Abstraksi hasil penelitian tentang Bimbingan Agama dan Kepenyuluhan di Jalarta Timur
Marzani Anwar
Pengantar
Masyarakat Jakarta seringkali menyuguhkan pemandangan yang kontras dalam kehidupan beragama. Di satu sisi ada sekelompok warga Jakarta yang sangat tinggi apresiasinya terhadap ajaran agama. Mereka tidak saja memiliki pengetahuan yang tinggi tehadap nilai dan ajaran Islam, tetapi juga memiliki kepatuhan yang mendalam dalam melakukan ritual ibadah. Kelompok social masyarakat dengan tipe seperti ini tidak hanya didominasi oleh masyarakat/etnis asli (Betawi), yang memang meyakini Islam sebagai suatu yang given. Tetapi kepatuhan yang sama terhadap ajaran Islam juga ditunjukkan oleh masyarakat pendatang. Terkadang kepatuhan yang amat mendalam yang dibarengi oleh semangat etnoreligius ini mengarah pada tindakan yang hanya mengejar kesalehan individual. Kehidupannya lebih banyak dihiasi oleh semangat untuk menyiapakan kehidupan kelak di akherat. Sehingga, bagi mereka yang berada dalam kondisi miskin, tak ada semangat untuk melakukan mobilitas. Anggapannya, kehidupan dunia sekedar “jembatan’ untuk mencapai kehidupan yang lebih kekal (baca: akherat). Hari-harinya lebih banyak dilewatkan untuk keluar masuk masjid, memuji nama Allah, sementara anak isteri di rumah membutuhkan nafkah yang harus segera dipenuhi. Padahal., sejatinya setiap manusia mengemban misi hidup yang harus seimbang antara dunia dan akherat.
Di sisi lain ada suatu kelompok yang “sedang meninggalkan” agamanya. Mereka tumbuh sebagai masyarakat yang kosmopolit, yang lebih mengedepankan nilai-nilai kemoderenan sambil mencampakkan nilai-nilai tradisional termasuk agama. Kehidupannya dipenuhi oleh semangat hedonis yang memprioritaskan kepusan duniawi semata. Budaya materialime menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan untuk bisa disebut sebagai “hidup sukses“ sebagai warga Jakarta. Kehidupan gemerlap dan serba glamour menandai gaya hidupnya. Terkadang, kelompok ini cenderung abai terhadap kebutuhan social kelompok masyarakat lain, alasannya karena prestasi hidup yang diukur oleh budaya materialisme hanya dapat diraih semata-mata karena usaha sendiri. Pada gilirannya mereka lupa untuk menyisakan kepedulian social bagi masyarakat sekitarnya.
Kehidupan hedonis dan materialis juga telah menyeret kelompok ini untuk meninggalkan syariat agama. Meskipun mengaku beragama Islam, ritual ibadah seperti shalat lima waktu, puasa dan menjalankan ibadah haji dianggapanya tidak terlalu penting.
Dua kelompok masyarakat di atas adalah dikotomi ekstrim yang biasa kita temukan sehari-hari dalam kehidupan di Jakarta. Keduanya memerlukan sentuhan pola dakwah yang transformatif. Persoalanya, bagaimana melakukan dakwah transformatif bagi kedua kelompok yang berbeda ini?

Metodologi
Dengan melihat fenomena masyarakat sasaran kepenyuluhan, telah diasumsikan bahwa tugas kepenyuluhan adalah mendekati realitas sosial yang sangat kompleks. Berangkat dari situ maka dalam kegiatan di lapangan banyak inisiatif yang muncul bahkan akselerasi metode kedakwahannya, karena mengikuti dinamika dan kemajemukan.
Penelitian ini menggunakan perspektif etik (etic perspective) dan perspektif emik (emic perspektive) yang untuk melihat fenomena penyelenggaraan kepenyuluhan. Dimaksud dengan yang pertama adalah berkaitan dengan kategori-kategori yang dianggap universal atau didasarkan pada pemahaman obyektif pengamat dari luar . Sedangkan perspektif kedua adalah berkaitan dengan sistem kebudayaan spesifik dari pemikiran yang berdasarkan warga sasaran yang diteliti Sudat pandang etik, akan melihat masalah kepenyuluhan dari pengertian umum, setidaknya sebagaimana tercermin dalam penjelasan berdasar perundangan atau peraturan pemerintah. Sedangkan sudut pandang emik, lebih melihat berdasarkan realitas yang hidup dan berkembang menurut subyek kepenyuluhan selama di lapangan.
