Marzani Anwar

QS Muhammad /47: 36

ِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

 

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.:

Meskipun hidup ini “paribasan  mung mampir ngombe” (numpang minum), tapi ngombe-ne sering dilama-lamain, biar bisa sambil kongkow. Itulah manusia, memiliki kesukaan ngobrol sana-sini, bercanda , dan yang ” diombe” juga bermacem-macem, ada cocacola, kopi, susu kental manis, teh tubruk, dan sebagainya.

Dalam ayat tersebut, Allah bukannya melarang, tapi menyindir saja. Ada kata LA’IB di situ, yang menurut Quraisy Shihab adalah suatu perbuatan yang dilakukan bukan untuk suatu tujuan yang wajar, tidak membawa manfaat atau tidak untuk mencegah kemungkaran atau kemudharatan,  Kadang hanya untuk mehghabiskan waktu semata.  Sedangkan kata LAHW adalah suatu perbuatan yang menyebabkan kelengahan pelakunya, dan atau pekerjaan yang tidak memberi manfaat. ( lihat buku: Lajnah Tafsir Kemenag, Maqasidus Syariah hal. 169) . Kata LAHW yang masdarnya  LAHWAN sering di-Jawakan menjadi LELAHANAN, yang artinya, ngobrol sana sini, tidak ada ujungpangkalnya. di ayat yang lain, kata Lahw  berati ” perkataan yang tidak berguna” ( lihat QS. Luqman /31:6)

Ayat yang sepadan dengan itu ada di QS. Al. Ankabut/29: 64, al Hadid/57: 20, yang menyebutkan bahwa semua kesenangan di dunia itu hanya MENIPU.

Pada sisi lain, Quraisy Shihab dengan mengutip pendapat mufassir  Tabatabai’yi , bahwa  kata “permainan” dalam ayat tersebut merupakan gambaran dari awal perkembangan manusia hingga mencapai kedewasaannya. Kata ALA’IB merupakan gambaran keadaan bayi, yang merasakan enaknya perbuatan bermain walau ia sendiri tidak tahu  tujuan apa apa kecuali bermain dan bermain. Disusul kemudian dengan AL-LAHW,. yakni ksesukaan. berceloteh, yang juga dilakukan oleh anak anak. Artinya bahwa, kesukaan bersenang senang yang tak jelas tujuannya itu sebenarnya, dunianya anak-anak. Makanya kalau orang dewasa  kok masih suka bermaln-main,  dibilang  “aya cah cilik/ seperti anak kacil”.

Masih. tentang pendapat  Tabataiy tadi, bahwa kesukaan bagi orang dewasa disebut sebagai   AZ- ZINAH yang artinya perhiasan. Itulah kesenangan kalangan  para pemuda dan remaja. (Azzina di sini jangan diartikan berzina). Karena perbuatan mereka suka berhias dan bergaya. menyusul kemudian perbuatan TAFAKHUR , yang artinya berbangga. Berikutnya adalah “takassur bil amwal wal aulad” , yaitu suka memperbanyak harta dan anak. Pelakunya jelas orang dewasa. Sekali lagi, Allah bukannya melarang kalian menjadi orang kaya, berbangga dengan kekayaannya, dan berbangga dengan anak anaknya. Tapi diingatkan di ayat 36 S. Muhammad tersebut, bahwa kesenangan di dunia ini adalah kesenangan yang PALSU.  Kenapa palsu, karena kesenangan dalam kegiatan seperti itu , pasti ada keberakhiran, atau kebosanan. Main gaple, ndengerin lagu, nonton fiilm,  jajan sate, makan pizza hut, minum racun eh w’dank ronde, dan apa saja,  pasti ada tingkat kebosanannya. Bahkan bagi yang usianya di atas 55 tahunan, disediakan roti enak-enak kayak brownis, oleh para  anak, cucu atau temen,  malah jawabe ” wis do panganen kono,  aku iki wae singkong goreng” ( saya cukup singkong gorengnya saja).

Di S. al A’nkabut/29: 64. Allah memaklumkan  pula atas kesenangan manusia itu, tapi harus ingat, bahwa  hidup yang sebenar-benarnya adalah DI AKHERAT kelak.