Marzani Anwar
Maklumat Eden yang dikeluarkan di bulan Februari 2016 berisi permintaan kepada MUI untuk menganulir fatwa MUI Kep-768/MUI/XII/1997 tentang ajaran eden yang sesat dan menyesatkan. Sementara Eden sendiri telah beberapa kali menegaskan penghapusan Islam. Dengan menghapus Islam berarti ia telah tidak Islam lagi. Telah punya agama sendiri, dan berhak mengatur agamanya sendiri. Kalau MUI menfatwakan “sesat dan menyesatkan” atas Eden, itu sama-mata untuk melindungi umat Islam. Buat apa lagi, Eden minta berurusan dengan MUI.
Menjawab permasalahan yang saya ajukan, tentang penegasan di kitab Suci Al Quran, Surat Al-Maidah ayat 3: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu Nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Eden menyatakan bahwa ayat itu sebagai Deklarasi Tuhan bahwa telah tercukupkannya pewahyuan kepada Nabi Muhammad pada saat itu, telah lengkap seluruh Kewahyuan untuk Nabi Muhammad disampaikan Tuhan, sebagai tanda bahwa masa Kerasulan Nabi Muhammad telah hampir selesai. Maksud Eden, masih terbuka pewahyuan Tuhan pada era pasca Muhammad.
Eden lupa, bahwa ayat-ayat Qur’an itu berlaku abadi, untuk sepanjang masa. Hanya untuk kasus tertentu, yang sifatnya temporal. Maka apakah tepat, kalau ayat di surah Al Maidah 3 itu ditafsir dengan seenaknya sendiri, seakan hanya berlaku pada saat Nabi Muhammad mengakhiri perjuangan dakwahnya. Ayat itu justru menjadi penegas keberadaan malaikat Jibril yang sesungguhnya, yang menyampaikan pesan penting dari Allah kepada Rasulullah SAW., Bukan malaikat yang datang tiba-tiba dan mewahyukan “penghapusan Islam”. Tapi yang dibawakan Muhammad, sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Mengayomi umat manusia sampai akhir zaman. Maka menjadi pertanyaan besar, kalau kini ada orang yang mengaku-aku pendamping malaikat Jibril dan berkewenangan menghapus Islam.
Secara pribadi, saya tak menafikan kemungkinan Tuhan berwahyu kapanpun dan kepada siapapun, kepada hamba yang dipilihNya, mungkin berupa inspire atau bisikan suci dalam rangka memperbaiki umat manusia. Tapi bahasa Tuhan itu pastilah yang bisa diuji kebenarannya dan kesuciannya. Bukan pewahyuan yang menghamburkan kebohongan dibalik ungkapan-ungkapannya yang indah dan tampak menawan. Jadi tidak mudah untuk mengakui klaim kewahyuan yang diatasnamakan Tuhan.
Sudah terlalu banyak orang-orang yang mengaku mendapat wahyu dan seakan Tuhan menugaskan dirinya menjadi penyelemat dunia di akhir zaman. Tapi ujung-ujungnya hanya mengobral ramalan di sekitaran akan datangnya hari kiamat. Orientasi teologinya lebih pada bangunan egoisme kelompoknya. Tak peduli dengan persoalan kemanusiaan, persoalan kerusakan moral, dan tidak juga memahami persoalan keilahian dalam arti yang sebenar-benarnya.
Eden menegaskan bahwa wahyu yang diterimanya sejak awal hingga kini, tak pernah bergeser, yakni perjuangan anti kemusyrikan dan menegakkan ketauhidan. Ternyata yang dimaksud dengan kemusyrikan itu adalah bangunan ilusinya sendiri tentang kepercayaan terhadap kekuasaan atau kekuatan Nyi Roro Kidul. Sementara bangsa Ini, sudah lama meninggalkan mitos seperti itu, kecuali untuk beberapa orang, dan itu juga bersifat kasual. Tapi Eden mendramatisir sedemikian rupa, seakan pemerintah yang berkuasa saat ini menggunakan kekuatan ratu laut selatan tersebut.