Dari kedua sudut pandang tersebut, maka kegiatan kepenyuluhan didiskripsikan dan sekaligus dianalaisis. Menganalisis proses berlangsungnya suatu fenomena sosial, dengan mengungkapkan semua proses etik yang ada dalam suatu fenomena sosial dan mendeskripsikan kejadian atau proses sosial itu apa adanya sehingga tersusun suatu pengetahuan yang sistematis tentang proses-proses sosial, realitas sosial, dan semua atribut dari fenomena sosial itu. Sedangkan menganalisis makna yang ada dibalik informasi, data dan proses sosial suatu fenomena sosial dimaksud adalah mengungkapkan peristiwa emik dan kebermaknaan fenomena sosial itu dalam pandangan objek-subjek sosial yang diteliti. hingga terungkap suatu gambaran emik terhadap suatu peristiwa sosial yang sebenarnya dari fenomena sosial yang tampak .

Sasaran kepenyuluhan
Masyarakat Jakarta sebagai sasaran kepenyuluhan, adalah masyarakat yang multidimensi. Secara geografis, sebagian masyarakat di tengah kota ansikh, yaitu benar benar di pusat perdagangan, industri, perkantoran, dan hiburan. Sebagian lain, ada yang tinggal di perkampungan padat penduduk. Mereka bekerja atas pesanan atau tidak atas pesanan alias kerja serabutan.
Masyarakat ibukota sebagai sasaran kepenyuluhan adalah komunitas metropolitan yang dari segi keberagamaannya sangat heterogeen. Sebagian masih sangat awam dalam pengetahuan agamanya, sebagian lain sudah pada tingkat cukup, dan sebagian lagi sudah sangat intelek dalam memahami ajaran agama. Perbedaan itu dibawa dari pengalaman pendidikannya sejak sebelum menjadi karyawan.
Sebagian besar penduduk Jakarta adalah mereka (1) yang menghabiskan waktu seharian, antara jam 8 s.d. 19 berada di luar rumah untuk bekerja; (2) kesibukannya berorientasi penuh pada bidang kerjanya; (3) mendengarkan ceramah agama sekedar mengisi waktu istirahat, (4) pekerjaannya menuntut keahlian dan profesionalitas dan (5) mereka adalah kalangan masyarakat yang berpenghasilan tetap. Namun sebagian lain adalah masyarakat yang kurang berpendidikan, dan memiliki pekerjaan tidak tetap, dan banyak waktu untuk tetap tinggal di rumah. Tempat tinggalnya di perkampungan padat penduduk. Sebagian masyarakat Jakarta adalah kaum hedonis, yaitu mereka yang cenderung menjauhi “agama”.
Secara geografis administratif, sasaran kepenyuluhan adalah warga Jakarta Timur, baik yang ada di perkantoran, perkampungan maupun di kompleks perumahan. Mereka yang memiliki perkumpulan majelis taklim (MT), di Masjid-masjid, atau yang menggunakan ruang pertemuan lainnya.
Kepenyeluhunan adalah dakwah, yang secara agama adalah segala kegiatan yang bersifat amar makruf nahi mungkar yang berkaitan dengan tugas hidup sebagai manusia pada umumnya dan tugas kekaryaan pada khususunya. Berdakwah artinya memberikan bekal pengetahuan dan penanaman keimanan agar meningkat ketakwaannya pada Tuhan dan memperteguh kepercayaan dirinya sehingga mampu menjalankan tugas hidup dengan baik, tanpa melakukan penyimpangan yang merugikan orang lain.
Dakwah sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk dirinya atau orang lain menuju keadaan yang lebih, dilakukan dengan cara yang tampaknya cukup vareasi antar satu penyuluh dengan lainnya. Tergantung kondisi dan situasi audien.
Kini kegiatan dakwah telah menjadi instrumen kesibukan yang dianggap menjadi penyejuk suasana. Menurut beberapa kajian, pembinaan keagamaan di kantor, bahkan mampu mempengaruhi secara positif bagi upaya peningkatan etos kerja karyawan.
