STUDI KASUS DI SMA NEGERI 3 DAN SMA PGRI 1 BOGOR

Oleh
Marzani Anwar

Latar Belakang
Kegiatan Kerohanian sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah dalam beberapa tahun terakhir ini terus menyita perhatian. Publik semakin menyoriti kegiatan ini atas dasar semakin maraknya kegiatan sejenis ini di sekolah-sekolah baik tingkat SLTP maupun apalagi SLTA. Perdebatan atas dampak dari kegiatan ini pun tidak pelak mengemuka.
Salah satu penilaian terhadap efektivitas kegiatan Rohis ini muncul dalam sebuah tayangan di televise swasta. Sebagaimana diketahui, 5 September 2012, Metro TV mengadakan dialog di program Metro Hari Ini bersama narasumber Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta Profesor Bambang Pranowo, mantan Kepala Badan Intelijen Negara Hendropriyono dan pengamat terorisme Taufik Andri. Dalam dialog tersebut Profesor Bambang Pranowo menyampaikan hasil penelitiannya bahwa ada lima pola rekrutmen teroris muda. Salah satunya melalui ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Saat dialog berlangsung, ditayangkan pula info grafik berisi poin-poin lima pola rekrutmen versi Profesor Bambang Pranowo.
Dalam dialog itu dijelaskan, bahwa sasaran “teroris” adalah siswa SMP akhir hingga bangku SMA dari sekolah-sekolah umum, mereka juga masuk melalui program ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Siswa-siswi yang terlihat tertarik kemudian diajak diskusi diluar sekolah dan mereka dijejali berbagai kondisi sosial yang buruk, penguasa korup, keadilan tidak seimbang. Yang tidak kalah penting, katanya, mereka didoktrin bahwa penguasa adalah thogut/kafir/musuh. Penilaian terhadap dampak Rohis semacam ini tentu sepertinya “menggugat” atas berlangsungnya praktik kegiatan Rohis sebagai salah satu bentuk ekstrakurikuler keagamaan di sekolah. Tentu saja ada pihak yang pro dan kontra atas sinyalemen tersebut di atas dan tentu sebuah kewajaran semata.
Aktivisme remaja Islam yang duduk di bangku sekolah menengah ini jelas bukan sesuatu yang baru. Aktivisme mereka bisa dilacak jauh ke dua dekade yang lalu. Para remaja sekolah inilah yang mendorong pemakaian jilbab yang kini meluas di ruang-ruang publik: sekolah, kampus, kantor, pasar, mall, dan lain-lain sebagaimana studi Alatas dan Desliyanti (2002). Herrera dan Bayat (2010) yang dikutip Salim dkk, menuliskan bahwa seperti remaja lainnya, para remaja Muslim ini memiliki kesamaan selera pada segala sesuatu yang bersifat populer yang dijajakan oleh pasar kebudayaan global. Kendati demikian, mereka juga memiliki aspirasi-aspirasi politik ideologis dan melakukan seleksi dan negosiasi atas pilihan-pilihan yang ditawarkan pasar global tersebut. Hal ini membuat mereka menjadi sama, tetapi serentak dengan itu juga berbeda, dengan banyak remaja kota dan dunia lainnya, serta remaja Muslim lain di luar mereka.
Yudhistira (2010) menyebutkan, dalam kesarjanaan di Indonesia, anak muda biasa dibedakan menjadi dua: remaja dan pemuda. Yang pertama adalah anak-anak muda yang memiliki kesamaan selera, aspirasi, dan gaya hidup yang ingin selalu berubah dan umumnya mengacu pada perkembangan yang terjadi pada tingkat global, terutama Barat. Yang kedua adalah jenis mereka yang memiliki kesadaran lebih tinggi akan persoalan bangsanya, seperti persoalan korupsi, sistem politik, dan lain-lain. Yang pertama dianggap bersifat apolitis, sedangkan yang kedua bersifat politis, yang sering dihubungkan dengan kedudukan para mahasiswa.


Dalam kontek ekstrakurikuler Rohis, Kailani juga menegaskan bagaimana Rohis telah menjadi arena pembentukan identitas remaja Islami di sekolah-sekolah untuk kasus sekitar Yogyakarta. Agak senada dengan itu, Wajidi yang menghimpun data dari pengalaman mengembangkan komunitas anak-anak sekolah menengah oleh Yayasan LKiS, menemukan kian menguatnya institusi Rohis di sekolah-sekolah negeri di beberapa wilayah Indonesia dalam pembentukan lingkungan sekolah Islami serta cara pandang keagamaan siswa. Kedua kajian ini menunjukkan adanya arus besar islamisasi dan konservatisme siswa-siswi di sekolah-sekolah negeri yang digerakkan oleh Rohis.
Di samping itu, kajian Smith-Hefner dan Saluz menunjukkan bahwa di tengah upaya menawarkan Islam dan dominasi Islam tertentu di sekolah, terdapat juga negosiasi-negosiasi dan resistensi-resistensi yang dilakukan para siswa Muslim yang lain atasnya. Ini membuat proses penafsiran Islam di situ selalu dalam ketegangan dan tarik-menarik. Pengertian resistensi di sini dipungut dari James C. Scott (1993, 2000) ketika menggambarkan perlawanan halus kaum tani terhadap para tuan tanah dan negara. Perlawanan halus dan diam-diam ini ditempuh, karena sedemikian kuatnya dominasi tersebut sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan secara terbuka.
Istilah resistensi dipakai Salim dkk dalam penelitiannya, selain sebagai perlawanan halus karena kuatnya dominasi di dalam sekolah, juga ditujukan pada kuatnya citra Islamis. Menentang secara terbuka gagasan islamisasi ini bisa dituduh anti-Islam. Dalam hal inilah, negosiasi dan resistensi menjadi strategi penting dan relevan. Selain itu, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan sebuah gambaran mengenai ketegangan yang dinamis antara structure dan agency. Temuan lapangan dalam penelitiannya menunjukkan bagaimana upaya membentuk lingkungan sekolah yang Islamis, yang dibangun oleh para aktivis dakwah melalui institusi Rohis di sekolah, tidak selalu berjalan lurus dan lempang. Selalu muncul upaya-upaya agency dalam menegosiasikan dan bahkan melawan structure tersebut. Temuan ini memberikan ilustrasi bagaimana dinamika ketegangan structure dan agency berpaut di ruang publik sekolah.
Keberadaan aktivis Rohis ini juga cukup mendapat dukungan, termasuk juga di beberapa sekolah di Depok. Untuk tempat bernaung kalangan aktivis Muslim seperti KAMMI ini, khusus di Depok ada organisasi yang dinamakan Kesatuan Pemuda Muslim Depok (KPMD). Mereka ini rata-rata mahasiswa tahun kedua atau ketiga yang dulunya juga dari kalangan aktivis Rohis dan setelah lulus, mereka terus membina Rohis melalui organisasi ini. Bahkan pengurusnya sendiri kebanyakan dari anak-anak Rohis yang masih aktif sekarang. Para senior mereka ini rata-rata aktif di kampus.
