Oleh
Marzani Anwar

Bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa kekerasan paling kerap terjadi di kota-kota tidak lain adalah terjadinya tawuran yang melibatkan sesama siswa. Pada kenyataannya, tawuran yang melibatkan sesama pelajar memang terus saja marak, tanpa pernah berhasil diredam dan dinihilkan hingga kini. Modusnya pun bermacam, mulai dari senggolan lalu menyebabkan keroyokan, kadang saling lempar benda apa saja, saling ejek, hingga membajak angkutan umum. Korbannya pun sudah banyak berjatuhan.
Kalau mengikuti berita demi berita di media massa maupun elektronik, motif tawuran itu bermacam-macam. Mulai dari hal-hal sepele seperti beda atribut sekolah, rebutan pacar hingga yang paling serius sejarah pertarungan dan dendam bebuyutan antarsekolah. Pendek kata, kalau sekolah A itu musuh abadinya sekolah B, maka sekolah A bisa bergandengan dengan sekolah C, tapi tidak bisa dengan B. Demikian sebaliknya.
Bayangkan pula, jika melihat kalau mereka selagi dalam aksi tawuran. Seolah dunia ini hanya milik mereka. Muka-muka yang masih imut itu sontak bermata nanar dan tajam. Tidak diperhatikan lagi orang-orang di sekitarnya. Matanya nanar hanya tertuju pada pelajar lain yang jadi lawannya. Mereka berlari-lari sambil menenteng benda-benda tajam seperti rantai, gir, golok dan senjata tajam lainnya. Mereka berduyun mengejar lawannya. Belum puas, mereka melempari angkutan umum yang ditumpangi lawannya. Apalagi jika jumlah lawannya tidak sebanding, maka mereka makin beringas.
Di Kota Depok di Jawa Barat, sebagai kota yang berdekatan dengan wilayah Ibu Kota negara juga tak kalah marak sering terjadinya tawuran antarpelajar. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kota Depok, pada 2012, ada satu siswa tewas dan tiga pelajar dipenjara akibat tawuran tersebut. Setahun berikutnya, tahun 2013, kembali satu pelajar tewas dan satu pelaku dipenjara. Di tahun 2014 ini, sudah satu siswa meninggal, satu siswa dipenjara 2 bulan, dan satu lagi divonis 5 tahun penjara.
Atas persoalan masih sering terjadinya tawuran antarpelajar khususnya yang melibatkan siswa-siswa di beberapa sekolah (baca SMK) di Depok, maka perlu dilakukan penelitian untuk melihat sejauh mana efektivitas PAI di sekolah-sekolah tersebut. Mengingat bahwa, tindak kekerasan tersebut memiliki urgensi langsung dengan pendidikan agama. Siswa-siswa sekolah sebagai peserta didik tentulah memperoleh pelajaran agama secara rutin, sesuaai dengan tuntutan kurikulum yang telah dibakukan di dunia pendidikan nasional. Perbuatan kekerasan adalah sebuah penyimpangan, bahkan penentangan, terhadap sendi-sendi keagamaan. Nilai-nilai moral seperti itu tentu sudah sering ditanamkan oleh para guru agama, baik di dalam maupun di luar kelas. Maka terjadinya tindak kekerasan pada para siswa, patut dipertanyakan, kenapa mereka melakukan hal itu. Apakah mereka abai terhadap tuntunan, atau terdapat kelemahan pada pihak guru dalam metode pengajaran agamanya.
Penelitian ini penting dilakukan untuk mencari solusi atas masih seringnya terjadi tawuran antarpelajar di Depok dan mengembangkan PAI itu sendiri dalam konteks situasi pelajar yang sedemikian bermasalah dari sisi pemahaman toleransi dan budi pekerti dipandang dari sudut dampak pemberian mata pelajaran PAI.


Beberapa pertanyaan yang diajukan dalam riset ini adalah: (a) Apa saja ancaman ketegangan dan konflik yang berlangsung di sekolah-sekolah yang PAI-nya berada dalam koordinasi PAIS Kemenag Depok?; (b) Bagaimana pihak sekolah mencegah potensi kekerasan tersebut?, dan (c) bagaimana gambaran pelaksanaan mata pelajaran PAI di sekolah-sekolah tersebut?. Atas dasar pertanyaan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah: (a) Mengeksplorasi hal-hal apa saja ancaman ketegangan dan konflik yang berlangsung di sekolah-sekolah yang PAI-nya berada dalam koordinasi PAIS Kemenag Depok; (b) Mengetahui bagaimana pihak sekolah mencegah potensi kekerasan tersebut, dan (c) menggambarkan pelaksanaan mata pelajaran PAI di sekolah-sekolah tersebut dan aktivitas terkait dengan kegiatan PAI lainnya.
Sekolah yang disasar dalam yaitu sekolah SMAN 2 Depok dan SMK Nasional Depok merupakan dua diantara sekian banyak sekolah di Depok, Jawa Barat. Dua sekolah tersebut relatif memadai, yang pertama merepresantasikan keberadaan SMA Negeri, dan yang kedua adalah representasi sekolah swasta.
Pengumpulan data dalam proses penelitian menggunakan teknik observasi sekolah, wawancara dengan para pihak yang kompeten, kajian media sosial daan dokumen dalam mengkaji data primer dan data skunder.
Analisis domain merupakan langkah yang ditempuh dalam penelitian kualitatif. Langkah selanjutnya adalah analisis taksonomi yang aktivitasnya adalah mencari bagaimana domain yang dipilih itu dijabarkan menjadi lebih rinci.

Pertimbangan Teoritis
Menurut teori konflik, seperti diuraikan Anderson, M.L. and Taylor , bahwa kesenjangan muncul biasanya karena pihak-pihak yang menguasai sumber daya yang terbatas itu secara aktif mempertahankan apa yang dimilikinya. Dalam perkembangannya, pihak-pihak yang terlibat di sini bisanya terkait dengan perbedaan kelas, suku dan jenis kelamin, karena perbedaan dalam tiga bidang tersebut dianggap sebuah hal yang mampu membangkitkan perlawanan di dalam masyarakat. Oleh sebab itu, jika kebanyakan teori sosiologi mementingkan aspek positif dari masyarakat, perspektif konflik berlaku sebaliknya, yaitu lebih memusatkan pada aspek negatif, serta pertentangan yang mampu mempengarui perubahan dalam masyarakat.