Sebagai sarana amar makruf, dakwah diharapkan mampu memberikan iklim kesejukan pada masyarakat. Terlebih lagi dakwah yang mampu membebaskan dari keterasingan dan membimbing masyarakat untuk berpegang teguh pada jalan kebenaran, yang secara spesifik agar terhindar dari kegersangan lingkungan, terjauh dari kekerasan. Sebagai sarana nahi mungkar, dakwah menjadi penguat apa yang disampaikan khatib di masjid-masjid. Diantaranya adalah juga kepedulian untuk membasmi praktek-praktek korupsi, penindasan struktural dan ketidakadilan di ibukota.

Kiprah kepenyuluhan
Dimaksud dengan Kiprah kepenyuluhan, adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh penyuluh dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai pembina rohani atau juru dakwah. Dalam bertugas itu biasanya menggunakan metode tertentu, peralatan tertentu, dan mengatasi beragam masalah, yang sangat kompleks. Kadang ia menemuka cara-cara tertentu untuk mengatasi masalah. Seorang penyuluh memiliki mobilitas tersendiri, yang tidak bisa disamakan dengan kaum pekerja biasa. Terdapat keunikan-keunikan tersendiri di samping juga menghadapi hambatan-hambatan tertentu.
Dakwah yang dikenal dengan pembinaan iman takwa yang selama ini dilakukan para penyuluh, biasa dalam bentuk ceramah. Dilakukan secara rutin maupun insidentil dalam sebuah forum majelis taklim, di kantor atau di masjid, sesuai jadwal yang telah dibuat sebelumnya. Penyelenggara kegiatan biasanya berupa yayasan sosial, yayasan keagamaan, intansi pemerintah, atau pengurus masjid c.q. bidang dakwah.
Daftar nama lembaga kerjasama sasaran kepenyuluhan di wilayah Jakarta Timur adalah sbb.:
1. MT. Daarul ‘Ilmi, J. Terusan Mabes Hankam RT, 01/03 No.59 Setu
2. Msj. Darussalam, Jl. Raya Hankam Kompl. Polri Munjul RT.01/03
3. MT. Raudhatul Jannah, Jl.Kramat III RT.06/10 NO.55 Lubang Buaya
4. Msj. Sunan Kalijaga Padepokan Karyawan TMII RW.04
5. MT. Nurussalam, JL.Bhrxman RW.04 Cipayung
6. MT. Nurul Rahmah Jl .Al-Baidhoi RT.07/06 No.30 Lubang Buaya
7. MSJ. Darul Muttaqin, Jl..Makmur RT.03/02 Munjul
8. MT. Raudhatul Shalihin Jl. .H Siun RT.04/01 Kel.Ceger
9. MT. At Taqwa, JL.Raya Mabes Hankam RT.07/02 Bambu Apus
10. MT. Al-Ikhlas, Padepokan TMII Cipayung
11. MT. Birrul Walidain, Jl. Mabes TNI RT.01/06 Cilangkap
12. MT. Al Hidayah. Jl.Jankes AD RT.08/02 Munjul
13. MT. Al Maghfirah, Jl.Sukun RT.03/04 Pd Ranggon
14. MT. Daarussa’adah, Jl. Peternakan Raya , RT.01/02 P. Ranggon
15. MT. Al Hasanah, RT.05/08 Kel. Cipayung
16. Mushalla Al Hidayah, Jl.Raya Cilangkap RT.04/05 Cilangkap
17. MT. Al Wathoniyah Arrisiiyah Assu’diyah Al Baidlo, RT.01/05 L.Buaya
18. MT. Al Mughfirah , Gg.Buntut RT.03/04 Pd. Ranggon, Cipayung

Peminat yang mengikuti pengajian terdiri para jamaah ibu-ibu, bagi yang sasarannya majelis taklim. Jamaah yang terdiri karyawan-karyawati, apabila ceramah dilakukan di kantor bersangkutan.
Sejalan dengan dinamika dan kompleksitas masalah-masalah sosial yang dihadapi, kegiatan dakwah di mana pun semakin dihadapkan kepada banyak tantangan. Audien pada umumnya butuh juga vareasi, misalnya untuk kajian kitab kuning, kajian Tafsir atau kajian hadits dan ketrampilan
Pemerintah dalam hal ini kantor Kemenag Jaktim sangat berkepentingan dalam kegiatan dakwah di kantor-kantor. Namun dalam membangun kerja dakwah yang lebih berhasil guna, para penyuluh masih mengeluhkan ada kekurang-pedulian dari pihak pemerintah. Perhatiannya masih sebatas penyediaan honorarium bulanan yang jumlahnya tak seberapa. Namun para penyuluh tampak tak surut semangatnya untuk terus berdakwah.