Eden dalam mengajak orang untuk mempercayai risalahnya tampak membutakan hatinya, terhadap kenyataan umat yang dihadapi. Bahwa setiap jiwa, yang hidup di dunia ini, terutama yang sudah mengaku Muslim, adalah mereka yang sudah bertauhid, dan telah anti kemusyrikan. Serendah apapun kadar keberimanan itu, mereka punya komitmen moral tentang ketauhidan tersebut. Namun Eden seakan menjadi pahlawan sendiri untuk memeperjuangkan hal itu.
Eden dengan wahyu-wahyunya, mengkalim dirinya sebagai rasul yang didampingi malaikat Jibril. Ia menyetarakan diri dengan para Nabi dan Rasul Allah terdahulu. Tapi tidak mau melihat siapa yang dihadapi para Rasul tersebut ketika Nabi-nabi itu mulai dakwah. Mereka yang dihadapi adalah betul-betul kalangan penentang Allah. Seperti nabi Ibrahim, umatnya jelas kaum penyembah berhala; nabi Musa umatnya penyembah raja Fira’uan; nabi Isa umatnya jelas kaum penyembah matahari, dan nabi Muhammad dengan umatnya kaum Jahiliyah. Tapi “rasul Eden” ? , alangkah naifnya kalau menganggap umat yang sekarang ini adalah umat seburuk itu.
Apa yang terlihat di depan mata saya, ketika seseorang masuk Eden , melalui proses pensucian. Sejak prosesi itu terjadi, prinsip ‘bertauhid dan anti kemusyrikan itu mereka tinggalkan”. Berganti dengan pembelokan aqidah yang luar biasa. Ia tinggalkan agama Islam. Semua ajaran Muhammad SAW harus ditinggalkan. Padahal, fondasi keberislaman itu adalah ketauhidan, dan pengakuan pada kerasulan Muhammad.. Pensucian yang hanya berlangsung dalam tempo semalam, telah membuat kaum eden jadi keluar dari Islam. Mereka, yang kebanyakan beragama Islam, langsung neninggalkan kewajiban shalat, dan tinggal menetap di rumah Eden. Sang isteri dan anak-anak yang sudah taat menjalankan ibadah shalat dan kesalehan lainnya, diajak tinggalkan itu semua, dan justru diultimatum “kalau ingin selamat, agar mengikuti jejaknya, yakni tinggal di rumah eden dan ikut pensucian”. Hilangnya rasa kasih sayang kepada anak isteri dan orang tua justru ketika ia telah menjadi orang yang “sudah disucikan” seperti itu.
Sang anggota barau Eden telah meninggalkan isterinya, ibunya, ayahandanya, dan famili besarnya. Mereka hanya bisa menangis, sepanjang hari dan sepanjang malam. Hatinya tercabik-cabik, karena tidak mengira sama sekali ia berkeputusan seperti itu. Sementara yang bersangkutan tenang-tenang saja di Mahoni 30, seakan tidak terjadi apa-apa dalam keluarganya. Ketika sang anggota eden itu datang ke rumah isterinya, tujuannya bukan melepas kasih sayangnya, tapi hanya ingin menegaskan pendiriannya tentang keyakinan barunya. Tidak merasa ada masalah yang harus dicari solusinya. Ia datang ketika derita sang isteri tak tertahankan. Satu-satunya cara menghadapi suami, sang isteri hanya dengan menutup pintu kamar rumahnya rapat-rapat. Karena hanya itulah “bahasa seorang wanita”. Si Eden itu datang di rumahnya yang Jakarta, (karena ia punya dua rumah), ternyata pintu rumah dalam keadaan digembok oleh ibu mertua. Kemudian ia mengambil gambar pintu yang tergembok, dan kemudian gambar itulah yang dijadikan alasan bahwa “isteri menolak untuk ditemui” dan sekaligus dijadikan alasan untuk mengelak dari tanggungjawab sebagai suami. Tanpa melihat, bahwa dalam keluarganya sedang menghadapi masalah berat dengan perubahan drastis yang dilakukannya. Betapa pedih seluruh isi rumah, dan melebar ke keluarga besar, karena ulah sang anggota baru Eden, yang telah disulap oleh doktrin tak berperikemanusiaan itu.