Belakangan ini, para teorisi bidang konflik memandang bahwa konflik social bisa potensial terjadi antara kelompok yang berbeda di dalam masyarakat yang disebabkan adanya perbedaan ras, jenis kelamin, agama, politik, ekonomi dan seterusnya. Para teorisi konflik mencatat bahwa kesenjangan antarkelompok selalu disebabkan oleh adanya pertentangan nilai dan agenda, yang menyebabkan mereka bersaing satu sama lain. Persaingan yang terus menerus di antara kelompok masyarakat ini mengakibatkan terjadinya perubahan di dalam masyarakat.
Selanjutnya, Anderson, M.L. and Taylor juga menjelaskan, kritik juga tidak luput diberikan kepada teori konflik ini. Kritik itu antara lain memandang bahwa teori konlik terlalu negative memandang masyarakat. Namun harus diakui, jasa besar teori ini adalah mendorong bangkitnya penghargaan pada kemanusiaan, altruism, demokrasi, hak-hak sipil dan aspek-aspek positif lainnya yang muncul di masyarakat yang telah terpengaruhi oleh agenda kapitalis.
Teori ini kemudian berkembang ke berbagai belahan dunia dan dianggap perlu untuk menjadi pembelajaran bagi banyak pihak. Hal ini mengingat dalam segmen masyarakat apapun, hampir mustahil untuk menghindarkan diri dari adanya persaingan yang dipandang sebagai inti dari teori konflik.
Di luar kebanyakan pemahaman sebagian orang, ternyata persaingan dan potensi kekerasan juga ternyata dapat muncul di sekolah, yang umumnya dipandang positif sebagai tempat pengembangbiakan nilai dan moral. Dalam kenyataannya, sekalipun tidak terang-terangan tampak, persaingan dan konflik di sekolah juga bisa saja muncul dan tidak dapat dihindari. Oleh sebab itu, supaya konflik tidak mengganggu siswa secara fisik maupun psikologis, maka konflik tersebut harus dikelola dengan tepat dan baik.
Belakangan, kemudian dikenalkanlah istilah Manajemen konflik berbasis sekolah, atau disingkat MKBS. Menurut Syamsu Rizal Panggabean, MKBS bertujuan dalam rangka menghargai, bahkan bila perlu merayakan, kemajemukan dan perbedaan di sekolah. Apabila konflik dapat dikelola dengan baik, maka perbedaan di kalangan siswa yang bersumber dari kemajemukan latar belakang mereka justru menjadi bagian dari pengalaman belajar dan tumbuh. Model resolusi ini sudah digunakan di banyak negara. Di Indonesia, beberapa sekolah pun sudah mulai menerapkannya. Contohnya adalah sekolah Budi Mulia di Yogyakarta dan Sekolah Sukma Bangsa di Nanggroe Aceh Darussalam. Selain itu, walaupun tidak secara formal disebut manajemen konflik berbasis sekolah, ada banyak sekolah yang menggunakan proses belajar-mengajar yang inovatif. Inovasi tersebut mencakup metode pembelajaran yang kolaboratif, manajemen kelas yang melibatkan siswa, dan lain-lain. Oleh karena itu. MKBS sangat relevan dan berhubungan langsung dengan unsur penting pendidikan anak, yaitu keterampilan sosial (social skills) dan keterampilan hidup (life skills). Salah satu tujuan penting MKBS adalah supaya setiap siswa secara fisik dan psikologis merasa bebas dari ancaman dan bahaya. Lingkungan pendidikan yang aman akan memungkinkan siswa belajar dan bekerjasama mewujudkan tujuan bersama.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keterampilan ini, apabila ditanamkan kepada siswa, lebih memberdayakan mereka baik secara kognitif maupun emosional. Siswa menjadi mandiri, memiliki kepemimpinan yang kuat, dan bertanggungjawab ketika dihadapkan kepada masalah. Sebaliknya, praktik-praktik tradisional yang menggunakan pendekatan represi dan kekuasaan untuk menyelesaikan masalah, tidak baik untuk kognisi maupun emosi siswa.
Dalam MKBS sekolah juga dapat memperkenalkan program mediasi. Mediasi, dalam pengertian sederhana, adalah proses menyelesaikan konflik melalui bantuan pihak ketiga. Dalam hal ini, sejumlah siswa dilatih di bidang prinsip dan kemampuan dasar di bidang proses mediasi. Dalam sejarah pendidikan modern, mediasi di lingkungan sekolah adalah salah satu pendekatan alternatif terhadap praktik-praktik tradisional seperti skorsing dan hukuman fisik bagi siswa yang dihadapkan kepada masalah dan konflik.
Mediasi sejawat atau peer mediation adalah bagian dari penerapan mediasi di lingkungan sekolah. Dalam hal ini, baik yang terlibat konflik maupun penengah atau mediatornya adalah siswa. Sebagai contoh, dua siswa yang terlibat konflik membicarakan penyelesaian terhadap konflik mereka dengan bantuan satu atau dua siswa lain sebagai penengah. Kesepakatan yang mereka capai melalui proses tersebut dapat ditulis. Tentu saja, siswa perlu mendapatkan latihan singkat bagaimana menjadi mediator tersebut.
Hal senada dengan MKBS juga telah lama didengungkan pentingnya pendekatan multikulturalisme di sekolah. Pendekatan multikulturalisme di sekolah ini penting terkait dengan kondisi keberagaman yang ada di sekolah. Berikut kutipan dari Grant dan Sleeter (2007) tentang kedudukan pendidikan multicultural.