Seorang penyuluh, Ibu Aryulita, bertugas dengan sasaran wilayah kecamatan Jatinegara. Sasarannya Ys Al Arofah, Kal. Rawabunga Jatinegara. Mengelola pendidikan: TK sd. SMP. Pengajian TPQ Lanjutan.TK 37 anak SD 15 SMP 18 siswa. Pengajian Al Quran. Tidak ada libur kalau malamnya. Pengajian untuk bapak-bapak terhitung sedikit peminatnya, bahkan cenderung semakin berkurang peminatnya. Tidak seperti ibu-ibu, yang secara rutin menyelenggaran taklim di bawah koordinasi yayasan tersebut. Pada suatu kesempatan melakukan penyuluhan, ia menyampaikan pesan dari kemenag, untuk disampaikan kepada kalangan orang tua. Pesan itu adalah masalah usia pernikahan, agar dalam rangka mempersiapkan masa depan keluarga, jangan mengawinkan anak dalam usia dini. Dalam kesempatan yang lain dari Kemenag adalah menyangkut pergaulan remaja. Ditujukan kepada orang tua juga, agar pandai-pandaai mengawasi anaknya, jangan sampai terhindar dari perbuatan maksiat dan mengkonsumsi Narkoba. Materi lainnya yang pernah disampaikan adalah: Tinjauan fiqih mengenai masjid yang digusur untuk kepentingan umum, masalah tanah wakaf, dan masalah pernikahan.
Dalam tugasnya melakukan dakwah, penyuluh tampaknya juga punya peran yang multifungsi. Pernah para penyuluh membantu petugas lapangan sebuah penelitian untuk pendataan masjid. Pernah pula ikut pendataan seni budaya keagamaan yang diselenggarakan oleh Kemenag, maksudnya Balai Litbang Agama.
Ibu Nihayah Sarip. Kegiatan utama sebagai penyuluh adalah membina MT-MT di kampung Kapin, kompleks Billy Moon Pondok Kelapa, dan di Rutan Wanita Pondok Bambu. Ia juga mengelola MT khusus janda dan jompo di rumah di rumah Bp Ari Sudewa, Kemang Pratama. Menurutnya Pak Ari Sudewa dikenal sangat dermawan yang sangat peduli. Banyak mensupport pengajian. Di bawah yayasannya ada juga pengelolaan anak Yatim, yang diikuti sebanyak 15 anak. Penyuluh ini juga bertugas memberikan bimbingan agama di Lapas Pondok Bambu. Tiap hari Senin dan Kamis, ia memberikan pengajian di samping juga ketrampilan tertentu kepada sejumlah narapidana.
Berikutnya adalah penyuluh yang bernama Samsul Asri. Pernah nyantri di pesantren Magelang, dan Kaliangkrik. Sasaraan pembinaan di wilayah Pasar Gembrong, Kal. Cipinang Besar Utara. Berceramah di depan anak-anak muda, ibu-ibu MT. Sedangkan untuk bapak-bapak tiap malam Ahad pagi. Bentuknya adalah melakukan kajian kitab syarah Arbain An Nawawi.
Pasar Gembrong adalah dalam wilayah kalurahan Cipinang Besar. Penduduknya dikenal sangat padat dan kumuh. Prumpung dikenal banyak anak mudanya yang Narkoba dan pergaulan bebas. Mereka kebanyakan dari kalangan pengangguran.
Usman Abdullatif, seorang penyuluh non PNS dengn sasaran wilayah kalurahan Balimester, Jatinegara. Masyarakat yang ia hadapi, adalah masyarakat yang multi agama. Di samping Islam, yang dengan pemeluk terbanyak, ada juga pemeluk agama lain, yang jumlahnya signifikan. Khusus di wilayah se kecamatan Balimester terdapat tiga Gereja. Warga beragama Islam, ada yang beretnis Cina. Ada juga majelis TakIim Dzikrullah, yang kalau pengajian menempati mushala Baitul Marhamah. Waktu pengajian pada setiap Kamis malam Jumat. Peserta taklim adalah ibu-ibu dan sebagian lagi bapak-bapak, sekalian ratiban.