Organisasi ini secara yuridis tidak terkait dengan lembaga manapun. Mereka hanya dilandasi kesamaan kebutuhan. Hanya memang pernah didukung oleh Dinas Pendidikan di Depok dan memberikan dukungan untuk sebuah kegiatan tertentu. Selain itu, di organisasi ini menarik infak dari setiap sekolah, termasuk dari SMAN 2 Depok. Jumlahnya ratusan ribu hingga jutaan. Anak-anak rohis ini sangat patuh pada senior-senior mereka.
Model kepatuhan seperti ini perlu dipertanyakan karena jika salah bisa berbahaya. Secara umur mereka tidak terlalu jauh, sehingga hampir tidak terkendala dalam soal bahasa komunikasi. Barangkali juga karena didorong kekaguman kepada senior mereka. Dikhawatirkan, jika tidak diawasi bisa jadi memunculkan pemahaman Islam radikal. Kebanyakan dari mereka belajar agama tidak dari masa kecil, berbeda dengan alumnus madrasah tsanawiyah. Karena itu kecenderungan anak-anak rohis dengan para seniornya itu bersifat eksklusif.
Lembaga-lembaga pendidikan khususnya Sekolah Menengah Negeri maupun swasta di Bogor, adalah bagian dari penyelenggara kegiatan ekstrakurikuler bidang kerohanian. Terutama kegiatan sebagaimana dilaksanakan di SMU Negeri 3 dan SMU PGRI, itu bisa menjadi bagian dari pelaksanaan kurikulum 2013 dan mungkin memang sudah berjalan cukup lama, tanpa mengaitkan dengan K-13 tersebut. Bagaimana pun kegiatan itu adalah bagian daari kebijakan sekolah itu sendiri, dalam rangka membina para siswa melalui sentuhan keagamaan.
Namun sejauh ini, belum ada penelitian tentang kegiatan kerohanian pada kedua sekolah tersebut. Pada SMU N 3 merepresentaskan sebagai sekolah Negeri, dalam arti difasiitasi langsung oleh pemerintah. Sementara SMA PGRI representasi sekolah swasta, dalam arti difasilitasi langsung oleh masyarakat.
Mengacu pada latar belakang masalah di atas, penelitian ini mencoba untuk menjawab beberapa pertanyaan penelitian, yakni: (1) Bagaimana pelaksanaan kegiatan kerohanian/ekstrakurikuler keagamaan siswa di SMA Negeri 3 dan SMA PGRI Kota Bogor; (2) Lingkup materi apa saja yang diberikan pada kegiatan kerohanian tersebut?, dan (3) Persoalan apa saja yang mereka hadapi, berkenaan dengan penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler bidang kerohanian tersebut.

Metode Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Sesuai dengan jenis penelitian tersebut, maka metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan wawancara mendalam (indepth interview) Focus Group Discussion (FGD), observasi dan telaah dokumentasi, serta jika memungkinkan akan menggunakan angket.
Wawancara ditunjukan kepada pimpinan yayasan, pimpinan lembaga/sekolah, guru PA (Pendidikan Agama ), komite sekolah, tim pengembangan ekstrakurikulum, dan beberapa siswa. Wawancara dimaksudkan untuk memperoleh data tentang: (1). Profil sasaran lembaga/sekolah SMA, (2). Pandangan pimpinan dan guru PA tentang kegiatan kerohanian/keagamaan (ekstrakulikuler) siswa SMA, (3) Pelaksanaan kegiatan kerohanian/ekstrakurikuler keagamaan siswa di SMA (4) Lingkup materi yang diberikan pada kegiatan kerohanian tersebut, (5) Suber-sumber agama (referensi) yang mereka gunakan pada kegiatan kerohanian tersebut, (6) Siapa yang mereka rekrut sebagai pembina/mentor dalam kegiatan kerohanian tersebut, (7), Dampak atau pengaruh kegiatan kerohanian terhadap prilaku siswa SMA
Observasi dilakulan pada saat pelaksanaan kegiatan kerohanian atau keagamaan, meliputi metode pembelajaran, pemberian tugas, praktek keagamaan, santunan social dan lain sebagainya. Sedangkan telaah dokumentasi akn dilakukan khususnya pada dokumen-dokumen yang tersedia, seperti profail sekolah, dokumen kegiatan kerohanian/keagamaan lainnya yang ada disekola yang merupakan data pendukung. FGD dilakukan untuk mendiskusikan berbagai persoalan dan solusi terkait topik penelitian.

Profil Sekolah
SMA Negeri 3 Bogor yang berlokasi tidak jauh dari Terminal Baranangsiang Bogor ini menurut keterangan resminya berdiri tanggal 1 Juli 1981. Berdiri di lahan bekas perkebunan singkong yang sekarang terletak tidak jauh dari ruas tol Bogor Jakarta, sekolah ini sebelumnya adalah SMA Baranangsiang yang didirikan oleh salah satu tokohnya, Ali Sadikin. Menurut keterangan website sekolah ini, di gedung sekolah ini pernah juga diigunakan SMA Negeri 2 Bogor bersama dengan SMAN 3 Bogor. Akhirnya SMA Negeri 3 Bogor diputuskan untuk menempati lokasi ini.
Sekolah ini beralamat di Jalan Ciheleut yang masuk dalam wilayah Kecamatan Bogor Timur. Tidak jauh dari sekolah ini berdiri beberapa hotel dan juga pusat perbelanjaan dan pusat kuliner. Lokasinya yang terletak di tengah-tengah kawasan bisnis dan perkantoran membuat jalanan di sekitar sekolah ini ramai dengan lalu lalang kendaraan. Pada jam-jam tertentu bahkan kemacetan menjadi pemandangan yang biasa.
Sejak berdirinya, di sekolah ini telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan. Kepala sekolah yang pertama dijabat oleh Yusuf dari 1 Juli 1981sampai dengan 20 Desember 1982. Selanjutnya kepemimpinan sekolah diteruskan oleh Sismanudin Oemar yang menjabat dari tanggal 21 Desember 1982 sampai dengan tanggal 1 Maret 1988. Sejak era Reformasi, tepatnya sejak tanggal 25 April 1999 sampi tanggal 1 Juli 2003 sekolah ini dipimpin oleh Dra. Hj. Mariyati. Berikutnya, sejak tanggal 2 Juli 2003 sampai Oktober 2012 dipimpin Drs. H. Juskardi,MM, diteruskan Oktober 2012 sampai Februari 2015 dipimpin H. Fahrudin, S.Pd dan pada Bulan Maret sampai Mei 2015 dipimpin oleh Plt Kepala Sekolah Bapak Drs. H. Surya Setiamulyana, M.Pd. untuk saat ini, sejak Bulan Juni 2015 sampai sekarang dikepalai Drs. Acep Sukirman yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala SMAN 5 Bogor.