We see multicultural education as a process of education reform that is rooted in an ethic of human rights. Multicultural education conceptualizes students, their diverse communities, and their cultural backgrounds mainly in terms of their strengths and their use as springboards for learning. Multicultural education examines social institutions, including schools, through a lens of power, questioning who benefits most from policies and taken-for-granted practices, valuing policies and practices that affirm equity and fairness.

Secara sepintas dapat dimaknai bahwa pendidikan multicultural merupakan sebuah reformasi proses, karena itu bukan hasil akhir, dari perjalanan panjang pendidikan yang berakar pada nilai etis penghargaan terhadap hak asasi manusia. Di dalamnya, peserta didik, masyarakat pendukungnya dan juga latar belakang budaya merupakan kekuatan yang dapat berguna untuk proses pembelajaran. Pendidikan multicultural juga melihat lembaga-lembaga social termasuk sekolah di dalamnya, dengan kaca mata kekuasaan, yaitu dengan mempertanyakan siapa yang mendapat keuntungan dari kebijakan dan juga perilaku sehari-hari (taken for granted), penilaian terhadap kebijakan dan pelaksanaan yang mengarahkan pada tercapainya kesetaraan dan keadilan (fairness).
Terkait dengan signifikansi PAI di sekolah-sekolah, Pendidikan Agama Islam ((PAI) pada Sekolah memiliki potensi sangat konstruktif bagi pembentukan watak dan karakter bangsa yang bermartabat sejalan dengan tujuan pendidikan nasional (UU RI No. 20 Tentang Sistem pendidikan Nasional Sisdiknas pasal 3 ) yang menyatakan “Pendidikan nasional …….bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Berikutnya pasal 12 ayat (1) dinyatakan bahwa “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: a. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama”.
Dari landasan konstitusional di atas, dapat dikatakan bahwa pendidikan agama, khususnya agama Islam, di sekolah cukup menempati posisi strategis dalam mendukung pembangunan nasional, khususnya terhadap aspek pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pada tataran yang lebih substansial, pendidikan Islam di sekolah juga diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan keimanan, ketaqwaan yang tercermin dalam ketaatan beribadah serta karakter siswanya, sekaligus sebagai salah satu elemen penting pendorong terciptanya prinsip-prinsip toleransi, inklusifisme, dialog antaragama, serta pendidikan berwawasan multikultural.

Sedikit tentang Kota Depok
Kota ini menjadi salah satu primadona metropolitan. Sebagai Kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara, Kota Depok menghadapi berbagai permasalahan perkotaan, termasuk masalah kependudukan. Dari tahun ke tahun, sebagai daerah penyangga Kota Jakarta, Kota Depok mendapatkan tekanan migrasi penduduk yang cukup tinggi sebagai akibat dari meningkatnya jumlah kawasan permukiman, pendidikan, perdagangan dan jasa dari Ibu Kota yang berimbas ke wilayah Depok.
Dalam masalah kependudukan, terjadi kenaikan cukup signifikan dalam puluh tahun terakhir. Meningkatnya jumlah penduduk Kota Depok disebabkan anta lain tingginya migrasi penduduk ke Kota Depok sebagai akibat pesatnya pengembangan kota yang dapat dilihat dari meningkatnya pengembangan kawasan perumahan. Angka kepergian penduduk Kota Depok tahun 2004 memperlihatkan pula pola yang berfluktuasi, di mana jumlah penduduk yang datang 11,899 jiwa dan penduduk yang pergi 4.503 jiwa, atau rata-rata jumlah pendatang pertahun mencapai 7,396 jiwa.
Berdirinya kampus sebesar Universitas Indonesia dan Universitas Gunadharma, menyumbang semakin pesatnya pertumbuhan. Sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pencetak kader-kader intelektual, kampus-kampus tersebut telah menjadi metafora kepesatan dinamika sosial. Kota Depok kini telah menjadi kota mandiri yang semakin metropolis. Di samping ditandai dengan berdirinya sejumlah kompleks pemukiman elite, adalah juga maraknya berdiri pusat-pusat perkantoran berikut gedung-gedung dan fasilitas modern, pusat perdagangan, pusat-pusat pendidikan dari tingkat dasar, memengah sampai perguruan tinggi tersebut.

Keadaan Umum Persekolahan
Di samping terdapatnya beberapa perguruan tinggi, termasuk pergurua tinggi ternama seperti UI, di Depok juga terdapat ratusan sekolah setingkat menengah atas, baik berupa SMA, SMK, maupun Madrasah Aliyah. Di Depok, total jumlah SMA saja berjumlah 52 buah, dengan sembilan di antaranya berstatus sekolah Negara, sisanya swasta . Adapun SMK berjumah jauh lebih banyak, yakni berjumlah 102 buah, dengan jumlah SMK negeri hanya tiga buah . Keberadaan Madrasah Aliyah jauh di bawah jumlah SMA dan SMK, yaitu berjumlah 18 buah, tanpa ada yang berstatus negeri satupun .
Melihat data tersebut dapat ditarik garis pemahaman bahwa sekolah menengah lanjutan atas di wilayah Depok lebih banyak disediakan oleh warga masyarakat, ketimbang oleh Negara. Pernyataan demikian ini semakin kuat manakala melihat perbandingan antara SMK yang dimiliki Negara dan dimiliki masyarakat. Jumlah SMK negeri hanya tiga dari 102 total SMK. Banyaknya jumlah SMK di wilayah ini juga sekaligus memberi sinyal betapa potensi gesekan antarpelajar masih merupakan fenomena yang akan terus menghantui bagi masyarakat di wilayah Depok.
SMA Negeri (SMAN) 2 Depok merupakan salah satu sekolah menengah atas yang berlokasi di Depok yang dikenal sudah cukup lama berdirinya. Sekolah ini berdiri sejak tahun 1985 dan beralamatkan di Jl. Gede Raya 177 Depok Timur. Sekolah ini cukup dikenal menjaga kualitas, dibuktikan dengan diperolehnya sertifikat penjaminan mutu. Misalnya saja pada tahun 2008, sekolah ini memperoleh akreditasi standard internasional ISO 9001:2008 yang diberikan oleh TÜV Rheinland. Sekolah ini terakreditasi A dengan nilai 97,53.