Ustadz Nana, adalah penyuluh yang bertugas di Masjid Baitutahmid di Komplek Bea Cukai Pondok Bambu. Ia sendiri adalah bagian dari pengurus takmir masjid tersebut, dan merupakan khatib pengganti apabila khatib yang sudah terjadwal berhalangan hadir. Bertugas pula di Lapas Pondok Bambu, bersama ustadz Dadan Hamdani. Keduanya adalah penyuluh honorer, bersama-sama bertugas di Lapas tersebut. Pengajian diakan setiap hari Kamis dan Selasa / Saptu.
Lapas Pondok Bambu, merupakan tempat pembinaan para narapidana (Napi) yang dikhususkan perempuan. Penghuninya pada bulan September 2015 ada sekitar 1200 an. Memasuki ruangan dalam Lapas, terdapat blok-blok hunian yang masing-masing memuat antara 30-40 orang. Di tengah blok-blok hunian berdiri sebuah masjid, berkapasitas 300 orang. Namun karena di sebelah menyebelah adalah space kosong yang bisa digunakan untuk kegiatan apa saja (serbaguna), sehingga sewaktu-waktu jamaah datang dalam jumlah besar maka ruangan masjid diperluas dengan cara memasang tenda.
Siang itu, tepatnya pada pukul 10.00 di rumah ibadah bernama masjid Al Ikhlas ini dilakukan pengajian. Peserta berjumlah 400 an orang. Ada dua penyuluh, yang sama –sama non PNS alias honorer, memberikan tausyiah. Penyuluh pertama adalah Ustadz Nana Noviana, M Pd I, dan yang kedua adalah ustadz Dadan M Pd I. Masing-masing mengisi ceramah sekitar 3/4 jam. Kedua ustadz itu berbagai dalam hal tema yang disampaikan. Materi yang disampaikan oleh ustadz Nana adalah menyangkut masalah akhlaq. Ia menggunakan kitab Asyatul Khalaq dan Fathul Mu’in. Sedang untuk ustadz Dadan adalah masalah fiqh dengan pegangan utamanya kitab Safinatunnjakh.
Ceramah kedua penyuluh penuh dengan retorika sehingga audien tampak tidak bosan mengikutinya sampai akhir. Ustadz Nana yang pertama memberikan tausyiah berbicara panjanglebar mengenai masalah akhlaq, khusus antara guru murid. Dalam penyampaiannya di selang-seling dengan jok-jok tertentu, sehingga audien tersegarkan suasananya. Ustadz Dadan demikian juga, ia menyampaikannya topik tentang Ibadah sunnah di sekitar Idul Kurban.
Sebagaimana diketahui, bahwa antara pukul 09.30 s.d. 12 adalah memang jam bezuk. Pada saat seprti itu biasanya para napi menerima kunjungan dari sanak saudaranya. Namun kebanyakan sudah jenuh, terlalu sering dikunjungi. Sebagian lagi juga karena tidak cukup banyak memiliki sanak famili. Sehingga sebagian besar napi, menggunakan kesempatan tersebut untuk ngobrol saja dengan sesama. Dan mereka yang mengikuti pengajian memang hanya bersifat sukarela. Maka jumlahnya juga tidak sebesar jumah keseluruhan penghuni yang ada saat itu.
Pembinaan keagamaan Napi juga dilakukan dalam bentuk: pengajian Al Qur’an bersama. Setiap Kamis Malam, di masjid ini diadakan Yasinan. Minat para napi ternyata cukup besar untuk mengikuti kegiatan ini. Kapasitas masjid nyaris tidak menampung para peserta, sehingga pengelola Lapas menambah karpet di kanan kiri masjid. Pelaksananya dilakukan sehabis shalat isya. Masing-masing pegang buku Yaasiin, kemudian dibaca bersama-sama. Dilanjutkan dengan tausyiah 15 menit oleh ustadz Nana atau ustadz Dadan.
Pada bulan Ramadhan, peserta kegiatan keagamaan lebih besar dari biasanya. Kegiatan di samping shalat taraweh, adalah tadarusan dan pembelajaran ketrampilan. Diantaranya adalah pelatihan menangani jenazah. Mereka diberikan pengetahuan mengenai syarat rukun di sekitar penanganan jenazah, yang dilanjutkan dengan praktek: memandikan, mengkafani dan menshalatkan.