Menurut catatan pihak sekolah ini, banyak alumninya yang kemudian diterima kuliah di perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia. Pada tahun 2007 misalnya, lusan sekolah ini sebanyak 80 persen diterima kuliah di Perguruan Tinggi Negeri baik melalui jalur PMDK maupun melalui jalur SNMPTN. Tercatat bahkan angkanya meningkat untuk tahun tahun 2010/2011 yang lulusannya di perguruan tinggi negeri mencapai kisaran angka 95 persen.
SMA Negeri 3 Bogor termasuk sekolah paling vaforit di Kota Bogor ditandai dengan banyaknya piala maupun penghargaan yang diterima. Piala dan penghargaan itu dapat dilihat berjejer di depan ruang laboratorium maupun di ruangan Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah. Beberapa penghargaan didapat yang terkait dengan bidang akademik misalnya, Lomba Cerdas Tangkas (LCT) Matematika dari Universitas Pakuan Bogor serta dari Universitas Indonesia dan kejuaraan yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga lain.
Seiring dengan prestasi yang diraih, baik akademik maupun non akademik, SMA Negeri 3 Bogor dianggap menjadi salah satu sekolah unggulan di Kota Bogor. Atas dasar itu mulai tahun pelajaran 2002-2003, SMA Negeri 3 Bogor menjadi satu-satunya sekolah Negeri di Kota Bogor yang dipercaya Pemda Kota Bogor melalui Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk melaksanakan program Akselerasi, dan terus berlanjut hingga belakangan ini memasuki tahun ke-12. Sebelum dibatalkannya program sekolah bertaraf internasional oleh Mahkamah Konstitusi, sekolah ini menjadi salah satu sekolah di Bogor yang didaulat menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang dimulai sejak tahun 2007.
Di sekolah ini terdapat 27 lokal yang digunakan keseluruhannya untuk ruang belajar. Bangunan rata-rata bertingkat dua dan tiga dengan membentang mengelilingi lapangan seluas lebih kurang 400 meter persegi. Lapangan ini digunakan untuk upacara serta kegiatan olahraga seperti futsal, bola volley, badminton, dan sebagainya.

Sementara itu, SMA PGRI 1 di kota yang sama, pendirian sekolah ini dapat ditelusuri dari era sejak era Orde Lama. Menurut dokumen yang dikeluarkan pihak sekolah, cikal bakal berdirinya sekolah ini tertera tahun 1957 yang diprakarsai dua orang, yaitu Sulaeman dan Taudin Iskandar. Saat ini siswa sekolah SMA dapat dibilang cukup langka, di tengah sisa-sisa jaman revolusi yang belum sepenuhnya pulih. Sekolah menengah tingkat atas yang ada saat itu hanya dua sekolah, yang daya tampungnya ternyata juga tidak cukup banyak. Muncullah ide dari sebagian masyarakat yang prihatin atas kondisi tersebut yang akhirnya berinisiatif mendirikan sekolah menengah tingkat atas yang sekarang menjadi SMA PGRI I Bogor ini.
Gedung sekolah yang tampak seperti sekarang ini berdiri di atas lahan seluas lebih kurang 3.000 meter persegi yang berada di kawasan Jalan Bina Marga No. 1 Bogor, yang masuk dalam wilayah administratif Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur. Gedung di alamat ini mulai difungsikan pada tahun 1986 dan diresmikan penggunaannya oleh Walikota Bogor, Muhammad pada tanggal 20 Agustus 1986. Sebelum mempunyai gedung sendiri, sekolah ini menumpang di bangunan gedung milik beberapa sekolah dasar di antaranya SDN Panaragan di Jalan Veteran, SDN Pengadilan di Jalan Pengadilan, SDN Pabrik Gas di Jalan Salmun serta di SDN Dewi Sartika di Jalan Dewi Sartika. Statusnya sekarang ini terakreditasi A sesuai dengan keterangan yang dikeluarkan badan akreditasi tertanggal 25 November 2008.
Kepala Sekolah SMA PGRI I Bogor saat ini dijabat oleh Evi Jalinar sejak tahun 2011. Sebelumnya, tampuk kepemimpinan berada di pundak Ilyas Hasyim yang memimpin sekolah ini dari tahun 1973 hingga 2011, artinya 38 tahun masa kepemimpinan yang jauh melampaui masa kekuasaan Presiden Soeharto. Sebelumnya kepala sekolah dijabat oleh Momon dari tahun 1963 hingga 1973 yang menggantikan Sulaeman, memimpin dari tahun 1958 sampai 1963.
Dilihat dari segi lokasi saat ini, dari pintu gerbang sekolah ini dapat dilihat dengan jelas jalur ruas tol Jagorawi yang hendak menuju atau dari arah Terminal Baranangsiang Bogor. Di depan gerbang terdapat jalan umum yang dinamakan Jalan Bina Marga yang kemudian didirikan pagar arkon di sampingnya sebagai pembatas jaan tersebut dengan wilayah jalan tol. Karena ramainya lalu lintas di jalan Bina Marga tersebut, pintu gerbang senantiasa ditutup waktu jam pelajaran. Pengunjung hanya diberikan akses satu pintu kecil yang cukup untuk lalu lalang sepeda motor dan juga keluar masuk pejalan kaki.

Kegiatan Ekstrakurikuler
Menurut ketentuan Ekstrakurikuler dalam Kurikulum 2013 yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 23 September 2013 disebutkan bahwa yang disebut kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan (Pasal 1, ayat 1).
Dalam panduan tersebut juga disebutkan bentuk-bentuk kegiatan ekstrakurikuler, yaitu antara lain pertama, kegiatan Krida yang melingkup antara lain kegiatan kepanduan, kegiatan latihan kepemimpinan, palang merah remaja (PMR), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Paskibraka dan sebagainya. Kedua, kegiatan Karya Ilmiah yang mencakup misalnya Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), penelitian dan seterusnya. Ketiga, Latihan olah bakat dan latihan olah-minat, misalnya kegiatan olahraga, seni dan budaya, pecinta alam, jurnalistik, teater dan seterusnya. Keempat, kegiatan keagamaan seperti halnya kegiatan pesantren kilat, ceramah keagamaan, baca tulis al Quran, retreat dan sejenisnya.
