Asal tahu saja, bahwa kepercayaan anda tentang adanya reinkarnasi dengan menempatkan ruh-ruh orang terdahulu kedalam sosok manusia sekarang, tak lebih dari sebuah retorika pergumulan Lia Eden dalam mengendalikan para pengikutnya. Dan itu, menurut saya, bagian dari bukti kesesatan komunitas Eden. Bagaimana tidak sesat, kalau dalam tubuh satu orang tereinkarnasi berganti-ganti, sesuai “selera” sang pimpinan kelompok. Contohnya, Muqy Day yang kebetulan putera Ibu Lia Eden, pada dirinya ditempati ruhnya Nabi Muhammad. Dengan penempatam itu tentu Lia berharap ia akan menjadi manusia panutan umat manusia akhir zaman. Ternyata ia sendiri tidak suka. Kemudian itu “ruh” diberikan ke Abdul Rachman, yang kini bergelar Imam Mahdi. Lain lagi dengan Mukti Day, yang juga putra Lia Eden, dinisbatkan dengan ruh Yesus. Maksudnya tentu agar menjadi tokoh penyelamat umat mannusia akhir zaman. Tapi malah tidak karuan juntrungannya. Ia tidak siap menjadi messias seperti yang diharapkan sang Ibundanya, Lia Eden sendiri. Bagaimana tuhan eden bisa “kecolongan” seperti itu. Sementara Elfa, ketika masuk Eden, diangkat ruhnya sebagai “anak tuhan”, kemudian diangkat lagi menjadi “malaikat penjaga surga”, dan terakhir ia adalah reinkarnasi Simon Petrus. Bagi Anda yang belum tahu, tokoh Simon Petrus adalah pengikut setia Nabi Isa alias Yesus, yang oleh Eden, digambarkan, akan menjadi tokoh yang dinantikan oleh banyak orang diakhir zaman. Sementara ruh orang ini oleh Eden pernah disusupkan ke Saefuddin Simon, seorang anggotanya yang kini sudah keluar dari komunitas. Banyak lagi, temen-temen anggota Eden, yang mengalami “gonta ganti ruh ” seperti itu. Belum lagi yang sekedar dinisbatkan dengan kondisi fisik yang bersangkutan. Seperti Wowiek yang pernah dinisbatkan dengan ruhnya nabi Ayub, gara-gara ia menderita sakit berat. Dengan cara begitu, menjadi seolah olah penempatan ruh pada sosok tertentu itu benar adanya.

Sekali lagi,saya tak peduli dengan penisbatan komunitas Eden sebagai reinkarnasi Imam Agung Kayafas atau tokoh penjahat manapun atas diri saya. Karena saya hanya takut kepada Allah. Dan hanya kepadaNya saya pertanggungjawabkan semua amal perbuatan saya selama di dunia.