Keikutsertaan para Napi di pengajian ini bersifat sukarela. Namun agak lumayan peminatnya. Pada setiap diadakan, peserta beriksa 200 s.d. 250. Mereka menjadikan kegiatan keagamaan ini setidaknya untuk mengisi waktu-waktu kosong. Karena di masjid juga tersedia, Al Qur’an, baik muskhaf maupun kitab yang disertai terjemahan. Bagi sebagian napi, ada yang lebih suka baca Qur’an dan pada sebagian lain ada yang suka membaca yang ada terjemahannya.
Sebagaimana diketahui pula, di Lapas Perempuan ini, ada beberapa publik figur yang pernah menjadi penghuni. Atas kasus yang mereka hadapi, dan kemudian memaksanya mereka harus meringkuk di penjaran. Diantaranya adalah Angelina Sondakh, mantan putri Indonesia dan Ratu Atut mantan Gubernur Banten, yang terlibat dalam persoalan korupsi. Dewi persik, penyanyi dankdut yang terlibat konflik dengan kawan mainnya, kemudian divonis bersalah oleh pengadilan, dan harus berada di Lapas untuk beberapa bulan. Ades Adelia, yang terlibat kasus konflik dengan sesama artis. Pernah juga ada seorang anggota DPR, yang karena suatu perkara sehingga ia meringkuk di lapas Pondok Bambu.
Ratu Atut ketika menghuni di Lapas ini berkesempatan menyumbang 1000 sajadah, untuk dibagi kesetiap penghuni. Sedangkan Angelina Sondakh menyumbang 10 lembar karpet berukuran 100 x 125 cm, untuk digelar di masjid.
Angelina Sondakh, seorang artis foto model, yang menjadi narapidana, kata sang penyuluh, pernah mengaku” bersyukur bisa tinggal di Lapas ini, karena banyak kesempatan mendekatakan diri kepada Tuhan”.
Dari pengalaman para penyuluh dengan tugas sasarannya masing-masing, menghadapi beragam persoalan dakwah dan kepenyuluhan, diaantaranya adalah sbb.:
• Pengetahuan agama para kalangan orang tua di masyarakat sasaran kepenyuluhan, umumnya rendah . Meskipun demikian, mereka males ikut pengajian
• Orang tua umumnya kurang perhatian untuk mendidik anak mengaji. Banyak anak-anak kurang disugesti oleh orang tuanya, agar bisa ngaji.
• Tempat untuk pengajian umumnya kurang memadai
• Banyak pedagang pendatang, yang kelihatannnya termasuk golongan mampu, tapi tidak mau membayar zakat atau infak. Mereka juga kurang mendukung kegiatan dakwah. Dalam transaksi sebagai pedagang di pasar, tidak segan-segan mereka memakai timbangan secara tidak jujur.
• Di Belimester, ada 5 Gereja dan Tepekong. Kedua tempat ibadah ini sering mengadakan bazar. Anak-anak Muslim pada ikut ngantri. Ada masjid Al Fatah, banyak, yang tidak suka, kerena dianggap Wahabi, dari Timur Tengah.
• Di komplek perumahan seperti di komplek Bea Cukai Pd Bambu, masyarakatnya pegawai beacukai. Kalau pengajian tidak ada peserta yang muda, semuanya yang ikut ngaji hanya yang tua-tua.

Preview
Kepenyuluhan yang dibangun pemerintah adalah sebuah pelembagaan dakwah di tengah masyarakat Jakarta. Pelembagaan kegiatan dakwah, tidak hanya dipandang sebagai adanya perhatian pemerintah dalam melayani kepentingan masyarakat, tetapi merupakan bagian penting dari tugas dari instansi resmi. Dengan pandangan tersebut, kegiatan pembinaan dakwah, tidak sekedar dipandang sebagai tugas sambilan, tetapi sebuah tugas yang membutuhkan profesionalisme yang dituntut mengikuti dinamika masyarakat dan dinamika media komunikasi. Ada keperluan untuk menjalin jaringan kerjasama antar penyuluh di samping kelembagaan lain yang juga bergerak di bidang kedakwahan. Bentuk kerjasama itu misalnya yang seperti yang terjadi dengan Lembaga Pemasyarakatan Pondok Bambu.