Kondisi demikian bukannya dicarikan solusi, tapi yang muncul melalui website komunitas eden, yang bersangkutan menegaskan bahwa, “saya sudah bersumpah dengan Tuhan untuk tetap di Eden”. Tetap tinggal di Eden maksudnya juga tinggal di rumah Jl Mahoni 30 Jakpus. Tidak akan pulang ke rumah orang tua maupun rumah keluarga di mana isteri dan anak-anaknya merindukan kasih sayangnya. Penegasan berikutnya, bahkan disebar melalui media sosial Eden, bahwa “seluruh gaji yang bersangkutan akan digunakan seluruhnyab untuk eden”. Sebagaimana juga pengalaman orang-orang yang sebelumnya, yang masuk Eden, meyakini bahwa “urusan Eden adalah urusan Tuhan, dan di luar itu bukan urusan Tuhan”. Begitulah keyakinan yang ditanamkan oleh eden ke mereka-mereka itu.
Naudzubillah, ini baru di tataran kemanusiaan, agama Eden sudah sedemikian garangnya. Maka kasus pemaksaan saya untuk mengambil seorang anggota yang masuk Eden, kalau itu dianggap kekerasan, bukan apa-apanya dibanding kekerasan cara eden yang telah membuat kepedihan sang isteri dan keluarganya.
Derita keluarga sebagai akibat dari anggotanya yang masuk Eden, telah dialami oleh banyak orang. Setiap ada anggotanya yang menghadapi masalah dalam keluarganya, gara-gara ia masuk Eden, selalu saja diultimatum “pilih kepentingan Tuhan atau kepentingan keluarga”. Dari ini juga mengapa Bpk. Sudiyono (alm) ayahanda Mbak Sudiarti, isteri Abdul Rachman, pernah mengadu ke saya kala itu, minta tolong atas kekesalan sebagai orang tua dan bahkan keputus asaan karena ditinggal anaknya untuk menetap di Eden. Sampai ketika ia menderita sakit sudah semakin parah, ia berwasiat, “kalau aku mati jangan ada anak-cucuku yang di Eden menyentuh mayat saya”. Saya tak hendak memperpanjang kisah-kisah keluarga seperti ini (maaf , aku benar-benar tidak kuat menahan tangis saya sambil menulis ini).
Kondisi yang sungguh memilukan demikian, di mata orang Eden, tampaknya justru dijadikan kebanggaan sebagai “keberhasilan dalam uji kesetiaan pada tuhannya”. Kekejaman Eden, dengan dalih memihak “kepentingan tuhan” seperti itu, menjadi tanda kemenangannya.
Sejumlah cendekiawan dan seniman besar, memang benar pernah mengampiri Eden. Juga saya sendiri, benar sebagaimana yang anda sebut-sebut, bahwa mereka semula tertarik untuk melihat ada “kebenarankah di sana”. Tapi apa yang terjadi. Diakui, bahwa ada pesan-pesan yang spektakuler di Eden, menyangkut keadaan umat manusia, dan cara bagaimana mengatasi. Kami berprasangka baik, waktu itu, dan siapa tahu pesan itu memang dari langit. Tapi semakin dekat ke Eden, semakin terlihat juga pesan-pesan yang berisi ramalan-ramalan kosong.
Apakah orang yang dibohongi itu gagal melihat kebenaran, ataukah kaum eden, sendiri yang justru gagal memperlihatkan bukti kebenarannya. Pandangan positif para cendekiawan dan seniman itu pun lambat laun luntur karenanya. Karena tidak mungkin wahyu Tuhan itu memberitakan kebohongan. Seperti janji tentang malaikat Jibril yang akan turun dalam ujud manusia di Kemayoran, Jibril mau menjilma menjadi manusia di tengah pengadilan Lia Eden di bulan Maret 2009 waktu itu.