Berbagai fasilitas dimiliki SMAN 2 Depok, untuk menunjang kegiatan belajar mengajar ataupun kegiatan lainnya. Fasilitas selain kelas, antara lain perpustakaan, masjid, lapangan olah raga, laboratorium (IPA, komputer, bahasa), ruang audiovisual, ruang TRRC, UKS, koperasi, kantin, dan area hotspot. Sejumlah kegiatan ekstrakulikuler SMAN 2 diantaranya paskibra, rohis, basket, bela diri, tari tradisional, modern dance, teater, instrument perkusi, fotografi, PMR, jurnalistik, Japanese Korean Club, English Club, KIR, dan futsal.
Berikutnya adalah SMK Nasional. SMK ini berstatus swasta yang terletak di Jalan Grogol Raya, Limo, Kota Depok. Sekolah ini berada di tengah perkampungan dan persawahan di Kecamatan Limo, Depok. Sekolah kejuruan ini berada dalam naungan Yayasan Ghama Deleader School (GDS). Pada tahun 1984 nama pertama yayasan ini adalah Yayasan Pendidikan Nasional Gelora (YPNG), pada saat itu sarana dan prasarana masih sangat terbatas.
Barangkali sebuah kebetulan, bahwa lokasinya yang berdekatan dengan Kodim 0508/Depok, menjadikan SMK ini terasa istimewa dengan pola pengkaderan ala semi militer untuk siswa baru. Bahkan tercatat, komandan kodim pernah menjadi inspektur upacara di sekolah ini.

Kasus-kasus kekerasan Pelajar
Dalam masalah kekerasan pelajar, di Depok seakan tidak mau “kalah” dengan kota lain. Tawuran sudah sering terjadi. Informasi tentang kasus tersebut, antara lain bisa dilacak melalui media lektronik. Beberapa kasus bisa dikemukakan pada laman depoknews.com, di bawah judul “Pelajar Depok Sekarat Dibacok di Angkot”mengisahkan sbb.:
Dimas Anditio (14) siswa SMK Pancoran Mas, Depok, sekarat karena kepalanya dibacok pelajar lain ketika berada di angkot 03 jurusan Depok – Sawangan di tak jauh dari RS Bhakti Yudha, Senin (16/6). Dimas kemudian menjalani perawatan di RS Bhakti Yudha. Wakapolresta Depok, AKBP Irwan Anwar mengatakan, peristiwa itu terjadi saat Dimas bersama 10 temannya pergi ke sekolah dengan menaiki angkot. Namun tak jauh dari RS Bhakti Yudha, angkot tersebut dihadang sekelompok pelajar lain. Para pelajar itu pun lalu mengayunkan senjata tajam ke pelajar yang duduk di dekat pintu angkot. Pelajar itu tak lain bernama Dimas.“Karena kepalanya kena sabetan senjata tajam, Dimas pun pingsan. Pelajar itu langsung dibawa ke Bhakti Yudha,” tuturnya.
Pada kasus lain, diperlihatkan melalui video yang bisa diunduh dari youtube, yaitu kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok pelajar dari sekolah swasta di kawasan Sukmajaya, Depok terhadap seorang siswa SMU.
Peristiwa itu terjadi di satu lapangan sepak bola, dan direkam secara sengaja oleh seseorang. Video kekerasan berdurasi 0:59 detik yang diupload dari situs Youtube, akhir 19 September 2010 ini, memperlihatkan adegan seorang anak SMA masih memakai seragam sekolah dengan menggunakan jaket dikejar oleh segeromboralan pelajar SMU dari sekolah lain. Anak SMA yang menjadi korban pengeroyokan tersebut terlihat melarikan diri dan berteriak minta ampun. Namun naasnya, salah seorang pelajar mengejarnya dan melayangkan senjata tajam ke kaki kanan korban sampai sobek. Akhir nya jatuh tersungkur ke tanah.”Eh bacok-bacok…” teriak salah seorang pelajar saat korbannya telah terkapar tak berdaya. Selang beberapa saat kemudian, aksi anarkis itu berakhir tanpa sebab yang jelas. Sekelompok pelajar yang menyerang sempat terlihat kocar-kacir, dan berusaha menyelamatkan diri sambil berteriak menyebut nama satu SMKswasta.
Tawuran pelajar SMK juga pecah di Pancoran Mas kota Depok, SMK Pancoran Mas (SMK Panmas) lawan SMK Baskara. Tawuran pelajar SMK ini pecah pada hari Rabu siang 13 Agustus 2014 sekitar pukul 11.00 WIB di daerah Parung Bingung, Jl. Raya Sawangan, Pancoran Mas Depok. Menurut seorang warga yang melintas di lokasi, menjelaskan bahwa tawuran ini memakan 1 (satu) orang pelajar tewas mengenaskan dengan sejumlah luka bacok dibeberapa tubuh. Korban diketahui bernama Wandi Setiawan usia 17 tahun, yang merupakan pelajar SMK Baskara. Akibat tawuran yang memakan satu korban tewas ini, sejumlah pelajar dari SMK Baskara berjumlah puluhan menyerbu SMK Panmas yang berada di Jl. Raya Sawangan sekitar pukul 14.45 WIB. Akibat serbuan puluhan pelajar dari SMK Baskara ini menyebabkan beberapa kaca nako kelas lantai atas pecah berantakan. Namun hal tersebut tidak sampai meluas karena segera dilerai oleh aparat Kepolisian dari Polsek Pancoran Mas Depok beserta warga sekitar. Menurut beberapa saksi mata dari warga menyebutkan bahwa Kepala Sekolah SMK Panmas Waluyo pada saat serangan tersebut terjadi, tidak bisa melakukan tindakan apa-apa. Aksi penyerangan dipicu tewasnya siswa SMK Baskara, Wandi Setiawan (17) dalam tawuran antara kedua kelompok pelajar dari dua sekolah, Selasa (12/8/2014) Dalam peristiwa ini beberapa orang terluka dan tragisnya, seorang siswa SMK Baskara bernama Abu alias Dedi Triyuda (17) tewas.