Dukungan yang selama ini melekat dengan para penyuluh adalah dari lembaga atau organisasi sosial keagamaan di masyarakat. Termasuk majelis taklim yang selama ini memang menjadi bagian yang selalu melekat dalam kegiatan kepenyuluhan. Sementara masyarakat yang ada di lingkungan sebuah rumah ibadah sekalipun sangat beragam dan bertingkat-tingkat. Meskipun mereka mangaku beragama Islam, dan hidup dalam satu lingkungan dekat masjid, namun tidak semua merupakan jamaah yang setia sebagai jamaah masjid. Ini hanya satu contoh, betapa keberadaan rumah ibadah masih belum menjamin adanya ketertarikan orang untuk mengikuti kegiatan keagamaan. Peran dakwah seperti penyuluhan agama sangat diharapkan, dalam rangka menghidupsuburkan kegiatan keagamaan, setidaknya di masjid-masjid.
Penyuluh sejauh ini telah membangun sinergi dan koordinasi dengan para pengurus masjid, lembaga pendidikan Islam, dan majelis-majelis taklim yang sudah ada. Di dalamnya ada kepentingan untuk memperkuat status kelembagaannya, sehingga memperoleh support yang memadai, baik pada masalah pendanaan dakwah maupun penyediaan SDM, dan sebagainya
Kelompok sasaran dakwah, apapun pola/modelnya berupaya ditempatkan sebagai subjek bukan objek. Dalam kaitan ini, para penyuluah adalah bagian dari para penggerak organisasi kedakwahan lainnya, yang juga berkiprah dalam dakwah di masyarakat Jakarta. Kaum ulama, dai, dan umara bersinergi dan menempatkan diri, di samping sebagai fasilitator adalah aktor. Sehingga, memungkinkan subjek dakwah berani mengemukakan pendapatnya, mengutarakan persoalannya dan mencari serta memilih untuk memformulasikan jawabannya.
Dalam pesepektif seperti itu, kegiatan kepenyuluhan dilaksanakan, guna meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan masyarakat bersangkutan. Para penyuluh melaksanakan beragam aktivitas dakwah di masjid-masjid dan majelis taklim serta Lapas, di samping di rumah-rumah warga.
Kelompok sasaran dakwah, apapun pola/modelnya adalah bagian dari para propagandis sosial, yang ikut mengusung kesadaran sosial, untuk menciptakan oase-oase kedamaian di tengah terknya ‘matahari Jakarta”. Sadar maupun tidak sadar mereka bersinergi dengan para ulama, dai, dan umara sebagai fasilitator pengembangan fungsi-fungsi spiritual untuk menciptakan kesejateraan dunia dan akherat.
Dengan telah terjadinya perkembangan yang pesat dalam kehidupan kemasyarakatan di Ibukota, tentu saja telah juga mempengaruhi ragam kegiatan dakwah di berbagai komunitas. Proses-proses sosial itu terjadi secara intensif, setiap hari, sehingga kelompok karyawan di sebuah kantor seakan merupakan bangunan komunitas tersendiri yang terlepas dari komunitas di lingkungan tempat tinggalnya. Agama menjadi penting artinya dalam proses sosial tersebut, untuk memberikan sentuhan positif sehingga komunitas yang terbangun adalah komunitas yang bernuansa agamawi, berkat sentuhan dakwah, termasuk kepenyuluhan.
Proses adaptasi sebagai masyarakat urban, yang terjadi adalah yang dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan, di samping tentu saja pertimbangan keahlian dan profesionalisme. Kegiatan dakwah adalah kegiatan yang bersinergi dengan upaya menjamin kelangsungan dan kelancaran proses tersebut. Adakalanya terjadi perbenturan antar individu, karena kesalahpahaman dan sebagainya., sehingga dakwah mampu menjembatani permasalahan seperti itu.
Kini kegiatan dakwah telah menjadi instrumen kesibukan yang dianggap menjadi penyejuk suasana. Di sanalah ada peluang untuk penguatan tugas penyuluh ikut berkiprah. Dengan keterlibatannya itu, relatif mampu mempengaruhi secara positif bagi upaya peningkatan kegiatan mensejahterakan masyarakat Jakarta.
Sebagai sarana amar makruf, kepenyuluhan relatif mampu memberikan iklim kesejukan tersendiri pada masyarakat. Memberikan pula suasana interelasi, menghindarkan dari keterasingan. Fungsi dakwah pula telah menjadi media pembimbingan untuk meningkatkan taraf keberimanan memperkuat tali silaturahim. Secara spesifik juga menghindari kegersangan lingkungan dan terjauhkan dari kekerasan dan tindak kemungkaran di ibukota. Dalam perspektif birokrasi, pelaksanaan kepenyuluhan adalah bagian penting dalam melaksanakan polecy pemerintah.