Adapun ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler meliputi kegiatan individual dan kegiatan kelompok. Kegiatan individual mencakup kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti peserta didik secara perorangan. Sementara itu, kegiatan ekstrakurikuler kelompok diikuti peserta didik secara berkelompok baik dalam satu kelas (kasikal), berkelompok dalam kelas pararel ataupun berkelompok antarkelas.
Syarifuddin K mencatat, bahwa kurikulum 2013 dibangun dan diberlakukan untuk merubah mindset peserta didik dalam berfikir serta membangun pola pikirnya sesuai fakta ilmiah dengan menitiberatkan pada pembentukan karakter peserta didik. Siswa atau peserta didik harus mampu memahami (knowing), terampil melaksanakan (doing), dan mengamalkan (being). Dalam penilaian kurikulum 2013, terdapat penilaian pengetahuan, keterampilan, sikap (observasi, diri sendiri, antar teman, dan jurnal).
Bila dicermati maka semua aspek penilaian itu bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik. Hal ini karena output tersebut menyatakan hasil dari sebuah pembelajaran yang telah dilakukan, mengingat kurikulum 2013 yang dibentuk sedemikian rupa untuk mengatasi dan mencegah dekadensi moral bangsa ini. Di sini, lembaga pendidikan (sekolah) menjadi sasaran utama, karena dinilai tepat sebagai awal pembentukan karakter peserta didik. Begitu pula, materi yang dimuat dalam kurikulum 2013 ini tidak akan tercapai tujuan pembelajarannya tanpa didukung oleh semua pihak.
Dapat dikatakan bahwa meskipun disediakan seorang pendidik professional dan sarana dan prasarana yang sangat memadai, namun tanpa adanya penanaman karakter terhadap siswa akan menghasilkan output yang tidak sesuai dengan harapan. Artinya materi yang diterima hanya bersifat pengetahuan (kognitif), tanpa ada pengamalan. Di sinilah pentingnya kedudukan esktrakurikuler semacam Rohani Islam (Rohis).
Secara umum, kegiatan dan tujuan Rohis bermuatan seperti apa yang diinginkan oleh Kurikulum 2013. Beberapa kegiatan Rohis yang dimaksud dan hampir semua sekolah dan bahkan kampus menerapkannya antara lain, yaitu kegiatan mentoring (kajian praktis tentang kehidupan manusia), TBTQ (Tuntas Baca Tulis Al-Qur’an), Shalat Zhuhur berjama’ah (Giliran perkelas dilengkapi kultum), Piket membersihkan Mushalla, Mabit (Malam bina iman dan taqwa), Irama (Ibadah Ramadhan), Wisroh (Wisata Rohani), PHBI (Peringatan Hari Besar Islam), Mapercaris (Masa Perkenalan Calon Anggota Rohis/Pembekalan).
Jika diamati, maka seluruh kegiatan tersebut bermuatan untuk tujuan pembentukan karakter. Bukanlah semata-mata sebagai pelaksanaan kegiatan, tetapi bagaimana kegiatan tersebut menjadi sebuah pengalaman belajar sehingga tertanam mindset yang religious terutama di kalangan siswa atau peserta didik. Sebagai upaya agar penyelenggaraan program ekstrakurikuler berjalan efektif dan efisien sesuai harapan, maka Rohis harus dikelola secara terintegrasi dan berkesinambungan dengan kegiatan intrakurikuler Pendidikan Agama Islam yang ada di sekolah.
Lebih-lebih bahwa ternyata dalam praktiknya Rohis merupakan kegiatan integratif antara mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Jika jumlah jam mata pelajaran ini hanya tiga jam perminggu, maka tidak akan mampu mendalami materi tersebut. Kegiatan Rohis sangat memberikan kontribusi positif terhadap mindset peserta didik, namun kesadaran untuk bergabung dengan Rohis masih sangat rendah dibandingkan dengan persentase peserta didik yang beragama Islam. Karena bagi peserta didik yang bergabung dengan Rohis tidak ada istilah paksaan, jadi setiap yang ingin menjadi anggota Rohis memang merupakan hati nurani.

Kerohanian Islam di SMA Negeri 3 Bogor
SMAN 3 Bogor, dibanding sekolah-sekolah lain sesama AMA Negeri di kota Bogor, terdapat paling banyak siswa yang beragama selain Islam. Jumlah ini dari tahun ke tahun tetap sama. Menurut data dari bagian akademik jumah siswa muslim untuk tahun 2015 ini mencapai 282 jiwa, semantara muslimah mencapai angka 578 siswa. Kemudian jumlah siswa agama lain sebanyak 54 siswa. Jadi, total siswa di sekolah ini dari kelas X sampai kelas XII sebanyak 914 siswa. Namun kegiatan keagamaan Islam ekskul sangat sangat mengedepan.
Di sekolah ini, aktivis Islam berhimpun dalam Perhimpunan Remaja Islam (Prisma) atau juga disebut Rohis DKM al Ghufron. Perhimpunan ini sangat disadari pihak sekolah karena dapat meminimaliasi dampak negatif dari sebuah perkembangan zaman, diperlukan sebuah sarana untuk mengatasinya.
Menurut situs sekolah ini, dibentuknya Prisma atau Rohis DKM al Ghufron itu dilatarbelakangi oleh pertimbangan terhadap sektor pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Selanjutnya juga pertimbangan terhadap fungsi dan peran generasi muda yang sangat strategis dan berpengaruh besar pada kualitas peradaban manusia. Adapun tujuannya antara lain adalah membentuk kader dan pribadi muslim yang sejati, membentuk ketahanan mental spiritual yang lurus dan tangguh dalam menghadapi segala tantangan hidup, mengembangkan pola fikir integratif, kreatif, dan reaktif untuk membantu meningkatkan efektivitas belajar, memasyarakatkan nilai – nilai yang islami disegala bidang kehidupan, berperan aktif dalam segala aktivitas kemanusiaan dan persaudaraan serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan sosial dan pendidikan yang baik, aman, dan harmonis.
Berbagai kegiatan keagamaan yang relatif mendukung pendidikan keagamaan siswa antara lain demgan terselenggaranya kegiatan sehari-hari: sebelum belajar kegiatan utama adalah membaca al Quran yang dikhususkan untuk seluruh siswa Muslim dan juga para guru. Kegiatan membaca al Quran ini dipimpin oleh salah satu siswa yang sudah dijadwalkan. Disediakan pula sebuah meja kursi di ruang guru untuk siswa yang memimpin pembacaan al Quran ini yang bergantian dalam setiap pagi di hari-hari waktu pelajaran.
Dalam kegiatan ini, siswa yang memimpin ini menyampaikan panduannya melalui microphone yang dapat didengar melalui mesin pengeras suara yang ada di setiap kelas. Untuk mendukung suksesnya kegiatan ini, di setiap kelas ditempatkan beberapa eksemplar mushaf al Quran. Pembacaan al Quran akan lebih dimaksimalkan pada waktu pelajaran PAI, setiap awal pelajaran semua siswa membaca al Quran terlebih dahulu dipimpin oleh guru agama.