Wajar sajalah kalau teman-teman yang sudah bertahun-tahun di Eden, berkeputusan chek out dari “surga eden” Mahoni. Seperti Satya, Suad, Zaitun, Aun, Aar, Simon, Fadly, Andito. Yang disebut terakhir ini tentu manusia suci karena menjadi penulis lembar-lembar Risalah Eden, namun justru semakin menjauhi. Kurang apa gagahnya mereka-mereka ketika menangkis tuduhan-tuduhan sesat dari luar, dan buku-buku tulisannya, yang mereka terbitkan telah cukup membahana membela paham Eden. Sampai pada anak-anak sang ruhul kudus, seperti Muqy Day, Mukti Day, dengan alasan masing-masing, yang kalau saya beberkan di sini, akan menghabiskan banyak halaman dan melelahkan. Belum lagi Kisah Bpk Aminuddin Day, yang awalnya oleh Ruhul Kudus diangkat sebagai ruhnya Nabi Adam, kini telah berbalik menuduh Lia itu ruhnya Iblis. Mereka-mereka yang kini menjauhi bukanlah manusia-manusia radikal dan sangar. Dan aku melihat sendiri bagaimana taqarubnya pak Aminuddin sekarang kepada Allah, setelah melewati penyesalan yang dalam karena telah mengikuti paham yang sesat. Belum lagi Aun, yang balik membenci sang ibundanya, karena banyak dikhianati ibunya sndiri, meski bergelar orang suci (ruhul kudus) tapi, Ibu kerjanya morotin uang sang anak. Menjadilah kini Lia sebagai sosok ibu yang tak lagi peduli pada nasib anak-anaknya. Bahkan status rumah Mahoni yang dideklar sebagai “surga” ternyata adalah tanah yang disengketakan dengan sang suami
eden boleh berkilah, bahwa mereka yang saya sebut itu adalah orang-orang yang gagal menjalani atau menuntaskan pensucian. Dan dari eden pula teberitakan, bahwa mereka yang telah melewai ujian ke ujian pensucian itu adalah yang memilih hidup di surga Tuhan. Kalau benar demikian, surga yang luasnya seluas bumi dan langit, itu milik siapa. Apakah terjatahkan hanya untuk orang-orang, tersebut yang sudah berhasil melewati uji kesucian, sebagaimana yang anda utarakan. Alangkah naifnya, kemahabesaran Allah yang telah menjanjikan surga seluas bumi dan langit.
dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, ( QS Ali Imran/3:133).

Para cendekiawan dan mereka-mereka yang kau sebut orang-orang yang gagal pensucian, itu bukanlah kalangan orang-orang penentang Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang selama ini membina ketauhidan yang nyata. Mereka berasal dari kalangan yang taat beribadah mendekatkan diri, merebahkan diri di hadapan Yang Maa Suci, mendidik putra-putrinya menjadi anak yang saleh, menjauhi kemusyrikan, kekufuran, dan sebagainya. Mereka adalah yang oleh Allah dijanjikan “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggalnya” (QS Al Kahfi/18: 107).
Telepas dari tingkat keberimanan dan kesalehan setiap diri manusia, dan memang tak ada manusia yang sempurna, dihadapan Ilahi Rabbi. Dosa-dosa yang masih banyak melekat dalam dirinya, dan oleh karena itu dalam setiap shalat selalu baca ucapan rabbighfirli….. warhamni. Orang-orang yang setia kepada Allah seperi ini, telah kau nistakan, atasnama kesucian dan atasnama tuhan.
Kau (Eden) mengajak meninggalkan shalat, padahal tidak ada kewahyuan baru yang menasakh (menghapus ) perintah Al Qur’an tentang shalat itu.
Kau tinggalkan ibadah berzakat, padahal kewahyuan sesudah Al Qur’an belum pernah menasakh perintah itu.
Kau tinggalkan ibadah puasa, padahal belum pernah ada pewahyuan pasca Al Qur’an itu yang menasakh ayat pewajiban puasa.
Kau tinggalkan perintah berbakti kepada orang tua, padahal belum pernah ada pewahyuan setelah Al Qur’an itu yang menghapus perintah tersebut.

(Kalau setiap perintah Tuhan yang ada di dalam Qur’an itu dan yang belum pernah ada pewahyuan yang menasakh, saya tulis di sini, akan membutuhkan berpulu-puluh halaman lagi.
Menjadi pertanyaan besar, kenapa Eden, paling suka menggunakan ayat Al Qur’an, untuk mendukung pahamnya yang sedang digulirkan. Tapi menafikan ayat-ayat suci yang memerintahkan untuk beribadah.