Perlu menjadi catatan, bahwa posisi SMK Panmas dan SMK Baskara ini hanya berjarak kurang lebih 3 atau 4 Kilometer, masih di Jl. Raya Sawangan, namun dari dulu kedua sekolah ini kerap tawuran dan sering mengakibatkan korban pelajar tewas.
Kepolisian Sektor Pancoran Mas kemudian berhasil menangkap sejumlah siswa yang dicurigai terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. Sebanyak 25 orang dipanggil dan diperiksa, setidaknya dianggap mengetahui terjadinya kekerasan tersebut.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polresta Depok Ipda Bagus Suwardi mengatakan, Syafwidi Adi Putra (17) mengaku hanya membela diri ketika membacok Wandi Setiawan (15), pelajar SMK Baskara hingga tewas. Hal itu dikatakan Syafwidi saat diperiksa penyidik di Satreskrim Polresta Depok, Kamis (14/8/2014). Dari pemeriksaan saksi dan tersangka, saat kejadian tawuran pecah, Syafwidi dan Wandi sama-sama memegang celurit. “Korban juga membawa celurit, begitupun pelaku. Keduanya saling serang dengan menyabetkan celurit saat tawuran terjadi,” kata Bagus, di Mapolresta Depok, Kamis (14/8/2014). Karenanya kata Bagus, pelaku mengaku hanya membela diri sehingga sabetan pelajar SMK Pancoran Mas ini mengenai leher Wandi. “Katanya membela diri, karena sama-sama bawa celurit,” ujarnya.
Demikian paparan singkat dari peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh kalangan pelajar SMA/K Depok. Dari kasus-kasus tersebut memperlihatkan bahwa: (1) telah terjadi kekerasan dengan menggunakan senjata tajam antarpelajar itu sendiri; (2) tidak ada kejelasan alasan yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan; (3) mereka yang terlibat tindak kekerasan hanya didorong oleh tindakan emosional dalam arti tidak menggunakan akal sehat, dan (4) tindakan kekerasan dilakukan lebih banyak di luar jam pelajaran sekolah.
Secara moralitas, para pelajar yang terlibat tawuran mengabaikan nilai-nilai moral dan keberagamaan mereka. Solidaritas antarteman satu sekolah sangat kuat. Mereka tampak sangat sensitif terhadap identitas sekolahnya. Sehingga apabila ada salah seorang diantara teman sekolahnya menghadapi konflik dengan pelajar dari sekolah lain, maka teman satu sekolahnya akan segera bergabung melakukan pembelaan. Tidak mau lagi mengenali, apakah yang dimasalahkan dalam konflik itu urusan pribadi, urusan keluarga, atau lainnya. Menjadi lebih sensitif kalau konflik tersebut sampai terjadi adu fisik, maka dengan segera teman lainnya akan menggalang kekuatan kolektivitas untuk melakukan ikut melakukan penyerangan. Kadang dari persoalan yang hanya sepele, misalnya hanya saling memandang dengan tajam, diartikan sebagai sebuah “tantangan”, karena sentimentasi per-sekolahan nya sudah terbentuk sejak lama.

Upaya Mencegah Kekerasan
Disadari bahwa potensi konflik di sekolah nyaris tak bisa dibendung. Ketegangan atau gesekan yang melibatkan siswa seringkali terjadi di luar sekolah. Sentimen antarsekolah sering terjadi pada pertandingan-pertandingan olahraga dan juga pentas seni di luar sekolah. Di saat itulah mereka bertemu dengan siswa dari sekolah lain. Oleh gurunya, siswa diperingatkan sekolah tidak mentolelir jika melakukan pemukuan atau meladeni pemukulan. Jika kekerasan itu tetap dilakukan, maka risikonya akan dikeluarkan. Tidak ditemukan adanya dominasi yang tampak mata yang memungkinkan terjadinya konflik berkepanjangan.
Bagi pengelola mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) telah menjadinya sebagai perhatian serius. Di SMAN 2 Depok khususnya, keberadaan bangunan fisik sekolah sedemikian rapi dan terletak di lingkungan yang asri. Sekolah ini memberlakukan one gate system, satu pintu untuk keluar dan masuk. Di bagian depan dibangun pos security yang selalu standby setiap kedatangan tamu. Sejauh ini, potensi tawuran di SMAN 2 Depok, sebenarnya tidak terlalu menonjol.
Akan tetapi, potensi yang lebih mengemuka dan meresahkan, serta lebih menonjol, menurut sang guru agamanya, adalah infiltrasi pemahaman Islam radikal eksklusif dan garis keras yang dibawa para alumninya. Para alumni yang aktif mendampingi pengajaran Islam kepada siswa yang aktif dan tergabung dalam Rohis ini sejatinya mereka lebih aktif di organisasi mahasiswa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Para alumni yang masih aktif berkecimpung dalam Rohis adik-adik kelasnya ini, terutama yang diterima kuliah di ITB, UI, IPB. Adanya organisasi Rohis di sekolah, menurutnya, dengan mengutip Kailani, sebenarnya membantu pendidikan agama. Secara struktural, Rohis–seperti lembaga-lembaga ekstrakurikuler sekolah lainnya, berada di bawah pengawasan sekolah. Akan tetapi hubungan dan jaringan politik mereka dengan gerakan-gerakan Islamis di luar sekolah, terutama dengan gerakan yang berbasis di perguruan tinggi yang sering berasal dari alumni sekolah itu sendiri, membuat agenda dan tujuan mereka lebih politis-ideologis, melampaui tujuan kelembagaan ekskul yang digariskan oleh sekolah. Mereka melibatkan sejumlah alumni untuk melakukan semacam mentoring kepada para siswa.