Secara rutin setiap pagi sebelum jam pelajaran dimulai, terdapat siswa yang memimpin pembacaan al Quran. Sebelumnya, tepat pada pukul 7 pagi didahului dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, pembacaan al Quran secara bersama dimulai. Al Quran sekolah ini secara khusus memesan kepada pabrikan yang terletak di Ciawi. Dalam mushaf tersebut tertera nama SMA Negeri 3 Bogor.
Menariknya, al Quran yang tercetak itu berasal dari hasil infak siswa. Dianjurkan oleh guru-guru agama kepada siswa untuk bersedia menyisihkan sebagian hartanya untuk berinfak mencetak al Quran. Bahkan sebelum belajar, anak-anak dianjurkan untuk berinfak. Kantung infak disediakan di setiap kelas yang digantung di dekat rak kayu tempat menyimpan mushaf al Quran. Pada setiap al Quran tertera juga tulisan yang menyebutkan bahwa al Quran tersebut diterbitkan untuk SMAN 3 Bogor. Infak tersebut, setelah terkumpul, selain digunakan untuk mencetak al Quran juga digunakan untuk rencana pembangunan masjid. Masjid yang ada sekarang dirasakan kurang mencukupi dan akan dipugar untuk dijadikan tiga lantai. Hingga saat ini telah terkumpul lebih kurang 400 juta yang dikumpulkan dari hasil infak para siswa. Awal program infak hingga mencapai angka tersebut dari Bulan November 2012 dan masih terus berlangsung hingga sekarang .
Kegiatan keagamaan lain selaras dengan Rohis juga dengan terselenggaranya kegiatan jumatan, walaupun masjidnya kecil saja. Khotibnya adalah siswa secara bergantian dan imam sholat tetap guru agama, Badrul Kamal sebagai guru agama menjadi imam dalam sholat jumat tersebut. Siswa belum diberikan kesempatan untuk menjadi imam karena dikhawatirkan bacaan al Qurannya belum fasih.
Dalam kegiatan ekskul juga terdapat kegiatan LDK Rohis. Kegiatan ini diselenggarkan setahun sekali. Pesertanya adalah siswa baru, kelas 1. Namun ada juga kelas 2 yang baru ikut. Mereka direkrut untuk selanjutnya dapat dikader menjadi pengurus Rohis. Dengan proses seperti ini diharapkan tetap adanya kesinambungan ataraktivis Rohis.
Kegiatan ekskul Rohis lainnya berupa kegiatan tadabbur alam. Belum lama ini di Bulan Oktober 2015, aktivis Rohis sekolah ini diajak ke Curug Luhur, Cilember, Bogor. Pembimbingan kegiatan ini juga melibatkan guru selain guru agama, sedangkan guru intinya tetaplah guru agamanya. Termasuk kegiatan ekskul Rohs juga adalah kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit). Pun pula kegiatan lain terkait dengan penguatan akidah dan paham keislaman juga terus dilaksanakan misalnya melalui peringatan hari-hari besar Islam, Peringatan Isra’ Mi’raj umpamanya. Di situ diselenggarakan pengajian. Begitu pula dengan perayaan maulid nabi. Di sini bukan mengkultuskan, melainkan mengingat akan teladan Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini seringkali diselenggarakan di Masjid Raya Bogor. idak ketinggalan pula perayaan idul qurban yang rutin diselenggarakan di sekolah ini setiap tahunnya.
Kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) juga rutin diselenggarakan di setiap Bulan Ramadhan. Panitianya sendiri dari aktivis para Rohis. Di setiap tingkatan, masing-masing terdapat penanggung jawabnya. Termasuk juga guru-guru agamanya. Bahkan untuk urusan dana, siswa sudah mampu berinisiatif sendiri walaupun juga pihak sekolah tetap membantu.
Dengan demikian, di sekolah ini dapat dikatakan kegiatan ekskul keagamaan berjalan sedemikian rupa. Di dalamnya terdapat kegiatan harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Untuk kegiatan harian juga diselenggarakan sholat dhuha. Sebulan sekali juga ada pengajian khususnya untuk guru-guru. Khusus untuk kepanitian PHBI itu pun peran paling besar ditunjukkan anak-anak Rohis.
Hambatan atau tantangan yang dihadapi Rohis SMAN 3 Bogor sejauh ini dalam merealisasikan kegiatan ekskul Rohis tidak eksplisit mengemuka. Melainkan tantangan lebih pada aspek kekhawatiran khususnya pada infiltrasi paham-paham keIslaman baru. Namun guru-guru agama selalu memantau sekiranya misalnya dijumpai dai-dai yang menyampaikan doktrin yang mempengaruhi paham keagamaan siswa. Dilihat dari aspek psikologis, anak-anak SMA masih tergolong labil secara kejiwaan. Ditakutkan ketika dipengaruhi penceramah berkedok Islam, malah akan menjerumuskan siswa.
Dukungan financial dari sekolah biasanya dikucurkan pada kegiatan-kegiatan tertentu yang salah satu contohnya adalah kegiatan tadabbur alam. Kegiatan ini kontan melibatkan guru dan siswa. Kegiatan peringatan hari besar Islam juga sering diselenggarakan dengan meminjam salah satu ruangan di Masjid Raya Bogor, yang lokasinya tidak jauh dari sekolah. Kegiatan keagaman yang berskala besar seringkali diselenggarakan di Masjid Raya Bogor mengingat di sekolah ini masjidnya belum mampu menampung ratusan jamaah.
Dukungan keuangan dari sekolah kadang bisa mencapai Rp. 10 juta jika termasuk untuk biaya-biaya yang lain dalam kegiatan PHBI seperti yang sudah beberapa kali terselenggara di Masjid Raya Bogor. Kerja sama dengan pihak Masjid Raya Bogor ini telah terjalin karena kedekatan guru agama sekolah ini dengan pihak pengelola masjid tersebut yang kebetulan juga salah seorang staf struktural di Kantor Kemenag Kota Bogor. Kegiatan yang membutuhkan dana besar, selain kegiatan PHBI juga kegiatan massal seperti pesantren kilat (sanlat).
Penggalangan dana juga tidak jarang dilakukan anak-anak Rohis seperti misalnya menjajakan makanan untuk keperluan dana suatu kegiatan. Makanan itu dijual kepada guru-guru dan juga kalangan temannya sendiri. Di setiap kelas juga tersedia kantong-kantong infak yang terbuat dari kain. Selain untuk rencana pembangunan masjid, keperluan Rohis juga terkadang menggunakan dana infak tersebut.