Menurut eden, ‘Islam’ dalam pengertian yang esensial-lah yang seharusnya menjadi pijakan kaum Muslimin saat ini. Itu tidak menjadi persoalan bagi saya. Tapi dari mana, alasan, ditemukan, bahwa dengan menghayati esensi Islam harus dengan menganulir sistem peribadatan. Terhadap para ahli ibadah, justru Anda tuduh, tidak mengetahui esensi beragama, tak beda dengan kaum radikal. Tak tahukah makna ayat berikut, dari Al Qur’an di S. Al Kahfi/18: 109 yang menyatakan:

Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.

Betapa terbatasnya manusia bisa menguasai ilmuNya, dan hanya dengan keterbatasan itu masing-manusia menjalani ibadah atau mengekspresikan kepasrahannya kepadaNya. Itulah maka manusia harus terus beajar dan belajar menimba ilmu yang Ilahi. Tapi Anda malah sok tahu, mengenai kualitas ibadah orang lain. Termasuk kepada saya, yang dianggap tidak tahu makna hakiki agama, menyombongkan diri kepada Tuhan dan menuduh saya, tidak kenal fitrah diri, itu terserah Anda. (Mudah-mudahan Allah selalu membimbing saya yang memang bodoh ini).
Saya dengan terpaksa meyakini bahwa Tuhan anda dan Tuhan saya berbeda, karena dari Anda sendiri yang merusak konsepi Ketuhanan itu. Maka saya tak ingin mengikuti kehendakmu kalau itu di-akukan berasal dari Tuhan yang saya yakini selama ini. Dengan doktrin Eden, ketika mengultimatum pengikutnya yang bermasalah di keluarganya, bahwa mereka yang tinggal di rumah eden, berarti “memilih kepentingan Tuhan dan pilihan di luar itu bukan kepentingan Tuhan”. Itulah doktrin yang ditanamkan kepada para pengikut Eden. Dari sanalah saya dapat pengetahuan, bahwa tuhan yang dimaksud Eden itu adalah: yang hanya mengurusi kepentingan eden, dengan beberapa umatnya yang tak seberapa itu; yang anda yakini telah pasti keberadaannya oleh mereka yang telah tersucikan di eden; yang suka menghukum orang-orang yang mengusik kepentingan eden, dan yang abadi dengan sifat-sifatNya.
Rangkuman saya itu mungkin saja tidak tepat, tetapi saya hanya menegaskan bahwa “tuhanmu dan Tuhanku memang berbeda”. Adapun Tuhan yang kuyakini Ada-nya adalah:
Yang mencipta alam semesta dengan segenap isinya
Yang berhak dicintai oleh umat yang senantiasa mensyukuri karuniaNya,
yang terbuka didekati hambanya dengan berdzikir memuji kebesaranNya,
yang disembah oleh siapa saja dan di manapun berada
yang akan mengadili perbuatan manusia sesuai amalnya, dan
yang akan membalasi surga bagi manusia atas amal kebajikannya

Eden yang merasa diri sebagai agama damai, menuduh-nuduh Islam yang kacau, dan berpecah-pecah dalam berbagai kelompok. Lihatlah ke dalam dirimu, apa yang kau jaminkan untuk menjaga kekompakanmu. Selama 19 tahun sejak kemunculanmu yang bernama Salamullah, semula berpengikut 80 an orang dan kini tinggal di bawah 30 an orang. Kau boleh bilang “ini hasil seleksi tuhan” atau apa, tapi itu sudah mengindikasikan bahwa, tidak ada jaminan terciptanya kesatuan dalam keberimanan cara Eden. Dengan jumlah yang sedikit, dan otoritas dipegang pada satu orang, memang sebenarnya paling gampang menjaga kekompakan. Tapi apa yang terjadi, adalah pemerosotan anggotanya sendiri. Apalagi kalau anda memandang jauh ke depan, dalam beberapa tahun mendatang, bicaralah bagaimana kalau Lia Eden sudah tidak ada.