Sebagaimana diketahui, bahwa di sekolah ini terdapat 3 guru PAI, satu PNS, dua lainnya masih honorer. Selain silabus juga data pribadi alumni yang bersangkutan. Kadang silabus tidak dalam bentuk tertulis, namun hanya penjelasan kisi-kisi materi saja. Alasannya, serasa kurang nyaman karena kondisinya anak-anak alumni dengan sukarela membantu dan menghindari kesan malah mempersulit bantuan. Alumni-alumni yang aktif itu dulunya memang aktivis Rohis. Meski libur atau tidak, mereka sesekali menyempatkan datang ke sekolah.
Dalam pandangan guru agamanya, adanya infiltrasi para alumni ini, dalam konteksitas kekerasan pelajar, menimbulkan persoalan tersendiri, karena sulit mendeteksi. Persebaran paham seperti masuknya aliran salafy yang cenderung eksklusif yang sulit terkontrol.
Terkait dengan upaya perwujudan pencegahan kekerasan, PAI tidak hanya disuguhkan dalam matapelajaran saja, tetapi juga dalam aspek pembelajaran yang lain. Walaupun masuk jam 7 pagi, namun anak diwajibkan datang pukul 6.45 menit. Waktu 15 menit itu digunakan untuk kegiatan tadarus bersama. Doa bersama dan tadarus ini dipimpin anak Rohis yang bacaannya sudah bagus. Sebelum masuk diperdengarkan murotal al Qur’an, ataupun lagu-lagu Islami yang tujuannya untuk membangun karakter. Selanjutnya membiasakan salam, shalat dluha dan shalat dzuhur berjamaah. Ada pula program pemberantasan buta huruf al Qur’an (PBQ). Program ini diwajibkan untuk kelas X. Harapannya setelah kelas XI tidak ada lagi yang tidak bisa baca al Quran.
Selain itu kegiatan Rohis juga sangat intens. Terkait dengan pengetahuan dan pengalaman itu dikembangkan di Rohis ini. Di Rohis juga dikembangkan seni-seni Islami. Selama 5 tahun dijadikan sebagai salah satu pelaksanaan PAI model di Jawa Barat. Program ini di bawah Dirjen PAIS Kemenag. Belum lagi kegiatan Ramadhan yang sudah penuh. Semua itu akumulasi pembinaan untuk menghilangkan kekerasan di kalangan siswa serta menumbuhkembangkan kekeluargaan di antara siswa. Diharapkan anak-anaknya tidak ada tawuran dan atau sejenisnya. Atas keberhasilannya dalam mengembangkan PAI dan pemberian nuansa agamis kepada aktivis Rohis, apreasiasi pun datang dari Dirjen PAI Kemenag RI. Lima tahun lalu pelaksaaan PAI di sekolah ini dijadikan PAI model. Sekarang ini juga sedang dilakukan evaluasi oleh Dirjen PAIS. Untuk hal ini; SMA 2 Depok bersaing dengan SMA 11 Bandung.
Bagi SMK Nasional, dalam mengantisiasi kekerasan dan tawuran antarsiswa, mempunyai kiat tersendiri. Dalam nuansa pendidikan keagamaan, pada kegiatan setiap hari, siswa diajak untuk melaksanakan shalat dhuha, shalat dzuhur dan ashar berjamaah. Selain itu juga diaktifkan pengajian-pengajian. Setiap waktu dhuhur, jam 12 mereka ke masjid dan dipandu imam salah satu gurunya, diteruskan dengan kultum, dan kemudian siswa pulang ke rumah. Rangkaian kegiatan semacam ini berada di bawah koordinasi PAI dan kegatan ini adalah bagian dari Rohis. Pihak sekolah menerbitkan buku jadwal kegiatan selama satu periode tertentu yang berisi jadwal kegiatan keagamaan. Jadwal tersebut terpampang dalam apa yang disebut buku kuning untuk mendisiplinkan. Ada pula panduan implementasi ajaran Agama Islam. Di dalamnya terdapat laporan sehari-hari, antara lain tentang ibadah shalat berjamaah, pengembangan penilaian diri, sikap jujur, siraman rohani, kultum dan kegiatan rohis, tadarus. Buku itu menjadi panduan panduan bacaan sehari-hari, termasuk hafalan surat-surat pendek al Qur’an, zikir dan doa shalat. Ini sesuai K13 untuk kelas X dab XI. Kelas XII masih menggunakan KTSP. Ini sebagai upaya untuk membangun karakter siswa dan meredam konflik.
Jika pelajaran PAI masuk kurikulum, maka kegiatan-kegiatan tersebut berada di luar kurikulum. Tujuannya adalah untuk meredam konflik di sekolah. “Kalau ada Rohis seperti itu, paling tidak hatinya terenyuh dan hatinya lemah tidak keras. Kami memberikan sentuhan kepada anak-anak, jadi dengan tidak kekerasan ataupun paksaan. Di sini kalau ada yang tawuran dan mabuk-mabukan langsung dikeluarkan. ”
Selain menggunakan pendekatan yang bersifat spiritual, juga di sini berlaku latihan fisik dan mental yaitu dalam wadah Latihan Disiplin Korps Nasional (LDKN). Latihan ini ditujukan kepada setiap anak yang baru masuk. Maksudnya pihak SMK Nasional berupaya mengombinasi penekanan pada rohani dan jasmani melalui LDKN. Untuk menerapkan kedisiplinan dan membentuk karakter, dibentuk juga polisi taruna (poltar) di SMK ini. Mereka terdiri dari perwakilan anak-anak kelas X dan kelas XI dan beberapa senior dari kelas XII. Setiap pagi mereka bertugas berbaris di depan memeriksa jika ada siswa yang bajunya keluar atau atribut tidak lengkap. Mereka inilah yang beropersi untuk memeriksa siswa.