an juga tidak ada pola perubahan akidah yang mereka bawakan kepada adik-adik kelas mereka.

Kegiatan Kerohanian SMA PGRI 1
Kegiatan Kerohanian Islam di SMA PGRI I Bogor, berjalan dengan dinamikanya sendiri. Menurut penuturan Pembina Rohis, Sugandhi, perwakilan Rohisnya sudah tergabung dalam perkumpulan di Kementerian Agama. Dari sekolah ini terkirim 6 orang untuk duduk sebagai pengurus di tingkat kota yang memang diwajibkan di setiap sekolah.
Kegiatan Rohis di sekolah ini diarahkan kepada kegiatan keagamaan. Utamanya membantu guru-guru agama dalam memberikan pendampingan pembacaan al Quran kepada para siswa. Bagi siswa yang belum bisa sama sekali membaca al Quran, maka aktivis Rohis akan membantu siswa tersebut. Selain itu, dari sisi kesenian juga diperhatikan dengan diadakannya kegiatan seni Marawis dan Hadrah. Selanjutnya dalam setiap dua minggu sekali juga diadakan kegiatan belajar menyampaikan tausiyah (khitobah). Kegiatan berikutnya juga penting adalah kegiatan keputrian, khususnya untuk siswi pada hari Jumat ketika diselenggarakan shalat Jumat. Kegiatan ini dipandu oleh guru agama dan juga guru mata pelajaran lain yang memahami agama. Para guru agama perempuan di sekolah ini memegang peranan penting dalam kegiatan keputrian.
Berikutnya dalam rangka perayaan hari besar Islam, diselenggarakan kegiatan semacam bakti social. Pihak Rohis menggalang dana untuk diadakan kegiatan bakti social. Bakti social tersebut menyasar ke sekolah-sekolah dasar yang membutuhkan dengan pemberian buku-buku dan juga tas sekolah. Kegiatan seperti ini telah terlaksana hampir setiap tahun biasanya pada acara Muharraman”. Begitu pula pada saat perayaan 1 Muharram atau tahun baru hijriah juga secara rutin diadakan aneka perlombaan se Jabotabek. Perlombaan ini melibatkan siswa SMP hingga SMA/SMK. Di antara ajang yang diperlombakan antara lain pidato, pembacaan puisi, cerdas cermat kandugan al Quran, dan qiroat. Kegiatan itu sudah rutin dan bahkan sudah sampai tingkat provinsi.
Kegiatan tafakkur alam atau tadabbur alam, berlangsung secara rutin sejak tahun 1997 yang diselenggarakan oleh Ikatan Remaja Masjid (IRM). Nama Rohis di sekolah ini sejak awal berdirinya dikenal dengan istilah IRM ini. Adapun kegiatan hari besar Islam itu diselenggarakan sejak tahun 2000. Adapun untuk baca al Quran yang diselenggarakan oleh para guru agama dengan siswa yang tergabung dalam ekskul Rohis berlangsung sejak tahun 2007.
Pihak Pembina Rohis menyatakan bahwa dirasakan kurang efektif kegiatan ekskul Rohis di sekolah ini dalam artian karena kurang adanya pengawasan misalnya dari Kemenag. Barangkali karena kekurangan pengawas dari Kemenag, mereka jarang datang ke sekolah ini. Pihak yang seharusnya melakukan pengawasan belum sampai turun langsung ke sekolahnya, sehingga belum tahu kekurangan ataupun kelebihannya. Termasuk untuk memenuhi kebutuhan akan al Quran diupayakan sendiri dengan menarik pungutan sebesar Rp. 5.000 sampai dengan Rp. 10.000 dari siswa sendiri. Al Quran ini dibutuhkan terutama karena sebelum pelajaran agama dimulai guru-guru agama membiasakan siswa untuk membaca al Quran kurang lebih selama 10 menit. Insiatif muncul dari guru-guru agama untuk mengatasi kekurangan eksemplar al Quran dengan cara pungutan tersebut. Dengan upaya ini kebutuhan akan mushaf al Quran dapat terpenuhi.
Al Quran itu ditaruh di dalam kelas dan digunakan pada waktu pelajaran agama. Baru sebatas keinginan dari guru agama sekaligus Pembina Rohis bahwa siswa membaca al Quran setiap pagi. Namun dukungan dari guru-guru lain serta dari pimpinan sekolah belum memadai. Akibatnya hanya pada waktu dirinya mengajar agama saja, baca al Quran itu diterapkan. Untuk guru agama Islam yang lain pun belum semua menerapkan hal yang sama.
Ada sejumlah wacana yang datang dari guru agama selaku pembina rohani Islam para siswa, antara lain pentingnya pembacaan al Qur’an sebelum menyanikan lagu Indonesia Raya, pada setiap acara tertentu. Namun dalam pengakuannya, belum banyak yang bisa terwujud. Termasuk program quranisasi siswa. Para guru agama selama ini lebih berkonsentrasi pada pengajaran agama kepada siswa. Juga meminta tambahan 1 jam lagi untuk ekskul pelajaran agama, khusus untuk pelatihan membaca al Quran kepada siswa yang belum bisa membaca huruf arab. Masih belum bisa terlaksana. Padahal jumlah anak yang belum mampu membaca al Quran boleh dibilang cukup banyak persentasenya, khususnya di PGRI. Padahal, secara keseluruhan 98 persen siswa beragama Islam.
Ada tiga guru agama di sekolah ini. Sugandhi sendiri lulusan dari Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Jati Bandung. Dua orang guru lain yaitu Hasan Sabana serta Erama. Ketiga guru tersebut telah menerima tunjangan sertifikasi guru. Namun begitu, di sisi lain kesenian Islam semacam marawis maupun nasyid misalnya malah bisa berjalan. Seni marawis dari sekolah ini sudah cukup lama dikenal dan sering tampil baik dalam perlombaan maupun pementasan dalam acara terutama di sekolahan.
Hambatan terbesar justru dari kebijakan sekolah yang kurang mendukung. Inisiatif kegiatan keagamaan kebanyakan berasal dari siswa, sejak tahun 1995. Antara lain dengan berdirinya IRM tersebut. Ikatan dengan alumni IRM dapat terjalin, hingga sekarang. Setiap tiga bulan sekali rutin diadakan pengajian ke rumah-rumah alumni walaupun rumah mereka di rumah kontrakan. Mereka sudah berkeluarga dan mempunyai anak dua atau tiga. Kegiatan pengajian rutin antaralumni itu terus berjalan sampai ke wilayah Cibinong dan juga Hambalang. Mereka selalu memberitahukan kepada guru agama ini jadwal pengajian para alumni IRM ini.