Adalah James Anderson (1984: 3) yang memberikan pengertian tentang kebijakan publik, dalam bukunya Public Policy Making, sebagimana dikutip Agustino, bahwa kebijakan publik adalah “serangkaian kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang aktor atau sekelompok aktor yang berhubungan dengan suatu permasalahan atau suatu hal yang diperhatikan” . Konsep kebijakan ini menitikberatkan pada peran sang aktor. Apa yang seharusnya dikerjakannya, seuai tingkat kemampuan dan perannya. Aktor itu tidak lain adalah para penyuluh tersebut, yang bekerja tidak semata karena penugasan dari instansi pemerintah, tetapi dari keihlasan demi Tuhan.
Sebagai aparat pemerintah, penyuluh memang adalah bagian dari SDM (Sumber Daya Manusia), yang ingin diberdayakan secara maksimal. Menurut Osborne, sebagaimana dikutip Miftha Thoha, perlunya menekankan pada upaya untuk meningkatkan sumber daya dari yang tidak produktif bisa produktif dari yang produktivitas rendah menjadi berproduksi tinggi. Kinerja seperti inilah yang dikemudian dikenal dengan upaya maksimal.
Mungkin itu sebuah utopia, namun tak apa untuk memberikan gambaran idealisasi ke masa depan kepenyuluhan di dunia yang terus berubah. Sebagai bagian dari warga, penyuluh dalam tugasnya membimbing masyarakat, sangat diperlukan. Karena terbatasnya jumlah juru dakwah di masyarakat. Persebaran tugas kepenyuluhan relatif sudah merata, meliputi wilayah perkampungan, perkantoran, bahkan sampai lembaga pemasyarakatan. Namun masih belum sebanding dengan jumlah permintaan masyarakat terhadap pembinaan keagamaan.
Pergerakan kepenyuluhan cukup multi dimensi: pelayanan keagamaan, dan bimbingan ketrampilan. Atas inisiatif ,ereka mtelah terbangun kerjasama dengan lembaga-lembaga keagamaan, seperti: Lembaga Pemasyarakatan, organisasi kemasjidan, majelis Taklim, dan sebagainya. Namun pekerjaan kepenyuluhan hampir tidak bisa dievaluasi secara rijid. Karena melibatkan faktor keikhlasan dan sejumlah kebijakan yang berifat pragmatis.
Pelaksanaan tugas kepenyuluhan kebanyakan tidak semata-mata menjalankan tugas sebagai abdi negara, tapi juga sebagai pengabdian kepada Tuhan, maka di dalamnya ada motivasi untuk memperoleh Ridha Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun secara sosial, tugas kepenyuluhan agama adalah model pelayanan kepada masyarakat yang relatif mampu melengkapi model pelayanan secara formal. Karena waktu kerja tidak terikat pada jam kerja sebagai layaknya pelayaan di kantor-kantor.

Rekomendasi
1. Perlu penguatan status penyuluh dalam peran dan fungsinya mensukseskan pembangunan khususnya bidang keagamaan.
2. Sebaiknya penyuluh dilibatkan dalam perancangan peta dakwah di DKIJakarta dan penghimpunan basic data keagamaan. Kareka mereka adalah petugas yang langsung berhadapan dengan masyarakat.
3. Perlunya penaikan honorarium untuk penyuluh. Karena jumlah yang diterimakan, yakni sebesar 300 ribu perbulan seperti selama ini, dirasa sangat tidak layak. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan penggajian seperlunya.
4. Materi kepenyuluhan sebaiknya di-up date sejalan dengan dinamika sosial. Dalam tataran ini, agama semakin banyak persinggungannya dengan beragam persoalan. Dan apa yang menjadi tanggungjawab Kemenag yang harus disosialisasikan. Misalnya menyangkut masalah: kelompok radikal, kelompok berkembangnya kelompok sempalan, problem anak jalanan, kenakalan remaja, perkembangan masyarakat hedonis dan sebagainya.
5. Tugas kepenyuluhan perlu didukung dengan ketersediaan bantuan untuk misalnya kepentingan santunan anak-anak yatim, pengadaan buku-buku keagamaan bagi warga kurang mampu, kelompok nelayan , kelompok anak jalanan, dan sebagainya.