Sejauh ini, tidak banyak sekolah yang menerapkan pembinaan seperti militer dengan menerapkan LDKN seperti di SMK Nasional ini, khususnya dalam wilayah Depok. Yang dijual GDS adalah kepemimpinan, dengan semboyannya “saya bisa memimpin”. Diharapkan, keluar dari sekolah ini ia bisa memimpin untuk dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Tidak dipungkiri dengan sistem LDKN ini di lapangan ditemukan adanya senioritas kakak kelas, tapi tidak berlebihan seperti di IPDN atau Akmil.
Untuk mengantisiasi adanya tawuran dan sebagai upaya penguatan karakter, di sekolah ini juga diadakan khataman al Qur’an 30 juz yang diadakan setiap Ramadhan. Di waktu Ramadhan juga diselenggarakan Pesantren Kilat (Sanlat) yang berlangsung selama 1 minggu. Semua kelas ikut dan dibuat acara buka puasa bersama. Di akhir Sanlat diadakan bazaar.
Tidak boleh ketinggalan pula perlu dicatat adanya kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) PAI yang sering diadakan di sekolah ini. Dalam kegiatan ini sering diwarnai dengan pentas seni, seperti MTQ, lomba busana muslim, ceramah dan kaligrafi. Sekota Depok. Paling tidak dalam beberapa tahun sekali kegiatan seperti ini diselenggarakan. Guru-guru MGMP juga ada kegiatan arisan dan siraman rohani. Salah satu ustadz yang diundang misalnya Ust Zainuddin dari Pesantren al Hamidiyaah, Depok. Agus Mulyadi sendiri selain guru PAI juga menjabat sebagai Guru BP dan aktif di MGMP PAI di Depok. Ia juga aktif di PAIS Kemenag Kota Depok. Masa mengajarnya sudah berlangsung selama 12 tahun mengajar di SMK ini. Ia pernah mengenyam belajar Islam di salah satu pesantren di Kauman, Malang, Jawa Timur.

Tinjauan
Aksi-aksi kekerasan yang terjadi di berbagai tempat di wilayah Depok, telah mengganggu kelangsungan pendidikan dan lebih khusus lagi pendidikan agama. Tanpa terbantahkan, kekerasan pelajar merupakan ancaman, gangguan dan hambatan abadi terhadap dinamika kependdikan moral. Aksi kekerasan, betapapun kecil jumlah korbannya, akan dipahami sebagai suatu tindak pelanggaran pidana dan anarkisme yang dilakukan oleh generasi calon pemegang kepemimipin masa depan bangsa. Mereka yang tidak tahu menahu, telah tergiring seakan sebagai subyek “pelaku dan mereka juga yang menjadi korban”. Mereka juga tidak tahu-menahu mengenai penyebab yang dipermasalahkan atau aktor intelektual yang berada di balik tindakan kekerasan tersebut.
Aksi kekerasan dikhawatirkan akan terus saja terjadi dan tidak menutup kemungkinan akan muncul aksi kekerasan baru yang akan kembali menggoyang dunia pendidikan. Karena aksi-aksi tersebut sering dilatarbelakangi oleh alasan-alasan praktis dan kadang tidak masuk akal. Karena itu, jika kekerasan pelajar diibaratkan sebagai semacam sesuatu yang “trendy”, maka para pelaku tidak merasa sebagai perbuatan pelanggaran moral atau pidaana.
Tawuran dan kekerasan antarsiswa sekolah dan yang melibatkan orang-orang dewasa di sekolah yang terus terjadi itu seakan bersebalikan dengan fakta bahwa mereka mendapatkan mata pelajaran untuk pembentukan dan penguatan karakter pribadi. Salah satu mata pelajaran dalam rangka peningkatan karakter itu tidak lain adalah pendidikan agama, termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI). Pendidikan agama masih dianggap relevan untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan penguatan karakter terhadap diri siswa. Hal ini penting untuk memandu langkah kehidupannya saat ini maupun nanti setelah menjadi bagian dari masyarakat luas kelak di kemudian hari dan terjun ke masyarakat langsung. Di samping itu, mereka juga mendapatkan mata pelajaran lain untuk pemupukan karakter. Pelajaran-pelajaran itu diharapkan menanamkan sikap-sikap toleran dan budi pekerti luhur. Namun kenyataannya, cita-cita tersebut belum semuanya terwujud, terutama jika menyangkut pelajar di sekolah-sekolah kejuruan seperti di sebutkan di atas.
Berdasarkan beberapa penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya, telah banyak disinggung bahwa kekerasan di sekolah itu tidak terlepas dari banyak factor. Hasil penelitian Dewanta misalnya menyebutkan bahwa kekerasan di sekolah ditengarai bersumber dari beberapa factor. Pertama, konflik yang terjadi diantara para peserta didik, individu maupun kelompok bisa berwujud tindakan yang saling mendiamkan, tidak mempedulikan satu sama lain, tidak ada kerjasama yang konstruktif, bullying, perkelahian dan tawuran. Kedua, konflik yang terjadi diantara peserta didik disebabkan adanya perbedaan persepsi, perbedaan tujuan dan perbedaan ketergantungan di antara mereka. Ketiga, konflik yang terjadi antara peserta didik dan guru dapat berwujud dengan sikap peserta didik yang tidak sopan terhadap guru, mengabaikan pelajaran, mengganggu kerja guru, meninggalkan kelas, bolos sekolah, mengancam, dan menyerang guru secara fisik. Keempat, konflik yang terjadi antara guru dan peserta didik kemungkinan terjadi karena karakter individu guru, kesiapan dalam menerima sikap kritis dan kelugasan peserta didik, serta ketidaksamaan persepsi dan tujuan antara peserta didik dan guru. Menurut Dewanta, guru sebagai tokoh dan role model dalam masyarakat dan kehidupan bersekolah sebaiknya mendapatkan pelatihan tentang kemampuan dasar manajemen resolusi konflik (kemampuan orientasi, persepsi, beremosi, berkomunikasi, berpikir kreatif, berpikir kritis).