Menurut Sugandhi, dukungan dari para alumni ini malah jauh lebih besar ketimbang dukungan dari pihak sekolah, termasuk rencana pembangunan masjid sekolah. Mereka sekarang yang menjalankan proposalnya, dan diperbanyak sendiri oleh mereka. Untuk peribadatan para siswa dan guru sekolah sampai sekarang masih memanfaatkan salah satu ruangan kelas untuk dijadikan mushalla. Karena belum mempunyai bangunan masjid tersendiri, maka penyelenggaran shalat jumat diselenggarakan di sekolah.
Masjid yang lama telah dirubuhkan karena tanah di mana masjid itu berdiri dimiliki oleh mantan kepala sekolah. Begitu lengser, tanah itu pun dijual dan akhirnya gedung yang digunakan shalat jumat oleh sekolah ini pun ikut dirubuhkan. Sekarang ini baru mulai merancang pembangunan masjid yang baru. Rencana pembangunan masjid di bagian depan dengan desain di bagian bawah kantin dan di bagian atas adalah masjid.
Dukungan finansial dari pihak sekolah kepada ekskul Rohis ini dalam bentuk kebijakan dimasukkannya anggaran khusus dari siswa baru ketika awal masuk. Ekskul Rohis diberikan jatah satu orang sebesar Rp. 25.000 untuk sekian kegiatan, termasuk misalnya untuk Qurban, tafakkur alam, kegiatan muharraman, dan lain-lain.
Kerja sama dengan lembaga dakwah lain misalnya dalam bentuk khitanan massal yang dikerjasamakan dengan bulan sabit. Mereka memberikan bantuan dalam bentuk pengiriman tenaga dokter. Hal ini telah berlangsung dari sejak tahun 2005 dan masih berlangsung hingga tahun ini. Kegiatan ini dilangsungkan setahun sekali dengan menyasar terutama kepada warga RT 3 dan 4 Kelurahan Ciheleut, Bogor Timur, tepatnya kawasan di sekitar sekolah. Selain itu juga menjangkau wilayah siswa di kawasan Bogor dan mereka membawa anaknya ke sekolah.
Seperti disebutka di muka, bahwa kegiatan peringatan maulud nabi ataupun isra miraj tidak diselenggarakan secara khusus di sekolah ini, melainkan dirupakan kegiatan seperti kegiatan baksos di waktu acara Muharraman. Kegiatan di dalamnya seperti lomba azan, baca al Quran, cerdas cermat kandungan al Quran, pidato dan sebagainya. Kegiatan seperti ini dilakukan dengan mengundang sekolah-sekolah lain. Besaran dananya bisa mencapai Rp. 25 juta. karena itu, pihak panitia juga menggandeng pihak lain untuk mencukupi kebutuhan dana tersebut. Kepada peserta pun juga dikenakan biaya pendaftaran yang besarannya hingga mencapai Rp. 30 ribu. Dana juga didapat dengan jalan aktivis Rohis berjualan makanan di kalangan siswa. Pernah juga dana diperoleh dengan berjualan di Sentul, dan bahkan pernah pula dengan mengamen di bus kota.
Dalam pengajaran akidah, guru agama di sekolah ini tidak membawa bendera, apakah Persis, NU atau Muhammadiyah. Intinya tauhid sajalah yang diajarkan. Dirinya memberikan informasi juga kepada para guru agama yang lain tentang rujukan al Quran, hadits dan juga keterangan fiqhnya, tanpa mengacu pada ormas-ormas keagamaan Islam di Indonesia. Alasannya karena di setiap kelas itu siswa terdiri dari berbagai golongan.
Beberapa kali pula pihaknya menolak adanya tawaran tutor agama masuk ke sekolah ini karena dikhawatirkan akan mempengaruhi pemahaman akidah siswa. Disadari sepenuhnya bahwa pemahaman anak-anak siswa ini masih dangkal. Pernah terjadi pada tahun 2005, salah satu organisasi masuk ke sekolah ini. Rupanya pihak guru sedikit lengah dan tiba-tiba terjadi bentrok dengan guru di laboratorium biologi. Anak itu oleh tutornya yang dari organisasi luar itu diharamkan memegang alcohol. Guru kemudian kaget dan berdebat sengit dengan siswa tersebut. Anak tersebut rupanya telah dipengaruhi oleh tutornya yang dari organisasi luar itu.
Pihaknya juga khawatir dengan masuknya paham-paham seperti Az Zaitun, NII, dan guru agama pun menerangkan seperti apa detail dari organisasi tersebut. Karena itu ketika ada yang menyodorkan diri untuk membimbing kegiatan keagamaan kepada siswa, guru-guru agama aktif mengajak dialog dan dalam batas tertentu melarang masunya kegiatan tutorial yang mungkin akan membahayakan pemahaman dan akidah siswa. Palagi sekarang dengan ramainya ISIS yang dikhawatirkan pengaruhnya akan masuk di kalangan anak muda Indonesia.

Preview
Berdasarkan paparan di muka, dapat ditarik garis pemahaman bahwa ternyata ekskul Rohis masih eksis dan telah dipraktekkan di dua sekolah tersebut. Hal yang tampak nyata bahwa di dua sekolah yang diteliti, ekskul Rohis selalu dalam pembinaan dan pengawasan guru agama. Dilandasi oleh komitmen para guru terutama guru agama, yang mengingingkan pembinaan bidang keagamaan melalui kegiatan ekskul, sebagai cara penyempurnaan pendidikan di kelas.
Hampir dapat ditemukan benang merah di dua sekolah tersebut, satu negeri satu swasta, bahwa pada sekolah negeri didukung oleh fasilitas yang relatif memadai. Sementara pada sekolah swasta, kegiatan dihadapkan banyak hambatan, karena kurangnya dukungan fasilitas, terutama keberadaab masjid sekolah dan rendahnya komitmen pihak pimpinan sekolah.
Namun mereka sama-sama dibayangi “musuh besar” dalam membina bidang keagamaan, yakni dengan masuknya pengaruh dari pemahaman Islam yang ekstrem. Pembina Rohis di dua sekolah ini, tampak terus menempuh cara untuk menangkal pemahaman yang berbeda seperti kebanyakan pemahaman akidah masyarakat Indonesia.
Secara datar, potret terhadap pendidikan agama disekolah juga disuarakan oleh Ricklef yang mengutip pendapat mantan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Mohammad Ali, bahwa kewajiban pendidikan agama kepada siswa turut berkontribusi dalam mengislamkan anak-anak muda di Indonesia. Disebabkan rendahnya jam pelajaran agama menjadikan, munculnya tuntutan untuk diberlakukannya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Melihat hal ini barangkali berbeda dengan sudut pandang penelitian yang telah ada seperti disebutkan di atas. Penelitian Bambang Pranowo serta Salim dkk. Sebagaimana dikemukakan di bab awal tulisan ini, yang cenderung melihat efektivitas Rohis dilawankan dengan ancaman integrasi bangsa serta kebhinnekaan yang dimiliki Bangsa Indonesia. Bambang Pranowo menyampaikan hasil penelitiannya di sebuah diskusi yang diselenggarakan salah satu tv swasta bahwa ada lima pola rekrutmen teroris muda, yang salah satunya melalui ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah.