Bicara tentang kepengikutan seorang Nabi, tidak bisa dilepaskan adanya kelompok pengikutnya, (yang minoritas) yang punya paham sendiri atau sendiri-sendiri. Diantaranya adalah orang-orang yang mengaku sebagai nabi, yang sekecil apapun pasti punya pengikut. Kemudian mereka membentuk komunitas, dan dengan kekuatan komunitasnya itulah, pada gilirannya akan terjadi pemaksaan kehendak, kepada penguasa atau kepada siapapun yang dianggap tidak taat pada aturannya. Eden juga yang punya pra-konsep tentang surga Eden. Bahwa rumah Jl. Mahoni 30 Jakarta itu adalah surga, dan dalam arti yang sebenarnya. Kemudian karena konsepnya itulah, maka isi surganya, termasuk orang-orang yang di dalamnya direkayasa biar seakan-akan benar adanya, seperti yang ditulis di Qur’an S. Maryam ayat 61-63.
Terlepas dari itu, kata anda “surga dan neraka adalah pilihan, dan Tuhan menyelamatkan mereka yang memilih bersuci di Surga, mengangkatnya ke bumi yang baru dan langit yang baru”. Artinya, orang yang tidak mau masuk eden, berarti memilih neraka atau tidak ingin masuk surga.
Baiklah kalau memang anda sekarang berpaham begitu, bahwa surga Eden adalah seluas planet yang sudah tersedia untuk pendaratan UFO. Telah tersedian kendaraan untuk mengantarkan kaum Eden ke sana. Meski surga itu seluas langit dan bumi, tapi berhubung yang Anda yakini masuk surga adalah orang-orang yang percaya saja sama Eden. Tuhanmu juga yang menyediakan surga hanya untuk orang-orang:
yang disucikan di situ di rumah Jl. Mahoni 30
Yang lebih memilih urusan di eden daripada harus berbakti kepada Orang tua.
Yang memandang bahwa kepentingan negara itu tidak penting,
Yang sibuk membina egoisme kelompok,
Yang hanya berurusan dengan esensi iman tanpa beribadah
yang mengabaikan kepedulian social dan kemanusiaan.

Bagi saya, surga itu tersedia untuk siapa saja, manusia yang beriman, yang beramal saleh, percaya hari akhir, sebagaimana yang Allah janjikan.

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata: “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu”. ( QS. al Baqarah/2; 25).

Dan orang-orang yang beriman dan mngerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Merekaa kekal di dalamnya. ( QS. al Baqarah/2: 82).

Ayat Al Qur’an itulah yang seharusnya menyatupadukan kita. Sebagai sama-sama orang beriman. Perbedaan diantara kita, sebenarnya hanya soal bagaimana cara beramal saleh dan cara mendekatkan diri kepada-Nya. Bahwa Tuhan menjanjikan surga itu adalah kepada siapa saja, hambanya yang mau berbuat kebajikan. Bukan hamba yang diberi persyaratan berliku-liku, yang memberatkan dirinya dan apalagi yang memberatkan keluarganya.
Dalam konteks seperti itulah, maka ada keprihatinan mendalam kami terhadap tindak kekerasan bahkan pembunuhan massal dengan mengatasnamakan agama. Seakan yang demikian itu menjadi jalan ke surga. Padahal itu adalah penyimpangan berat dalam pengamalan ajaran agama, yang hanif dan rahmatan lila’lamin. Bagaimanapun tidak ada tempat bagi saya, sebagai pengamat sekalipun, untuk mengambil kesempatan memojokkan agama, dan pembenaran penghapusan agama agama. Karena jumlah yang terbanyak dari penganut agama (Islam) di dunia ini, adalah mereka yang berperilaku baik, minimal tidak setuju jalan kekerasan.
Anda boleh saja tidak percaya, bahwa komunitas Eden adalah juga sekte agama, seperti dibilang pak Syafii, yang seindah apapun filosofi dan cita-citanya, pada saatnya berpotensi menimbulkan kekerasan. Ketika memiliki jumlah penganut besar. Katakanlah dalam hitungan ribu apalagi juta. Pastilah akan ada friksi-friksi yang ingin menonjolkan diri atau ingin berkuasa, dan sebagainya. yang pada akhirnya akan menganulir keberadaan orang-orang yang berbeda kepentingannya, kemudian menempuh berbagai cara untuk memenuhi ambisinya.

Wallahua’lam bissawab.