Sekolah memang bukan berarti semuanya berjalan mulus, tanpa konflik. Kondisi tanpa konflik hamper mustahil ditemukan di sebuah sekolah. Malahan tanpa disadari, justru kekerasan dan konflik banyak dijumpai di sekolah yang tentu saja bersebalikan dengan cita-cita ideal proses pendidikan. Namun, adanya ketegangan dan konflik di sekolah itu sekaligus juga menjadi pemantik agar siswa mampu menyelesaikan persoalan dengan jalan damai. Cita-cita ini sejalan dengan digulirkannya penguatan karakter (character building) untuk kalangan siswa oleh banyak pihak.
Seperti disebutkan dalam bagian di muka, bahwa teori konflik pada umumnya menekankan kehadiran pemaksaan (coercion) dan kekuasaan (power) untuk menciptakan keteraturan tertib social. Pemikiran ini diturunkan dari karya Karl Marx yang melihat masyarakat itu sebenarnya terbelah ke dalam kelompok-kelompok yang saling bersaing satu sama lain untuk memperebutkan sumber daya ekonomi. Karena itu keteraturan social haruslah diwujudkan dengan cara dominasi, dengan kekuasaan di tangan mereka yang mempunyai kelebihan sumberdaya di bidang politik, ekonomi, dan sosial.

Simpulan dan Rekomendasi
Melihat pelaksanaan PAI di SMA Negeri 2 dan SMK Nasional Depok ini, dapat digarisbawahi bahwa ternyata sedikit banyak telah menerapkan Manajemen konflik berbasis sekolah, atau disingkat MKBS. Seperti diuraikan pada bab awal. Menurut Syamsu Rizal Panggabean, MKBS bertujuan dalam rangka menghargai, bahkan bila perlu merayakan, kemajemukan dan perbedaan di sekolah. Apabila konflik dapat dikelola dengan baik, maka perbedaan di kalangan siswa yang bersumber dari kemajemukan latar belakang mereka justru menjadi bagian dari pengalaman belajar dan tumbuh.
Pendidikan agama memang tidak secara langsung ditujukan untuk mencegah kekerasan, namun formulasi keberagamaan pada usia remaja, siswa SMA, adalah menuntut keharmonisan hubungan antarsiswa itu sendiri. Salah satunya adalah menjauhi kekerasan.
Keberadaan PAI dalam upaya pencegahan kekerasan di sekolah menengah masih dirasakan begitu besar manfaaatnya. Termasuk di dalamnya adalah dalam rangka penguatan karakter siswa. Namun masih tergantung, bagaimana pihak pengelola sekolah memberikan dukungan dan fasilitas. Di samping itu adalah dukungan para guru mata pelajaran lainnya, yang secara moral ikut bertanggungjawab dalam memelihara nama baik sekolah. Sementara itu, di usia yang masih labil, kebutuhan pendampingan untuk para siswa dalam rangka penguatan nilai masih sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, para guru PAI memiliki posisi strategis di masing-masing sekolahnya.
Pencegahan kekerasan juga diperlukan untuk mengantisipasi adanya ancaman kekerasan yang datang dengan atas nama “agama’ sendiri. Dari hasil penelitian ini, di luar dugaan ternyata juga terdapat potensi yang juga mengemuka, yakni infiltrasi pemahaman Islam radikal eksklusif dan garis keras yang dibawa para alumninya.
Upaya peredaman sejak dini, potensi kekerasan dan konflik di sekolah, dipandang penting oleh manajemen sekolah yang menjadi sasaran penelitian ini. Yaitu pada masa permulaan siswa masuk sekolah. Diadakan pelatihan khusus untuk kedisiplinan ala militer. Berlanjut dengan dibentuknya Poltar (polisi taruna), sebagaimana dilakukan di SMK Nasional, mengindikasikan bahwa anak-anak diberikan nuansa kedisiplinan untuk penguatan karakter. Setiap pagi, anak-anak siswa yang tergabung dalam poltar ini memeriksa rekan-rekan mereka sendiri yang atributnya tidak lengkap ataupun pakaian seragamnya tidak memenuhi unsur kerapihan. Pengawasan terhadap potensi penyimpangan ini dilakukan oleh siswa sendiri, sementara peran guru hanya mengawasi saja.
Selanjutnya, penguatan karakter dilakukan melalui sentuhan rohani, baik dengan pengenalan ibadah keagamaan di luar kelas, maupun di dalam kelas. Lingkungan dibiasakan perdengarkan lagu-lagu islami dan murotal al Qur’an di sela-sela anak-anak belajar. Anak-anak yang aktif dalam Rohis pun diajak untuk selain mendalami agama, di samping mencintai seni.
Pola pencegahan dengan pendekatan agama dan latihan fisik, telah menunjukkan adanya kontribusi yang besar bagi upaya pencegahan kekerasan. Indikasinya, bisa dilihat, bahwa dalam puluh tahun terakhir, para siswa dari kedua sekolah tersebut, nyaris tidak ada yang terlibat dalam tindak kekerasan, di dalam maupun di luar sekolah. Dengan arti kata, pola kependidikan agama yang diterapkan, melalui kerjasama antarguru dan keterlibatan pihak sekolah sendiri, telah menciptakan pola peredaman konflik antarsiswa.
Pola peredaman konflik melalui sentuhan agama sebagaimana diperagakan oleh kedua sekolah tersebut, sebaiknya dijadikan citra ideal bagi sekolah lain. Bahwa di samping melalui pembelajaran agama di kelas, adalah dengan: (1) Penaman nilai spritual melalui pembiasaan kebersamaan dalam ibadah sehingga tumbuh rasa persekeluargaan sesama siswa; (2) Pelatihan kedisiplinan secara fisik, dan (3) pembiasaan pembacaan kitab suci pada waktu-waktu tertentu. Secara manajerial juga diperlukan pelibatan MGMP dan pengurus Rohis, serta pihak kepala sekolah. Pola pencegahan di sini, diharapkan memperkaya pematangan teori manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS) sebagaimana yang telah coba dikembangkan di beberapa sekolah di Indonesia.