Adapun penelitian Salim dkk menyebutkan bahwa istilah resistensi dipakai Salim dkk dalam penelitiannya, selain sebagai perlawanan halus karena kuatnya dominasi di dalam sekolah, juga ditujukan pada kuatnya citra Islamis. Rohis dikerangkakan sebagai proses Islamisasi sekolah. Menentang secara terbuka gagasan islamisasi ini bisa dituduh anti-Islam. Dalam hal inilah, negosiasi dan resistensi menjadi strategi penting dan relevan. Selain itu, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan sebuah gambaran mengenai ketegangan yang dinamis antara structure dan agency. Temuan lapangan dalam penelitiannya menunjukkan bagaimana upaya membentuk lingkungan sekolah yang Islamis, yang dibangun oleh para aktivis dakwah melalui institusi Rohis di sekolah, tidak selalu berjalan lurus dan lempang. Selalu muncul upaya-upaya agency dalam menegosiasikan dan bahkan melawan structure tersebut.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa justru Rohis digunakan sebagai alat pendidikan untuk mengontrol pemahaman dan akidah siswa agar tidak melenceng dari pemahaman standar sesuai dengan pemahaman kelompok mainstream, seperti NU dan Muhammadiyah serta pemahaman yang dikembangkan ormas-ormas Islam di Indonesia lainnya. Di satu sisi, para guru tidak ingin anak-anak siswanya tidak mengenal agama yang dalam artian paling dasar tidak dapat membaca al Quran, namun juga di sisi lain para guru tidak ingin pemahaman agama yang diterima anak-anak siswa mereka bertentangan dengan pemahaman Islam yang berkembang luas di Indonesia. Artinya, para guru menghindarkan siswanya dari pemikiran yang mengarah pada pemahaman ekstrim.
Hal yang menarik di luar kritik tajam terhadap keberadaan ekskul Rohis, bahwa ternyata Rohis dijadikan ekskul yang paling didukung di sekolah, contohnya di SMAN 3 Bogor misalnya. Selain kegiatan pembacaan al Quran setiap pagi, di setiap kelas juga disediakan rak-rak kayu untuk menaruh al Quran disertai kantong kain buat infak siswa. Gerakan seperti ini ternyata ampuh untuk misalnya mendorong pendirian bangunan tempat ibadah, masjid representatif yang belum dimiliki oleh sekolah ini. Hingga hari ini dari infak siswa telah terkumpul sekitar Rp. 400 juta.
Dikaitkan dengan implementasi Kurikulum 2013 yang dibangun dan diberlakukan untuk merubah mindset peserta didik dalam berfikir serta membangun pola pikirnya sesuai fakta ilmiah dengan menitiberatkan pada pembentukan karakter peserta didik, maka ekskul Rohis ternyata memenuhi unsure-unsur implementasi Kurikulum 2013. Siswa atau peserta didik diajak memahami (knowing), terampil melaksanakan (doing), dan mengamalkan (being). Dalam penilaian kurikulum 2013, terdapat penilaian pengetahuan, keterampilan, sikap (observasi, diri sendiri, antar teman, dan jurnal).
Bila dicermati maka semua aspek penilaian itu bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik. Hal ini karena output tersebut menyatakan hasil dari sebuah pembelajaran yang telah dilakukan, mengingat kurikulum 2013 yang dibentuk sedemikian rupa untuk mengatasi dan mengembalikan dekadensi moral bangsa ini. Di sini, lembaga pendidikan (sekolah) menjadi sasaran utama, karena dinilai tepat sebagai awal pembentukan karakter peserta didik. Begitu pula, materi yang dimuat dalam kurikulum 2013 ini tidak akan tercapai tujuan pembelajarannya tanpa didukung oleh semua pihak.
Dapat dikatakan bahwa meskipun disediakan seorang pendidik professional dan sarana dan prasarana yang sangat memadai, namun tanpa adanya penanaman karakter terhadap siswa akan menghasilkan output yang tidak sesuai dengan harapan. Artinya materi yang diterima hanya bersifat pengetahuan (kognitif), tanpa ada pengamalan. Di sinilah pentingnya kedudukan esktrakurikuler semacam Rohani Islam (Rohis).
Walaupun Rohis dilihat sebagai hal yang berkorelasi dengan Kurikulum 2013 dan juga digunakan sebagai sarana menangkis pemahaman Islam radikal di sekolah yang diteliti, ternyata implemantasi ekskul Rohis juga menemui hambatan. Seperti di SMA PGRI I Bogor misalnya, dukungan untuk “meng-quranisasi” peserta didik atau siswa belum mampu terealisir karena belum adanya dukungan kebijakan dari pimpinan sekolah. Artinya, kegiatan ekskul sekolah ini masih dalam batas kurikuler dan belum menjadikannya kegiatan ekstrakurikuler. Bahkan untuk meminta tambahan jam guna melatih anak yang belum membaca huruf Arab pun juga belum terwujud. Namun, Pembina Rohis di sekolah ini terus mengupayakan agar program ekskul Rohis tetap berjalan walaupun belum mendapat dukungan penuh dari pimpinan sekolahnya.

Rekomendasi
Berdasarkan penelitian ini hal yang perlu diperhatikan adalah antara lain:
• Dalam kegiatan ekskul keagamaan di kedua sekolah ini, tampak ada militansi pada sebagian siswa Muslim. Mereka perlu dibina sebaik-baiknya, dengan diberikan perhatian khusus sampai menjadi aktifis keagamaan di dalam maupun di luar sekolah. Ketika mereka menjadi alumni dari sekolah ini, tentu mereka memiliki hubungan emosinal dengan sekolah, dan oleh karena itu diharapkan keterlibatannya.
• Pembinaan kerohanian baik secara khusus yang diarahkan kepada para siswa militan, sebaiknya diberikan wawasan kebangsaan yang cukup. Maksudnya, jangan sampai mengarahkan sswa pada ideologi kelompok radikal, baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri.
• Perhatian dari pihak pengawas sekolah baik dari Kemendikbud maupun dari Kemenag seharusnya lebih meningkat karena para Pembina Rohis merasakan kurangnya perhatian tersebut, lebih-lebih jika dukungan dari pimpinan sekolah juga kurang memadai.
• Perlunya dukungan buku al Quran serta buku-buku keagamaan lainnya kepada SMA swasta tertentu yang kondisinya memang membutuhkan bantuan